Menyimpulkan Hukum Agama, Berdakwah, dan Berfatwa Tuh Ndak Seperti Banteng Nyruduk…

Sobat! Anda penah melihat bagaimana banteng ketika bersungut sugut menyeruduk? Ya, bergerak cepat, kuat dan lempeng, susah berbelok, apapun yang di hadapannya hanya ada satu pilihan; sruduk. Serudak seruduk, tanpa ada akselerasi kecepatan atau kemampuan untuk merubah haluan adalah salah satu kehebatan banteng, namun sekaligus sebagai kelemahannya. Karena itu, para matador senang bermain dengan banteng, memancing amarah banteng, dan kemudian berkelit di detik-detik terakhir. Hasilnya: gubraaak, sang banteng tersungkur dan menjadi tontonan yang memancing decak kagum.

Mengkaji hukum, berdakwah dan berfatwa tentu sangat berbeda dengan perilaku banteng nyruduk, yang ujung ujungnya: gubraaak, menjadi bahan tetawaan dan tontonan banyak orang.

Seorang ahli agama, memiliki kemampuan untuk berakselerasi tinggi, seiring dengan perubahan kondisi dan tuntutan profesionalitas dalam berijtihad. Kemampuan berakselerasi dalam setiap kondisi bagaikan seorang pembalap mahir, adalah kehebatan dan keungulan seorang ulama’ dibanding para pengendara pemula atau para penuntut ilmu pemula.

Beberapa kisah berikut, memberi gambaran bagaimana seorang ulama’ mampu berakselerasi tinggi dalam setiap kondisi TANPA KELUAR DARI BATAS BATAS SYARI’AT dan tanpa melanggar dalil.

Kisah pertama:
Abidah mengisahkan: Suatu hari Uyainah bin Hishen dan Al Aqra’ bin Habis datang menemui sahabat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, lalu keduanya berkata: Wahai Khalifah Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya negri kami berdua tandus, tidak tumbuh rumput dan tidak dapat dimanfaatkan untuk apapun. Kami mengharap agar engkau memberi kami lahan pertanian agar dapat kami tanami.

Sahabat Abu Bakar memenuhi permohonan keduanya, dan selanjutnya kedua orang tersebut segera bergegas pulang. Di perjalanan, keduanya berjumpa dengan sahabat Umar bin Al Khatthab. Mengetahui surat keputusan Khalifah Abu Bakar untuk keduanya, sahabat Umar segera meminta surat tersebut dan menghapusnya. Selanjutnya beliau berkata:

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يتألفكما والإسلام يومئذ ذليل وإن الله قد أعز الإسلام فاذهبا فاجهدا جهدكما 

Sesungguhnya dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi harta kepada kalian berdua, karena kala itu Islam dalam kondisi lemah. Dan sesungguhnya saat ini, Allah telah memuliakan Islam, maka silahkan kalian berdua pergi dan selesaikan sendiri kesusahan kalian berdua. (Al Baihaqi dan lainnya)

Mengetahui sikap sahabatnya ini, Khalifah Abu Bakar-pun merestui sikapnya dan membatalkan pemberiannya untuk kedua orang tersebut.

Subhanallah, sahabat Umar bin Al Khatthab berakselerasi dalam penerapan hukum agama. Yang demikian itu karena memberi orang-orang yang baru masuk Islam bagian dari zakat adalah dalam rangka meneguhkan keislamannya. Dengan demikian, bila keislamnya telah teguh, maka tidak ada alasan lagi untuk memberinya bagian dari zakat.

Kisah Kedua:
Saad bin Ubaidah mengisahkan: suatu hari ada seorang lelaki datang kepada sahabat Ibnu Abbas, lalu bertanya: Apakah orang yang dengan sengaja membunuh seorang muslim, bisa diterima taubatnya ? Sepontan beliau menjawab: Tidak , tiada pilihan baginya selain masuk neraka.

Setelah penanya pergi, murid-murid beliau segera bertanya: Selama ini tidak demikian ini engkau mengajarkan kepada kami. Selama ini engkau mengajarkan bahwa pembunuh seorang muslim, masih terbuka baginya pintu taubat, mengapa hari ini tiba tiba engkau berubah pendapat ?

Beliau menjawab: Aku menduga orang tersebut adalah orang yang sedang dalam marah dan hendak membunuh seorang muslim.

Segera murid murid beliau mencari tahu perihal lelaki tersebut, dan mereka mendapatkan bahwa orang tersebut sesuai dengan praduga Ibnu Abbas. (Ibnu Abi Syaibah)

Kisah Ketiga : 
Pada suatu hari, ada seorang wanita menemui sahabat Abdullah bin Mughaffal radhiallahu ‘anhu, untuk bertanya kepadanya tentang wanita yang berzina, kemudian hamil, dan setelah ia melahirkan, ia membunuh anaknya tersebut. Menjawab pertanyaan ini Abdullah bin Mughaffal radhiallahu ‘anhu berkata: “Wanita itu masuk neraka”.

Mendengar jawaban yang demikian, wanita tersebut segera berpaling pergi sambil terisak-isak menangis. Melihat wanita itu menangis tersedu-sedu, sahabat Abdullah bin Mughaffal radhiallahu ‘anhu segera memanggilnya kembali, lalu berkata kepadanya : “Menurutku, tidaklah permasalahanmu ini kecuali satu dari dua alternatif berikut :

ومن يعمل سوء أو يظلم نفسه ثم يستغفر الله يجد الله غفورا رحيما

“Dan barang siapa yang melakukan kejahatan, atau mendlalimi dirinya, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun lagi Penyayang”. Mendengar jawaban beliau yang kedua ini, wanita tersebut mengusap matanya dan segera pergi. (Ibnu Jarir At Thobari)

Sahabat Abdulallah bin Mughaffal radhiallahu anhu berfatwa keras, karena ia menyangka bahwa pelaku perbuatan tersebut adalah orang lain, atau minimal wanita itu baru sebatas berencana.

Kondisi berubah, ketika wanita tersebut berpaling sambil menangis tersedu-sedu, beliau mendapat petunjuk bahwa wanita penanya itu adalah pelaku perbuatan tersebut. Setelah mendapat petunjuk ini, beliau segera berakselerasi dan menjelaskan hukum perbuatannya dengan lebih terperinci.

Semula beliau berniat untuk mencegah terjadinya perbuatan keji ini, namun ternyata kasusnya tidak sesuai praduga beliau. Wanita itu menanyakan satu kejadian yang benar – benar telah terjadi, bahkan wanita itulah oknum pelaku dosa-dosa besar tersebut. Tentu pada kondisi bukan lagi saatnya melakukan tindakan preventif, namun saatnya memberikan solusi nyata.

Demikianlah keahlian para ulama’ dalam memahami dan menerapkan ukum agama, tidak hanya berbekalkan semangat lalu nyruduk, namun berbekalkan kearifan yang sejalan dengan perkembangan dan perubahan kondisi ril di masyarakat.

Dahulu sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berkata:

ألا أخبركم بالفقيه كل الفقيه ؟ من لم يقنط الناس من رحمة الله، ولم يرخص لهم في معاصي الله، ولم يؤمنهم مكر الله ولم يترك القرآن إلى غيره. رواه الآجري والدارمي وأبو نعيم الأصبهاني والخطيب البغدادي.

“Sudikah aku kabarkan kepadamu, siapakah orang yang benar-benar telah berilmu dan berpemahaman luas? Dia adalah orang yang tidak menjadikan orang lain putus asa dari kerahmatan Allah, tidak pula menjadikan mereka gegabah dalam bermaksiat kepada Allah, tidak pula menjadikan mereka merasa aman dari pembalasan Allah, dan tidak menggantikan Al Qur’an dengan selainnya.” (Riwayat Al Ajurry, Ad Daarimy, Abu Nu’aim Al Ashbahaany dan Al Khathib Al Baghdaady.)

Dan perlu diketahui pula bahwa kebenaran dalam agama Islam tidaklah diukur dari keras atau lantangnya suara atau beratnya pendapat, demikian pula tidak diukur dengan ringan atau mudahnya suatu pendapat. KEBENARAN DIUKUR DENGAN DALIL YANG DIPAHAMI DENGAN BENAR DAN DITERAPKAN DENGAN BENAR PULA.

Adapun berkata lantang, yang sering disebut “kokoh” atau tidak, tanpa ada akselerasi sesuai kondisi yang ada, maka itu namanya nyruduk.

Dahulu Ma’mar bin Rasyid dan juga Sufyan bin Uyainah berkata:

إنما العلم عندنا الرخصة من ثقة فأما التشديد فيحسنه كل أحد رواهما الخطيب في جامع بيان العلم وفضله

Yang namanya ilmu itu adalah engkau mendapatkan kemudahan dari seorang yang ahlinya (kredibel). Adapun berpendapat keras, maka itu bisa saja dilakukan oleh setiap orang. (Riwayat Al Khathib Al Baghdady)

Sekali lagi kebenaran tidak diukur dari kerasnya suatu pendapat dan tidak pula mudahnya suatu pendapat, namun diukur dengan keselarasan dengan dalil dengan pemahaman yang benar pula.

Dan ingat pula, bila anda merasa sebagai orang awam, ya wajar bila mumet melihat akselerasi seorang pembalap formula one, atau akselerasi seorang ulama’. Karena itu, jangan ceroboh menuduh ulama’ plin-plan atau ngawur, bertanyalah kepada mereka agar anda tidak terhalang dari mendapat ilmu, sebagaimana yang dicontohkan oleh murid murid sahabat Ibnu Abbas dan Abdullah bin Al Mughaffal di atas. Dan jangan coba coba untuk berakselerasi seperti para ulama’ bisa celaka nyemplung neraka.

DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.