All posts by BBG Al Ilmu

Tj Waktu Shalat Istikharah

317. BBG Al Ilmu – 349

Pertanyaan:
Assalamualaikum..ustadz,saya ada pertanyaan..kapan waktu yang tepat untuk sholat istikharah? Apakah dipertengahan malam/diwaktu lainnya..mohon penjelasannya

Jawaban:
Shalat istikhoroh boleh dilakukan kapan saja baik itu setelah shalat tahiyatul masjid, setelah shalat rawatib, setelah shalat tahajud, setelah shalat Dhuha dan shalat lainnya.(
Fiqhud Du’aa, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, hal. 167).

Bahkan jika shalat istikhoroh dilakukan dengan niat shalat sunnah rawatib atau shalat tahajjud atau shalat sunnah lainnya, lalu berdoa istikhoroh setelah itu, maka itu juga dibolehkan. Artinya di sini, dia mengerjakan shalat rawatib satu niat dengan shalat istikhoroh karena Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‫إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ‬

“Jika salah seorang di antara kalian bertekad untuk melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua raka’at selain shalat fardhu.” Di sini cuma dikatakan, yang penting lakukan shalat dua raka’at apa saja selain shalat wajib. (penjelasan Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 1/426)

Al ‘Iroqi mengatakan, “Jika ia bertekad melakukan suatu perkara sebelum ia menunaikan shalat rawatib atau shalat sunnah lainnya, lalu ia shalat tanpa niat shalat istikhoroh, lalu setelah shalat dua rakaat tersebut ia membaca doa istikhoroh, maka ini juga dibolehkan.
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2934-panduan-shalat-istikhoroh.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Penerima Zakat Fitr

316. BBG Al Ilmu – 385

Pertanyaan:
Apakah khadimat (yang tidak menginap di rumah) atau karyawan kantor dibolehkan untuk mendapat zakat fitri dari kita?

Jawaban:
Para ulama berselisih pendapat mengenai siapakah yang berhak diberikan zakat fithri. Ibnu Taimiyah termasuk yang berpendapat bahwa zakat fithri hanyalah khusus untuk fakir miskin saja. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/8287), Karena dalam hadits disebutkan, “Zakat fithri sebagai makanan untuk orang miskin.”

Alasan lainnya dikemukakan oleh murid Ibnu Taimiyah, yaitu Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Beliau
rahimahullah menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk bahwa zakat fithri hanya khusus diserahkan pada orang-orang miskin dan beliau sama sekali tidak membagikannya pada 8 golongan penerima zakat satu per satu. Beliau pun tidak memerintahkan untuk menyerahkannya pada 8 golongan tersebut. Juga tidak ada satu orang sahabat pun yang melakukan seperti ini, begitu pula orang-orang setelahnya.” (Zaadul Ma’ad, 2/17.) Dan pendapat inilah yang lebih tepat.

Adapun batasan dikatakan fakir menurut ulama Syafi’iyah dan Malikiyah adalah orang yang tidak punya harta dan usaha yang dapat memenuhi kebutuhannya. Seperti kebutuhannya, misal sepuluh ribu rupiah tiap harinya, namun ia sama sekali tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut atau ia hanya dapat memenuhi kebutuhannya kurang dari separuh. Sedangkan miskin adalah orang yang hanya dapat mencukupi separuh atau lebih dari separuh kebutuhannya, namun tidak bisa memenuhi seluruhnya.

Dari “batasan” diatas, bisa diperkirakan apakah orang-orang yang anda sebutkan masuk kriteria fakir miskin atau tidak.

والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://rumaysho.com/hukum-islam/zakat/3171-panduan-zakat-fithri.html

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/panduan-zakat-14-golongan-penerima-zakat-dari-fakir-miskin.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Celana Terkena Najis Kencing

315. BBG Al Ilmu – 271

Pertanyaan:
Mau tanya ustadz, kalau misal kta buang air kecil, ternyata tanpa sengaja ada sedikit percikan dari air kncing kena celana kita, dan kita bilas sedikit dengan air, apa itu masih sah untuk dipakai sholat atau tidak ? terus bla pada saat kita mau sholat ternyata tidak ada kain ataupun sarung apa boleh kta tetap menggunakan celana tersebut ?

Jawaban:
Ust. Fuad Hamzah Baraba’ Lc

Cukup dengan membilas bagian yang kena percikan kencing dengan air sampai hilang najisnya.

Jika sudah hilang najisnya, celana bisa dipakai sholat, tapi jika ada pengganti (sarung atau kain) boleh2 saja.

Tambahan dari tim Tj:
Faedah dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Fathu Dzil Jalaali wal Ikrom Syarh Bulughil Marom, 1/176:
“Jika sudah hilang bau, warna atau rasa dari najis tersebut, maka berarti sudah suci dan boleh digunakan kembali.”

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Do’a Istiftah

314. BBG Al Ilmu

Pertanyaan:
Afwan mau tanya, kalau solat tarawih, semisal 11 rekaat (dengan witir). Kapan aja kita baca istiftahnya?

Jawabannya:
Doa Istiftah adalah doa yang dibaca ketika shalat, antara takbiratul ihram dan ta’awudz sebelum membaca surat Al Fatihah. Hukum membacanya adalah sunnah. Diantaranya dalilnya adalah hadist dari Abu Hurairah: “…Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setelah bertakbir ketika shalat, ia diam sejenak sebelum membaca ayat. Maka aku pun bertanya kepada beliau, wahai Rasulullah, kutebus engkau dengan ayah dan ibuku, aku melihatmu berdiam antara takbir dan bacaan ayat. Apa yang engkau baca ketika itu adalah:… (beliau menyebutkan doa istiftah)”. (Muttafaqun ‘alaih)

Setelah menyebut beberapa doa istiftah dalam kitab Al Adzkar, Imam An Nawawi berkata: “Ketahuilah bahwa semua doa-doa ini hukumnya
mustahabbah (sunnah) dalam shalat wajib maupun shalat sunnah” (Al Adzkar, 1/107).

Dari sini kita tahu bahwa tetap disunnahkan membaca doa istiftah dalam shalat shalat sunnah termasuk diantaranya shalat tarawih dan witir.
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/macam-%E2%80%93-macam-doa-istiftah.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Berganti Pakaian Saat Ihram

313. BBG Al Ilmu – 171

Pertanyaan:
Ustadz, mau tanya, bolehkah akhwat mengganti pakaian ataupun pakaian dalam saat beliau baru sampai di Makkah sebelum thowaf ?

Jawaban:
Seseorang yang sedang ihram, baik laki-laki maupun wanita, TIDAK DIHARUSKAN mengenakan terus pakaian yang ia kenakan ketika ihram sepanjang ibadahnya. Dia DIBOLEHKAN menggantinya kapan dia suka dengan pakaian lain selama bisa dipakai untuk ihram.
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://almanhaj.or.id/content/2252/slash/0/tata-cara-umrah/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Seputar Fidyah

312. BBG Al Ilmu – 357

Pertanyaan:
Apakah ibu hamil/menyusui yang tidak berpuasa cukup dengan bayar fidyah saja atau diganti dengan fidyah dan puasa juga ? Mohon penjelasan dan dalilnya

Jawaban:
Wanita hamil dan menyusui –ketika tidak berpuasa- cukup mengqodho’ tanpa menunaikan fidyah berdasarkan dalil berikut. Dari Anas bin Malik, ia berkata,
“Sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat dari musafir, juga puasa dari wanita hamil dan menyusui.”. (HR. An Nasai no. 2274 dan Ahmad 5/29. Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.)

Al Jashshosh rahimahullah menjelaskan, “ … Keringanan puasa bagi wanita hamil dan menyusui sama halnya dengan keringanan puasa bagi musafir. … Dan telah diketahui bahwa keringanan puasa bagi musafir yang tidak berpuasa adalah mengqodhonya, tanpa adanya fidyah. Maka berlaku pula yang demikian pada wanita hamil dan menyusui..” (Ahkamul Qur’an, Ahmad bin ‘Ali Ar Rozi Al Jashshosh, 1/224)

Kondisi ini berlaku bagi keadaan wanita hamil dan menyusui yang masih mampu menunaikan qodho’. Dalam kondisi ini dia dianggap seperti orang sakit yang diharuskan untuk mengqodho’ di hari lain ketika ia tidak berpuasa. Namun apabila mereka tidak mampu untukk mengqodho’ puasa, karena setelah hamil atau menyusui dalam keadaan lemah dan tidak kuat lagi, maka kondisi mereka dianggap seperti orang sakit yang tidak kunjung sembuhnya. Pada kondisi ini, ia bisa pindah pada penggantinya yaitu menunaikan fidyah, dengan cara memberi makan pada satu orang miskin setiap harinya. (Panduan Ibadah Wanita Hamil, Yahya bin Abdurrahman Al Khatib, hal. 46, Qiblatuna)
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Cara Shalat Maghrib Di Waktu ‘Isya

311. BBG Al Ilmu – 29

Pertanyaan:
Ustad, afwan ana mau nanya..
Jika kita safar dan baru nyampe rumah ketika waktu isya..
Lalu bagaimana dengan shalat magrib, isya dan tarawih kita?

Jawaban:
Jika anda tiba pada waktu ‘Isya dan mendapatkan orang orang di Masjid sedang melaksanakan sjalat ‘Isya, maka hendaknya
hendaknya anda mengikuti jama’ah dengan niat shalat maghrib. Tidak masalah jika niat imam berbeda dari orang yang shalat  di belakangnya, karena Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam  berkata: “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya dan bagi setiap orang mendapatkan sesuai yang ia niatkan”.

Apabila jama’ah sudah memulai shalat rakaat kedua, hendaknya anda mengikuti jama’ah dengan niat shalat maghrib dan salam bersama imam, karena berarti ia telah melakukan 3 rakaat. Namun apabila ia gabung jamaah saat rakaat pertama, maka ia mengikuti jama’ah isya’ dengan niat shalat maghrib, di saat imam berdiri untuk melakukan rakaat ke empat, ia tetap duduk dan membaca tasyahud dan salam, kemudian berdiri untuk melakukan shalat isya’ bersama imam apabila belum selesai shalat isya’ berjamaah. Kemudian ikut shalat tarawih dan witir bersama imam agar mendapatkan keutamaannya.

Namun jika anda tidak sempat ke Masjid, maka tetap shalatl dengan tertib yaitu shalat Maghrib dahulu (jama’ ta’khir) dilanjutkan dengan shalat ‘Isya dan setelah itu shalat Tarawih.

والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://islamqa.com/en/40598

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Duduk Iftirosy Dan Tawarruk

310. BBG Al Ilmu

Pertanyaan:
Ustadz, manakah pendapat yang kuat mengenai tata cara duduk dalam tasyahud akhir shalat ?

Jawaban:
Permasalahan ini adalah permasalahan fiqhiyah yang seringkali diperdebatkan.

Pendapat terkuat adalah yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i. Ketika tasyahud awal, duduknya adalah iftirosy. Ketika tasyahud akhir –baik yang dengan sekali atau dua kali tasyahud- adalah dengan duduk tawarruk, baik dia 1 rakaat, 2 rakaat, 3 rakaat, maupun 4 rakaat.

والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3191-cara-duduk-tasyahud-iftirosy-atau-tawarruk.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Cara Jamak Shalat Maghrib Di Waktu ‘Isya

309. BBG Al Ilmu – 349

Pertanyaan:
Ana mau tanya ustadz.. Ketika kita dalam keadaan safar, setibanya di tempat tujuan, kita medatangi masjid, yang saat itu telah memulai sholat isya, sementara kita pada saat itu belum sholat maghrib. Bagaimanakah cara kita mengqodho sholat kita sesuai sunnah ?

Jawaban:
Syaikh Ibnu ‘Uthaymin rahimahullah menjelaskan bahwa jika seseorang datang ke Masjid untuk shalat dan mendapatkan orang-orang sedang shalat isya’, maka hendaknya dia mengikuti jama’ah dengan niat shalat maghrib. Tidak masalah jika niat imam adalah berbeda dari orang yang shalat di belakangnya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya dan bagi setiap orang mendapatkan sesuai yang ia niatkan”.

Apabila jama’ah sudah memulai shalat rakaat kedua, hendaknya ia mengikuti jama’ah dengan niat shalat maghrib dan salam bersama imam, karena berarti ia telah melakukan 3 rakaat. Namun apabila ia masuk pada jama’ah saat rakaat pertama, maka ia mengikuti jama’ah isya’ dengan niat shalat maghrib, di saat imam berdiri untuk melakukan raka’at ke empat, ia tetap duduk dan membaca tasyahud dan salam, kemudian berdiri untuk melakukan shalat isya’ bersama imam apabila belum selesai shalat isya’ berjamaah.

والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://islamqa.com/en/40598

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Batas Waktu I’tikaf

308. BBG Al Ilmu – 235

Pertanyaan:
Ustadz. Mau tanya, Apakah boleh kita niat/melaksanakan itikaf ’10 malam terakhir ramadhan’ tapi pagi-sorenya pergi ke kantor utk bekerja, baru malam-subuh masuk/menetap itikaf di masjid (karena cuti terbatas) ? Syukron

Jawaban:
Ulama berbeda pendapat tentang rentang waktu minimal seseorang diam di masjid, sehingga bisa disebut melakukan i’tikaf (Fiqhul I’tikaf, 18), dan kita harus berlapang dalam masalah khilaf.

As Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawanya (15: 441) berkata:
“I’tikaf adalah berdiam di masjid dalam rangka melakukan ketaatan pada Allah Ta’ala baik berdiam lama atau sebentar. Karena tidak ada dalil dalam hal ini sejauh yang kuketahui yang menunjukkan batasan waktu minimal baik dalil yang menyatakan sehari, dua hari atau lebih dari itu. I’tikaf adalah ibadah yang disyari’atkan. Jika seseorang berniatan untuk bernadzar, maka i’tikaf yang dinadzarkan menjadi wajib. I’tikaf itu sama antara laki-laki dan perempuan.”

Al Mardawi rahimahullah mengatakan, “Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).” (Al Inshof, 6: 17). Sehingga jika ada yang bertanya, bolehkah beri’tikaf di akhir-akhir Ramadhan hanya pada malam hari saja karena pagi harinya mesti kerja? Jawabannya, boleh. Karena syarat i’tikaf hanya berdiam walau sekejap, bisa di malam atau di siang hari.
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/4022-batasan-waktu-minimal-itikaf-.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶