Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Shalat Pakai Sandal

Imam Abu Dawud dan Al Hakim meriwayatkan dari Syaddaad bin Aus bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
خالفوا اليهود فإنهم لا يصلون في نعالهم ولا خفافهم
“Selisihilah Yahudi, karena mereka sholat tidak menggunakan sendal tidak juga khuff.”

Pernah sholat pake sendal??
Risih ya..
Padahal itu sunnah..
Mungkin di zaman ini..
Masjid masjid beralaskan karpet..
Bila sholat pake sendal..
Bisa kotor karpetnya..
Sedangkan mengotori masjid tidak boleh..
Tapi di rumah kan bisa..
Coba deh..
Sunnah Nabi yuk hidupkan..

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Bolehnya Memegang Mushaf Ketika Berhadats

Oleh : Ust. Badrusalam Lc حفظه الله تعالى

Dari Abdullah bin Abi Bakr, bahwa dalam surat yang ditulis oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Amru bin Hazm: “Janganlah memegang Al Qur’an kecuali orang suci.” HR Malik secara mursal, dan disambung oleh An Nasai dan ibnu Hibban, dan ia ma’lul.

Derajat hadits:
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih jami’ ash shaghier no 13738.

Fawaid hadits:
1. Hadits ini dijadikan dalil tidak boleh orang yang berhadats memegang al qur’an, terutama wanita haidl dan junub.

Namun kata: “suci” mempunyai banyak makna:
A. Suci dari najis.
B. Suci dari hadats besar.
C. Suci dari hadats kecil.
D. Seorang muslim juga suci, sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Sesungguhnya muslim itu tidak najis.”
Dan makna makna ini tidak diketahui mana yang dimaksud dari hadits di atas.

Kaidah mengatakan: “Sebuah dalil bila mempunyai beberapa makna yang sama kuatnya, maka ia gugur menjadi dalil.”

Dan tidak ada satupun hadits yang shahih dan sharih yang melarang wanita haidl dan junub untuk memegang mushhaf.

Kesimpulannya bahwa boleh memegang mushaf bagi orang yang berhadat kecil maupun besar, karena tidak adanya dalil yang melarang.

Wallahu a’lam

Berpegang Kepada Jamaah Kaum Muslimin dan Pemimpinnya – Bag 1

Ust. Badrusalam. Lc

Hudzaifah radhiallahu ‘anhu berkata,

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا فَقَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam tentang kebaikan sedangkan aku bertanya kepadanya tentang keburukan, karena khawatir akan menimpaku. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dahulu kami berada dalam jahiliyah dan
keburukan, maka Allah
memberikan kepada kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?
Beliau menjawab, “Iya, ada.”
Aku berkata, “Apakah setelah keburukan itu akan ada lagi kebaikan ?”
Beliau menjawab, “Ada, namun padanya ada kotoran.”
Aku berkata, “Apa kotorannya?”
Beliau menjawab, “Yaitu suatu kaum mengambil petunjuk selain petunjukku, engkau kenali diantara mereka dan engkau mengingkarinya.”
Aku berkata, “Apakah setelah kebaikan itu akan ada lagi keburukan ?”

Beliau menjawab, “Iya, yaitu akan
ada para penyeru kepada pintu-pintu Jahannam,

Sabar Dan Sholat

Ust. Badrussalam Hafidzhahullahu ta’ala

Al Hafidz ibnu Hajar Al ‘Asqolani rahimahullah berkata:
.. Dan dari ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma bahwa diberitakan kepada Rasulullah kematian saudaranya yaitu Qutsam, sementara beliau berada dalam perjalanan.

Beliaupun mengucapkan istirja’ lalu menyepi dari jalan dan sholat dua raka’at yang beliau panjangkan duduknya.
Kemudian beliau berdiri sambil membaca ayat:

واستعينوا بالصبر والصلاة
“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.”
Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam tafsirnya dengan sanad yang hasan.

Dan dari Hudzaifah radliyallahu ‘anhu ia berkata:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر صلى
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila ada perkara yang menyusahkan, beliau segera shalat.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad hasan juga.

(Al Fawa-id al muntaqoh min fathil baari hal 115).

Cahaya Diantara Dua Batu

Suatu ketika, Hudzaifah bin Al Yaman mengambil dua batu dan meletekkan salah satunya di atas yang lain, lalu ia berkata kepada sahabat-sahabatnya,

“Apakah kalian melihat ada cahaya diantara sela-sela dua batu itu?”
Mereka berkata, “Wahai Abu Abdirrahman, kami tidak melihatnya kecuali sedikit saja.”

Hudzaifah berkata, “Demi Dzat yang diriku berada di tanganNya, bid’ah benar-benar akan muncul sampai kebenaran tidak terlihat kecuali seperti cahaya antara dua batu tersebut.

Demi Allah, bid’ah akan benar-benar tersebar sehingga apabila ada sebuah bid’ah ditinggalkan,

mereka berkata, “Telah ditinggalkan sunnah.”

(Al Bida’ wan Nahyu ‘anha hal. 58).

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Mereka Yang Diinginkan Kebaikan Oleh Allah

Ust. Badrusalam, Lc

Siapakah diantara kita yang tidak ingin diberikan kebaikan oleh Allah? Namun di sana, ada orang-orang yang diinginkan kebaikan oleh Allah Azza waJalla. Semoga kita termasuk dari mereka:

1. Dibukanya pintu amal sebelum kematian menjelang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya amalan shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).[1]

2. dipercepat sanksinya di dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik).[2]

Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ ». قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِى بِهِ فِى الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِى فِى الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ». قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ.

“Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seseorang dari kaum muslimin yang telah kurus bagaikan anak burung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu berdo’a dengan sesuatu atau kamu memintanya?” Ia berkata, “Ya, aku berdo’a, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu itu. Mengapa kamu tidak berkata, “Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab Neraka.” Maka orang itupun berdo’a dengannya. Allah pun menyembuhkannya.” (HR Muslim). 

3. Diberikan cobaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Al Bukhari dari Abu Hurairah).

Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu janji Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al Baqarah: 155).

Cobaan itu untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan).

4. Difaqihkan dalam agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” HR Al Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus terhadap Al Qur’an dan hadits berasal dari kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al Qur’an dan hadits dengan benar. Sebagaimana yang dikabarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kaum khawarij yang membaca Al Qur’an:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِى يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلَى صَلاَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَىْءٍ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ

“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur’an. Bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, shalat dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an mendukung mereka padahal Al Qur’an tidak mendukung mereka.” (HR Muslim).

Itu semua akibat kedangkalan ilmu dan mengikuti hawa nafsu, sehingga mereka tidak diberikan pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan hadits. Mereka mengira bahwa ayat Al Qur’am mendukung perbuatan mereka, padahal tidak demikian. Tentu yang memahaminya adalah orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama dan selamatkan dari hawa nafsu.

5. Diberikan kesabaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر

“Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya amat membutuhkan kesabaran. Karena Iblis dan balatentaranya tak pernah diam untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Tidak ada yang diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidak ada yang diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35).

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau inginkan kebaikan padanya, beri kami kesabaran untuk menjalani perintahMu dan menjauhi laranganMu, beri kami kesabaran dalam menghadapi musibah yang menerpa, beri kami kefaqihan dalam agama dan bukakan untuk kami pintu amal shalih sebelum wafat kami. Aamiin.

 


[1] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 304.

[2] Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 308.

Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban

Ust. Badrusalam Lc

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يطلع الله تبارك وتعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Allah Tabaraka wa ta’ala akan melihat kepada makhlukNya pada malam nishfu sya’ban, lalu mengampuni semua makhlukNya (yang beriman) kecuali musyrik dan orang yang sedang bertengkar.”
(Hadits shahih diriwayatkan oleh banyak shahabat yaitu Mu’adz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al Khusyani, Abdullah bin Amru, Abu Musa Al Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Bakar Ash Shidiq, Auf bin Malik dan Aisyah dan riwayat-riwayat ini saling menguatkan. Lihat silsilah shahihah no 1144).

Hadits ini menunjukkan keutamaan malam nishfu Sya’ban..
Namun tidak ada ritual ibadah tertentu di malam itu..

Adapun sholat nishfu sya’ban, haditsnya palsu..
Ibnul Jauzi berkata, “Hadits itu tidak diragukan lagi kepalsuannya..
Lihat kitab al maudlu’aat 2/127-129..

Imam Nawawi menyatakan bahwa sholat nishfu sya’ban adalah bid’ah..
Demikian dalam kitab fatawanya..
Lalu..
Ibadah apa yang bisa kita lakukan di malam itu..
Tentu ibadah apa saja yang disyari’atkan..
Seperti membaca al qur’an, shalat tahajjud dan sebagainya..
Moga kita termasuk yang mendapat ampunan di malam itu..
Amiin..

Berilah 70 Udzur

Ust. Badrusalam LC

Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata, “Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah udzur sampai 70 udzur. Bila kamu tidak mendapatkan udzur, maka katakanlah, “Barangkali ia mempunyai udzur yang aku tidak ketahui.”
(HR Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 8344).

Abdullah bin Muhammad bin Munazil berkata, “Mukmin adalah yang selalu memberi udzur kepada saudaranya, sedangkan munafiq adalah yang selalu mencari kesalahan saudaranya.”
(HR Abu Abrirrahman As Sulami dalam adab ash shuhbah).

Peringatan Isra’ Mi’raj

Ust. Badrusalam, Lc

Cobalah periksa..
Lalu teliti..
Apakah benar isra’ mi’raj terjadi di bulan rajab..
Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
Telah diriwayatkan bahwa telah terjadi di bulan rajab..
Kejadian kejadian besar..
Namun semua itu tidak shahih.. (Lathaiful ma’arif hal. 168)..
Imam Abu Syaamah rahimahullah berkata:
“Sebagian tukang cerita menyebutkan..
Bahwa isra mi’raj terjadi di bulan rajab..
Semua itu menurut ahli jarh watta’dil adalah kedustaan..
(Al Ba’its hal 171)..

Cobalah periksa..
Lalu teliti..
Adakah Rasulullah dan para shahabat merayakan malam isra mi’raj..
Adakah imam yang empat memperingatinya..
Siapakah yang lebih tahu tentang kebaikan?
Bila itu baik, tentu mereka telah lebih dahulu melakukannya..
Ibnul Hajj berkata, “Diantara bid’ah yang mereka ada-adakan..
Peringatan malam dua puluh tujuh rajab..
Yang dianggap malam isra mi’raj..
(Al Madkhal 1/199)..

Tidak memperingati bukan berarti tidak menghormati..
Tapi membuat syari’at yang tidak pernah di izinkan oleh Allah adalah tercela..
Karena Robbuna berfirman:
أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله
“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu (bagi Allah) yang membuat syari’at untuk mereka dari agama sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah?”

 Ditulis oleh Ustadz Badrussalam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

Hafalkanlah !

Ust. Badrusalam Lc

Dari Abu Kabsyah Al Anmaari radliyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga perkara yang aku bersumpah atasnya, aku akan sampaikan, maka hafalkanlah !

-Harta seorang hamba tidak akan berkurang karena sedekah.
-Tidaklah seorang hamba di zalimi, lalu ia bersabar kecuali Allah akan tambahkan kemuliaan untuknya.
-Tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta, kecuali Allah akan membukakan untuknya pintu kefaqiran.

Aku akan menyampaikan sebuah hadits, hafalkanlah ! Dunia itu untuk empat orang:

-Seorang hamba yang diberikan oleh Allah rizki berupa harta dan ilmu, dengannya ia bertaqwa kepada Allah, menyambung silaturahmi dan melaksanakan hak Allah. Ini adalah kedudukan yang paling utama.

-dan hamba diberikan oleh Allah ilmu dan tidak diberikan harta, namun niatnya benar, ia berkata: jika aku mempunyai harta, aku akan berinfaq seperti si fulan, maka dengan niatnya ia mendapat pahala yang sama dengannya.

-dan hamba yang diberikan harta dan tidak diberikan ilmu, ia habiskan hartanya dengan tanpa ilmu, tidak bertaqwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturahmi dan tidak melaksanakan hak Allah, maka ini kedudukan yang paling buruk.

-dan hamba yang tidak diberikan harta tidak juga ilmu, dan ia berkata: jika aku mempunyai harta aku akan beramal (buruk) seperti si fulan, maka dengan niatnya tsb ia mendapat dosa yang sama dengannya.

(HR Ahmad dan at Tirmidzi dan ia berkata: hasan shahih. Dan dishahihkan oleh syaikh al Bani dalam shahih targhib no 16).

 Ditulis oleh Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –