Apakah Penyakit ‘AIN Bisa Melalui Gambar atau Video..?

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,

ﻭﻧﻔﺲ ﺍﻟﻌﺎﺋﻦ ﻻ ﻳﺘﻮﻗﻒ ﺗﺄﺛﻴﺮﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺅﻳﺔ ، ﺑﻞ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﻋﻤﻰ ﻓﻴﻮﺻﻒ ﻟﻪ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻓﺘﺆﺛﺮ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻴﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﻩ ، ﻭﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺎﺋﻨﻴﻦ ﻳﺆﺛﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ ﺑﺎﻟﻮﺻﻒ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺭﺅﻳﺔ

Jiwa orang yang menjadi penyebab ‘ain bisa saja menimbulkan penyakit ‘ain tanpa harus dengan melihat. Bahkan terkadang ada orang buta, kemudian diceritakan tentang sesuatu kepadanya, jiwanya bisa menimbulkan penyakit ‘ain, meskipun dia tidak melihatnya. Ada banyak penyebab ‘ain yang bisa menjadi sebab terjadinya ‘ain, hanya dengan cerita saja tanpa melihat langsung

(Zadul Ma’ad 4/1493).

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan,

ﻭﺑﻬﺬﺍ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﺎﺋﻦ ﻗﺪ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺻﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻠﻔﺎﺯ ، ﻭﻗﺪ ﻳﺴﻤﻊ ﺃﻭﺻﺎﻓﻪ ﻓﻴﺼﻴﺒﻪ ﺑﻌﻴﻨﻪ ، ﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺴﻼﻣﺔ ﻭﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ

Oleh karena itu, jelaslah bahwa penyebab ‘ain bisa jadi ketika melihat gambar seseorang atau melalui televisi, atau terkadang hanya mendengar ciri-cirinya, kemudian orang itu terkena ‘ain. Kita memohon keselamatan dan kesehatan kepada Allah. (Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 122272)

ref : https://rumaysho.com/3308-pandangan-hasad-lewat-gambar.html

Jangan Lagi…

Jika kita rutin membaca do’a agar kita dan anak kita terhindar dari MATA JAHAT.. tapi pada saat yang bersamaan tetap saja memajang foto bayi/anak atau foto kita di akun medsos.. sama saja kita tidak berusaha menghindar dari pengaruh Mata Jahat…
.
Jika foto-foto tersebut di save kemudian dilihat terus menerus… dan bisa jadi ada diantara mereka yang memiliki pengaruh Mata Jahat.. berarti kita telah dengan sengaja membiarkan diri kita dan anak kita terus menerus potensi kena pengaruh Mata Jahat.. selama mereka masih menyimpan dan melihat foto anak dan foto kita… Bisa jadi bertahun-tahun…
.
Segera hapus dan jangan pernah lagi, ingat sabda Rasulullah Shallallahu’Alayhi Wasallam bahwa ‘AIN itu HAQ (benar adanya)..
.
Semoga Allah senantiasa menjaga ana dan antum semua dan keluarga kita masing-masing dalam kebaikan dan kesehatan… Aamiiin ya Robb

Melindungi Diri Kita DAN Anak Kita Dari ‘AIN – Pengaruh Mata Jahat…

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اِ سْتَعِيْذُوْا بِاللهِ تَعَالَى مِنَ الْعَيْنِ، فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

Berlindunglah kalian kepada Allah dari ‘ain, karena sesungguhnya ‘ain itu haq (benar)”

(HR. Ibnu Majah no. 3508 dan Al Hakim no. IV/215, Lihat Silsilah Al Ahaadits Ash Shahiihah no. 737)

 

========

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan perlindungan untuk Hasan dan Husain, (beliau membaca) :

أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة

Aku memohon perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna untuk kalian berdua, dari gangguan setan dan binatang berbisa, dan dari pandangan mata (‘ain) yang membuat sakit.”

(HR. Al Bukhari no. 3371 dan Abu Dawud no. 4737, Lafazh ini milik Abu Dawud).

 

Ingin Ilmu Anda Menyebar..? Amalkan Ilmu Itu..!

Ibnul Jauzi rahimahullah (w 597 H) mengatakan:

“Aku banyak bertemu para syeikh, keadaan mereka berbeda-beda, keilmuan mereka juga bertingkat-tingkat. Namun yang paling bermanfaat bagiku dalam bergaul dengannya adalah orang yang mengamalkan ilmunya, meskipun ada yang lebih alim dari dia.

Aku juga telah bertemu para ulama hadits, mereka punya hapalan dan keilmuan, namun mereka bermudah-mudahan dalam ghibah yang mereka legalkan dengan label ‘jarh wat ta’dil’. Mereka juga mengambil upah dari bacaan hadits, dan segera menjawab pertanyaan agar terjaga namanya, meski dia jatuh dalam kesalahan.

Aku juga telah bertemu dengan Abdul Wahhab Al Anmathi, dia dulu berjalan di atas ‘aturan’ salaf, ghibah tidak pernah terdengar di majlisnya, tidak pula mengambil upah dari kegiatan memperdengarkan haditsnya. Dan aku pernah membaca hadits roqo’iq di depannya, maka diapun menangis, dan menangis lama, sehingga tangisan itu merasuk ke dalam hatiku -padahal saat itu aku masih kecil-, dan membangun pilar-pilar akhlak (dalam jiwaku). Dia memang serupa dengan ciri-cirinya para syeikh yang sifat-sifat mereka kami dengar dari nukilan (kitab).

Aku juga telah bertemu dengan Abu Manshur Al Jawaliki. Dia banyak diam, sangat berhati-hati dalam ucapannya, sangat kuat ilmunya, dan muhaqqiq. Namun begitu, kadang ketika ditanya masalah yang mudah, yang sebagian muridnya akan segera menjawabnya, dia berhenti menjawabnya hingga yakin dengan jawabannya. Dia itu banyak puasa dan pendiam.

Manfaat yang kudapatkan dengan melihat dua orang ini -Al Anmathi dan Al Jawaliqi-, lebih banyak dari manfaat yang kuambil dari selain dua orang ini. Sehingga dari keadaan ini aku paham, bahwa petunjuk dengan tindakan lebih kuat pengaruhnya daripada petunjuk dengan ucapan.

Aku juga melihat para syeikh yang memiliki banyak waktu berkholwat (dengan teman-temannya) untuk nyantai dan canda. Akibatnya mereka jauh dari hati manusia, dan keteledoran mereka itu mencerai-beraikan kembali ilmu yang sudah mereka kumpulkan, sehingga ketika hidupnya, mereka kurang bermanfaat, dan ketika meninggalnya mereka dilalaikan, dan hampir tidak ada seorang pun yang tertarik dengan kitab-kitab mereka.

Maka hendaklah kalian menjaga ilmu dengan amal, karena ini merupakan pokok yang paling mendasar. Sungguh orang yang paling kasihan adalah orang yang menyia-nyiakan umurnya dalam ilmu yang tidak diamalkan, hingga hilang darinya kenikmatan dunia dan kebaikan akhirat, lalu dia datang merugi (di akhirat), padahal dia harus menanggung hujjah yang kuat terhadapnya”. [Shoidul Khothir 108-109].

Subhanallah.  Ini di zaman beliau, bagaimana jika beliau hidup di zaman ini ?! Ghibah dengan label ‘tahdzir dan nasehat’ di mana-mana. Banyak orang berilmu, tapi tidak tampak sama sekali pada akhlaknya.

Bahkan, tidak hanya yang punya ilmu, yang modal nongol di TV pun, berlomba-lomba untuk membicarakan hukum Allah. Seandainya mereka merenungi bahwa berbicara hukum syariat dalam sebuah masalah, itu sama saja mengabarkan hukum hal tersebut atas nama allah, tentunya mereka akan diam seribu bahasa.

Semoga Allah memperbaiki keadaan umat ini, dan menuntun mereka semakin dekat kepada syariat-Nya

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

da210316-0737

Cintailah PASANGAN HIDUPMU…

Sudah selayaknya disadari…
Cinta adalah anugerah Allah…
Allah yang menjadikan adanya cinta dan kasih sayang antara suami dan istri di dalam hati mereka…

Tetapi tahukah engkau bahwa :

Cinta itu butuh pembuktian…
Cinta itu butuh pengorbanan…
Cinta itu butuh diungkapkan…
Cinta itu butuh diperjuangkan…
Cinta itu butuh kesabaran…
Cinta itu butuh kesetiaan…
Cinta itu butuh keikhlasan…

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah menyebut istrinya, lalu beliau mendoakan rahmat untuknya, dan beliau berkata :

مكثنا عشرين سنة ما اختلفنا في كلمة

Kami hidup bersama selama 20 tahun, kami tidak pernah berselisih walaupun hanya satu kalimat” (Siyar A’laamin Nubalaa’ XI/333)

Syuraih bin al-Harits bin Qais al-Qadhi rahimahullah bersyair tentang cinta :

Kulihat kaum lelaki memukul istri mereka, namun tanganku lumpuh untuk memukul Zainab. Zainab adalah matahari, sedang wanita lain adalah bintang-bintang. Jika Zainab muncul, tak akan nampak lagi bintang-bintang…” (Siyar A’laamin Nubalaa’ IV/106)

Subhanallah, kenapa bisa seperti itu…?

Karena cinta adalah magnet yang merekatkan antara suami dan istri. Membuat keduanya seolah jiwa dan raga yang satu, bahkan hati yang satu…

Dengannya, engkau mendapatkan kebahagiaan yang tidak akan bisa engkau dapatkan tanpa menikahinya…
Dengannya, engkau melewati kehidupan bersama, berbagi suka dan duka, merenda impian dan harapan, menghadapi segala masalah dan rintangan…

Ketika sakit, dia merawatmu dengan sabar…
Ketika sedih, dia menghiburmu dengan ikhlas…
Ketika lelah, dia menyemangatimu dengan penuh kasih sayang…

Saat engkau lemah, maka dia menguatkanmu…
Saat engkau memerlukan nasihat, maka dia pun memberikan nasihat terbaik bagimu…

Saat tidur, dialah orang terakhir yang engkau lihat…
Saat bangun, dialah orang pertama yang kau dekap…
Saat engkau bepergian jauh, dia selalu ada di dalam hati dan pikiranmu…

Dia selalu memikirkan dirimu…
Dia selalu berdoa untukmu…
Dia selalu merindukanmu…
Dia selalu mengkhawatirkan keselamatanmu…

Dia adalah kekasih hatimu…
Dia belahan jiwamu, lentera hidupmu…
Pendamping setia dan sahabat terbaikmu…
Engkau menjadi dunianya, dia menjadi duniamu…

Janganlah letih untuk mencintainya…
Janganlah menyimpan dendam dan kemarahan kepadanya, maafkan kekurangannya, pahami relung jiwanya dan selami dasar hatinya…

Karena cinta sejati bukanlah sehidup semati…
Tetapi sehidup se-Surga, cinta karena Allah…
Ya Allah, jadikanlah cinta kami sehidup dan se-Surga yang kekal abadi selamanya…

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Lebih Kecil Dari Kutu, Lebih Dahsyat Dari Tentara Sekutu…

Ayah bunda, semoga rahmat dan berkah Allah senantiasa mengairi hidup kalian.

Memang anak adalah buah hati, belahan jiwa dan kebanggaan orang tua, sehingga cinta kasih orang tua tercurah deras bak hujan di bulan januari dan lebih lengket ketimbang perangko.

Sayang…..kadang cinta kasih kita berikan kepada anak berlebihan dan tidak mendidik sehingga menyulut bara fitnah. Akhirnya tanpa sadar kita masuk ke dalam firman Allah,

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ [الأنفال : 28]

Dan ketahuilah bahwa harta kalian dan anak-anak kalian itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.”

Kalau mau jujur, kita sebagai orang tua kadang menyayangi anak sering bercampur aduk dengan emosi, nafsu dan perasaan, bahkan sering sibuk dalam hal-hal kurang mendasar karena terbawa perasaan dan melupakan masalah yang fundamental seperti perhatian terhadap aqidah, manhaj, akhlak dan ibadah mereka terutama shalat.

Contoh sederhana, kita sering bingung karena hp anak kita jadul, sepatu sudah usang, kendaraan tidak layak dan laptop tidak cocok zaman now. Namun kita kadang lalai bahaya virus yang lebih dahsyat ketimbang serangan TENTARA SEKUTU meskipun besarnya lebih ringan dan lebih kecil daripada KUTU.

Tahukah wahai ayah bunda, virus apa ?

Ujub dan Sombong!!!

Penyakit itu ternyata sering kali kita tanamkan pada diri anak tanpa beban dosa!!!

Lewat perlakuan keliru atas nama KASIH SAYANG……..

Ya atas nama kasih sayang tapi keliru……yaitu anak serba dilayani……serba dimanja……serba dikasih….. serba dibela…..malah anak serba tidak boleh disalahkan……..

Finalnya sikap itu berujung pada lahirnya sikap sombong dan ujub……

Virus sombong dan ujub akan tambah menjalar ketika sikap orang tua serba kalah dan serba merasa salah di depan anak.

Lebih parah lagi saat orang tua di depan anak menampakkan sikap serba lemah dan tak berdaya……

Serangan virus sombong dan ujub makin ganas dan menggerogoti diri anak kita…….

Kenapa virus itu lebih bahaya daripada serangan TENTARA SEKUTU tapi LEBIH KECIL DARI KUTU ?

Ya karena sanggup melumpuhkan rohani, merusak kepribadian dan menghancurkan pahala kebaikan, meskipun LEBIH KECIL DARI KUTU, bahkan hanya seberat dzarrah (atom) namun daya musnahnya lebih dahsyat dari bom atom dalam merusak kepribadian anak kita maka Rasulullah bersabda,

لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus ?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

Oleh karena itu, pendidikan orang tua kepada anak seharusnya mengacu pada pembentukan karakter rendah hati dan mengikis kesombongan.

Rendah hati pasti menghadirkan kebaikan malah mengangkat derajat anak sebagaimana sabda Nabi,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588). 

Rendah hati karena Allah, akan mudah menerima kebenaran dan gampang mengambil nasehat serta tidak mudah merendahkan orang lain yang menunjukkan kepada kebenaran dan kebaikan.

Rendah hati dalam beramal, akan membentuk sikap mawas diri dan merasa kurang dalam beramal, bahkan menganggap kecil kebaikan yang besar dan menganggap besar kesalahan yang kecil.

Rendah hati dalam menuntut ilmu, akan meringankan langkah kaki ke majlis ilmu, melahirkan ketulusan mengkaji ilmu…..jarak jauh menjadi dekat demi ilmu…….tahan banting akan pedihnya mencari ilmu, sehingga ilmu menjadi berkah dan pengetahuan makin tambah melimpah.

Rendah hati dalam menerima kebenaran…..mudah ditegur demi kebaikan dirinya dan tidak malu belajar dengan siapapun dan tidak suka merendahkan orang lain.

Rendah hati dalam bergaul, akan senantiasa bersikap sopan….. santun…..senyum….. sapa, dan salam……bahkan sanggup menyayangi yang muda dan menghormati yang tua.

Rendah hati dalam materi akan bersikap sederhana, tidak bersikap mubazir, senang mendahulukan pola hidup daripada gaya hidup dan suka mementingkan kebutuhan daripada keinginan.

Dan yang paling mendasar….. selalu menghargai nikmat Allah sekecil apapun sehingga setiap saat senantiasa bersyukur kepada Allah dengan segala nikmat dan karunia-Nya.

Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc, حفظه الله تعالى.

Wahai SALAFI SEJATI, Bersabarlah.. !

Oleh: Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى

Wahai orang-orang yang Allah muliakan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, tegarlah dan bersabarlah !

Janganlah engkau takut karena tidak ada orang yang menolongmu dan karena sedikitnya orang yang berjalan bersamamu ! Sesungguhnya engkau termasuk al-Firqah An-Najiyah (golongan yang selamat), Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang ditolong oleh Allah) dan Ahlussunnah wal Jama’ah. Barangsiapa yang termasuk dari mereka maka dialah imam meskipun dia sendirian dan dia adalah jama’ah meskipun dia seorang diri.

———————————————–

Diterjemahkan dari telegram fawaaid Syaikh DR.Sulaiman Ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى tanggal 11 Februari 2018.

Ustadz Abdurrahman Thoyyib Lc, حفظه الله تعالى 

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-18

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj salaf dalam masalah tarbiyah dan perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH KE-17 bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 18 🌼

Ahlussunnah menyeru kepada setiap orang beramar ma’ruf nahi mungkar untuk mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah sesuai dengan timbangan syari’at.

Karena Islam berporos pada 2 perkara,
ANTARA MENDATANGKAN MASLAHAT atau MENOLAK MAFSADAH.

👉🏼 Apabila MASLAHATNYA JAUH LEBIH BESAR DI BANDINGKAN DENGAN MAFSADAHNYA maka itu DIPERINTAHKAN

👉🏼 Sebaliknya apabila  MAFSADAHNYA LEBIH BESAR DARI PADA MASLAHATNYA maka DITINGGALKAN.

👉🏼 Dan apabila MASLAHAT dan MAFSADAHNYA SEIMBANG maka ini BUTUH KEPADA IJTIHAD dan BERTANYA KEPADA AHLI ILMU.

👉🏼 TAWAKUF ITU LEBIH SELAMAT.

Diantara dalil yang menunjukkan bahwa penting dalam beramar ma’ruf nahi mungkar mempertimbangkan masalah maslahat dan mufsadah itu diantaranya Hadits yang di riwayatkan Imam Muslim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dari hadits Aisyah:
Kalau bukan kaummu itu masuk Islam dan mereka belum lama dari masa jahiliyah, aku akan menginfakkan harta karun ka’bah di jalan Allah. Dan aku akan menjadikan pintunya dekat ke tanah. Dan aku akan masukkan Hijr Isma’il itu ke dalam Ka’bah.”

Lihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin merombak Ka’bah, tapi beliau tidak lakukan.
Karena kaum musyrikin Quraisy. Orang-orang Quraisy pada waktu itu baru masuk Islam dan belum lama dari masa jahiliyah, sehingga keilmuan mereka masih sangat dangkal.

Kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merombaknya, akibatnya akan dipahami, di khawatirkan akan muncul mudharat yang lebih besar dan di pahami dengan pemahaman yang tidak benar.

Sehingga untuk menghindari mudharat yang lebih besar inilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan maslahat, memugar Ka’bah tersebut.

Demikian pula disebutkan dalam Hadits Jabir yang di riwayatkan Imam Bukhori dan Muslim, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya:
Kenapa engkau tidak bunuhi orang munafik itu ?
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
Jangan sampai orang-orang berbicara bahwa Muhammad membunuh teman-teman sendiri karena orang-orang munafik itu yang memperlihatkan keislaman, mereka ikut sholat tapi hati mereka penuh dengan kedengkian dan kebencian kepada Islam, dan mereka terus berusaha bermakar.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di tanya, kenapa tidak membunuhi mereka saja, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lakukan itu karena takut malah menimbulkan dampak mudharat yang lebih besar.
Yaitu orang-orang kaum arab , orang-orang kafir akan mengaanggap Nabi Muhammad membunuh teman-temannya sendiri.

Maka dari itulah, ini semua hadits-hadits ini menunjukkan wajib mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah.
Demikian pula hadits yang di keluarkan Imam Muslim:
“bahwa ada orang Arab Badui masuk ke masjid untuk kencing.
Maka para sahabat ingin mengingkarinya, ingin menahannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kalau di biarkan mengingkarinya akan timbul mudharat yang lebih besar. Maka Rasulullah bersabda: biarkan… biarkan jangan di putus kencingnya.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk mengingkarinya.
Karena mengingkarinya di saat itu malah menimbulkan mudharat yang lebih besar.

Maka inilah kaidah yang harus di pahami bagi siapapun yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar.
Itu penting untuk mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah dan tentunya harus di bimbing oleh para ulama, karena merkalah yang mampu untuk mempertimbangkan masalah itu

Wallahu a’lam🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Menebar Cahaya Sunnah