All posts by BBG Al Ilmu

Tj Puasanya Wanita Hamil Tua

188. BBG Al Ilmu – 199

Pertanyaan:
Mau bertanya Istri ana sedang hamil besar 8 bulan, dan sebagaimana romadhon tahun kemarin, tahun ini istri ana ingin tetap manjalani shaum meskipun sedang hamil, ana sudah memberi nasihat padanya kalau orang hamil boleh meninggalkan shaum, namun istri ana bersikeras mampu menjalaninya, romadhon yang lalu juga bisa, itu pendiriannya.

Bagaimana penjelasan ustadz mengenai hal ini, apakah pendirian istri ana yang memaksakan untuk tetap shaum bertentangan dengan syari’at ?

Jawaban:
Ust. Fuad Hamzah Baraba’ Lc

Sebaiknya dicoba dulu, apalagi jika memang tahun lalu sudah melakukannya jadi sudah ada pengalaman. Dicoba lagi saja harian, dilihat mampu atau tidak, dan suami sebaiknya mendukung, jangan langsung melarang. Yang terpenting untuk disadari adalah adanya
Keringanan bagi wanita hamil.

Tambahan tim tj:
Untuk tambahan referensi, bisa buka link berikut:
http://almanhaj.or.id/content/2809/slash/0/apabila-ibu-hamil-dan-menysui-berpuasa/

Mengenai apakah wanita hamil yang tidak berpuasa Ramadhan diharuskan qadha atau fidyah atau keduanya, ada perbedaan pendapat diantara para ulama salaf. Untuk pembahasan lengkapnya silahkan buka link berikut:

http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Dosa Yang Banyak Dan Luasnya Rahmat Allah

187. BBG Al Ilmu – 199

Pertanyaan:
Kadang manusia suka menanam pemikiran dalam dirinya ‘aku gak Mungkin Masuk Surga, Dosaku terlalu Banyak, aku iri dengan mereka yang Beriman dan Beramal Shalih’. Bolehkah pemikiran ini tertanam didiri ?

Jawaban:
Tidak perlu berputus asa, saudaraku. Jika benar ingin bertaubat dan kembali jadi baik, pintu taubat begitu terbuka. Ingatlah ayat, “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

Ayat tersebut memberikan kabar gembira bahwa Allah mengampuni setiap dosa bagi siapa saja yang bertaubat dan kembali pada-Nya. Walaupun dosa tersebut amat banyak, meski bagai buih di lautan (yang tak mungkin terhitung).

Iri, dengki atau hasad –istilah yang hampir sama- berarti menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain. Hasad seperti inilah yang tercela. Adapun ingin agar semisal dengan orang lain, namun tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, maka ini tidak mengapa. Hasad model kedua ini disebut oleh para ulama dengan
ghibthoh. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816)
والله أعلم بالصواب
Sumber:

http://rumaysho.com/belajar-islam/tafsir-al-quran/4210-allah-mengampuni-setiap-dosa.html

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hanya-boleh-hasad-pada-dua-orang.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Munculnya Syi’ah

186. BBG Al Ilmu – 253

Pertanyaan:
Mau tanya ustadz; Apakah munculnya Syiah sudah disabdakan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam ?

Jawaban:
Ust. Ali Basuki Lc

Baarakallahu fiikum, semoga Allah senantiasa merahmati dan mengampuni dosa2 kita. Syiah mulai muncul setelah wafatnya Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘anhu, akibat provokasi abdullah bin saba’. Dan setelah itu orang yahudi ini menyebarkan racun pengkultusan terhadap Ali bin Thalib Radhiallahu ‘anhu, dan kemudian berkembanglah syi’ah dalam beberapa sekte. Dan ini disekitar tahun 34 H.

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Masbuq Mendapatkan Raka’at Dalam Shalat Jahriyah Maupun Sirriyah

185. BBG Al Ilmu – 271

Pertanyaan:
‘Afwan, ana mau tanya, bagi masbuq, apakah ada perbedaan antara dia ikut imam saat ruku’ di shalat jahriyah dan shalat sirriyah ? Yang ana dengar jika masbuq ikut imam pas saat imam ruku’ di shalat jahriyah dihitung 1 raka’at, sedangkan di shalat sirriyah, tidak dapat raka’at dan masbuq harus tambah 1 raka’at ? Mana yg benar ? Jazakallah khayran

Jawaban:
Ust. Rochmad Supriyadi Lc

Tidak ada perbedaan antara jahriyah dan sirriyah. Siapa saja yang menjumpai rukuk bersama imam bagi nya 1raka’at.

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

Tj Mengeraskan Suara Dzikir

184. BBG Al Ilmu – 271

Pertanyaan:
Apa derajat hadits berikut:
“Sesungguhnya mengeraskan suara dzikir ketika orang-orang usai melaksanakan shalat wajib merupakan kebiasaan yang berlaku pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ibnu Abbas menambahkan, ‘Aku mengetahui mereka
selesai shalat dengan itu, apabila aku mendengarnya.”

Jawaban:
Shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Hadits ini dijadiikan dalil bagi sebagian kaum muslimin menganjurkan  mengeraskan suara dzikir setelah shalat.

Namun jumhur ‘ulama menyelisihi pendapat anjuran tersebut berdasarkan beberapa dalil shahih, salah satunya:

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghoib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2830 dan Muslim no. 2704).

Hal ini menunjukkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah suka dengan suara keras saat dzikir dan do’a.

Ath Thobari rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan dimakruhkannya mengeraskan suara pada do’a dan dzikir. Demikianlah yang dikatakan para salaf yaitu para sahabat dan tabi’in.” (Fathul Bari, 6: 135)

Adapun anjuran mengeraskan suara pada dzikir sesudah shalat, tidaklah tepat. Karena yang dilakukan oleh Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidaklah membiasakan hal itu.  Beliau boleh jadi pernah melakukannya, namun hanya dalam rangka ta’lim atau pengajaran, bukan kebiasaan yang terus menerus.

Demikianlah pendapat Imam Syafi’i (dalam Al Umm 1:151) dan pendapat mayoritas ulama lainnya.
والله أعلم بالصواب

Sumber:
http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3608-mengeraskan-suara-pada-dzikir-sesudah-shalat.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Sepuluh Nasihat Ibnul Qayyim

Ust Kholid Syamhudi Lc
Sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:
Pertama,
Hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah سبحانه وتعالى mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.
Kedua,
Merasa malu kepada Allah… Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah سبحانه وتعالى yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah سبحانه وتعالى di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Alloh سبحانه وتعالى tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah…
Ketiga,
Senantiasa menjaga nikmat Alloh سبحانه وتعالى yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.
Apabila engkau berlimpah nikmat
maka jagalah, karena maksiat
akan membuat nikmat hilang dan lenyap
Barang siapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.
Keempat,
Merasa takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan khawatir tertimpa hukuman-Nya
Kelima,
Mencintai Allah… karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya… Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.
Keenam,
Menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat…
Ketujuh,
Memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri… karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati…
Kedelapan,
Memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.
Kesembilan,
Hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah… waktu senggang dan lapang yang dia miliki… karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan… sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.
Kesepuluh,
Sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati… Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat… dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah… Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.
Semoga jadi renungan….

Mereka Menutup Telinga

Ust. Badrusalam LC

Tafsir Al Baqoroh: 18.

أَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِم مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ
“Atau seperti hujan dari langit yang ada padanya kegelapan, guruh dan kilat. Mereka meletakkan jari di telinga-telinga mereka karena mendengar petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang kafir.”

(Ka shoyyibimminassamaa)
Ibnu Abbas berkata, “Shoyyib adalah hujan,

(Fiihi zulumaat)
Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas berkata, “Maknanya ibtilaa (ujian).”
Sa’I’d bin Jubair dari ibnu Abbas, “Mereka dalam kegelapan berupa kekafiran dan ketakutan dari dibunuh, selain mereka sendiri berselisih.”

(Waro’duwabarq)
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya kepada ibnu Abbas, bahwa ada seorang Yahudi datang kepada Rasulullah dan bertanya dentang Ro’du (halilintar)?” Beliau bersabda, “Ia adalah malaikat yang ditugaskan mengatur awan dan di tangannya ada percikan api. Ia memerintahkan dan mengatur awan dengannya sesuai dengan perintah Allah.”
Yahudi itu berkata, “Lalu apakah suara halilintar itu suaranya?” Beliau bersabda, “Kamu benar.”

(Wallahu muhiithumbilkafirin)
Ibnu Abbas berkata, “Allah menurunkan adzab kepada mereka, karena Dia meliputi orang-orang kafir.”
Ibnu Katsir berkata, “Artinya Rasa takut mereka itu tidak bermanfaat karena Allah meliputi mereka dengan kekuasanNya, dan mereka berada di bawah kehendakNya.”

Antara Hasil Dan Ikhtiar

Ust Jazuli, Lc

Seharusnya seorang muslim tatkala berikhtiar harus tetap menjaga hatinya kepada Allah & jangan sekali-kali mengarahkan hatinya kepada apa yang dilakukannya, sehebat apapun itu..

Hal itu untuk menjaga kekuatan hati agar siap menerima hasil apapun yang Allah takdirkan..

Ibnul Qoyyim pernah bertutur,” Silahkan anda melakukan sebab apapun yg terbaik, tetapi kosongkan selalu hatimu dari semua sebab itu agar tetap terarah kepada Allah.”

Sehebat apapun ikhtiar manusia. Namun ia harus tetap mengantungkan hatinya kepada Allah..

Bukankankah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tersihir, padahal beliau adalah orang yang paling berdzikir..??

Peristiwa yang pernah beliau alami memberikan pelajaran penting kpd Qt semua bahwa setiap hamba harus menyadari dan menyakini bahwa..

Setinggi apapun ilmunya & sehebat apapun amalannya boleh saja berikhtiar sebaik mungkin, Namun hasil akhir, tetap Allah jualah yg menentukan..

Manusia hanya berikhtiar, ttp hati harus tetap tertuju kpd Allah, dgn keyakinan bahwa Dia pasti akan memberikan hasil yang terbaik kpd hamba-Nya..

Ya Allah jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang selalu berserah diri kepadaMu..!!

 Ditulis oleh Ustadz Jazuli, Lc

Segera Beraksi

Ustadz Badrusalam, Lc

Syi’ah terus beraksi..
Di TV one dan TV lainnya..
Dengan membawa para anteknya..
Di dukung oleh sebagian tokoh yang dungu..

Di dauroh kemaren syaikh Saad menasehati demikian, “Jangan kalian kira peristiwa suriah tidak mungkin terjadi di negeri ini. Kalian harus mengeluarkan seluruh tenaga untuk membendungnya.”

Tentu kita tidak ingin sebatas berkomentar..
Kita harus beraksi..
Cetak buku saku tentang syi’ah sebanyak banyaknya..
Bagikan ke masyarakat..
Ingatlah.. Ini jihad yang agung..

Ya Rabb..
Beri kami kekuatan dan kesabaran..
Beli kami ketakwaan dan kemenangan..

Hati-Hati Dalam Berucap Dan Bertingkah Laku

Ust. Badrusalam, Lc

Dalam berdakwah, Syiah mengucapkan kata2 halus dan mengajak simpati dengan mengajukan tema persatuan umat Islam.
Sedangkan kaum sunni seperti emosi dg berkata: bodoh, dungu, tukang zina, dsb.

Jika orang awam yg melihat & mendengar, manakah yg akan dipilih? Perkataan syiah yg halus atau perkataan sunni yg kasar?
Wahai ikhwan aswaja, mari kita berkata/berbuat dengan lebih baik.. Jangan sampai kita terperangkap dlm perang emosi.