Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Cara Ber-Ibadah Dengan Nama Allah – AL HAKIIM…

Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

Untuk menyimak penjelasan bagaimana cara beribadah dengan Nama dan Sifat Allah lainnya, silahkan KLIK yang berikut :

DAFTAR ISI LENGKAP — Bagaimana Cara Ber-Ibadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH…

Cara Ber-Ibadah Dengan Nama Allah – AL MUQIITH…

Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

Untuk menyimak penjelasan bagaimana cara beribadah dengan Nama dan Sifat Allah lainnya, silahkan KLIK yang berikut :

DAFTAR ISI LENGKAP — Bagaimana Cara Ber-Ibadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH…

Cara Ber-Ibadah Dengan Nama Allah – AL HAFIIDH…

Berikut ini merupakan rekaman dari ceramah agama Ustadz Abu Yahya Badrusalam حفظه الله تعالى sekaligus kajian kitab Mausu’ah Fiqh Al-Qulub (موسوعة فقه القلوب) karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri.

Untuk menyimak penjelasan bagaimana cara beribadah dengan Nama dan Sifat Allah lainnya, silahkan KLIK yang berikut :

DAFTAR ISI LENGKAP — Bagaimana Cara Ber-Ibadah Dengan Nama dan Sifat ALLAH…

Dengarlah dan Ta’at Walaupun Punggungmu Dipukul dan Hartamu Diambil…

Ana ditanya tentang status hadits di atas karena adanya artikel yang tersebar yang menjelaskan bahwa lafadz tersebut katanya lafadz yang munkar dan mursal karena perawinya yang bernama Abu Sallaam tidak mendengar dari Hudzaifah.

Maka ana mencoba menjawab dalam beberapa point:

1. Abu Sallaam ini memang dinyatakan oleh banyak ulama bahwa ia tsiqoh namun suka memursalkan. Namun Bila kita melihat perbuatan para ulama hadits seperti adz dzahabi demikian pula Al Mizzi mereka menyatakan bahwa abu Sallaam ini meriwayatkan dari Hudzaifah. Dan Al Mizzi menyebutkan dalam tahdzibul kamaal dengan redaksi tamriidl: wayuqool yursil (dikatakan bahwa ia suka memursalkan). Seakan beliau meragukannya.

2. Bila Kita menerima pernyataan bahwa periwayatan abu sallaam ini terputus dari Hudzaifah. Namun ini adalah mursal tsiqoh dan statusnya dlaif yang ringan. Dan dapat dikuatkan oleh periwayatan suba’i dalam riwayat abu dawud.

Dan Suba’i ini meriwayatkan darinya empat perawi dan dianggap tsiqoh oleh Al ‘ijli dan ibnu Hibban. Sehingga statusnya mastuur atau majhuul hal menurut sebagian ulama. Namun menurut ulama lain yang seperti ini dianggap hasan.  Sehingga dapat mengangkat riwayat abu sallaam yang dianggap terputus.

3. Bila dikatakan bahwa periwayatan Subai’ ini tidak dapat menguatkan riwayat Abu Sallaam, karena subai’ ini majhul. Maka hadits Hudzaifah mempunyai syahid yang kuat yaitu dari hadits Ubadah bin Shamit dengan lafadz:

اسمع وأطع، في عُسرك ويسرك، ومنشطك ومكرهك، وأثرة عليك، وإن أكلوا مالك وضربوا ظهرك

“Dengarkan dan taat ketika susah atau senang, ketika semangat atau tidak, dan ketika pemimpinmu lebih mementingkan dirinya dari rakyatnya, walaupun mereka memakan hartamu dan memukul punggungmu.”

Dikeluarkan oleh Asy Syaasyi dalam musnadnya dan ibnu Hibban dalam shahihnya juga ibnu Abi Ashim dari jalan

مُدْرِكِ بْنِ سَعْدٍ الْفَزَارِيِّ عَنْ حَيَّانَ أَبِي النَّضْرِ سَمِعَ جُنَادَةَ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ سَمِعَ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ به

Mudrik bin Sa’ad alfazari dari Hayyaan abu nadlr ia mendengar Junadah bin Abi Umayyah ia mendengar Ubadah bin Shamit dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Dan sanad ini shahih in shaa Allah.

4. Makna hadits Hudzaifah ini sejalan dengan Banyak hadits hadits shahih yang memerintahkan untuk bersabar terhadap pemimpin muslim yang zalim, seperti hadits:

إنكم ستلقون بعدي أثرة فاصبروا حتى تلقوني على الحوض

“Setelahku nanti kalian akan menemukan atsarah (pemimpin pemimpin yang lebih mementingkan dirinya sendiri), maka bersabarlah sampai berjumpa denganku di telaga haudl.” HR Bukhari dan Muslim.

Imam An Nawawi memberikan judul hadits tersebut: “Bab perintah untuk bersabar menghadapi kezaliman pemimpin.”
Bahkan syaikhul islam ibnu Taimiyah menyatakan bahwa bersabar terhadap kezaliman pemimpin adalah salah satu pokok aqidah ahlussunnah, lihat majmu’ fatawa (28/179).

Perbuatan para ulama pun menunjukkan kepada hal itu seperti yang dilakukan oleh imam Ahmad ketika beliau disiksa untuk menyatakan alqur’an makhluk. Namun beliau bersabar dan melarang pengikutnya untuk memberontak.

5. Makna hadits Hudzaifah ini juga diucapkan oleh Umar bin Khathab, beliau berkata kepada Suwaid bin Ghofalah:

يا أبا أمية، إني لا أدري لعلي أن لا ألقاك بعد عامي هذا، فاسمع وأطع، وإن أُمِّر عليك عبد حبشي مجدَّع فاسمع له وأطع، إن ضربك فاصبر، وإن حرمك فاصبر.

“Wahai abu Umayyah, sesungguhnya aku tidak tahu mungkin aku tidak akan bertemu denganmu lagi setelah tahun ini. Maka dengarlah dan taat walaupun kamu dipimpin oleh hamba sahaya etiopia yang hidungnya putus. Dengarlah dan taat. Jika ia memukulmu sabarlah, jika ia menghalangimu sabarlah.”
Diriwayatkan oleh ibnu abi syaibah dari jalan ibrohim bin abdil a’laa dari suwaid bin ghofalah dengan sanad hang shahih.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa bersabar menghadapi pemimpin itu bukn karena kita menyukai kezalimannya, dan tidak berusaha memberinya nasehat. Akan tetapi tujuan bersabar itu adalah untuk menghindari fitnah yang lebih besar.

Karena sejarah menunjukkan nasib para pemberontak dari zaman ke zaman selalu menimbulkan mudlarat yang lebih besar. Silahkan dirujuk kitab majmu fatawa ibnu taimiyah dalam kitab munhajussunnah (4/527-531) beliau menjelaskan di sana tentang buruknya sikap memberontak.

Diantaranya beliau berkata:
“Tidak ada yang memberontak kepada penguasa kecuali mudlarat yang ditimbulkan lebih besar dari kebaikannya.”

Juga lihat kitab mu’amalatul hukkam oleh Syaikh Abdussalam barjas yang menjelaskan tentang manhaj ahlussunnah terhadap pemimpin.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tunggu Apa Lagi..?!

1. Diriwayatkan oleh Ahmad, dan derajat haditsnya HASAN.

2. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, dan derajat haditsnya HASAN LIGHAIRIHI, sebagaimana dijelaskan berikut ini.

Dalam sanad hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani terdapat Risydin bin Sa’ad dan Zabban bin Faid keduanya lemah, tapi Risydin dimutabaah oleh Ibnu Lahi’ah sehingga illatnya tinggal Zabban, ia lemah yang ringan.

Adapun perkataan Ibnu Hibban bahwa riwayatnya dari Sahl bin Mu’adz seakan naskah yang palsu adalah sikap berlebihan Ibnu Hibban, dan riwayat ini dikuatkan oleh mursal Said bin Musayyib dengan sanad yang shahih yang diriwayatkan oleh Addarimi, dan sanad yang lemah ringan bila dikuatkan oleh mursal shahih terangkat menjadi HASAN LIGHAIRIHI.

( Faedah dari tulisan dan diskusi dengan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc,  حفظه الله تعالى )
.
.
PERTANYAAN
.
1. Apakah surat Al Ikhlas yang dibaca di dalam sholat wajib dan sholat-sholat sunnah termasuk dalam bilangan 10 tsb ? Ataukah di luar sholat ?
.
2. Apakah bacaan Surat Al Ikhlas dalam dzikir pagi (3 x) dan sore (3 x), dzikir setelah sholat (1 x) atau DZIKIR sebelum tidur (3 x)… Apakah ini sudah mencukupi 10 x yang dimaksud dalam hadits ?… Ataukah sebaiknya diamalkan terpisah dari dzkir-dzikir diatas ?
.
3. Jika dibaca terpisah dari DZIKIR-dzikir, Apakah dibacanya berurutan langsung 10 kali …atau boleh dipisah pagi sekian kali.. siangnya sekian kali (contohnya)
.
Syukron Ustadz
.
.
JAWABAN
.
Yang dzohir dia tersendiri dan dibaca berurutan.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى
.

Satu Lagi Sunnah Yang Terlupakan Saat Makan…

PERTANYAAN:

Ustadz, menghadapi lebaran penuh acara makan, apakah ada sunnahnya bahwa kita mengucapkan BISMILLAH SETIAP KALI menyuap makanan dan meminum minuman…  Lalu mengucapkan ALHAMDULILLAH SETIAP KALI kita menelan makanan dan minuman tsb ?

JAWABAN:

Ada sunnahnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

38- عن أنس – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((إن الله ليَرضى عن العبد أن يأكل الأَكلة، فيَحمده عليها، أو يشرب الشَّربة، فيحمده عليها))؛ رواه مسلم.

“Sesungguhnya ALLAH RIDHO kepada HAMBA YANG MAKAN SATU MAKANAN IA MEMUJI ALLAH, atau MEMINUM SATU MINUMAN IA MEMUJI ALLAH.”  (HR Muslim)

Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى