Janganlah Mudah Terheran-Heran…

Berkata KUFUR saja boleh… apalagi hanya memberikan tazkiyah (rekomendasi) kepada SATU tokoh yang tidak semanhaj.

=====

Dakwah tauhid dan sunnah sekarang ini, sudah sangat luas sebarannya di tanah air yang kita cintai Indonesia, walhamdulillah.. Konsekuensinya, angin yang menerpa akan semakin kencang, seiring dengan semakin tingginya kesuksesan dakwah ini.

Diantara ujian yang menimpa dakwah tauhid baru-baru ini, adanya ustadz yang harus mengalah dan meralat beberapa penilaiannya terhadap tokoh tertentu.

Kejadian ini memang telah membuat sebagian orang bingung, dan sebagian lagi bersorak karena lawan dakwahnya dianggap kalah.
Saudaraku seiman, janganlah kita mudah terheran-heran melihat suatu kejadian.. apalagi bila kejadian itu telah banyak terjadi di masa lalu [ingat kembali fitnah perkataan bahwa alquran ciptaan Allah di masa Imam Ahmad -rohimahulloh-].

Janganlah mudah terheran-heran.. “Ojo gumunan”.. apalagi bila hal tersebut telah Allah jelaskan dalam ayat-Nya [QS. An-Nahl:106].

Dalam kasus ini, kita harus bersikap husnuzhon kepada ustadz kita -hafizhahullah-, karena banyak celah bagi kita untuk bersikap demikian, diantaranya:

a. Mungkin beliau dipaksa untuk mengatakan “tanpa ada paksaan” di surat pernyataan tersebut… dan sebenarnya kata itulah yang menjadi kunci utama permasalahan ini, karena jika kata-kata itu tidak ada, atau diganti dengan kata “dengan sangat terpaksa”, tentu kita akan maklum.

b. Bisa saja yang dimaksud sebagai ahlussunnah di situ, adalah makna ahlussunnah secara umum, yakni kaum muslimin yang bukan dari golongan syiah.. dan ini juga sesuai fakta, karena tokoh tersebut jelas bukan dari golongan syiah.

c. Adapun bahwa tokoh tersebut merupakan ahli hadits yang diakui dunia internasional… maka ini sah-sah saja, dan itu bukan berarti ustadz kita mengakui bahwa tokoh itu ahli hadits, atau bahwa tokoh itu pemahamannya sebagaimana generasi salaf.

d. Jika pun apa yang ada dalam surat pernyataan itu dikatakan tulus oleh ustad kita -dan ini SANGAT KECIL SEKALI kemungkinannya-, maka itupun tidak berarti beliau tidak boleh rujuk dari pernyataan tersebut.. Sejak kapan keyakinan seseorang bisa diikat dengan kertas bermaterai ?

Keyakinan adalah amalan hati, tidak ada seorang pun yang mampu memaksakan keyakinan kepada orang tertentu.. Memaksa orang mengatakan sesuatu, itu sangat mungkin.. Tapi memaksa orang meyakini sesuatu, itu mustahil.. dan jika antara keyakinan hati dan perkataan lisan berbeda, maka yang didahulukan adalah apa yang ada di hati.

Sekian, semoga bisa dipahami dengan baik.. Ya Allah, jagalah dakwah tauhid ini di Indonesia dan teruslah Engkau mengembangkannya..

Ya Allah, selamatkan kami dari fitnah dan ujian dalam meniti jalan sunnah ini hingga ajal menjemput kami.. amin.

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.