Category Archives: Fuad Hamzah Baraba’

Kata-Kata Mutiara Tentang Sunnah…

مثل السنة في الدنيا
 مثل الجنة في اﻵخرة
من دخل الجنة في اﻵخرة سلم
ومن دخل السنة في الدنيا سلم
{“ذم الكلام” 4/384}

“Perumpamaan ‘Sunnah’ di dunia itu seperti ‘Surga’ di akherat; barangsiapa masuk surga di akherat maka dia selamat (dari neraka), dan barangsiapa masuk (berpegang teguh) dengan sunnah ketika di dunia maka dia akan selamat. (Dzammul Kalam: 4/384).

كان ابن عون يقول عند الموت:
السنة، السنة
وإياكم والبدع حتى مات
{شرح السنة:126-129}

Ibnu ‘Aun -rahimahullah- mengatakan di akhir hayatnya (ketika ajal menjemputnya) : Berpegang teguhlah dengan sunnah! Berpegang teguhlah dengan sunnah! Dan jauhi bid’ah! hingga dia meninggal. (Syarh as-Sunnah: 126-129).

Mudah-mudahan kita semua diteguhkan di atas sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam hingga akhir hayat kita.

Fuad Hamzah Baraba’, حفظه الله تعالى

Wara’…

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فضل العلم خير من فضل العبادة وخير دينكم الورع

“Keutamaan menuntut ilmu itu lebih dari keutamaan banyak ibadah. Dan sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara’”.(HR. Ath-Thabrani).

Dalam hadits yang mulia ini Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam menjelasakan bahwa, “sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara'”

Apa itu wara’?

Wara’ adalah sifat kehati-hatian dan tidak berani untuk mendekati sesuatu yang haram, termasuk hal-hal yang ragu-ragu atau subhat, dan yang mudah secara berlebih-lebihan.

Seseorang yang memiliki sifat wara’ atau (kehati-hatian) pada dirinya, adalah orang yang baik dalam menjaga agamanya, karena sifat wara’ tersebut melindungi dan menghalanginya dari melakukan hal-hal yang terlarang. Dan akan selalu bersemangat dalam ibadah.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ الناسِ وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ الناسِ وَأَحِب لِلناسِ مَا تُحِب لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحَسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَأَقِل الضحِكَ فَإِن كَثْرَةَ الضحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

“Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi sebaik-baik ahli ibadah. Jadilah orang yang qona’ah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah), maka engkau akan menjadi orang yang paling bersyukur. Senangi sesuatu yang ada pada manusia sebagaimana engkau senang jika itu ada pada dirimu, maka engkau akan menjadi seorang mukmin yang baik. Berbuat baiklah pada tetanggamu, maka engkau akan menjadi muslim sejati. Kurangilah banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan hati”. (HR. Ibnu Majah).

Mudah-mudahan Allah Ta’ala menjadikan kita orang-orang yang memiliki sifat wara’

Fuad Hamzah Baraba’, حفظه الله تعالى

Keutamaan Hari Senin Dan Kamis…

فضائل يوم الاثنين و الخميس

Di hari kamis yang berbahagia ini, marilah kita berusaha mencermati keutamaan hari ini!

Pada hari senin dan kamis amalan-amalan hamba diangkat kepada Allah untuk dilihat dan diperiksa, oleh karena itu, dianjurkan untuk berpuasa dan memperbanyak amal shaleh, sebagaimana Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam senang berpuasa sunnah pada dua hari tersebut.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

“Amalan-amalan (hamba) diperlihatkan (kepada Allah) pada hari senin dan kamis, maka aku senang jika amalanku diperlihatkan (kepada-Nya) dan aku sedang berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi: 747)

Adapun keutamaan lain di hari hari ini adalah, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

“Pintu-pintu surga dibuka pada hari senin dan kamis, maka akan diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, kecuali seseorang yang memiliki permusuhan antara dirinya dengan saudaranya. Maka akan dikatakan, “Tundalah (pengampunan dosa dan kesalahan mereka berdua), sehingga mereka berdua berdamai. Tundalah (pengampunan dosa dan kesalahan mereka berdua), sehingga mereka berdua berdamai. Tundalah (pengampunan dosa dan kesalahan mereka berdua), sehingga mereka berdua berdamai.” (HR. Muslim: 2565).

Saudaraku yang berbahagia, kalo kita mencermati hadits yang mulia di atas, maka kita dapati bahwa pengampunan dosa dan kesalahan pada hari senin dan kamis itu jika; orang tersebut mentauhidkan Allah Ta’ala, dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun. Atau tidak bermusuhan dengan saudaranya sesama muslim.

Oleh karena itu wahai saudaraku, hilangkan permusuhan dan kebencian kepada saudaramu, terlebih di hari ini, agar kita mendapatkan keutamaan dari Allah Ta’ala dengan diampuni dosa-dosa dan kesalahan kita.

Mudah-mudahan Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapatkan kutamaan itu, dan mengampuni dosa-dosa dan kesalahan kita semua…

آمين يا رب العالمين

Fuad Hamzah Baraba’, حفظه الله تعالى

Faktor Dan Unsur Terpenting Untuk Meraih Kebahagiaan…

Fuad Baraba’, حفظه الله تعالى

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl:97).

Di dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala mengabarkan kepada kita semua, dan menjanjikan bagi siapa saja yang mampu memadukan antara iman dan amal shaleh akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan akherat.

Karena iman dan amal shaleh keduanya merupakan komponen dan faktor terpenting untuk memperoleh kebahagiaan.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami iman dan amal shaleh…

Teman…

Fuad Baraba’, حفظه الله تعالى

Pepatah Arab mengatakan:

الصاحب ساحب

“Teman itu bisa menarik”

Tergantung, bisa menarik kepada kebaikan, atau menarik kepada keburukan

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Seseorang itu tergantung atas agama teman dekatnya, maka perhatikanlah olehmu, siapa yang menjadi teman dekat(nya).” (HR. Ahmad)

Pertemanan itu memberi dampak yang sangat luar biasa, lihatlah bagaimana paman Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam Abu Thalib dihalang-halangi oleh teman-teman dekatnya yaitu Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Jahal di akhir hayatnya ketika Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam membimbingnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, sehingga Abu Thalib tidak sempat mengucapkan dua kalimat syahadat diakhir hayatnya.

Oleh karena itu selektiflah dalam berteman, terlebih untuk menjadikannya teman dekat.

Dan teman dekat yang juga sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan seseorang adalah pasangan hidupnya, suami atau istri.

Maka jadilah teman dekat yang mengajak pada kebaikan, bukan mengajak kepada keburukan.

Mudah-mudahan Allah Ta’ala selalu membimbing kita, dan menganugerahkan kepada kita semua teman dekat yang selalu mengingatkan kita kepada akherat

آمين يا رب العالمين

Keutamaan Berkunjung Kepada Orang Sakit…

Fuad Baraba’, حفظه الله تعالى

Mengunjungi dan membesuk orang sakit merupakan kewajiban setiap muslim, terutama orang yang memiliki hubungan dengan dirinya, seperti kerabat dekat, tetangga, saudara yang senasab, sahabat dan lain sebagainya.

Menjenguk orang sakit termasuk amal shalih yang paling utama yang dapat mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala, kepada ampunan, rahmat dan SorgaNya.

Mengunjungi orang sakit merupakan perbuatan mulia, dan terdapat keutamaan yang agung, serta pahala yang sangat besar, dan merupakan salah satu hak setiap muslim terhadap muslim lainnya.

Rasululloh صلى الله عليه و سلم bersabda:

إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِيْ خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ.

“Apabila seseorang menjenguk saudaranya yang muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).

Terakhir, hendaknya orang yang membesuk mendoakan orang yang sakit:

لاَ بَأْسَ طَهُورٌ اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ

“Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, Insya Alloh.” (HR. al-Bukhari).

Atau doa:

أَسْأَلُ اللَّهَ العَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

“Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, agar menyembuhkan penyakitmu.” (HR. at-Tirmidzi, dan Abu Daud).

Harapan Dan Cita-Cita Dalam Berumah Tangga…

Fuad Hamzah Baraba’, حفظه الله تعالى

Setiap orang memiliki harapan dan cita-cita, termasuk dalam membina rumah tangga.

Ada yang ingin mencari pasangan yang gantengnya selangit…

Karena dia suka itu, dan akan membanggakannya… Namun ingat keelokan wajah tidak akan bertahan lama

Ada yang ingin mencari pasangan anak keturunan orang terpandang…

Karena dengan itu dia bisa menaikkan derajatnya di hadapan manusia… Namun ingat kemuliaan sesorang tergantung dengan ketakwaannya

Allah Ta’ala berfirman:

إن أكرمكم عند الله أتقاكم

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa dia antara kalian”. (QS. Al-Hujurat:13).

Ada yang ingin mencari pasangan yang kaya raya…

Karena dia mengira dengan banyaknya harta hidupnya akan bahagia

Padahal kebahagiaan hakiki hanya dapat diraih dengan keimanan kepada Allah Ta’ala

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan tiga tanda kebahagian:

1. Bersyukur
2. Sabar
3. Beristighfar

Dan keadaan seseorang akan selalu berputar, antara mendapat karunia yang melimpah, di timpa musibah atau terjerumus dalam lubang dosa.

Seorang yang beriman tatkala memperoleh sebuah kenikmatan, ia mengetahui bahwa itu semua datangnya dari Allah ‘Azza wa jalla, kemudian dia memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

Jika ditimpa musibah, dia yakin
bahwa itu semua atas kehendak Allah ‘Azza wa jalla, lalu dirinya ridha dan sabar.

Dan bila pada suatu waktu ia terkalahkan oleh nafsunya dan terjatuh ke dalam jurang dosa, ia menyadari bahwa dirinya telah melanggar batasan-batasan Allah ‘Azza wa jalla dan kemudian segera bertaubat dan beristighfar.

Ketiga hal tersebut menunjukan, bahwa kebahagian hanya dapat diraih dengan beriman kepada Allah ‘Azza wa jalla.
Keimanan merupakan tempat bersandar seorang Muslim pada setiap keadaan.

Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا لأمرِ المؤمنِ إِنَّ أمْرَه كُلَّهُ لهُ خَيرٌ وليسَ ذلكَ لأحَدٍ إلا للمُؤْمنِ إِنْ أصَابتهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فكانتْ خَيرًا لهُ وإنْ أصَابتهُ ضَرَّاءُ صَبرَ فكانتْ خَيرًا

“Sungguh sangat menakjubkan perkara (kondisi) seorang Mukmin. Seluruh perkara (kondisinya) baik, dan itu tidak ada pada seseorang kecuali pada seorang Mukmin. Jika mendapat nikmat, ia pun bersyukur dan itu adalah terbaik baginya. Jika ditimpa musibah, ia bersabar dan itulah yang terbaik bagi dirinya. (HR. Muslim)

Dan ada pula yang ingin mencari pasangan yang pandai agamanya…

Karena dia ingin belajar dan memperdalam agamanya, dan paling tidak dia akan dibimbing untuk memahami agamanya dan mengamalkannya

Dan itu merupakan hal yang ada pada naluri setiap kita, namun…

Ingatlah pesan Nabi kita صلى الله عليه و سلم dalam hal ini, yang mengigatkan kita untuk mencari orang yang baik agama dan akhlaknya,

وقد قال صلى الله عليه وسلم: ” إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير” رواه الترمذي وغيره.

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: “Apabila datang kepada kalian seorang pemuda yang kalian sukai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia dengan putri kalian. Kalau tidak, akan terjadi fitnah (bencana) dan kerusakan yang besar di muka bumi”. (HR. at-Tirmidzi).

Maka dari itu mintalah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala agar menetapkan hati kita untuk selalu ta’at kepada-Nya dan mintalah agar pasangan kita selalu mengingatkan dan membimbing kita ke jalan-Nya dan untuk selalu ta’at Kepada-Nya.

Mudah-mudahan Allah selalu membimbing kita semua.

Keutamaan Qobliyah Dzuhur Dan Ba’diyahnya…

Fuad Baraba, حفظه الله تعالى

Dari Ummu Habibah Ummul Mukminin radhiallah ‘anha berkata: aku mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من حافظ على أربع قبل الظهر و أربع بعدها حرمه الله تعالى على النار

“Barangsiapa menjaga empat raka’at sebelum dzuhur dan empat raka’at setelahnya, maka Allah Ta’ala haramkan neraka atasnya.” (HR. Ahmad: 2/117, Abu Daud: 1271, at-Tirmidzi: 430, an-Nasai: 3/266, Ibnu Majah: 1160). Lihat Hasyiah syekh Bin Baz rahimahullah atas Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam: 1/255.

Begitu besar pahala bagi orang-orang yang selalu rutin melaksanakan shalat sunnah sebelum dan setelah dzuhur, yang masing-masingnya empat raka’at.

Hal yang ringan, namun banyak dilalaikan oleh kaum muslimin.

Dengan ini hendaklah para pengurus masjid, memberikan kesempatan bagi jama’ah yang akan melaksanakan sunnah ini, dengan memberikan waktu yang cukup, dan tidak terburu-buru untuk mengumandangkan iqomah.
Mudah-mudahan kita semua diberi kekuatan untuk bisa selalu menjaga sunnah ini, sehingga bisa mendapatkan keutamaannya.

آمين يا رب العالمين

Do’a Pelebur Dosa

Ustadz Fuad Hamzah Baraba’, Lc, حفظه الله تعالى

Siapakah di antara kita yang tidak pernah bersalah? Siapakah di antara kita yang tidak pernah melakukan dosa?

Jawabnya pasti tidak ada. Karena kita adalah manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa.

Namun Rasulullah صلى الله عليه و سلم mengajarkan kepada kita sebuah doa, yang apabila kita membacanya maka dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah Ta’ala.

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:

“Barangsiapa yang mengucapkan:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الذِيْ لاَ إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَي الْقَيوْمُ وَ أَتُوْبُ إِلَيْهِ

“Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung Yang tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri dan aku bertaubat kepada-NYA”, Maka Allah akan mengampuni dosanya meskipun ia pernah lari dari medan perang”. (HR, Abu Daud:1517, At-Tirmidzi:3577 dan al-Hakim:I/511. Lihat shahih At-Tirmidzi:III/182 no:2831).

Lari dari medan perang merupakan salah satu dosa besar yang membinasakan, namun dengan membaca doa ini Allah Ta’ala masih mengampuninya.

Ini menunjukan akan luasnya ampunan dan maghfirah Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya.

Marilah kita memperbanyak doa ini, agar dosa-dosa kita diampuni Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Menerima taubat hamba-Nya.

آمين يَا رَبَّ العَـــالَمِيْنَ

Keimanan Sumber Kebahagiaan

Ustadz Fuad Hamzah Baraba’, Lc, حفظه الله تعالى

Kebahagian adalah dambaan setiap orang. Tak seorangpun yang ingin hidup sengsara.

Kebahagiaan merupakan sebuah cita-cita yang semua orang berusaha untuk meraihnya.

Lalu bagaimana meraih kebahagian yang hakiki?

Keimanan kepada Allah merupakan faktor utama dalam meraih kebahagiaan.

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan 3 tanda kebahagian:
1. Bersyukur
2. Sabar
3. Beristighfar

Keadaan seseorang akan selalu berputar, antara mendapat karunia yang melimpah, di timpa musibah atau terjerumus dalam lubang dosa.

Seorang yang beriman tatkala memperoleh sebuah kenikmatan, ia mengetahui bahwa itu semua datangnya dari Allah ‘Azza wa jalla, kemudian dia memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

Jika ditimpa musibah, dia yakin
bahwa itu semua atas kehendak Allah ‘Azza wa jalla, lalu dirinya ridha dan sabar.

Dan bila pada suatu waktu ia terkalahkan oleh nafsunya dan terjatuh ke dalam jurang dosa, ia menyadari bahwa dirinya telah melanggar batasan-batasan Allah ‘Azza wa jalla dan kemudian segera bertaubat dan beristighfar.

Ketiga hal tersebut menunjukan, bahwa kebahagian hanya dapat diraih dengan beriman kepada Allah ‘Azza wa jalla.

Keimanan merupakan tempat bersandar seorang Muslim pada setiap keadaan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
” Sungguh sangat menakjubkan perkara (kondisi) seorang Mukmin. Seluruh perkara (kondisinya) baik, dan itu tidak ada pada seseorang kecuali pada seorang Mukmin. Jika mendapat nikmat, ia pun bersyukur dan itu adalah terbaik baginya. Jika ditimpa musibah, ia bersabar dan itulah yang terbaik bagi dirinya. (HR. Muslim)

Semoga kita dapat meraih kebahagian yang hakiki.