Revisi (Text Besar) – Panduan Do’a MUDIK & SAFAR – PDF

Alhamdulillah, kini kami hadirkan REVISI buku ‘Panduan Ringkas’ seputar do’a dan dzikir khusus BERKAITAN DENGAN SAFAR & AKTIFITAS DI LUAR RUMAH.

Buku ini pantas menemani perjalanan MUDIK, UMROH/HAJI dan juga aktifitas anda di luar rumah setiap harinya karena didalamnya berisi berbagai do’a seperti do’a keluar/masuk rumah, do’a naik kendaraan, do’a masuk ke kota, do’a masuk masjid dll…

File sudah dalam bentuk pdf. SILAHKAN KLIK link dibawah ini dan simpan di ponsel anda.

Panduan Do’a MUDIK & SAFAR – ver. 2.1

Berikut adalah beberapa e-book lainnya, silahkan download :
Panduan DZIKIR PAGI v.1.0
Panduan DZIKIR SORE v.1.0
Panduan Dzikir Setelah Shalat Fardhu – v. 2.0

Indikator di Bulan Syawwal…

Di dunia ini tidak ada yang bisa tahu dengan pasti apakah puasa Ramadhannya diterima atau tidak oleh sang Khaliq.

Namun ada sebuah indikator di bulan Syawwal ini.
Indikator itu bernama puasa 6 hari di bulan Syawwal.”

Sebuah kaidah di tengah para ulama berbunyi:

Balasan dari sebuah kebaikan (yang diterima) adalah kebaikan berikutnya.”

Saudaraku,
Jika puasa Ramadhan anda diterima, niscaya jiwa ini tidak akan kesulitan dalam memilih 6 hari saja dari 1 bulan untuk kembali berpuasa.

Selamat berpuasa…

(Lathaiful Ma’aarif hal. 311 dengan perubahan redaksi)

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc,  حفظه الله تعالى

 

da300617-1440

Bolehkah Seseorang Memandikan dan Mencium Kening Suaminya/Istrinya Yang Meninggal..?

PERTANYAAN :

Ustadz, ingin menanyakan apakah boleh seorang istri mencium kening suaminya (atau sebaliknya) yang sudah meninggal dan dikafankan ? dan apakah yang bukan mahrom diperbolehkan ? Syukron

JAWABAN :

Bismillah. Boleh seorang istri mencium kening suaminya yang telah meninggal dunia. Atau sebaliknya, suami boleh mencium istrinya yang sudah meninggal dunia.

Dan demikian pula boleh bagi keluarga, kerabat mayit dan mahromnya untuk menciumnya.

Adapun orang yang bukan mahrom bagi mayit, maka hukumnya tidak boleh. Wallahu a’lam bish-showab.

Ustadz Muhammad Wasitho MA, حفظه الله تعالى

Sungguh Miris Rasanya…

Sungguh miris rasanya jika shalat, puasa, tilawah Al Qur’an dan berbagai torehan emas ibadah yang berhasil kita rajut dengan kokoh selama bulan suci mulai terurai satu demi satu, lalu akhirnya kembali tercerai berai karena kelalaian kita di awal bulan Syawwal.

Akhirnya semua yang kita perjuangkan selama Ramadhan berlalu begitu saja tanpa makna.

Tetap waspada, saudaraku.

‏﴿٩٢﴾ وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكٰثًا …

Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benang yang sudah dipintalnya dengan kuat, sehingga menjadi cerai berai kembali…
(QS. An Nahl: 92)

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى

Pahala Puasa Wajib…

29 + 6 = 1..
.
Bingung..?
.
Mari kita simak penjelasannya,
.
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
.
Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan lalu ia lanjutkan dengan puasa 6 hari di bulan Syawwal, niscaya ia mendapat pahala seperti puasa 1 tahun penuh.
(HR. Muslim)
.
Dalam HR. An Nasa’i, Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menguraikan:
.
“ALLAH menjadikan kebaikan menjadi 10 kali lipat, maka puasa 1 bulan (Ramadhan) bernilai 10 bulan dan puasa 6 hari setelah ‘Iedul Fitri (di bulan Syawwal) menyempurnakannya menjadi 1 tahun.”
.
Sehingga:
29 hari + 6 hari= 1 tahun
.
Saudaraku,
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
.
“Barangsiapa yang berpuasa SATU HARI di jalan ALLAH, niscaya ALLAH akan jauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 puluh tahun perjalanan.”
(HR. Bukhari dan Muslim) .

JIKA ITU KEUTAMAAN PUASA SATU HARi, MAKA SILAHKAN BAYANGKAN BAGAIMANA PAHALA PUASA SELAMA SATU TAHUN PENUH ??
.
Saudaraku…
Tahukah anda penjelasan banyak ulama (diantaranya ULAMA MADZHAB SYAFI’i) tentang hal ini ?
.
TERNYATA PAHALA PUASA 1 TAHUN PENUH TERSEBUT ADALAH PAHALA PUASA WAJIB.
.
Maksudnya?
Ya, puasa 6 hari di bulan Syawwal merupakan puasa sunnah, NAMUN PAHALANYA SENILAI DENGAN PUASA WAJIB, layaknya puasa Ramadhan.
.
Masih ada banyak waktu… hanya 6 hari dari 29/30 hari…
Bisa di awal atau di pertengahan atau di akhir bulan Syawwal, bisa berturut-turut atau tidak. .
Pahala puasa 1 tahun penuh itu sudah sangat dimudahkan, saudaraku…
.
.
Referensi:
I’anatut Thaalibiin 2/268, Tuhfatul Habiib 3/155, Tuhfatul Muhtaj 14/69, Fathul Wahhab 2/351, Mughnil Muhtaj 1/447, Nihayatul Muhtaj 3/208, Al Inshaf 3/344, Kasysyaaful Qina’ 2/337 dan lain-lain.
.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى

Renungan…

Baru kemaren kita menunggu datangnya Ramadhan dengan antusias, lalu dia pun datang dan pergi begitu cepat.

Kemudian datang hari Idul Fitri dengan kemeriahan dan kegembiraannya, dan ia pun berlalu dan pergi dengan segera.

Lalu segalanya kembali seperti sediakala, sunyi kembali.

Begitulah kehidupan dunia.. dan pada saatnya nanti, semuanya akan berakhir dan engkau akan kembali ke asalmu.. sendirian, tanpa ada yang menghiburmu, kecuali amalmu, maka perbaikilah amal itu.

Ikhlaskan ibadahmu hanya untuk Allah, dan sesuaikan caranya dengan tuntunan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.. Ikhlas tanpa mengikuti tuntunan beliau akan sia-sia, sesuai tuntunan beliau tanpa keikhlasan takkan diterima.

Di dunia ini, kita kadang senang kadang meriang.. tidak ada yang abadi, pasti akan silih berganti keadaannya.. dan semuanya hanya sementara.

Fokuslah pada akhiratmu..

Banyak manusia semangat membangun dunianya, padahal itu akan dia tinggalkan.. tapi, dia malas membangun akhiratnya padahal itulah rumah abadi masa depan.

Semoga Allah mengumpulkan kita semua di surga firdaus-Nya.. amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da020717-1956

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-33

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-32) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 33 🌼

⚉  Bahwa ahlu bid’ah aksaam orang-orang jatuh pada ke bid’ahan atau kesalahan yang lain itu dibagi beberapa macam sbb ;

1. Dikatakan oleh Ibnu Qoyim yaitu orang jahil yang hanya bisa taklik tidak punya ilmu sama sekali, maka tidak boleh dikafirkan, tidak boleh dianggap fasik tidak boleh ditolak persaksiannya.
Apabila ia tidak mampu untuk mempelajari ilmu maka dihukumi orang-orang yang lemah dari kalangan laki-laki, wanita dan anak-anak.

2. Orang yang punya kemampuan untuk bertanya untuk mencari hidayah, ilmu dan untuk mengetahui kebenaran tapi ia tinggalkan itu semua karena sibuk akan dunia, kedudukan dan kelezatan kehidupannya. Maka orang ini meremehkan menuntut ilmu ia berhak mendapatkan ancaman dan ia berdosa karena meninggalkan apa yang Allah wajibkan dari bertakwa kepada Allah sesuai kemampuannya. Ini dihukumi orang yang meninggalkan kewajiban kalau sekiranya kebid’ahan, hawa nafsunya lebih menang daripada sunah dan hidayahnya maka persaksiannya ditolak.

3. Dia bertanya, mencari dan sudah jelas baginya petunjuk tapi ditinggalkan karena lebih fanatik kepada ustadznya, kelompoknya, benci kepada lawannya karena membawa kebenaran maka orang ini rendah derajatnya fasik adapun mengkafirkannya diperlukan ijtihad dan perincian kalau ia terang terangan berdakwah dan mendakwah kepada kebid’ahannya itu maka ditolak persaksiannya, fatwanya dan hukum hukumnya.

Inilah macam macam orang yang jatuh pada kebid’ahan maka keadaannya seperti yang kita lihat, jika seorang jatuh kepada kebid’ahan dan mampu untuk mencari hidayah, dia punya kecerdasan tapi dia tidak mau karena sibuk dengan dunianya maka ini orang yang berdosa karena meninggalkan apa yang diwajibkan Allah padanya.

Atau ia mampu tapi fanatik dengan ustadnya karena mengidolakan seperti ustadz ustadz yang mashur di youtube akhirnya ia tidak mau mencari hidayah bahkan mencukupkan diri dengannya bahkan fanatik buta maka orang yang seperti ini yang melakukan perbuatan jahiliyah fanatik kepada si fulan si fulan padahal kewajiban kita hanya fanatik kepada Allah dan Rasul-Nya.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Serba Serbi Masalah Seputar Syawwal…

Berikut ini adalah kumpulan artikel audio dan tulisan terkait ibadah di bulan Syawwal. Semoga bermanfaat.

IBADAH Apa Yang Dianjurkan Di Bulan Syawwal…?

Kapan SEBAIKNYA Memulai Puasa Syawal…?

Mengapa Puasa 6 Hari Syawwal Sebaiknya Diakhirkan Setelah Hari-Hari Ied…?

Pendapat PERTAMA : Tidak Boleh Mendahulukan Puasa Syawwal Sebelum Membayar Puasa Ramadhan…

Pendapat KEDUA : BOLEH Mendahulukan Puasa Syawwal Sebelum Membayar Puasa Ramadhan…

Apakah Niat Puasa Syawwal Harus Dilakukan di Malam Hari..?

Bolehkah Menggabungkan Niat MEMBAYAR/QODHO Puasa Ramadhan Dengan Niat Puasa Syawal…?

Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Syawal dengan Niat Puasa Senin – Kamis…?

Apakah Puasa Syawwal Dilakukan Selang Seling atau Terus Menerus Tanpa Jeda…?

Hukum Menggabung Niat Puasa Syawal Dengan Puasa Senin-Kamis Atau Ayyaamul Biidl…

Janganlah Kita Mulai SYAWAL Dengan Kemaksiatan dan Dosa…

In-syaa Allah, daftar artikel akan bertambah. Silahkan cek dari waktu ke waktu.

 

Menebar Cahaya Sunnah