Ambil Baiknya Buang Buruknya…

Dalam masalah apapun wajib untuk kita melakukan kaidah ini. Mengambil yang baik dan membuang yang buruk.

Dalam makan misalnya, wajib kita mengambil makanan yang baik dan bermanfaat dan membuang makanan yang buruk dan berbahaya.
Dalam ucapan, wajib kita memilih kata kata yang baik dan membuang kata kata yang buruk.
Dalam mencari teman demikian juga.
Dalam menuntut ilmu pun wajib mengambil ilmu yang baik dan membuang ilmu yang buruk.

Tetapi untuk memilah mana makanan yang baik dan mana yang buruk tentunya membutuhkan keilmuan. Jika tidak memiliki ilmu, maka kita tidak akan dapat melakukannya.

Bagi orang yang telah memiliki keilmuan yang kokoh, menguasai ilmu alat dan bahasa arab yang cukup. Ia dapat memilah dan memilih dengan kaidah kaidah syariat yang telah ia kuasai.
Namun bagi yang belum memiliki ilmu yang kokoh, akan malah menimbulkan kebimbangan dan mudah terkena syubhat pemikiran.

Maka jika anda ingin berkata, “Saya mengambil ilmu dari siapa saja, saya ambil baiknya dan saya buang buruknya.”
Maka hendaknya intropeksi apakah telah kokoh keilmuan kita untuk dapat menepis syubhat.

Bila sekelas imam Ahmad yang hafal satu juta hadits saja ketika melewati majelis muktazilah menutup telinga? Bagaimana dengan kelas kita yang mungkin 40 hadits pun tidak hafal.

Maka hendaklah kita mendahulukan kehati-hatian dalam menimba ilmu. Karena keselamatan itu tidak dapat dibandingkan dengan apapun jua.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.