Sebagian Orang Tanpa Sadar Membuat Onar…

Sebagian orang tanpa sadar membuat onar, menjadikan masyarakat jauh dari Islam.

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu menuturkan:
Pada suatu hari tatkala hari telah petang, ada seseorang yang datang dengan menuntun dua ekor ontanya. Ketika ia tiba di salah satu masjid, ia mendapatkan sahabat Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu sedang mengimami sahabat lain menunaikan ibadah sholat ‘Isya’. Orang tersebut segera bergabung untuk menunaikan sholat isya’ berjama’ah. Seusai membaca surat Al fatihah, sahabat Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu membaca surat Al Baqarah. Mengetahui hal itu, orang tersebut, dengan tanpa menimbulkan kegaduhan mundur dari barisan shof, keluar dari berjamah dan melanjutkan sholatnya sendiri, lalu ia berpaling dan pergi. Tatkala sahabat Mu’adz dan yang lain selesai dari sholatnya, merekapun mencela sahabat tersebut dan menuduhnya telah dijangkiti kemunafikan.

Tuduhan merekapun pada akhirnya didengar oleh sahabat tersebut, sehingga iapun tersinggung dan mengadukan perilaku sahabat Mu’adz yang memanjangkan bacaan sholatnya kepada Rasulullah radhiallahu ‘anhu. Ia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami ini bekerja keras menyirami kebun pada siang hari, sedangkan Mu’adz biasanya sholat Isya’ bersamamu, selanjutnya ia kembali ke tempat kami dan mengimami kami sholat Isya’. Ketika menjadi imam sholat, ia membaca surat Al Baqarah”.

Mendengar pengaduan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi murka kepada sahabat Mu’adz, sambil bersabda: “Wahai Mu’adz, apakah engkau adalah tukang pembuat kekacauan?” Bacalah surat ini dan surat itu. Tidakkah ketika engkau mengimami sholat, engkau membaca surat “Sabbihis marabbikal a’ala”, “Was syamsi wa dhuhaaha” dan “wallai idza yaghsya”? Sesungguhnya dibelakangmu ada orangtua, orang lemah/sakit dan orang yang memiliki keperluan.” (Muttafaqun ‘alaih).

Saudaraku, sahabat mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berusaha menerapkan sunnah dan mencari pahala yang banyak, yaitu dengan memanjangkan sholat. Namun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur beliau bahkan murka kepadanya, karena ternyata niat baiknya tersebut menimbulkan kekacauan.

Beliau ditegur sedemikian rupa, karena kurang mempertimbangkan kondisi makmumnya, sehingga menyebabkan salah seorang dari mereka memisahkan diri dari jama’ah sholat. Ternyata niat baik sahabat Mu’adz radhiallahu ‘anhu tidak cukup untuk menjadi alasan baginya di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan ingat, yang bermasalah hanya satu orang dan bukan puluhan atau ratusan atau ribuan, namun hanya satu orang, bagaimana bila pelakunya puluhan atau bahkan ratusan.

Ingat pula, sahabat Mu’az melakukan amalan sunnah, yaitu memanjangkan bacaan sholat, bukan mubah apalagi haram.

Pada riwayat lain dicontohkan bentuk kekacauan yang dapat terjadi akibat imam terlalu panjang bacaannya, yaitu: menjadikan sebagian orang enggan untuk sholat berjamaah di masjid.

Sahabat Abu Mas’ud Al Badri menuturkan:
Ada seorang lelaki yang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

والله يا رسول الله إني لأتأخر عن صلاة الغداة من أجل فلان مما يطيل بنا

Sungguh Ya Rasulullah, saya sengaja terlambat mendatangi sholat berjamaah subuh dikarenakan oleh si fulan (imam sholat) yang ketika memimpin sholat, terlalu memanjangkan sholatnya.

فما رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم في موعظة أشد غضبا منه

Kemudian sahabat Abu Mas’ud mengisahkan: aku tiada pernah melihat beliau murka ketika menyampaikan satu peringatan melebihi kemurkaan beliau kali ini, dan kemudian beliau bersabda:

(يا أَيُّهَا الناس إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَمَنْ أَمَّ الناس فَلْيَتَجَوَّزْ فإن خَلْفَهُ الضَّعِيفَ وَالْكَبِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ)

“Wahai para manusia, sesungguhnya sebagian dari kalian ada orang-orang yang menyebabkan orang lain menjauh. Barang siapa yang menjadi imam sholat, hendaknya ia memendekkan sholatnya, karena dibelakangnya ada orang yang lemah, orang tua renta, dan orang yang memiliki keperluan.” (Muttafaqun ‘alaih).

Memang, menjauh dari Islam, atau membenci Islam adalah kebodohan dan kejahatan besar, namun jangan lupa bahwa salah sikap sehingga menjadikan masyarakat membenci Islam adalah kebodohan dan kejahatan lainnya.

Sobat, mari kita hentikan kebiasan buruk berkedok dengan kebodohan dan kejahatan orang untuk menutupi kebodohan dan kejahatan diri sendiri. Jangan biasakan untuk bertameng dengan kepandiran orang lain yang menjauh dari kebenaran, sedangkan tanpa sadar anda telah menyebabkan mereka membenci ilmu, sunnah, dan manhaj salaf.

Semoga menjadi bahan renungan yang bermanfaat bagi kita semua.

Harap status ini tidak dikait-kaitkan dengan siapapun selain diri anda, dan kalau anda merasa tidak layak menjadi contoh, sehingga anda memerlukan contoh, maka anggap saja saya adalah salah satu oknumnya, semoga Allah mengampuni dosa dosa saya, amiin.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.