All posts by Admin

Tj Nikah Dengan Niat Talak

192. BBG Al Ilmu

Pertanyaan:
Ana dapat tlsn ini dr teman. Apa bisa di percaya isi nya? Menurut teman, sejata syiah Berikut FATWA SYEKH BIN BAZ “NIKAH DENGAN NIAT TALAK” yang dikutip dari buku “Majmuk Fatawa”-nya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah, Jilid 4
hal 29-30.

-NIKAH DENGAN NIAT (AKAN) DI TALAQ-
Pertanyaan:

Saya mendengar bahwa anda berfatwa kepada salah seorang polisi bahwa diperbolehkan nikah di negeri rantau (negeri tempat merantau), dimana dia bermaksud untuk mentalak istrinya setelah masa tertentu bila habis masa tugasnya. Apa perbedaan nikah semacam ini dengan nikah mut’ah? Dan bagaimana kalau si wanita melahirkan anak? Apakah anak yang dilahirkan dibiarkan bersama ibunya yang sudah ditalak di negara itu? Saya mohon penjelasanya.

Jawab :

Benar… Telah keluar fatwa dari “Lajnah Daimah”, di mana saya adalah ketuanya, bahwa dibenarkan nikah dengan niat (akan) talak sebagai
urusan hati antara hamba dan Tuhannya. Jika seseorang menikah di negara lain (di rantau) dan niat bahwa kapan saja selesai dari masa belajar atau tugas kerja, atau lainnya, maka hal itu dibenarkan menurut jumhur para ulama. Dan niat talak semacam ini adalah urusan antara dia dan Tuhannya, dan bukan merupakan syarat dari sahnya nikah. Dan perbedaan antara nikah ini dan nikah mut’ah adalah dalam nikah mut’ah disyaratkan masa tertentu, seperti satu bulan, dua bulan, dan semisalnya. Jika masa tersebut habis, nikah tersebut gugur dengan sendirinya. Inilah nikah mut’ah yang batil itu. Tetapi jika seseorang menikah, di mana dalam hatinya berniat untuk mentalak istrinya bila tugasnya berakhir di negara lain, maka hal ini tidak merusak akad nikah. Niat itu bisa berubah-ubah, tidak pasti, dan bukan merupakan syarat sahnya nikah. Niat semacam ini hanyalah urusan dia dan Tuhannya. Dan cara ini merupakan salah satu sebab terhindarnya dia dari
perbuatan zina dan kemungkaran. Inilah pendapat para pakar (ahl al-ilm), yang dikutip oleh penulis Al-Mughni Muwaffaquddin bin Qudamah
rahimahullah.

 

Jawaban:
Sepertinya fatwa Syaikh bin Baz rahimahullah tidak disajikan utuh, inilah kutipan akhir fatwa beliau:
“Akan tetapi meninggalkan niat ini lebih utama karena berhati-hati terhadap agama dan keluar dari perbedaan pendapat para ulama. Dan karena ia tidak membutuhkan niat ini, dan karena pernikahan tidak dilarang bercerai apabila ia melihat kebaikan dalam hal itu, sekalipun ia tidak berniat saat menikah. (Syaikh Bin Baz –Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah 5/41-43)

Berikut Fatawa Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa 18/448-449, yang beliau pimpin:
‫‫ ‬‬”Nikah dengan niat talak adalah menikah dalam batas waktu tertentu, dan menikah yang ditentukan masanya adalah pernikahan yang batil, karena ia adalah nikah mut’ah dan mut’ah diharamkan secara ijma’. Menikah yang benar adalah: bahwa ia menikah dengan niat tetap berada dalam ikatan perkawinan. Jika istrinya cocok baginya dan sesuai niscaya ia tetap bersamanya dan jika tidak ia menceraikannya. Firman Allah
subhanahu wa ta’ala:‬‬
“Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. (Qs 2/229)
والله أعلم بالصواب

Untuk ulasan lengkap, silahkan buka link berikut:
http://almanhaj.tohaboy.web.id/content/2420/slash/0/permasalahan-orang-yang-menikah-dengan-niat-akan-menceraikan/index.html

http://www.alsofwa.com/4530/658-fatwa-hukum-menikah-di-luar-negeri-dengan-niat-talak-dan-bedanya-dengan-nikah-mutah.html

http://almanhaj.tohaboy.web.id/content/1421/slash/0/menikah-dengan-niat-talak/index.html‬

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

 

——-*******Fatwa yang utuh********__________

Pertanyaan 2:

Sebagian kaum muslimin ada yang pergi untuk belajar dan yang lainnya ke luar negeri, bolehkah ia menikah dengan niat talak? Apakah perbedaan antara nikah tersebut diatas dan nikah mut’ah? Saya mengharapkan penjelasan tentang hal ini, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi taufik kepadamu.

    Jawaban 2:

Menikah di luar negeri mempunyai bahaya yang besar, oleh karena itu, tidak boleh safar ke luar negeri kecuali dengan beberapa syarat penting, dan karena safar ke luar negeri bisa membawa kufur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maksiat kepada -Nya seperti meminum arak, berzinah dan berbagai perbuatan keji lainnya. Karena alasan ini, para ulama berfatwa haram safar ke negeri kufur, karena mengamalkan hadits:

قال رسول الله  : (أَنَا بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيْمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِيْنَ)

“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang menetap di tengah-tengah orang kafir.”  maka menetap di antara mereka sangat berbahaya, sama saja untuk rekreasi, atau belajar, atau berdagang, atau keperluan lainnya. Para pelajar dari tingkat SMA dan SMP, atau belajar di universitas di luar negeri berada dalam bahaya besar. Negara harus menyediakan sarana pendidikan di dalam negeri dan tidak mengijinkan mereka safar ke luar negeri, karena mengandung bahaya besar.

    Dari perbuatan itu muncul bahaya yang sangat banyak seperti murtad dan menganggap remeh perbuatan maksiat, seperti zinah, minum arak dan yang lebih berat dari itu adalah meninggalkan shalat. Sebagaimana sudah jelas bagi orang yang memperhatikan orang yang safar ke luar negeri kecuali yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala dan mereka sangat sedikit. Wajib menghalangi mereka dari hal itu dan tidak boleh safar kecuali orang-orang yang dikenal kuat agama, iman, dan ilmunya, dan keutamaannya apabila untuk dakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala atau untuk keperluan khusus yang dibutuhkan negara Islam.

    Kepada orang yang safar dan dikenal punya ilmu dan iman, harus tetap istiqamah sehingga ia berdakwah kepada Allah subhanahu wa ta’ala berdasarkan ilmu yang ia dalami dan dikirim karenanya. Dan apabila ada ilmu-ilmu yang sangat dibutuhkan  dan tidak ada yang mengajarkannya dan tidak bisa mendatangkan orang yang bisa mengajarkannya, maka hendaknya yang diutus adalah orang yang dikenal taat beragama, iman yang kuat, berilmu dan mempunyai keutamaan-keutamaan seperti yang telah kami sebutkan.

    Adapun menikah dengan niat talak, maka ada perbedaan pendapat di antara para ulama: di antara mereka ada yang membenci hal itu seperti Auza’i dan jama’ah, dan mereka berkata: sesungguhnya ia menyerupai mut’ah, maka ia tidak boleh menikah dengan niat talak menurut pendapat mereka. Dan mayoritas ulama berpendapat –seperti yang dikatakan al-Muwaffaq Ibnu Quddamah dalam al-Mughni: kepada bolehnya hal itu apabila niatnya adalah di antara dia dan Rabb-nya saja dan bukan syarat. Seperti ia safar untuk belajar, atau pekerjaan yang lain dan merasa khawatir terhadap dirinya, maka ia boleh menikah sekalipun ia berniat menceraikannya apabila tugasnya sudah selesai. Ini adalah pendapat yang kuat –apabila hal itu di antara dia dan Rabb-nya saja, tanpa syarat, tanpa memberitahukan istri dan tidak pula walinya. Mayoritas ulama berkata: tidak mengapa dengan hal itu –seperti telah dijelaskan- dan bukan termasuk nikah mut’ah, karena hanya di antara dia dan Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak ada persyaratan dalam hal itu.

    Adapun nikah mut’ah: ia mengandung syarat selama satu bulan, atau dua bulan, atau setahun, atau dua tahun di antara dia dan keluarga istri, atau di antara dia dan istri. Nikah ini dinamakan nikah mut’ah, dan hukum haram secara ijma’ dan tidak ada yang membolehkan kecuali rafhidhah. Hukumnya boleh di permulaan Islam kemudian dinasakh  dan diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala hingga hari kiamat. Sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits Nabi .

    Adapun ia menikah di negari yang dia safar untuk belajar, atau sebagai duta besar, atau karena sebab yang lain yang ia boleh safar ke negeri kafir –maka ia boleh menikah dengan niat talak apabila ia ingin kembali seperti yang telah dijelaskan apabila ia ingin menikah karena khawatir terhadap dirinya. Akan tetapi meninggalkan niat ini lebih utama karena berhati-hati terhadap agama dan keluar dari perbedaan pendapat para ulama. Dan karena ia tidak membutuhkan niat ini, dan karena pernikahan tidak dilarang bercerai apabila ia melihat kebaikan dalam hal itu, sekalipun ia tidak berniat saat menikah.

Syaikh Bin Baz –Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah 5/41-43.

 

Pertanyaan 3:

Banyak terjadi di kalangan anak muda trend safar ke luar negeri untuk menikah dengan niat talak. Dan nikah adalah tujuan dalam safar karena berpegang terhadap fatwa dalam masalah ini. Kebanyakan orang memahami fatwa tersebut secara keliru, bagaimanakah hukumnya?

Jawaban 3:

Nikah dengan niat talak adalah menikah dalam batas waktu tertentu, dan menikah yang ditentukan masanya adalah pernikahan yang batil, karena ia adalah nikah mut’ah dan mut’ah diharamkan secara ijma’. Menikah yang benar adalah: bahwa ia menikah dengan niat tetap berada dalam ikatan perkawinan. Jika istrinya cocok baginya dan sesuai niscaya ia tetap bersamanya dan jika tidak ia menceraikannya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. (Qsal-Baqarah:229)

Wabillahittaufiq, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Fatawa Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah Dan Fatwa 18/448-449.

Hukum Nikah Dengan Niat Talak

Tj Budak Wanita

190. BBG Al Ilmu – 23

Pertanyaan:
Maaf mau tanya, kalau budak wanita yang akan digauli oleh pemiliknya harus dinikahi dan diberi mahar seperti pada wanita merdeka juga kan? Kalau budak wanitanya muslim/kafir apakah ada perbedaan hukumnya?

Jawaban:
Hukum wanita budak berbeda dengan wanita merdeka. Tanpa ada nikah. Jika seorang pria ingin menikahi wanita budak miliknya, maka ia harus merdekakan dia lebih dahulu baru kemudian ia bisa menikahinya.

Penting diperhatikan bahwa Islam datang pada saat perbudakan telah tersebar dimana-mana. Islam menganjurkan dan memberikan keutamaan dalam membebaskan Budak
Allah berfirman:
“Tetapi ia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” [Al-Balad: 11-13]

Dari Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tiga kelompok yang akan diberikan pahala mereka dua kali: (1) Laki-laki ahli Kitab yang beriman kepada Nabinya lalu berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia beria beriman kepada beliau, mengikutinya dan membenarkannya, maka ia memperoleh dua pahala. (2) Seorang budak yang melaksanakan hak Allah dan hak tuannya, maka ia memperoleh dua pahala. Dan (3) seorang laki-laki yang mempunyai budak wanita, lalu ia memberi makanan, pendidikan, dan pelajaran yang baik, kemudian ia membebaskan dan menikahinya, maka ia memperoleh dua pahala.”. (Shahiih al-Bukhari dan Muslim).

والله أعلم بالصواب

Sumber:
Ust. Rochmad Supriyadi Lc

http://www.islam-qa.com/en/ref/128160/slave

http://almanhaj.or.id/content/3062/slash/0/sikap-islam-terhadap-perbudakan/

http://almanhaj.or.id/content/1058/slash/0/kitab-pembebasan-budak/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Menghilangkan Najis Dengan Pasir

189. BBG Al Ilmu – 349

Pertanyaan:
Saya mau tanya, apakah untuk menghilangkan najis jilatan anjing dapat menggunakan pasir ? , kalau ya mohon dalilnya.

Jawaban:
Ust. Fuad Hamzah Baraba’ Lc

Air liur anjing adalah najis berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيُرِقْهُ ثُمَّ لِيَغْسِلْهُ سَبْعَ مِرَارٍ

“Bila seekor anjing menjilat wadah milik kalian, maka tumpahkanlah lalu cucilah 7 kali.” (HR. Al-Bukhari no 418, Muslim no. 422).

Dan cara menghilangkan najisnya dengan mancucinya 7x yang salah satunya dengan menggunakan debu/tanah, hal itu berdasarkan hadits:

طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

Dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sucinya wadah kalian yang dijilat anjing adalah dengan mencucinya 7 kali, salahsatunya dengan debu/tanah.” (HR. Muslim 420 dan Ahmad 2/427).

Dan kata “at-Turab” artinya: debu/tanah. Bukan pasir, karena pasir dalam bahasa arab adalah: ar-Rimal.

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Puasanya Wanita Hamil Tua

188. BBG Al Ilmu – 199

Pertanyaan:
Mau bertanya Istri ana sedang hamil besar 8 bulan, dan sebagaimana romadhon tahun kemarin, tahun ini istri ana ingin tetap manjalani shaum meskipun sedang hamil, ana sudah memberi nasihat padanya kalau orang hamil boleh meninggalkan shaum, namun istri ana bersikeras mampu menjalaninya, romadhon yang lalu juga bisa, itu pendiriannya.

Bagaimana penjelasan ustadz mengenai hal ini, apakah pendirian istri ana yang memaksakan untuk tetap shaum bertentangan dengan syari’at ?

Jawaban:
Ust. Fuad Hamzah Baraba’ Lc

Sebaiknya dicoba dulu, apalagi jika memang tahun lalu sudah melakukannya jadi sudah ada pengalaman. Dicoba lagi saja harian, dilihat mampu atau tidak, dan suami sebaiknya mendukung, jangan langsung melarang. Yang terpenting untuk disadari adalah adanya
Keringanan bagi wanita hamil.

Tambahan tim tj:
Untuk tambahan referensi, bisa buka link berikut:
http://almanhaj.or.id/content/2809/slash/0/apabila-ibu-hamil-dan-menysui-berpuasa/

Mengenai apakah wanita hamil yang tidak berpuasa Ramadhan diharuskan qadha atau fidyah atau keduanya, ada perbedaan pendapat diantara para ulama salaf. Untuk pembahasan lengkapnya silahkan buka link berikut:

http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Dosa Yang Banyak Dan Luasnya Rahmat Allah

187. BBG Al Ilmu – 199

Pertanyaan:
Kadang manusia suka menanam pemikiran dalam dirinya ‘aku gak Mungkin Masuk Surga, Dosaku terlalu Banyak, aku iri dengan mereka yang Beriman dan Beramal Shalih’. Bolehkah pemikiran ini tertanam didiri ?

Jawaban:
Tidak perlu berputus asa, saudaraku. Jika benar ingin bertaubat dan kembali jadi baik, pintu taubat begitu terbuka. Ingatlah ayat, “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar: 53-54).

Ayat tersebut memberikan kabar gembira bahwa Allah mengampuni setiap dosa bagi siapa saja yang bertaubat dan kembali pada-Nya. Walaupun dosa tersebut amat banyak, meski bagai buih di lautan (yang tak mungkin terhitung).

Iri, dengki atau hasad –istilah yang hampir sama- berarti menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain. Hasad seperti inilah yang tercela. Adapun ingin agar semisal dengan orang lain, namun tidak menginginkan nikmat orang lain hilang, maka ini tidak mengapa. Hasad model kedua ini disebut oleh para ulama dengan
ghibthoh. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh hasad (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816)
والله أعلم بالصواب
Sumber:

http://rumaysho.com/belajar-islam/tafsir-al-quran/4210-allah-mengampuni-setiap-dosa.html

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hanya-boleh-hasad-pada-dua-orang.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Munculnya Syi’ah

186. BBG Al Ilmu – 253

Pertanyaan:
Mau tanya ustadz; Apakah munculnya Syiah sudah disabdakan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam ?

Jawaban:
Ust. Ali Basuki Lc

Baarakallahu fiikum, semoga Allah senantiasa merahmati dan mengampuni dosa2 kita. Syiah mulai muncul setelah wafatnya Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘anhu, akibat provokasi abdullah bin saba’. Dan setelah itu orang yahudi ini menyebarkan racun pengkultusan terhadap Ali bin Thalib Radhiallahu ‘anhu, dan kemudian berkembanglah syi’ah dalam beberapa sekte. Dan ini disekitar tahun 34 H.

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Masbuq Mendapatkan Raka’at Dalam Shalat Jahriyah Maupun Sirriyah

185. BBG Al Ilmu – 271

Pertanyaan:
‘Afwan, ana mau tanya, bagi masbuq, apakah ada perbedaan antara dia ikut imam saat ruku’ di shalat jahriyah dan shalat sirriyah ? Yang ana dengar jika masbuq ikut imam pas saat imam ruku’ di shalat jahriyah dihitung 1 raka’at, sedangkan di shalat sirriyah, tidak dapat raka’at dan masbuq harus tambah 1 raka’at ? Mana yg benar ? Jazakallah khayran

Jawaban:
Ust. Rochmad Supriyadi Lc

Tidak ada perbedaan antara jahriyah dan sirriyah. Siapa saja yang menjumpai rukuk bersama imam bagi nya 1raka’at.

والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

Tj Mengeraskan Suara Dzikir

184. BBG Al Ilmu – 271

Pertanyaan:
Apa derajat hadits berikut:
“Sesungguhnya mengeraskan suara dzikir ketika orang-orang usai melaksanakan shalat wajib merupakan kebiasaan yang berlaku pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ibnu Abbas menambahkan, ‘Aku mengetahui mereka
selesai shalat dengan itu, apabila aku mendengarnya.”

Jawaban:
Shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Hadits ini dijadiikan dalil bagi sebagian kaum muslimin menganjurkan  mengeraskan suara dzikir setelah shalat.

Namun jumhur ‘ulama menyelisihi pendapat anjuran tersebut berdasarkan beberapa dalil shahih, salah satunya:

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghoib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2830 dan Muslim no. 2704).

Hal ini menunjukkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah suka dengan suara keras saat dzikir dan do’a.

Ath Thobari rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan dimakruhkannya mengeraskan suara pada do’a dan dzikir. Demikianlah yang dikatakan para salaf yaitu para sahabat dan tabi’in.” (Fathul Bari, 6: 135)

Adapun anjuran mengeraskan suara pada dzikir sesudah shalat, tidaklah tepat. Karena yang dilakukan oleh Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidaklah membiasakan hal itu.  Beliau boleh jadi pernah melakukannya, namun hanya dalam rangka ta’lim atau pengajaran, bukan kebiasaan yang terus menerus.

Demikianlah pendapat Imam Syafi’i (dalam Al Umm 1:151) dan pendapat mayoritas ulama lainnya.
والله أعلم بالصواب

Sumber:
http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3608-mengeraskan-suara-pada-dzikir-sesudah-shalat.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«

̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Sepuluh Nasihat Ibnul Qayyim

Ust Kholid Syamhudi Lc
Sepuluh nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah untuk menggapai kesabaran diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat:
Pertama,
Hendaknya hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendah perbuatan maksiat. Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah سبحانه وتعالى mengharamkannya serta melarangnya dalam rangka menjaga hamba dari terjerumus dalam perkara-perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.
Kedua,
Merasa malu kepada Allah… Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah سبحانه وتعالى yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah سبحانه وتعالى di matanya. Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya dilihat dan didengar Alloh سبحانه وتعالى tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya… Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat Anda bisa melihat seolah-olah Anda sedang berada di hadapan Allah…
Ketiga,
Senantiasa menjaga nikmat Alloh سبحانه وتعالى yang dilimpahkan kepadamu dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.
Apabila engkau berlimpah nikmat
maka jagalah, karena maksiat
akan membuat nikmat hilang dan lenyap
Barang siapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.
Keempat,
Merasa takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan khawatir tertimpa hukuman-Nya
Kelima,
Mencintai Allah… karena seorang kekasih tentu akan menaati sosok yang dikasihinya… Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta.
Keenam,
Menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya… Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat…
Ketujuh,
Memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri… karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati…
Kedelapan,
Memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia. Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di sana, dia akan segera berpindah darinya. Sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.
Kesembilan,
Hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian. Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan di antara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah… waktu senggang dan lapang yang dia miliki… karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan… sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.
Kesepuluh,
Sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab di atas… yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat di dalam hati… Maka kesabaran hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh maka kesabarannya pun akan kuat… dan apabila imannya melemah maka sabarnya pun melemah… Dan barang siapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali keimanan yang kokoh maka sungguh dia telah keliru.
Semoga jadi renungan….

Mereka Menutup Telinga

Ust. Badrusalam LC

Tafsir Al Baqoroh: 18.

أَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِم مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ
“Atau seperti hujan dari langit yang ada padanya kegelapan, guruh dan kilat. Mereka meletakkan jari di telinga-telinga mereka karena mendengar petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang kafir.”

(Ka shoyyibimminassamaa)
Ibnu Abbas berkata, “Shoyyib adalah hujan,

(Fiihi zulumaat)
Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas berkata, “Maknanya ibtilaa (ujian).”
Sa’I’d bin Jubair dari ibnu Abbas, “Mereka dalam kegelapan berupa kekafiran dan ketakutan dari dibunuh, selain mereka sendiri berselisih.”

(Waro’duwabarq)
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya kepada ibnu Abbas, bahwa ada seorang Yahudi datang kepada Rasulullah dan bertanya dentang Ro’du (halilintar)?” Beliau bersabda, “Ia adalah malaikat yang ditugaskan mengatur awan dan di tangannya ada percikan api. Ia memerintahkan dan mengatur awan dengannya sesuai dengan perintah Allah.”
Yahudi itu berkata, “Lalu apakah suara halilintar itu suaranya?” Beliau bersabda, “Kamu benar.”

(Wallahu muhiithumbilkafirin)
Ibnu Abbas berkata, “Allah menurunkan adzab kepada mereka, karena Dia meliputi orang-orang kafir.”
Ibnu Katsir berkata, “Artinya Rasa takut mereka itu tidak bermanfaat karena Allah meliputi mereka dengan kekuasanNya, dan mereka berada di bawah kehendakNya.”