Habis Kajian…

Habis kajian kemaren, ada seorang pemuda yang sedang dirundung keraguan dalam agamanya datang bertanya:
“Ustadz, bisa saya bertanya?”
Bisa, jawab saya.
Dia berkata, “Ustadz untuk apa Allah menciptakan manusia, sementara Allah mengetahui apa yang akan dilakukan manusia; apakah akan beramal kebaikan atau keburukan ?”

Saya menunduk sejenak berfikir apa jawaban yang paling mudah difahami oleh dia.
Saya jawab, “Akhi, sebenarnya ini bukan urusan kita. Karena ilmu kita terlalu dangkal sedangkan ilmu Allah amat luas. Memang segala sesuatu itu telah diketahui oleh Allah. Tetapi yang harus kamu ingat adalah bahwa Allahpun telah memberikan kepada kita kemampuan.

Lalu saya berkata kepadanya, “Boleh saya bertanya ?
Silahkan, jawabnya.

Kalau saya berkata kepadamu, “Jangan minum gelas yang ada di tanganmu itu! Kamu mampu melakukannya?”
Dia menjawab, “Mampu.”

“Baik, bila Allah memerintahkan kita sholat dan lainnya dan melarang zina dan sebagainya, mampukah kita melakukannya?”
Mampu, jawabnya.

Jika kamu meninggalkan sholat padahal kamu melakukannya, dan melakukan larangan padahal kamu mampu meninggalkannya, maka Allahpun berhak memberimu sanksi dan balasan.
Jika semua peraturan boleh dilanggar dan tidak boleh diberi sanksi hanya karena alasan takdir, maka buat apa dibuat peraturan lalu lintas dan lainnya.”
Si pemuda pun diam.

Lalu dia berkata, “Lantas kenapa Allah menciptakan manusia?”
Saya jawab, “Pertanyaanmu sama dengan pertanyaan: “Mengapa Allah menciptakan langit dan bumi.”

Boleh saya bertanya?”
Boleh, jawabnya.
Saya berkata, “Kalau kamu memiliki banyak kelebihan berupa kecerdasan, keilmuan dan sebagainya. Tetapi kamu sama sekali tidak mempergunakannya. Bukankah itu sia-sia ?”
Betul, jawabnya.
“Akhi, Allah memiliki segala macam kelebihan, maka tak mungkin Allah berbuat sia-sia. Dia menciptakan langit dan bumi karena adanya tujuan yang mulia.

Saya berkata, “Boleh saya bertanya lagi?”
Silahkan, jawabnya.
“Allah menciptakan bumi bukankah harus ada yang memakmurkannya ? Jika tidak, maka sia-sialah Allah menciptakan bumi ini.
Ia pun diam.

Saya berkata lagi, “Manusialah yang paling pantas untuk memakmurkan bumi ini.
Maka Allah bekali manusia dengan ilmu. Dan agar manusia terbimbing hidupnya di dunia, Allah menurunkan syariatNya, memberi perintah dan larangan untuk kemashlahatan mereka.”

Si pemuda itu pun tersenyum puas dan berterima kasih atas penjelasannya. Saya pun segera pamit untuk kembali pulang.

Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.