Mengapa..?

Mengapa orang yang berilmu dengan sederet titel agamanya, bahkan lulusan luar negeri, tapi memiliki pemahaman yang menyimpang atau tidak terlihat sebagai orang yang takut kepada Allah Ta’ala ? 

Allah Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya adalah ‘Ulama (yaitu orang-orang yang berilmu)” (QS. Fathir [35]: 28)

Kenapa realitanya terkadang tidak seperti itu ?

Penyebabnya antara lain :

(1). bisa jadi mereka tidak ikhlas dalam menuntut ilmu, mengamalkan dan mengajarkan ilmunya.

(2). bisa jadi mereka berilmu, tapi mereka tidak mau mengamalkan ilmunya tersebut dengan benar.

(3). bisa jadi mereka berilmu, tapi mereka salah dalam memahami ilmu, yaitu tidak kembali kepada sunnah dan manhaj salaf (cara beragama yang dipahami dan diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dst).

Ilmu tergantung amal, amal tergantung keikhlasan dan keikhlasan mewariskan pemahaman tentang Allah ‘Azza wa Jalla…

Jika ikhlas dan mengikuti cara beragama yang benar dengan kembali kepada sunnah dan manhaj salaf, maka insya Allah orang inilah yang akan memiliki rasa takut yang benar kepada Allah ‘Azza wa Jalla…

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

كل من آثر الدُّنْيَا من أهل الْعلم واستحبها فَلَا بُد أَن يَقُول على الله غير الْحق فِي فتواه وَحكمه فِي خَبره وإلزامه لِأَن أَحْكَام الرب سُبْحَانَهُ كثيرا مَا تَأتي على خلاف أغراض النَّاس

“Setiap orang dari kalangan ULAMA yang lebih mendahulukan DUNIA dan mencintainya, pasti dia akan berkata “Tidak Benar Atas Nama Allah” di dalam fatwa dan hukumnya, begitu pula dalam kabar dan keputusannya. Karena hukum-hukum Allah subhanahu seringkali tidak sejalan dengan keinginan-keinginan manusia” (Al-Fawaid hal 100)

Syaikh DR. Shalih al-Fauzan hafizhahullah ditanya :

: هل يكفي لمن أراد تعليم الناس أمور دينهم , هل يكفي أن يحمل شهادة جامعية , أم لا بد له من تزكيات العلماء ؟

“Apakah seseorang yang ingin mengajarkan perkara-perkara agama kepada manusia cukup baginya dengan titel universitas yang dia sandang, ataukah harus ada tazkiyah (rekomendasi) dari para ulama ?”

لا بد من العلم ..ما كل من حمل شهادة يصير عالم ،،لا بد من العلم والفقه في دين الله ..والشهادة ما تدل على العلم !!قد يحملها وهو أجهل الناس !وقد لا يكون عنده شهادة وهو من أعلم الناس ..هل الشيخ ابن باز معه شهادة ؟؟!! هل الشيخ ابن إبراهيم ؟؟!! هل الشيخ ابن حميد ؟؟!! هل هم معهم شهادات ؟؟!! ومع هذا هم أئمة هذا الوقت فالكلام على وجود العلم في الإنسان والفقه في الإنسان ،،،لا على شهاداته ولا على تزكياته ما يعتبر هذا !! …والواقع يكشف الشخص :إذا جاءت قضية أو حدثت ملمة تبين العالم من المتعالم والجاهل . نعم

“Harus memiliki ilmu, tidak semua orang yang menyandang titel menjadi ulama. Harus memiliki ilmu dan kefakihan dalam agama Allah. Semata-mata titel tidaklah menunjukkan ilmu, karena terkadang seseorang memiliki titel padahal dia termasuk manusia yang paling bodoh.

Sebaliknya terkadang seseorang tidak memiliki titel namun dia termasuk manusia yang paling berilmu.
Apakah Syaikh Ibnu Baz memiliki titel ? Demikian juga Syaikh Ibnu Ibrahim dan Syaikh Ibnu Humaid ? Apakah mereka semuanya memiliki titel ? (tidak) Walaupun demikian mereka menjadi para imam di masa ini.

Maka yang terpenting adalah membicarakan apakah ilmu dan kefakihan itu ada pada seseorang. Bukan tentang titel atau tazkiyah, ini semua tidak teranggap.

Dan fakta nanti yang akan menyingkap keadaan seseorang. Jika ada sebuah masalah, atau muncul sebuah bencana, ketika itulah akan nampak siapa yang benar-benar seorang ulama dan mana orang yang sok berilmu dan jahil” (http://bit.ly/2ulQpHf)

Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.