All posts by BBG Al Ilmu

Tj Menghitung Hutang Dalam Zakat Mal

137. Tj – 199

Pertanyaan:
‘Afwan ana ada pertanyaan, ana punya 2 usaha, usaha property dan usaha dagang, ana tidak ada hutang di usaha property tapi ada di usaha dagang, apakah penghitungan zakat dipisah2 antara 2 jenis usaha atau dijadikan satu kesatuan sebelum dikurangi hutang ? Syukran

Jawaban:
Ust. Rochmad Supriyadi Lc

Zakat diatas masuk dalam naungan zakat mal. Bila mal tersebut sudah melebihi nishob, tanpa melihat jenis bisnisnya, maka dalam naungan satu zakat saja. Tentu setelah di kurangi hutang nya.

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Menghindarkan Diri Dari Fitnah Beberapa Kaum

136. Tj – 23

Pertanyan:
Maksud dari hadist bukhori dan muslim hadist ke 1211 tentang perintah untuk tetap bersama jamaah kaum muslimin ketika muncul fitnah. Dan didalam hadist tersebut disebutkan ciri2 suatu kaum. Kaum apa yang dimaksudkan hadist tersebut.

Jawaban:
– hadits yang antum maksud cukup panjang dan diriwayatkan oleh Bukhari nom 7084 dan Muslim no 1847)

– Jangan dia ikut-ikutan dengan semua gerakan khawarij yang mengatasnamakan gerakan reformasi, karena demi Allah gerakan seperti inilah yang sesungguhnya menjadi fitnah dan kekacauan terbesar di zaman ini.

– Tidak bergabung dengan kelompok atau komunitas apapun, baik kelompok atau komunitas itu berupa laskar yang mengatasnamakan jihad atau front yang mengaku membela Islam atau berupa partai atau ormas, walaupun mereka semua mengatasnamakan Islam dan kaum muslimin. Karena sungguh semua kelompok dan komunitas ini adalah bentuk perpecahan dalam agama yang justru akan memperparah fitnah dan kekacauan tersebut.

Untuk pembahasan lengkapnya, silahkan buka link berikut:
http://al-atsariyyah.com/sikap-muslim-menghadapi-fitnah-dan-kekacauan.html
والله أعلم بالصواب

Tj Cincin Terlihat Non Mahram

135. Tj – 311

Pertanyaan:
Bagaimana hukum wanita dewasa yg menggunakan perhiasan emas putih di jari tangannya  (Cincin),  Kalung di leher dan gelang. Biasanya gelang dan cincin terlihat oleh orang lain, krn bukan bagian yg harus ditutup..

Jawaban:
Dari ‘Umarah bin Khuzaimah bin Tsabit, “Kami bersama Amr bin al Ash dalam suatu perjalanan dalam rangka haji atau umrah. Ketika kami tiba di suatu daerah bernama Marr Zhahran tiba tiba ada seorang wanita yang berada dalam tandu yang dipasang di atas punggung onta mengeluarkan tangannya dari tandu. Amr bin Ash lantas belok dan memasuki jalan yang ada di atas bukit. Kami pun mengikuti beliau….Hasan bin Musa, salah seorang perawi, mengatakan, “Wanita tersebut menampakkan tangannya yang bercincin” [HR Ahmad no 17860, Syaikh Syuaib al Arnauth mengatakan ‘para perawinya itu tsiqah’].‬

‪Hadits ini menunjukkan bahwa tabarruj itu sebab masuk neraka bagi wanita dan termasuk tabarruj adalah menampakkan cincin yang ada di tangan di hadapan laki-laki yang bukan suami dan bukan mahramnya.‬

‪Syaikh Abdurrazzaq al Badr mengatakan:
“‬Termasuk yang menyebabkan wanita masuk neraka adalah tabarruj. Jika sahabat Nabi, Amr bin al Ash melihat wanita yang badannya tertutupi tandu dari keempat sisinya sehingga tidak ada satupun bagian tubuhnya yang nampak namun tangannya terjulur keluar sehingga nampaklah cincin yang ada di jarinya maka beliau lantas menyebutkan hadits di atas maka apa yang akan beliau katakan seandainya beliau kondisi wanita zaman ini yang bertabarruj, menampakkan perhiasan [cincin, gelang dll], mengenaikan beragam parfum, beragam bentuk berdandan dan berhias yang hanya menyebabkan laki laki normal tergoda….”

Untuk ulasan lengkapnya, silahkan buka link berikut:
http://ustadzaris.com/wanita-neraka

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Lagu Di Restoran

134. Tj – 207

Pertanyaan:
Ustadz, saya mau nanya, kalau misal nya ada seseorang  ke sebuah restoran, dan di sana ada lagu, bolehkah kita ke sana?

Jawaban:
Ust. Fuad Hamzah Baraba’ Lc

Boleh kalo kita bisa menghentikan lagu itu.
والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Adab Menempati Rumah Baru Sesuai Syariat

133. Tj – 271

Pertanyaan:
staf ana mau pindah rumah, apa yg seharusnya dilakukan apabila kita ingin pindah atau menempati rumah baru

Jawaban:
Ust. M Abduh Tuasikal Lc

Pemilik rumah baru hendaknya bersyukur pada Allah atas kediaman baru yang ia peroleh. Jadikanlah rumah baru tersebut sebagai ladang kebaikan dan ibadah serta tempat berdzikir pada Allah. Janganlah jadikan tempat tersebut sebagai tempat kehancuran karena diisi dengan maksiat.

Lakukanlah hal-hal di kediaman baru tersebut yang bisa mendatangkan ridho Allah dan di sini tidak perlu dikhususkan dengan amalan tertentu (do’a bersama, bacaan surat, tahlil, dzikir atau wiridan tertentu) ketika ingin memasukinya.

Namun ada amalan shalat yang bisa dilakukan ketika ingin memasuki rumah, yaitu shalat dua raka’at. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih,

“Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.” (HR. Al Bazzar, hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 1323)

Shalat dua raka’at ketika memasuki atau keluar rumah berlaku setiap saat, bukan hanya ketika memasuki rumah baru. Shalat ini bisa dilakukan dengan satu niat dengan shalat rawatib atau shalat sunnah lainnya. Karena yang dimaksud hadits di atas, lakukanlah shalat dua raka’at –apa saja- ketika memasuki atau keluar dari rumah.

Selain itu, semoga Allah menjadikan rumah tersebut dijadikan rumah yang berkah. Setiap harinya, isilah dengan memperbanyak tilawah Al Qur’an (secara lafazh atau makna melalui kitab tafsir), perbanyaklah shalat sunnah dan bacaan dzikir di dalamnya. Rumah yang berkah adalah yang selalu diisi dengan ibadah.

http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3081-selamatan-rumah-baru.html

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Memenuhi Janji

132. Tj – 287

Pertanyaan:
Ustadz, mohon penjelasannya, ada seorang yang bermanhaj jamaah tabligh, dia ingin membuka tempat untuk belajar mengaji bagi anak2, Lalu ada seseorang yang tadinya tidak mengetahui manhaj orang tersebut dan berjanji untuk menyumbangkan buku iqro sebagai keperluan terlaksananya tempat pengajian tersebut. Pertanyaan saya:
Apakah janji tersebut harus di penuhi ?

Jawaban:
Ust. Rochmad Supriyadi Lc

Hendaknya ia menepati janjinya walau dengan memberikan sekedarnya, tidak semua di penuhi. Dengan ini siapa tau ia akan kembali ke manhaj yang benar tatkala melihat akhlak antum. Disana juga ladang untuk mendakwahi nya walau secara pelahan.

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Fatwa Ibnu Qayyim Rahimahullah Mengenai Onani/Masturbasi

107. Tj – 235

Pertanyaan:

ustadz, Ana mau tanya tentang ini Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Badai’ul Fawaid: Pasal Tentang Istimta’ (onani): “Jika seorang wanita tidak bersuami yang syahwatnya memuncak, maka sebagian ulama kami berkata, “Boleh baginya mengambil kulit lunak yang
berbentuk batang dzakar atau mengambil ketimun atau terong berukuran mini lalu ia masukkan ke dalam (ma’af) kemaluannya.” [Badai’ul Fawaid juz 4 hal. 1471-1472]. Bagaimana hukumnya ?

Jawaban:

1) Mengenai Pasal Onani dalam kitab Badai’ul Fawaid, yang kami ketahui ini salah satu fitnah yang disebarkan kaum Syi’ah untuk mencela Ahlus Sunnah dengan menyebarkan berbagai kedustaan murahan kepada kaum muslimin awam. Apa yang mereka sebarkan merupakan bagian dari Fatwa Syaikhul Islam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah yang telah dipotong (tidak utuh) untuk disajikan kepada kita.

Inilah nukilan (perkataan Al-’Allamah Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Badai’u Fawa’id, -admin) selengkapnya meskipun hanya sebagian…

إذا قدر الرجل على التزوج أو التسري‎ ‎حرم عليه الاستمناء بيده . قال ابن‎ ‎عقيل : قال : وأصحابنا وشيخنا لم‎ ‎يذكروا سوى الكراهة لم يطلقوا‎ ‎التحريم . قال : وإن لم يقدر على ز…‏‎ ‎وجة ولا سرية ولا شهوة له تحمله على‎ ‎الزنا حرم عليه الاستمناء ، لأنه‎ ‎استمتاع بنفسه والآية تمنع منه ، وإن‎ ‎كان متردد الحال بين الفتور والشهوة‎ ‎ولا زوجة له ولا أمة ولا ما يتزوج به‎ ‎كره . ولم يحرم وإن كان مغلوباً على‎ ‎شهوته يخاف العنت كالأسير والمسافر‎ ‎والفقير جاز له ذلك نص عليه أحمد .‏‎ ‎وروي أن الصحابة كانوا يفعلونه في‎ ‎غزواتهم وأسفارهم وإن كانت امرأة لا‎ ‎زوج لها ، واشتدت غلمتها فقال بعض‎ ‎أصحابنا : يجوز لها اتخاذ الأكرنبج‎ ‎وهو شيء يعمل من جلود على صورة الذكر‎ ‎فتستدخله المرأة أو ما أشبه ذلك من‎ ‎قثاء وقرع صغار . قال : والصحيح عندي‎ ‎أنه لا يباح ، لأن النبي صلى الله‎ ‎عليه وسلم إنما أرشد صاحب الشهوة إذا‎ ‎عجز عن الزواج إلى الصوم . ولو كان‎ ‎هناك معنى غيره لذكره . وإذا اشتهى‎ ‎وصور في نفسه شخصاً أو دعي باسمه .‏‎ ‎فإن كان زوجة أو أمة له فلا بأس إذا‎ ‎كان غائباً عنها‎

artinya :
Jika seorang laki-laki mampu untuk menikahi atau melakukan persetubuhan dengan budak maka haram baginya untuk melakukan onani dengan tangannya, telah berkata Ibnu Uqail, dan telah berkata sebagian sahabat-sahabat kami dan guru-guru kami bahwa mereka tidak menyebutkannya selain dibencinya hal itu walaupun mereka belum memutlakkan pengharamannya, dan berkata lagi, jika tidak mampu untuk menikah atau dengan budak yang dimiliki maka janganlah ia membiarkan syahwatnya menggiringnya kepada perzinahan dengan sebab onani itu, karena hal itu termasuk perkara yang mempermainkan nafsu dan ayat melarang dari berbuat demikian, …….. -(((((((((((( dan diriwayatkan dari sebagian shahabat bahwasanya mereka melakukan (onani) ketika mereka berperang dan safar dan bagi seorang perempuan yang tidak memiliki suami, dan jika nafsunya memuncak maka berkata sebagian sahabat kami, boleh bagi mereka (perempuan) untuk mengambil kulit lunak yang berbentuk batang dzakar atau mengambil ketimun atau terong berukuran mini lalu ia masukkan ke dalam))))))))))))))), dan berkata dalam hal ini: yang shohih bahwa hal ini di sisi kami tidak boleh karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya menganjurkan shoum kepada mereka yang merasakan syahwat jika tidak mampu untuk nikah, walaupun di sana ada makna selain yang telah disebutkan, ……….. (selesai, dan hanya diterjemahkan sebagian saja)

Kedustaan dan kebodohan dari penukilan ini (semoga Allah memberikannya hidayah):

1. Menisbatkan perkataan ini kepada Imam Ibnul Qoyyim

2. Tidak mengetahui penggunaan kata ruwiya, itu adalah bentuk penukilan dengan isyarat akan lemahnya nukilan tersebut

3. Tidak menyebutkan penjelasan secara utuh dan hanya memotong sebagian kalimat

4. Tidak menjelaskan perincian dari Imam Ibnul Qoyyim terhadap perkara istimna’ pada perempuan bahwasanya beliau menjelaskan perkara ini tidak boleh,

5. Membuat opini kepada para pembaca bahwa Ibnul Qoyyim-lah yang membolehkan perkara ini, padahal ini hanya berupa kutipan dan telah dijawab sendiri oleh Imam tentang perkara yang seharusnya (yaitu shoum bagi mereka yang belum mampu nikah, karena membiarkan diri membiasakan untuk memperturutkan hawa nafsu akan menggiring kepada perzinahan).

http://fadhlihsan.wordpress.com/2011/02/26/inilah-kedustaan-syiah-bantahan-atas-artikel-fikih-porno-ala-wahhabi-khusus-buat-para-akhwat-dan-ummahat-berfaham-salafy/

2) Mengenai hukum Onani sendiri, selain yang telah disampaikan oleh Ibnu Qayyim (secara utuh), berikut ini adalah fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin :

Melakukan kebiasaan tersembunyi (onani), yaitu mengeluarkan mani dengan tangan atau lainnya hukumnya adalah haram berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah serta penelitian yang benar.

Al-Qur’an mengatakan.

“Artinya : Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampui batas” [Al-Mu’minun : 5-7]

Siapa saja mengikuti dorongan syahwatnya bukan pada istrinya atau budaknya, maka ia telah “mencari yang di balik itu”, dan berarti ia melanggar batas berdasarkan ayat di atas.

Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Wahai sekalian para pemuda, barangsiapa di antara kamu yang mempunyai kemampuan hendaklah segera menikah, karena nikah itu lebih menundukkan mata dan lebih menjaga kehormatan diri. Dan barangsiapa yang belum mampu hendaknya berpuasa, karena puasa itu dapat membentenginya”

Pada hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak mampu menikah agar berpuasa. Kalau sekiranya melakukan onani itu boleh, tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkannya. Oleh karena beliau tidak menganjurkannya, padahal mudah dilakukan, maka secara pasti dapat diketahui bahwa melakukan onani itu tidak boleh.

Penelitian yang benar pun telah membuktikan banyak bahaya yang timbul akibat kebiasaan tersembunyi itu, sebagaimana telah dijelaskan oleh para dokter. Ada bahayanya yang kembali kepada tubuh dan kepada system reproduksi, kepada fikiran dan juga kepada sikap. Bahkan dapat menghambat pernikahan yang sesungguhnya. Sebab apabila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan biologisnya dengan cara seperti itu, maka boleh jadi ia tidak menghiraukan pernikahan.

[As-ilah Muhimmah Ajaba ‘Alaiha Ibnu Utsaimin, hal. 9]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerbit Darul Haq]

http://almanhaj.or.id/content/1431/slash/0/kebiasaan-tersembunyi-onani-terjerat-kebiasaan-onanimasturbasi/

 

Mereka Yang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah

Ust. Badrusalam, Lc

Siapakah diantara kita yang tidak ingin diberikan kebaikan oleh Allah? Namun di sana, ada orang-orang yang diinginkan kebaikan oleh Allah Azza waJalla. Semoga kita termasuk dari mereka:

1. Dibukanya pintu amal sebelum kematian menjelang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).[1]

2. dipercepat sanksinya di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik).[2]

Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ ». قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِى بِهِ فِى الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِى فِى الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ». قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ.

“Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seseorang dari kaum muslimin yang telah kurus bagaikan anak burung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu berdo’a dengan sesuatu atau kamu memintanya?” Ia berkata, “Ya, aku berdo’a, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu itu. Mengapa kamu tidak berkata, “Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab Neraka.” Maka orang itupun berdo’a dengannya. Allah pun menyembuhkannya.” (HR Muslim). 

3. Diberikan cobaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Al Bukhari dari Abu Hurairah).

Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu janji Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al Baqarah: 155).

Cobaan itu untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan).

4. Difaqihkan dalam agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” HR Al Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus terhadap Al Qur’an dan hadits berasal dari kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al Qur’an dan hadits dengan benar. Sebagaimana yang dikabarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kaum khawarij yang membaca Al Qur’an:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِى يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلَى صَلاَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَىْءٍ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ

“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur’an. Bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, shalat dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an mendukung mereka padahal Al Qur’an tidak mendukung mereka.” (HR Muslim).

Itu semua akibat kedangkalan ilmu dan mengikuti hawa nafsu, sehingga mereka tidak diberikan pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan hadits. Mereka mengira bahwa ayat Al Qur’am mendukung perbuatan mereka, padahal tidak demikian. Tentu yang memahaminya adalah orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama dan selamatkan dari hawa nafsu.

5. Diberikan kesabaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر

“Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya amat membutuhkan kesabaran. Karena Iblis dan balatentaranya tak pernah diam untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Tidak ada yang diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidak ada yang diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35).

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau inginkan kebaikan padanya, beri kami kesabaran untuk menjalani perintahMu dan menjauhi laranganMu, beri kami kesabaran dalam menghadapi musibah yang menerpa, beri kami kefaqihan dalam agama dan bukakan untuk kami pintu amal shalih sebelum wafat kami. Aamiin.

 


[1] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 304.

[2] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 308.

Tj Allah Menginginkan Kebaikan Kepada Manusia

103. Tj – 5

Pertanyaan:

: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ustadz…akhi…tolong sharing ilmu dong..
Td pagi ana dapat pertanyaan spt ini:
“Sebelum wafat Rasulullah pernah berwasiat kpf Abudzar (mgkn Abudzar Al giffar), yaitu bila Allah menginginkan kebaikan kepada manusia, maka Allah akan selalu memberikan bayangan dosa2 manusia tsb, tp bila Allah menginginkan keburukan makan bayangan dosa2 akan ditutup…”

Bagaimana dgn pernyataan ini, apakah ada dalam hadits shahih?  Krn penanya membaca ini dr sebuah buku, ana lupa buka apa td katanya…

Mohon bantuan jawaban?
Syukron…Jazaakumullahu khoyr..

Jawaban:

Mungkin hadits berikut yang dimaksud:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik, Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 308)

http://cintasunnah.com/mereka-yang-diinginkan-kebaikan-oleh-allah/