Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Keluarga Besar…

Nikahilah wanita yang engkau cintai, walau biasa-biasa saja, dan jangan pernah menikahi wanita yang engkau benci, walau cantik jelita.

Sobat, untuk urusan yang satu ini, saya yakin anda sepakat bahwa perasaan hati tidak bisa dibeli atau dipaksa. Memang cinta bisa disemai, dan bisa dirajut, Namun tentu saja itu bukanlah hal yang mudah, perlu perjuangan, keuletan dan pasti pengorbanan.

Tuan, cinta itu adalah pengorbanan.

Dan kalau cinta telah terajut dan hati telah bertemu, maka urusan nikah dan memadu kasih akan menjadi solusi yang paling indah.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

لم ير للمتحابين مثل النكاح

“Tidak ada ikatan yang lebih baik bagi kedua orang yang telah saling mencintai dibanding pernikahan.” (Ibnu Majah dll)

Dan saya juga yakin bahwa anda juga pasti enggan untuk menikahi orang yang tidak anda cintai apalagi anda benci.

Dan kalaupun sudah terlanjur menikah, kebencian dan perselisihan bisa menjadikan mahligai penikahan anda hancur berkeping keping. Bukankah demikian ?

Namun tahukah anda bahwa cinta itu urusan hati ?

Bila kondisi ini terjadi pada komunitas masyarakat dan ikatan masyarakat terkecil, bagaimana halnya dengan tatanan masyarakat yang majemuk, terdiri dari berjuta-juta anggota masyarakat. Sudah barang tentu merajut dan menabur benih-benih cinta itulah cara paling tepat untuk menyatukan mereka. Dan sekali lagi cinta itu urusan hati, bukan urusan fisik atau harta atau AD/ART atau lainnya.

Karena itu mari kita bangun ummat kita dengan menabur benih-benih cinta yang diwujudkan dengan menyamakan urusan hati, kepentingan, keyakinan, persepsi dan cara pandang, atau yang disebut dengan idiologi, agar kita bisa membangun keluarga besar ummat Islam yang harmonis, kokoh dan damai sentosa.

Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لأرواحُ جنودٌ مجنَّدةٌ . فما تعارف منها ائتَلَف . وما تناكَر منها اختلف.

Ruh-ruh bagaikan kelompok tentara yang tersusun dan beraneka ragam. Jika saling mengenal maka akan bersatu, dan jika saling membenci maka akan berselisih“. [HR. Bukhori-Muslim]

Jadi, menyatukan ummat tuh bagaikan menyatukan dua insan dalam satu keluarga, idealnya di awali dari hatinya, sebagaimana hatinya juga perlu dipupuk dengan kesamaan lahir, sehingga terbentuklah keluarga besar ummat Islam yang harmonis, bukan keluarga yang dipenuhi dengan pertentangan kepentingan, perbedaan keinginan, dan perebutan arah.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Udzur Karena Kejahilan # 4 : Meskipun Orang Arab Asli…

Walau Al Qur’an telah sampai, bahkan wong arab asli, kalau gagal paham, tetap saja diberi ‘uzur.

Pada kisah berikut, begitu jelas keberadan gagal paham dan toleransi yang diberikan kepada pelakunya.

Sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mengisahkan bahwa suatu hari beliau mengutus sahabat Kholid bin Al Walid ke kabilah Bani Juzaimah, untuk menyeru mereka agar masuk Islam. Namun mereka tidak bisa mengucapkan kata : Aslamna (Kami Masuk Islam), sehingga mereka menanggapi seruan Khalid dengan berkata: Saba’na, Saba’na (kami berpindah ke agama baru, kami berpindah ke agama baru -maksud mereka yaitu agama Islam-).

Akibatnya Khalid memerintahkan agar sebagian mereka dibunuh dan sebagian lainnya ditawan. Beliau menyerahkan kepada setiap kami, seorang lelaki dari bani Juzaimah, hingga pada suatu hari, beliau memerintahkan agar setiap kita membunuh tawanannya. Aku berkata : Sungguh demi Allah, aku tidak akan membunuh tawananku, dan tidak seorangpun dari rombonganku yang mau membunuh tawanannya.

Setelah kami tiba di Madinah, berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, segera kami melaporkan kejadian ini kepada beliau, dan beliau segera mengangkat kedua tangannya lalu berkata:

( اللهم إني أبرأ إليك مما صنع خالد )

Ya Allah, aku berlepas diri dari perbuatan Kholid. (Bukhori dan lainnya)

Imam Ibnu Al Qayyim dan ahli sejarah lainnya menceritakan bahwa selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sahabat Ali bin Abi Thalib untuk membayarkan tebusan korban korban pembunuhan Kholid. (Zaadul Ma’ad 3/415 & Fathul Bari Ibnu Hajar 8/58)

Sebagian Ulama’ menjelaskan bahwa kata : Saba’na bukanlah hal asing bagi orang orang Quraisy, termasu Kholid bin Walid, karena dahulu setiap orang yang masuk Isla, seringkali dicibirkan oleh musyrikin Quraisy dengan sebutan : Saba’ta. Walau demikian, ketika Kholid membunuh mereka yang telah mengatakan kata tersebut, dan terbukti tindakannya salah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghukuminya dengan menegakkan hukum qishash.

Padahal diantara pasukan beliau ada beberapa sahabat yang menentang keputusannya tersebut. Walau demikian, tetap saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam memberinya uzur, dan tidak menghukumi Kholid dengan dipenggal lehernya, karena ternyata beliau gagal paham, alias diberi ‘uzur bil jahel.

Tiada keraguan bahwa Al Qur’an, telah sampai kepada sahabat Kholid bin Al Walid, walau demikian sekedar sampai kepadanya Al Qur’an ternyata belum cukup, sampai benar benar paham. Bagaimana halnya dengan orang-orang yang bahasa arab tidak bisa sama sekali, apalagi ilmu alat, semisal ushul fiqih dan yang serupa, dan ketika belajar atau ngaji, ternyata guru ngajinya guagal paham puool?

Bagaimana lagi halnya bila yang melakukan kesalahan adalah orang yang benar benar bodoh, bukan karena tidak mau belajar, namun sudah berusaha belajar, berguru, akan tetapi kebetulan gurunya ternyata juga bodoh, atau salah pemahaman.

Hukum membunuh orang Islam adalah suatu hal yang telah diketahui keharamannya oleh semua orang, apalagi sekelas Kholid bin Al Walid radhiallahu’ anhu.

Jangan lagi ada yang berkata: ini bukan masalah kesyirikan atau kekafiran, karena masalah yang sebenarnya terletak pada masalah : apakah sekedar sampainya Al Qur’an kepada seseorang maka otomatis telah dianggap tegak hujjah, walau belum atau bahkan gagal paham. Inilah sumber masalah yang menjadikan anda mengobral takfir, kepada semua orang yang berbuat kekufuran tanpa peduli dia bodoh atau pandai, dan masalah tersebut tidak ada bedanya atau masalah kekufuran atau lainnya.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى 

Demikianlah Orang Besar…

Sebagian orang mengira bahwa untuk menjadi orang besar itu harus selalu menang, dan terdepan.

Namun tahukah anda bahwa sejatinya pola pikir di atas adalah cermin kerdilnya seseorang ?

Orang besar itu merendah ketika menang, berbesar hati ketika kalah, dan merangkul ketika behasil, memaafkan ketika disakiti, dan melupakan kesalahan orang.

Andai anda hanya mau bersatu dengan saudara anda bila seluruh hak anda telah diberikan, dan pelaku kesalahan mengakui kesalahannya, niscaya persatuan hanya akan ada dalam impian anda, alias anda tidak akan pernah bisa bersatu dengan siapapun kecuali dengan diri anda sendiri. Karena ternyata anda sendiri juga berlumuran dengan banyak kesalahan sebagaimana orang lain, sampaipun istri anda juga belepotan dengan kekurangan.

Coba anda camkan; mengapa Al Hasan cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijuluki sebagai pemimpin ummat, padahal ia pada akhir hayatnya justru kehilangan status sebagai Khalifah ? Karena dia lebih memilih untuk mengalah, dan menyerahkan khilafah kepada sahabat Mu’awiyah demi tercapainya persatuan ummat.

Ternyata ummat Islam bisa bersatu dengan kebesaran jiwa pemilik hak yang rela melepaskan haknya dan memaafkan saudaranya, walaupun terbukti salah.

Namun ingat, bahwa yang beliau maafkan dan relakan adalah hak dan kehormatan pribadinya bukan syari’at agamanya.

Adapun kebenaran yang berkaitan dengan halal, haram, dan hukum hukum Allah, maka tidak sedikitpun beliau korbankan.

Jadi, bagaimana ? mau jadi orang besar atau orang kerdil ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Antara Bid’ah dan Ibadah…

Bid’ah menuruti kemauan sendiri sedangkan ibadah menuruti kemauan Allah.

Sobat, menuruti kemauan sendiri itu namanya memburu nafsu, sedangkan menuruti kemauan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya itu namanya kepatuhan.

Jadi jelas bedanya; dalam urusan dunia, anda bebas berkreatifitas, berinovasi, bereksperimen, dan mengeksplorasi kesenangan, melampiaskan nafsu, dan ambisi anda, selama tidak kelewat batas hingga melanggar batas syari’at, hingga akhirnya anda menjadi budak nafsu

Adapun dalam urusan ibadah, maka hanya ada satu pilihan bagi anda, yaitu mengikuti perintah dan mengikuti teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam urusan ini, saatnya anda memupus habis segala bentuk nafsu, kemauan pribadi, keahlian anda dalam bekreasi dan berinovasi. Dikatakan ibadah, karena anda benar benar tunduk dan patuh, bukan karena sejalan dengan selera atau kesukaan atau nafsu anda.

Semoga clear, mengapa inovasi dan modifikasi dalam urusan ibadah tercela walau menurut anda luar bisa, hebat, gayeng atau baik, tetap saja selama standarnya adalah akal dan kecocokan pribadi bukan keselarasan dengan perintah dan keteladanan maka itu tercela.

Wes, ndak usah dibantah atau dijadikan bahan polemik, cukup dipikirkan, dicamkan lalu diamalkan. Bila merasa ndak cocok yang abaikan saja, wong saya tidak memaksa kok, jadi tetap adem selesai membacanya.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Nunggu Dokter Tuh Terasa Lama.. Walau Sejatinya Hanya Satu Jam Lamanya…

Pernahkah anda menunggu giliran dipanggil oleh dokter yang anda kunjungi ?
Berapa lama anda menanti panggilan darinya ?
Terasa lama bukan ?
Padahal bisa jadi anda hanya menunggu satu atau dua jam, tetap saja membosankan, sehingga sering kali anda membuang waktu anda dengan membaca koran lusuh, atau majalah kuno yang teronggok di ruang tunggu, bukan hanya sekali, bahkan anda membacanya berkali-kali.

Sobat, sadarkah anda bahwa sejatinya saat ini anda sedang menanti panggilan malaikat pencabut nyawa. Sehingga bisa jadi, kini anda dilanda rasa jenuh, merasa waktu panggilan tersebut terlalu lama, sehingga anda membuang waktu anda yang hanya sekejap, untuk melakukan hal yang sia-sia, serupa dengan membaca koran lusuh, atau majalah kuno di ruang tunggu dokter anda.

Padahal, telah banyak bukti di sekitar anda, orang-orang yang telah lebih dahulu dipanggil oleh malaikat pencabut nyawa. Dari mereka ada yang umurnya lebih muda dari anda, bahkan terlalu muda bila dibanding dengan umur anda, dan ada pula yang lebih tua dibanding anda.

Dan cepat atau lambat, andapun akan segera dipanggil oleh malaikat pencabut nyawa. Sudahkah anda mempersiapkan diri untuk menghadapi kehadirannya ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Kini Radio, HP, TV, Bisa Bersuara, Besok Tangan Anda…

Sobat, saat ini anda menikmati kemajuan tekhnologi, sehingga benda mati bisa bersuara, TV, Komputer, HP, Radio dan lainnya, bahkan di pengadilan, peralatan itu bisa bersaksi merugikan anda.

Tahukah anda bahwa semua itu sejatinya peringatan keras bagi anda, bahwa besok tangan, kaki, kulit anda juga akan berbicara menceritakan semua ulah dan perilaku anda, sedangkan lisan anda akan dibungkam.

Allah berfirman:

(الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

Pada hari ini Kami bungkam mulut mereka sedangkan tangan mereka bercerita kepada Kami dan kaki mereka bersaksi tentang apa-apa yang telah mereka lakukan.” [Surat Ya-Sin 65]

Sudahkah anda menyadari akan hal ini dan mempersiapkan diri untuk menjalaninya besok ?

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Muhammadiyah Temanku, NU Bapakku, Al Irsyad Pondokku, Dan Arab Tempat Kuliahku…

Itulah sejarah dan riwayat hidupku, terlahir di tengah keluarga NU, hidup berdampingan dengan saudara-saudara kaum NU, mengenyam pendidikan di salah satu lembaga pendidikan Al Irsyad, dan kuliah di negri Arab, dan kini menjadi salah satu dosen tidak tetap di salah satu kampus Muhammadiyah.

Sobat! Kalau anda hanya mau berinteraksi dengan orang yang serupa dan sewarna dengan anda, maka di dunia ini hanya ada 1 yang seperti anda, yaitu anda sendiri, alias silahkan hidup dt tengah belantara sana.

Namun bila anda menyadari bahwa anda memiliki tanggung jawab (karena anda berilmu) untuk bahu membahu dalam kebaikan dan memerangi kemungkaran, maka anda akan berinteraksi dengan siapapun, dalam rangka mengajarkan kebaikan dan mengingkari kemungkaran. Sebagaimana anda juga punya kewajiban untuk belajar kabaikan dan mengikis kemungkaran atau kekurangan yang pasti ada dalam diri anda.

Yang benar disempurnakan, dan yang salah dibenahi, semuanya dengan cara yang lembut, bijak, dan tentunya harus ikhlas mengharap imbalan hanya dari Allah bukan dari siapapun dan tiada kepentingan apapun selain pahala dari-Nya.

Orang Yahudi saja wajib anda dakwahi, apalagi orang-orang yang jelas jelas dengan bangga mengaku sebagai orang Islam.

Anda tidak akan dapat hidup dengan nyaman bila mengabaikan prinsip ini, sampaipun di dalam rumah sendiri di tengah tengah karib kerabat sendiri.

Kalau anda berkata: banyak dari mereka memiliki kesalahan. Maka ketahuilah bahwa itulah tantangan dakwah, sebagaimana dahulu para sahabat ketika mendakwahi kaumnya, dari mereka ada yang kafir, yahudi, nasrani dan musyrik. Namun demikian, mereka tetap berinteraksi dan berdakwah, hingga akhirnya Islam menjadi jaya.

Anda diganggu, atau diusik, atau dimusuhi, maka itulah dinamika dakwah, yang harus anda hadapi, bukan dihindari. Rasul-pun dahulu dimusuhi, dimaki, dibenci, disakiti, tapi beliau tegar dan terus berdakwah, hingga tegak hujjah atas mereka. Yang semula bodoh menjadi berilmu, yang semula lupa jadi ingat, yang semua benci menjadi cinta, yang semula terbelenggu oleh nafsu dan bisikan setan, menjadi sadar, semua berkat kebesaran jiwa dan keuletan beliau, tentunya setelah mendapat izin dari Allah Ta’ala.

Setiap orang Islam asalnya adalah saudara anda, karena itu bila anda merasa mereka berbuat salah, maka kasihanilah mereka dengan cara mendakwahi, menasehati, mendoakan hidayah untuk mereka.

Namun bila anda merasa mereka berbuat baik, maka dukunglah. Demikian pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita:

( انصر أخاك ظالما أو مظلوما ) . فقال رجل يا رسول الله أنصره إذا كان مظلوما أفرأيت إذا كان ظالما كيف أنصره ؟ قال ( تحجزه أو تمنعه من الظلم فإن ذلك نصره ) 

Tolonglah saudaramu, ia sedang berbuat zhalim ataupun ia sedang dizhalimi. Spontan seorang lelaki bertanya: Wahai Rasulullah, aku menolongnya di saat ia dizhalimi, lalau bagaimana caranya aku menolongnya di saat ia berbuat zhalim? Beliau menjawab: Engkau menghalanginya atau mencegahnya dari perbuatan zhalimnya, itulah bentuk pertolongan kepadanya.” (Bukhari)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Kenapa Khalid Bin Walid Dicopot Sebagai Panglima Perang..?

Sejarah perjuangan Islam telah mencatat Khalid bin Al Walid adalah salah satu panglima perang yang fenomenal, kemenangan demi kemenangan berhasil diperoleh Ummat Islam dibawah kepemimpinan beliau, sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga masa khilafah Abu Bakar As Siddiq.

Kehebatan beliau telah diakui oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam sehingga beliau dijuluki sebagai “salah satu pedang Allah“.

Namun demikian, ketika kekuasaan ummat Islam dipercayakan kepada Sahabat Umar bin Al Khatthab, beliau segera memberhentikan Kholid bin Al Walid dari kedudukan sebagai panglima perang. Beliau digantikan dengan Abu Ubaidah Aamir bin Al Jarrah radhiaallahu ‘anhum.

Pernahkah anda berpikir, mengapa khalifah Umar mencopot Kholid bin Al Walid ? Apa karena Kholid gagal, melakukan kesalahan, atau korupsi, atau berkhianat ?

Sama sekali tidak demikian, Khalifah Umar bin Al Khatthab mencopot beliau justru karena beliau berhasil bahkan selalu berhasil memenangkan peperangan.

Kok demikian? Keberhasilan bukannya dipertahankan, namun malah dicopot dan digantikan !

Yah, itulah salah satu bukti kecerdasan dan kehebatan khalifah Umar bin Al Khatthab. Beliau hendak membuktikan kepada ummat bahwa kemenangan adalah karunia Allah, sebagai imbalan dari keta’atan ummat Islam kepada ajaran agama Islam. Sehingga siapapun pemimpinnya tetap saja Allah menurunkan pertolongan dan kemenangan bagi ummat Islam.

Sebagaimana Khalifah Umar hendak mencegah terjadinya kultus kepada sosok Khalid bin Al Walid yang selalu menang dan berhasil. Dengan demikian ummat Islam dapat mempertahankan sumber kemenangan dan kekuatan yaitu pertolongan Allah berkat kepatuhan mereka menjalankan syariat bukan karena dipimpin oleh Kholid bin Al Walid.

Sebagaimana khalifah Umar juga hendak menyayangi sang panglima yang gagah berani dan selalu berhasil, agar tidak terbetik di hatinya kesombongan, sehingga muncul kesan : “untung ada saya, semua kemenangan berkat kehebatan saya, semua ini hasil kerja keras saya, semua berkat strategi saya …”

Apakah sahabat Kholid bin Al Walid sakit hati, patah hati, kecewa dan dendam lalu meninggalkan medan perang ?

Ternyata tidak, beliau tetap berjuang dan berjihad di bawah bendera panglima yang baru yaitu Abu Ubaidah Bin Al Jarrah. Beliau mematuhi perintah dan mengikuti strategi dan kebijakan panglima baru yang menggantikannya.

Kok bisa demikian, betapa mudah beliau berlapang dada, menerima pergantian tersebut ?

Ya, karena beliau berjihad hanya mencari keridhaan Allah dan demi tegaknya agama Allah, bukan mencari apresiasi atau gelar atau agar namanya dikenang, atau diakui jasa jasanya oleh atasan atau masyarakat.

Bagi Khalid bin Al Walid, diakui atau tidak, dikenang atau tidak, strategi perangnya dilanjutkan atau tidak, bukan masalah, karena apapun yang terjadi, semua peluh dan perjuangannya tiada sia sia, Allah Maha Tahu dan Maha Dermawan pasti akan memberi pahala terbaik kepada dirinya, walaupun rencana besarnya, atau strategi perangnya tidak lagi dilanjutkan oleh panglima penggantinya.

Semoga kebesaran jiwa sahabat khalid ketika memimpin dan ketika dipimpin, dapat kita warisi, terlebih di zaman keterbukaan informasi semacam ini.

Semoga Allah Taala berkenan mempertemukan kita semua dengan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam di surga-Nya, dan berkenan melimpahkan keimanan dan keikhalasan kepada kita semua sebagaimana yang telah Ia limpahkan kepada para sahabat. amiin

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Perbandingan Menghafal Al Qur’an Di Zaman Para Sahabat Dengan Zaman Selain Mereka…

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengisahkan: Suatu hari ada seorang lelaki datang kepada Khalifah Umar bin Al Khatthab. Segera Khalifah Umar bertanya kepadanya perihal masyarakat di negrinya. Lelaki itu menjawab: Wahai Amirul Mukminin, di tengah mereka saat ini sudah ada sekian banyak orang yang menghafal Al Qur’an.

Mendengar kabar tersebut, spontan sahabat Ibnu Abbas berkata: Sungguh demi Allah aku tidak senang bila mereka terlalu cepat menghafal Al Qur’an semacam ini.

Mendengar komentar sahabat Ibnu Abbas ini, Khalifah Umar segera menghardiknya dengan berkata: Diamlah!

Mendapat hardikan keras dari Khalifah Umar, sahabat Ibnu Abbas segera diam, dan tidak selang berapa lama beliau pulang ke rumahnya dalam kondisi galau dan sedih, dan berkata: Sungguh sebelumnya aku begitu dipercaya oleh Khalifah Umar, namun sekarang aku merasa ia tidak akan pernah percaya lagi kepadaku. Sesampai di rumah, sahabat Ibnu Abbas segera berbaring di atas tempat tidur sampai-sampai para wanita dari keluarganya mengira beliau sakit, sehingga mereka menjenguknya, padahal beliau sehat wal afiat dan tiada menderita sakit sama sekali.

Tiada yang terjadi selain beliau begitu terpukul mendapat hardikan Khalifah Umar.

Di saat beliau masih berbaring hanyut dalam kegalauan, tiba tiba ada seorang lelaki mendatanginya dan berkata: segera penuhi panggilan Amirul Mukminin.

Segera sahabat Ibnu Abbas bergegas keluar rumah hendak menuju ke rumah Khalifah Umar, namun ternyata ia mendapatkan Khalifah Umar sudah berdiri menantinya.
Segera Khalifah Umar menggandeng tangan Ibnu Abbas, dan menepi ke tempat yang sunyi, dan berkata: Apa yang engkau tidak suka dari ucapan lelaki tersebut ?

Sahabat Ibnu Abbas menjawab: Wahai Amirul Mukminin, bila aku telah melakukan kesalahan, maka aku memohon ampunan kepada Allah dan aku bertobat kepada-Nya, lalu silahkan engkau menghukumku sesuka hatimu.

Beliau kembali berkata: Sungguh engkau harus menceritakan kepadaku apa yang tidak engkau suka dari ucapan lelaki tersebut ?

Sahabat Ibnu Abbas menjawab: Wahai Amirul Mukminin, setiap kali masyarakat tergesa gesa seperti ini dalam menghafalkan Al Qur’an, niscaya mereka mudah terjatuh pada kesalah pahaman terhadap makna Al Qur’an, dan bila merela telah salah memahami Al Qur’an, niscaya mereka bersilang pendapat, dan bila mereka telah bersilang pendapat, niscaya mereka berselisih, dan bila mereka telah berselisih, niscaya mereka berperang.

Khalifah Umar menimpali ucapan sahabat Ibnu Abbas dengan berkata: Sunguh beruntung ayahmu, sungguh aku sudah sekian lama menyembunyikan pendapat seperti ini dari orang lain, hingga akhirnya engkau mengutarakannya kepadaku. (Ma’mar bin Ar Rasyid dan Abdurrazzaq)

Imam Malik meriwayatkan bahwa dahulu, sahabat Umar bin Al Khatthab mempelajari surat Al Baqarah selama dua belas (12) tahun. Tatkala beliau selesai dari mempelajarinya, beliau menyembelih seekor onta.

Imam Ibnul Qayyim menukilkan dari sebagian salaf yang berkata: Al Qur’an diturunkan untuk diamalkan kandungannya, namun mereka hanya menjadikan bacaannya sebagai amalan. Karena itu dahulu orang yang disebut sebagai Ahli Al Qur’an adalah orang yang mengamalkan Al Qur’an dan mengamalkan kandungannya, walaupun ia tidak mengahafalnya. Adapun orang yang menghafalkan teksnya, namun ia tidak memahaminya, dan juga tidak mengamalkan kandungannya, maka ia tidak layak disebut sebagai Ahli Al Qur’an, walaupun ia mampu menghafalnya secepat anak panah yang melesat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Aduuh, Menakutkan..!

Saudaraku, pernahkah anda merasakan takut dari sesuatu? Takut proyek anda gagal, takut dimarahi atasan, takut terkena penyakit, takut gangguan orang lain, takut makhluk halus, dan taku takut lainnya?

Izinkan saya bertanya, sebenarnya kenapa sih anda kok bisa takut kepada semua itu?

Ya, karena anda mengira bahwa mereka semua bisa mencelakakan anda atau menghalangi datangnya rejeki anda, bukankah demikian? Padahal sejatinya anda tahu bahwa ada banyak cara untuk melawan, atau menghindar dari ulah mereka semua. Walau demikian, tetap saja anda begitu takut kepada mereka.

Namun anehnya, anda jarang atau bisa jadi belum pernah merasa takut kepada Allah Ta’ala, padahal anda tahu bahkan beriman bahwa Allah Ta’ala kuasa menimpakan apa saja kepada anda bila Ia kehendaki, tanpa ada daya bagi anda untuk menghindar ada mengelak dari kehendak-Nya.

Anda juga yakin bahwa Allah juga kuasa menghalangi anda dari segala rejeki anda, tanpa ada kuasa bagi anda untuk melawan-Nya.

Dan bila Allah telah menghalangi rejeki atau menimpakan petaka kepada anda, maka tiada seorangpun yang kuasa membela anda. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ فَمَن يَمْلِكُ لَكُم مِّنَ اللهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Katakan (wahai Muhammad): siapakah yang kuasa melindungi kalian bila Allah telah menghendaki untuk menimpakan petaka atau menurunkan keberuntungan kepada anda. Bahkan sungguhlah Allah Maha Mengetahui apa apa yang kalian lakukan. (Al Fateh 11)

Mari saudaraku, tumbuhkan rasa takut kepada Allah dan buang jauh jauh atau minimal kikis rasa takut kepada selain-Nya, niscaya hidup anda terasa damai nan bahagia.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى