Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Temukan Rahasia Rejeki Anda…

Sobat, di saat krisis seperti saat ini, bisa jadi anda benar benar sedang pusing karena sedang berjuang menemukan rahasia rejeki yang tak kunjung anda dapatkan. Pelatihan, lembur, dan kerja sampingan telah banyak anda ikuti. Namun demikian, tetap saja rejeki anda tidak kunjung bertambah apalagi berlipat.

Tenang sobat, buang jauh jauh galau dan was was anda, karena sejatinya rahasia rejeki anda telah ada di tangan anda.

Anda tidak percaya?

Coba ingat kembali semasa anda berada dalam kandungan ibu anda; siapakah yang mengantarkan rejeki kepada anda ? Ibu andakah? atau ayah anda?

Ibu anda hanya memasukkan makanan ke dalam mulutnya, dan ayah anda juga hanya menyediakan makanan untuk disantap oleh ibu anda.

Dan ingat pula saat ini, siapakah yang menyediakan udara yang anda hirup, sinar matahari yang menerangi dunia anda, gelapnya malam yang menyelimuti anda?

Dan siapakah yang menjadikan darah anda mengalir membawa gizi dan oksigen menyebar ke seluruh tubuh anda?

Adakah anda dengan sengaja melakukan hal itu, atau semua itu terjadi tanpa ada kuasa dan daya sedikitpun dari anda?

Ya semua itu hanya ada satu jawaban, yaitu: Allah Ta’ala yang mengatur semua, tanpa perlu anda pinta dan tanpa sedikitpun imbalan yang engkau berikan kepada-Nya.

Bila hingga kini ternyata Allah terus memberi anda rejeki walau tanpa anda pinta, maka mungkinkah Allah menghalangi rejeki anda sedangkan anda sungguh-sunguh memintanya? ِAllah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberi rezeki kepadamu; maka mintalah rejeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya lah kamu akan dikembalikan. (Al ‘Ankabut 17)

Sobat! renungkan ayat di atas, ada tiga hal yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan:
1) pintalah rejeki dari sisi Allah,
2) dan beribadahlah kepada-Nya dan selanjutnya tentu
3) bersyukurlah.

Tiga sejoli, meminta alias berdoa, beribadah, itulah tujuan hidup termasuk dari memiliki rejeki, dan bersyukur, inilah tiga kiat menurunkan rejeki dari sisi Allah Ta’ala.

Selamat mencoba, semoga Allah melimpahkan rejeki anda, bukan hanya di dunia namun hingga di surga, amiin.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Anda Orang Orang Hebat ? Camkan Yang Satu Ini…

Sobat! Barang kali saat ini anda dijangkiti penyakit angkuh dan sombong, karena anda merasa sebagai orang berpangkat, kaya raya, pandai dan kuat. Namun sadarkah anda bahwa semua itu sejatinya tiada arti dan tiada gunanya bila anda hidup seorang diri atau tiada orang yang membutuhkan kepada pangkat, harta dan ilmu yang anda miliki.

Karenanya, bermasyarakatlah dengan baik, agar kahidupan anda menjadi nyaman, bahagia, dan kebutuhan anda dapat terpenuhi degan sempurna.

Coba bayangkan, betapa susahnya hidup anda, bila semua manusia sama dengan diri anda. Allah berfirman:

(وَمِن كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ) الذاريات 59

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” Ad Dzariyaat 49.

Saudaraku, selama mengarungi bahtera kehidupan di dunia ini, janganlah pernah ada rasa sombong, atau congkak dalam diri anda.
Anda dan peran anda menjadi berarti karena adanya orang lain yang membutuhkan kepada diri dan peran anda. Mustahil bagi anda dapat hidup tanpa membutuhkan kepada kehadiran dan peranan orang lain. Bila anda adalah orang kaya, maka kekayaan anda tidak ada gunanya bila tidak ada orang miskin, karena semakin bertambah kaya, anda semakin bertambah butuh kepada jasa dan peran orang lain.

Andai, anda adalah seorang yang berilmu, maka ketahuilah bahwa ilmu anda hanya berguna bila banyak orang bodoh di sekeliling anda, yang menghargai ilmu anda, dan ternyata andapun membutuhkan kepada keberadaan dan peran mereka.

Dan andai anda adalah seorang bangsawan yang berdarah biru dan berpangkat tinggi, maka ketahuilah bahwa kedudukan anda hanya akan berarti bila di sekitar anda didapatkan banyak rakyat jelata. Renungkanlah saudaraku fakta ini, agar anda dapat menyingkirkan noda-noda keangkuhan tahta dan harta.

Pahamilah hal di atas, niscaya anda memahami mengapa Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa pandai bermasyarakat,karena dengan bermasyarakat kemaslahatan semua orang menjadi mudah diwujudkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(المؤمن الذي يخالط الناس و يصبر على أذاهم خير من الذي لا يخالط الناس و لا يصبر على أذاهم)

“Seorang mukmin yang tetap bergaul dengan masyarakat sedangkan ia dapat bersabar menghadapi gangguan mereka, lebih baik dibanding seorang mukmin yang tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak tabah menghadapi gangguan mereka.” Riwayat At Tirmizy dan lainnya.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Kafir Adil Atau Muslim Koruptor…

Akhir akhir ini, sering kita mendengar pernyataan: “Kafir Adil Lebih Baik Dibanding Muslim Korup”.

Pernyataan di atas sekilas terdengar cerdas, namun sejatinya bila dipikirkan lebih mendalam, niscaya anda mendapatkan pernyataan di atas jauh menyimpang dari.kebenaran, dan sekaligus bentuk dari pembodohan, kemunduran dan kemalasan berpikir.

Di saat yang sama, perbandingan di atas bukti telah hilangnya nilai nilai keadilan dari diri pelakunya.

Mendengung dengungkan keadilan, namun ternyata keadilan adalah hal pertama yang mereka dustakan.

Seharusnya membuat perbandingan tuh yang adil dan obyektif sebagaimana berikut ini:
Milih Muslim adil atau kafir adil ?
Milih muslim korupsi atau kafir korupsi ?
Milih muslim adil atau kafir korupsi ?
Milih muslim korupsi atau kafir adil ?

Sebagai orang yang beriman tentu anda tidak mungkin salah pilih. Karena anda memilih berdasarkan ilmu dan iman bukan berdasarkan NAFSU dan kebodohan.

Bagi yang mengedepankan nafsu apalagi ditambah dengan kebodohan maka bisa jadi mereka salah pilih.

Namun bagi anda orang yang beriman dan cinta kepada agamanya, pasti anda memilih muslim dalam segala kondisi, sampaipun dalam kondisi yang terburuk, yaitu bila pilihannya muslim koruptor melawan kafir adil, karena selamatnya agama dirinya dan juga agama masyarakatnya lebih penting dibanding segala urusan, sampaipun ia harus kehilangan dunia beserta seluruh isinya.

Sekali lagi kata kunci memilihnya ialah memilih atas dasar ilmu dan iman dan bukan karena NAFSU dan KEBODOHAN.

Sebagaimana dalam segala urusan, orang yang beriman selalu mempertimbangkan keuntungan dan kerugian dalam aspek agamanya ?

Orang islam bertindak berucap selalu mempertimbangkan manfaat di dunia juga di akhirat, madhorot di dunia dan juga di akhirat.
Dan bila keduanya tidak bisa digabungkan, maka pertimbangan akhirat pasti lebih didahulukan.

Ya, memang dalam segala urusan termasuk dalam urusan politik, aspek market atau pasar sangat penting.

Bagi yang marketnya adalah kalangan terpelajar maka ia berkepentingan memperbesar jumlah marketnya, memperbanyak sekolah, perguruan tinggi agar basis marketnya bertambah besar bukan malah mengerucut.

Sedangkan orang yang basis dukungannya wong cilik dan rakyat kecil, maka disadari atau tidak ia berkepentingan menjaga basis marketnya agar tetap eksis dan kalau bisa bertambah besar dan semakin banyak.

Meningkatnya tarap kehidupan dan pendidikan masyarakat berarti menipisnya market mereka, dan menipisnya market berarti ancaman bagi eksistensi mereka.

Sobat! Cerdas dalam berpikir, adil dalam bersikap dan kritis dalam menilai adalah karakter setiap muslim, jangan pernah lagi anda dibohongi dengan kata kata : “kafir adil lebih baik dari muslim korupsi”, karena “Muslim adil tentu lebih bagus dibanding kafir korupsi”.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Diskusi Dengan Seorang Politikus Senior Muslim – part 4 (tamat)

Setelah ketiga tema di atas berhasil saya jawab, padahal menurut beliau selama ini beliau belum pernah menemukan jawaban yang memuaskan beliau, kini beliau berpindah ke tema yang lebih krusial karena ini adalah dunia beliau, yaitu masalah politik.

Beliau berkata: ummat Islam harus menguasai tiga hal agar dapat memimpin, ketiga hal itu ialah:
1. Politik.
2. Ekonomi.
3. Pendidikan dan Tekhnologi
Tanpa ketiganya maka ummat Islam akan terus termarjinalkan, karena itu jangan heran bila tokoh-tokoh Islam yang terjun ke dunia politik atau menjadi pejabat publik, banyak yang korupsi, terperangkap dalam iming-iming harta, salah satu sebab utamanya ialah karena mereka miskin.

Pernyataan beliau yang sekilas nampak santun dan beralasan ini, namun sejatinya bagi saya ini adalah sindiran tajam kepada diri saya. Seakan beliau berkata kepada saya: kamu ngomong boleh saja hebat, tapi kamu minus ketiga hal di atas, maka semuanya sia-sia.

Menanggapi pernyataan beliau di atas, saya meminta izin untuk menanggapi pernyataan beliau. Saya memulai tanggapan dengan berkata:
Nampaknya bapak belum mengenal sejarah Islam, bapak hanya melihat fakta ummat Islam hari ini. Islam telah berjaya belasan abad, memimpin dunia, dari belahan timur hingga barat. Kemajuan eropa berdiri di atas pondasi ilmu pengetahuan yang mereka rampas dari tangan ummat Islam. Sampai saat ini bukti sejarah kepemimpinan Islam atas dunia masih berdiri kokoh di berbagai belahan dunia termasuk di eropa.

Jadi jangan hanya melihat fenomena ummat Islam pada hari ini, namun kajilah sejarah Islam secara komprehensif, dari awal datangnya Islam hingga saat ini.

Islam pada awal kehadirannya mampu menundukkan dunia, termasuk dua negara adi daya kala itu Persia dan Romawi bukan karena kemajuan tekhnologi, kekuatan ekonomi atau politik. Namun mereka mengukir semua itu karena kekuatan iman dan ketakwaan mereka kepada Allah Ta’ala.

Sejarah kembali membuktikan dirinya pada perang salib, ummat Islam telah terkalahkan oleh pasukan salib hingga Baitul Maqdis jatuh ke tangan pasukan salib. Tidak tersisa dari negri Islam kecuali negri Mesir, namun dengan pasukan yang tersisa tersebut, dan keimanan mereka kepada Allah, keikhlasan untuk berkorban lillah Azza wa Jalla kembali berkobar, maka mereka berhasil memukul mundur pasukan Salib hingga kembali ke kandangnya.

Demikian pula halnya ketika pasukan Tar-tar, berhasil melumpuhkan berbagai negri Islam, hingga meruntuhkan dinasti Abbasiyah, maka kembali sisa-sisa pasukan Islam yang kala itu berada di negri Mesir kembali mampu bangkit dan mengobarkan iman dan ketaatan mereka kepada Allah Ta’ala, maka mereka mampu memukul mundur pasukan Tar-tar hingga kembali ke negri asal mereka.

Perlu bapak ketahui bahwa sejarah Islam telah membuktikan bahwa siklus 100 tahunan sejarah Islam terus bergulir, termasuk yang sedang kita alami saat ini. Ummat Islam sedang mengalami keterpurukan karena siklus sejarah sedang menuju ke bawah, namun percayalah bahwa penurunan ini tidak akan berkepanjangan. Allah Ta’ala pasti mengembalikan kejayaan ummat Islam bukan melalui jalur politik, atau ekonomi, atau tekhnologi, namun dari pintu iman dan ketakwaan.

Seiring dengan berkobarnya semangat ummat Islam untuk kembali kepada jalan Allah Ta’ala, menjalankan perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya maka kejayaan akan kembali. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah akan mengutus orang/figur/tokoh yang mengembalikan kemurnian (kejayaan) ummat ini, pada setiap penghujung seratus tahun.” (Riwayat Abu Dawud)

Para sahabat yang berhasil meruntuhkan persia dan romawi, atau pasukan Sholahuddin yang berhasil memukul mundur pasukan salib, demikian pula pasukan ummat Islam yang berhasil memukul mundur pasukan Tar-tar, bekal mereka bukan kekuatan politik, atau ekonomi atau tekhnologi, namun bekal mereka adalah kekuatan Iman dan ketaatan. Allah berfirman:

إنْ تَنْصُرُوْا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Jikalau kalian menegakkan gama Allah niscaya Allah menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian.” (Muhammad 7)

Saat ini ummat Islam bukan kekurangan orang kaya, atau orang pandai, atau tekhnologi. Namun yang kurang adalah orang kaya yang mengabdikan kekayaannya untuk Islam.

Yang kurang adalah para politikus yang loyal kepada Islam, kebanyakan politikus muslim lebih memilih mengabdikan perjuangannya demi materi dan kelompoknya atau partainya.

Yang kurang adalah ilmuwan yang mengabdikan ilmunya untuk Islam, banyak ilmuwan Muslim yang lebih memilih menjual ilmunya kepada orang kafir dibanding mengabdikan ilmunya kepada ummat Islam, semua karena pertimbangan materi.

Setelah mendengar jawaban saya ini, beliau merasa bergembira dan terbuka wawasannya tentang Islam.

Sebagai respon positifnya, beliau berminat untuk mempelajari Islam lebih jauh

Perlu disampaikan bahwa putra beliau dan juga menantunya mulai rajin mengikuti kajian di majlis Rabbanian di Masjid Al Azhar Jakarta. Sebagaimana istri beliau yang pernah menjabat jabatan strategis di suatu partai politik besar, mengutarakan niatnya untuk mengenakan kerudung, semoga Allah meneguhkan iman beliau sekeluarga dan terus membimbing mereka dan juga anda sekalian ke jalan yang dapat mengantarkan anda semua ke surga, amiin.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Baca Part 3
Baca Part 2
Baca Part 1

Diskusi Dengan Seorang Politikus Senior Muslim – part 3

Setelah terdiam sesaat mendengar penjelasan tentang tema sebelumnya, bapak tersebut kembali menyatakan: lalu bagaimana dengan orang orang yang belum mendapat akses tentang islam, semisal yang hidup di pedalaman ?

Menanggapi pertanyaan beliau saya berkata:
bapak adalah seorang yang terpelajar sehingga saya heran dengan pertanyaan ini. Kaum terpelajar biasa berpikir secara terstruktur. Dan dalam semua urusan biasanya kita berpikir tentang kondisi yang normal dan umum; bukan terbelenggu dengan kondisi spesial.

Mayoritas yang kafir sudah mendengar dan bahkan banyak dari mereka sudah mengetahui dengan baik agama islam, namun tetap kufur.

Adapun kondisi spesial yang biasanya terjadi pada sekelompok kecil alias minoritas bukan menjadi standar penilaian; walaupun mereka tetap saja akan mendapat perlakukan khusus.

Kalau dalam dunia industri moderen yang demikian canggih saja ada sebutan salah produksi atau sering disebut KW2, yang biasanya dijual dengan harga murah dan bahkan dibubuhi merek tersendiri, maka kondisi serupa juga terjadi pada ummat manusia.

Ada saja sekelompok orang yang luar biasa alias tidak wajar; bisa karena cacat fisik; atau komunitas yang kurang mendukung semisal yang di pedalaman; maka dalam Islam juga mendapat perlakuan khusus.

Kelak di hari qiyamat mereka akan diuji tersendiri atau kalau boleh disebut sebagai ujian susulan. Siapa saja yang lulus pada ujian susulan di akhirat; makanianakan dimasukkan ke surga. Disebutkan dalam sebagian riwayat imam Ahmad bin Hambal bahwa mereka dihadapkan kepada dua pilihan; masuk ke dalam api atau air. Siapa yang menuruti nafsunya dan masuk ke air maka ia tercebur dalam nerak. Dan siapa yang mentaati perintah dan melawan nafsunya sehingga ia masuk api, maka ia masuk surga.

Selanjutnya bapak tersebut berpindah tema diskusi ke masalah jilbab dan celana cingkrang.

Menurut beliau kedua hal tersebut adalah budaya arab yang tidak wajib diikuti oleh semua orang.

Menanggapi ucapan beliau saya berkata:
menurut bapak; menyimpan uang agar tidak dicuri orang misal dengan memasukkannya ke saku; atau dompet; atau mengunci rumah agar tidak dimasuki pencuri apakah ini budaya atau tuntunan syariat yang nota bene sejalan dengan nalar sehat?

Apakah paha istri bapak dan kecantikannya begitu hina sehingga tidak perlu di jaga dari mata mata kucing garong? Apakah uang Rp.5000,- lebih layak untuk ditutupi dibanding paha dan kecantikan istri dan putri bapak?

Kalaupun budaya kita membuka aurat dengan memakai kemben atau bikini ketika renang; maka ketahuilah bahwa syariat yang arti secara bahasanya ialah jalan hidup atau sumber mata air; diturunkan untuk mengendalikan budaya dan nafsu agar stabil dan tidak kelewat batas; bukan sebaliknya budaya dan nafsu yang malah dijadikan syariat.

Adapun celana lelaki yang cingkrang dipermasalahkan; maka saya heran ndak kepalang dengan bapak; kalau melihat celana lelaki naik sedikit di atas mata kaki bapak sewot; namun giliran melihat rok wanita yang naik hingga separoh paha; bapak enjoy. Mengapa hal ini bisa terjadi ? bukankah sama sama cingkrang bahkan kelewat cingkrang ?

Ya jawabannya sederhana: nafsu; standar penilaian bapak sarat dengan pengaruh hawa nafsu.

Mendengar jawaban saya; kembali bapak tersebut tersenyum senyum; dan nantikan diskusi sesi ke4, sesi terakhir: tentang sistem kenegaraan insyaAllah.

Baca Part 2

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Diskusi Dengan Seorang Politikus Senior Muslim – part 2

​Diantara pertanyaan yang beliau lontarkan kepada saya ialah : Mayoritas penduduk bumi ini non islam, nyata-nyata mereka tidak bersyahadat, tidak sholat dan tidak mengakui Islam sebagai agamanya, lalu apakah Allah tega dan begitu kejamkah Allah sehingga kelak akan menyiksa mayoritas penduduk bumi ?

Mendengar pertanyaan ini saya tersenyum, lalu kembali meminta izin untuk mengomentarinya:

Bapak! coba bapak renungkan, andai bapak adalah seorang peternak, memelihara ribuan ekor sapi atau domba atau ayam, lalu dari hewan ternak yang bapak pelihara ada beberapa ekor hewan yang bandel, suka membuat onar, melanggar aturan yang bapak terapkan, bahkan menyeruduk bapak, kira-kira apa yang akan bapak lakukan ?

Bapak memukul mereka, atau menyembelih mereka atau minimal menjual mereka kepada orang lain yang juga pada saatnya akan menyembelihnya bukankah demikian ?

Dan kelak hewan hewan yang nurut sehingga badannya gemuk, bukankah ujung-ujungnya juga akan bapak sembelih atau minimal bapak menjualnya kepada orang lain yang akan menyembelihnya ?

Apakah layak bila kemudian ada orang yang menganggap bahwa bapak adalah lelaki bengis, kejam dan tidak berperasaan? karena hewan yang bengal disembelih dan yang nurut juga disembelih ?

Bagaimana halnya dengan Allah Ta’ala yang menciptakan manusia dan menyiapkan untuknya segala yang di bumi, namun kemudian ada dari mereka yang menentang dan melawan aturan Allah Ta’ala, bukankah mereka itu layak untuk di siksa ?

Sedangkan orang-orang yang tunduk dan patuh, maka pasti mendapatkan surga, bukan disembelih atau disiksa. Mana yang lebih layak disebut kejam, para peternak yang menyembelih semua hewan piaraannya, yang nurut atau yang melawan, ataukah Allah Ta’ala yang hanya menyiksa orang-orang yang membangkang kepada-Nya ?

Padahal Allah Ta’ala telah memberi kesempatan dan terus memberi kesempatan, mengutus para Rasul, menurunkan kitab, membuka pintu taubat sepanjang hayat masih dikandung badan. Masihkah ada alasan bagi siapapun untuk tidak patuh kepada Allah Ta’ala ?

Mendengar penjelasan dan ilustrasi di atas kembali bapak politikus tersebut terdiam mengangguk angguk.

…bersambung di Part 3

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Baca :  Part 1

Diskusi Dengan Seorang Politikus Senior Muslim – part 1

Ketika saya duduk bersama seorang politikus senior di senayan, tiba tiba beliau menceritakan satu vidio yang pernah beliau saksikan di youtube. Menurut beliau, pada vidio tersebut seorang lelaki bahkan seorang pendeta tepatnya, bercerita bahwa dia pernah berdoa meminta tiga hal kepada tuhan Yesus, dan ternyata ketiga-tiganya dikabulkan, maka kejadian ini bukti nyata bahwa tuhan yesus adalah benar-benar tuhan.

Kisah di atas menjadi pertanyaan besar bagi sang politikus, dan sudah sekian lama belum menemukan jawabannya, yang dengan dasar itu pula beliau mengajak ummat islam agar tidak terlalu fanatik dengan islamnya, alias toleransi kepada agama lain.

Setelah sang politikus selesai bercerita saya minta izin untuk menanggapi:

1. Saya balik bertanya: bukankah bapak juga tahu berjuta juta manusia mendapat pemberian dan karunia tanpa berdoa, apa itu pertanda bahwa tuhan tidak ada ? Atau pertanda bahwa yesus bukan tuhan?
Mendengar pertanyaan saya, bapak.politikus tersebut terdiam.

2. Selanjutnya saya kembali bertanya: apa buktinya bahwa ketiga hal yang didapat oleh sang pendeta benar benar datang dari yesus ? Bisa jadi itu hanya faktor kebetulan saja, karena betqpa bayak pula orang yang berdoa kepadanya namun tidak dikabulkan.
Kembali bapak tersebut terdiam dan tidak dapat menjawab.

3. Adapun toleransi, maka toleransi yang benar adalah dengan saling membiarkan dan tidak saling mengganggu . Gambaran sederhana tentang toleransi bagaikan suami yang bangga dan meyakini bahwa istrinya adalah wanita tercantik dan bahkan bidadari, numun bukan berarti ia boleh menghina istri tetangga. Kalau toleransi diartikan sehari beribadah di gereja dan sehari di masjid, maka itu sama halnya dengan sehari bermalam dengan istri sendiri dan sehari kemudian bermalam bersama istri tetangga, apa bapak mau seperti itu?
Konsep toleransi dalam islam sudah jelas diajarkan dalam ayat berikut:

لكم دينكم ولي دين

“Bagi kalian agama kalian sedang bagiku agamaku.”

Sebagai orang beriman wajib untuk meyakini bahwa Islam adalah satu satunya agama terbenar dan yang lain tidak benar, namun bukan berarti anda berhak memaksa orang lain mengikuti pilihan dan keyakinan anda.

Sebagaimana orang lain juga pasti meyakini yang serupa, mereka bilang bahwa ummat islam adalah domba domba yang tersesat dan hanya mereka yang tidak tersesat.

Allah Ta’ala berfirman:

لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي

“Tiada paksaan dalam urusan mengikuti agama, sungguh telah nyata perbedaan antara petunjuk dari kesesatan.”

…bersambung di Part 2

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Pembawa Polusi Agama Islam…

Sobat, Islam itu jernih dan terang benerang, namun sering kali dibuat keruh oleh ulah sebagian oknum dari ummatnya.

Tauhid, yaitu mengabdi dan menjadikan keridhaan Allah Ta’ala sebagai satu satunya tujuan hidup itu indah namun menjadi keruh karena ulah sebagian ummat islam. Sebagian ummat islam beribadah karena riya’, jabatan, status sosial dan lainnya, apalagi bila ada dari mereka yang sudah keracunan oleh kemunafikan atau kesyirikan, maka tauhid yang semula indah menjadi keruh.

As sunnah, yaitu beramal sesuai dengan tuntunan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam itu indah, namun karena ulah sebagian ummat yang mencampurinya dengan budaya, selera, kemalasan dan rekayasa atau modifikasi maka as sunnah yang semula indah menjadi buram.

Akhlaq islam itu indah, namun karena ulah sebagian oknum muslim yang bersikap kaku, arogan, sombong, curang, khianat, dan noda lainnya, maka akhlaq islam terkesan menyebalkan.

Metode ulama’ salaf atau yang sering disebut dengan manhaj salaf itu begitu indah, namun karena ulah sebagian oknum yang menamakan dirinya salafy maka mahaj salaf yang semula indah nampak menakutkan.

Negri islam yang penuh dengan berkah amal sholeh dan ketaatan itu pasti indah, namun karena ulah sebagian oknum ummat islam maka negri islam yang semula indah menjadi gersang, seram nan menakutkan.

Karena itu sobat, mari berinstropeksi diri jangan-jangan anda adalah salah satu oknum yang telah menjadikan semua yang berhubungan dengan Islam yang semula indah kini menjadi nampak suram dan menakutkan.

Sekedar berteriak dan mengamalkan islam belum cukup, sampai anda sadar bahwa anda juga bertanggung jawab menjaga keindahan islam agar tetap indah nan jernih. Jangan sampai orang membuang islam yang begitu berkilau bak cermin hanya karena mereka melihat anda yang sedang bercermin.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وإن منكم لمنفرين

“Sungguh dari kalian ada orang orang yang menyebabkan masyarakat lari menjauh dari Islam.” (MUTTAFAQUN ALAIH)

Hadits di atas beliau sampaikan sebagai teguran keras kepada sebagian sahabat yaitu Mua’adz bin Jabal radhiallahu anhu, karena beliau memanjangkan sholatnya sampai ada dari jama’ah beliau yang memisahkan diri.

Kalau dari sahabat saja ada yang mendapat teguran karena sikapnya yang kurang tepat, maka mungkinkah saat ini semua ustadz dan para juru dakwah telah selamat dari sikap serupa, sehingga tidak layak diingatkan terlebih introspeksi diri dengan hadits di atas ?

Ya Allah, ampunilah dosa dosa hamba-Mu ini dan tambahkanlah ilmu kepadanya, amiin.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Secangkir Kopi…

Secangkir kopi, sepotong roti atau sepiring nasi seringkali menjadikan hubungan anda dengan siapapun menjadi akrab, dan semakin erat.

Kala itu pujian dan sanjungan akan mengalir dari bibirnya. Janji manispun membanjiri anda; engkau teman sejati, persahabatan kita sangat erat dll.

Namun pernahkah anda berpikir benarkan persahabatan, dan kasih sayang yang sejati bertambah erat dengan secangkir kopi dan sepiring nasi?

Anda penasaran ingin mengetahui bagaimanakah cinta sejati dan persahabatn yang tulus?

Simaklah penuturan Yahya bin Mu’az berikut:

و حقيقة المحبة مالا ينقص بالجفاء، وَ يَزِيد بالبر، وَقَالَ لَيْسَ بصادق من ادعى محبته وَلَمْ يحفظ حدوده

“Cinta sejati ialah cinta yang tidak akan luntur atau berkurang hanya karena perilaku kasar dan tidak pula bertambah karena uluran tangan. Dan ketahuilah bahw tidak benar orang yang mengaku mencintai Nabi namun ia tidak menjaga batasan-batasan syariatnya.”

BERCERMINLAH SOBAT, benarkah persahabatan antara kita selama ini adalah persahabatn yang sejati, atau hanya sebatas persahabatan secangkir kopi ?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
posted by Muhammad Gazali Abdurrahim Arifuddin, حفظه الله تعالى

Awas Ada Jurang..!

Sobat, andai anda adalah seorang sopir, menurut anda manakah yang paling pantas diwaspadai: jurang atau tebing dan pagar pembatas ?

Bagaimana bila ada sopir yang hanya mewaspadai jurang namun tidak peduli dengan tebing dan pembatas jalan?

Masalah sopir di atas hanya sebatas ilustrasi bagi sikap dan pola pikir sebagian orang yang begitu sensitif dengan lubang “tasahul” alias menggampangkan, namun kurang sensitif dengan sisi kesesatan lain yaitu “tasyaddud”.

Begitu mudah keluar kata “tasahul” dari lisan mereka, namun mereka kurang waspada dari “tasyaddud”.
Tahukah anda bahwa menghalalkan yang haram itu dosa besar, namun mengharamkan yang halal itu lebih besar dosanya?

Jadi kalau anda ceroboh menuduh saudara anda dengan kata tasahul maka waspadalah korban tuduhan anda juga biza saja ceroboh menuduh anda dengan tasyaddud.

Kalau anda ceroboh menuduh saudara anda dengan tuduhan murji’ah yang selalu tasahul, maka bisa saja saudara anda ceroboh menuduh anda sebagai khowarij yang selalu tasyaddud.

Jadi masalah hukum tuh tidak perlu mencampurinya dengan perasaan, terasa mudah atau terasa susah, ringan atau berat, namun Dasarnya adalah dalil. Utarakan dalil anda, dan dengarkan dalil saudara anda, selanjutnya diskusikan dengan cara yang ilmiyah sesuai metode pendalilan yang jelas sebagaimana dijelaskan oleh para ulama dalam. Ilmu ushul fiqih.

Jadi, mau milih tasahul atau tasyaddud ?

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى