Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Cahaya Diantara 2 Batu

Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Suatu ketika, Hudzaifah bin Al Yaman mengambil dua batu dan meletakkan salah satunya di atas yang lain, lalu ia berkata kepada sahabat-sahabatnya,

“Apakah kalian melihat ada cahaya diantara sela-sela dua batu itu?”
Mereka berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, kami tidak melihatnya kecuali sedikit saja.”

Hudzaifah berkata, “Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya, bid’ah benar-benar akan muncul sampai kebenaran tidak terlihat kecuali seperti cahaya antara dua batu tersebut.

Demi Allah, bid’ah akan benar-benar tersebar sehingga apabila ada sebuah bid’ah ditinggalkan,
mereka berkata, “Telah ditinggalkan sunnah.”

(Al Bida’ wan Nahyu ‘anha hal. 58).

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Sunnahkah Bersetubuh Di Malam Dan Hari Jum’at ?

Oleh Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Hadits tentang keutamaan bersetubuh di malam jum’at tidak ditemukan dalam kitab hadits manapun. Kemungkinan besar ia adalah buatan Ishaq bin Najih Al Multhay. Dia yang membuat hadits-hadits tentang keutamaan jima (bersetubuh) atas nama Ali bin Abi Thalib.

Ibnu Adi berkata, “Semuanya dia yang memalsukan. Ia meriwayatkan dari ibnu Juraij dari Atha dari Abu Sa’id wasiat untuk Ali radliyallahu‘anhu tentang bersetubuh (jima’) dan bagaimana tata cara berjima’. Lihatlah betapa beraninya orang ini.” (Mizanul i’tidal 1/201).

Adapun tentang bersetubuh di hari jum’at, para ulama berselisih apakah itu disunnahkan atau tidak. Sebab perselisihan ini berasal dari perbedaan pemahaman mereka terhadap lafadz “Man Ghossala waghtasala”. Yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Nasai, ibnu Majah dan Ahmad.

Sebagian ulama berpendapat bahwa makna ghossala tersebut adalah bersetubuh. Alasan mereka diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman bahwa Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam yang artinya, “Apakah seseorang dari kalian merasa lemah untuk menyetubuhi istrinya di setiap hari jum’at. Karena sesungguhnya ia mendapatkan dua pahala, yaitu pahala mandinya dan pahala mandi istrinya.”

Tetapi sayang hadits ini sangat lemah karena di dalam sanadnya ada dua cacat:

(1) Yazid bin Sinan. Ia matruk sebagaimana dikatakan oleh imam An nasai.

(2) Baqiyyah bin Al Walid. Ia seorang perawi yang mudallis. Dan di sini ia meriwayatkan dengan lafadz ‘an sehingga tidak diterima.

Pendapat yang paling kuat adalah bahwa makna “Ghossala” tersebut telah di tafsirkan oleh Rasulullah langsung dalam hadits lain.

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya dari Aus Ats-Tsaqofi bhw Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:

“Siapa yang mencuci rambutnya pada hari jum’at dan ia mandi..dst”

Jadi pendapat yang mengatakan bahwa disunnahkan bersetubuh pada hari Jum’at adalah pendapat yang LEMAH karena tidak didukung oleh dalil.

Imam ibnu Qayyim menyebutkan dalam Zadul Ma’ad, bahwa saat bersetubuh yang paling baik adalah ketika SYAHWAT SEDANG MENGGELORA.

الله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

Penjelasan Lebih Lanjut Terkait Shalat Sunnah 4 Raka’at Setelah ‘Isya

Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Sholat sunat 4 rekaat setelah Sholat Isya’, TIDAK SETARA dengan LAILATUL QODAR.

Tapi Yang benar -wallohu a’lam-, bahwa 4 rekaat tersebut SETARA dengan 4 REKAAT yang dilakukan ketika malam Laitul Qodar.

=========

TELITILAH redaksi haditsya dengan SEKSAMA:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: مَنْ صَلَّى أَرْبَعًا بَعْدَ الْعِشَاءِ كُنَّ كَقَدْرِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: أَرْبَعٌ بَعْدَ الْعِشَاءِ يَعْدِلْنَ بِمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود قَالَ: مَنْ صَلَّى أَرْبَعًا بَعْدَ الْعِشَاءِ لَا يَفْصِلُ بَيْنَهُنَّ بِتَسْلِيمٍ ؛ عَدَلْنَ بِمِثْلِهِنَّ مِنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Abdulloh bin Amr -rodhiallohu anhu- mengatakan: “Siapa yg sholat (sunat) 4 rekaat setelah (Sholat) Isya’, maka 4 rekaat tersebut seperti keutamaannya 4 REKAATNYA malam Laitul Qodar”.

Aisyah -rodhiallohu anha- mengatakan: “4 rekaat setelah (Sholat) Isya’, sebanding dengan yang semisal 4 REKAAT TERSEBUT pada malam Lailatul Qodar”.

Abdulloh bin Mas’ud -rodhiallohu anhu- mengatakan: “Siapa yg sholat (sunat) 4 rekaat setelah (Sholat) Isya’, dia tidak memisah rekaat-rekaat tersebut dengan salam, maka 4 rekaat tersebut sebanding dengan yang semisal 4 REKAAT TERSEBUT pada malam Lailatul Qodar”.

========

Hadits-hadits di atas kuat sanadnya, dan bisa dijadikan sandaran amalan -wallohu a’lam-, hanya saja karena banyak yang salah memahami dan kurang teliti dalam menerjemah, sehingga status ini harus dibuat untuk meluruskannya.

Semoga bermanfaat dan tidak ada yg tersinggung… wallohul mustaan.

– – – – – •(*)•- – – – –

Mensyukuri Musibah

Ust. Badru Salam, حفظه الله تعالى

Dahulu, ada seorang lelaki yang menggoda wanita bekas pelacur di masa jahiliyyah. Saat itu, keduanya telah masuk islam. Lelaki itu menggodanya dan mengulurkan tangannya kepada wanita tersebut. Wanita itupun berkata,” Jangan Begitu, sesungguhnya Allah telah mendatangkan islam dan telah menjauhkan syirik dari kita”

Mendengar itu, si lelaki pun langsung pergi meninggalkannya. Namun, sambil berjalan ia sesekali menengok kepada si wanita. Saat menengok itulah, Allah takdirkan dia MENABRAK sebuah tembok. Iapun lantas mengadu kepada Rosulullah shollallahu alaihi wasallam.

Mendengar cerita sahabat itu, Rosulullah bersabda,” Engkau adalah hamba yang ALLAH KEHENDAKI KEBAIKAN pada dirimu.” Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya apabila Allah MENGINGINKAN KEBURUKAN kepada seorang hamba, Allah BIARKAN ia dengan dosanya sampai diberikan balasannya pada hari kiamat.” (HR Ath Thabrani, AL Hakim dan AL Baihaqi)

Musibah yg menimpa, semoga Allah jadikan sebagai penebus dosa-dosa kita. Sehingga kita menghadap-NYA dalam keadaan bersih tanpa dosa sebagaimana bayi yang baru lahir.

Simak penjelasan Ust Abu Yahya Badrusalam,Lc.

http://salamdakwah.com/videos-detail/amalan-penebus-dosa.html

– – – – – •(*)•- – – – –

Bekas Yang Tidak Hilang

Ust. Badru Salam LC, حفظه الله تعالى

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Khaulah berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana bila darah (haidh) tidak bisa hilang?” Beliau bersabda: “Cukup untukmu air dan tidak berpengaruh bekasnya”. HR Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh al Bani.

Fawaid hadits:
1. Wajibnya mencuci darah haidh yang mengenai baju dan badan.

2. Kewajiban mencucinya adalah dengan air.

3. Apabila baju telah dicuci namun masih tersisa bekasnya, maka tidak berpengaruh.

4. Islam adalah agama yang mudah, tidak memberikan beban kecuali sesuai dengan kemampuan.

5. Badan wanita haidh dan keringatnya adalah suci.

– – – – – •(*)•- – – – –