Seharusnya Mereka Yang Meminta Ma’af Kepada Saya..(??)

Dosa mereka kepada saya lebih banyak dibanding dosa saya kepada mereka, maka seharusnya mereka yang meminta ma’af kepada saya ?

Islam tuh mengajarkan kita untuk senantiasa menjadi penebar kasih sayang. Semakin kita belajar dan bertambah iman, seharusnya kita semakin bertambah kasih sayang kepada semua saudara kita.

Belajar dan berdakwah untuk memperbanyak persamaan dan persahabatan agar semakin banyak yang beriman dan bertaqwa, bukan malah sebaliknya semakin belajar semakin banyak musuh dan semakin sempit dada anda karena dipenuhi oleh kebencian kepada masyarakat anda.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di maki, diludahi, dilempari bebatuan dan diusir oleh kaum Tsaqif, namun ketika ditawari bantuan oleh Malaikat Jibril dan malaikat Penunggu Gunung, beliau malah menghadiahi do’a kepada orang orang yang menyakitinya agar mereka masuk Islam.

Beliau tidak menyibukkan diri dengan merencanakan dendam atau pelampiasan kebencian atau dendam.

Yang terjadi, beliau malah mengemukakan alasan ummatnya yang tiada lelah memusuhi dan menyakitinya.

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

كأني أنظر إلى رسول الله {صلى الله عليه وسلم} يحكي نبياً من الأنبياء ضربه قومه فأدموه وهو يمسح الدم عن وجهه ويقول اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون

Sungguh seakan saat ini aku sedang menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan perihal seorang nabi yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah darah. Sambil mengusap darah di wajahnya, beliau berdoa: “Ya Allah ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka adalah orang orang yang tidak tahu (bodoh).” Muttaafaqun ‘alaih.

Sobat! kemanakah selama ini kita dari mengamalkan hadits ini ? Mengapa lisan kita, tindakan kita dan hati kita dipenuhi dengan dendam dan emosi kepada saudara sendiri yang nyata-nyata beragama Islam, walau memang nyatanya banyak terdapat perbedaan.

Tidakkah kita bisa lebih bersabar, dan berlapang dada, bisa jadi saudara kita memusuhi dan menyakiti kita karena kurangnya kita dalam menunaikan hak-hak saudara kita berupa amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan cara-cara yang benar-benar ma’ruf, alias sesuai dengan keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Betapa pentingnya saat ini kita untuk memperbanyak istighfar karena kurang mampu menunaikan hak-hak saudara kita dibanding menyibukkan diri dengan menginventaris kesalahan mereka kepada kita .

Percayalah, bila memang mereka bersalah, kepada anda, maka hak-hak anda akan anda dapatkan seutuhnya kelak di hari Qiyamat.

Namun jangan lupa pula bahwa walaupun kesalahan anda kepada mereka lebih kecil dibanding dosa mereka kepada anda, maka itu tidak menjadi jaminan bahwa anda akan selamat dari hisab dan terbebas dari siksa di dunia ataupun di akhirat.

Bisa jadi pula mereka memiliki kebaikan yang cukup untuk menebus dosa-dosa mereka kepada anda, sedangkan anda belum tentu memiliki cukup simpanan pahala untuk menebus dosa-dosa anda kepada mereka.

Jangan lupa sobat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berdakwah dengan cara yang paling sempurna, walau demikian, di akhir hayat beliau diperintahkan untuk memperbanyak istighfar, menyibukkan diri dengan kekurangan diri sendiri bukan dengan kekurangan dan dosa dosa orang lain. Allah Ta’ala berfirman:

إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ {1} وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا {2} فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (An Nasher 1-3)

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Raihlah pahala dan kebaikan dengan membagikan link kajian Islam yang bermanfaat ini, melalui jejaring sosial Facebook, Twitter, dan Google+ yang Anda miliki. Semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda.