Category Archives: BBG Kajian

Dampak Maksiat Yang Engkau Lakukan…

Jika dampak maksiat yang kalau lakukan hanya menimpa dirimu maka perkaranya lebih ringan, namun masalahnya dampaknya bisa saja mengenai orang-orang dekat yang kau cintai, bisa berdampak pada keluargamu.

Maka jika engkau tidak perduli dengan dirimu terkena dampak maksiat, maka sayangilah orang-orang dekatmu, jangan sampai dampak maksiatmu mengenai mereka.

Dan pada hakikatnya keburukan maksiatmu yang mengenai keluargamu adalah musibah yang sedang menimpa dirimu.

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Apakah Yang Dilakukan Seorang Wanita Jika Suaminya Wafat..?

(1). ia memasuki masa iddah 4 bulan 10 hari (Qs.2:234) dan bagi yang sedang hamil iddahnya sampai melahirkan (Qs.65:4)

(2). ia menetap di rumah, tidak ditempat orang tua atau lainnya, kecuali jika ada keperluan atau kebutuhan seperti ke rumah sakit, ke pasar membeli makanan dll yang mana tidak ada seorang pun yang bisa membantunya untuk mengerjakan hal itu atau boleh keluar rumah jika ia takut atas keselamatan dirinya atau khawatir rumahnya runtuh dll.

(3). tidak boleh safar seperti haji dll.

(4). tidak mengenakan pakaian-pakaian yang indah atau dengan warna-warna yang mencolok.

(5). tidak memakai celak atau pacar (cat kuku) atau sesuatu untuk mempercantik wajah dan tubuh.

(6). tidak boleh memakai wangi-wangian atau parfum.

(7). tidak memakai segala macam perhiasan di kalung, gelang, cincin dll.

(8). tidak dilamar secara terang-terangan, kecuali sekedar sindiran saja (Qs.2:235)

ANGGAPAN YANG SALAH SELAMA MASA IDDAH ◾

(1). seorang istri itu tidak boleh berbicara dengan laki-laki yang bukan mahram secara langsung atau via telpon meskipun ia ada kebutuhan.

(2). pakaiannya harus dengan warna hitam.

(3). mandi hanya seminggu sekali.

(4). tidak boleh jalan di rumah tanpa menggunakan alas kaki.

(5). tidak boleh berjalan di bawah cahaya rembulan.

(6). tidak boleh menuntut ilmu ke masjid, kampus dll.

(7). harus keluar dari 1 pintu dan masuk dari pintu yang lain ketika masa iddah selesai.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Dengan NIAT, Pahala Anda Bisa Seperti Orang Kaya Raya Yang Beramal Dengan Hartanya…

Bagi Anda yang tidak mampu beramal dengan harta, Islam yang agung dan penuh rahmat ini masih memberikan niat yang dengannya Anda bisa menyamai orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.

Renungkanlah potongan sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- berikut ini:

“Dunia ini, hanya untuk empat orang… (yang kedua:) seorang hamba yang ِAllah beri rezeki ilmu (agama), Dia tidak memberinya harta, namun orang tersebut baik niatnya, ia mengatakan: ‘seandainya aku memiliki harta, tentu aku akan beramal seperti amalnya si fulan’, maka dia (diberi pahala) dengan sebab niatnya, dan pahala keduanya sama.”

Dari sini, kita bisa mengambil 3 pelajaran berharga:

1. Jangan terkecoh dengan harta… dan jangan bersedih karena kurang harta.. karena sebenarnya tanpa harta pun Anda juga bisa mendapatkan pahala seperti pahalanya orang kaya yang menginfakkan hartanya di jalan Allah… Inilah bukti Mahapemurah-nya Allah kepada para hamba-Nya.

2. Tidak perlu iri dengan orang kaya, karena belum tentu kita akan kuat menghadapi fitnah harta, bila ia benar-benar ada di tangan kita.. padahal di sisi lain, tanpa harta pun kita bisa mengimbangi pahala orang kaya itu dari hartanya.

3. Niat adalah sumber pahala yang sangat agung, mudah, dan tanpa modal untuk mendapatkannya… sudah seharusnya kita benar-benar memperhatikannya… sayangnya, kebanyakan orang malah melalaikannya.

Semoga Allah memberikan taufiqNya kepada kita dalam menata hati dan niat kita, amin.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

=====
Berikut adalah redaksi lengkap dari hadits yang disebutkan dalam tulisan diatas :

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagai berikut:

وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ: قَالَ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ:عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Dan aku akan menyampaikan satu perkataan kepada kamu, maka hafalkanlah! Beliau bersabda: Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang:

Hamba yang Allâh berikan rezeki kepadanya berupa harta (dari jalan yang halal) dan ilmu (agama Islam), kemudian dia bertakwa kepada Rabbnya pada rezeki itu (harta dan ilmu), dia berbuat baik kepada kerabatnya dengan rezekinya, dan dia mengetahui hak bagi Allâh padanya. Hamba ini berada pada kedudukan yang paling utama (di sisi Allâh).

Hamba yang Allâh berikan rezeki kepadanya berupa ilmu, namun Dia (Allâh) tidak memberikan rezeki berupa harta. Dia memiliki niat yang baik. Dia mengatakan, “Seandainya aku memiliki harta aku akan berbuat (baik) seperti perbuatan si Fulan (orang pertama yang melakukan kebaikan itu)”. Maka dia (dibalas) dengan niatnya (yang baik), pahala keduanya (orang pertama dan kedua) sama.

Hamba yang Allâh berikan rezeki kepadanya berupa harta, namun Dia (Allâh) tidak memberikan rezeki kepadanya berupa ilmu, kemudian dia berbuat sembarangan dengan hartanya dengan tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Rabbnya padanya, dia tidak berbuat baik kepada kerabatnya dengan hartanya, dan dia tidak mengetahui hak bagi Allâh padanya. Jadilah hamba ini berada pada kedudukan yang paling buruk (di sisi Allâh).

Hamba yang Allâh tidak memberikan rezeki kepadanya berupa harta dan ilmu, kemudian dia mengatakan: “Seandainya memiliki harta, aku akan berbuat seperti perbuatan si Fulan (dengan orang ketiga yang melakukan keburukan itu)”. Maka dia (dibalas) dengan niatnya, dosa keduanya sama.

HR. At-Tirmidzi, no. 2325, Ahmad 4/230-231, no. 17570; Ibnu Mâjah no. 4228, dan lainnya, dari Dahabat Abu Kabsyah al-Anmari Radhiyallahu anhu. Di shahîhkan Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam Shahîh Sunan Ibni Mâjah no. 3406

da150916-1337

Takut Mati, Tapi Tidak Pernah Takut Hidup…

Sobat!
Kemaren sebelum anda terlahir, pernahkah anda merasa kawatir atau takut akan kehidupan? Mengapa setelah hidup, kini anda takut akan kematian? Padahal keduanya pasti anda jalani tanpa ada kesempatan menunda atau menghindar.

Barang kali anda berkata: karena dosa dosa saya banyak, sedang amal ibadah saya sedikit.

Betul, tapi apakah itu semua bsa menunda kematian atau menghalanginya ? Tentu saja tidak, mati pasti menghampiri, jadi tidak ada pilihan bagi anda kecuali menghadapinya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi.ya.

Kalau anda sadar bahwa dosa andalah yang menyebabkan anda takut mati, maka lawanlah dosa anda, hapuslah dosa anda, niscaya kondisinya berubah.

Segera ucapkan istighfar, bulatkan penyesalan dan ketuklah pintu rahmat Allah Taala, niscaya Allah mengampuni semuanya.

( وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)

Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang orang yang beriman, niscaya kalian mendapatkan kesuksesan. [Surat An-Nur 31]

Astaghfirullah wa atuubu ilaihi.

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Siapakah Aku..?

Dahulu..
Imam Yahya bin Ma’in rohimahullah pernah Dihina oleh tetangganya..
Maka beliau menangis sambil berkata, “dia benar.. siapalah aku.. aku tidak ada apa apanya..”
(Siyar a’laaminubala 6/450)..

Itulah ketawadlu’an ulama..
Syaikhul Islam rohimahullah pernah dipuji dihadapannya..
Beliau berkata, “aku sendiri sampai sekarang masih berusaha memperbaiki keimananku..
Keislamanku belum bagus..”
(Madarijussalikin 1/524)..

Bandingkanlah dengan diri kita yang sedikit saja punya kelebihan..
Kita berkata, “inilah aku..”

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

 

da290514-0609

 

Iman Dan Amal…

Imam Az Zuhri rohimahullah berkata,
Kami dahulu berkata, “Islam itu harus dengan iqrar (penetapan), dan iman harus dengan amal. Iman adalah perkataan dan perbuatan yang beriringan, tidak bermanfaat salah satunya tanpa yang lainnya.

Semua orang pasti akan ditimbang perkataan dan amalnya; bila amalnya lebih berat dari perkataannya maka ia akan naik kepada Allah.. Dan jika perkataannya lebih berat dari amalnya, maka ia tidak naik kepada Allah.” (Majmu’ fatawa ibnu Taimiyah 7/295).

Kita terkadang lebih pandai berbicara..
Tapi tidak pandai beramal..
Padahal salaf terdahulu..
Lebih memperhatikan amal dari berkata..

Allahummaghfir lanaa dzunuubanaa..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

 

da120913-2255

Tentang Tahun Hijriyah…

1. Umar bin Khattab rodhiallohu menentukan awal tahun dengan waktu HIJRAH-nya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, bukan dengan KELAHIRAN Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana dilakukan kaum Ahli Kitab. Untuk memberikan pengajaran kepada manusia bahwa kita adalah umat yang mementingkan amal, bukan umat yang mementingkan waktu atau kejadian bersejarah.

2. Penentuan awal tahun hijriyah diambil dari firman Allah ta’ala (yang artinya): “Sungguh masjid yang dibangun atas dasar ketaqwaan dari HARI PERTAMANYA…” [At-Taubah:108]

Allah menyebutnya hari pertama, dan hari itu adalah hari pertama tahun hijriyah sebagaimana disebutkan oleh Assuhaili dari para sahabat.

3. Tahun hijriyah adalah roda waktu yang berjalan, sama halnya dengan hari, pekan, bulan, dan abad. Tidak diketahui ada satupun dalil tentang ucapan selamat untuknya.

Kalau hanya berupa do’a dan kata pengingat, maka itu sesuatu yang baik.

4. Tidak ada hukum syariat yang berkaitan KHUSUS dengan akhir tahun dan awal tahun hijriyah, baik berupa ucapan (bacaan), atau amalan, atau keutamaan.

Dan tahun hijriyah ini belumlah diatur, kecuali ketika kekhalifahan Umar bin Khattab.

5. Setiap orang mempunyai tahun khusus sendiri, itu dimulai dari hari lahirnya, dan itulah umur hakikinya.

Adapun tahun hijriyah yang dimulai dari bulan Muharram; itu untuk menjadikan tahun hijriyah teratur saja.

Dan engkau akan ditanya tentang tahun khususmu, bukan tahun zaman (yang umum bagi manusia).

Diterjemahkan oleh Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Nasehat Untuk Berbakti Kepada Kedua Orangtua (Birrul Walidain)…

Oleh: Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawas,  حفظه الله تعالى

Apabila Anda ingin berhasil di dunia dan di akhirat, maka kerjakanlah beberapa pesan berikut ini:

1. Berbicaralah kepada kedua orang tua Anda dengan sopan santun. Jangan pernah berkata: “Ah!” kepada keduanya, jangan pernah menghardik mereka serta berkatalah kepadanya dengan ucapan yang baik.

2. Taatilah selalu kedua orang tua Anda selama tidak dalam kemaksiatan. Sebab, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.

3. Berlemah-lembutlah kepada kedua orang tua Anda. Jangan pernah bermuka masam di hadapannya, dan jangan memelototi mereka dengan marah.

4. Jagalah nama baik, kehormatan, beserta harta benda kedua orang tua. Janganlah mengambil sesuatu pun tanpa seizin mereka.

5. Lakukanlah hal-hal yang bisa meringankan pekerjaan orang tua, walaupun ini tanpa diminta oleh mereka. Belikan keperluan mereka dan sungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada mereka.

6. Musyawarahkanlah segala urusanmu dengan orang tua, dan mintalah maaf kepada mereka jika terpaksa berselisih pendapat.

7. Bersegeralah memenuhi panggilan orang tua dengan senang dan berseri-seri.

8. Hormatilah sanak kerabat serta teman-teman orang tua, saat masih hidup maupun setelah meninggal.

9. Jangan pernah membantah orang tua, dan janganlah menyalahkan mereka. Jelaskanlah kebenaran dengan cara yang sopan lagi santun.

10. Janganlah pernah membantah perintah mereka dan jangan meninggikan suara Anda di hadapan mereka.
Dengarkanlah ucapan mereka, bersikap santun, dan hormatilah mereka.

11. Bangkitlah jika orang tua menemui Anda, salamilah dan sambutlah mereka dengan sebaik-baiknya.

12. Bantu ibu di rumah dan jangan terlambat membantu pekerjaan ayah.

13. Jangan meninggalkan orang tua jika mereka belum mengizinkan, meskipun untuk urusan penting. Jika terpaksa harus pergi, mintalah maaf kepada mereka dan jagalah hubungan dengan mereka.

14. Janganlah masuk ke kediaman atau kamar orang tua sebelum mendapatkan izin dari keduanya, terutama di waktu istirahat dan sewaktu tidur.

15. Jangan makan sebelum orang tua dan jangan mencela mereka jika berbuat sesuatu yang tidak Anda sukai.

16. Jangan mengutamakan istri dan anak-anak Anda atas orang tua. Selalu meminta restu serta ridha mereka sebelum mengerjakan sesuatu; karena ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan mereka.

17. Jangan duduk di tempat yang lebih tinggi dari tempat duduk orang tua dan janganlah bersikap congkak di hadapan mereka.

18. Jangan bersikap sombong kepada orang tua meski Anda seorang pejabat tinggi. Jangan ingkari kebaikan mereka dan jangan menyakiti perasaan mereka.

19. Jangan bersikap kikir/bakhil/pelit kepada orang tua. Jangan sampai mereka mengemis kepada Anda, sebab itu kehinaan bagi Anda. Dan Anda akan memperoleh balasan dari anak-anak Anda kelak. Sungguh apa saja yang Anda perbuat kini, maka Anda akan mendapat balasannya di dunia dan akhirat.

20. Seringlah mengunjungi orang tua dan berilah hadiah. Sampaikan rasa terima kasih Anda atas didikan serta jerih payah mereka. Lihat dan ambillah pelajaran dari anak-anak Anda, yaitu beratnya mendidik mereka.

21. Orang yang paling berhak mendapat penghormatan dari Anda adalah ibu, baru selanjutnya adalah ayah. Ketahuilah, Surga berada di bawah telapak kaki ibu.

22. Jangan menyakiti orang tua dan membuat orang tua marah, yang dengan itu akan menjadikan diri Anda sengsara di dunia dan akhirat. Dan kelak, anak-anak Anda pun akan memperlakukan Anda sebagaimana Anda memperlakukan kedua orang tua Anda.

23. Apabila Anda hendak meminta sesuatu kepada orang tua, maka bersikaplah dengan lemah lembut, serta jangan lupa untuk berterima kasih kepada mereka. Maafkan dan berlapang dada jika permintaan Anda belum bisa mereka penuhi. Jangan terlalu banyak meminta sesuatu yang hal itu bisa merepotkan dan mengganggu mereka.

24. Apabila Anda mampu, maka bekerjalah dan bantulah kedua orang tua Anda.

25. Orang tua memiliki hak atas Anda, dan istri Anda
juga mempunyai hak atas Anda, maka tunaikanlah masing-masing hak mereka. Jika ada perselisihan, selesaikanlah segera dengan solusi yang terbaik.

26. Jika orang tua dan istri Anda berselisih, bertindaklah bijaksana, berilah masing-masing hadiah istimewa, dan damaikan kedua belah pihak.

27. Kalau terjadi perselisihan tentang urusan perkawinan atau thalaq (talak), maka selesaikanlah ia menurut hukum Islam, karena itu adalah sebaik-baik hukum.

28. Doa orang tua itu, baik atau buruk, dikabulkan oleh Allah. Maka itu berhati-hatilah terhadap doa mereka untuk keburukan.

29. Bersikap sopan-santun kepada orang tua orang lain. Jangan mencaci mereka, sehingga mereka mencaci orang tua Anda. Nabi ﷺ bersabda:

مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ . قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ، يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ، فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ، فَيَسُبُّ أُمَّهُ

_“Di antara dosa-dosa besar adalah cacian seseorang terhadap kedua orang tuanya.” Para Sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seseorang mencaci kedua orang tuanya?” Beliau menjelaskan: “Benar. Ia mencaci ayah orang lain, maka orang itu akan mencaci ayahnya. Apabila ia mencaci ibu orang lain, maka orang itu akan mencaci ibunya.”_ (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

30. Kunjungilah kedua orang tua Anda, selama mereka masih hidup; dan ziarahilah kubur mereka setelah mereka wafat. Bersedekahlah atas nama mereka, serta berdoalah untuk kebaikan mereka.

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

_“Ya Rabbku, ampunilah aku dan juga kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangiku ketika kecil.”_

Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang yang shalih dan shalihah, dan mudah-mudahan anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah, yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta berbakti kepada kedua orang tua.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

_“…Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”_ (QS. Al-Furqân 74)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

_“Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Rabb kami, perkenankanlah doaku.”_ (QS. Ibrahim : 40)

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

_“…Ya Rabbku, berilah aku petunjuk agar aku dapat men-syukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepada-ku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”_ (QS. Al-Ahqâf : 15)

Mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis, keluarga, para pembaca dan kaum muslimin.

Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah ﷺ, keluarga, para Sahabatnya, dan para pengikut beliau yang baik sampai hari Kiamat.

Sumber:
BIRRUL WALIDAIN (Berbakti Kepada Kedua Orang Tua)
Hlm. 100 – 106
Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafii – Jakarta
http://pustakaimamsyafii.com/birrul-walidain.html