Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Sunnahkah Bersetubuh Di Malam Dan Hari Jum’at ?

Oleh Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Hadits tentang keutamaan bersetubuh di malam jum’at tidak ditemukan dalam kitab hadits manapun. Kemungkinan besar ia adalah buatan Ishaq bin Najih Al Multhay. Dia yang membuat hadits-hadits tentang keutamaan jima (bersetubuh) atas nama Ali bin Abi Thalib.

Ibnu Adi berkata, “Semuanya dia yang memalsukan. Ia meriwayatkan dari ibnu Juraij dari Atha dari Abu Sa’id wasiat untuk Ali radliyallahu‘anhu tentang bersetubuh (jima’) dan bagaimana tata cara berjima’. Lihatlah betapa beraninya orang ini.” (Mizanul i’tidal 1/201).

Adapun tentang bersetubuh di hari jum’at, para ulama berselisih apakah itu disunnahkan atau tidak. Sebab perselisihan ini berasal dari perbedaan pemahaman mereka terhadap lafadz “Man Ghossala waghtasala”. Yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Nasai, ibnu Majah dan Ahmad.

Sebagian ulama berpendapat bahwa makna ghossala tersebut adalah bersetubuh. Alasan mereka diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman bahwa Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam yang artinya, “Apakah seseorang dari kalian merasa lemah untuk menyetubuhi istrinya di setiap hari jum’at. Karena sesungguhnya ia mendapatkan dua pahala, yaitu pahala mandinya dan pahala mandi istrinya.”

Tetapi sayang hadits ini sangat lemah karena di dalam sanadnya ada dua cacat:

(1) Yazid bin Sinan. Ia matruk sebagaimana dikatakan oleh imam An nasai.

(2) Baqiyyah bin Al Walid. Ia seorang perawi yang mudallis. Dan di sini ia meriwayatkan dengan lafadz ‘an sehingga tidak diterima.

Pendapat yang paling kuat adalah bahwa makna “Ghossala” tersebut telah di tafsirkan oleh Rasulullah langsung dalam hadits lain.

Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya dari Aus Ats-Tsaqofi bhw Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:

“Siapa yang mencuci rambutnya pada hari jum’at dan ia mandi..dst”

Jadi pendapat yang mengatakan bahwa disunnahkan bersetubuh pada hari Jum’at adalah pendapat yang LEMAH karena tidak didukung oleh dalil.

Imam ibnu Qayyim menyebutkan dalam Zadul Ma’ad, bahwa saat bersetubuh yang paling baik adalah ketika SYAHWAT SEDANG MENGGELORA.

الله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

Bekas Yang Tidak Hilang

Ust. Badru Salam LC, حفظه الله تعالى

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Khaulah berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana bila darah (haidh) tidak bisa hilang?” Beliau bersabda: “Cukup untukmu air dan tidak berpengaruh bekasnya”. HR Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh al Bani.

Fawaid hadits:
1. Wajibnya mencuci darah haidh yang mengenai baju dan badan.

2. Kewajiban mencucinya adalah dengan air.

3. Apabila baju telah dicuci namun masih tersisa bekasnya, maka tidak berpengaruh.

4. Islam adalah agama yang mudah, tidak memberikan beban kecuali sesuai dengan kemampuan.

5. Badan wanita haidh dan keringatnya adalah suci.

– – – – – •(*)•- – – – –

Suka Diingatkan

Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Ibnu qudamah rahimahullah berkata..
Kaum salaf terdahulu..
Merasa senang bila ada yang mengingatkan kesalahan mereka..

Sedangkan kita di zaman ini..
Yang paling kita benci adalah orang yang mengingatkan kesalahan kita..

Ini adalah tanda lemahnya iman..
(Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 147)..

Itulah fenomena zaman..

Kritikan yang membangun dianggap mencari cari kesalahan..
Bahkan dianggap pemecah belah..
Seakan orang bebas melakukan apa yang ia pandang baik..
Padahal kebaikan adalah yang dipandang oleh syariat..

Seorang yang ikhlas..
Lebih mementingkan kebenaran dari harga diri..

Karena kebenaran adalah barang cariannya..
Seorang yang berjiwa taslim..
Segera rujuk dari kesalahannya..
Ia menerima kritikan dengan jiwa yang lapang..
Dadanya tidak merasa panas menerimanya..
Bahkan medo’akan orang yang mengingatkan kesalahannya..

Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan kesalahanku..

Namun itu berat..
Kecuali untuk yang berjiwa besar..

– – – – – •(*)•- – – – –

Bejana Allah

Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda..

” إِنَّ للَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الأَرْضِ آنِيَةً ، وَأَحَبُّ آنِيَةِ اللَّهِ إِلَيْهِ مَا رَقَّ وَصَفَا ، وَآنِيَةُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ قُلُوبُ الْعِبَادِ الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya Allah memiliki bejana-bejana di bumi ini..
Bejana-Nya yang paling Allah cintai adalah..
Yang paling lembut dan paling bening..
Bejana-bejana Allah di bumi itu adalah hati hamba hamba-Nya yang shalih.
(HR Ahmad).

Dengan apakah bejana itu akan kita penuhi..

Bila bejana itu telah dipenuhi cinta dunia..

Tak ada lagi tempat untuk cinta akhirat..

Oleh: Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – •(*)•- – – – –