Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Pendakwah Bengis dan Dokter Sadis…

Apa yang pertama kali terbetik di hati anda ketika anda melihat korban kecelakaan, kebakaran, atau penderita penyakit parah ?

Rasa iba melihat betapa berat derita mereka, atau rasa benci karena anda mengetahui mereka ceroboh tidak menempuh hidup sehat, atau melanggar rambu lalulintas atau karena tidak merapikan instalasi listriknya ?

Dan bagaimana perasaan anda bila menyaksikan seorang tenaga medis yang menolong korban kecelakaan dengan membentak bentaknya, atau sambil menghujatnya, atau sambil bermuka masam, atau sikap kaku dan kasar ?

Coba bandingkan dengan perasaan anda ketika menemukan pelaku maksiat atau bid’ah. Ketahuilah bahwa dosa dan bid’ah adalah penyakit hati, sebagaimana luka bakar, kudisan dan luka kecelakaan adalah penyakit fisik.

Bila anda merasa iba dengan penderita penyakit fisik, sehingga anda tergugah untuk berdonasi, atau menolong mereka, tanpa perlu mencibirnya, mengapa ketika melihat pelaku dosa dan bid’ah anda lebih mengedepankan nafsu menghujat, mencibirkan, hasrat membenci dibanding semangat untuk mendakwahi atau menyelamatkan ?

Dan kalaupun anda berusaha menyelamatkan mereka, namun betapa sering usaha anda diiringi dengan kata kata yang kasar, sikap yang kaku, muka yang masam?

Apakah menurut anda penderita penyakit atau luka fisik lebih layak disayangi dibanding penderita penyakit hati dan iman?

Semoga menggugah dan bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Nasib oh Nasib…

Gitu kali ya keluh kesah orang yang tidak beriman atau lemah iman bahwa hidupnya mengalir sesuai kodrat ilahi.

Ia kira dengan curhat kepada orang lain, deritanya berkurang dan beban mentalnya menjadi ringan dan bisa jadi mereka mengulurkan tangan untuknya.

Berbeda dengan orang yang beriman, tiada ratapan atau keluh kesah yang membasahi bibirnya selain kepada Allah Ta’ala, yang ia lakukan di tempat yang sunyi dan di saat ia jauh dari pandangan manusia.

Di hadapan manusia, seakan hidupnya tanpa masalah dan tanpa rintangan, padahal rintangan dan cobaan silih berganti menerpanya.

Orang yang beriman yakin bahwa hati dan tangan manusia dibawah kuasa Tuhan, yang kuasa mengendalikannya kapan, dimana dan untuk siapapun yang Ia kehendaki.

Karenanya hanya kepada-Nya orang beriman berkeluh kesah:

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

Ayah Yusuf berkata: “hanya kepada Allah aku mengeluhkan kesusahanku dan dukaku” (Yusuf 86)

Ya demikianlah perbedaan hidup orang yang beriman dan orang yang lemah iman atau bahkan tiada beriman sama sekali.

Bagaimana dengan anda sobat ? Kepada siapa anda berkeluh kesah selama ini ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Bukti Paling Valid Bahwa Anda Bertauhid…

Sobat, dunia ini sering kali di bingkai dengan kamuflase alias kemunafikan.

Namun sepandai-pandai manusia berkamuflase maka cepat atau lambat Allah akan membukanya.

Termasuk sikap kita yang mungkin berpura pura sebagai orang yang benar-benar beriman atau bertauhid kepada Allah, padahal sarat dengan kepentingan dunia dan nafsu belaka.

Sebaliknya seringkali manusia salah persepsi dan penilaian, yang baik dimusuhi sedang yang buruk dipuji.

Namun Percayalah bahwa Allah Subhanahu wata’ala akan Menyibak semuanya, Sehingga semua akan menjadi nyata tiada lagi yang tersamarkan.

Namun pertanyaannya, kapankah itu terjadi ?

Renungkan hadirs berikut:

إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم علقه مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك , ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح , ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه , وأجله , وعمله , وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة

Sesungguhnya tiap-tiap kalian proses penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqah (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghah (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya, lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 hal : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya.

Selanjutnya sungguh demi Allah yang tiada Tuhan selainNya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak tersisa jarak antara dirinya dan surga kecuali hanya sehasta saja, kemudian ia dijemput oleh ketetapan Allah sehingga ia melakukan perbuatan ahli neraka dan iapun masuk neraka.

Sebaliknya, ada orang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka, hingga tidak lagi tersisa jarak antara dirinya dan neraka kecuali hanya sehasta saja, kemudian ia dijemput oleh ketetapan Allah, sehingga ia melakukan perbuatan ahli surga dan iapun masuk surga.” (Muttafaqun ‘alaih)

Saat inilah pembuktian yang tak terbantahkan bahwa anda bertauhid atau tidak, yaitu ketika ajal anda mampu mengikrarkan kalimat tauhid LAA ILAAHA ILLALLAHU di hadapan Malaikat Pencabut nyawa anda.

من كان آخر كلامه لا اله الا الله دخل الجنة

Siapa pun yang ucapan terakhirnya adalah Laa ilaha Illa Allah, pastilah ia masuk surga.” ( Abu Dawud)

Karena itu yuk sudahi klaim sepihak, apalagi merasa paling bertauhid.

Dan mari kita pebih fokus pada instropeksi diri, karena betapa banyak noda noda dosa yang masih membandal dalam jiwa kita.

Bila dahulu Para sajabat khawatir bila dirinya terjangkiti kemunafikan, mengapa kita saat ini seakan merasa aman dari kemunafikan, sehingga lebih sering menyibukkan diri dengan dosa kawan dibanding dosa sendiri.

Sat oleh Al-Bukhaariy no. 3208, 3332, 6594, 7454; Muslim no. 2643.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى

 

Orang Berilmu…

Suatu hari sahabat Ali bin Abi Thalib rodhiyallahu ‘anhu berkata:

ألا أنبئكم بالفقيه حق الفقيه ؟ من لم يقنط الناس من رحمة الله ، ولم يرخص لهم في معاصي الله ، ولم يؤمنهم مكر الله ، ولم يترك القرآن إلى غيره ، ولا خير في عبادة ليس فيها تفقه ، ولا خير في فقه ليس فيه تفهم ، ولا خير في قراءة ليس فيها تدبر .

Maukah engkau aku beri tahu perihal orang yang benar-benar faqih /berilmu ?
Dia adalah orang yang :
1. Tidak menyebabkan masyarakat berputus asa dari kerahmatan Allah.
2. Sebaliknya tidak menjadikan mereka ceroboh dalam melakukan kemaksiatan kepada Allah.
3. Tidak menggantikan Al Qur’an dengan selainnya.
4. Tidak ada baiknya ibadah yang tidak diiringi dengan ilmu.
5. Sebagaimana tidak ada baiknya ilmu yang tidak diiringi dengan pemahaman.
6. Dan juga tidak ada baiknya pada membaca kalau tidak diiringi dengan tadabbur.

(Al Faqih wa Al Mutaffaqih 2/338)

Sufyan At Tsauri rohimahullahu berkata:

إنَّما العلم عندنا الرخصة من ثقة , فأما التشديد فيُحسنه كل أحد

Yang disebut ilmu menurut kami adalah keringanan yang diajarkan oleh orang yang kredibel. Adapun membuat susah (memberatkan) maka semua orang bisa melakukannya.”

Faedah dari Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Antara “Andai Kemarin” Dan “Andai Besok”…

Andai kemarin‘ dan ‘andai besok.’

Sobat! Dua ucapan yang sekilas sama saja, namun ketahuilah bahwa keduanya memiliki perbedaan yang sangat besar.

Ucapan “ANDAI KEMARIN” menggambarkan adanya penyesalan dan keinginan untuk merubah masa lalu. Tentu saja keinginan merubah masa lalu adalah sikap pandir dan sia-sia.

Wajar saja bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ – حديث صحيح رواه مسلم

Orang mukmin yang tangguh lebih baik dan lebih Allah cintai dibanding mukmin yang lemah dan pada keduanya terdapat kebaikan. Upayakanlah segala yang bermanfaat bagimu, dengan tetap meminta pertolongan dari Allah dan jangan pernah merasa lemah/tidak berdaya.”

Bila engkau ditimpa sesuatu maka jangan pernah berkata: “andai aku berbuat demikian niscaya kejadiannya akan demikian dan demikian.”

Namun ucapkanlah: “ini adalah takdir Allah dan apapun yang Allah kehendaki pastilah terjadi/terwujud,” karena sejatinya ucapan “andai” hanyalah membuka pintu godaan setan.” [Riwayat Muslim]

Walau demikian, perlu anda ketahui bahwa larangan ini berlaku bila ucapan “ANDAI” diucapkan dalam konteks menyesali kodrat ILAHI, bukan dalam rangka mengambil pelajaran/ibroh agar tidak mengulang kembali kesalahan atau untuk meningkatkan amalan.

Adapun bila diucapkan dalam rangka mengambil ibroh atau antisipasi maka itu ucapan terpuji. Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

: ((لولا حداثة عهد قومك بالكفر لنقضت الكعبة، ولجعلتها على أساس إبراهيم، فإن قريشاً حين بنت البيت استقصرت، ولجعلت لها خلفاً)

Andailah bukan karena kaummu baru saja meninggalkan kekufurannya niscaya aku memugar bangunan Ka’bah, dan aku kembalikan sesuai pondasi yang dibuat oleh Nabi Ibrahim, karena sejatinya pada saat quraisy memugar Ka’bah, mereka kekurangan biaya, dan niscaya aku buatkan pula pintu keluarnya.” [Riwayat Muslim]

Pada kisah lain Nabi bersabda:

(لو استقبلت من أمري ما استدبرت لما سقت الهدى ولجعلتها عمرة…)

Andai aku masih di awal perjalananku dan belum terlanjur, niscaya aku tidak membawa hewan sembelihan (Al Hadyu) dan aku jadikan ihromku ini sebagai ihrom umroh terlebih dahulu ( sehingga menjadi haji tamattu’). [Riwayat Muslim]

Ucapan “ANDAI” untuk hari esok adalah indikator orang cerdas nan bijak. “ANDAI BESOK” berarti rencana, persiapan atau antisipasi, dan semua itu mencerminkan sikap bijak dan sudah barang tentu tidak terlarang.

Karena itu ungkapan semacan ini banyak kita temukan dalam hadits dan ucapan para sahabat.

Diantaranya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

” لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع

Andai aku berumur panjang hingga tahun depan niscaya saya puasa pula pada hari ke sembilan (dari bulan Muharrom).” [Riwayat Muslim]

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

da050414-1728

Resep Manjur…

Resep manjur menghadapi orang bodoh apalagi orang bodoh tidak tahu diri.

Di dunia nyata ketika berhadapan dengan orang gila lalu dia memaki anda, dan kemudian anda membalas maka itu pertanda anda milai ketularan penyakitnya.

Ketika berhadapan dengan orang bodoh, lalu ia memaki anda atau menghakimi anda dan anda membalas atau meladeninya maka itu bukti nyata anda duplikat dia.

Hal serupa juga berlaku di dunia maya dan medsos. Bila ada orang kurang waras nalarnya memaki anda di medsos lalu anda membalas maka itu cermin penyakitnya mulai menular kepada anda.

Demikian pula hanya dengan kebodohan yang ternyata sering kali bisa menular kepada orang lain.

Suata hari ada seorang lelaki yang memaki sahabat Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu.

Sahabat Abu Bakar memilih untuk diam tidak menanggapi makian lelaki tersebut.

Tidak direspon, lelaki itu kembali mengulangi makiannya, namun lagi lagi sahabat Abu Bakar memilih untuk diam.

Geram diabaikan, lelaki itu kembai memakinya untuk ketiga kalinya.

Dan setelah ketiga kali dimaki sahabat Abu Bakar terpancing dan membalas makian lelaki tersebut.

Setelah sahabat Abu Bakar terpancing untuk membalas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam yang semula duduk menyaksikan keduanya, segera bangkit dan bergegas pergi.

Segera sahabat Abu Bakar megikuti langkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam , selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepadanya:

,: “مازال مَلَكٌ يَذُبُّ عنك حتى رددت عليه, فلما رددت عليه حضر الشيطان, وما كان لي أن أجلس وقد حضر الشيطان”.

Semula ada seorang malaikat yang selalu membelamu, hingga engkau membalas makian lelaki itu. Tatkala engkau telah membalas sendiri makiannya, maka setan segera turut hadir. Sedangkan aku tidak sudi untuk duduk di majlis yang telah dihadiri oleh setan” ( Abu Dawud dll )

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Antara Bodoh dan Mudah…

1 + 1  = …….?
0 x 1  = …….?
2 – 1   = …….?
12 : 3 = …….?

Menjawab Pertanyaan di atas pasti mudah bagi anda. Namun demikian anak kecil bisa jadi susah menjawabnya.

Nah Islam tuh mudah , dan ringan, namun bagi siapa dulu ?

👉🏼   Orang yang dapat hidayah dari Allah maka mudah, namun orang yang pintu hatinya tertutup maka susah memahami apalagi menerimanya.

Al Qur’an tuh dimudahkan untuk dihafal, tapi bukan berarti semua orang mudah menghafalnya.

Bila demikian adanya, sudah saatnya anda bercermin bila merasa susah menghafal Al Qur’an atau memahami ilmu agama atau mengamalkannya.

Bukan Islamnya, atau Al Qur’annya atau ilmunya yang susah, tapi akal dan nafsu andalah biangnya.

Karena itu jangan jadikan mudah atau susahnya suatu ilmu untuk anda pahami atau diamalkan sebagai standar benar atau salah.

👉🏼   Benar atau salah diukur dengan dalil.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Tawakkal dan Usaha…

Imam Ibnu Taimiyah berkata:

Menyandarkan diri kepada sebab/sarana adalah bentuk kesyirikan dalam hal tauhid, mengingkari peran sebab pada akibatnya adalah bentuk nyata kerdilnya nalar pikiran, dan mengabaikan semua bentuk sarana adalah wujud nyata dari celaan terhadap syari’at.

Yang benar, setiap orang hamba diperintahkan untuk bertawakkal, berdo’a, memohon dan mengharap hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan Allah-lah yang akan mentakdirkan untuknya sarana tercapainya keinginan yang ia inginkan, bisa berupa do’a orang lain atau selainnya.

(Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 1/131)

Selamat direnungkan, dan kemudian direnungkan, dan terus direnungkan, semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Antara Urusan Akhirat dan Urusan Dunia…

Rejeki sudah dijamin, mengapa dipikir sungguh-sungguh ? Sedang urusan surga belum ada jaminan, mengapa tidak sungguh-sungguh ?

Demikian pernyataan sebagian orang, seakan itu adalah idiologi yang haqul yaqin tidak boleh dibantah atau minimal diragukan lagi. Padahal ucapan di atas nyata nyata menyelisihi dalil, diantaranya sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

مَا مِنْكُمْ من أَحَدٍ إِلا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ أَوِ الْجَنَّةِ ” . فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلا نَتَّكِلُ ؟ قَالَ : ” اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ,

Tiada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempat duduknya di neraka atau di surga.” Spontan salah seorang lelaki bertanya: “wahai Rasulullah, bila demikian apa tidak lebih baik kita berpangku tangan saja ?” Beliau menjawab: “beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk menemui apa yang telah ditaqdirkan untuknya.”  (Muttafaqun Alaih)

Jadi, masihkah ada dikotomi antara taqdir urusan akhirat dari taqdir urusan dunia ?

Memotivasi agar masyarakat lebih semangat dalam urusan akhirat, tidak perlu menafikan status taqdir dalam urusan dunia.

Lalu yang benar bagaimana ?

Simak metode Imam Ibnu Al Qayyim dalam menunaikan misi mulia di atas; memotivasi akhirat tanpa mengingkari taqdir dalam urusan surga dan neraka. beliau bekata:

يهتمون بما ضمنه الله ولا يهتمون بما أمرهم به, ويفرحون بالدنيا ويحزنون على فوات حظهم منها ولا يحزنون على فوات الجنة وما فيها ,ولا يفرحون بالإيمان فرحهم بالدرهم والدينار

Mereka begitu peduli dengan urusan yang telah Allah jamin untuk mereka, namun mereka kurang peduli dengan urusan yang Allah perintahkan mereka dengannya.

Mereka girang dengan urusan dunia, dan berduka bila gagal mendapatkan bagian darinya. Namun mereka tidak berduka bila kehilangan kesempatan mengapai surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya.

Mereka tidak girang dengan urusan iman, kegirangan mereka hanyalah urusan dirham dan dinar.

(Al Fawaid Ibnu Al Qayyim 157)

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Seharusnya Mereka Yang Meminta Ma’af Kepada Saya..(??)

Dosa mereka kepada saya lebih banyak dibanding dosa saya kepada mereka, maka seharusnya mereka yang meminta ma’af kepada saya ?

Islam tuh mengajarkan kita untuk senantiasa menjadi penebar kasih sayang. Semakin kita belajar dan bertambah iman, seharusnya kita semakin bertambah kasih sayang kepada semua saudara kita.

Belajar dan berdakwah untuk memperbanyak persamaan dan persahabatan agar semakin banyak yang beriman dan bertaqwa, bukan malah sebaliknya semakin belajar semakin banyak musuh dan semakin sempit dada anda karena dipenuhi oleh kebencian kepada masyarakat anda.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di maki, diludahi, dilempari bebatuan dan diusir oleh kaum Tsaqif, namun ketika ditawari bantuan oleh Malaikat Jibril dan malaikat Penunggu Gunung, beliau malah menghadiahi do’a kepada orang orang yang menyakitinya agar mereka masuk Islam.

Beliau tidak menyibukkan diri dengan merencanakan dendam atau pelampiasan kebencian atau dendam.

Yang terjadi, beliau malah mengemukakan alasan ummatnya yang tiada lelah memusuhi dan menyakitinya.

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

كأني أنظر إلى رسول الله {صلى الله عليه وسلم} يحكي نبياً من الأنبياء ضربه قومه فأدموه وهو يمسح الدم عن وجهه ويقول اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون

Sungguh seakan saat ini aku sedang menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan perihal seorang nabi yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah darah. Sambil mengusap darah di wajahnya, beliau berdoa: “Ya Allah ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka adalah orang orang yang tidak tahu (bodoh).” Muttaafaqun ‘alaih.

Sobat! kemanakah selama ini kita dari mengamalkan hadits ini ? Mengapa lisan kita, tindakan kita dan hati kita dipenuhi dengan dendam dan emosi kepada saudara sendiri yang nyata-nyata beragama Islam, walau memang nyatanya banyak terdapat perbedaan.

Tidakkah kita bisa lebih bersabar, dan berlapang dada, bisa jadi saudara kita memusuhi dan menyakiti kita karena kurangnya kita dalam menunaikan hak-hak saudara kita berupa amar ma’ruf dan nahi mungkar dengan cara-cara yang benar-benar ma’ruf, alias sesuai dengan keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Betapa pentingnya saat ini kita untuk memperbanyak istighfar karena kurang mampu menunaikan hak-hak saudara kita dibanding menyibukkan diri dengan menginventaris kesalahan mereka kepada kita .

Percayalah, bila memang mereka bersalah, kepada anda, maka hak-hak anda akan anda dapatkan seutuhnya kelak di hari Qiyamat.

Namun jangan lupa pula bahwa walaupun kesalahan anda kepada mereka lebih kecil dibanding dosa mereka kepada anda, maka itu tidak menjadi jaminan bahwa anda akan selamat dari hisab dan terbebas dari siksa di dunia ataupun di akhirat.

Bisa jadi pula mereka memiliki kebaikan yang cukup untuk menebus dosa-dosa mereka kepada anda, sedangkan anda belum tentu memiliki cukup simpanan pahala untuk menebus dosa-dosa anda kepada mereka.

Jangan lupa sobat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah berdakwah dengan cara yang paling sempurna, walau demikian, di akhir hayat beliau diperintahkan untuk memperbanyak istighfar, menyibukkan diri dengan kekurangan diri sendiri bukan dengan kekurangan dan dosa dosa orang lain. Allah Ta’ala berfirman:

إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ {1} وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا {2} فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (An Nasher 1-3)

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى