All posts by BBG Al Ilmu

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-19

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj salaf dalam masalah tarbiyah dan perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH KE-18 bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 19 🌼

Bahwasanya mereka meyakini, bahwa
Jihad itu wajib sampai hari kiamat. Dan jihad itu:
– dengan hati,
– dengan dakwah,
– dengan hujjah,
– dengan ilmu,
– dengan pendapat,
– dengan pengaturan,
– dengan badan,
– dengan harta
maka wajib sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Adapun menjihadi orang-orang kafir, maka tentu ini harus memenuhi syarat-syaratnya. Dalam artian berperang.
Karena jihad itu terbagi menjadi tingkatan;

1. Jihad melawan diri sendiri.
Ini merupakan dasar jihad, yaitu dengan cara menuntut ilmu dan mengamalkannya serta mengajarkannya.

2. Jihad dengan syaitan.
Dengan cara mempelajari langkah-langkahnya.

3. Jihad dengan orang fasik.
Yaitu dengan cara mendakwahinya, tapi jika ia membuat keonaran di muka bumi, maka dengan memeranginya.
Dan tentunya yang memeranginya adalah imam kaum muslimin.

4. Adapun jihad melawan orang kafir ada 2:
– Jihad ekspansi
– Jihad membela diri

Dan kemudian beliau menyebutkan syarat-syarat yang harus di penuhi dalam masalah jihad syar’i;

1. kata beliau: Hendaklah TUJUAN PALING UTAMA adalah MENEGAKKAN KALIMAT ALLAH, bukan kalimat partai, bukan kalimat fulan atau organisasi fulan_ …..tidak!
Kenapa ?
Berdasarkan hadits Abu Musa Al Asy’ari dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan dalam hadits:
Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah itu yang paling tinggi maka itulah yang di jalan Allah.”

2. Tampaknya ilmu yang bermanfaat dan amalan sholeh diantara kaum muslimin,
Kenapa ?
Karena kebodohan itu hakikatnya hanya akan merusak, maka Allah berfirman [QS At-Tauba: 33]

‎هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ

Dialah Allah yang telah mengutus Rasulnya dengan membawa huda (ilmu), wa diinil haq (amal) untuk Allah menangkan diatas seluruh agama

Imam Bukhori berkata dalam shohihnya
– Bab Amalan Sholeh Qoblal Qital
– Bab Amal Sholeh sebelum berperang.
Ini menunjukkan bahwa ilmu dan amal ini WAJIB SEBELUM adanya jihad.

3. Persiapan militer
Yang membuat orang-orang kafir ketakutan, itu sesuai dengan kemampuan, sebagaimana Allah mengatakan [QS Al-Anfal: 60]

‎وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ}

Persiapkanlah untuk menghadapi mereka, apa yang kalian mampu dari kekuatan

4. Harus ada Imam/pemimpin, yang memimpin mereka dan kaum muslimin sepakat di atas imam tersebut, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Imam atau pemimpin itu ada perisai yang berperang di belakangnya dan jadi tameng di belakangnya” (di keluarkan oleh Imam Bukhori)

Ini menunjukkan bahwa ini adalah syarat-syarat yang harus terpenuhi.
Adapun apabila tidak di penuhi syarat-syarat ini, maka TIDAK DIPERBOLEHKAN.

Adapun jihad yang sifatnya membela diri ketika orang-orang kafirin menyerang negri kaum muslimin, maka itu adalah wajib.
Dan itu pun juga kata beliau di sesuaikan dengan keadaan.

Jika ternyata berperang melawan mereka malah menimbulkan mudharat yang jauh lebih besar, maka tidak boleh, bahkan terkadang bisa jadi haram.

Dan apabila tidak ada kaum muslimin namun di situ ada para ulama yang mereka itu bersepakat, itu adalah perkara yang harus di lakukan dan maslahatnya besar maka silakan.

👉🏼 Yang jelas masalah jihad ini harus di kembalikan kepada para ulama besar, bukan pendapat-pendapat orang-orang yang ilmunya rendah atau tidak kuat, karena masalah ini masalah yang besar.

👉🏼 Tidak boleh sesuatu di kaitkan jihad keluar KECUALI dengan dalil dan hujjah yang kuat di Al Qur’an dan Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

👉🏼 Berapa banyak orang di zaman ini menganggap jihad padahal bukan jihad seperti bom bunuh diri, dan yang lainnya.
Itu jelas adalah perbuatan yang di larang dalam syari’at.

Wallahu a’lam🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj salaf dalam masalah tarbiyah dan perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Apakah Penyakit ‘AIN Bisa Melalui Gambar atau Video..?

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,

ﻭﻧﻔﺲ ﺍﻟﻌﺎﺋﻦ ﻻ ﻳﺘﻮﻗﻒ ﺗﺄﺛﻴﺮﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺅﻳﺔ ، ﺑﻞ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﻋﻤﻰ ﻓﻴﻮﺻﻒ ﻟﻪ ﺍﻟﺸﻲﺀ ﻓﺘﺆﺛﺮ ﻧﻔﺴﻪ ﻓﻴﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﻩ ، ﻭﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺎﺋﻨﻴﻦ ﻳﺆﺛﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ ﺑﺎﻟﻮﺻﻒ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺭﺅﻳﺔ

Jiwa orang yang menjadi penyebab ‘ain bisa saja menimbulkan penyakit ‘ain tanpa harus dengan melihat. Bahkan terkadang ada orang buta, kemudian diceritakan tentang sesuatu kepadanya, jiwanya bisa menimbulkan penyakit ‘ain, meskipun dia tidak melihatnya. Ada banyak penyebab ‘ain yang bisa menjadi sebab terjadinya ‘ain, hanya dengan cerita saja tanpa melihat langsung

(Zadul Ma’ad 4/1493).

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menjelaskan,

ﻭﺑﻬﺬﺍ ﻳﺘﺒﻴﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻌﺎﺋﻦ ﻗﺪ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺻﻮﺭﺓ ﺍﻟﺸﺨﺺ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻠﻔﺎﺯ ، ﻭﻗﺪ ﻳﺴﻤﻊ ﺃﻭﺻﺎﻓﻪ ﻓﻴﺼﻴﺒﻪ ﺑﻌﻴﻨﻪ ، ﻧﺴﺄﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺴﻼﻣﺔ ﻭﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ

Oleh karena itu, jelaslah bahwa penyebab ‘ain bisa jadi ketika melihat gambar seseorang atau melalui televisi, atau terkadang hanya mendengar ciri-cirinya, kemudian orang itu terkena ‘ain. Kita memohon keselamatan dan kesehatan kepada Allah. (Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 122272)

Tanda-Tanda Terkena ‘Ain

Tanda-tanda anak yang terkena ‘ain di antaranya adalah menangis secara tidak wajar (bukan karena lapar, sakit atau mengompol), kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau menyusu pada ibunya tanpa sebab, atau kondisi tubuh sang anak kurus kering dan tanda-tanda yang tidak wajar lainnya.

Sebagaimana dalam hadits dari Amrah dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata, “Pada suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk rumah. Tiba-tiba beliau mendengar anak kecil menangis, lalu Beliau berkata,

ما لِصبيِّكم هذا يبكي قهلاََ استرقيتم له من العين

Kenapa anak kecilmu ini menangis ? Tidakkah kamu mencari orang yang bisa mengobati dia dari penyakit ‘ain ?” (HR. Ahmad, Baqi Musnadil Anshar. 33304).

Begitu pula hadits Jabir radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Asma’ binti Umais, “Mengapa aku lihat badan anak-anak saudaraku ini kurus kering? Apakah mereka kelaparan ?” Asma menjawab, “Tidak, akan tetapi mereka tertimpa ‘ain”. Beliau berkata, “Kalau begitu bacakan ruqyah bagi mereka !” (HR. Muslim, Ahmad dan Baihaqi)

ref :
https://rumaysho.com/3308-pandangan-hasad-lewat-gambar.html

Menjaga Anak dari Bahaya ‘Ain

Jangan Lagi…

Jika kita rutin membaca do’a agar kita dan anak kita terhindar dari MATA JAHAT.. tapi pada saat yang bersamaan tetap saja memajang foto bayi/anak atau foto kita di akun medsos.. sama saja kita tidak berusaha menghindar dari pengaruh Mata Jahat…
.
Jika foto-foto tersebut di save kemudian dilihat terus menerus… dan bisa jadi ada diantara mereka yang memiliki pengaruh Mata Jahat.. berarti kita telah dengan sengaja membiarkan diri kita dan anak kita terus menerus potensi kena pengaruh Mata Jahat.. selama mereka masih menyimpan dan melihat foto anak dan foto kita… Bisa jadi bertahun-tahun…
.
Segera hapus dan jangan pernah lagi, ingat sabda Rasulullah Shallallahu’Alayhi Wasallam bahwa ‘AIN itu HAQ (benar adanya)..
.
Semoga Allah senantiasa menjaga ana dan antum semua dan keluarga kita masing-masing dalam kebaikan dan kesehatan… Aamiiin ya Robb

Melindungi Diri Kita DAN Anak Kita Dari ‘AIN – Pengaruh Mata Jahat…

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اِ سْتَعِيْذُوْا بِاللهِ تَعَالَى مِنَ الْعَيْنِ، فَإِنَّ الْعَيْنَ حَقٌّ

Berlindunglah kalian kepada Allah dari ‘ain, karena sesungguhnya ‘ain itu haq (benar)”

(HR. Ibnu Majah no. 3508 dan Al Hakim no. IV/215, Lihat Silsilah Al Ahaadits Ash Shahiihah no. 737)

 

========

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan perlindungan untuk Hasan dan Husain, (beliau membaca) :

أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة

Aku memohon perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna untuk kalian berdua, dari gangguan setan dan binatang berbisa, dan dari pandangan mata (‘ain) yang membuat sakit.”

(HR. Al Bukhari no. 3371 dan Abu Dawud no. 4737, Lafazh ini milik Abu Dawud).

 

Ingin Ilmu Anda Menyebar..? Amalkan Ilmu Itu..!

Ibnul Jauzi rahimahullah (w 597 H) mengatakan:

“Aku banyak bertemu para syeikh, keadaan mereka berbeda-beda, keilmuan mereka juga bertingkat-tingkat. Namun yang paling bermanfaat bagiku dalam bergaul dengannya adalah orang yang mengamalkan ilmunya, meskipun ada yang lebih alim dari dia.

Aku juga telah bertemu para ulama hadits, mereka punya hapalan dan keilmuan, namun mereka bermudah-mudahan dalam ghibah yang mereka legalkan dengan label ‘jarh wat ta’dil’. Mereka juga mengambil upah dari bacaan hadits, dan segera menjawab pertanyaan agar terjaga namanya, meski dia jatuh dalam kesalahan.

Aku juga telah bertemu dengan Abdul Wahhab Al Anmathi, dia dulu berjalan di atas ‘aturan’ salaf, ghibah tidak pernah terdengar di majlisnya, tidak pula mengambil upah dari kegiatan memperdengarkan haditsnya. Dan aku pernah membaca hadits roqo’iq di depannya, maka diapun menangis, dan menangis lama, sehingga tangisan itu merasuk ke dalam hatiku -padahal saat itu aku masih kecil-, dan membangun pilar-pilar akhlak (dalam jiwaku). Dia memang serupa dengan ciri-cirinya para syeikh yang sifat-sifat mereka kami dengar dari nukilan (kitab).

Aku juga telah bertemu dengan Abu Manshur Al Jawaliki. Dia banyak diam, sangat berhati-hati dalam ucapannya, sangat kuat ilmunya, dan muhaqqiq. Namun begitu, kadang ketika ditanya masalah yang mudah, yang sebagian muridnya akan segera menjawabnya, dia berhenti menjawabnya hingga yakin dengan jawabannya. Dia itu banyak puasa dan pendiam.

Manfaat yang kudapatkan dengan melihat dua orang ini -Al Anmathi dan Al Jawaliqi-, lebih banyak dari manfaat yang kuambil dari selain dua orang ini. Sehingga dari keadaan ini aku paham, bahwa petunjuk dengan tindakan lebih kuat pengaruhnya daripada petunjuk dengan ucapan.

Aku juga melihat para syeikh yang memiliki banyak waktu berkholwat (dengan teman-temannya) untuk nyantai dan canda. Akibatnya mereka jauh dari hati manusia, dan keteledoran mereka itu mencerai-beraikan kembali ilmu yang sudah mereka kumpulkan, sehingga ketika hidupnya, mereka kurang bermanfaat, dan ketika meninggalnya mereka dilalaikan, dan hampir tidak ada seorang pun yang tertarik dengan kitab-kitab mereka.

Maka hendaklah kalian menjaga ilmu dengan amal, karena ini merupakan pokok yang paling mendasar. Sungguh orang yang paling kasihan adalah orang yang menyia-nyiakan umurnya dalam ilmu yang tidak diamalkan, hingga hilang darinya kenikmatan dunia dan kebaikan akhirat, lalu dia datang merugi (di akhirat), padahal dia harus menanggung hujjah yang kuat terhadapnya”. [Shoidul Khothir 108-109].

Subhanallah.  Ini di zaman beliau, bagaimana jika beliau hidup di zaman ini ?! Ghibah dengan label ‘tahdzir dan nasehat’ di mana-mana. Banyak orang berilmu, tapi tidak tampak sama sekali pada akhlaknya.

Bahkan, tidak hanya yang punya ilmu, yang modal nongol di TV pun, berlomba-lomba untuk membicarakan hukum Allah. Seandainya mereka merenungi bahwa berbicara hukum syariat dalam sebuah masalah, itu sama saja mengabarkan hukum hal tersebut atas nama allah, tentunya mereka akan diam seribu bahasa.

Semoga Allah memperbaiki keadaan umat ini, dan menuntun mereka semakin dekat kepada syariat-Nya

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

da210316-0737

Cintailah PASANGAN HIDUPMU…

Sudah selayaknya disadari…
Cinta adalah anugerah Allah…
Allah yang menjadikan adanya cinta dan kasih sayang antara suami dan istri di dalam hati mereka…

Tetapi tahukah engkau bahwa :

Cinta itu butuh pembuktian…
Cinta itu butuh pengorbanan…
Cinta itu butuh diungkapkan…
Cinta itu butuh diperjuangkan…
Cinta itu butuh kesabaran…
Cinta itu butuh kesetiaan…
Cinta itu butuh keikhlasan…

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah menyebut istrinya, lalu beliau mendoakan rahmat untuknya, dan beliau berkata :

مكثنا عشرين سنة ما اختلفنا في كلمة

Kami hidup bersama selama 20 tahun, kami tidak pernah berselisih walaupun hanya satu kalimat” (Siyar A’laamin Nubalaa’ XI/333)

Syuraih bin al-Harits bin Qais al-Qadhi rahimahullah bersyair tentang cinta :

Kulihat kaum lelaki memukul istri mereka, namun tanganku lumpuh untuk memukul Zainab. Zainab adalah matahari, sedang wanita lain adalah bintang-bintang. Jika Zainab muncul, tak akan nampak lagi bintang-bintang…” (Siyar A’laamin Nubalaa’ IV/106)

Subhanallah, kenapa bisa seperti itu…?

Karena cinta adalah magnet yang merekatkan antara suami dan istri. Membuat keduanya seolah jiwa dan raga yang satu, bahkan hati yang satu…

Dengannya, engkau mendapatkan kebahagiaan yang tidak akan bisa engkau dapatkan tanpa menikahinya…
Dengannya, engkau melewati kehidupan bersama, berbagi suka dan duka, merenda impian dan harapan, menghadapi segala masalah dan rintangan…

Ketika sakit, dia merawatmu dengan sabar…
Ketika sedih, dia menghiburmu dengan ikhlas…
Ketika lelah, dia menyemangatimu dengan penuh kasih sayang…

Saat engkau lemah, maka dia menguatkanmu…
Saat engkau memerlukan nasihat, maka dia pun memberikan nasihat terbaik bagimu…

Saat tidur, dialah orang terakhir yang engkau lihat…
Saat bangun, dialah orang pertama yang kau dekap…
Saat engkau bepergian jauh, dia selalu ada di dalam hati dan pikiranmu…

Dia selalu memikirkan dirimu…
Dia selalu berdoa untukmu…
Dia selalu merindukanmu…
Dia selalu mengkhawatirkan keselamatanmu…

Dia adalah kekasih hatimu…
Dia belahan jiwamu, lentera hidupmu…
Pendamping setia dan sahabat terbaikmu…
Engkau menjadi dunianya, dia menjadi duniamu…

Janganlah letih untuk mencintainya…
Janganlah menyimpan dendam dan kemarahan kepadanya, maafkan kekurangannya, pahami relung jiwanya dan selami dasar hatinya…

Karena cinta sejati bukanlah sehidup semati…
Tetapi sehidup se-Surga, cinta karena Allah…
Ya Allah, jadikanlah cinta kami sehidup dan se-Surga yang kekal abadi selamanya…

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Lebih Kecil Dari Kutu, Lebih Dahsyat Dari Tentara Sekutu…

Ayah bunda, semoga rahmat dan berkah Allah senantiasa mengairi hidup kalian.

Memang anak adalah buah hati, belahan jiwa dan kebanggaan orang tua, sehingga cinta kasih orang tua tercurah deras bak hujan di bulan januari dan lebih lengket ketimbang perangko.

Sayang…..kadang cinta kasih kita berikan kepada anak berlebihan dan tidak mendidik sehingga menyulut bara fitnah. Akhirnya tanpa sadar kita masuk ke dalam firman Allah,

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ [الأنفال : 28]

Dan ketahuilah bahwa harta kalian dan anak-anak kalian itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.”

Kalau mau jujur, kita sebagai orang tua kadang menyayangi anak sering bercampur aduk dengan emosi, nafsu dan perasaan, bahkan sering sibuk dalam hal-hal kurang mendasar karena terbawa perasaan dan melupakan masalah yang fundamental seperti perhatian terhadap aqidah, manhaj, akhlak dan ibadah mereka terutama shalat.

Contoh sederhana, kita sering bingung karena hp anak kita jadul, sepatu sudah usang, kendaraan tidak layak dan laptop tidak cocok zaman now. Namun kita kadang lalai bahaya virus yang lebih dahsyat ketimbang serangan TENTARA SEKUTU meskipun besarnya lebih ringan dan lebih kecil daripada KUTU.

Tahukah wahai ayah bunda, virus apa ?

Ujub dan Sombong!!!

Penyakit itu ternyata sering kali kita tanamkan pada diri anak tanpa beban dosa!!!

Lewat perlakuan keliru atas nama KASIH SAYANG……..

Ya atas nama kasih sayang tapi keliru……yaitu anak serba dilayani……serba dimanja……serba dikasih….. serba dibela…..malah anak serba tidak boleh disalahkan……..

Finalnya sikap itu berujung pada lahirnya sikap sombong dan ujub……

Virus sombong dan ujub akan tambah menjalar ketika sikap orang tua serba kalah dan serba merasa salah di depan anak.

Lebih parah lagi saat orang tua di depan anak menampakkan sikap serba lemah dan tak berdaya……

Serangan virus sombong dan ujub makin ganas dan menggerogoti diri anak kita…….

Kenapa virus itu lebih bahaya daripada serangan TENTARA SEKUTU tapi LEBIH KECIL DARI KUTU ?

Ya karena sanggup melumpuhkan rohani, merusak kepribadian dan menghancurkan pahala kebaikan, meskipun LEBIH KECIL DARI KUTU, bahkan hanya seberat dzarrah (atom) namun daya musnahnya lebih dahsyat dari bom atom dalam merusak kepribadian anak kita maka Rasulullah bersabda,

لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus ?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

Oleh karena itu, pendidikan orang tua kepada anak seharusnya mengacu pada pembentukan karakter rendah hati dan mengikis kesombongan.

Rendah hati pasti menghadirkan kebaikan malah mengangkat derajat anak sebagaimana sabda Nabi,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588). 

Rendah hati karena Allah, akan mudah menerima kebenaran dan gampang mengambil nasehat serta tidak mudah merendahkan orang lain yang menunjukkan kepada kebenaran dan kebaikan.

Rendah hati dalam beramal, akan membentuk sikap mawas diri dan merasa kurang dalam beramal, bahkan menganggap kecil kebaikan yang besar dan menganggap besar kesalahan yang kecil.

Rendah hati dalam menuntut ilmu, akan meringankan langkah kaki ke majlis ilmu, melahirkan ketulusan mengkaji ilmu…..jarak jauh menjadi dekat demi ilmu…….tahan banting akan pedihnya mencari ilmu, sehingga ilmu menjadi berkah dan pengetahuan makin tambah melimpah.

Rendah hati dalam menerima kebenaran…..mudah ditegur demi kebaikan dirinya dan tidak malu belajar dengan siapapun dan tidak suka merendahkan orang lain.

Rendah hati dalam bergaul, akan senantiasa bersikap sopan….. santun…..senyum….. sapa, dan salam……bahkan sanggup menyayangi yang muda dan menghormati yang tua.

Rendah hati dalam materi akan bersikap sederhana, tidak bersikap mubazir, senang mendahulukan pola hidup daripada gaya hidup dan suka mementingkan kebutuhan daripada keinginan.

Dan yang paling mendasar….. selalu menghargai nikmat Allah sekecil apapun sehingga setiap saat senantiasa bersyukur kepada Allah dengan segala nikmat dan karunia-Nya.

Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc, حفظه الله تعالى.

Wahai SALAFI SEJATI, Bersabarlah.. !

Oleh: Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى

Wahai orang-orang yang Allah muliakan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, tegarlah dan bersabarlah !

Janganlah engkau takut karena tidak ada orang yang menolongmu dan karena sedikitnya orang yang berjalan bersamamu ! Sesungguhnya engkau termasuk al-Firqah An-Najiyah (golongan yang selamat), Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang ditolong oleh Allah) dan Ahlussunnah wal Jama’ah. Barangsiapa yang termasuk dari mereka maka dialah imam meskipun dia sendirian dan dia adalah jama’ah meskipun dia seorang diri.

———————————————–

Diterjemahkan dari telegram fawaaid Syaikh DR.Sulaiman Ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى tanggal 11 Februari 2018.

Ustadz Abdurrahman Thoyyib Lc, حفظه الله تعالى