All posts by Admin

Di Inginkan Keburukan Oleh Allah…

Abdullah bin Mughoffal radliyallahu ‘anhu berkata,
“Ada seorang lelaki bertemu dengan seorang wanita yang pernah menjadi pelacur di masa jahiliyah.

Lalu lelaki itu mencandainya dan menjulurkan tangannya kepada wanita itu..

Wanita itu berkata, “Jangan begitu, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesyirikan dan mendatangkan Islam..

lelaki itu pergi meninggalkannya, dan menengok kepada wanita itu hingga wajahnya terbentur tembok..

Lalu ia mengabarkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi Wasallam..

Beliau bersabda, “Kamu seorang hamba yang Allah inginkan kebaikan untukmu..

Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya apabila Allah menginginkan keburukan kepada seorang hamba..
Allah biarkan ia dengan dosanya..
Sampai Diberikan balasannya pada hari kiamat..
(HR Ath Thabrani, Al Hakim dan Al Baihaqi)

Di zaman ini..
Berapa banyak mata kita melihat maksiat..
Namun dibiarkan oleh Allah tidak diberikan sanksi..
Astaghfirullah..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

 

da180314-2023

Bersikap Bijaklah Kepada Ulama…

Para ulama tidaklah maksum, yakni bebas dari kesalahan dan kekeliruan. Mereka yang mempunyai andil besar dalam mendakwahkan al-Qur’an dan as-Sunnah di atas manhaj salaf tidak bisa digugurkan keutamaannya, jika seandainya diantara pendapatnya ada yang salah atau kurang kuat, dan juga tidak boleh untuk menghina dan merendahkan mereka.

Syaikh DR. Muhammad bin Umar Bazmul berkata :

ليس من منهج السلف معاملة أخطاء أهل السنة كمعاملة أهل البدع. فإن كل
ابن آدم خطاء، فينظر في منهج الرجل ويعامل الخطأ الذي وقع منه على أساس ذلك

Tidak termasuk dalam manhaj salaf, yaitu menyikapi kesalahan-kesalahan seorang ahlus-sunnah seperti menyikapi kesalahan ahlul-bid’ah, karena setiap anak Adam pasti memiliki kesalahan. (Apabila seorang ahlus-sunnah terjatuh dalam kesalahan), maka manhajnya dilihat dan kesalahan tersebut disikapi sesuai dengan manhajnya

Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

Kalau seandainya seorang alim (ulama) yang banyak memberikan fatwa salah dalam100 masalah, maka itu bukan suatu aib. Karena siapa saja selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dia bisa benar dan bisa saja salah” (Majmu Fataawa 28/301)

Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata :

Orang alim (ulama) tidak lepas dari kesalahan. Siapa yang SEDIKIT kesalahannya dan BANYAK benarnya maka dialah orang alim. Dan siapa yang sedikit benarnya dan banyak kesalahannya maka dialah orang jahil” (Jami’ Bayaan al-Ilmi II/106)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وبالجملة فقد كان رحمه الله من كبار العلماء وممن يخطئ ويصيب ، ولكن خطأه بالنسبة إلى صوابه كنقطة في بحر لجي ، وخطؤه مغفور له

Secara umum, beliau (Ibnu Taimiyah) rahimahullah termasuk ulama besar, dan juga termasuk orang yang berbuat benar dan berbuat keliru. Akan tetapi kesalahan beliau jika dibandingkan dengan kebenaran beliau, maka seperti satu titik dalam lautan dalam. Dan kesalahan beliau adalah diampuni” (Al-Bidayah wan Nihayah 14/160).

Dan apa yang dialami oleh al-Qadhi Jamaluddin Abu Abdillah ar-Raimi az-Zubaidi asy-Syafi’i (wafat tahun 791 H) merupakan kematian yang tragis karena seringnya ia mencela Imam an-Nawawi rahimahullah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

أخبرني الجمال المصري محمد بن أبي بكر بزبيد أنه شاهده عند وفاته وقد اندلع لسانه وأسود فكانوا يرون أن ذلك بسبب كثرة وقيعته في الشيخ محيي الدين النووي رحمه الله تعالى.

Aku diberitahu oleh al-Jamal al-Mishri Muhammad bin Abu Bakar di kota Zubaid Yaman, bahwa beliau menyaksikan ar-Raimi saat wafatnya dalam keadaan lidahnya terjulur dan menghitam. Para ulama berpendapat bahwa keadaan tersebut karena ar-Raimi suka mencela Imam an-Nawawi rahimahullah” (Ad-Durarul Kaminah fil A’yanil Mi’atits Tsaminah II/9).

Berhati-hatilah, karena tanda dari ilmu yang tidak bermanfaat adalah : “Menumbuhkan kesombongan, ambisi kepada dunia, mengalihkan perhatian orang kepada dirinya, berburuk sangka dan menganggap bodoh Ulama, serta merasa lebih apa yang dimilikinya” (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali).

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

 

Lupakan Celaannya, Lalu JAUHI Dia Dengan Cara Yang Baik…

Orang yang menerapkan kebenaran, apalagi yang mendakwahkannya dan ingin memperbaiki keadaan, tentu akan banyak menuai celaan dari manusia.

Dan itu adalah sunnatullah yang biasa dialami oleh para pembawa dan pejuang kebenaran.

Tapi ingatlah, Allah berkehendak demikian bukan untuk menghukum mereka yang baik, namun untuk memuliakan mereka dan memberikan banyak pahala.
Semakin berat cobaan yang mereka alami, tentu semakin besar PAHALA yang Allah berikan, dan semakin tinggi kedudukan yang mereka dapatkan.

Oleh karena itu, lupakanlah celaan mereka, dan ingatlah pahalaNya, lalu jauhilah para pencela itu dengan cara yang baik.

Ingatlah perintah Allah kepada Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-, Sang Pejuang kebenaran:

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

Bersabarlah terhadap apapun yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik“. [Al-Muzzammil:10]

Ya… kita tidak hanya diperintah untuk bersabar, tapi juga diperintah menjauhi mereka.
Karena dengan itu hati kita akan terjaga, dan kita bisa terus berjalan untuk mendakwahkan kebenaran kepada yang lainnya, wallohua’lam.

Semoga kita bisa teguh dan istiqomah di atas jalan kebenaran, di atas Al Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para salafush shalih, amin.

Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da020715-1027

Keluarga Besar…

Nikahilah wanita yang engkau cintai, walau biasa-biasa saja, dan jangan pernah menikahi wanita yang engkau benci, walau cantik jelita.

Sobat, untuk urusan yang satu ini, saya yakin anda sepakat bahwa perasaan hati tidak bisa dibeli atau dipaksa. Memang cinta bisa disemai, dan bisa dirajut, Namun tentu saja itu bukanlah hal yang mudah, perlu perjuangan, keuletan dan pasti pengorbanan.

Tuan, cinta itu adalah pengorbanan.

Dan kalau cinta telah terajut dan hati telah bertemu, maka urusan nikah dan memadu kasih akan menjadi solusi yang paling indah.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

لم ير للمتحابين مثل النكاح

“Tidak ada ikatan yang lebih baik bagi kedua orang yang telah saling mencintai dibanding pernikahan.” (Ibnu Majah dll)

Dan saya juga yakin bahwa anda juga pasti enggan untuk menikahi orang yang tidak anda cintai apalagi anda benci.

Dan kalaupun sudah terlanjur menikah, kebencian dan perselisihan bisa menjadikan mahligai penikahan anda hancur berkeping keping. Bukankah demikian ?

Namun tahukah anda bahwa cinta itu urusan hati ?

Bila kondisi ini terjadi pada komunitas masyarakat dan ikatan masyarakat terkecil, bagaimana halnya dengan tatanan masyarakat yang majemuk, terdiri dari berjuta-juta anggota masyarakat. Sudah barang tentu merajut dan menabur benih-benih cinta itulah cara paling tepat untuk menyatukan mereka. Dan sekali lagi cinta itu urusan hati, bukan urusan fisik atau harta atau AD/ART atau lainnya.

Karena itu mari kita bangun ummat kita dengan menabur benih-benih cinta yang diwujudkan dengan menyamakan urusan hati, kepentingan, keyakinan, persepsi dan cara pandang, atau yang disebut dengan idiologi, agar kita bisa membangun keluarga besar ummat Islam yang harmonis, kokoh dan damai sentosa.

Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لأرواحُ جنودٌ مجنَّدةٌ . فما تعارف منها ائتَلَف . وما تناكَر منها اختلف.

Ruh-ruh bagaikan kelompok tentara yang tersusun dan beraneka ragam. Jika saling mengenal maka akan bersatu, dan jika saling membenci maka akan berselisih“. [HR. Bukhori-Muslim]

Jadi, menyatukan ummat tuh bagaikan menyatukan dua insan dalam satu keluarga, idealnya di awali dari hatinya, sebagaimana hatinya juga perlu dipupuk dengan kesamaan lahir, sehingga terbentuklah keluarga besar ummat Islam yang harmonis, bukan keluarga yang dipenuhi dengan pertentangan kepentingan, perbedaan keinginan, dan perebutan arah.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Bendera Dan Panji Perang Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam…

1. Sahabat Ibnu ‘Abbas -radhiallahu anhuma- mengatakan: “Dahulu raayah Rasulullah -shallallahu ‘alahi wasallam– (warnanya) hitam, sedang liwaa’ beliau (warnanya) putih“. [HR. Attirmidzi: 1681, dan yang lainnya, dinilai hasan oleh Syeikh Albani].

2. Para ulama berbeda pendapat tentang maksud dari kata “Arraayah” dan “Alliwaa‘”, dalam hadits tersebut, kesimpulannya:

a. ada yang mengatakan keduanya adalah dua kata yang bermakna sama = bendera… tidak ada perbedaan sama sekali antara keduanya.

b. ada yang mengatakan bahwa keduanya bermakna bendera, namun Arraayah ukurannya lebih besar, sedang Alliwaa’ ukurannya lebih kecil.

c. ada yang mengatakan sebaliknya, Alliwaa’ lebih besar daripada Arraayah… Alliwa’ = bendera besar yang menunjukkan tempat amir… sedang arraayah = bendera yang dibawa oleh pembawa bendera di medan perang.

d. ada yang mengatakan Arraayah bermakna bendera yang kainnya berkibar… sedangkan Alliwaa’ adalah kain yang ujung satunya dililitkan di pucuk atas tombak dan ujung yang lain dililitkan di bawahnya, sehingga tidak berkibar seperti berkibarnya bendera… inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Arabi -rahimahullah-.

[Silahkan merujuk ke kitab Fathul Bari (6/126), Umdatul Qaari (14/232), Tuhfatul Ahwadzi (5/266), dan yg lainnya]

3. Dari banyaknya pendapat di atas dan penjelasan lainnya, penulis lebih condong kepada pendapat yang mengatakan, bahwa kata “Arraayah” dan “Alliwaa‘” bisa bermakna sama, bila keduanya disebutkan secara terpisah.

Apabila dua kata itu disandingkan dalam satu redaksi sebagaimana dalam hadits di atas, maka makna Arraayah dan Alliwaa’ adalah sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Arobi -rahimahullah- di atas.

Karena pendapat inilah yang lebih dekat kepada asul-usul kata arrooyah (yang terlihat) dan kata alliwaa’ (yang dililitkan) dalam bahasa arab… ini juga yang lebih dekat kepada julukan orang arab untuk keduanya, arrooyah dijuluki sebagai “ummur harb” (puncak perang), sedang alliwaa’ dijuluki sebagai “ummur rumh” (puncak tombak).

Dari kesimpulan ini, mungkin terjemahan yang paling mendekati hakekat keduanya adalah, bahwa Arrooyah itu bendera, sedang Alliwaa’ itu panji. wallahu a’lam.

4. Tidak ada hadits yang shahih atau hasan tentang tulisan yang tertera dalam bendera perang Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ini. Ada hadits yang menjelaskan khusus tentang itu, namun lemah, sehingga tidak bisa dijadikan sandaran.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Attabarani dalam Al-Mu’jamul Ausath 1/77, hadits no: 219. Hadits itu hanya datang dari Hayyan bin Ubaidillah, padahal beliau dinilai ‘mudhtharib’ (goncang) dalam meriwayatkan hadits ini.

Yang perlu ditekankan di sini, bahwa lemahnya hadits ini bukan berarti kita tidak boleh menulis kalimat tauhid atau syahadatain dalam bendera… itu boleh saja dilakukan, atau bahkan dianjurkan karena mulianya kata itu… hanya saja kita tidak bisa memastikan bahwa dahulu bendera perang Nabi bertulisakan seperti itu, wallahu a’lam.

Sebaliknya, kita juga boleh menuliskan kalimat lain di bendera, asalkan tidak bertentangan dengan Islam, karena tidak adanya batasan dalam hal ini, sesuai hukum asalnya, wallahu a’lam.

5. Tidak benar, bahwa Arrayah adalah bendera perang, sedang Alliwa’ itu tulisan yang ada dalam bendera itu… sehingga tidak benar orang yang menyimpulkan dari hadits pertama di atas dengan kesimpulan bahwa bendera Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- itu berwarna dasar hitam, dan tulisannya berwarna putih.

Masalah bendera ini bukan masalah ibadah, sehingga pada asalnya dibolehkan, selama tidak ada dalil yang melarangnya.. oleh karenanya, sepanjang sejarah pun, kaum muslimin punya bendera yang berbeda-beda, begitu pula tulisan yang tertera dalam bendera tersebut, wallahu a’lam.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Oh.. Alangkah Besarnya Penyesalan…

Bagaimana mata kan terpejam, kalau ia terbelalak diam, di mana seharusnya ia sangat awam, di Surga atau Neraka ia berdiam…

Seseorang yang tergoda oleh nafsu syahwat, ia akan cepat menghampirinya, dan tidak pernah berpikir tentang apa akibat yang akan ditimbulkannya kelak…

Berapa banyak penyesalan yang telah ia teguk di dalam menjalani sisa-sisa hidupnya…?
Berapa besar kehinaan yang ditanggung setelah kematiannya…?

Ingatlah hari yang tidak bisa dihindarkan datangnya, yaitu mempertanggungjawabkan semua perbuatan dihadapan Allah, dan itu disebabkan oleh kenikmatan sesaat, yang terasa bagaikan sebuah kilat…

Alangkah mengkhawatirkan bagi orang yang meyakini sebuah perintah, akan tetapi setelah itu ia pun melupakannya. Sungguh, sebesar-besar hukuman adalah apabila si terhukum tidak merasa dirinya sedang dihukum…

Ketahuilah bahwa derajat yang tinggi di sisi Allah tidak akan diraih kecuali setelah bersungguh-sungguh…

Sungguh-sungguh tidak akan ada kecuali setelah adanya rasa takut…

Rasa takut tidak akan ada kecuali setelah adanya keyakinan…

Keyakinan tidak akan ada kecuali setelah adanya ilmu…

Ilmu tidak akan ada kecuali setelah belajar…

Dan belajar sulit dilakukan jika tanpa adanya niat, tekad dan semangat yang kuat…

Perbaharuilah taubat setiap waktu, dan jadikanlah umur dalam tiga waktu : untuk ilmu, beramal dan waktu untuk memenuhi hak dan kewajiban…

Hindarilah maksiat hati, yaitu menganggap sedikitnya rezeki, menganggap remeh nikmat Allah, lalai dari Allah, menganggap remeh bencana agama, menganggap besar dunia dan bersedih hati karena dunia yang telah meninggalkannya…

Dosa itu mewariskan kelalaian…
Kelalaian mewariskan kekerasan hati…
Kekerasan hati mewariskan jauh dari Allah…
Jauh dari Allah mewariskan Neraka…

Umur manusia hanyalah hitungan hari…
Manusia akan mendapatkan kebahagiaan jika ia menghibahkan dirinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla…

Ingatlah suatu hari, dimana penyesalan tidaklah berguna lagi…

ٌيَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ…

“…Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah…” (QS. Az-Zumar [39]: 56)

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Dia mengatakan : “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini” (QS. Al-Fajr [89]: 24)

قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا…

“…Mereka berkata : Sungguh betapa menyesalnya kami atas apa yang kami sia-siakan dahulu di dunia…” (QS. Al-An’aam [6]: 31)

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata : “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul” (QS. Al-Ahzab [33]: 66)

Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan taufiq bagi para pengikut kebenaran, dan semoga Dia menjadikan kita termasuk bagian dari mereka…

Aamiin…

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Dakwaan DUSTA..!!!

Hadits baru ada (dibukukan) 200 tahun setelah wafatnya Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ?!

=====

Inilah adalah dakwaan dusta, dan tak berdasar sama sekali.
Karena sejak Nabi -shallallahu alaihi wasallam- masih hidup, beliau telah memberikan izin kepada sebagian sahabatnya untuk menulis hadits.

Hal ini sebagaimana perkataan Sahabat Abu Hurairah -radhiallahu anhu-:

Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi -shallallahu alahi wasallam- yang haditsnya lebih banyak daripada aku, kecuali Abdullah bin ‘Amr, karena dia dulu MENCATAT sedang aku tidak“. [HR. Bukhari: 113].

Dan masih banyak sahabat yang memiliki catatan hadits-hadts sebagaimana telah disebutkan oleh pakar hadits Al-Khatib dalam kitabnya “Taqyidul Ilmi” (membukukan ilmu).

Sahabat Anas bin Malik juga pernah takjub kepada sebuah hadits yang dia dengar, kemudian mengatakan kepada anaknya: “CATATLAH“, dan anaknya pun mencatatnya. [HR. Muslim: 54].

Seorang dari kalangan tabi’in Basyir bin Nahik -rahimahullah- pernah mengatakan: “Aku telah menulis dari Abu Hurairah sebuah KITAB, lalu ketika aku ingin berpisah dengannya aku mengatakan kepadanya: ‘wahai Abu Hurairah, sungguh aku telah menulis kitab darimu, bolehkah aku meriwayatkannya darimu?‘, maka dia mengatakan: ‘iya, riwayatkanlah itu dariku‘.”. [Atsar shahih riwayat Alkhatib dalam Taqyidul Ilmi: 203, dan yang lainnya].

Bahkan Imam Bukhari -rahimahullah- mengatakan dalam shahihnya:

Umar bin Abdul Aziz (w 101 H) telah mengirimkan surat perintah kepada Abu Bakar bin Hazm (yang isinya): lihatlah hadits-hadits Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dan bukukanlah, karena aku khawatir dengan hilangnya ilmu dan perginya para ulama“. [Shahih Bukhari 1/31].

Dan masih banyak nukilan-nukilan kabar tentang pembukuan hadits Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, dan itu telah dimulai sejak beliau masih hidup, bukan 200 tahun setelah beliau wafat.

Ingatlah hadits-hadits Nabi telah Allah jaga kemurniannya, sebagaimana kemurnian Al Qur’an.. karena Allah memang ingin menjaga kemurnian agamanya hingga hari akhir.. dan itu tidak akan terwujud kecuali dengan menjaga kemurnian keduanya yang merupakan sumber utama agama ini.

Oleh karenanya, jangan dengarkan ocehan orang-orang yang meragukan keduanya atau salah satunya… jika ada hadits-hadits yang lemah dan palsu, bukan berarti semuanya juga demikian… karena para ulama sudah menjelaskan dengan sangat detail, mana hadits yang shahih dan mana hadits yang lemah.

Justru itulah bukti penjagaan Allah terhadap hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam agar tetap murni, meski banyak yang ingin menyusupkan hadits lemah dan palsu, ternyata Allah bukakan tabirnya, melalui para pakar hadits di sepanjang zaman, wallahu a’lam.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Ada Apa Dengan Penyebutan “AL-MARHUM” Bagi Orang Yang Telah Meninggal..?

Penyebutan AL-MAGHFUR LAHU (orang yang diampuni) dan AL-MARHUM (orang yang dirahmati) bagi orang-orang yang telah meninggal tidak diperbolehkan. Karena memastikan bahwa ia adalah orang yang diampuni atau dirahmati merupakan perkara-perkara ghaib, tidak ada yang mengetahuinya melainkan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Katakanlah : “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (QS. An-Naml [27]: 65)

Dalam literatur kitab-kitab para ulama pun tidak pernah kita dapati penyebutan al-marhum imam Bukhari, atau al-marhum imam Muslim, atau al-marhum imam Syafi’i. Tetapi yang kita dapati adalah ungkapan rahimahullah dibelakang nama-nama mereka.

Syaikh bin Baz rahimahullah berkata :

Dalam masalah ini kata-kata yang dibenarkan adalah ghafarallahu lahu (semoga Allah mengampuninya) atau rahimahullah (semoga Allah merahmatinya), kalau ia orang Islam.

Kata-kata al-maghfur lahu atau al-marhum tidak boleh digunakan karena hal itu berarti suatu penyaksian kepada orang tertentu bahwa ia ahli surga atau ahli neraka atau lain-lainnya, padahal hanya Allah yang dapat memberikan kesaksian kepada orang-orang yang berhak untuk itu sebagaimana yang tersebut di dalam al-Qur’an atau kesaksian Rasul-Nya atas yang bersangkutan

(Majmu’ Fataawa wa Maqaalat Mutanawwi’ah V/365-366)

Dan ini juga Fatawa al-Lajnah ad Da-imah Lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’ II/159-160.

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى