Sejarah Kelam Dari Sikap Fanatisme…

Contoh nyata dalam sejarah adanya praktek hizbiyah antara murid bukan antara pengikut organisasi.

Pada tahun 489 H di daerah Khurasan terjadi kekacauan antara pengikut Mazhab Syafi’i dengan pengikut Mazhab Hanafi.

Biangnya adalah karena ada seorang tokoh penganut Mazhab Hanafi yang bernama : Mansur bin Muhammad As Sam’any yang semula bermazhab Hanafi secara terang-terangan mendeklarasikan perpindahan mazhab, dari Hanafi kepada Syafi’i. Deklarasi ini disampaikan secara terbuka dihadapan tokoh tokoh dari kedua mazhab.

Deklarasi beliau ini memancing ketegangan yang sangat parah antara penganut dua mazhab.

Pada tahun 573 H para penganut mazhab Hambali melarang penguburan seorang Khatib Masjid Jami’ Al Mansur yang bernama Muhammad bin Abdullah di pekuburan Imam Ahmad bin Hambal, hanya karena dia seorang penganut mazhab Syafi’i dan bukan Hambali

SIkap para penganut mazhab Hambali ini memancing ketegangan antara penganut dua mazhab.

Pada tahun 560 H, terjadi pertumpahan darah selama 8 hari, antara penganut mazhab Syafi’i dengan penganut mazhab lain di kota Asbahan

Pada tahun 582 H, kembali terjadi ketegangan antara penganut mazhab Hanafi dengan penganut mazhab Syafi’i di kota Asbahan, yang mengakibatkan tejadinya pertumpahan darah, penjarahan dan berbagai kerusakan lainnya.

Dan masih banyak sejarah kelam dari sikap sikap fanatisme antara sesama ummat Islam.

Kesimpulannya, fanatisme itu adalah sikap dan perilaku bukan produk atau merek atau label. Jadi walaupun anda tidak bermerek dan tidak berlabel, namun sikap dan perilaku anda ekstrim, dan dalil anda hanya “pokoknya” atau “yang penting” atau “bondo nekad“, maka itulah fanatisme atau ashobiyah.

La antara hidung mancung dengan hidung pesek saja terjadi fanatisme, antara kulit putih dengan kulit hitam juga terjadi fanatisme, kok kini ada upaya sadar mengalihkan isu atau menyempitkan pemahaman.

Di saat Haji Wada’ Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendeklarasikan perang terhadap fanatisme, terhadap segala sesuatu (eh kala itu belum ada organisasi) termasuk terhadap aspek “mancung dan pesek, putih dan hitam,“.

Simak deklarasi beliau berikut ini:

وعن أبي نضرة قال: «حدثني من سمع خطبة النبي صلى الله عليه وسلم في وسط أيام التشريق فقال: ” يا أيها الناس، إن ربكم واحد وأباكم واحد، ألا لا فضل لعربي على عجمي، ولا لعجمي على عربي، ولا أسود على أحمر، ولا أحمر على أسود إلا بالتقوى، أبلغت؟ “. قالوا: بلغ رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Abu Nadhrah telah menceritakan kepadaku orang yang mendengar langsung khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditengah-tengah hari tasyriq, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu (maksudnya Nabi Adam). Ingatlah. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam (non-Arab) dan bagi orang ajam atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit putih kemerahan atas orang berkulit hitam legam, bagi orang berkulit hitam legam atas orang berkulit putih kemerahan kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan ?” mereka menjawab: Iya, benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan.” (Ahmad dan lainnya)

Semoga mencerahkan, dan tidak ada lagi upaya sadar atau tidak sadar untuk mendangkalkan arti fanatisme atau ashobiyah atau hizbiyah.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.