Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Lisanmu Adalah Pintu Hatimu…

Sobat! Bila hatimu dipenuhi dengan wewangian, niscaya dari lisanmu akan terpancar kata kata yang semerbak wangi sehingga memikat hati setiap orang yang mendengarnya

Namun bila hatimu memendam kebencian, atau telah digerogoti belatung kesombongan, niscaya yang tersebar oleh lisanmu adalah aroma busuk kata kata keji, tuduhan, dan permusuhan walau anda mengaku sedang memancarkan aroma kasturi.

Ingat sobat, saudaramu memiliki hidung sendiri sendiri, mereka mencium dengan hidungnya sendiri bukan dengan hidung anda.

Mereka mencerna ucapan anda dengan nalarnya sendiri bukan dengan nalar anda yang bisa jadi telah dipenuhi oleh rasa percaya diri yang kelewat batas.

Sobat! karena itu biasakan untuk mendengar komentar dan penilaian orang lain, walau terasa pedas, pahit dan menyakitkan. Biasanya penciuman mereka lebih tajam dibanding penciuman anda sendiri. Mata mereka lebih tajam melihat kesalahan anda dibanding penglihatan mata anda sendiri.

Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Sejarah Kelam Dari Sikap Fanatisme…

Contoh nyata dalam sejarah adanya praktek hizbiyah antara murid bukan antara pengikut organisasi.

Pada tahun 489 H di daerah Khurasan terjadi kekacauan antara pengikut Mazhab Syafi’i dengan pengikut Mazhab Hanafi.

Biangnya adalah karena ada seorang tokoh penganut Mazhab Hanafi yang bernama : Mansur bin Muhammad As Sam’any yang semula bermazhab Hanafi secara terang-terangan mendeklarasikan perpindahan mazhab, dari Hanafi kepada Syafi’i. Deklarasi ini disampaikan secara terbuka dihadapan tokoh tokoh dari kedua mazhab.

Deklarasi beliau ini memancing ketegangan yang sangat parah antara penganut dua mazhab.

Pada tahun 573 H para penganut mazhab Hambali melarang penguburan seorang Khatib Masjid Jami’ Al Mansur yang bernama Muhammad bin Abdullah di pekuburan Imam Ahmad bin Hambal, hanya karena dia seorang penganut mazhab Syafi’i dan bukan Hambali

SIkap para penganut mazhab Hambali ini memancing ketegangan antara penganut dua mazhab.

Pada tahun 560 H, terjadi pertumpahan darah selama 8 hari, antara penganut mazhab Syafi’i dengan penganut mazhab lain di kota Asbahan

Pada tahun 582 H, kembali terjadi ketegangan antara penganut mazhab Hanafi dengan penganut mazhab Syafi’i di kota Asbahan, yang mengakibatkan tejadinya pertumpahan darah, penjarahan dan berbagai kerusakan lainnya.

Dan masih banyak sejarah kelam dari sikap sikap fanatisme antara sesama ummat Islam.

Kesimpulannya, fanatisme itu adalah sikap dan perilaku bukan produk atau merek atau label. Jadi walaupun anda tidak bermerek dan tidak berlabel, namun sikap dan perilaku anda ekstrim, dan dalil anda hanya “pokoknya” atau “yang penting” atau “bondo nekad“, maka itulah fanatisme atau ashobiyah.

La antara hidung mancung dengan hidung pesek saja terjadi fanatisme, antara kulit putih dengan kulit hitam juga terjadi fanatisme, kok kini ada upaya sadar mengalihkan isu atau menyempitkan pemahaman.

Di saat Haji Wada’ Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendeklarasikan perang terhadap fanatisme, terhadap segala sesuatu (eh kala itu belum ada organisasi) termasuk terhadap aspek “mancung dan pesek, putih dan hitam,“.

Simak deklarasi beliau berikut ini:

وعن أبي نضرة قال: «حدثني من سمع خطبة النبي صلى الله عليه وسلم في وسط أيام التشريق فقال: ” يا أيها الناس، إن ربكم واحد وأباكم واحد، ألا لا فضل لعربي على عجمي، ولا لعجمي على عربي، ولا أسود على أحمر، ولا أحمر على أسود إلا بالتقوى، أبلغت؟ “. قالوا: بلغ رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Abu Nadhrah telah menceritakan kepadaku orang yang mendengar langsung khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditengah-tengah hari tasyriq, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu (maksudnya Nabi Adam). Ingatlah. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam (non-Arab) dan bagi orang ajam atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit putih kemerahan atas orang berkulit hitam legam, bagi orang berkulit hitam legam atas orang berkulit putih kemerahan kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan ?” mereka menjawab: Iya, benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan.” (Ahmad dan lainnya)

Semoga mencerahkan, dan tidak ada lagi upaya sadar atau tidak sadar untuk mendangkalkan arti fanatisme atau ashobiyah atau hizbiyah.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Obat Ngantuk Paling Tok Cer…

Sobat, pernahkah anda merasa susah tidur ? bolak kanan balik kiri, toh mata tetap mendolo, susah dipejamkan, dan kalaupun dipejam pejamkan tetap saja gagal tidur ?

Bila kondisi ini berkepanjangan, kemungkinan besar anda mulai kawatir, was was, jangan jangan anda sedang menderita sakit.

Sebaliknya, pernahkah anda merasa mengantuk terus menerus, walau sudah tidur, mata seakan terkena lem, susah dibuka dan badan terasa lemah, maunya tidur terus.

Bila kondisi ini berkepanjangan, kemungkinan besar anda mulai kawatir, was was, jangan jangan anda sedang menderita sakit.

Apa yang anda lakukan saat itu ? minum secangkir kopi ? atau membasuh muka ? atau minum obat kuat alias suplemen agar kembali supermen ? atau mendatangi seorang dokter atau minimal tenaga medis untuk mendapatkan pengobatan ?

Apapun yang anda lakukan, maka sejatinya kondisi tersebut membuktikan bahwa anda adalah manusia lemah, susah tidur merasa bermasalah, selalu mudah tidur bahkan selalu ingin tidur juga masalah.

Itulah diri anda seorang manusia, semua itu bisa jadi cara Allah Ta’ala meruntuhkan keangkuhan anda yang tiada pernah anda sadari. Ngantuk adalah salah satu peluruh kerasnya kepala anda, angkuhnya sikap anda dan busungnya dada anda.

Sekedar kerja lembur sepekan berturut turut saja, anda akan dilanda kantur yang luar biasa, bagaimana bila setiap hari anda kerja lembur, tanpa tidur sama sekali, niscaya tidak akan lama lagi anda akan roboh karena tak kuasa melawan kantuk dan tidur

Sobat! sadarilah, bahwa hanya Allah Ta’ala yang tidak pernah merasa ngantuk apalagi tidur; simak Firman Allah Ta’ala berikut:

اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.” (Al Baqarah 255)

Karena itu jangan pernah lelah untuk berkata : Subhanallahu wa bihamdihi (Maha Suci Allah dengan segala pujian atas kesempurnaan-Nya).

Jadi obat ngantuk yang paling tok cer apa dong ? obatnya ya tidur tentunya, karena anda adalah manusia sedangkan hanya Allah yang tidak perlu untuk tidur.

Makanya setiap kali ngantuk sadarilah bahwa anda manusia yang lemah sedangkan Allah-lah yang Maha Sempurna.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Kunci Mudah Hidup Bahagia…

Anda sedang sakit ? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja juga pernah sakit parah.

Anda disakiti orang lain ? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja berkali kali disakiti orang lain.

Anda kesusahan dalam urusan ekonomi ? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja juga berkali kali kesusahan dalam ekonomi sampai sampai di suatu saat selama 3 bulan berturut-turut tidak ada yang dimasak di rumahnya.

Anda dimusuhi orang ? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja banyak yang memusuhi beliau

Anda takut bahwa suatu saat anda mati ? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja telah mendahului anda meninggal dunia.

Sobat apapun musibah yang anda takutkan, atau menjadikan anda galau, maka sejatinya musibah yang serupa atau bahkan lebih berat darinya pernah dialami oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semua itu hanyalah perjalanan hidup di dunia, yang ujung ujungnya hanya ada satu, yaitu mati lalu menghadap kepada Ilahi, dan selanjutnya hanya ada dua pilihan :

SURGA…

Atau

NERAKA…

Sobat! Renungkan ayat berikut:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ (30) ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ (31)

Sesungguhnya engkau akan mati dan merekapun juga akan mati, dan selanjutnya kalan semua pada hari qiyamat akan saling menuntut (di hadapan Allah)” ( surat Az Zumar 30-31)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى.

Rasanya Tuh Gitu, Makanya…

Orang yang terlahir dalam kondisi kaya, sering kali tidak bisa memahami bagaimana perasaan orang miskin, akibatnya ia begitu mudah terpleset di jurang kemiskinan.

Orang yang terlahir dalam dalam kondisi muslim, sering kali kurang mampu memahami bagaimana cara berpikir dan derita orang kafir, akibatnya ia sering lengah dan tanpa disadari telah terjerumus dalam kekufuran.

Orang yang terlahir dalam kondisi aman, sering kali kurang bisa memahami bagaimana susahnya hidup di negri yang kacau balau, sehingga ia begitu mudahnya membuat kegaduhan.

Dan demikan seterusnya.

Kenapa semua itu bisa terjadi ?

Itu semua terjadi karena kebodohan dan kerdilnya akal manusia. Manusia sering kali hanya berpikir searah, terlebih yang sesuai dengan kenyamanannya. Namun anehnya, kenyamanan yang ia rasakan bila berkepanjangan sering kali dianggap membosankan, dan akhirnya coba coba atau penasaran, atau kurang peduli, bahkan dianggapnya tiada artinya alias remeh.

Akal manusia sering kali butuh pembanding untuk bisa memahami hakekat dan nilai setiap urusan.

Anda baru menyadari arti istri anda di saat dia sakit atau safar atau bahkan setelah anda mengusirnya pulang ke rumah orang tuanya.

Anda baru bisa memahami arti kesehatan bila anda telah menderita sakit.

Anda bisa menghargai teman bila sedang dalam kesepian.

Sebaliknya, Anda bisa saja merindukan hadirnya kesepian bila anda sedang pusing dengan kesibukan apalagi merasa dibuat repot oleh banyaknya teman.

Anda bisa merasakan nikmatnya hidup menjomblo bila sedang puyeng diuprak uprak oleh istri atau dicerewetinya.

Jadi sebenarnya hadirnya teman, istri, dan lainnya, itu nikmat atau petaka ya?

Bingung…….

?? Ya, itulah dunia, semu dan sementara, nikmat hanya terasa sementara dan deritapun sejatinya juga sementara, hanya akhirat yang kekal.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Keluarga Besar…

Nikahilah wanita yang engkau cintai, walau biasa-biasa saja, dan jangan pernah menikahi wanita yang engkau benci, walau cantik jelita.

Sobat, untuk urusan yang satu ini, saya yakin anda sepakat bahwa perasaan hati tidak bisa dibeli atau dipaksa. Memang cinta bisa disemai, dan bisa dirajut, Namun tentu saja itu bukanlah hal yang mudah, perlu perjuangan, keuletan dan pasti pengorbanan.

Tuan, cinta itu adalah pengorbanan.

Dan kalau cinta telah terajut dan hati telah bertemu, maka urusan nikah dan memadu kasih akan menjadi solusi yang paling indah.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

لم ير للمتحابين مثل النكاح

“Tidak ada ikatan yang lebih baik bagi kedua orang yang telah saling mencintai dibanding pernikahan.” (Ibnu Majah dll)

Dan saya juga yakin bahwa anda juga pasti enggan untuk menikahi orang yang tidak anda cintai apalagi anda benci.

Dan kalaupun sudah terlanjur menikah, kebencian dan perselisihan bisa menjadikan mahligai penikahan anda hancur berkeping keping. Bukankah demikian ?

Namun tahukah anda bahwa cinta itu urusan hati ?

Bila kondisi ini terjadi pada komunitas masyarakat dan ikatan masyarakat terkecil, bagaimana halnya dengan tatanan masyarakat yang majemuk, terdiri dari berjuta-juta anggota masyarakat. Sudah barang tentu merajut dan menabur benih-benih cinta itulah cara paling tepat untuk menyatukan mereka. Dan sekali lagi cinta itu urusan hati, bukan urusan fisik atau harta atau AD/ART atau lainnya.

Karena itu mari kita bangun ummat kita dengan menabur benih-benih cinta yang diwujudkan dengan menyamakan urusan hati, kepentingan, keyakinan, persepsi dan cara pandang, atau yang disebut dengan idiologi, agar kita bisa membangun keluarga besar ummat Islam yang harmonis, kokoh dan damai sentosa.

Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

لأرواحُ جنودٌ مجنَّدةٌ . فما تعارف منها ائتَلَف . وما تناكَر منها اختلف.

Ruh-ruh bagaikan kelompok tentara yang tersusun dan beraneka ragam. Jika saling mengenal maka akan bersatu, dan jika saling membenci maka akan berselisih“. [HR. Bukhori-Muslim]

Jadi, menyatukan ummat tuh bagaikan menyatukan dua insan dalam satu keluarga, idealnya di awali dari hatinya, sebagaimana hatinya juga perlu dipupuk dengan kesamaan lahir, sehingga terbentuklah keluarga besar ummat Islam yang harmonis, bukan keluarga yang dipenuhi dengan pertentangan kepentingan, perbedaan keinginan, dan perebutan arah.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Udzur Karena Kejahilan # 4 : Meskipun Orang Arab Asli…

Walau Al Qur’an telah sampai, bahkan wong arab asli, kalau gagal paham, tetap saja diberi ‘uzur.

Pada kisah berikut, begitu jelas keberadan gagal paham dan toleransi yang diberikan kepada pelakunya.

Sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma mengisahkan bahwa suatu hari beliau mengutus sahabat Kholid bin Al Walid ke kabilah Bani Juzaimah, untuk menyeru mereka agar masuk Islam. Namun mereka tidak bisa mengucapkan kata : Aslamna (Kami Masuk Islam), sehingga mereka menanggapi seruan Khalid dengan berkata: Saba’na, Saba’na (kami berpindah ke agama baru, kami berpindah ke agama baru -maksud mereka yaitu agama Islam-).

Akibatnya Khalid memerintahkan agar sebagian mereka dibunuh dan sebagian lainnya ditawan. Beliau menyerahkan kepada setiap kami, seorang lelaki dari bani Juzaimah, hingga pada suatu hari, beliau memerintahkan agar setiap kita membunuh tawanannya. Aku berkata : Sungguh demi Allah, aku tidak akan membunuh tawananku, dan tidak seorangpun dari rombonganku yang mau membunuh tawanannya.

Setelah kami tiba di Madinah, berjumpa dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, segera kami melaporkan kejadian ini kepada beliau, dan beliau segera mengangkat kedua tangannya lalu berkata:

( اللهم إني أبرأ إليك مما صنع خالد )

Ya Allah, aku berlepas diri dari perbuatan Kholid. (Bukhori dan lainnya)

Imam Ibnu Al Qayyim dan ahli sejarah lainnya menceritakan bahwa selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sahabat Ali bin Abi Thalib untuk membayarkan tebusan korban korban pembunuhan Kholid. (Zaadul Ma’ad 3/415 & Fathul Bari Ibnu Hajar 8/58)

Sebagian Ulama’ menjelaskan bahwa kata : Saba’na bukanlah hal asing bagi orang orang Quraisy, termasu Kholid bin Walid, karena dahulu setiap orang yang masuk Isla, seringkali dicibirkan oleh musyrikin Quraisy dengan sebutan : Saba’ta. Walau demikian, ketika Kholid membunuh mereka yang telah mengatakan kata tersebut, dan terbukti tindakannya salah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghukuminya dengan menegakkan hukum qishash.

Padahal diantara pasukan beliau ada beberapa sahabat yang menentang keputusannya tersebut. Walau demikian, tetap saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam memberinya uzur, dan tidak menghukumi Kholid dengan dipenggal lehernya, karena ternyata beliau gagal paham, alias diberi ‘uzur bil jahel.

Tiada keraguan bahwa Al Qur’an, telah sampai kepada sahabat Kholid bin Al Walid, walau demikian sekedar sampai kepadanya Al Qur’an ternyata belum cukup, sampai benar benar paham. Bagaimana halnya dengan orang-orang yang bahasa arab tidak bisa sama sekali, apalagi ilmu alat, semisal ushul fiqih dan yang serupa, dan ketika belajar atau ngaji, ternyata guru ngajinya guagal paham puool?

Bagaimana lagi halnya bila yang melakukan kesalahan adalah orang yang benar benar bodoh, bukan karena tidak mau belajar, namun sudah berusaha belajar, berguru, akan tetapi kebetulan gurunya ternyata juga bodoh, atau salah pemahaman.

Hukum membunuh orang Islam adalah suatu hal yang telah diketahui keharamannya oleh semua orang, apalagi sekelas Kholid bin Al Walid radhiallahu’ anhu.

Jangan lagi ada yang berkata: ini bukan masalah kesyirikan atau kekafiran, karena masalah yang sebenarnya terletak pada masalah : apakah sekedar sampainya Al Qur’an kepada seseorang maka otomatis telah dianggap tegak hujjah, walau belum atau bahkan gagal paham. Inilah sumber masalah yang menjadikan anda mengobral takfir, kepada semua orang yang berbuat kekufuran tanpa peduli dia bodoh atau pandai, dan masalah tersebut tidak ada bedanya atau masalah kekufuran atau lainnya.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى 

Demikianlah Orang Besar…

Sebagian orang mengira bahwa untuk menjadi orang besar itu harus selalu menang, dan terdepan.

Namun tahukah anda bahwa sejatinya pola pikir di atas adalah cermin kerdilnya seseorang ?

Orang besar itu merendah ketika menang, berbesar hati ketika kalah, dan merangkul ketika behasil, memaafkan ketika disakiti, dan melupakan kesalahan orang.

Andai anda hanya mau bersatu dengan saudara anda bila seluruh hak anda telah diberikan, dan pelaku kesalahan mengakui kesalahannya, niscaya persatuan hanya akan ada dalam impian anda, alias anda tidak akan pernah bisa bersatu dengan siapapun kecuali dengan diri anda sendiri. Karena ternyata anda sendiri juga berlumuran dengan banyak kesalahan sebagaimana orang lain, sampaipun istri anda juga belepotan dengan kekurangan.

Coba anda camkan; mengapa Al Hasan cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijuluki sebagai pemimpin ummat, padahal ia pada akhir hayatnya justru kehilangan status sebagai Khalifah ? Karena dia lebih memilih untuk mengalah, dan menyerahkan khilafah kepada sahabat Mu’awiyah demi tercapainya persatuan ummat.

Ternyata ummat Islam bisa bersatu dengan kebesaran jiwa pemilik hak yang rela melepaskan haknya dan memaafkan saudaranya, walaupun terbukti salah.

Namun ingat, bahwa yang beliau maafkan dan relakan adalah hak dan kehormatan pribadinya bukan syari’at agamanya.

Adapun kebenaran yang berkaitan dengan halal, haram, dan hukum hukum Allah, maka tidak sedikitpun beliau korbankan.

Jadi, bagaimana ? mau jadi orang besar atau orang kerdil ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Antara Bid’ah dan Ibadah…

Bid’ah menuruti kemauan sendiri sedangkan ibadah menuruti kemauan Allah.

Sobat, menuruti kemauan sendiri itu namanya memburu nafsu, sedangkan menuruti kemauan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya itu namanya kepatuhan.

Jadi jelas bedanya; dalam urusan dunia, anda bebas berkreatifitas, berinovasi, bereksperimen, dan mengeksplorasi kesenangan, melampiaskan nafsu, dan ambisi anda, selama tidak kelewat batas hingga melanggar batas syari’at, hingga akhirnya anda menjadi budak nafsu

Adapun dalam urusan ibadah, maka hanya ada satu pilihan bagi anda, yaitu mengikuti perintah dan mengikuti teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam urusan ini, saatnya anda memupus habis segala bentuk nafsu, kemauan pribadi, keahlian anda dalam bekreasi dan berinovasi. Dikatakan ibadah, karena anda benar benar tunduk dan patuh, bukan karena sejalan dengan selera atau kesukaan atau nafsu anda.

Semoga clear, mengapa inovasi dan modifikasi dalam urusan ibadah tercela walau menurut anda luar bisa, hebat, gayeng atau baik, tetap saja selama standarnya adalah akal dan kecocokan pribadi bukan keselarasan dengan perintah dan keteladanan maka itu tercela.

Wes, ndak usah dibantah atau dijadikan bahan polemik, cukup dipikirkan, dicamkan lalu diamalkan. Bila merasa ndak cocok yang abaikan saja, wong saya tidak memaksa kok, jadi tetap adem selesai membacanya.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Nunggu Dokter Tuh Terasa Lama.. Walau Sejatinya Hanya Satu Jam Lamanya…

Pernahkah anda menunggu giliran dipanggil oleh dokter yang anda kunjungi ?
Berapa lama anda menanti panggilan darinya ?
Terasa lama bukan ?
Padahal bisa jadi anda hanya menunggu satu atau dua jam, tetap saja membosankan, sehingga sering kali anda membuang waktu anda dengan membaca koran lusuh, atau majalah kuno yang teronggok di ruang tunggu, bukan hanya sekali, bahkan anda membacanya berkali-kali.

Sobat, sadarkah anda bahwa sejatinya saat ini anda sedang menanti panggilan malaikat pencabut nyawa. Sehingga bisa jadi, kini anda dilanda rasa jenuh, merasa waktu panggilan tersebut terlalu lama, sehingga anda membuang waktu anda yang hanya sekejap, untuk melakukan hal yang sia-sia, serupa dengan membaca koran lusuh, atau majalah kuno di ruang tunggu dokter anda.

Padahal, telah banyak bukti di sekitar anda, orang-orang yang telah lebih dahulu dipanggil oleh malaikat pencabut nyawa. Dari mereka ada yang umurnya lebih muda dari anda, bahkan terlalu muda bila dibanding dengan umur anda, dan ada pula yang lebih tua dibanding anda.

Dan cepat atau lambat, andapun akan segera dipanggil oleh malaikat pencabut nyawa. Sudahkah anda mempersiapkan diri untuk menghadapi kehadirannya ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى