Perbandingan Menghafal Al Qur’an Di Zaman Para Sahabat Dengan Zaman Selain Mereka…

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengisahkan: Suatu hari ada seorang lelaki datang kepada Khalifah Umar bin Al Khatthab. Segera Khalifah Umar bertanya kepadanya perihal masyarakat di negrinya. Lelaki itu menjawab: Wahai Amirul Mukminin, di tengah mereka saat ini sudah ada sekian banyak orang yang menghafal Al Qur’an.

Mendengar kabar tersebut, spontan sahabat Ibnu Abbas berkata: Sungguh demi Allah aku tidak senang bila mereka terlalu cepat menghafal Al Qur’an semacam ini.

Mendengar komentar sahabat Ibnu Abbas ini, Khalifah Umar segera menghardiknya dengan berkata: Diamlah!

Mendapat hardikan keras dari Khalifah Umar, sahabat Ibnu Abbas segera diam, dan tidak selang berapa lama beliau pulang ke rumahnya dalam kondisi galau dan sedih, dan berkata: Sungguh sebelumnya aku begitu dipercaya oleh Khalifah Umar, namun sekarang aku merasa ia tidak akan pernah percaya lagi kepadaku. Sesampai di rumah, sahabat Ibnu Abbas segera berbaring di atas tempat tidur sampai-sampai para wanita dari keluarganya mengira beliau sakit, sehingga mereka menjenguknya, padahal beliau sehat wal afiat dan tiada menderita sakit sama sekali.

Tiada yang terjadi selain beliau begitu terpukul mendapat hardikan Khalifah Umar.

Di saat beliau masih berbaring hanyut dalam kegalauan, tiba tiba ada seorang lelaki mendatanginya dan berkata: segera penuhi panggilan Amirul Mukminin.

Segera sahabat Ibnu Abbas bergegas keluar rumah hendak menuju ke rumah Khalifah Umar, namun ternyata ia mendapatkan Khalifah Umar sudah berdiri menantinya.
Segera Khalifah Umar menggandeng tangan Ibnu Abbas, dan menepi ke tempat yang sunyi, dan berkata: Apa yang engkau tidak suka dari ucapan lelaki tersebut ?

Sahabat Ibnu Abbas menjawab: Wahai Amirul Mukminin, bila aku telah melakukan kesalahan, maka aku memohon ampunan kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya, lalu silahkan engkau menghukumku sesuka hatimu.

Beliau kembali berkata: Sungguh engkau harus menceritakan kepadaku apa yang tidak engkau suka dari ucapan lelaki tersebut ?

Sahabat Ibnu Abbas menjawab: Wahai Amirul Mukminin, setiap kali masyarakat tergesa gesa seperti ini dalam menghafalkan Al Qur’an, niscaya mereka mudah terjatuh pada kesalah pahaman terhadap makna Al Qur’an, dan bila merela telah salah memahami Al Qur’an, niscaya mereka bersilang pendapat, dan bila mereka telah bersilang pendapat, niscaya mereka berselisih, dan bila mereka telah berselisih, niscaya mereka berperang.

Khalifah Umar menimpali ucapan sahabat Ibnu Abbas dengan berkata: Sunguh beruntung ayahmu, sungguh aku sudah sekian lama menyembunyikan pendapat seperti ini dari orang lain, hingga akhirnya engkau mengutarakannya kepadaku. (Ma’mar bin Ar Rasyid dan Abdurrazzaq)

Imam Malik meriwayatkan bahwa dahulu, sahabat Umar bin Al Khatthab mempelajari surat Al Baqarah selama dua belas (12) tahun. Tatkala beliau selesai dari mempelajarinya, beliau menyembelih seekor onta.

Imam Ibnul Qayyim menukilkan dari sebagian salaf yang berkata: Al Qur’an diturunkan untuk diamalkan kandungannya, namun mereka hanya menjadikan bacaannya sebagai amalan. Karena itu dahulu orang yang disebut sebagai Ahli Al Qur’an adalah orang yang mengamalkan Al Qur’an dan mengamalkan kandungannya, walaupun ia tidak mengahafalnya. Adapun orang yang menghafalkan teksnya, namun ia tidak memahaminya, dan juga tidak mengamalkan kandungannya, maka ia tidak layak disebut sebagai Ahli Al Qur’an, walaupun ia mampu menghafalnya secepat anak panah yang melesat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.