Jangan Khawatir Dengan Rizki Esok Hari…

Jika anda hari ini merasa aman/tenteram, tubuh anda sehat wal ‘afiyat, serta makanan hari ini telah tersedia, maka apakah lagi yang anda cari…?

Itulah puncak kebahagiaan yang banyak hilang dan dikejar banyak orang… bahkan orang-orang kaya… bahkan orang-orang yang tenar…!!,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا

Barang siapa diantara kalian yang tatkala di pagi hari merasa aman/tenang, tubuhnya sehat, dan ia sudah memiliki makanan untuk hari tersebut maka seakan-akan dunia seluruhnya telah dikumpulkan untuknya” (HR Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrod, dan At-Thirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 2318).

Isilah hari tersebut dengan bersyukur dan banyak beribadah kepada Allah, jangan terlampau khawatir dengan esok hari…!!!

Al-Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata:

إِذَا أَصْبَحْتُ عِنْدِي قُوْتُ يَوْمٍ … فَخَلِّ الْهَمَّ عَنِّي يَا سَعِيْدُ

Jika dipagi hari dan aku telah memiliki makanan untuk hari ini…
Maka hilangkanlah kegelisahan dariku wahai yang berbahagia

وَلاَ تَخْطُرْ هُمُوْمُ غَدٍ بِبَالِي … فَإِنَّ غَدًا لَهُ رِزْقٌ جَدِيْدُ

Dan tidaklah keresahan esok hari terbetik di benakku….
Karena sesungguhnya esok hari ada rizki baru yang lain

أُسَلِّمُ إِنْ أَرَادَ اللهُ أَمْراً … فَأَتْرُكُ مَا أُرِيْدُ لِمَا يُرِيْدُ

Aku pasrah jika Allah menghendaki suatu perkara…
Maka aku biarkan kehendakku menuju kehendak-Nya

Seorang yang beriman dan beramal sholeh serta berusaha pada hari ini… maka tidak usah khawatir dengan esok hari… pasrahkan urusan kepada kehendak Allah..

Yang gelisah hanyalah orang yang bermaksiat kepada Allah…khawatir akan adzab dan hukuman Allah yang datang sewaktu-waktu.

Sungguh aneh seseorang yang tatkala masih menjadi janin dalam perut ibunya ia telah diberi rizki oleh Allah… tatkala ia masih kecil dan tidak bisa berbuat apa-apa ia tetap di beri rizki oleh Allah…lantas setelah ia dewasa dan mampu berusaha dan bekerja tiba-tiba ia takut dan khawatir ia tidak akan memperoleh rizki dari Allah..???

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

da180714-1459

Ketika Mendengar Larangan Dan Perintah, Apakah Kita Perlu Mengetahui Manfaat dan Mudhorot-nya Terlebih Dahulu..?

Ketika mendengar larangan dan perintah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, apakah perlu kita ketahui terlebih dahulu apa manfaat dan mudhorotnya, lalu baru setelah itu melaksanakan perintah atau menjauhi larangan tsb ? khususnya Isbal, apa mudhorotnya bila larangan isbal dilanggar ?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

da190914-0001

Ketika Cobaan Datang Bertubi-tubi…

Terkadang seseorang ditimpa ujian dan musibah datang bertubi-tubi… silih berganti… hilang yang satu datang lagi yang lain semisalnya…
Terkadang seseorang tidak melihat kegembiraan kecuali sangat jarang sekali.

Sungguh indah perkataan Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah tatkala beliau berbicara tentang banyaknya kesedihan dan sedikitnya kegembiraan

مِحَنُ الزَّماَنِ كَثِيْرَةٌ لاَ تَنْقَضِي … وَسُرُوْرُهَا يَأْتِيْكَ كَالأَعْيَادِ

Ujian zaman banyak dan tidak berhenti menimpa….
Dan kegembiraannya mendatangimu sesekali seperti hari raya yang datang sesekali…

Bahkan terkadang ujian dan musibah terkadang datang tidak satu persatu akan tetapi datang bergerombol…

Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata

تَأْتِي الْمَكَارِهُ حِيْنَ تَأْتِي جُمْلَةً … وَأَرَى السُّرُوْرَ يَجِيْءُ فِي الْفَلَتَاتِ

Hal-hal yang dibenci tatkala menimpa datang secara bergerombol…
Dan aku memandang kesenangan datangnya sesekali…

Memang benar, terkadang musibah dan ujian menimpa seseorang secara bergermbol… sampai-sampai terkadang seseorang tidak bisa berfikir dan bersikap yang waras..

👉🏼  Akan tetapi seorang mukmin bagaimanapun kesulitan dan ujian yang dihadapinya maka ia akan tetap percaya dan yakin dengan rahmat Allah dan bertawakkal kepada Allah. Ia yakin bahwasanya akan ada jalan keluar… akan terurai ikatan-ikatan kesulitan tersebut…. bahkan justru keyakinan ini muncul dan nampak dalam kondisi yang amat sangat genting !!!

Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata :

وَلَرُبَّ نَازِلَةٍ يَضِيْقُ بِهَا الْفَتَى — ذَرْعاً وَعِنْدَ اللهِ مِنْهَا الْمَخْرَجُ
ضَاقَتْ فَلَمَّا اسْتَحْكَمَتْ حَلَقَاتُهَا — فَرُجَتْ وَكُنْتُ أَظُنُّهَا لاَ تَفْرَجُ

Betapa sering musibah yang menjadikan sesak dada seorang pemuda… padahal di sisi Allah ada jalan keluarnya…
Menjadi sempit… bahkan tatkala telah semakin kokoh rantai-rantai pengikat… terbukalah…padahal aku telah menyangka bahwasanya tidak akan terbuka ikatan tersebut…

Seorang muslim janganlah lupa bahwasanya terkadang karunia Allah bisa jadi datang dalam musibah tersebut…bahwasanya أَنَّ وَرَاءَ كُلِّ مِحْنَةٍ مِنْحَةً dibalik setiap ujian ada pemberian dan karunia Allah.

Kita yakin bahwasanya Allah tidak menguji kita untuk mengadzab kita, akan tetapi untuk merahmati kita. Seberat apapun juga suatu ujian maka pasti dibaliknya ada kebaikan yang banyak. Bisa jadi kita tidak akan tahu hikmah dibalik ujian dan musibah tersebut kecuali setelah perginya ujian dan musibah tersebut.

Jika kita tidak bisa melihat keindahan dan hikmah pada musibah maka hendaknya kita merenungkan kisah yang terjadi antara Nabi Musa ‘alaihis salam bersama Khodir dalam surat Al-Kahfi. Lihatlah bagaimana Musa memandang bahwasanya perbuatan Khodir yang membocorkan perahu, membunuh anak muda, dan menegakkan dinding merupakan murni keburukan, sehingga akhirnya iapun mengingkarnya.

Akan tetapi… ternyata dibalik perkara-perkara tersebut ada kebaikan dan hikmah. Ternyata dibocorkannya perahu tersebut merupakan sebab selamatnya perahu agar tidak diambil oleh raja yang dzolim, dibunuhnya anak tersebut ternyata merupakan rahmat dari Allah terhadap kedua orang tuanya, yang ternyata jika sang anak besar maka akan menjerumuskan kedua orang tuanya dalam kekufuran. Dan dengan menegakkan tembok yang menyebabkan ditangguhkannya rejeki kedua anak yatim, ternyata merupakan rahmat dari Allah.

Sebagaimana pepatah :

رُبَّ أَمْرٍ تَتَّقِيْهِ، جَرَّ أَمْرًا تَرْتَجِيْهِ

Betapa sering perkara yang kau jauhi/tidak sukai, ternyata mendatangkan perkara yang kau harapkan

Allah berfirman :

فَعَسَى أَن تَكرَهُوا شَيئاً وَيَجعَلَ اللهُ فِيهِ خَيراً كَثِيراً

Maka bisa jadi engkau membenci suatu perkara dan Allah menjadikan pada perkara tersebut banyak kebaikan” (QS An-Nisaa : 19)

Seorang penyair berkata :

إِذَا أَرْهَقَتْكَ هُمُوْمُ الْحَيَاِة ….وَمَسَّكَ مِنْهَا عَظِيْمُ الضَّرَرِ..

Jika kesedihan hidup sungguh telah melelahkanmu…
Kau telah ditimpa dengan kemudorotan yang besar

وَذُقْتَ الْأَمْرَيْنِ حَتَّى بَكَيْتَ…وَضَجَّ فُؤَادُكَ حَتَّى انْفَجَرَ..

Dua perkara tersebut telah kau rasakan hingga membuatmu menangis…
Hatimu telah bergeliak hingga meledak

وَسُدَّتْ بِوَجْهِكَ كُلُّ الدُّرُوْبَ…وَأَوْشَكْتَ أَنْ تَسْقُطَ بَيْنَ الْحُفَرِ..

Telah tertutup seluruh jalan dihadapanmu…
Engkau hampir terjungkal diantara lobang-lobang…

فَيَمِّمْ إِلَى اللهِ فِي لَهْفَةٍ…وَبُثَّ الشَّكَاةَ لِرَبِّ الْبَشَرِ

Maka menujulah kepada Allah dalam kesedihan…dan curahkanlah keluhanmu kepada Penguasa manusia

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Ketahuilah Bahwa Orang-Orang Bodoh Di Dunia Ini Banyak…

Syaikh Mahmud Muhammad Syakir berkata:

Bagi yang tidak tahu, ketahuilah bahwa orang-orang bodoh di dunia ini banyak.

Apabila ada yang marah oleh setiap kebodohan orang yang bodoh maka kesusahannya akan panjang dengan selalu marah-marah.

Biarlah orang bodoh itu berkata semau mereka.
Dan jadilah kamu memelihara kemuliaanmu, karena ia lebih mahal dan lebih mulia untuk kamu campakkan dengan lisan..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-46

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
KAIDAH SEBELUMNYA (KE-44 dan 45) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 46 🌼

⚉   Bahwa mereka mengingatkan kaum muslimin dan mewanti-wanti mereka dari fitnah yang menyesatkan.

Ibnul Qayyim membawakan hadits Hudzaifah ibnul Yamaan, dimana Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

Fitrah akan di jalin di dalam hati seperti tikar yang dijalin seutas demi seutas, hati mana saja yang menerima fitnah, maka akan di berikan padanya goresan hitam. Dan hati mana saja mengingkari akan diberikan padanya goresan putih”. 

Sehingga hati menjadi dua hati, yang pertama hati yang hitam dan kelam, bagaikan cangkir yang di balikkan, sudah tidak lagi mengenal yang ma’ruf, tidak pula mengingkari kemungkaran kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya saja. Dan hati yang putih tidak ter-mudhorotin oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada. (Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam shohihnya).

Kata Ibnul Qayyim disini Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam memberikan perumpamaan, dijalinnya fitnah dihati itu seperti tikar, sedikit demi sedikit. Lalu kemudian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam membagi hati menjadi dua, hati yang menerima fitnah, maka lalu ia menjadi hitam dan hati yang menolak fitnah maka iapun menjadi putih.

Kata beliau “wal Fitan” dan fitnah-fitnah yang masuk ke hati itu sebabnya adalah akibat penyakit, yaitu penyakit syahwat dan penyakit syubhat.

👉🏼  Maka ketika hati menerima penyakit syahwat atau penyakit syubhat (pemikiran-pemikiran yang menyesatkan) maka ia akan menjadi gelap gulita, sehingga tidak lagi bisa melihat hakikat kebenaran.

👉🏼  Maka di zaman sekarang kita banyak melihat para penuntut ilmu sengaja memasukkan syubhat itu ke hatinya, dengan cara membuka situs-situs yang syubhat, website-website yang syubhat atau duduk di majelis-majelis ustadz yang banyak syubhatnya dengan alasan katanya, ambil baiknya dan buang buruknya. Padahal dia belum punya kemampuan ilmu untuk membedakan…

Akibatnya apa ?
Masuklah syubhat tersebut ke dalam hatinya. Sehingga apa yang terjadi ?
Menyebabkan hatinya menjadi kelam, akhirnya apa ?
Ia berada di atas kebingungan, kegelapan, mana yang sebetulnya di atas kebenaran.

Yang musibahnya kemudian, kalau hatinya terbalik melihat kebathilan sebagai sebuah kebenaran, dan kebenaran sebagai sebuah kebathilan. Akibat daripada kurangnya keilmuan, sudah begitu di kuasai oleh syubhat dan syahwat.

Oleh karena itulah kewajiban kita, ini merupakan manhaj Salaf, selalu mengingatkan manusia untuk hati-hati jangan sampai kita terjerumus dalam fitnah yang menyesatkan tersebut.

Maka Asatidzah, Ustadz-Ustadz jika mengingatkan tentang kesalahan da’i-da’i yang sedang tenar misalnya.
Kenapa ?
Karena itu syubhat, dan itu bisa membahayakan hati kita, dan syubhat itu menyambar-nyambar… maka bukanlah ustadz-ustadz tersebut sedang karena dengki ataupun mencari ketenaran,… tidak, demi Allah.

Tapi itulah manhaj Salaf, manhaf Ahlussunnah wal Jama’ah untuk mengingatkan manusia daripada fitnah-fitnah yang menyesatkan.

👉🏼  Karena fitnah syubhat dan fitnah syahwat ini adalah 2 fitnah yang sangat berat sekali, yang bisa menyebabkan hati kita bahkan bisa mati, bahkan hati kita menjadi hati yang seperti Rasulullah sebutkan dalam hadits tersebut, tidak lagi bisa mengenal kebaikan, tidak pula mengingkari kemungkaran kecuali sesuai dengan hawa nafsunya saja. Akibat apa ?
Karena hati tersebut tidak dijaga dari fitnah-fitnah yang akan bisa merusaknya.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Katanya : ISBAL Gak Masalah Karena Tidak Sombong… Justru Sebaliknya..!

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

ARTIKEL TERKAIT :
Neraka Di Celanamu…
Sekali lagi.. Mengapa Tidak Boleh Isbal..?
Ketika Mendengar Larangan Dan Perintah, Apakah Kita Perlu Mengetahui Mudhorot-nya Terlebih Dahulu..?

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

da100315-0741

Perhatikan Celana Anda dan Keluarga Anda…


.
.
Wahai kaum muslimin…

Perhatikan celana anda, celana suami, ayah, saudara lelaki dan anak lelaki anda…

Pastikan celana mereka TIDAK ISBAL karena ISBAL ADALAH SALAH SATU DARI DOSA-DOSA BESAR…

Subhaanallah… ternyata Isbal temasuk dosa besar, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi Wasallam bersabda (yang artinya) :
“Sholat yang lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at berikutnya, bulan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, akan menjadi penghapus dosa SELAMA DIA MENJAUHI DOSA-DOSA BESAR.”
[HR. Muslim, at-Tirmidzi dan Ahmad, lihat Shohiihul Jaami’ no. 3875]

Kenapa Isbal masuk ke dalam dosa besar ?

Karena definisi dosa besar adalah setiap dosa yang diancam neraka, terkena laknat, dimurkai atau dikenai siksa.

Lantas, apa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang yang menjulurkan kain sarung atau celana hingga melebihi mata kaki alias ISBAL ?

Simak hadits berikut !

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ قَالَ :” ثَلَاثَةٌ لا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلا يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلٍيْمٌ”,قَالَ :فَقَرَأَهَا رَسُوْلُ اللهِ ثَلاثَ مِرَارٍ .قَالَ أَبُوْ ذَرٍّ :”خَابُوا وَ خَسِرُوْا. مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ :”المُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلْفِ الْكَاذِبِ”

Dari Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
Tiga golongan yang tidak akan diajak komunikasi oleh Allah pada hari Kiamat dan tidak dilihat dan tidak (juga) disucikan dan bagi mereka adzab yang pedih.” Abu Dzar menceritakan, Rasulullah mengulanginya sampai tiga kali.  “Sungguh merugi mereka, siapakah mereka wahai Rasulullah ?” tanya Abu Dzar. Nabi menjawab:
⚉    Orang yang ISBAL
⚉    Orang yang mengungkit-ngungkit sedekahnya dan
⚉    Penjual yang bersumpah palsu.”
(HR Muslim I/102 no 106)

Ya Rabb..ada 4 ancaman bagi orang yang ISBAL.
⚉    Tidak Allah ajak bicara,
⚉    Tidak Allah lihat,
⚉    Tidak Allah sucikan dan
⚉    Bagi mereka adzab yang pedih.

Ternyata, ISBAL itu termasuk DOSA BESAR.

Na’udzubillah.

(Faedah penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى dalam artikel :
http://bbg-alilmu.com/archives/8672 ]

Neraka Di Celanamu…

Dosa besar adalah setiap dosa yang diancam neraka, terkena laknat, dimurkai atau dikenai siksa.

Lantas, apa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang yang menjulurkan kain sarung atau celana hingga melebihi mata kaki alias ISBAL ?

Simak hadits berikut !

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ قَالَ :” ثَلَاثَةٌ لا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلا يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلٍيْمٌ”,قَالَ :فَقَرَأَهَا رَسُوْلُ اللهِ ثَلاثَ مِرَارٍ .قَالَ أَبُوْ ذَرٍّ :”خَابُوا وَ خَسِرُوْا. مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ :”المُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلْفِ الْكَاذِبِ”

Dari Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
Tiga golongan yang tidak akan diajak komunikasi oleh Allah pada hari Kiamat dan tidak dilihat dan tidak (juga) disucikan dan bagi mereka adzab yang pedih.” Abu Dzar menceritakan, Rasulullah mengulanginya sampai tiga kali.  “Sungguh merugi mereka, siapakah mereka wahai Rasulullah ?” tanya Abu Dzar. Nabi menjawab:
⚉    Orang yang ISBAL
⚉    Orang yang mengungkit-ngungkit sedekahnya dan
⚉    Penjual yang bersumpah palsu.”
(HR Muslim I/102 no 106)

Ya Rabb..ada 4 ancaman bagi orang yang ISBAL.
⚉    Tidak Allah ajak bicara,
⚉    Tidak Allah lihat,
⚉    Tidak Allah sucikan dan
⚉    Bagi mereka adzab yang pedih.

Ternyata, ISBAL itu termasuk DOSA BESAR.

Na’udzubillah.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى.

 

da300714-0705

Kaidah Ushul Fiqih Ke-22 : Apabila Ternyata Dugaan Kuat Itu Salah, Maka…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-21) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 22 🍀

👉🏼   Apabila ternyata dugaan kuat itu salah, maka hendaknya ia mengulangi agar terlepas tanggungan.

Kaidah ini masih melanjutkan kaidah sebelumnya. Namun ini berhubungan dengan meninggalkan kewajiban.

⚉   Apabila ada orang yang sholat 4 roka’at dengan dugaan kuatnya, setelah itu nyata salahnya dan kurang satu roka’at, maka hendaklah ia menambah satu roka’at.

⚉   Bila ia sholat dengan dugaan kuat belum batal wudlunya, lalu setelah sholat ia ingat bahwa wudlunya telah batal, maka ia wajib mengulanginya.

⚉   Namun apabila tidak mungkin diulangi seperti salah orang ketika membayar zakat, maka itu sudah mencukupi.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Dianak-Tirikan…

Ia adalah bulan mulia…
Bulan ibadah…
Bulan yang memiliki 2 gelar:

1. Bulan Haji

ALLAH ta’ala berfirman:

ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومات

Musim haji jatuh pada beberapa bulan yang telah diketahui (Syawwal, Dzul Qa’dah, 10 hari pertama Dzul Hijjah).”
(Al Baqarah: 197)

2. Bulan Haram

Bulan dimana DOSA dilipatgandakan, sebagaimana PAHALA setiap tetesan keringat dan langkah kebajikan dilipatgandakan.

ALLAH ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمٰوٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram/mulia (Dzul Qa’dah, Dzul hijjah, Al Muharram, dan Rajab).” (At Taubah: 36)

Namun…
Bulan ini cenderung dilupakan.
Jarang terlihat penyambutan dan jamuan.

Jangankan menyambut kedatangannya, banyak dari kita tidak sadar bahwa ia telah bertamu dalam kehidupan kita.

Saudaraku,
Kita telah berada di bulan Dzul Qa’dah .
Lumbung dari pahala dan mimpi buruk bagi setiap dosa.

Maksimalkanlah…
Perlakukanlah dia dengan semestinya dan jangan sampai kita “menganak-tirikan”-nya.

(Tafsir Ath Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Baqarah: 197 dan Surat At Taubah: 36)

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc,  حفظه الله تعالى

da250717-2106

Menebar Cahaya Sunnah