All posts by BBG Al Ilmu

Silaturrahim Adalah Usaha Untuk Menyambung Atau Menguatkan Hubungan KEKERABATAN…

Al-Hafizh Ibnu Hajar -rohimahulloh- mengatakan:

“RAHIM digunakan untuk menyebut para kerabat, yaitu orang yang antara dia dan orang lain memiliki hubungan nasab, baik orang tersebut mewarisinya atau tidak, baik orang tersebut masih termasuk mahromnya atau tidak.

Memang ada yang mengatakan bahwa RAHIM itu khusus untuk mahrom saja, namun pendapat yang pertama lebih kuat, karena pendapat kedua ini melazimkan anak-anaknya paman dari garis bapak dan anak-anaknya paman dari garis ibu keluar dari lingkup dzawil arham (orang yang masih ada hubungan rahim), padahal kenyatannya tidak demikian.”   [Fathul Bari 10/414].

——–

Jadi, fadhilah atau keutamaan bersilaturrahim yang dijelaskan oleh Alqur’an dan Assunnah hanya berlaku pada usaha menyambung dan menguatkan hubungan kekerabatan saja, bukan orang lain yang tidak ada hubungan kekerabatannya, wallohu a’lam.

Tapi bukan berarti menyambung dan menguatkan hubungan antara sesama muslim lainnya tidak dianjurkan, tapi tetap saja dianjurkan hanya saja keutamaannya lain lagi, wallohu a’lam.

Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya seluruh kaum mukminin adalah bersaudara“. [QS. Al-Hujurat: 10].

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- juga bersabda: “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya itu ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya“, dan beliau pun mencengkramkan antara jari jemarinya. [Muttafaqun Alaih, Bukhori: 481, Muslim: 2585].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

da220715-2210

Kaidah Ushul Fiqih Ke-19 : Semua Yang Mendahului Sebab Suatu Hukum Tidak Sah…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-18) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 19 🍀

👉🏼   Semua yang mendahului sebab suatu hukum tidak sah. Dan sah apabila mendahului syaratnya.

Setiap hukum memiliki sebab dan syarat.

⚉   Contohnya zakat, sebab wajibnya adalah sampai nishob dan syarat wajibnya adalah telah berlalu haul (setahun).

Apabila ada orang yang berzakat sebelum sampai nishobnya, maka zakatnya tidak sah. Karena mendahului sebab.
Adapun bila ia telah sampai nishob dan hendak mengeluarkan zakat sebelum berlalu haul maka boleh dan sah.

⚉   Contoh lain: syarat membayar fidyah ketika haji dan umroh adalah melakukan pelanggaran yang mewajibkan fidyah, seperti mencukur kepala.
Dan sebab mencukur kepala karena adanya gangguan di kepala seperti banyak kutu misalnya.

Gangguan di kepala = sebab
Mencukur rambut = syarat membayar fidyah.

Apabila kita membayar fidyah sebelum adanya gangguan maka tidak sah.
Namun apabila telah ada gangguan lalu kita membayar fidyah sebelum mencukur kepala maka sah.

⚉   Bila kita bersumpah untuk tidak memasuki suatu kota, kemudian setelah itu ia memandang adanya mashlahat besar untuk memasuki kota tersebut. Lalu ia membatalkan sumpah dan membayar kafarat sumpah.
Berarti:
Sumpah adalah sebab adanya pembatalan.
Pembatalan adalah syarat membayar kafarat.

Apabila ada orang membayar kafarat sebelum adanya sumpah maka tidak sah.
Apabila ia telah bersumpah lalu ia berniat membatalkan sumpahnya. Ia membayar kafarat dahulu sebelum pembatalan maka sah.
Dan lain sebagainya.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Nasihat Bagi Para Tamu Allah – Terkait Kebiasaan Berwudhu Dari Tempat Minum Zamzam…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Tentang Sholat Sunnah Qobliya Maghib dan ‘Isya dan Amalan Paling Utama Antara Adzan dan Iqomat…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Wahai Kaum Pria… Anda Akan Menyesal Tidak Sholat Berjama’ah Di Masjid…

Simak penjelasan Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

👉🏼  Agar Tetap Semangat (dan terkadang memang harus di jabarkan matematika-nya ke manusia di zaman sekarang agar lebih paham):
.
Seseorang yang sholat berjama’ah di Masjid, maka pahalanya :
.
Dalam 1 Hari: 17 roka’at x 27 kali pahala = 459 roka’at (vs. 17 roka’at di Rumah)
Dalam 1 Bulan: 459 x 30 hari = 13.770 roka’at (vs. 510 roka’at di Rumah)
Dalam 1 Tahun: 13.770 x 12 bulan = 165.240 roka’at (vs. 6.120 roka’at di Rumah)

Sholat berjama’ah 5 waktu sehari di Masjid selama 1 tahun penuh in-syaa Allah dapat 165.240 roka’at. Beda dengan sholat 5 waktu dirumah hanya 6.120 roka’at.

Sedangkan untuk wanita, tetap ‘LEBIH UTAMA‘ sholat di rumah-rumah/kamar mereka (penjelasannya bisa di simak di SINI) meskipun tak terlarang ke Masjid dengan beberapa syarat yang telah disampaikan oleh para Ulama.

Apalagi bila mengamalkan sunnah ber-SIWAK sebelum setiap sholat yang in-syaa Allah nilainya 70 kali dari sholat tanpa ber-siwak (pejelasannya simak di SINI).. silahkan di kalkulasi berapa hasil dari 165.240 roka’at x 70 =… Maasya Allah…

Lalu.. perhatikan hadits-hadits berikut:

⚉   HADITS PERTAMA: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka SALAH SATU LANGKAH KAKINYA akan MENGHAPUSKAN DOSA dan LANGKAH KAKI LAINNYA akan MENINGGIKAN DERAJATNYA.” (HR. Muslim, no. 666)

Orang yang melakukan semacam ini akan mendapatkan dua kebaikan: (1) ditinggikan derajatnya, (2) akan dihapuskan dosa-dosa. Maasya Allah…

⚉   HADITS KE-2 :

عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ رَجُلٌ لاَ أَعْلَمُ رَجُلاً أَبْعَدَ مِنَ الْمَسْجِدِ مِنْهُ وَكَانَ لاَ تُخْطِئُهُ صَلاَةٌ – قَالَ – فَقِيلَ لَهُ أَوْ قُلْتُ لَهُ لَوِ اشْتَرَيْتَ حِمَارًا تَرْكَبُهُ فِى الظَّلْمَاءِ وَفِى الرَّمْضَاءِ . قَالَ مَا يَسُرُّنِى أَنَّ مَنْزِلِى إِلَى جَنْبِ الْمَسْجِدِ إِنِّى أُرِيدُ أَنْ يُكْتَبَ لِى مَمْشَاىَ إِلَى الْمَسْجِدِ وَرُجُوعِى إِذَا رَجَعْتُ إِلَى أَهْلِى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « قَدْ جَمَعَ اللَّهُ لَكَ ذَلِكَ كُلَّهُ »

“Dulu ada seseorang yang tidak aku ketahui seorang pun yang jauh rumahnya dari masjid selain dia. Namun dia tidak pernah luput dari shalat. Kemudian ada yang berkata padanya atau aku sendiri yang berkata padanya, “Bagaimana kalau engkau membeli keledai untuk dikendarai ketika gelap dan ketika tanah dalam keadaan panas.” Orang tadi lantas menjawab, “Aku tidaklah senang jika rumahku di samping masjid. Aku ingin dicatat bagiku langkah kakiku menuju masjid dan langkahku ketika pulang kembali ke keluargaku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Allah telah mencatat bagimu seluruhnya.” (HR. Muslim, no. 663)

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (5:149) mengatakan,

فِيهِ : إِثْبَات الثَّوَاب فِي الْخُطَا فِي الرُّجُوع مِنْ الصَّلَاة كَمَا يَثْبُت فِي الذَّهَابِ .

Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa langkah kaki ketika pulang dari shalat akan diberi ganjaran sebagaimana perginya.”

Jadi andakan rumah kita berjarak 200 m dari Masjid, pergi dan pulangnya menjadi 400 m, dan jika setiap langkah kaki kita hitungannya adalah 1/2 meter, maka ada DUA langkah kaki dalam 1 meternya dimana 1 langkah menghapuskan dosa dan langkah lainnya meninggikan derajat.. lalu berapa total langkah yang kita lakukan saat pergi ke Masjid dan saat pulang ke rumah ..? … 400 x 2 langkah = 800 langkah

Artinya in-syaa Allah (berdasakan hadits PERTAMA diatas) orang yang pergi sholat berjama’ah dan pulang setelahnya, satu langkah kakinya menghapuskan dosa dan satu langkah kaki lainnya meninggikan derajat, maka Allah akan ampunkan 400 dosa dan tinggikan 400 derajat setiap kalinya… bagaimana bila 5 kali ke Masjid setiap harinya..?! apalagi setiap bulannya..?! APALAGI setiap tahunnya.?! 

Maasya Allah, inilah keutamaan pergi dan pulang dari menunaikan sholat di Masjid . Akankah kita masih melewatkannya ?

=============

Ini baru pahala sholat wajib.. sedangkan masih ada pahala:
⚉   sholat-sholat sunnah rowatib,
⚉   sholat sunnah 4 roka’at setelah ‘Isya (baca di SINI)
⚉   sholat malam tahajjud dan witir,
⚉   sholat sunnah dhuha dan lainnya.
⚉   puasa wajib dan sunnah, zakat, infaq, sedekah,
⚉   birrul waaldayn – berbuat baik kepada orangtua, menyambung silaturrahim kepada keluarga, dll.

Subhaanallah.. betapa luas nikmat Allah..
.
.
Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Berilah Uzur Kepada Saudaramu…

Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata, “Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah udzur sampai 70 udzur. Bila kamu tidak mendapatkan udzur, maka katakanlah, “Barangkali ia mempunyai udzur yang aku tidak ketahui.
(HR Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 8344).

Abdullah bin Muhammad bin Munazil berkata, “Mukmin adalah yang selalu memberi udzur kepada saudaranya, sedangkan munafiq adalah yang selalu mencari kesalahan saudaranya.”
(HR Abu Abrirrahman As Sulami dalam adab ash shuhbah).

Umar bin al Khathab berkata: “Janganlah kamu berburuk sangka dari kata-kata yang tidak baik yang keluar dari mulut saudaramu, sementara kamu masih bisa menemukan makna lain yang baik..

Sering kali kita mengucapkan kata-kata yang tak baik..
Atau tak enak ditelinga..
Terkadang membuat hati kita pilu..
Atau berburuk sangka padanya..

Namun.. Seorang mukmin selalu memberi udzur kepada saudaranya.. Seraya berucap:
Barangkali dia bercanda.. Barangkali dia tak bermaksud menyakiti..
Barangkali dia ingin membahagiakan temannya..

Dan sejuta udzur lainnya..

Saudaraku..
Manusia adalah tempat kesalahan.. Sebagaimana orang lain berbuat salah..

Kita pun banyak kesalahan.. Barangkali lebih banyak lagi..

Bila kita suka orang lain berbaik sangka kepada kita..
Tidakkah kita suka untuk tidak berburuk sangka kepada dia..

Barakallahu fiikum..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 

Tentang Menggabungkan Beberapa Niat Dalam Satu Ibadah Yang Sejenis…

Simak penjelasan Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Kaidah Ushul Fiqih Ke-18 : Hukum Itu Mengikuti ILLAT-nya…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-17) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 18 🍀
.
👉🏼   Hukum itu mengikuti ILLAT-nya. Bila ILLAT ada maka hukum-pun ada, dan bila tidak ada maka hukum tidak ada.
.
Hukum dalam Islam tidak lepas dari lima: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.
.
Setiap hukum Islam selalu mengandung ILLAT.
ILLAT adalah sifat yang tampak dan tetap seperti ILLAT arak adalah memabukkan.
.
Hukum dilihat dari ILLAT-nya ada dua macam:
1. Hukum diketahui ILLAT-nya.
2. Hukum yang tidak diketahui ILLAT-nya.
.
Hukum yang diketahui ILLAT-nya ada dua macam:
1⃣  ILLAT yang disebutkan oleh Nash. contohnya hadits tentang kucing:

إنها ليست بنجس إنما هي من الطوافين عليكم

Sesungguhnya kucing itu tidak najis, ia selalu berkeliling di antara kalian.” (HR Abu Dawud).
.
Dalam hadits tersebut Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam menyebutkan alasan ketidak najisan kucing yaitu suka berkeliling sehingga sulit dihindari.
.
2⃣  ILLAT yang diketahui dengan cara istinbath.
ILLAT jenis ini ada yang menjadi ijma ulama seperti ILLAT arak adalah memabukkan. Dan ada yang masih diperselisihkan, seperti ILLAT emas dan perak ada yang mengatakan karena ditimbang. Ada yang mengatakan ILLAT-nya adalah “tsaman” (harga) dan inilah yang kuat.
.
Memahami ILLAT suatu hukum sangat penting dan memudahkan kita untuk mengqiyaskan dengan perkara lain yang sama ILLAT-nya.
Seperti diqiyaskan kepada kucing semua binatang yang sulit untuk kita hindari.
.
Contoh lainnya adalah uang diqiyaskan kepada emas karena ILLAT-nya sama-sama harga. Sehingga dalam zakat sama dengan emas dan juga terjadi padanya riba.
.
Apabila ILLAT-nya hilang, maka hilang pula hukumnya. Contohnya bila arak berubah menjadi cuka dengan sendirinya, dan tidak lagi memabukkan menjadi halal hukumnya karena ILLAT memabukkan itu telah hilang, dan sebagainya.
.
Adapun hukum yang tidak diketahui ILLAT-nya, seperti mengapa sholat shubuh dua roka’at, mengapa sholat dimulai dengan takbirotul ihrom dan lain sebagainya.
maka seperti ini disebut dengan ibadah mahdhoh yang tak bisa diqiyaskan karena tidak diketahui ILLAT-nya.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Sekedar Mengingatkan…

Sekedar mengingatkan para ibu yang shalihah…

Begitu besar hak suami sampai-sampai seorang istri kalau mau puasa sunnah harus minta izin terlebih dahulu kepada suaminya, kawatir suaminya minta untuk dilayani.

Sampai-sampai Aisyah radhiallahu ‘anhaa tidak bisa mengqodho puasa Ramadhan kecuali di bulan Sya’ban karena ingin melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ini dalil bahwa istri yang melayani suaminya pahalanya lebih besar dari puasa sunnah

Ayo ibu-ibu yang sholihah sabarlah dan semangat berkhidmat kepada suami, sesungguhnya itu adalah jalan menuju surga.

Ustadz DR. Firanda Andirja MA,  حفظه الله تعالى

Syubhat…

Silahkan belajar agama kepada siapa saja, yang penting “Ambil baiknya, buang buruknya“.

Jawaban:

⚉   Berarti boleh belajar ilmu agama kepada Iblis ?! Yang penting ambil baiknya, buang buruknya.

⚉   Berarti tidak usah pilih-pilih guru agama .. silahkan belajar kepada orang syiah, orang liberal, orang khawarij, orang mu’tazilah, orang qodariyah, orang jabariyah, dan siapa saja .. yang penting ambil baiknya, buang buruknya.

⚉   Berarti, kalau kita belajar agama, silahkan belajar kepada orang-orang yang jahil dalam agama .. yang penting ambil baiknya, buang buruknya.

⚉   Kalau ini dalam agama, apalagi dalam masalah dunia .. Berarti silahkan belajar ilmu ekonomi kapada ahli saraf .. atau belajar pijat kepada ahli teknik .. atau belajar ilmu kedokteran kepada koki .. dan seterusnya.

Lihatlah bagaimana buruknya kosekuensi prinsip ini .. dengan adanya konsekuensi buruk yang banyak ini, itu menunjukkan buruknya prinsip tersebut.

👉🏼  Prinsip ini, sebenarnya bisa digunakan dalam menerima kebenaran yang datang kepada kita .. BUKAN dalam menjadikan seseorang sebagai rujukan menimba ilmu agama.

Semoga mudah dipahami dan bermanfaat, amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى