Siapakah Ustadz Dalam Menuntut Ilmu..?

Saudaraku, hendaknya penilaian itu bukan hanya karena mereka memulai kajian dengan menyebut innal hamda lillah, adanya jenggot, tidak isbal, adanya gelar lc dll, bicara tentang sunnah dan bid’ah, atau mereka sendiri mengaku telah mengikuti manhaj Salaf, atau merasa pernah duduk di kajiannya 1 atau 2 kali, lalu dengan mudahnya engkau berkata bahwa ia telah mengikuti Sunnah dan manhaj Salaf…?

Saudaraku, para jamaah umumnya awam, hanya sekedar berkata bagus cara penyampaiannya, lembut atau lucu, atau ceramahnya banyak di YouTube, atau banyak yang hadir di kajiannya, atau ustadz itu juga memakai dalil dari al-Qur’an dan al-Hadits dst…

Saudaraku, yang jadi masalah bukan hanya sekedar itu, tetapi ketahuilah “BAGAIMANA IA MEMAHAMI DALIL ?”, dan itu harus dikembalikan kepada bagaimana Rasulullah, para Sahabat, Tabi’in dan para ulama setelahnya dalam memahami dan mengamalkannya…

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

(1). “Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah seseorang menimba ilmu dari al-Ashaaghir (orang-orang bodoh dan pelaku bid’ah)” (HR. Abdullah bin Mubarak dalam Kitab Zuhudnya no. 61 dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir 22/361-362, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 2207)

(2). “Wahai Ibnu Umar, agamamu ! agamamu ! Ia adalah darah dan dagingmu. Maka lihatlah dari siapa engkau mengambilnya. Ambillah dari orang-orang yang istiqamah (terhadap sunnah), dan jangan engkau mengambil dari orang-orang yang melenceng (dari sunnah)” (Al-Kifaayah fii ’Ilmir Riwayah hal 81, oleh al-Khathib al-Baghdadi)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Lihatlah dari siapa kalian mengambil ilmu ini, karena ia adalah agama” (Al-Kifaayah fii ’Ilmir Riwayah hal 121, oleh al-Khathib al-Baghdadi)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Senantiasa umat manusia dalam kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari para Akaabir (yaitu ahli ilmu/ulama) mereka. Jika mereka mengambil ilmu dari Ashaaghir (orang-orang bodoh dan pelaku bid’ah) dan orang-orang jelek di antara mereka, niscaya mereka akan binasa” (Jaami’ Baayanil ’Ilmi wa Fadhlihi hal 112, oleh Ibnu Abdil Barr)

Ibrahim bin Yazid an-Nakha’i rahimahullah berkata :

“Dulu para ulama Salaf ketika datang kepada seorang (guru) untuk menimba ilmu agama, maka mereka meneliti (terlebih dahulu) bagaimana shalatnya, (pengamalannya terhadap) sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan penampilannya, kemudian barulah mereka mengambil ilmu darinya” (As-Sunan 1/124 oleh Imam ad-Darimi)

Abdur Rahman bin Yazid rahimahullah berkata :

“Tidak boleh mengambil ilmu kecuali kepada orang yang dipersaksikan (pernah) menuntut ilmu (Sunnah)” (Al-Jarhu wat Ta’diil II/28 oleh Imam Ibnu Abi Hatim)

Al-Khathib al-Bagdadi rahimahullah berkata :

“Sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk memilih guru yang dikenal pernah mempelajari hadits (Sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta diakui ketelitian dan kedalaman ilmunya” (Al-Jaami’u li-Akhlaaqir Raawi wa Aadaabis Saami’ 1/189)

Imam al-Munawi rahimahullah berkata :

“Janganlah kamu mengambil ilmu agama dari sembarang orang, kecuali orang yang telah kamu yakini keahlian dan kepantasannya untuk menjadi tempat mengambil ilmu” (Faidhul Qadiir II/545)

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata :

“Ilmu agama tidaklah diambil dari 4 jenis manusia, dan diperbolehkan diambil dari selainnya, yaitu :

(1). Ahli bid’ah yang mengajak manusia untuk mengikutinya dalam bid’ah tersebut.

(2). Orang yang bodoh yang tampak jelas kebodohannya, meskipun ia banyak meriwayatkan (hadits) dari manusia.

(3). Orang yang dalam kesehariannya suka berbohong, meski engkau tidak pernah mencurigainya membuat hadits palsu atas nama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

(4). Orang yang mempunyai keutamaan, shalih dan ahli ibadah, namun ia tidak paham apa yang dia sampaikan (yaitu tidak berilmu) (Al-Muhaddits al-Faashil 403)

Saudaraku, sudahkah engkau mengamalkannya ?

Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.