Bersikap Bijaklah Kepada Ulama…

Para ulama tidaklah maksum, yakni bebas dari kesalahan dan kekeliruan. Mereka yang mempunyai andil besar dalam mendakwahkan al-Qur’an dan as-Sunnah di atas manhaj salaf tidak bisa digugurkan keutamaannya, jika seandainya diantara pendapatnya ada yang salah atau kurang kuat, dan juga tidak boleh untuk menghina dan merendahkan mereka.

Syaikh DR. Muhammad bin Umar Bazmul berkata :

ليس من منهج السلف معاملة أخطاء أهل السنة كمعاملة أهل البدع. فإن كل
ابن آدم خطاء، فينظر في منهج الرجل ويعامل الخطأ الذي وقع منه على أساس ذلك

Tidak termasuk dalam manhaj salaf, yaitu menyikapi kesalahan-kesalahan seorang ahlus-sunnah seperti menyikapi kesalahan ahlul-bid’ah, karena setiap anak Adam pasti memiliki kesalahan. (Apabila seorang ahlus-sunnah terjatuh dalam kesalahan), maka manhajnya dilihat dan kesalahan tersebut disikapi sesuai dengan manhajnya

Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

Kalau seandainya seorang alim (ulama) yang banyak memberikan fatwa salah dalam100 masalah, maka itu bukan suatu aib. Karena siapa saja selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dia bisa benar dan bisa saja salah” (Majmu Fataawa 28/301)

Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata :

Orang alim (ulama) tidak lepas dari kesalahan. Siapa yang SEDIKIT kesalahannya dan BANYAK benarnya maka dialah orang alim. Dan siapa yang sedikit benarnya dan banyak kesalahannya maka dialah orang jahil” (Jami’ Bayaan al-Ilmi II/106)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وبالجملة فقد كان رحمه الله من كبار العلماء وممن يخطئ ويصيب ، ولكن خطأه بالنسبة إلى صوابه كنقطة في بحر لجي ، وخطؤه مغفور له

Secara umum, beliau (Ibnu Taimiyah) rahimahullah termasuk ulama besar, dan juga termasuk orang yang berbuat benar dan berbuat keliru. Akan tetapi kesalahan beliau jika dibandingkan dengan kebenaran beliau, maka seperti satu titik dalam lautan dalam. Dan kesalahan beliau adalah diampuni” (Al-Bidayah wan Nihayah 14/160).

Dan apa yang dialami oleh al-Qadhi Jamaluddin Abu Abdillah ar-Raimi az-Zubaidi asy-Syafi’i (wafat tahun 791 H) merupakan kematian yang tragis karena seringnya ia mencela Imam an-Nawawi rahimahullah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

أخبرني الجمال المصري محمد بن أبي بكر بزبيد أنه شاهده عند وفاته وقد اندلع لسانه وأسود فكانوا يرون أن ذلك بسبب كثرة وقيعته في الشيخ محيي الدين النووي رحمه الله تعالى.

Aku diberitahu oleh al-Jamal al-Mishri Muhammad bin Abu Bakar di kota Zubaid Yaman, bahwa beliau menyaksikan ar-Raimi saat wafatnya dalam keadaan lidahnya terjulur dan menghitam. Para ulama berpendapat bahwa keadaan tersebut karena ar-Raimi suka mencela Imam an-Nawawi rahimahullah” (Ad-Durarul Kaminah fil A’yanil Mi’atits Tsaminah II/9).

Berhati-hatilah, karena tanda dari ilmu yang tidak bermanfaat adalah : “Menumbuhkan kesombongan, ambisi kepada dunia, mengalihkan perhatian orang kepada dirinya, berburuk sangka dan menganggap bodoh Ulama, serta merasa lebih apa yang dimilikinya” (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali).

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

 

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.