Category Archives: Djazuli Ruhan Basyir

Nyaris Tidak Ada Seorangpun Yang Selamat Dari Hasad…

Ada yang bertanya kepada Imam al-Hasan al-Bashri rohimahullah: “Wahai Abu Sa’id, apakah seorang mukmin bisa bersikap hasad ?

Beliau menjawab : “Betapa kalian telah melupakan anak-anak Ya’qub, yaitu ketika mereka hasad terhadap Yusuf…

Namun, sebesar apapun hasad yang ada di hatimu..
maka ia tidak akan membahayakanmu selama lisanmu tidak mengucapkannya dan tanganmu tidak menurutinya

Syaikhul Islam pun mengomentari perkataan tersebut, seraya berkata :
Maksudnya hasad adalah salah satu penyakit hati yang senantiasa ada dan hanya sedikit orang yang selamat darinya. Karena itulah dikatakan,

“Tidaklah jasad itu bersih dari sifat hasad. Hanya saja orang-orang yang hina menampakkannya, sedangkan orang yang mulia selalu berupaya menyembunyikannya.

Ya Allah…sucikanlah qolbu hamba-Mu ini dari segala penyakit hati..!!

Aamiiin…

Ustadz Djazuli Ruhan Basyir Lc, حفظه الله تعالى

da170714-0646

Orangtua Yang Sukses Mendidik Anak…

Saudaraku!
Ketahuilah, bahwa orangtua yang sukses mengasuh anaknya adalah mereka yang telah berhasil membimbing anaknya menjadi anak yang saleh..

Keberhasilan seorang anak di Dunia tidak bisa diukur oleh sesuatu yang hebat di Dunia..

Bahkan anak yang bersekolah dan bergelar tinggi ternyata tidak bisa menjamin kesalehannya..?!

Anak yang saleh tentu bisa menempatkan kedua orangtuanya pada kedudukan yang tinggi; dengan menghormatinya, menjaga perasaannya dan selalu berusaha membahagiakan hatinya serta senantiasa memberikan yang terbaik kepadanya..

Membahagiakan orangtua tidak harus dengan materi..

Anak yang saleh sangat mengerti apa yang terbaik bagi orang tuanya, bahkan ia selalu memberi yang terbaik bagi orang tua yang dicintainya tanpa harus diminta..

Bukankah ia selalu mendoakan kedua orangtuanya dengan do’a yang sangat dahsyat..

“Wahai Rabbku, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku”

“Wahai Rabbku, rahmatilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku sejak kecil”

Ia selalu berdo’a siang dan malam untuk kedua orangtuanya..

Baginya apa yang terbaik menurut orangtuanya juga terbaik bagi dirinya..

Apa yang membuat bahagia atau sedih mereka, maka perasaan yang sama juga dapat ia rasakan.

Sungguh kebaikan anak yang saleh tidak hanya mengalir selama di Dunia, bahkan diakhirat pun tetap tercurah kepada kedua orangtuanya..

Simak hadist berikut ini..

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Dikatakan kepada anak-anak saleh pada hari kiamat, “Masuklah kalian ke dalam Syurga, seraya mereka berkata,” wahai Rabb, kami tidak akan memasukinya sampai orangtua kami pun turut masuk syurga bersama kami, lalu mereka hanya mendekati syurga,

Dan Allah berkata, “kenapa mereka belum juga masuk ke syurga, masuklah ke dalam syurgaku” mereka pun berkata, “Wahai Rabb, kami tidak mau memasukinya kecuali bersama orangtua kami,

akhirnya Allah pun berfirman, “Masuklah kalian kedalam syurga bersama orangtua kalian”
(HR Ahmad dengan sanad yang hasan)

Ya Allah karuniakanlah kami anak yang saleh!

Ustadz Djazuli Ruhan Basyir Lc, حفظه الله تعالى

Marhaban…

Ustadz Djazuli, حفظه الله تعالى

Bismillah,

Saudaraku..

Dalam hitungan jam ke depan إن شاء الله kita akan kembali memasuki bulan Ramadhan.

Suatu hari Nabi صلى الله عليه وسلم pernah keluar menemui para Shahabatnya dan bersabda:

اتاكم شهر مبارك

Telah datang pada kalian bulan yang diberkahi.
(HR.An Nasaa’i no.2106,dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dlm Shahihut Targhib no.999).

Berdasarkan hadits tadi sebagian Ulama (seperti Imam Suyuthi dalam kitabnya “Wushuul Amaanii fii Ushuulit Tahaanii”,dan juga Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali-rahimahumallah) berpendapat disunnahkannya untuk memberikan ucapan selamat (tahni’ah) ketika memasuki bulan Ramadhan.

Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halaby hafizhahullah, mengatakan sebagian ‘Ulama lainnya juga membolehkan ucapan:

بارك الله لكم في هذا الشهر

Semoga Allah memberkahi kalian semua di bulan ini.

Oleh karenanya, saya juga ikut berdoa:

بارك الله لنا و لكم في هذا الشهر

Semoga Allah memberkahi kita semua semua di bulan ini

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua dalam menjalankan ibadah di bulan yang mulia ini.

Menjadikan siangnya untuk puasa, malamnya untuk Qiyamul lail, membaca Al Qur’an, shadaqah dan juga yang lainnya..

Allahumma Aamiin

Sumber:
(Ceramah Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halaby yang berjudul “Min Fiqhis Shiyaam”).

Kami sekeluarga menghaturkan,

بارك الله لنا و لكم في هذا الشهر

Semoga Allah memberkahi kita semua semua di bulan ini.

Beberapa Tips Agar Terhindar Dari Fitnah Dunia…

Ustadz Djazuli, Lc, حفظه الله تعالى

Berkata Ibnul Qoyyim -rahimahullah-,

Fitnah dunia adalah fitnah yang sangat dahsyat pengaruhnya hingga nyaris tidak ada seorang pun selamat darinya.

Agar tidak terpedaya fitnahnya tersebut, maka perhatikan beberapa tips berikut:

1. Tidak mencintai siapapun dan apapun yang ada di Dunia ini secara berlebihan apalagi sampai mengagungkannya.

2. Jangan terlalu berambisi mengais rejeki dan mencari Dunia sampai harus mengorbankan kewajibannya sebagai hamba Allah (tauhid dan ibadah).

3. Tunaikan kewajiban pada setiap karunia Allah seperti Istri & anak wajib dididik secara islami, harta wajib dizakatkan dan demikian juga pada hal yang lain.

4. Jangan pernah menyalahgunakan nikmat dan amanah Allah tersebut dengan memakainya untuk hal yang haram.

Mengapa Harus Dengki ?

Ustadz Djazuli, حفظه الله تعالى

Tahukah anda orang yang paling tersiksa hatinya?

Orang paling tersiksa batinnya adalah orang yang hatinya dipenuhi rasa dengki

Rasa dengki membuat hidup tidak nyaman, tidur tidak nyenyak serta makan dan minum pun sulit dinikmati..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada para sahabat,” jika kalian menjadi orang sukses, akan seperti apakah keadaan kalian?

Abdurrahman bin ‘Auf menjawab,” Kami akan menjadi hamba yang bersyukur.”

Rasul pun bersabda,”Justru kalian akan menjadi orang yang saling dengki dan saling membenci.” HR Muslim

Ibnul Jauzi berkata, “Aku perhatikan hasad diantara kaum muslimin, bahkan diantara orang yang berilmu, ternyata sumbernya adalah cinta dunia.”

Saudaraku!

Jalani saja hidup ini dengan baik dan wajar serta banyak berserah diri kepada Allah..!

Ingat! Hati ini tercipta hanya untuk beribadah dan mengagungkan Allah..

Jadi, jangan pernah membiarkan apapun yang dapat merusak kekhusyu’an masuk ke dalam hati apalagi sampai bersemayam didalamnya..!

Ya Allah, sucikanlah hati kami dan tanamkanlah ketakwaan didalamnya!

3 Sepuluh Hari Yang Diagungkan Sahabat

Ustadz Djazuli, Lc, حفظه الله تعالى

Tiada yang lebih membahagiakan hati seorang mukmin yang bersih hatinya daripada hal yang menambah ilmu agama & amalnya..

Sebab kebahagiaan hanya terletak dihati, sedangkan kebutuhan hati hanya dapat dipenuhi oleh ikhlas & amal shaleh..

Berkata Abu Utsman AnNahdi, “Para sahabat sangat mengagungkan 3 sepuluh hari (waktu terbaik untuk beramal) :
* sepuluh terakhir Ramadan,
* sepuluh pertama Dzul hijjah &
* sepuluh pertama Muharam.”

Diantara 3 sepuluh hari yang terbaik untuk beramal adalah sepuluh pertama Dzul hijjah..

Sebab Rasul bersabda,”Tiada amal shaleh yang dikerjakan pada hari2 tertentu yang lebih dicintai oleh Allah daripada amal shaleh yang dikerjakan pada 10 hari pertama Dzul hijjah..

Bahkan lebih baik daripada sepuluh hari terakhir Ramadhan

Untuk itu manfatkanlah dengan baik moment yang sangat sakral ini untuk memperbanyak ibadah-ibadah sunnah & melakukan seluruh kebaikan..!

Membandingkan Antara Diri Kita Dan Sahabat

Ustadz Djazuli, Lc, حفظه الله تعالى

Sebagian sahabat atau seluruhnya sudah dijamin syurga..Sedang nasib kita di akhirat masih samar-samar..

Sahabat selalu semangat menuntut ilmu dan beramal..Adapun kita masih terbuai oleh kebodohan dan nyaris mengalami krisis amal..

Masih banyak lagi kelebihan sahabat dari kita..yang membuat kita semakin minder..

Tapi anehnya, ada saja yang bilang, ” jelas saja sahabat seperti itu karena mereka hidup bersama Rasul shallalahu ‘alaihiwasallam.”Tentu saja itu omongan sangat keliru..sebab Abu Jahl & Abu Lahb hidup bersama Rasul namun mereka justru menjadi orang yang paling kufur kepada Allah…!?

Jadi, apa sih yang membuat sahabat bisa sukses dunia akhirat?S

Simak pernyataan Imam Hamdun bin Ahmad, beliau berkata,” Sahabat jauh lebih berkah hidupnya,lebih mulia di sisi Allah dan lebih berwibawa dimata manusia, karena mereka memiliki 3 keistimewaan:

1. Jika mereka berbicara & berjuang, selalu demi agama Islam.

2. Jika mereka berilmu & beramal selalu yang menyucikan hati mereka3. Apapun yang diamalkan oleh hati, lisan & anggota tubuh mereka selalu demi menggapai ridho Ar-Rahman(Sifatusofwah 4/122)

Lalu bagaimana dengan kita..?!

Ya Allah berilah kami taufik & hidayah sehingga kami bisa meningkat iman & amal kami yang mendekati mereka…!

Kunci Sukses Dunia

Ustadz Djazuli, Lc, حفظه الله تعالى

Semua orang pasti ingin sukses..

Beraneka raga cara yang mereka tempuh tak menggapainya..

Namun persepsi mereka tentang sukses juga berbeda-beda..

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam melalui hadiah sahih telah menentukan bahwa sukses di dunia adalah dengan meraih kecintaan & keridhoan Sang Pencipta..

Sukses itu mendapat hal terbaik di dunia lalu bermanfaat di akhirat..

Jika Allah sudah mencintai hambaNya, pasti akan memberikan yang terbaik baginya..

Berkata Muhammad Al-Qurodhi, “Bila Allah akan memberikan hal terbaik di dunia kepada hambaNya maka Allah membuatnya zuhud terhadap dunia, memahami agamanya dengan benar & selalu memperhatikan setiap kekurangan & ‘aib pada dirinya, jika seorang muslim telah memiliki 3 perangai ini berarti ia meraih kebaikan yang berlimpah dunia akhirat.”

Berkata Ibnu Taimiyyah,”apakah anda tahu apa itu zuhud? Zuhud itu kekuatan yang selalu melemah hasrat terhadap setiap hal yang tidak bermanfaat di akhirat.”

Ya Allah lindungilah kami dari fitnah dunia & jadikanlah kami termasuk orang-orang yang zuhud!

Nasehat Tentang Lisan

Ustadz Djazuli, Lc, حفظه الله تعالى

Untaian nasihat ulama salaf tentang lisan.

Saudaraku!

Orang yang beriman itu selalu berpikir sebelum berbicara..

Orang yang tidak bisa menjaga lisannya maka dia tidak akan bisa memperbaiki amalnya..

Tahukah kamu 2 manfaat besar dari menjaga lisan:
1. Hati dan agamanya akan selalu Allah jaga
2. Akan diberi pemahaman yang baik dan kuat oleh Allah

Orang tidak bisa menjaga lisannya akan kehilangan kewibawaannya..

Jangan gunakan lisan kecuali dalam 9 perkara:
1. Untuk bertasbih
2. Untuk bertahmid
3. Untuk bertanya tentang ilmu dan kebaikan
4. Untuk berlindung kepada Allah dari segala keburukan
5. Untuk menegakkan perkara yang ma’ruf
6. Untuk mencegah kemunkaran
7. Untuk membaca Al-qur’an
8. Untuk bertahlil
9. Untuk bertakbir

Semoga bermanfaat!

Apa Bedanya Dirimu Dan Orang Kafir ?

Ustadz Djazuli, Lc, حفظه الله تعالى

Kita mengaku muslim..?!
Namun yang diperhatikan hanya apa yang ada pada diri kita antara ujung rambut dan ujung kuku..

Untuk urusan rambut selalu memilih shampo yang paling cocok..bahkan harus pergi ke salon untuk menata & merawatnya..

Apalagi soal wajah yang lebih repot, dari cara me make-upnya sampai dipusingkan untuk menentukan produk-produk kosmetik yang cocok untuk kulit..
Untuk urusan pakaian juga tidak kalah menarik..

Dan masih banyak lagi hal yang menyita perhatian seorang muslim dan muslimah untuk urusan fisik..

Tapi, pernahkah kita merenung sejenak dan memperhatikan bagaimana kondisi hati dan batin kita?

Apakah hati kita sehat, karena telah mendapatkan gizinya yang cukup dan selalu mendapat asramanya rohani yang memadai?
Realita hidup kita mencatat bahwa banyak dari kita yang hanya rela dirapatkan oleh segala sesuatu yang bersifat fisik..namun hak batin sering terabaikan..

Kalo begitu, lalu apa bedanya diri kita yang mengklaim muslim dengan orang kafir?

Berkata Ibu Mas’ud radhiallahu ‘anhu,” Jika kalian perhatikan, orang kafir itu adalah orang paling sehat dan rapi fisiknya, tapi jiwa mereka memprihatinkan..

Sedangkan orang mukmin itu adalah orang paling sehat hatinya meski ia dalam keadaan sakit parah..demi Allah, bila kalian (wahai muslim) selalu membiarkan hati kalian sakit dan hanya memberi perhatian besar terhadap kesehatan fisik, maka bukan hanya kalian lebih hina daripada orang-orang kafir bahkan kalian lebih hina daripada binatang kumbang.” (Alfawaid, Hal 218)