Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Amalan Yang Mendatangkan Kemudahan Dihari Peradilan

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Pada hari kiamat, tidak ada lagi amalan. Yang ada hanyalah perhitungan dan pembalasan.

Neraka ditampakkan begitu jelas dihadapan mata. Menyala-nyala. Batu dan manusia menjadi bahan bakarnya. Siap membakar manusia-manusia yang durhaka. Setiap manusia sibuk memikirkan nasibnya. Bagaimana dia bisa selamat dari api neraka. Teringat apa saja yang pernah ia lakukan di dunia.

Ketakutan, penyesalan, duka dan nestapa yang sebenarnya, itulah yang mereka rasakan. Mengapakah dahulu ia melakukan amal keburukan. Mengapa pula mereka tidak memperbanyak amal kebaikan.

Itulah hari yang sulit dan menakutkan. Tidak ada kejahatan yang pernah dilakukan, besar atau kecil, kecuali pasti akan ditampakkan. Tidak ada kedzoliman kepada sesama hamba, kecuali pasti hari itu akan disidangkan.

Semua berharap pengampunan, mudahnya perhitungan dan segera masuk ke surga yang penuh kebahagiaan.

Persiapkan bekal Anda untuk menghadapi hari itu. Lakukan amalan yang bisa mendatangkan pertolongan dan kemudahan bagi Anda di hari kiamat kelak. Apa saja amalan-amalan itu ? simak penjelasan ust Abu Yahya Badrusalam,Lc.

Klik http://m.salamdakwah.com/videos-detail/seri-arbain-annawawiyah—hadits-36.html

– – – – – •(*)•- – – – –

Ketika Yang Indah Berubah Menjadi Musibah

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Maha Suci Allah yang telah menciptakan Alam semesta.

Semua apa yang ada di dunia ini Allah sediakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tidak lain, untuk memudahkan manusia dalam beribadah kepada Allah taala.

Tapi jangan terlena. Apa yang ada di dunia tunduk kepada perintah-Nya. Maka, Jangan pernah sekali-kali membuat Allah murka.

Saat Allah murka, dan memerintahkan mereka untuk menghancurkan manusia, saat itulah, keindahan itu bisa berubah menjadi tragedi yang tidak terlupakan sepanjang masa.

Lihatlah gunung tinggi dengan segala keindahannya. Hawa sejuk, alam yang hijau, nuansa pegunungan yang begitu memanjakan pandangan mata. Namun taktala Allah murka, semuanya bisa berbeda. Semua berubah menjadi prahara dan malapetaka. Gunung meletus, awan panas, hujan debu, lahar panas dan banjir lahar dingin, seolah menghapus keindahan yang ada.

Lihatlah lautan luas dengan segala daya tariknya. Birunya laut, angin semilir, suara ombak, pasir pantai, taman laut dan seabreg keindahan lainnya yang penuh pesona. Namun, tatkala Allah marah kepada manusia, ia kan berubah menjadi musibah dan bencana.

Bagaimana menjaga keindahan supaya tidak berubah menjadi ancaman?

Simak penjelasan Ust Badrusalam,Lc dan
silahkan klik

http://m.salamdakwah.com/videos-detail/ketika-yang-indah-berubah-petaka.html

– – – – – •(*)•- – – – –

Allah Menyambutnya Dengan Gembira

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Nabi shallalahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang muslim membiasakan pergi ke masjid untuk sholat dan dzikir kecuali Allah menyambutnya dengan gembira ketika ia keluar dari rumahnya. Sebagaimana seseorang yang menyambut dengan gembira saudaranya yang lama tak bertemu.”
(HR Ahmad dan ibnu Hibban).

– – – – – •(*)•- – – – –

Inikah Zamannya

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata:

“Bagaimana keadaanmu bila fitnah menyelimutimu?..
Orang menjadi tua di atas fitnah..
Anak kecil tumbuh di atas fitnah..

Sehingga manusiapun menganggapnya sebagai sunnah..
Apabila fitnah itu dirubah..
Mereka berkata,”Telah dirubah sunnah.”

Kapan itu terjadi wahai ibnu Mas’ud??..
Beliau menjawab:
“Apabila qari qari telah banyak..
Sementara ulama sedikit jumlahnya..

Banyak yang menjadi pemimpin..
Namun sedikit yang amanah..
Dan dunia dicari dengan amalan akhirat.. (HR Ad Darimi).

(Silsilah atsar shahihah hal 91)

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Hafalkanlah

Ust. Badrusalam Lc

Dari Abu Kabsyah Al Anmaari radliyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, aku akan sampaikan, maka hafalkanlah !

-Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena sedekah.
-Tidaklah seorang hamba di zalimi, lalu ia bersabar kecuali Allah akan tambahkan kemuliaan untuknya.
-Tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta, kecuali Allah akan membukakan untuknya pintu kefaqiran.

Aku akan menyampaikan sebuah hadits, hafalkanlah ! Dunia itu untuk empat orang:

-Seorang hamba yang diberikan oleh Allah rizki berupa harta dan ilmu, dengannya ia bertaqwa kepada Allah, menyambung silaturahmi dan melaksanakan hak Allah. Ini adalah kedudukan yang paling utama.

-dan hamba diberikan oleh Allah ilmu dan tidak diberikan harta, namun niatnya benar, ia berkata: jika aku mempunyai harta, aku akan berinfaq seperti si fulan, maka dengan niatnya ia mendapat pahala yang sama dengannya.

-dan hamba yang diberikan harta dan tidak diberikan ilmu, ia habiskan hartanya dengan tanpa ilmu, tidak bertaqwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturahmi dan tidak melaksanakan hak Allah, maka ini kedudukan yang paling buruk.

-dan hamba yang tidak diberikan harta tidak juga ilmu, dan ia berkata: jika aku mempunyai harta aku akan beramal (buruk) seperti si fulan, maka dengan niatnya tsb ia mendapat dosa yang sama dengannya. 

(HR Ahmad dan at Tirmidzi dan ia berkata: hasan shahih. Dan dishahihkan oleh syaikh al Bani dalam shahih targhib no 16).

– – – – – •(*)•- – – – –

Jewer Mendidik

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Dahulu…ibnu Abbas pernah ikut shalat malam bersama Nabi shallallahu alaihi wasallam..

ia berdiri di sebelah kiri Nabi..
Nabi pun memegang telinga ibnu Abbas..

memutarnya ke sebelah kanan..
ibnu Abbas berkata..
setiap kali aku mengantuk..
beliau menarik daging telingaku..

dahulu..
imam Asy Syafii suka menarik telinga muridnya Ar Rabie..
Ar Rabie berkata, “Ketika aku membaca hadits ibnu Abbas..
aku baru tahu bahwa ada asalnya..
(syarhussunah 4/11 albaghowi)

– – – – – •(*)•- – – – –

Membiasakan Diri

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Ibnu Qayim rahimahullah berkata:
“Siapa yang membiasakan diri untuk beramal karena Allah..

Maka tidak ada yang paling berat baginya..dari beramal untuk selain Allah..

Dan siapa yang membiasakan dirinya untuk beramal karena nafsu dan keuntungan diri..
Maka tidak ada yang paling berat baginya..dari beramal karena Allah..
(uddatushobirin hal 82)

– – – – – •(*)•- – – – –

Menilai Kebenaran Berdasar Kedudukan Pengikut

Ust. Abu Yahya Badrusalam, Lc

Menilai kebenaran karena pengikutnya adalah orang-orang kaya, bangsawan, para ilmuwan dan orang-orang yang berkedudukan. Adapun bila pengikutnya rakyat jelata dan orang-orang lemah, ia anggap sesuatu yang batil.

Ini adalah parameter kaum jahiliyah yang tertipu dengan kedudukan dan pangkat. Dahulu para Nabi diikuti oleh orang-orang yang lemah.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan kisah perbincangan raja Heraklius dengan Abu Sufyan yang masih kafir.

Diantara pertanyaan Heraklius tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah, “Apakah pengikutnya dari kalangan rendahan atau para bangsawan?”

Abu Sufyan menjawab, “Justru kebanyakan dari kaum yang lemah.” 

Padahal dahulu kaum ‘Aad dan Tsamud adalah kaum yang kuat dan berkedudukan. Namun Allah menghancurkan mereka akibat kekafiran mereka.

Di zaman ini, masih banyak orang yang yang mempunyai parameter seperti ini. Bila yang berbicara orang tidak punya titel ia acuhkan, walaupun yang diucapkan adalah kebenaran. Tapi bila yang mengucapkannya adalah orang yang bertitel apakah itu profesor atau doktor atau pejabat tinggi, maka ia anggap sebagai sebuah kebenaran.

Padahal kebenaran tidak terletak pada titel atau kedudukan. Kebenaran adalah yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Yang dapat mengikuti dakwah para Nabi hanyalah orang-orang yang menundukkan dirinya di hadapan Rabbnya dan membuang semua kesombongan dan keangkuhannya. 
 
Adapun orang yang tertipu oleh kecerdasan, kekayaan dan kedudukan, amat sulit untuk tunduk dan taslim (menerima, pent) kepada Rabbnya. Masih menimbang-nimbang dengan akalnya, kekayaan dan kedudukan yang ia banggakan.

Maka sungguh mengagumkan orang yang tidak tertipu oleh semua itu, lalu ia tunduk dan mengakui kelemahannya di hadapan Sang Pencipta. Ia mengakui dirinya seorang hamba, kalaulah bukan karena Allah yang memberinya nikmat tentu ia akan binasa.

http://m.salamdakwah.com/#/baca-artikel/diantara-perangai-jahiliyah–1.html

– – – – – •(*)•- – – – –

Ketika Itu Ia Berwibawa

Ust. Badrusalam, حفظه الله

beliau ditanya: “Kapan seseorang itu akan berwibawa di hadapan kaumnya?
Beliau menjawab..
Ketika ia mempergauli kaumnya dengan kelemah lembutan..
ketika ia bertawadlu’..
ketika ia bertemu dengan wajah yang berseri dan dada yang lapang..
ketika ia berbagi dengan mereka pada harta dan keni’matanya..
jika ia lakukan itu..
kaumnya akan memuliakannya..
(Diwan Asy Syafii hal 29)

Cinta Dan Benci Yang Bid’ah

Ust. Badrusalam, حفظه الله

Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Diantara manusia..
ada yang apabila mencintai seseorang..
ia tak peduli dengan kesalahannya sebesar apapun..
diantara mereka juga..
ada yang apabila membenci seseorang..
ia lupakan seluruh kebaikannya..
ini adalah perbuatan bid’ah..
seperti perbuatan khowarij dan jahmiyah..
(Majmu fatawa 3/347)

– – – – – •(*)•- – – – –