Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Bumi Datar Atau Bulat..?

Debat dan kontroversi tentang bulat atau datar, bisa jadi panjang dan mungkin tidak akan ada ujungnya. Andai energi yang dikeluarkan untuk mendiskusikanya dialihkan kepada upaya menjawab dan membuktikan pertanyaan lain yang lebih mudah menjawabnya, niscaya hasilnya luar biasa.

Pertanyaan yang saya maksud: “apa yang sudah anda lakukan demi memakmurkan dan menegakkan kebenaran di muka bumi ini ?”

Saudaraku! sepatutnya anda, saya dan juga semua ummat Islam sadar bahwa Allah Ta’ala memberi kepercayaan kepada kita semua untuk memakmurkan bumi dengan amal sholeh dan aktifitas lain yang berguna. Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya (Huud 61)

Bumi datar atau bulat, satu ketetapan yang tidak lagi bisa dirubah, namun apa yang dapat anda lakukan demi kemakmuran bumi dan penduduknya adalah satu tindakan yang dapat anda upayakan.

Pertanyaan lain yang serupa dengan masalah ini pernah diajukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Datang seorang lelaki bertanya kepada beliau perihal kapan datangnya hari Qiyamat? Beliau menjawab:

مَا أَعْدَدْتَ لَهَا

Apa yang telah engkau persiapan untuk menghadapi datangnya Qiyamat?

Demikian pula dengan pertanyaan datar atau bulat, akan lebih efektif bila diganti dengan: apa yang telah anda lakukan dan yang akan anda lakukan bila ternyata bumi ini benar benar bulat atau datar ?

Berpikir cerdas dan produktif lebih keren dibanding sibuk berdebat tanpa ada hasil nyata apalagi bila hanya memancing kebencian dan perseteruan.

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Contoh Nyata Murid Bengal Yang Gagal Paham, Namun Sok Jago…

Suatu hari sahabat Ibnu Abbas berceramah, -menurut sebagian ulama’- dalam rangka meredam gejolak masyarakat yang hendak memberontak kepada penguasa kala itu. Beliau berceramah sejak ba’da sholat Asar, hingga matahari terbenam, dan bintang bintang mulai terbit.

Sebagian orang mulai gelisah dan berkata: ayo dirikan sholat, ayo dirikan sholat. DItengah kegelisahan itu , ada seorang laki laki dari Bani Tamim yang tanpa ragu dan sungkan sedikitpun menghampiri Ibnu Abbas , lalu berkata kepada beliau: ayo dirikan sholat , ayo dirikan sholat .

Mendapat perlakuan yang kurang santun dari lelaki itu, Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata:

أَتُعَلِّمُنِى بِالسُّنَّةِ لاَ أُمَّ لَكَ. ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ.

Apakah engkau hendak mengajariku tentang sunnah? Sungguh aku pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Madinah menjama’ shalat Zuhur dengan Asar dan sholat Maghrib dengan Isya’. (Muslim dll)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjama’ sholat karena ada urusan penting bahkan genting, yaitu berusaha meredam gejolak masyarakat yang hendak melakukan pemberontakan. Bila ceramah beliau ditunda dikawatirkan kehilangan momentum, dan masyarakat nekad melakukan perlawanan atau pemberontakan. Demi mencegah terjadinya kekacauan yang besar beliau berencana menjama’ ta’khir sholat Maghrib dan Isya’.

Demikianlah syari’at Islam, dalam kondisi kondisi tertentu, diajarkan melakukan sikap semacam ini, sesuai dengan kaedah “kewajiban mengedepankan maslahat yang lebih besar atau mencegah kerusakan yang lebih besar”.

Namun demikian, penerapan kaedah ini tentu tidak sembarangan, haruslah dilakukan dengan pertimbangan matang dan oleh orang yang memiliki kapasitas keilmuan yang cukup.

Kisah di atas, adalah contoh bagaimana “pendekar turun dari gunung” orang orang yang kata orang tua “durung gaduk kuping” yang sekilas nampak kokoh di atas sunnah, lantang menyuarakan kebenaran, dan istiqamah, namun sebenarnya ia gagal paham dan dangkal nalarnya.

Berbeda dengan ulama’ yang telah matang keilmuannya, mampu bersikap tepat pada waktu dan kondisi yang tepat, karena itu tidak seorang ulama’pun yang mencela atau mengkritisi sikap Ibnu Abbas radhiallallah ‘anhu di atas.

Karena itu, kalau anda gagal paham terhadap sikap ulama’ atau pendapat ulama’ yang lebih matang keilmuannya dibanding anda, jangan buru buru, bertanyalah dengan santun, bukan asal sruduk kayak banteng.

Wallahu a’alam bisshowab.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى

Sebagian Orang Tanpa Sadar Membuat Onar…

Sebagian orang tanpa sadar membuat onar, menjadikan masyarakat jauh dari Islam.

Sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu menuturkan:
Pada suatu hari tatkala hari telah petang, ada seseorang yang datang dengan menuntun dua ekor ontanya. Ketika ia tiba di salah satu masjid, ia mendapatkan sahabat Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu sedang mengimami sahabat lain menunaikan ibadah sholat ‘Isya’. Orang tersebut segera bergabung untuk menunaikan sholat isya’ berjama’ah. Seusai membaca surat Al fatihah, sahabat Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu membaca surat Al Baqarah. Mengetahui hal itu, orang tersebut, dengan tanpa menimbulkan kegaduhan mundur dari barisan shof, keluar dari berjamah dan melanjutkan sholatnya sendiri, lalu ia berpaling dan pergi. Tatkala sahabat Mu’adz dan yang lain selesai dari sholatnya, merekapun mencela sahabat tersebut dan menuduhnya telah dijangkiti kemunafikan.

Tuduhan merekapun pada akhirnya didengar oleh sahabat tersebut, sehingga iapun tersinggung dan mengadukan perilaku sahabat Mu’adz yang memanjangkan bacaan sholatnya kepada Rasulullah radhiallahu ‘anhu. Ia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami ini bekerja keras menyirami kebun pada siang hari, sedangkan Mu’adz biasanya sholat Isya’ bersamamu, selanjutnya ia kembali ke tempat kami dan mengimami kami sholat Isya’. Ketika menjadi imam sholat, ia membaca surat Al Baqarah”.

Mendengar pengaduan itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi murka kepada sahabat Mu’adz, sambil bersabda: “Wahai Mu’adz, apakah engkau adalah tukang pembuat kekacauan?” Bacalah surat ini dan surat itu. Tidakkah ketika engkau mengimami sholat, engkau membaca surat “Sabbihis marabbikal a’ala”, “Was syamsi wa dhuhaaha” dan “wallai idza yaghsya”? Sesungguhnya dibelakangmu ada orangtua, orang lemah/sakit dan orang yang memiliki keperluan.” (Muttafaqun ‘alaih).

Saudaraku, sahabat mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berusaha menerapkan sunnah dan mencari pahala yang banyak, yaitu dengan memanjangkan sholat. Namun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur beliau bahkan murka kepadanya, karena ternyata niat baiknya tersebut menimbulkan kekacauan.

Beliau ditegur sedemikian rupa, karena kurang mempertimbangkan kondisi makmumnya, sehingga menyebabkan salah seorang dari mereka memisahkan diri dari jama’ah sholat. Ternyata niat baik sahabat Mu’adz radhiallahu ‘anhu tidak cukup untuk menjadi alasan baginya di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan ingat, yang bermasalah hanya satu orang dan bukan puluhan atau ratusan atau ribuan, namun hanya satu orang, bagaimana bila pelakunya puluhan atau bahkan ratusan.

Ingat pula, sahabat Mu’az melakukan amalan sunnah, yaitu memanjangkan bacaan sholat, bukan mubah apalagi haram.

Pada riwayat lain dicontohkan bentuk kekacauan yang dapat terjadi akibat imam terlalu panjang bacaannya, yaitu: menjadikan sebagian orang enggan untuk sholat berjamaah di masjid.

Sahabat Abu Mas’ud Al Badri menuturkan:
Ada seorang lelaki yang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

والله يا رسول الله إني لأتأخر عن صلاة الغداة من أجل فلان مما يطيل بنا

Sungguh Ya Rasulullah, saya sengaja terlambat mendatangi sholat berjamaah subuh dikarenakan oleh si fulan (imam sholat) yang ketika memimpin sholat, terlalu memanjangkan sholatnya.

فما رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم في موعظة أشد غضبا منه

Kemudian sahabat Abu Mas’ud mengisahkan: aku tiada pernah melihat beliau murka ketika menyampaikan satu peringatan melebihi kemurkaan beliau kali ini, dan kemudian beliau bersabda:

(يا أَيُّهَا الناس إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَمَنْ أَمَّ الناس فَلْيَتَجَوَّزْ فإن خَلْفَهُ الضَّعِيفَ وَالْكَبِيرَ وَذَا الْحَاجَةِ)

“Wahai para manusia, sesungguhnya sebagian dari kalian ada orang-orang yang menyebabkan orang lain menjauh. Barang siapa yang menjadi imam sholat, hendaknya ia memendekkan sholatnya, karena dibelakangnya ada orang yang lemah, orang tua renta, dan orang yang memiliki keperluan.” (Muttafaqun ‘alaih).

Memang, menjauh dari Islam, atau membenci Islam adalah kebodohan dan kejahatan besar, namun jangan lupa bahwa salah sikap sehingga menjadikan masyarakat membenci Islam adalah kebodohan dan kejahatan lainnya.

Sobat, mari kita hentikan kebiasan buruk berkedok dengan kebodohan dan kejahatan orang untuk menutupi kebodohan dan kejahatan diri sendiri. Jangan biasakan untuk bertameng dengan kepandiran orang lain yang menjauh dari kebenaran, sedangkan tanpa sadar anda telah menyebabkan mereka membenci ilmu, sunnah, dan manhaj salaf.

Semoga menjadi bahan renungan yang bermanfaat bagi kita semua.

Harap status ini tidak dikait-kaitkan dengan siapapun selain diri anda, dan kalau anda merasa tidak layak menjadi contoh, sehingga anda memerlukan contoh, maka anggap saja saya adalah salah satu oknumnya, semoga Allah mengampuni dosa dosa saya, amiin.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Imam Ibnu Sirin Saja Dibalas Walau Setelah 40 Tahun…

Sobat, terserah anda berbuat dosa sesuka hati dan nafsumu, namun ingatlah bahwa balasan Allah pasti menghampiri anda, walau anda telah lupa dengan dosa anda.

Dikisahkan, suatu hari Imam Ahli Hadits Muhammad bin Sirin mencemooh seseorang karena ia ditimpa kebangkrutan, dengan berkata: wahai orang pailit.

Ucapan itu berlalu begitu saja, seakan tidak ada balasan, namun ternyata sungguh benar bahwa Allah tiada pernah lupa atau lalai.

Setelah 40 tahun ucapan beliau ini berlalu, beliau ditimpa kejadian serupa, beliau pailit dan harus mendekam dipenjara, karena dituntut oleh para klien beliau.

Bagaimana dengan diri anda dan berbagai dosa yang mungkin telah anda lupakan ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Ditolak, Ditentang, Dimusuhi, Dilawan, atau Dijauhi Itu Biasa, Tapi……..

Sobat! Silahkan anda menjadi apapun dan seperti apapun, namun percayalah bahwa permusuhan atau bahasa lembutnya perseteruan akan terus terjadi. Bila anda adalah orang baik paling baik, maka sadarilah bahwa orang jahat paling jahat pasti membenci dan memusuhi, memaki, dan melawan anda.

Sebaliknya juga demikian, bila anda adalah orang jahat paling jahat, maka anda harus sadar bahwa orang bai paling baik pasti membenci dan memusuhi anda.

Bukan permusuhan atau perseteruan yang menjadi soal, karena itu telah menjadi sunnatullah. Namun yang menjadi masalah adalah: siapa yang memusuhi anda?

Kalau yang memusuhi anda adalah orang baik, maka itu satu pertanda anda adalah orang jelek bin jahat. Dan bila yang memusuhi anda adalah orang jahat, maka itu satu indikasi bahwa anda adalah orang baik.

Bisa jadi anda dimusuhi karena anda belum berhasil menjadi orang baik seutuhnya, kadang baik kadang jahat. Maka wajar bila kadang anda dimusuhi orang baik dan kadang dimusuhi orang jelek.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, andai beliau bersikap kaku dan keras hati, niscaya dijauhi oleh ummatnya, alias orang-orang yang seharusnya masuk Islam dan menerima dakwah beliau, bisa saja gagal dan menjauhi dakwahnya, bukan karena konten dan materinya salah, namun karena metode, sikap, dan akhlaq.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Ali Imran 159)

Jadi sepatutnya anda bercermin, bukan hanya pada muatan dan tujuan, tapi juga pada cara anda mengutarakan dan menjalankan niat baik anda.

Ingat ya, mengenali siapa musuh kita adalah satu pertanda siapa diri kita, bukan bukti valid satu-satunya yang tak terbantahkan, karena sering juga orang jahat memusuhi sesama orang jahat karena rebutan kepentingan dan wilayah. Sebagaimana sesama orang baik kadang juga terjadi perseteruan, karena salah paham, atau gagal paham atau ulah “adu domba” atau hasad, atau sikap melampaui batas atau lainnya.

DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Biarkan Allah Yang Membangunnya Kembali…

Al hamdulillah, bumi Allah luas, yang dilarang tuh rumah Allah, biarkan Allah yang akan membangun kembali rumah-Nya melalui hamba hamba-Nya yang lain.

Tugas kita adalah berdakwah, menjaga darah ummat Islam agar tidak tertumpah karena sikap dan pendapat pribadi, yang belum tentu sesuai dalil.

Sebagaimana sudah saatnya semua kita untuk memiliki kemampuan dalam memenej komflik: tidak semua lawan dihadapi hari ini, kalau bisa ditunda mengapa disegerakan?

Kini saatnya kita juga belajar membaca kemampuan diri dan tim kerja kita, sebagaimana kita juga perlu memahami kekuatan lawan kita. Boleh saja anda merasa kuat, namun bisa jadi lawan lebih kuat.

Sobat, sudah saatnya pula anda mendengar nasehat teman teman anda, karena walaipun anda sopir yang super mahir, tapi belum tentu anda menguasai jalur yang anda lewati atau kondisi kendaraan yang anda tunggangi.

Sobat, bisa saja pukulan anda kuat, namun sudahkah anda berhitung, kuatkah anda menahan pukulan lawan anda ?

Dan masih banyak lagi pelajaran yang dapat anda petik, agar semua ini tidak berlalu tanpa ada keuntungan besar yang anda petik. Dalam setiap kejadian, kalaulah anda harus merugi seribu, maka anda harus bisa mendapat sejuta keuntungan.

Semoga, bermanfaat.

DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى 

Sabar…

Dakwah tauhid masih bisa jalan, kenapa gentar.

Mbok yo ojo nakut nakuti ummat, ajarkan tawakkal, tauhid, jangan sibukkan diri dengan politik dan politikus.

Ayo ngaji tauhid, tauhid, dan tauhid, sabar, semakin tinggi tauhid anda semakin besar ujian anda.

ان الله اذا احب قوما ابتلاهم

Jika Allah mencintai suatu kaum, niscaya Ia menguji mereka.

Sabar sobat, perjuangan masih panjang, tetap husnuzzon kepada Allah, pertolongan-Nya sungguhlah dekat. Bumi Allah luas, akidah jelas, dipukul punggungmu atau diambil hartamu, tetap sabar, jangan keluar dari prinsip ahlussunnah.

Memang tegar itu berat, apalagi disaat disanjung, terlebih lagi di saat dimaki oleh teman sendiri, itulah ujian, sedap sedap gimana gitu.

Yah, setiap kita pastilah harus siap menjalani perjuangan dan cobaan yang menimpanya, namun sekali lagi percayalah, badai pasti berlalu, kebenaran kan terbukti seiring berjalannya waktu, kemenangan hanyalah karunia ilahi.

Jangan berpaling arah perjuangan, ke selain manhaj salaf.

DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Menyimpulkan Hukum Agama, Berdakwah, dan Berfatwa Tuh Ndak Seperti Banteng Nyruduk…

Sobat! Anda penah melihat bagaimana banteng ketika bersungut sugut menyeruduk? Ya, bergerak cepat, kuat dan lempeng, susah berbelok, apapun yang di hadapannya hanya ada satu pilihan; sruduk. Serudak seruduk, tanpa ada akselerasi kecepatan atau kemampuan untuk merubah haluan adalah salah satu kehebatan banteng, namun sekaligus sebagai kelemahannya. Karena itu, para matador senang bermain dengan banteng, memancing amarah banteng, dan kemudian berkelit di detik-detik terakhir. Hasilnya: gubraaak, sang banteng tersungkur dan menjadi tontonan yang memancing decak kagum.

Mengkaji hukum, berdakwah dan berfatwa tentu sangat berbeda dengan perilaku banteng nyruduk, yang ujung ujungnya: gubraaak, menjadi bahan tetawaan dan tontonan banyak orang.

Seorang ahli agama, memiliki kemampuan untuk berakselerasi tinggi, seiring dengan perubahan kondisi dan tuntutan profesionalitas dalam berijtihad. Kemampuan berakselerasi dalam setiap kondisi bagaikan seorang pembalap mahir, adalah kehebatan dan keungulan seorang ulama’ dibanding para pengendara pemula atau para penuntut ilmu pemula.

Beberapa kisah berikut, memberi gambaran bagaimana seorang ulama’ mampu berakselerasi tinggi dalam setiap kondisi TANPA KELUAR DARI BATAS BATAS SYARI’AT dan tanpa melanggar dalil.

Kisah pertama:
Abidah mengisahkan: Suatu hari Uyainah bin Hishen dan Al Aqra’ bin Habis datang menemui sahabat Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, lalu keduanya berkata: Wahai Khalifah Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya negri kami berdua tandus, tidak tumbuh rumput dan tidak dapat dimanfaatkan untuk apapun. Kami mengharap agar engkau memberi kami lahan pertanian agar dapat kami tanami.

Sahabat Abu Bakar memenuhi permohonan keduanya, dan selanjutnya kedua orang tersebut segera bergegas pulang. Di perjalanan, keduanya berjumpa dengan sahabat Umar bin Al Khatthab. Mengetahui surat keputusan Khalifah Abu Bakar untuk keduanya, sahabat Umar segera meminta surat tersebut dan menghapusnya. Selanjutnya beliau berkata:

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يتألفكما والإسلام يومئذ ذليل وإن الله قد أعز الإسلام فاذهبا فاجهدا جهدكما 

Sesungguhnya dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi harta kepada kalian berdua, karena kala itu Islam dalam kondisi lemah. Dan sesungguhnya saat ini, Allah telah memuliakan Islam, maka silahkan kalian berdua pergi dan selesaikan sendiri kesusahan kalian berdua. (Al Baihaqi dan lainnya)

Mengetahui sikap sahabatnya ini, Khalifah Abu Bakar-pun merestui sikapnya dan membatalkan pemberiannya untuk kedua orang tersebut.

Subhanallah, sahabat Umar bin Al Khatthab berakselerasi dalam penerapan hukum agama. Yang demikian itu karena memberi orang-orang yang baru masuk Islam bagian dari zakat adalah dalam rangka meneguhkan keislamannya. Dengan demikian, bila keislamnya telah teguh, maka tidak ada alasan lagi untuk memberinya bagian dari zakat.

Kisah Kedua:
Saad bin Ubaidah mengisahkan: suatu hari ada seorang lelaki datang kepada sahabat Ibnu Abbas, lalu bertanya: Apakah orang yang dengan sengaja membunuh seorang muslim, bisa diterima taubatnya ? Sepontan beliau menjawab: Tidak , tiada pilihan baginya selain masuk neraka.

Setelah penanya pergi, murid-murid beliau segera bertanya: Selama ini tidak demikian ini engkau mengajarkan kepada kami. Selama ini engkau mengajarkan bahwa pembunuh seorang muslim, masih terbuka baginya pintu taubat, mengapa hari ini tiba tiba engkau berubah pendapat ?

Beliau menjawab: Aku menduga orang tersebut adalah orang yang sedang dalam marah dan hendak membunuh seorang muslim.

Segera murid murid beliau mencari tahu perihal lelaki tersebut, dan mereka mendapatkan bahwa orang tersebut sesuai dengan praduga Ibnu Abbas. (Ibnu Abi Syaibah)

Kisah Ketiga : 
Pada suatu hari, ada seorang wanita menemui sahabat Abdullah bin Mughaffal radhiallahu ‘anhu, untuk bertanya kepadanya tentang wanita yang berzina, kemudian hamil, dan setelah ia melahirkan, ia membunuh anaknya tersebut. Menjawab pertanyaan ini Abdullah bin Mughaffal radhiallahu ‘anhu berkata: “Wanita itu masuk neraka”.

Mendengar jawaban yang demikian, wanita tersebut segera berpaling pergi sambil terisak-isak menangis. Melihat wanita itu menangis tersedu-sedu, sahabat Abdullah bin Mughaffal radhiallahu ‘anhu segera memanggilnya kembali, lalu berkata kepadanya : “Menurutku, tidaklah permasalahanmu ini kecuali satu dari dua alternatif berikut :

ومن يعمل سوء أو يظلم نفسه ثم يستغفر الله يجد الله غفورا رحيما

“Dan barang siapa yang melakukan kejahatan, atau mendlalimi dirinya, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun lagi Penyayang”. Mendengar jawaban beliau yang kedua ini, wanita tersebut mengusap matanya dan segera pergi. (Ibnu Jarir At Thobari)

Sahabat Abdulallah bin Mughaffal radhiallahu anhu berfatwa keras, karena ia menyangka bahwa pelaku perbuatan tersebut adalah orang lain, atau minimal wanita itu baru sebatas berencana.

Kondisi berubah, ketika wanita tersebut berpaling sambil menangis tersedu-sedu, beliau mendapat petunjuk bahwa wanita penanya itu adalah pelaku perbuatan tersebut. Setelah mendapat petunjuk ini, beliau segera berakselerasi dan menjelaskan hukum perbuatannya dengan lebih terperinci.

Semula beliau berniat untuk mencegah terjadinya perbuatan keji ini, namun ternyata kasusnya tidak sesuai praduga beliau. Wanita itu menanyakan satu kejadian yang benar – benar telah terjadi, bahkan wanita itulah oknum pelaku dosa-dosa besar tersebut. Tentu pada kondisi bukan lagi saatnya melakukan tindakan preventif, namun saatnya memberikan solusi nyata.

Demikianlah keahlian para ulama’ dalam memahami dan menerapkan ukum agama, tidak hanya berbekalkan semangat lalu nyruduk, namun berbekalkan kearifan yang sejalan dengan perkembangan dan perubahan kondisi ril di masyarakat.

Dahulu sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berkata:

ألا أخبركم بالفقيه كل الفقيه ؟ من لم يقنط الناس من رحمة الله، ولم يرخص لهم في معاصي الله، ولم يؤمنهم مكر الله ولم يترك القرآن إلى غيره. رواه الآجري والدارمي وأبو نعيم الأصبهاني والخطيب البغدادي.

“Sudikah aku kabarkan kepadamu, siapakah orang yang benar-benar telah berilmu dan berpemahaman luas? Dia adalah orang yang tidak menjadikan orang lain putus asa dari kerahmatan Allah, tidak pula menjadikan mereka gegabah dalam bermaksiat kepada Allah, tidak pula menjadikan mereka merasa aman dari pembalasan Allah, dan tidak menggantikan Al Qur’an dengan selainnya.” (Riwayat Al Ajurry, Ad Daarimy, Abu Nu’aim Al Ashbahaany dan Al Khathib Al Baghdaady.)

Dan perlu diketahui pula bahwa kebenaran dalam agama Islam tidaklah diukur dari keras atau lantangnya suara atau beratnya pendapat, demikian pula tidak diukur dengan ringan atau mudahnya suatu pendapat. KEBENARAN DIUKUR DENGAN DALIL YANG DIPAHAMI DENGAN BENAR DAN DITERAPKAN DENGAN BENAR PULA.

Adapun berkata lantang, yang sering disebut “kokoh” atau tidak, tanpa ada akselerasi sesuai kondisi yang ada, maka itu namanya nyruduk.

Dahulu Ma’mar bin Rasyid dan juga Sufyan bin Uyainah berkata:

إنما العلم عندنا الرخصة من ثقة فأما التشديد فيحسنه كل أحد رواهما الخطيب في جامع بيان العلم وفضله

Yang namanya ilmu itu adalah engkau mendapatkan kemudahan dari seorang yang ahlinya (kredibel). Adapun berpendapat keras, maka itu bisa saja dilakukan oleh setiap orang. (Riwayat Al Khathib Al Baghdady)

Sekali lagi kebenaran tidak diukur dari kerasnya suatu pendapat dan tidak pula mudahnya suatu pendapat, namun diukur dengan keselarasan dengan dalil dengan pemahaman yang benar pula.

Dan ingat pula, bila anda merasa sebagai orang awam, ya wajar bila mumet melihat akselerasi seorang pembalap formula one, atau akselerasi seorang ulama’. Karena itu, jangan ceroboh menuduh ulama’ plin-plan atau ngawur, bertanyalah kepada mereka agar anda tidak terhalang dari mendapat ilmu, sebagaimana yang dicontohkan oleh murid murid sahabat Ibnu Abbas dan Abdullah bin Al Mughaffal di atas. Dan jangan coba coba untuk berakselerasi seperti para ulama’ bisa celaka nyemplung neraka.

DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Awas ! Wabah Asbun…

Ya, asbun tuh penyakit orang yang bisa berbicara, sedangkan astul, adalah penyakit orang yang hobi nulis. Kedua penyakit ini semakin merajalela seiring dengan kemajuan alat komunikasi. Betapa banyak orang yang asal bunyi atau asal tulis tanpa dipikir, tanpa bertanya terlebih dahulu, dan tanpa dipelajari dulu.

Ada dua biang terjadinya penyakit ini :

1. Merasa bahwa ucapan dan tulisannya tidak akan dipertanggung jawabkannya, di dunia dan di akhirat.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga menegaskan hal serupa dengan berkata:

مَنْ عَدّ كلامَه من عمله قلّ كلامُه.

“barang siapa menyadari bahwa setiap ucapannya adalah bagian dari amalannya, niscaya ia tidak banyak berbicara.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Al Mubarak dalam kitab Az Zuhud)

2. Sombong, merasa paling bisa, paling pandai, paling mengetahui, paling luas ilmunya dan paling paling lainnya.

Di zaman keterbukaan alat komunikasi dan media sosial seperti saat ini, banyak orang yang bondo copas, bondo nekad, merasa paling puooool ilmunya.

Etika bertanya karena merasa belum tahu, atau minimal tabayyun kalau merasa berbeda, atau menghormati pemahaman dan upaya saudaranya bila merasa satu level, semua etika itu menipis atau bahkan sirna. Dari balik layar lap topnya, atau bisa jadi layar HPnya, setiap orang leluasa asbun, astul, dan as as lainnya. Betapa perlunya kita untuk sering sering bercermin . Dahulu dikatakan:

وكم من عائب قولا صحيحا ** وآفته من الفهم السقيم

Betapa banyak orang mencela suatu ungkapan yang tepat
berawal dari pemahamannya yang cacat.

Wabah ini, bisa saja menimpa semua orang, tanpa terkecuali ahli agama, dan ahli dunia, anda dan juga saya, karena itu, mari kita hidupkan lagi

1. Sikap mawas diri.
2. Husnuzzhon.
3. Bertanya kalau kurang paham.
4. Menghormati saudaranya yang berbeda pendapat.
5. Koreksi diri sebelum mengoreksi orang lain.

Semoga anda terhindar dari wabah penyakit kronis ini. Amiin.

DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Kiat Memikat Hati Istri Yang Terluka…

Kehidupan rumah tangga kadang kala dibumbuhi dengan berbagai rasa, ria, bahagia, kecewa, marah, dan bahkan sakit hati.

Bagaikan satu masakan, jangan sampai kesalahan dalam memasukkan bumbu, memaksa anda untuk membuangnya.

Segera benahi masakan anda yang kurang enak, dengan menetralisir bumbu yang salah anda campurkan, agar masakan anda kembali bisa anda nikmati. Demikian pula halnya dalam hubungan anda dengan pasangan hidup anda.

Kisah berikut dapat menjadi teladan bagi anda bagaimana caranya anda menetralisir bumbu rumah tangga yang salah kombinasi.

Shafiyah bintu Huyai mengisahkan pengalamannya berkomunikasi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata

وكان رسول الله صلى الله عليه و سلم من أبغض الناس إلي قتل زوجي وأبي وأخي فما زال يعتذر إلي ويقول : ( إن أباك ألب علي العرب وفعل وفعل ) حتى ذهب ذلك من نفسي

“Dahulu, tidak ada orang yang lebih aku benci dibanding Rasulullah. Ia telah membunuh suamiku, ayahku dan saudara kandungku. Namun beliau terus menjelaskan alasan tindakannya dan meminta maaf kepadaku. Diantara yang beliau katakan kepadaku: “Sejatinya ayahmu menghasut orang-orang Arab agar memerangiku. Sebagaimana ayahmu juga telah berbuat ini dan itu.” Hingga akhirnya kebencian itu benar-benar sirna dari diriku.” (Ibnu Hibban dan At Thabrany)

Pada riwayat lain, Shafiyah radhiallahu ‘anha berkata:

قالت : فما قمت من مقعدي وما من الناس أحد أحب إلي منه

“Tidaklah aku bangkit dari tempat dudukku kecuali penilaianku kepadanya telah berubah dan beliau menjadi orang yang paling aku cintai.” (Abu Ya’la)

Demikianlah sobat, caranya anda mengobati hati pasangan anda yang terluka, membelai jiwanya yang tersakiti.

Percayalah, sesakit apapun dan sebesar apapun luka di hati pasangan anda, bila anda benar benar tulus meminta maaf dan mengobati kesalahan anda dengan kebaikan-kebaikan yang anda buktikan kepadanya, niscaya ia akan luluh.

Dan diantara bentuk obat yang sepatutnya segera anda bubuhkan pada hati pasangan anda yang terluka, ialah pengabdian.

JADILAH SUAMI ATAU ISTRI YANG PANDAI MEMBERI DAN MELAYANI BUKAN SUAMI ATAU ISTRI YANG RAKUS MINTA DILAYANI

Imam Bukhari mengisahkan bahwa tatkala Shafiyah hendak menunggangi onta, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersilahkannya untuk naik ke atas punggung onta dengan berpijakkan lutut beliau.

Sobat! Demikianlah salah satu teladan Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam dalam melayani istri beliau. Pernahkah anda melakukan hal serupa, semisal membukakan lalu menutupkan pintu kendaraan untuk istri anda ?

Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى