Category Archives: Kholid Syamhudi

Saat Galau Melanda…

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yg Engkau miliki, yg Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yg Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yg Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yg Engkau simpan dalam ilmu ghaib yg ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku”.

Maka akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan.”

Tiba-tiba ada yg bertanya: “Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do’a ini (kepada orang lain)”?

Maka Rasulullah menjawab: “Ya, selayaknya bagi siapa saja yg mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yg lain)”.

(HR. Ahmad no.3712 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)

Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Hati Yang Sejuk…

Ustadz Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Saudaraku yang baik hatinya, Semoga hati kita sekalian selalu disinari kesejukan, keselamatan dan kebahagiaan.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku”. Maka akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan.”

Tiba-tiba ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do’a ini (kepada orang lain)”? Maka Rasulullah menjawab: “Ya, selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain)”.
(HR. Ahmad no.3712 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)

Hukum Qunut Witir…

Ustadz Kholid Syamhudi, Lc, حفظه الله تعالى

Secara umum, para ulama memandang qunut dalam Witir disyariatkan, namun mereka berselisih tentang hukumnya, wajib ataukah sunnah? Apakah juga disunnahkan sepanjang tahun setiap malam, ataukah hanya saat Ramadhan saja atau di akhir Ramadhan? [Shahîh Fikih Sunnah, 1/390]

Yang râjih –wallahu a’lam- qunut Witir disunnahkan di sepanjang tahun, inilah pendapat madzhab Hambali dan pendapat Ibnu Mas’ud, Ibrahiim, Ishâq dan ash-hab ar-ra’yi. Hal ini berdasarkan amalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana terdapat dalam riwayat Ubai bin Ka’ab Radhiyallahu anhu, ia berkata:

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوْتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ. أخرجه ابن ماجه.

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan Witir lalu melakukan qunut sebelum ruku`. [HR Ibnu Mâjah, dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Irwa` al-Ghalil 2/167, hadits no. 426].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada al-Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu anhu untuk mengucapkan doa qunut, sebagaimana terdapat dalam perkataan beliau Radhiyallahu anhu :

عَلَّمَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُوْلُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ: ” اللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ ؛ إِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ ، وَ إِنَّهُ لاَ يُذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepadaku doa yang aku ucapkan pada Witir: “Ya Allah, tunjukilah aku sebagaimana Engkau berikan petunjuk (kepada selainku), berilah keselamatan sebagaimana Engkau berikan keselamatan (kepada selainku), jadikanlah aku wali-Mu sebagaimana Engkau jadikan (selainku) sebagai wali, berilah keberkahan kepadaku pada semua pemberian-Mu, lindungilah aku dari kejelekan takdir-Mu; sesungguhnya Engkau mentakdirkan dan tidak ditakdirkan, dan sesungguhnya tidak terhinakan orang yang menjadikan Engkau sebagai wali, dan tidak mulia orang yang Engkau musuhi. Maha suci dan Maha tinggi Engkau, wahai Rabb kami”. [HR Abu Dawud, dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Irwa` al-Ghalil, 2/172].

Demikian juga para sahabat yang meriwayatkan shalat Witir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka tidak menyebutkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berqunut. Seandainya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya terus-menerus, tentulah para sahabat akan menukilkannya. Memang ada sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yaitu Ubai bin Ka’ab Radhiyallahu anhu yang meriwayatkan qunut Witir Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Hal ini menunjukkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang melakukannya, dan juga berisi dalil bahwa qunut dalam Witir tidak wajib.[Shifat Shalat Nabi n , Syaikh al-Albâni, hlm. 179]

Dalil lainnya, yaitu amalan sebagian sahabat dan Tabi’in yang tidak melakukan qunut Witir, dan sebagian lainnya hanya melakukannya pada bulan Ramadhan. Juga ada sebagian lainnya melakukan qunut Witir sepanjang tahun.[Lihat riwayat-riwayat dari mereka dalam kitab Mukhtashar Kitab al-Witri, hlm.118-129]

Perbedaan ini disampaikan Imam at-Tirmidzi dalam pernyataan beliau: “Para ulama berbeda pendapat dalam qunut Witir. ‘Abdullah bin Mas’ud z memandang qunut Witir dilakukan sepanjang tahun dan memilih melakukan qunut sebelum ruku’. Ini merupakan pendapat dari sebagian ulama dan pendapat Sufyaan ats-Tsauri rahimahullah, Ibnu al-Mubarak rahimahullah, Ishaaq rahimahullah dan Ahlu Kufah. Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu , bahwa beliau tidak qunut kecuali di separuh akhir dari bulan Ramadhan dan melakukannya setalah ruku`. Inilah pendapat sebagian ulama, dan menjadi pendapat asy-Syafi’i rahimahullah dan Ahmad rahimahullah”.[Sunan at-Tirmidzi, 2/329]

Semua ini menunjukkan qunut Witir TIDAK WAJIB. Sedangkan yang menunjukkan dilakukan di sepanjang tahun, yaitu keumuman amalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak dijelaskan kekhususannya dalam bulan tertentu. Ini menunjukkan, boleh dilakukan sepanjang tahun, dan LEBIH UTAMA LAGI TIDAK TERUS-MENERUS MELAKUKANNYA sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Inilah yang dirâjihkan Syaikh al-Albâni dalam Shifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .[Shifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , hlm. 179]

Wallahu a’lam.

Ref: http://almanhaj.or.id/content/2592/slash/0/bagaimana-qunut-witir-dilakukan/

NB : Bacaan do’a dalam latin

ALLAUMMAH-DINII FIIMAN HADAYTA,

WA ‘AAFINII FIIMAN ‘AAFAYTA,

WA TAWALLANII FIIMAN TAWALLAYTA,

WA BAARIK II FIIMAA A’THOYTA,

WA QINII SYARRO MAA QODHOYTA,

INNAKA TAQDHII WA LAA YUQDHO ‘ALAYKA,

WA INNAHU LAA YADZILLU MAN WALAYTA,

WA LAA YA’IZZU MAN ‘AADAYTA,

TABAAROKTA WA TA’AALAYTA,

WA LAA MAN-JA-A MINKA ILLA ILAYKA

 

Di Do’a-kan Malaikat, Mau ?

Ustadz Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Saudaraku yang budiman, menjenguk orang sakit adalah amalan khusus yang bisa dilakukan seorang hamba sehingga malaikat mendoakannya,

Adakah saudara kita hari ini terbaring sakit, maka kunjungi dan jenguklah, senangkan dan hibur hatinya serta doakan kesembuhan untuknya, maka ini adalah amalan mulia dan bisa menjadi sebab malaikat mendoakan kita.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh”

(Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib rodhiAlloohu anhu, Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

Begini Teladan Salafus Shalih Dalam Menundukkan Pandangan Kepada Wanita

Ustadz Kholid Syamhudi, Lc, حفظه الله تعالى

طلب داود بن عبد الله بعض أمراء البصرة فلجأ إلى رجل من اصحابه وكان منزله أقصى البصرة. وكان الرجل غيورا فأنزله منزلة وكانت له امراة يقال لها زرقاء وكانت جميلة فخرج الرجل في حاجة وأوصاها أن تلطفه وتخدمه فلما قدم الرجل قال له كيف رايت الزرقاء وكيف كان لطفها بك قال من الزرقاء قال أم منزلك قال ما أدري أزرقاء هي أم كحلاء فأتاها زوجها فتناولها وقال أوصيتك بداود أن تلطفيه وتخدميه فلم تفعلي قالت أوصيتني برجل أعمى والله ما رفع طرفه إلي

“Daud bin ‘Abdillah mencari sebagian pejabat Bashrah. Dia pun pergi kepada seorang sahabatnya yang tempat tinggalnya di ujung Bashrah. Ia seorang yang pencemburu. Maka sahabatnya Daud tersebut memperlakukan Daud sesuai dengan kedudukannya.

Sahabatnya tersebut punya seorang istri cantik yang biasa dipanggil Zarqa’. (Setelah menyambut Daud) sahabatnya tadi keluar sebentar untuk suatu keperluan. Ia berpesan kepada istrinya supaya bersikap ramah dan berkhidmat kepada tamunya (yaitu Daud).

Ketika orang itu datang, ia bertanya kepada Daud, “Bagaimana kamu menilai Zarqa’ dan bagaimana keramahannya kepadamu?”

Daud balik bertanya, “Siapakah Zarqa’?”

Ia menjawab, “Nyonya rumah yang kamu singgahi ini!”

Daud mengatakan, “Aku tidak mengetahui apakah Zarqa’ ataukah Kahla.”

Maka, orang itu pun mendatangi Zarqa’ lalu memarahinya dan mengatakan, “Aku berpesan kepadamu supaya bersikap ramah kepada Daud dan berkhidmat kepadanya, tetapi kamu tidak melakukan demikian?”.

Zarqa’ menjawab, “(Suamiku) engkau berpesan kepadaku supaya berkhidmat kepada orang yang ‘buta’. Demi Allah, ia tidak mengangkat pandangannya kepadaku sedikit pun”

(dari kitab Dzammul Hawa, 89)

Ref:
https://www.facebook.com/muslimah.or.id/posts/10154538792955195

Di Do’akan Malaikat

Ustadz Kholid Syamhudi, Lc, حفظه الله تعالى

Saudaraku yang budiman,
Adalah amalan khusus yang bisa dilakukan seorang hamba sehingga Malaikat mendoakannya,
Adakah saudara kita hari ini terbaring sakit, maka kunjungi dan jenguklah saudara kita, senangkan dan hibur hatinya serta doakan kesembuhan untuknya, maka ini adalah amalan mulia Dan bisa menjadi sebab Malaikat mendoakan kita.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh”

(Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib rodhiAlloohu anhu, Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)
 
Ustadz Kholid Syamhudi Lc

Sebarkan
Semoga bermanfaat
Jazaakumullah khairan

http://klikuk.com/siapa-saja-yang-didoakan-oleh-malaikat/

Orang Ikhlas Adalah Yang Senang Dinasehati

Ustadz Kholid Syamhudi, Lc, حفظه الله تعالى

Orang yang mengharapkan wajah Allah tidak takut dikritik kesalahannya dalam berkata dan tidak khawatir ditunjukkan kebatilan perkataannya, bahkan ia menyintai kebenaran darimana pun datangnya dan menerima petunjuk (Huda) dari orang yang memberinya petunjuk.

Kekerasan dalam kebenaran dan nasehat lebih ia cintai dari bermanis muka atas perkataan buruk.

Temanmu adalah yang meluruskanmu secara jujur bukan yang selalu membenarkanmu.

(Al-Awaashim walQawaashim, karya ibnul Wazir 1/223).

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Larangan Menampilkan Foto-Foto Korban Kezaliman Kafir

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Syaikh Shalih Fauzan memfatwakan larangan menampilkan foto-foto korban kezaliman kafir.

“Perkara ini tidak lazim. Tidak boleh menunjukkan foto-foto korban luka. Akan tetapi seharusnya umat Muslim diberitahu untuk memberi sumbangan pada saudara-saudaranya. Dan mereka diberi informasi bahwa saudara-saudaranya berada dalam keadaan yang buruk. Dan bahwa hal-hal buruk terjadi dari perbuatan Yahudi tanpa harus menunjukkan pada mereka foto dan gambar korban luka. Karena hal ini melibatkan penggunaan pembuatan gambar.

Dan ini juga melibatkan memikul beban yang Allah tidak perintahkan dengannya. Dan ini juga melemahkan kekuatan umat Muslim. Karena saat kau menunjukkan pada orang-orang gambar umat Muslim yang telah dipotong-potong (mutilasi) atau dengan bagian tubuh mereka terpotong. Ini membuat takut Umat Muslim dan membuat mereka takut akan perbuatan musuh-musuh.

Dan yang wajib adalah bagi muslim untuk tidak menunjukkan kelemahan. Dan mereka tidak menunjukkan tragedi/musibah-musibah. Dan mereka tidak menunjukkan hal-hal ini.

Seharusnya mereka menutupi hal-hal ini. Sehingga tidak melemahkan kekuatan umat Muslimun.”
(Syaikh Shalih Al-Fauzan)

From the lecture: “At-Tawheed, the Key to Happiness in This Life and the Hereafter”, by Ash-Shaikh Saalih Al-Fawzaan, as conveyed in the book “Al-Ijaabaaat ul-Muhimmah feel-Mashaakil il-Mulimmah”

Ref:
Showing the Wounds of the Muslims in Palestine and Other Places by Shaykh Saalih al Fawzaan:
http://www.salafitalk.net/st/viewmes…m=6&Topic=5825
————–

Hukum Jama’ Qoshor

Ustadz Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Pertanyaan :
Bismillah, Ustadz, ana safar lebih dari tiga hari di suatu tempat. Apakah lebih utama ana sholat fardu berjamaah bersama imam di masjid untuk setiap waktu sholat atau lebih utama ana menjalankan jama’ dan qoshor?

Penanya : Mubarok – Semarang
Email: mubaroxxx@plasa.com

Jawaban :
Seorang musafir yang bepergian disyari’atkan mengqashar sholat. Artinya meringkas sholat yang empat rakaat menjadi dua rakaat sedangkan yang tiga rakaat tetap seperti sedia kala. Selama berada dalam hukum safar maka diperbolehkan melakukannya apabila sholat sendiri atau menjadi imam tanpa dibatasi jumlah hari tertentu.

Namun bila menjadi makmum kepada imam yang mukim maka menyempurnakannya empat rakaat sama dengan imamnya. Demikian juga ketika ia menjadi masbuq dan hanya menjumpai imam dua rakaat, mak ia harus menyempurnakannya menjadi empat rakaat sama dengan imamnya.

Sedangkan jama’ tidak harus dilakukan bersama qashar, karena keduanya berbeda hukum. Memang kadang keduanya berkumpul pada musafir yang membutuhkan untuk menjama’ sholat. Menjama’ dua sholat disyari’atkan kalau ada kebutuhan atau masyaqqah (kesusahan) untuk melaksanakan sholat pada setiap waktunya. Jadi tidak terbatas hanya pada musafir.

Tentang permasalahan yang saudara kemukakan, perlu melihat kepada keadaan saudara ketika dalam safar tersebut. Bila tidak ada kesusahan atau masyaqqah untuk hadir dimasjid berjamaah maka berjamaah bersama imam di Masjid lebih utama. Apabila ada kebutuhan atau keperluan dan merasakan kesusahan (masaqqah) bila sholat setiap waktu bersama imam masjid maka lebih baik menjama’nya. Hal ini karena Allah taala menginginkan kemudahan kepada hamba-Nya.

http://klikuk.com/hukum-jamaqoshor/

View