Category Archives: BBG Kajian

INFAQ Di Pagi Hari…

Sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits doa malaikat di atas dalam Syarh Shahih Muslim,

“Para ulama menyatakan bahwa infak yang dimaksud adalah infak dalam ketaatan, infak untuk menunjukkan akhlak yang mulia, infak pada keluarga, infak pada orang-orang yang lemah, serta lainnya. Selama infak tersebut tidaklah berlebihan, alias boros. Adapun enggan berinfak yaitu enggan mengeluarkan untuk nafkah dan semisal itu.

Hadits yang kita kaji menunjukkan keutamaan orang yang memperhatikan nafkah pada keluarga dengan baik, juga pujian bagi orang yang rajin sedekah. Sedangkan yang enggan memberikan nafkah kepada keluarga mendapatkan doa jelek dari malaikat, yaitu didoakan kebangkrutan atau kehancuran. Semoga kita bisa memperhatikan kewajiban dalam hal menunaikan nafkah dan terus gemar sedekah.

Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Kaya Udah Punya Kaplingan Di Surga Saja..!

Kata inilah yang seringkali dikatakan kepada orang yang menyampaikan ancaman neraka dari Allah ta’ala, baik melalui kitab-Nya Al Qur’an, ataupun melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Padahal ancaman-ancaman tersebut banyak sekali kita dapati dalam Al Qur’an dan Hadits.. apakah mereka ingin ayat-ayat dan hadits-hadits itu disembunyikan dan tidak disampaikan kepada manusia, sebagaimana telah dilakukan oleh kaum ahli kitab (yahudi dan nasrani) dalam ajaran mereka ?!

Saudaraku seiman.. jika engkau TIDAK mau diancam dengan neraka Allah, maka berhentilah melakukan perbuatan yang dapat menjerumuskanmu ke dalamnya, bukan malah menuduh sinis orang yang telah berbaik hati kepadamu dengan usahanya memperingatkanmu dari bahaya tindakan burukmu !

Harus kita pahami juga bahwa nash-nash tentang “ancaman” itu sama seperti nash-nash tentang “janji pahala”.. itu bukan hasil akhir yang pasti.

Lebih jelasnya, bahwa ancaman tersebut belum tentu akan benar-benar dialami oleh pelakunya di kemudian hari, karena bisa jadi akhirnya dia bertaubat, atau amal baiknya lebih banyak, atau Allah mengampuninya.. sehingga bisa saja ancaman itu tidak terjadi padanya.

Begitu pula sebaliknya, jika ada nash tentang janji-janji pahala dari Allah, misalnya tentang amalan ‘menanggung kehidupan anak yatim’ akan memasukkan seseorang ke dalam Surga, bahkan dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.. belum tentu hal ini akan benar-benar terjadi pada semua pelakunya, karena bisa jadi amal buruk dia lebih banyak, bisa jadi Allah tidak menerima amal itu karena tidak ikhlas atau dari harta haram, bisa jadi hidupnya ditutup dengan su’ul khatimah, dan sebab-sebab lainnya yang menjadikannya tidak berhak mendapatkan janji tersebut.

Kita harus memahami hal ini dengan baik, sehingga kita bisa mendudukkan nash-nash tentang ancaman dan janji pahala dengan pas dan proporsional.. Kita juga harus memahami maksud Allah dari ancaman-ancaman dan janji-janji itu adalah agar kita takut melakukan kemaksiatan, dan semangat dalam menjalankan ketaatan, sehingga harusnya kita mengondisikan diri kita sebagaimana Allah kehendaki.

Jika kita melihat nash-nash tentang ancaman neraka ini, ternyata mengarah kepada semua bab maksiat, mulai dari yang paling parah; kekafiran dan kesyirikan, lalu kebid’ahan, lalu dosa besar, sampai dosa-dosa yang di bawahnya… Anda bisa perhatikan contoh² berikut ini:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ خَالِدِينَ فِيهَا

“Orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, merekalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. [QS. At-Taghabun: 10].

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

“Sungguh orang yang berbuat syirik kepada Allah, maka Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya neraka”. [QS. Al-Maidah:72].

وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّار

“Seburuk-buruk perkara (dalam agama ini) adalah perkara-perkara yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan (dalam agama ini) adalah bid’ah, padahal setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu di neraka”. [HR. An-Nasa’i, dishahihkan oleh Albani].

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

“Sungguh orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim, sesungguhnya mereka makan api dalam perut mereka, dan mereka akan masuk neraka”. [QS. An-Nisa: 10].

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

“Barangsiapa bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh baginya neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya selamanya”. [QS. Al-Jin: 23].

Lihatlah, nash-nash diatas, semuanya memberikan ancaman neraka, dan bukan berarti orang yang pernah melakukan hal itu, pasti akhirnya akan masuk neraka.. karena bisa jadi dia bertaubat setelah itu dan Allah mengampuninya, atau karena sebab-sebab lainnya.

Masih sangat banyak sekali nash-nash lainnya yang senada dengan nash-nash di atas, kita tidak bisa menyebutkan semuanya, karena terbatasnya waktu dan tempat.. tentu semuanya harus kita sampaikan kepada manusia, sebagaimana dulu telah disampaikan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, para sahabat beliau -rodhiallohu anhum-, dan para ulama setelahnya –rohimahumulloh-.

Pantaskah kita mengatakan kepada mereka, “Kaya udah punya kaplingan di surga saja..!”

Mari berbenah diri, semoga Allah merahmati kita semua.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

…Ya Allah, Sungguh Aku Mencintai-Mu, Walaupun Aku Bermaksiat Kepada-Mu…

Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ…

“…Dan orang-orang yang beriman amat sangat besar rasa cintanya kepada Allah…” (QS. Al-Baqarah [2]: 165)

Apakah engkau yang dimaksud oleh ayat ini…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan di waktu malam dan siang engkau selalu menantang-Nya…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan berulang-ulang kali engkau mengundang kemurkaan-Nya dan mendurhakai-Nya…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan jalan menuju masjid pun engkau tidak mengetahuinya…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan engkau mencintai musuh-musuh-Nya dan membanggakan mereka…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan engkau berlaku sombong terhadap wali-Nya, bahkan menghinakan dan melecehkan mereka…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan engkau menyelisihi Rasulullah صلي الله عليه وسلم secara zhahir dan bathin…?

Padahal Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu” (QS. Ali Imran [3]: 31)

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan surat-surat cinta-Nya tidak pernah engkau baca…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan perintah dan larangan-Nya selalu engkau abaikan…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan kedatangan-Nya di sepertiga malam akhir tidak pernah engkau sambut…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan dosa dan maksiat secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi masih terus engkau lakukan, bahkan berbangga diri saat melakukannya…?

Dimanakah bukti cintamu kepada Allah, wahai diri yang mengaku cinta kepada-Nya…?

Dimanakah bukti ittiba’mu kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم, wahai diri yang mengaku cinta…?

Engkau membangkang kepada-Nya…
Lalu mengaku bahwa engkau cinta…
Inilah pengakuan yang nyata dustanya…

Jika benar engkau mencintai-Nya…
Tentulah engkau mentaati-Nya…
Karena seseorang akan taat kepada kekasihnya…

Berdoalah dengan merintih kepada-Nya…

اللهم اغفرلي مغفرة واقية في الدنيا و الآخرة

Ya Allah, ampuni dosaku dengan ampunan yang dapat melindungiku di dunia dan akhirat…

تَعَاظَمَنِي ذَنْبِي فَلَمَّا قَرَنْتُهُ بِعَفْوِكَ رَبِّي كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا

Dosaku terasa sangat besar bagi diriku, akan tetapi tatkala aku bandingkan dengan ampunan-Mu wahai Rabbku, ternyata ampunan-Mu lebih besar…

اللهم ارزقني طاعتك أبدا ما أبقيتني و ارحمني بترك المعاصى أبدا ما أبقيتني

Ya Allah, karuniakanlah kepadaku rezki untuk selalu dapat mentaati-Mu selama engkau hidupkan aku, dan rahmatilah aku sehingga selalu dapat meninggalkan berbagai maksiat selama Engkau hidupkan aku…

اللهم اني احبك و ان كنت اعصيك

Ya Allah, sungguh aku mencintai-Mu, walaupun aku bermaksiat kepada-Mu…

اللهم اجعل حبك احب الاشياء الي و خشيتك اخوف الاشياء عندي

Ya Allah, jadikanlah cintaku kepada-Mu sesuatu yang paling aku cintai, dan jadikanlah rasa takutku kepada-Mu adalah sesuatu yang paling aku takuti…

و اقطع عني حاجات الدنيا بالشوق الى لقائك

Serta putuskanlah keinginanku atas dunia dengan perasaan rindu untuk berjumpa dengan-Mu…

و إذا اقررت أعين أهل الدنيا من دنياهم فأقر عيني من عبادتك

Dan jika penduduk dunia mata mereka lebih sejuk dengan dunia, maka sejukkanlah pandanganku dengan ibadah kepada-Mu…

Aamiin…

Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Kontradiktif.. (pake banget)

– Banyak orang yang hidup dengan gaya hidup barat.. tapi ingin mati seperti matinya para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

– Banyak orang yang hidupnya tidak ingin dengan Islam, meski hanya penampilan lahirnya.. tapi kalau mati, ingin dengan Islam lahir batin.

– Banyak orang melihat bahwa mati di jalan Allah adalah sesuatu yang hebat dan mulia.. Tapi mengapa jika ada orang yang hidup di jalan Allah, dilihat ekstrim, sok suci, dan sok-sok yang lainnya.

Mari berbenah diri.. semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semuanya, amin.

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Sudahkah Selalu Menghadiri Majelis Ilmu..?

Nabi صلى الله عليه وسلم‎ ‎bersabda :

(1). “Menuntut ilmu itu WAJIB atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, hadits dari Anas bin Malik, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 3913)

(2). “Barangsiapa yang MENEMPUH perjalanan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan “ketenangan” akan turun atas mereka, “rahmat” meliputi mereka, para Malaikat “mengelilingi” mereka dan Allah “menyanjung” mereka di hadapan Malaikat yang berada di sisi-Nya” (HR. Muslim no. 2699, Abu Dawud no. 3643, at-Tirmidzi no. 2646, Ibnu Majah no. 225 dan Ahmad II/252, hadits dari Abu Hurairah).

(3). “Barangsiapa pergi ke masjid, dia tidak menginginkan kecuali mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala seperti orang yang melakukan HAJI, di mana hajinya sempurna” (HR. Ath-Thabrani, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 86)

(4). “Apabila kalian berjalan melewati taman-taman Surga, maka perbanyaklah berdzikir”. Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud taman-taman Surga itu ?” Beliau menjawab : “Yaitu halaqah-halaqah dzikir (majelis ilmu)” (HR. At-Tirmidzi no. 3510, Ahmad III/150 dan lainnya, hadits dari Anas bin Malik, lihat Silsilah ash-Shahiihah no. 2562)

Majelis dzikir yang dimaksud adalah “majelis ilmu”, majelis yang di dalamnya diajarkan tentang tauhid, ‘aqidah yang benar menurut pemahaman salafush shalih, ibadah yang sesuai sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم‎, akhlak yang mulia, muamalah dan lainnya.

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Sungguh ada orang yang keluar dari rumahnya dengan membawa dosa seperti Gunung Tihama. Maka ketika dia mendengar kajian ilmu, ia pun menjadi takut, kembali baik dan bertaubat. Lalu orang itu pun kembali ke rumahnya tanpa dosa sedikitpun. Oleh karena itu, janganlah kalian menjauhi majelisnya para ulama !” (Miftaah Daaris Sa’aadah I/122 oleh Imam Ibnu Qayyim)

Jangan sampai dengan banyaknya sarana dakwah baik lewat radio, tv, wa, bbm, fb, telegram dll akan menjadikan alasan bagimu untuk “meninggalkan” majelis ilmu, sehingga jarang hadir, atau bahkan tidak hadir sama sekali karena merasa sudah berilmu, atau merasa sudah “selevel” dengan ustadznya…

Merupakan nikmat yang sangat besar jika memiliki kemampuan untuk menuntut ilmu, mengamalkan ilmu dan menyampaikan ilmu…

Berkahnya ilmu sesuai dengan berkahnya niat…
Semakin ikhlas niat, maka semakin berkah ilmu…
Semakin tidak ikhlas, semakin tidak berkah ilmu…

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah ditanya :

BAGAIMANA SEMANGATMU DALAM MENUNTUT ILMU ?” Beliau menjawab : “Aku mendengar kalimat yang sebelumnya tidak pernah kudengar, maka anggota tubuhku yang lain ingin memiliki pandangan untuk bisa menikmati ilmu tersebut sebagaimana yang dirasakan telinga”. Lalu ia ditanya lagi : “BAGAIMANA KERAKUSANMU TERHADAP ILMU ?” Beliau menjawab : “Seperti rakusnya orang penimbun harta, yang mencari kepuasan dengan hartanya”. Beliau ditanya lagi : “BAGAIMANA ENGKAU MENCARINYA ?“. Beliau menjawab : “Sebagaimana seorang ibu mencari anaknya yang hilang, yang ia tidak memiliki anak lain selain dia” (Tawaalit Ta’sis min Manaqib Muhammad bin Idris hal 106 oleh Ibnu Hajar al-Asqolani).

Lalu bagaimana dengan para penuntut ilmu yang hadir dan belajar di majelis ilmu hanya seminggu sekali atau dua minggu sekali, atau mungkin ia futur dengan tidak pernah lagi datang ke majelis ilmu untuk belajar, tetapi merasa sudah berilmu dan bahkan merasa yakin akan masuk Surga…?

اَللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا

“Ya Allah, berikanlah manfaat pada ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami dan ajarkanlah hal-hal yang bermanfaat untuk kami dan tambahkanlah kami ilmu”

Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Tahun Ajaran Baru…

Berbicara tahun ajaran baru, seringkali kita dibayang-bayangi mimpi buruk yang bernama peloncoan, penindasan terhadap siswa baru atau adik kelas,
mulai dari bully, ancaman dan tekanan, lebam, luka memar, trauma secara psikis sampai berujung di liang lahad.

Saudaraku,
Nabi kita memastikan:
“Bukan dari umat (ajaran) kami orang yang tidak menyayangi junior-nya.”
(HR. Tirmidzi)

Status anda sebagai umat Nabi yang sejati sedang diuji dengan kehadiran junior dan adik kelas anda,
Bisakah anda menyayangi mereka?
Menuntun dan mengarahkan mereka?
Menjadi senior yang melindungi dan membantu mereka beradaptasi?

Seorang muslim sejati tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membuktikan statusnya sebagai pengikut Sang Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Saudaraku, tidakkah kita takut dengan doa korban bully dan penindasan kita?

Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan).”
(HR. Muslim)

Jangan jadi katak dalam tempurung!!

Mungkin kita merasa senior dihadapan adik kelas sehingga kita semena-mena dengan mereka, tapi bukanlah di kehidupan ini jutaan pihak jauh lebih senior dari kita.

Kaidah menyatakan:
“Balasan sesuai jenis perbuatan.”

Jika kita menindas junior kita, maka kita akan ditindas oleh orang yang lebih senior dari kita.
Jika kita bully dan ngerjain junior, maka kita akan di bully dan dikerjain oleh orang lain.

Balasan menindas ditindas.
Balasan membully dibully.

Sudahkan kita seperti mereka ?

Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
“Maukah aku beritahu orang-orang yang diharamkan masuk neraka dan neraka diharamkan menyentuh mereka ? Setiap orang yang tenang, lembut, dekat dengan orang, dan memudahkan urusan orang”.
(HR. Tirmidzi)

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

Empat Penyebab Kejelekan Akhlak…

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

ومنشأ جميع الأخلاق السافلة وبناؤها على أربعة أركان : الجهل ، والظلم ، والشهوة ، والغضب

Pondasi SELURUH AKHLAK YANG RENDAH dan bagunannya berdiri di atas empat rukun:

1) Kebodohan (terhadap ilmu agama),
2) Kezaliman,
3) Hawa Nafsu,
4) Kemarahan.

[Madaarijus Saalikin, 2/308]

Sofyan Chalid Ruray, حفظه الله تعالى

Mengapa..?

Mengapa orang yang berilmu dengan sederet titel agamanya, bahkan lulusan luar negeri, tapi memiliki pemahaman yang menyimpang atau tidak terlihat sebagai orang yang takut kepada Allah Ta’ala ? 

Allah Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya adalah ‘Ulama (yaitu orang-orang yang berilmu)” (QS. Fathir [35]: 28)

Kenapa realitanya terkadang tidak seperti itu ?

Penyebabnya antara lain :

(1). bisa jadi mereka tidak ikhlas dalam menuntut ilmu, mengamalkan dan mengajarkan ilmunya.

(2). bisa jadi mereka berilmu, tapi mereka tidak mau mengamalkan ilmunya tersebut dengan benar.

(3). bisa jadi mereka berilmu, tapi mereka salah dalam memahami ilmu, yaitu tidak kembali kepada sunnah dan manhaj salaf (cara beragama yang dipahami dan diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dst).

Ilmu tergantung amal, amal tergantung keikhlasan dan keikhlasan mewariskan pemahaman tentang Allah ‘Azza wa Jalla…

Jika ikhlas dan mengikuti cara beragama yang benar dengan kembali kepada sunnah dan manhaj salaf, maka insya Allah orang inilah yang akan memiliki rasa takut yang benar kepada Allah ‘Azza wa Jalla…

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

كل من آثر الدُّنْيَا من أهل الْعلم واستحبها فَلَا بُد أَن يَقُول على الله غير الْحق فِي فتواه وَحكمه فِي خَبره وإلزامه لِأَن أَحْكَام الرب سُبْحَانَهُ كثيرا مَا تَأتي على خلاف أغراض النَّاس

“Setiap orang dari kalangan ULAMA yang lebih mendahulukan DUNIA dan mencintainya, pasti dia akan berkata “Tidak Benar Atas Nama Allah” di dalam fatwa dan hukumnya, begitu pula dalam kabar dan keputusannya. Karena hukum-hukum Allah subhanahu seringkali tidak sejalan dengan keinginan-keinginan manusia” (Al-Fawaid hal 100)

Syaikh DR. Shalih al-Fauzan hafizhahullah ditanya :

: هل يكفي لمن أراد تعليم الناس أمور دينهم , هل يكفي أن يحمل شهادة جامعية , أم لا بد له من تزكيات العلماء ؟

“Apakah seseorang yang ingin mengajarkan perkara-perkara agama kepada manusia cukup baginya dengan titel universitas yang dia sandang, ataukah harus ada tazkiyah (rekomendasi) dari para ulama ?”

لا بد من العلم ..ما كل من حمل شهادة يصير عالم ،،لا بد من العلم والفقه في دين الله ..والشهادة ما تدل على العلم !!قد يحملها وهو أجهل الناس !وقد لا يكون عنده شهادة وهو من أعلم الناس ..هل الشيخ ابن باز معه شهادة ؟؟!! هل الشيخ ابن إبراهيم ؟؟!! هل الشيخ ابن حميد ؟؟!! هل هم معهم شهادات ؟؟!! ومع هذا هم أئمة هذا الوقت فالكلام على وجود العلم في الإنسان والفقه في الإنسان ،،،لا على شهاداته ولا على تزكياته ما يعتبر هذا !! …والواقع يكشف الشخص :إذا جاءت قضية أو حدثت ملمة تبين العالم من المتعالم والجاهل . نعم

“Harus memiliki ilmu, tidak semua orang yang menyandang titel menjadi ulama. Harus memiliki ilmu dan kefakihan dalam agama Allah. Semata-mata titel tidaklah menunjukkan ilmu, karena terkadang seseorang memiliki titel padahal dia termasuk manusia yang paling bodoh.

Sebaliknya terkadang seseorang tidak memiliki titel namun dia termasuk manusia yang paling berilmu.
Apakah Syaikh Ibnu Baz memiliki titel ? Demikian juga Syaikh Ibnu Ibrahim dan Syaikh Ibnu Humaid ? Apakah mereka semuanya memiliki titel ? (tidak) Walaupun demikian mereka menjadi para imam di masa ini.

Maka yang terpenting adalah membicarakan apakah ilmu dan kefakihan itu ada pada seseorang. Bukan tentang titel atau tazkiyah, ini semua tidak teranggap.

Dan fakta nanti yang akan menyingkap keadaan seseorang. Jika ada sebuah masalah, atau muncul sebuah bencana, ketika itulah akan nampak siapa yang benar-benar seorang ulama dan mana orang yang sok berilmu dan jahil” (http://bit.ly/2ulQpHf)

Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

1393. Kapan Membaca DZIKIR Dahsyat Ini..?

Pertanyaan:

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh Ustadz, baarakallahu fiikum Ustadz. Maaf Ustadz, mau menanyakan sbb:

1. Apa derajat hadits berikut dan apakah boleh dirutinkan ?
2. Dibacanya kapan saja Ustadz ? Diulang-ulang atau sekali saja setiap sore dan pagi ? Syukron Ustadz

Suatu saat Nabi -shollallohu alaihi wasallam- melihat Abu Umamah -rodhiallohu anhu- menggerakkan bibirnya, maka beliau bertanya: “Apa yang sedang kau baca wahai Abu Umamah”.

Dia menjawab: “Aku sedang berdzikir kepada Allah”.

Beliau mengatakan: “Maukah aku tunjukkan kepadamu dzikir yang pahalanya LEBIH BANYAK dari dzikirmu selama SEHARI SEMALAM ?

Kemudian beliau mengajarinya dzikir di bawah ini, dan beliau berpesan ajarkanlah dzikir ini kepada orang-orang setelahmu.

[HR Ath-Thobroni dalam Kitab Al Mu’jam Al Kabir no 7930, Hadits dishohihkan oleh Syeikh Albani dalam Shohihul Jami’: 2615].

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ مَا خَلَقَ،

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ،

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ،

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ كُلِّ شَيْءٍ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ كُلِّ شَيْءٍ.

سُبْحَان الِله عَدَدَ مَا خَلَقَ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ مَا خَلَقَ،

وَسُبْحَان الِله عَدَدَ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ،

وَسُبْحَان الِله عَدَدَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ،

وَسُبْحَان الِله عَدَدَ كُلِّ شَيْءٍ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ كُلِّ شَيْءٍ.

Jawaban:
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

1. Shahiih, in-syaa Allah

2. Terserah, karena gak ada ketentuannya.

Wallahu a’lam

da050716-23:38

DZIKIR Yang Sangat Dahsyat Pahalanya…

Suatu saat Nabi -shollallohu alaihi wasallam- melihat Abu Umamah -rodhiallohu ‘5anhu- menggerakkan bibirnya, maka beliau bertanya: “Apa yang sedang kau baca wahai Abu Umamah”.
Dia menjawab: “Aku sedang berdzikir kepada Allah”.

Beliau mengatakan: “Maukah aku tunjukkan kepadamu dzikir yang pahalanya LEBIH BANYAK dari dzikirmu selama SEHARI SEMALAM ?

Kemudian beliau mengajarinya (…dzikir di bawah ini…), dan beliau berpesan ajarkanlah dzikir ini kepada orang-orang setelahmu.

[HR Ath-Thobroni dalam Kitab Al Mu’jam Al Kabir no 7930, Hadits dishohihkan oleh Syeikh Albani dalam Shohihul Jami’: 2615].

Mari kita berdzikir dengannya, dan mari kita ajarkan kepada orang lain.

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ مَا خَلَقَ،
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ،
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ،
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ كُلِّ شَيْءٍ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ كُلِّ شَيْءٍ.

سُبْحَان الِله عَدَدَ مَا خَلَقَ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ مَا خَلَقَ،
وَسُبْحَان الِله عَدَدَ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ،
وَسُبْحَان الِله عَدَدَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ،
وَسُبْحَان الِله عَدَدَ كُلِّ شَيْءٍ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ كُلِّ شَيْءٍ.

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Artikel terkait:

1393. Kapan Membaca DZIKIR Dahsyat Ini..?

NB:
Latin:
Alhamdulillahi ‘Adada Maa Kholaqo
Walhamdulillahi Mil-a Maa Kholaqo
Walhamdulillahi ‘Adada Maa Fis-samaa-waati Wa Maa Fil-Ardhi
Walhamdulillahi ‘Adada Maa Ahsho Kitaabuhu
Walhamdulillahi Mil-a Maa Ahsho Kitaabuhu
Walhamdulillahi ‘Adada Kulli Syai-in
Walhamdulillahi Mil-a Kulli Syai-in

Subhanallahi ‘Adada Maa Kholaqo
Wa Subhanallahi Mil-a Maa Kholaqo
Wa Subhanallahi ‘Adada Maa Fis-samaa-waati Wa Maa Fil-Ardhi
Wa Subhanallahi ‘Adada Maa Ahsho Kitaabuhu
Wa Subhanallahi Mil-a Maa Ahsho Kitaabuhu
Wa Subhanallahi ‘Adada Kulli Syai-in
Wa Subhanallahi Mil-a Kulli Syai-in

Artinya :
ALHAMDULILLAH sebanyak semua ciptaanNya,
dan ALHAMDULILLAH sepenuh semua ciptaanNya,
dan ALHAMDULILLAH sebanyak seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi
dan ALHAMDULILLAH sebanyak semua yang dicatat kitabNya,
dan ALHAMDULILLAH sepenuh apa yang dicatat kitabNya,
dan ALHAMDULILLAH sebanyak segala sesuatu,
dan ALHAMDULILLAH sepenuh segala sesuatu.

SUBHANALLAH sebanyak semua ciptaanNya,
dan SUBHANALLAH sepenuh semua ciptaanNya,
dan SUBHANALLAH sebanyak seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi
dan SUBHANALLAH sebanyak semua yang dicatat kitabNya,
dan SUBHANALLAH sepenuh apa yang dicatat kitabNya,
dan SUBHANALLAH sebanyak segala sesuatu,
dan SUBHANALLAH sepenuh segala sesuatu.