Category Archives: BBG Kajian

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Tentang Ikhlas Dalam Ibadah…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuzhotul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasyanya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Ini MASALAH Bagi Yang Mengaku MUSLIM…

Syeikh Abdul Karim Al Khudhoir -hafizhohulloh- mengatakan:

“Sayangnya banyak dari kaum muslimin yang meninggalkan membaca Alqur’an karena sibuk dengan gosip, koran, majalah, dan nonton TV.

Kamu dapati sebagian penuntut ilmu siap menghabiskan koran semuanya, atau kamu dapati seorang pegawai muslim setelah pulang dinas hingga tidur dia membolak-balik koran, untuk apa ? Apa yang dia dapatkan dari koran itu ? Yang ini kabar buruk, yang itu bicara ‘ngawur‘ tentang agama, yang lain menghina mereka yang taat, yang lain lagi gambar tak senonoh, ada juga tentang kabar. Apa semua ini !

Meskipun begitu, tapi inilah kebiasaan banyak orang, sehingga berlalu waktu sehari, dua hari, seminggu, bahkan SEBULAN, sedang dia tidak membuka MUSHAF sekalipun!

Paling-paling jika dia bisa hadir untuk sholat sebelum iqomat dua menit, tiga menit, atau lima menit, dia membaca dengan bacaan yang (kualitasnya) hanya Allah yang tahu. Dia paling membaca selembar, dua lembar, dan bosan.

Bahkan sebagian orang tidak tahu Alqur’an, kecuali di Bulan Ramadhan! ini MASALAH.”

———-

Oleh karenanya jika ada yang bertanya kepada Anda, “Mengapa sedih ?

Jawablah dengan jujur: “Karena aku menjauhi Alqur’an dan sedikit beristighfar“.

Tapi, pengakuan saja tidak akan berguna dan tidak akan memperbaiki keadaan.

Jika ingin keadaan berubah, maka mulailah berubah dari sekarang… Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua, amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da020115-1848

Kaidah Ushul Fiqih Ke 39 : Kebiasaan Atau ‘Uruf Sama Hukumnya Dengan Ucapan…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-38) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 39 🍀

👉🏼   Kebiasaan atau ‘uruf sama hukumnya dengan ucapan.

‘Uruf adalah kebiasan suatu masyarakat dalam bermu’amalah. ‘Uruf dapat dijadikan patokan dengan syarat ‘uruf tersebut bersifat “muthorid” yaitu berlaku umum dan diketahui oleh individu masyarakat tersebut.

⚉    Contohnya bila kita beli di warung makanan, ‘uruf di masyarakat kita seringnya makan dahulu baru bayar. Maka perkara seperti ini dibolehkan.

⚉    Bila kita membeli sesuatu di toko lalu kita hanya memberikan uang dan sipenjual menerimanya tanpa ada ucapan, maka inipun sah.

👉🏼   Tapi bila ‘uruf itu bertentangan dengan syariat maka tidak boleh diikuti.

⚉    Seperti bila kita hendak mengurus KTP, kebiasaan di masyarakat adalah memberikan uang kepada petugas. Perbuatan ini secara syariat tidak dibolehkan karena termasuk “Hadaya al ‘Ummaal” (hadiah untuk pejabat / uang pelicin) yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tapi bila urusan kita akan dipersulit bila tidak memberinya uang, maka sebagian ulama membolehkan karena itu adalah untuk mendapatkan hak kita dan dosanya untuk yang menerima.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Senantiasa Menjaga Niat Karena dan Untuk Allah Semata…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuzhotul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasyanya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-2

Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 1) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 2 🌿

Sebab ke 2 seseorang yang berpaling dari kebenaran :

‎اعتقاد غموض الحق وا شتبا هه

⚉   Keyakinan bahwa kebenaran itu sesuatu yang samar dan sulit.

Kata beliau (Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman):

‎،اعتقد كثير مِمَّن لا تَحقيق عنده
‎ولاخبرة له، ولا معر فة له بنصوص
‎القر اَن والسنة ودلا لتها غموض الحقَّ وصعوبته

Banyak orang meyakini dari orang-orang yang tidak punya pengalaman, tidak pula pengetahuan terhadap nash-nash Alqur’an dan Hadits. Mereka berkeyakinan katanya kebenaran itu sesuatu yang sulit dan samar.

Terlebih mereka mendapatkan dalam kitab-kitab bahwa syarat-syarat untuk memahami Alqur’an dan Hadits hanyalah orang-orang yang mujtahid saja… tidak boleh sembarangan.

Kata-kata “tidak boleh sembarangan” memang benar.
Tapi untuk dikatakan bahwasanya yang boleh memahami Al-Qur’an dan Hadits hanya mujtahid, ini perkataan yang tentunya harus diperinci… apa yang dimaksud ? Kalau yang dimaksud adalah menafsirkan… iya maka dia harus syaratnya orang-orang yang telah betul-betul kuat keilmuannya.

Tapi kalau untuk mengetahui kebenaran yang ada dalam Al-Quran dan Hadits bagi orang-orang awam itu mudah dengan cara membaca kitab-kitab tafsir yang telah ditulis oleh para Ulama.
Sebetulnya mudah kalau kita ada kesungguhan.

Imam Asy Syatibi rohimahullah berkata:

‎أمَّا إذا كان هذا ا لمتبع نا ظرًا فِي العلم ومتبصرًا فيما يُلقى إ ليه

Adapun kalau dia betul-betul melihat ilmu dan memperhatikannya dan betul-betul mendalaminya…

‎فإنَّ تو صُّله إلَى الحق سهل

…maka sampainya kepada kebenaran itu sangat mudah sebetulnya.” kata beliau. ( dalam kitab Al I’tishom 2 / 344)

Imam Asy Syaukani rohimahullah berkata dalam kitab “Adabuth Tholab” halaman 85

‎فلو قوف على الحقَّ والاطَّلاع على ما شرعه ا للّٰه لعباده قد سهَّله اللّٰه على المتأ خر ين

Mencari kebenaran dan mengetahuinya sesuai dengan apa yang Allah syari’atkan kepada hamba-hambanya, Allah telah mudahkan kepada orang-orang yang terakhir ini, dan Allah mudahkan sehingga tidak butuh lagi kepada kelelahan seperti orang-orang sebelum kita.”

Lihat di zaman Imam Syaukani rohimahullah… beliau menceritakan bahwa banyak sekali kemudahan-kemudahan menuntut ilmu di zamannya. Kalau itu di zaman beliau, bagaimana di zaman sekarang yang kemudahan menuntut ilmu sangat mudah sekali, kemudahan alat-alat transportasi, alat-alat komunikasi, apalagi terlebih adanya internet, maka sangat memudahkan sekali untuk menuntut ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun sayang kemudahan-kemudahan ini justru malah menimbulkan kemalasan sehingga sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad al-Basyir al-Ibrohimi,

‎ورُبَّ تيسير خلب التعسير

Berapa banyak kemudahan malah menimbulkan kesulitan.

Artinya kata beliau,

‎فإنَّ هذا التيسير رمى العقول بالكسل والأيدي بالشلل

Dimana kemudahan ini malah menimbulkan kemalasan dan tidak ada kesungguhan untuk mencari kebenaran.

👉🏼   Oleh karena itulah… kewajiban kita adalah cukup kita bersungguh-sungguh dan berusaha sekuat tenaga, karena setiap manusia pasti diberikan oleh Allah kemampuan, diberikan oleh Allah akal untuk memahami perkataan para ulama, mengkaji kitab-kitab mereka.

Alhamdulillah… di Indonesia sendiri sudah banyak buku-buku yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

👉🏼   Maka tidak boleh kita katakan mencari kebenaran sulit, mudah sebetulnya kalau kita ada usaha dan keinginan yang kuat.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Status Puasa 11 Muharrom…

Imam an-Nawawi rohimahullah berkata :
.
Para sahabat kami dan lainnya berpendapat sunnah puasa ‘Asyuro (hari ke 10 Muharrom) dan puasa Tasu’a (hari ke 9 Muharrom)” (lihat al-Majmu’ VI/383).
.
Adapun untuk hadits “Berpuasalah sehari sebelumnya (tanggal 9) dan sehari sesudahnya (tanggal 11)” ADALAH HADITS YANG DHO’IIF karen ada rowi yang bernama Dawud bin Ali.
.
Ibnu Hibban rohimahullah berkata : “Dia sering keliru”.
.
At-Tirmidzi rohimahullah meriwayatkan 1 hadits darinya dan ia menjadikan haditsnya hadits yang gharib.
.
Imam adz-Dzahabi rohimahullah berkata : “Haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah” dan cacat yang lain yaitu adanya rawi yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Ali Ya’la.
.
Imam Ahmad rohimahullah berkata : “Dia perawi yang buruk hafalannya dan haditsnya muththarib (tidak menentu pada matannya),” begitu pula perkataan Syu’bah, Ibnu Hibban dll.
.
Hadits ini telah dianggap dho’iif oleh Imam al-Albani rohimahullah di dalam kitabnya Dha’iiful Jaami’ ash-Shaghiir no.3506, Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Ta’liq Musnad Imam Ahmad IV/52, al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaaid III/191, asy-Syaukani dalam Nailul Authar IV/330, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaani dll.
.
👉 Oleh karena itu, maka TIDAK ADA PENAMBAHAN PUASA 11 MUHARROM SEBAGAI RANGKAIAN PUASA ‘ASYURO, tetapi cukup hanya tanggal 9 dan 10 Muharrom saja sebagaimana pendapat mayoritas ulama.
.
👉 Namun lemahnya hadis yang menganjurkan puasa tanggal 11 Muharrom, tidaklah menunjukkan bahwa puasa di tanggal ini hukumnya terlarang. Puasa di bulan Muharrom secara umum sangat dianjurkan, jadi bila seandainya ingin puasa juga tanggal 11 Muharrom, MAKA NIATNYA UNTUK PUASA MUHARROM SAJA SECARA UMUM. Wallahu a’lam
.
Definisi para Ulama tentang Hadits munkar :
.
Pertama : yaitu sebuah hadits dengan perowi tunggal yang banyak kesalahan atau kelalaiannya, atau nampak kefasiqannya atau lemah ke-tsiqahannya.
.
Kedua : yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh perowi yang lemah dan bertentangan dengan riwayat perowi yang tsiqah (terpercaya).
.
#puasa
#sunnahnabi
.
Follow IG: @bbg_alilmu
Follow IG: @bbg_alilmu
Follow IG: @bbg_alilmu
.
http://instagram.com/bbg_alilmu

Do’a Sebelum Tidur Ini Memiliki Beberapa Lafazh Shohih…


.
.
ANDA BIASA BACA YANG MANA ?!…. SILAHKAN BACA YANG MANA SAJA DARI DO’A SEBELUM TIDUR INI…
.
Ada Kaidah Ushul Fiqih dimana satu Ibadah yang mempunyai beberapa bentuk, hendaknya kita lakukan terkadang ini dan terkadang itu.

.
Maka agar terpelihara semuanya, kita tidak melanggengkan satu bacaan, tapi kita baca di satu malam terkadang ini dan malam lainnya terkadang itu. Wallahu a’lam.
.
Ayo kumpulkan terus SERI – “PIC do’a-do’a sebelum tidur” di akun ini…
.
Silahkan di save, di share… Semoga bermanfaat…

ARTIKEL TERKAIT : 

Beberapa Do’a Sebelum Tidur…

Bolehkah Kita Yakin Akan Masuk Surga..?

Sebagai Muslim, apakah dibolehkan apabila kita yakin akan masuk surga ? Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

da190914-0013

Antara “Andai Kemarin” Dan “Andai Besok”…

Andai kemarin‘ dan ‘andai besok.’

Sobat! Dua ucapan yang sekilas sama saja, namun ketahuilah bahwa keduanya memiliki perbedaan yang sangat besar.

Ucapan “ANDAI KEMARIN” menggambarkan adanya penyesalan dan keinginan untuk merubah masa lalu. Tentu saja keinginan merubah masa lalu adalah sikap pandir dan sia-sia.

Wajar saja bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ – حديث صحيح رواه مسلم

Orang mukmin yang tangguh lebih baik dan lebih Allah cintai dibanding mukmin yang lemah dan pada keduanya terdapat kebaikan. Upayakanlah segala yang bermanfaat bagimu, dengan tetap meminta pertolongan dari Allah dan jangan pernah merasa lemah/tidak berdaya.”

Bila engkau ditimpa sesuatu maka jangan pernah berkata: “andai aku berbuat demikian niscaya kejadiannya akan demikian dan demikian.”

Namun ucapkanlah: “ini adalah takdir Allah dan apapun yang Allah kehendaki pastilah terjadi/terwujud,” karena sejatinya ucapan “andai” hanyalah membuka pintu godaan setan.” [Riwayat Muslim]

Walau demikian, perlu anda ketahui bahwa larangan ini berlaku bila ucapan “ANDAI” diucapkan dalam konteks menyesali kodrat ILAHI, bukan dalam rangka mengambil pelajaran/ibroh agar tidak mengulang kembali kesalahan atau untuk meningkatkan amalan.

Adapun bila diucapkan dalam rangka mengambil ibroh atau antisipasi maka itu ucapan terpuji. Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

: ((لولا حداثة عهد قومك بالكفر لنقضت الكعبة، ولجعلتها على أساس إبراهيم، فإن قريشاً حين بنت البيت استقصرت، ولجعلت لها خلفاً)

Andailah bukan karena kaummu baru saja meninggalkan kekufurannya niscaya aku memugar bangunan Ka’bah, dan aku kembalikan sesuai pondasi yang dibuat oleh Nabi Ibrahim, karena sejatinya pada saat quraisy memugar Ka’bah, mereka kekurangan biaya, dan niscaya aku buatkan pula pintu keluarnya.” [Riwayat Muslim]

Pada kisah lain Nabi bersabda:

(لو استقبلت من أمري ما استدبرت لما سقت الهدى ولجعلتها عمرة…)

Andai aku masih di awal perjalananku dan belum terlanjur, niscaya aku tidak membawa hewan sembelihan (Al Hadyu) dan aku jadikan ihromku ini sebagai ihrom umroh terlebih dahulu ( sehingga menjadi haji tamattu’). [Riwayat Muslim]

Ucapan “ANDAI” untuk hari esok adalah indikator orang cerdas nan bijak. “ANDAI BESOK” berarti rencana, persiapan atau antisipasi, dan semua itu mencerminkan sikap bijak dan sudah barang tentu tidak terlarang.

Karena itu ungkapan semacan ini banyak kita temukan dalam hadits dan ucapan para sahabat.

Diantaranya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

” لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع

Andai aku berumur panjang hingga tahun depan niscaya saya puasa pula pada hari ke sembilan (dari bulan Muharrom).” [Riwayat Muslim]

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

da050414-1728

Kaidah Ushul Fiqih Ke 38 : Aqad Ada 3 Macam…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-37) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 38 🍀

👉🏼   Aqad ada TIGA macam:
1. Aqad Mu’awadhoh,
2. Aqad Tabarru’ dan
3. Aqad Tautsiqoh.

⚉    Dalam Aqad Mu’awadhoh : pastikan terpenuhi syarat syaratnya dan hindari ghoror (ketidak pastian).

⚉    Adapun dalam Aqad Tabarru’ dan Tautsiqoh : tidak apa apa bila terjadi ghoror.

PENJELASAN:
1. Aqad Muawadhoh artinya aqad untuk saling mengganti yang tujuannya saling memiliki seperti jual beli. Aqad seperti ini harus dipastikan bersih dari ghoror dan terpenuhi padanya syarat syarat jual beli.

2. Aqad Tabarru’ adalah aqad sosial seperti hibah, waqaf dan sebagainya.

3. Aqad Tautsiqoh adalah aqad penguatan atau anggunan seperti barang gadaian.

Dalam kedua aqad ini (2 dan 3) bila terjadi ghoror atau ketidak jelasan tidak apa apa.
Seperti seseorang berkata:
⚉    Saya akan memberimu hadiah. tapi tidak disebutkan hadiah berupa apa.
⚉    Saya pinjam uang darimu dan saya gadaikan salah satu motor saya tanpa menentukan motor yang mana.

Aqad Mu’awadloh seperti jual beli bila terjadi ghoror atau ketidak pastian maka hukumnya sama dengan judi.

Contoh ghoror misalnya:
⚉    Saya jual kepadamu burung saya yang lepas dan terbang itu.

⚉    atau saya jual kepadamu salah satu mobil saya, tapi tidak ditentukan yang mana.
⚉    Orang yang mengasuransikan mobilnya, dimana dia harus membayar pertahun 400 ribu misalnya. Terjadi padanya ghoror. Sebab bila dalam setahun itu tidak terjadi kecelakaan maka perusahaan asuransi untung. Dan bila kecelakaan itu terjadi setiap minggu, perusahaan rugi. Sehingga aqad ini berada pada ketidak jelasan apakah akan rugi atau untung. Seperti ini dinamakan ghoror dan sama dengan perjudian.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP