Category Archives: BBG Kajian

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Tujuan Menuntut Ilmu Untuk Mengamalkannya…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Ada Apa Dengan Menyukai QS Yusuf Melebihi Surat Lainnya..?

Anda suka mendengar Surat Yusuf melebihi surat lainnya ?

Bila betul demikian, simak penjelasan Imam Ibnu Timiyah berikut:

Sebagian orang dan juga wanita ada yang senang mendengarkan surat Yusuf, dikarenakan pada surat Yusuf dibawakan cerita tentang asmara dan hal-hal yang terkait dengannya.

Ia mencintai surat Yusuf dibanding surat lainnya dikenakan di dalam dirinya ada asmara yang membara dan kecenderungan untuk berbuat keji ( zina). Sampai-sampai sebagian mereka berusaha dengan sungguh sungguh untuk sering memperdengarkan surat tersebut kepada kaum wanita atau lainnya, dikarenakan pada diri mereka terdapat kecenderungan kepada perbuatan buruk, mereka begitu antusias untuk hal itu.

Di saat yang sama, mereka tidak senang untuk mendengarkan kandungan surat An Nur yang menjelaskan tentang hukuman dan larangan dari perbuatan keji (zina).”

(majmmu’ fatawa ibnu Taimiyyah 15/335)

Ayo jujur saja…

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Bagaimana Mengatur Rasa Takut dan Rasa Harap Kepada Allah…

Al-Fudhail bin Iyadh -rohimahulloh- pernah mengatakan:

“Rasa takut lebih baik daripada rasa harap selama seseorang dalam keadaan sehat. Lalu apabila ajal menghampirinya, maka rasa harap lebih baik daripada rasa takut.

Jika pada saat keadaannya sehat dia melakukan kebaikan; tentu akan menjadi besar rasa harap dan husnuzhannya (kepada Allah) saat kematian (menghampirinya).

(Tapi) bila pada saat sehatnya dia melakukan keburukan; tentu dia akan su’uzhan ketika kematian (menghampirinya), dan tidak akan bertambah rasa harapnya (kepada Allah).”

[Hilyatul Auliya’ 8/89].

——

Inilah cara yang sangat baik dalam mengatur hati kita.. dengan rasa takut saat keadaan baik, maka kita tidak akan terlena dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita.. kita akan menggunakan sebaik-baiknya untuk mendapatkan pahala yang dapat memuliakan kita nantinya.

Dan dengan rasa berharap baik kepada Allah saat ajal menjemput kita, maka kita akan tenang, bahagia, dan bisa menghadapi kematian dengan baik, sehingga Allah akan memudahkan kita dalam menutup hidup dengan kalimat “Laa ilaaha illallah”.

Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah bersabda: “Siapa yang akhir ucapannya Laa ilaaha illallah; pasti dia masuk surga.”[HR. Abu Daud: 3116]

Semoga Allah memberikan kita semua husnul khotimah… amin.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Kecintaan Yang Benar…

Kecintaan yang benar dari seorang muslim kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bagaimana? Penulis membahas ada enam perkara. Yaitu:

PERTAMA, DIRASAKAN DI HATI

Seorang yang beriman betul-betul merasa dari hatinya, dia mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang beriman, dia beramal siang dan malam agar bisa bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kelak di surga yang penuh dengan kenikmatan. Inilah cinta yang benar. Kemudian kecintaan yang ada didalam hati ini akan tampak pada anggota badan dalam perbuatan.

Orang yang jujur dalam cintanya, dia akan mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berjalan dengan manhaj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّـهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّـهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّـهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-Imran[3]: 31)

Ayat inilah yang disebut oleh ulama dengan Ayatul Mihnah (ayat ujian). Yaitu menguji mereka yang mengucapkan “Aku cinta Allah.” Jika cintanya benar dengan dibuktikan dengan mengikuti sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dengan mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, minimal mendapatkan dua keutamaan. Yaitu mendapatkan cinta Allah dan mendapatkan ampunan.

Cinta kepada Allah adalah pokoknya, sedangkan mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah cabang. Orang yang mencintai Allah, dia akan mencintai RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang mencintai Allah, dia akan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia akan meniti jalannya dan manhajnya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru manusia kejalan yang lurus. Dan memberikan bimbingan kepada jalan yang lurus. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

…وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“…Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura[42]: 52)

KEDUA, SURI TAULADAN

Cinta yang benar adalah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai contoh untuk dirinya. Kalau hanya mengatakan, “Aku cinta Nabi”, kemudian tidak mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka cintanya adalah cinta palsu. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)

Perhatikanlah wahai umat Islam, keadaan para pemuda dan pemudi kita, perhatikan juga rumah-rumah kita, kita dapati kita mengambil contoh dari orang-orang kafir. Kita meniru mereka dalam penampilan kita, begitupun dalam makan, dalam perdagangan kita, bahkan cara berbicara kita, kita lebih memilih mencontoh orang-orang kafir dari pada mencontoh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu mari kita perbaiki keadaan kita. Hendaknya kalau kita cinta kepada Rasul, kita jadikan Rasul sebagai suri tauladan kita.

Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى.

Kaidah Ushul Fiqih Ke 48 : Pada Asalnya Syarat Dalam Akad Dan Perdamaian Adalah Boleh, Kecuali…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-47) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 48 🍀

👉🏼  Pada asalnya syarat dalam akad dan perdamaian adalah boleh, kecuali bila syarat tersebut menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

Contoh syarat yang boleh:
⚉  Apabila si A menjual rumahnya ke B dan A meminta syarat untuk tinggal dahulu selama setahun di rumah tersebut dan B menyetujuinya.

Contoh lain (*):
⚉  Bila penjual berkata kepada pembeli: Saya mau menjual mobil saya kepadamu seharga 200 juta misalnya dengan syarat kamu menggadaikan rumahmu kepadaku.

Contoh syarat perdamaian yang boleh:
⚉  Bila seorang laki laki mempunyai dua istri, lalu dua istri tersebut berdamai dimana istri yang keduanya berkata, “Nggak apa-apa kamu tidak menafkahi aku asal jangan ceraikan aku.”
Syarat seperti ini diperbolehkan karena nafkah adalah hak istri. Di sini istri telah menggugurkan haknya.

Contoh yang tidak boleh:
⚉  Bila si A meminjamkan uang kepada B dengan syarat mengembalikan uang dengan tambahan sejumlah uang. Maka ini riba.

Dalil kaidah ini adalah hadits:

من اشترط شرطا ليس في كتاب الله فهو باطل و إن كان مائة شرط

Siapa yang memberikan syarat yang tidak sesuai dengan kitabullah maka ia batil walaupun seratus syarat.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam yang artinya perdamaian dibolehkan dikalangan  kaum muslimin, kecuali perdamaian menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Dan orang-orang Islam bergantung pada syarat-syarat mereka (yang telah disepakati), selain syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. Ibnu Hibban dan At Tirmidzi).
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
TAMBAHAN :
(*) Pada akhir hayat Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menggadaikan perisai beliau kepada orang Yahudi, karena beliau berutang kepadanya beberapa takar gandum.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: اِشْتَرَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مِنْ يَهُوْدِيٍّ طَعَاماً نَسِيْئَةً وَرَهْنَهً درعَهُ

Dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, ia mengisahkan, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan (gandum) secara tidak tunai dari seorang Yahudi, dan beliau menggadaikan perisainya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-16

Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 15) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 16 🌿

Penghalang selanjutnya untuk mendapatkan Ilmu dan Kebenaran yaitu..

⚉   Tempat Tumbuh
dimana seseorang tumbuh di atas suatu aqidah atau keyakinan atau suatu kebiasaan.. sehingga kebiasaan yang memang dia sudah berada dari semenjak kecil, dianggap sebagai suatu kebenaran.

Maka ketika seseorang tumbuh di atas perkara yang menyimpang dan diapun dewasa dan bahkan tua diatasnya.. maka dia akan menganggap bahwa itu adalah sebagai sebuah kebenaran yang tidak boleh di rubah.

⚉   Oleh karena itulah Abdulllah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata “Bagaimana keadaan kalian apabila fitnah itu telah benar-benar menguasai kalian ? Anak kecil yang tumbuh di atas fitnah itu, orang dewasa tua diatas fitnah tersebut, sehingga fitnah tersebut dianggap Sunnah (dianggap kebaikan). Apabila fitnah tersebut ada yang merubahnya, disangka telah ada kebenaran atau Sunnah yang di rubah, padahal itu adalah bukan Sunnah tapi fitnah” …(inilah) akibat daripada seseorang tumbuh dan dewasa diatas fitnah tersebut, diatas perkara yang tidak benar itu

⚉   Syaikh Abdurrahman Asy-Sya’di rohimahullah ketika menafsirkan Surat An-Naml ayat 43

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَصَدَّهَا مَا كَانَت تَّعْبُدُ مِن دُونِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهَا كَانَتْ مِن قَوْمٍ كَٰفِرِينَ

Dan yang mencegah (Ratu Bilqis) untuk beriman kepada Allah adalah yang dahulu mereka biasa sembah selain Allah

Kata Syaikh Abdurrahman Asy-Sya’di rohimahullah (dalam Kitab At-Taisil Al-Latif Al-Manan hal. 194) maksudnya yaitu ialah : Aqidah yang ia tumbuh diatasnya, dimana pendapat-pendapat atau keyakinan-keyakinan yang rusak itu telah menguasai akal orang yang berakal, bahkan menghilangkan pikiran yang jernih.”

Kenapa ? Karena ia telah tumbuh diatas keyakinan tersebut, sehingga akhirnya menghalangi dia untuk berfikir dengan yang lurus. Karena dia menganggap itu sebagai sebuah kebiasaan.

⚉   Ibnul Qayyim Rohimahullah (dalam Kitab Al Miftah Darus-Sa’adah dalam jilid I hal 98) berkata : “Diantara perkara yang mencegah seseorang untuk mendapatkan hidayah yaitu kebiasaan dan tempat tumbuh, dimana seseorang tumbuh diatas suatu aqidah dan keyakinan.”

Karena kata beliau.. kebiasaan yang sudah ia terbiasa diatasnya itu menjadi kuat dan mengalahkan tabiat, bahkan ia menjadi sesuatu yang sulit sekali untuk ditinggalkan ketika ia sudah terbiasa diatasnya.

⚉   Oleh karena itulah Imam Ahmad rohimahulah mengatakan “Orang tua itu hampir susah untuk masuk Islam, berbeda dengan anak muda ia lebih mudah masuk Islam.”

Artinya orang tua itu yang sudah tumbuh diatas sesuatu biasanya dia akan kuat sekali memegang sesuatu tersebut, berbeda dengan anak yang masih muda.

Maka ini adalah beberapa yang menjadi sebab seseorang itu terhalang dari hidayah, maka tentu kewajiban seorang hamba Allah adalah :

menggunakan akal pikiran dia untuk memahami apakah kebiasaan yang selama ini ia jalankan sesuai dengan syariat Allah atau tidak,
• kemudian menghilangkan fanatik terhadap nenek moyang dan adat istiadat,
• dan meyakini bahwa adat istiadat itu semua adalah buatan manusia sedangkan syariat itu berasal dari pencipta manusia.

👉🏼   Maka dari itulah TIDAK BOLEH seorangpun beralasan dengan adat istiadat untuk meninggalkan syariat karena syariat itulah yang harus dijadikan sebagai sebuah panduan hidup karena ia berasal dari Allah Subhanahu Wata’ala.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Semua Kebaikan Bermuara Dari Do’a…

Muthorrif bin Abdullah (w 87 H) mengatakan:

“Aku merenungkan, apakah yang mengumpulkan semua kebaikan ?

Ternyata semua kebaikan adalah dengan banyaknya puasa dan sholat, dan ternyata banyaknya puasa dan sholat itu di Tangan Allah ‘azza wajall.

Dan ternyata engkau tidak mendapatkan apa yang di tangan Allah ‘azza wajall, kecuali dengan MEMINTA kepada-Nya, sehingga Dia memberikannya kepadamu.

Jadi ternyata yang mengumpulkan semua kebaikan adalah DO’A.

[Kitab: Azzuhd, Imam Ahmad, hal: 241].

————

Do’a, amal yang sangat ringan, sangat besar manfaatnya, namun sedikit yang memperhatikannya dengan semestinya, semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita semua, amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da290115-1331

Aku Sangat Mencintaimu, Ya Rasulullah…

Ketika mereka mengajak untuk melestarikan ajaran nenek moyang, aku memilih melestarikan ajaran yang engkau bawa, karena menurutku engkaulah NENEK MOYANGKU yang paling mulia… engkaulah nenek moyang yang paling kucinta.

Ketika mereka mengajak untuk memuliakan kyai, sehingga seringkali mereka memelintir sabdamu agar sesuai dengan perkataan kyai… aku lebih memilih engkau sebagai MAHA KYAI, kubenarkan semua sabdamu, dan kuterima dengan apa adanya sebagaimana dipahami para sahabatmu… sungguh akan kuplintir perkataan siapapun yang menyelisihi sabdamu… karena sabdamu adalah barometer untuk perkataan semua kyai, siapapun dia dan darimanapun asalnya.

Ketika banyak kalangan menyuruh atau bahkan mengharuskan untuk menghidupkan tradisi dalam masyarakat… aku lebih memilih untuk menghidupkan TRADISI yang kau bawa, tradisi yang telah diperaktekkan oleh masyarakatmu, para sahabatmu… memang tradisi yang tidak bertentangan dengan tradisimu akan kutolerir… bukan aku membenci tradisi daerahku, tapi karena aku lebih mencintaimu dan tradisimu melebihi siapapun, melebihi tradisi manapun.

Ketika mereka mengajak beribadah dengan ritual sesepuh yang sudah mendarah daging… aku lebih memilih dan mencintai RITUAL ibadah yang kau ajarkan, tidak akan kutambah karena tidak mungkin aku atau siapapun lebih pintar darimu… dan tidak ingin kukurangi, karena itu akan mengurangi pahalaku… bahkan andai ritual ibadah sesepuh itu sudah mendarah daging pada diriku, aku rela untuk mengganti darah dan daging itu, karena aku memang sangat mencintaimu, engkaulah SESEPUHKU yang paling sempurna.

Ketika banyak orang merasa bangga dengan budaya barat, aku memilih untuk bangga dengan BUDAYAMU, karena budayamu itu mengumpulkan kesucian, kemuliaan, kewibawaan, keindahan, kebahagiaan, dan sifat penyempurna lainnya… aku mencintaimu, oleh karenanya aku merasa bangga dengan budayamu.

Saking besarnya cintaku kepadamu, aku ikrarkan sebagaimana perkataan para sahabatmu: “Demi engkau kurelakan bapak ibu kami sebagai tebusan“.

Semoga Allah meneguhkanku di atas jalanmu dan para sahabatmu… merekalah para salafku… hanya dengan itulah aku pantas berharap; semoga nanti dikumpulkan bersama mereka, di dalam FirdausNya, amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

da140915-0634

Bila Sholat Sunnah Qobliyah Shubuh Terlewat…

Keutamaan sholat sunnah qobliyah Shubuh atau sholat sunnah Fajar.

Dalam shohih Muslim terdapat hadits dari ‘Aisyah, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua roka’at sunnah fajar (qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” Dalam hadits muttafaqun ‘alaih, ‘Aisyah mengatakan, “Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun sholat sunnah yang kontinuitasnya (kesinambungannya) melebihi dua rokaat (sholat rawatib) Shubuh.”

Lalu… bagaimana jika kita telat datang ?
Sesampainya di masjid Imam jama’ah Shubuh sedang menunaikan sholat Shubuh. Apakah boleh sholat sunnah qobliyah Shubuh diqodho’? Kapan diqodho’nya?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz,rohimahullah, berkata :

“Jika seorang muslim tidak mampu menunaikan sholat sunnah fajar sebelum penunaian sholat Shubuh, maka ia boleh memilih menunaikannya setelah sholat Shubuh atau menundanya sampai matahari meninggi. Karena ada dalil (hadits) yang menunjukkan bolehnya kedua-keduanya.

Akan tetapi jika menundanya sampai matahari meninggi itu lebih baik karena ada perintah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini. Adapun qodho’ sholat sunnah fajar tadi setelah sholat Shubuh maka telah shohih pula dari ketetapan (taqrir) beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bolehnya.”

(Majmu’ Al Fatawa, 11: 373)
.
.
HADITS PERTAMA
.
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang belum menunaikan sholat sunnah Fajar, hendaklah ia menunaikannya setelah terbit matahari.” (HR. at Tirmidzi)
.
.
HADITS KEDUA
.
Dari Qois (kakeknya Sa’ad), ia berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihatku sedang sholat sunnah fajar setelah sholat Shubuh. Beliau berkata, “Dua roka’at apa yang kamu lakukan, wahai Qois ?” Aku berkata, “Wahai Rosulullah, aku belum melaksanakan sholat sunnah Fajar. Inilah dua roka’at sholat sunnah tersebut.” Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam lantas mendiamkannya.” (HR. Al Baihaqi, shohih)

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Tentang Cinta Kepada Wanita…

Lebih jauh mengerti tentang cinta kepada wanita.

Bagi banyak orang urusan cinta tuh susah, kepada siapa ia harus menjatuhkan cintanya. Pilih sana pilih sini, ndak segera ketemu dengan wanita yang sesuai dengan mimpinya.

Perkenalan, ta’aruf, bahkan sampai pacaranpun ternyata cinta tak kunjung datang, sehingga semuanya harus kandas.

Bahkan setelah dipaksakan untuk saling mencintai, namun betapa mudah riak-riak kehidupan mengkandaskan cinta semu mereka.

Serumit dan sesusah itukah urusan cinta ?

Sobat! Di sisi lain, betapa banyak orang yang begitu mudah menemukan wanita yang menjadi bunga hatinya, tanpa ta’aruf, tanpa pacaran, tanpa banyak kriteria atau persyaratan. Mereka menikah dan hidup berumah tangga bahagia bak bidadari dan sang pangeran. Badai kehidupan tak kuasa mengikis cinta mereka berdua.

Anda penasaran mau tahu apa rahasia cinta mereka ?

Ketahuilah bahwa cinta itu ada yang halal dan ada yang haram.

Cinta haram tuh hanya sebatas gemuruh nafsu menggebu dan bisikan setan.

Sedangkan cinta yang halal itu karunia ilahi, sehingga tiada yang kuasa memupusnya atau membasmi.

Renungkan pengakuan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam tentang cinta beliau kepada Khadijah rodhiallahu ‘anha:

إني قد رزقت حبها

“Sesungguhnya aku telah dikaruniai rejeki cinta kepadanya.” (Muslim)

Subhanallah, cinta itu rejeki dan karunia ilahi.

Karenanya, bila anda ingin menikmati betapa indah dan manisnya cinta sejati, cintailah orang yang halal untuk anda cintai, dan MOHONLAH kepada Allah agar anda benar benar mendapatkan rejeki cinta kepadanya sebagaimana anda meminta harta, kekayaan dan rejeki lainnya.

Selamat mencoba, semoga bahagia bersamanya.

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.