Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Macam-Macam Ro’yu

Ro’yu ada tiga macam: ro’yu yang terpuji, ro’yu yang tercela dan ro’yu yang masih samar apakah ia haq atau batil.

Salaf terdahulu menggunakan ro’yu yang terpuji dan membuang ro’yu yang tercela.

Adapun ro’yu yang masih samar, mereka
gunakan ketika amat dibutuhkan.
Namun mereka tidak memaksakan orang lain mengamalkannya, tidak pula melarang untuk menyelisihinya. Mereka tidak menganggap orang yang menyelisihinya telah menyelisihi agama. Ro’yu yang seperti ini diberikan pilihan antara menerima atau menolak.

(I’laamul muwaqqi’iin hal. 53 tahqiq 3aid bin Sabri).

Komentar:
Ro’yu yang ketiga ini adalah masalah ijtihadiyah yang tidak ada nash yang menunjukkannya.
Para ulama mengeluarkan kesungguhan mereka untuk berijtihad, namun tidak memaksakan orang lain mengamalkannya.
Coba perhatikan di zaman ini, banyak perselisihan yang berakibat saling menyahdzir ternyata dalam masalah ijtihadiyah semata. Seperti masalah menerima bantuan dari yayasan yang dianggap hizbiy. Atau masalah menyikapi sebagian ahlul bid’ah.

Allahul Musta’an.

Makruh Menurut Ulama Salaf

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Salaf terdahulu menggunakan kata makruh sesuai dengan makna yang tertera dalam firman Allah dan sabda rasulNya. Akan tetapi kalangan ulama terakhir membuat istilah makruh untuk sesuatu yang bukan haram, lalu membawa perkataan para salaf kepada istilah baru tersebut, sehingga terjadi kesalahan.”

Imam Ahmad pernah berfatwa ttg hukum menikahi adik kakak, beliau berkata, “Makruh.” Maksud beliau adalah haram.
Imam Abu Hanifah berkata, “Makruh minum di bejana emas dan perak bagi laki-laki dan wanita.” Maksud beliau adalah haram.
Imam Malik sering kali menjawab, “Aku memakruhkannya.” Maksudnya adalah haram.
Demikian pula imam Asy Syafii.

Kemudian para pengikutnya di belakangan hari banyak yang tidak memahami makna makruh yang diucapkan oleh imam mereka, dan membawanya kepada istilah yang muncul di belakangan hari.
Hingga terjadilah kesalahan besar terhadap syari’at dan ulama.

(I’laamul muwaqqi’in hal 37-39 tahqiq Raid bin Sabri).

Hukum Mujtahid

Dalam hadits riwayat Muslim (no 1731), Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang panglimanya untuk memutuskan keputusan dengan mengatakan, “Ini hukum Allah.”

Beliau besabda, “Kamu tidak tahu, apakah hukummu sesuai dengan hukum Allah atau tidak. Tapi putuskanlah dengan hukummu dan hukum kawan-kawanmu.”

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Lihatlah, bagaimana beliau membedakan antara hukum Allah dengan hukum mujtahid. Beliau melarang menamai hukum mujtahid sebagai hukum Allah.”
Ketika sekretaris umar menulis surat putusan dari Umar, ia menulis: “Ini adalah yang Allah perlihatkan kepada Umar.”
Umar berkata, “Jangan tulis begitu, tapi tulis: “Ini adalah pendapat Umar.”

Ibnu Wahb berkata, “Aku mendengar imam Malik berkata, “Bukanlah kebiasan salaf untuk berkata, “Ini halal ini haram.” Tetapi mereka berkata, “Kami memandang makruh, kamu memandang ini baik..

(I’laamul muwaqqi’in hal 37, tahqiq Raid bin Sabri).

Ushul Imam Ahmad

1. Nash Al Qur’an dan hadits.
Bila telah ada nash, beliau tidak akan mengambil pendapat siapapun yang menyelisihinya.

2. Fatawa para shahabat.
Apabila fatwa sebagian shahabat tidak diketahui adanya shahabatlain yg menyelisihinya, beliau tidak melihat yang lainnya.

3. Memilih pendapat shahabat yang paling kuat bila mereka berselisih.

4. Lebih mendahulukan hadits lemah diatas qiyas.
Yang dimaksud hadits lemah di sini adalah hadits lemah yang ringan dan dikuatkan oleh jalan lain. Atau disebut hasan lighairihi.
Karena di zaman imam Ahmad, hadits hanya dibagi jadi 2; shahih dan dla’if. Dan hasan lighairihi asalnya dla’if namun dikuatkan oleh jalan lain yg dla’if juga.

5. Menggunakan qiyas ketika darurat.
Darurat maksudnya bila telah tidak ditemukan lagi nash, dan fatwa shahabat. Maka beliau menggunakan qiyas.

(I’lamul Muwaqqi’in hal 29-32 tahqiq Raid bin Sabri bin abi ‘alafah).

Para Malaikatpun Memperbincangkannya

Suatu malam Rosulullah-shollallahu alaihi wasallam- bermimpi bahwa Allah mendatangi beliau. Allah bertanya,” Wahai Muhammad, tahukah kamu apa yang sedang diperbincangkan para Malaikat yang mulia ?” Beliau menjawab,” Aku tidak tahu ya Allah.”

Maka Allah meletakkan tangan-Nya diantara dua pundak nabi hingga beliau merasakan dinginnya dada beliau. Nabipun mengetahui apa saja yang ada dilangit dan dibumi.

Allah kembali bertanya,” Wahai Muhammad, tahukah kamu apa yang sedang diperbincangkan para malaikat yang mulia?” Nabi menjawab,” Iya, aku tahu ya Allah..”

Para malaikat yang mulia tidaklah berbincang kecuali dalam perkara yang besar. Begitu agungnya, Allahpun mengabarkan perkara itu kepada nabinya.

Perkara apa yang diperbicangkan para malaikat mulia itu ?

Simak penjelasan Ust Abu Yahya Badrusalam,Lc. Klik:

http://salamdakwah.com/videos-detail/amalan-perbincangan-malaikat.html

Tak Butuh Terima Kasih

Allah Ta’ala berfirman:
[ إنما نطعمكم لوجه الله لا نريد منكم جزاء ولا شكوراً ]
“Sesungguhnya kami memberimu makan karena semata mata mengharap wajah Allah. Kami tidak menginginkan balasan dari kalian tidak juga terima kasih.”

Berinfak mengharapkan do’a fakir miskin..

Atau mengharapkan ucapan terima kasih..

Tidak sesuai dengan ayat ini..
Cukuplah pujian dari Allah dan pahala yang besar dariNya..

Hadits Tentang Takbiran

Ust. Badrusalam Lc

Tidak ada satupun hadits yang shahih tentang kapan dimulai takbir.
Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada hari raya bersama beberapa shahabat sambil bertakbir.
Ia adalah lemah, penjelasannya sbb:
Dalam sanad hadits tersebut ada dua perawi yang lemah yaitu:
1. Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb.
2. Abdullah bin Umar Al ‘Umari.
Dan keduanya diselisihi oleh para perawi tsiqah yang meriwayatkannya secara mauquf sampai kepada ibnu Umar saja. Yaitu:
1. Al Walid bin Syujaa’ di katakan oleh Al Hafidz, “Tsiqah.” Ia meriwayat meriwayatkan dari ibnu wahb secara mauquf.
2. Wakii’ bin Al Jarraah, ia meriwayatkan dari Abdullah bin Umar Al Umari secara mauquf juga.
Kesimpulannya bahwa riwayat yang marfu’ adalah munkar.

Namun hadits tsb diriwayatkan dari jalan lain secara mursal, yaitu dari jalan Yazid bin Harun dari Ibnu Abi Dziib dari Az Zuhri bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar pada ‘iedul fithri sambil bertakbir…
Namun, periwayatan ibnu Abi Dziib dinyatakan lemah oleh Yahya bin Ma’in.
Bahkan periwayatannya guncang. Karena terkadang diriwayatkan dari Az Zuhri secara mursal dari perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Terkadang menghikayatkan dari manusia, dan dalam riwayat lain dari perkataannya sendiri.
Oleh karena itu imam Ahmad berkata, “Hadits ini munkar.”
Imam Ahmad berkata, “Syu’bah pernah masuk kepada Ibnu Abi Dziib untuk melarang, Ia berkata, “Jangan ceritakan hadits ini, dan Syu’bah mengingkarinya.”

Dari paparan ini, tampak jelas bahwa hujjah yang menghasankan hadits ini adalah lemah. Wallahu a’lam

– – – – – •(*)•- – – – –

Surat Khalifah Umar Bin Abdul Aziz Untuk Pendidik Anaknya…

Beliau menulis surat untuk pendidik anaknya:

“Hendaklah yang pertama didik mereka agar membenci musik..
Ia berasal dari syaithan dan berakibat kemurkaan Ar Rahman..
Karena, sampai kepadaku dari para ulama terpercaya..
Bahwa menghadiri musik dan mendengarkan nyanyian dapat menumbuhkan kemunafikan di hati..
Sebagaimana air menumbuhkan rerumputan..
Sungguh..
Meninggalkan tempat tempat seperti itu lebih mudah..
Daripada kokohnya kemunafikan di hati..”

(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Dzammul Malahi).

Badru Salam, حفظه الله تعالى

 

Diantara Perangai Jahiliyah

Ust. Badrusalam Lc

Menilai kebenaran karena pengikutnya adalah orang-orang kaya, bangsawan, para ilmuwan dan orang-orang yang berkedudukan. Adapun bila pengikutnya rakyat jelata dan orang-orang lemah, ia anggap sesuatu yang batil.

Ini adalah parameter kaum jahiliyah yang tertipu dengan kedudukan dan pangkat. Dahulu para Nabi diikuti oleh orang-orang yang lemah.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan kisah perbincangan raja Heraklius dengan Abu Sufyan yang masih kafir.
Diantara pertanyaan Heraklius tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah, “Apakah pengikutnya dari kalangan rendahan atau para bangsawan?”
Abu Sufyan menjawab, “Justru kebanyakan dari kaum yang lemah.”

Padahal dahulu kaum ‘Aad dan Tsamud adalah kaum yang kuat dan berkedudukan. Namun Allah menghancurkan mereka akibat kekafiran mereka.
Di zaman ini, masih banyak orang yang yang mempunyai parameter seperti ini. Bila yang berbicara orang tidak punya titel ia acuhkan, walaupun yang diucapkan adalah kebenaran. Tapi bila yang mengucapkannya adalah orang yang bertitel apakah itu profesor atau doktor atau pejabat tinggi, maka ia anggap sebagai sebuah kebenaran.

Padahal kebenaran tidak terletak pada titel atau kedudukan. Kebenaran adalah yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Yang dapat mengikuti dakwah para Nabi hanyalah orang-orang yang menundukkan dirinya di hadapan Rabbnya dan membuang semua kesombongan dan keangkuhannya.

Adapun orang yang tertipu oleh kecerdasan, kekayaan dan kedudukan, amat sulit untuk tunduk dan taslim kepada Rabbnya. Masih menimbang-nimbang dengan akalnya, kekayaan dan kedudukan yang ia banggakan.

Maka sungguh mengagumkan orang yang tidak tertipu oleh semua itu, lalu ia tunduk dan mengakui kelemahannya di hadapan sang pencipta. Ia mengakui dirinya seorang hamba, kalaulah bukan karena Allah yang memberinya nikmat tentu ia akan binasa. 

Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

10 Tidak Ada Manfaatnya

Ustadz Badru Salam Lc

Ada sepuluh perkara yang tidak bermanfaat:
1. Ilmu yang tidak diamalkan.

2. Amal yang tidak ikhlas dan tidak sesuai dengan contoh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam .

3. Harta yang tidak diinfakkan. Pemiliknya tidak dapat menikmatinya di dunia tidak juga menjadi pahala di akhirat.

4. Hati yang kosong dari mencintai Allah dan rindu untuk bertemu dengannya.

5. Badan yang tak digunakan untuk ketaatan.

6. Cinta yang tak diikat dengan keridlaan yang dicintai dan menjalani perintahnya.

7. Waktu yang kosong dari kebaikan.

8. Pikiran yang berfikir dalam perkara yang tak bermanfaat.

9. Berkhidmat kepada orang yang tidak mendekatkan diri kita kepada Allah tidak juga untuk kebaikan dunia.

10. Takut dan berharap kepada sesuatu yang tidak dapat memberikan manfaat tidak juga mudlarat, tidak memiliki kehidupan tidak juga kematian.
(Al Fawa-id hal. 146).