Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Dunia Pernah Mereka Genggam, Sedang Anda, Sampai Saat Ini Baru Berusaha Melakukannya…

Anda pernah dengar seorang yang bernama Qorun ? Dia pernah menjadi konglomerat terkaya di dunia, begitu banyak kekayaannya, sampai puing-puing kekayaannya terkenang hingga saat ini; “Harta Karun“?

Anda pernah mendengar orang yang bernama Fir’aun ? Begitu kuat, dan besar kekuasaannya, sampai ia merasa dirinya sebagai tuhan ?

Dan masih banyak lagi nama-nama beken seperti mereka, namun apakah kekayan, kekuasaan, dan bala tentara mereka mampu menjadikan mereka kekal di dunia ?

Walau dunia telah berada dalam genggaman mereka, namun ujung-ujungnya sama juga; mati, lalu berkalang tanah. Adapun dunia, dan kekuasaan mereka tidak sedikitpun yang bisa mereka bawa serta, walau hanya secuil saja.

Nah, sadarkah anda bahwa nasib serupa pasti akan anda alami, dan tentunya tidak sedikitpun dari kekayaan, jabatan dan kekuasaan yang bisa anda bawa ke alam kubur anda. Apalagi kekayaan dan kekuasaan anda tiada bandingnya dengan kekayaan dan kekuasaan mereka berdua.

Hanya ada satu yang mereka bawa, yaitu amalan, demikian pula halnya yang akan terjadi pada diri anda.

Bila demikian adanya, mengapa dunia yang hanya sekerat, dan kekuasaan yang hanya sesaat, melalaikan anda dari mengingat akhirat anda ?

Sadar dan bangunlah sobat dari kelalaian anda yang telah berkepanjangan.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ {1} حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ 

“Kalian telah terlalaikan oleh peromba-lombaan mengumpukan harta, hingga kalian masuk ke dalam kubur” (At Takatsur 1-2)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Siapa Diri Anda Yang Sebenarnya..?

Sobat, sah sah saja anda mengklaim diri anda orang Islam atau orang beriman, namun tentu saja sekedar klaim sepihak, apalah artinya.

Anda tertarik untuk mengetahui seberapa akurat klaim anda diatas ? 

Coba anda renungkan jawaban dari beberapa pertanyaan berikut:
* Seberapa besar perhatian anda kepada Islam dan ummat Islam ?
* Seberapa besar kekaguman anda kepada ummat Islam, terdahulu dan sekarang ?
* Dan seberapa besar upaya anda untuk memahami Islam dan berjuang untuknya ?
* Seberapa pedih rasa pilu di hati anda setiap kali mendengar derita ummat Islam saat ini ?

Sobat tahukah anda bahwa di setiap masa ada saja orang-orang yang lebih bangga bila bekerja, dan mengabdi untuk selain Islam ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Di Saat Aku Galau…

Sobat! Selama mengarungi lautan kehidupan, anda pasti pernah merasakan saat saat galau. Batin anda ingin menjerit sekeras kerasnya, namun di saat yang sama anda malu untuk meluapkannya melalui lisan.

Semakin anda berusaha memendam kegalauan, semakin pula anda merasakan penderitaan dan kepedihan.

Di kala seperti ini, anda sangat menantikan ada orang yang siap dengan setia dan penuh empati mendengarkan jeritan batin anda. Suasana semakin terasa indah bila ia dengan tutur katanya yang indah dan belaian tangannya yang lembut berusaha menenangkan perasaan anda. Dengan penuh ketenangan dan kesabaran ia berusaha menghembuskan kedamaian dan mengalirkan sungai sungai harapan dalam diri anda.

Saya yakin, anda pasti senang dengan orang yang mampu melakukan hal itu kepada anda setiap kali anda dirundung galau. Kehadirannya senantiasa anda rindukan dan perpisahan dengannya adalah duka atau derita yang mendalam.

Sobat! Tahukah anda bahwa sejatinya dengan mudah anda menemukan kedamaian dan kelembutan seperti yang tergambar di atas, bahkan lebih.

Sedahsyat apapun rasa galau anda, pasti terobati dan segera berganti dengan kedamaian dan kebahagian. Tahukah anda, siapakah gerangan dia ?

Itulah Allah Azza wa Jalla, dengan melantunkan kalam ilahi semua kedamaian akan mengalir deras dalam diri anda. Bahkan sekedar menyebut nama-Nya segala rasa galau kan sirna dan berganti dengan kedamaian. Simaklah firman Allah Azza wa Jalla berikut:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi damai berkat menyebut Allah. Ketahuilah, hanya dengan menyebut Allah hati hatimu dapat merasakan kedamaian.” (Ar Ra’du 28).

Sobat! Anda masih ragu ? Silahkan buktikan, sebutlah nama Allah, berdzikir, atau beristighfarlah kepada-Nya, niscaya anda menemukan buktinya.

Astaghfirullah, Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami. Allahu Akbar.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

 

da250514-0537

Ikhlas Itu…

Saya tuh ndak mau ceramah di TV, takut Riya’ = Riya’.
Saya ceramah di TV biar gimana gitu = Riya’
Saya tuh ikhlas = gombal

Riya’ = melakukan atau meninggalkan suatu ibadah karena selain Allah
Ikhlas = melakukan atau meninggalkan ibadah karena Allah semata.

La terus gimana dong? 

Ikhlas tuh ndak usah dipropagandakan, disosialisasikan, atau diceritakan, ikhlas tuh diam saja, dan tetap takut terjerumus riya’ tanpa sadar.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Berapa Wajah Anda..?

Wouw, ya jelas saja hanya satu, demikian barang kali jawab anda.

Tenang sobat, ketika anda bercermin, ada berapakah wajah anda saat itu? Coba pikirkan! Dan ketika anda ketemu dengan binatang buas, samakah wajah anda ketika ketemu dengan orang yang anda cintai ?

Jadi sebenarnya wajah anda ada berapa?

Kalau saya sih, berusaha untuk merasa wajah saya tetap satu, apapun yang saya hadapi dan dimanapun saya berada, adapun perubahan itu hanya sekedar ekspresi natural dari suasana hati, wajah mengekspresikan isi hati. Demikianlah idialnya orang yang beriman, jujur; sehingga lahir dan batinnya sama.

Berbeda dengan orang munafik, ia terbiasa bermain wajah, memasang wajah kawan kepada lawan, dan memasang wajah budak di depan atasan, dan wajah pengkhianat di belakangnya, demikian seterusnya.

Anda tahu, apa sebabnya mereka berbuat demikian ?

Sederhana, sebabnya mereka tidak punya harga diri, karena ia telah menjualnya dengan kepentingan dunia, harta, jabatan, wanita, dan lainnya, padahal kepentingan dunia terus berubah dan berpindah pindah, ya jadinya gitu itu, amit amit deh.

Adapun orang yang beriman, jiwa mereka teguh dengan imannya, hanya ada satu kepentingan baginya, yaitu mengabdi, takut, mengharap dan cinta hanya kepada Allah.

Dimanapun orang beriman berada, maka baginya hanya ada satu yang ia takutkan, murka Allah, hanya ada satu yang ia harapkan, ridha Allah, dan hanya ada satu yang ia harapkan, kasih sayang Allah. Allah Taala berfirman:

(يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا)

“Mereka merasa perlu untuk bersembunyi dari manusia, namun mereka tidak merasa perlu untuk bersembunyi dari Allah, padahal Allah bersama mereka di saat mereka merencanakan ucapan ucapan yang tidak Allah ridhai, sedangkan Allah benar benar mengetahui apa yang mereka lakukan.” [Surat An-Nisa’ 108]

Jadi, sekarang anda merasa ada berapa wajah anda ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى

Wanita Atau Pria Yang Lebih Banyak Masuk Surga..?

Coba anda tebak, mana yang lebih banyak. Bila anda wanita, barangkali anda berkata, wanita lebih banyak, dan bila anda pria, barang kali anda berkata: semoga pria lebih banyak masuk surga dibanding wanita.

Tenang sobat, sebelum lanjut baca status ini, ambil dulu segelas air minum, atau lebih sip bila anda menyeruput secangkir kopi hitam dulu, biar ndak gagal paham.

Suatu hari ada beberapa orang wanita dan pria yang memperdebatkan masalah ini. Mengetahui perdebatan ini, sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berusaha untuk menengahi dengan menyampaikan hadits berikut:

إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَالَّتِى تَلِيهَا عَلَى أَضْوَإِ كَوْكَبٍ دُرِّىٍّ فِى السَّمَاءِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ اثْنَتَانِ يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ وَمَا فِى الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

“Sesungguhnya gelombang pertama dari orang-orang yang masuk surga, wajah mereka bercahaya bagaikan rembulan di malam purnama. Gelombang selanjutnya bagaikan bintang langit yang paling terang. Masing-masing dari mereka memiliki dua istri. Sungsum tulang betis mereka dapat dilihat dari luar kulit mereka. Dan tidak seorangpun yang masuk surga dalam kondisi bujang tak beristri.” (Muttafaqun ‘alaih)

Jadi kira kira menurut anda, siapa yang lebih banyak masuk surga, wanita atau pria ?

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Resep Membuka Pintu Rejeki…

Berbagai cara, dan kiat bisa jadi telah anda lakukan untuk bisa kaya raya, namun setiap kali anda berusaha keras membukanya, seakan anda bertambah miskin bukan bertambah kaya. Benarkah demikian sobat ?

Saudaraku, sadarilah bahwa itu semua terjadi karena salah anda sendiri, andai anda membuka pintu kekayaan yang benar niscaya anda benar benar kaya raya.

Anda mau aku tunjukkan di mana pintu tersebut ?

Pintu itu adalah pintu akhirat. Lo kok bisa, mau kaya di dunia kok malah diajak membuka lintu akhirat, mana bisa jadi kaya ?

Tenang sobat, bila anda sibuk mengetuk dan berupaya membuka pintu akhirat maka Allah-lah yang akan membukakan pintu dunia anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من جعل الهموم هما واحدا هم آخرته ، كفاه الله هم دنياه ، ومن تشعبت به الهموم في أحوال الدنيا ، لم يبال الله في أي أوديتها هلك 

“Siapapun yang menyatukan seluruh orientasinya pada urusan akhiratnya, niscaya Allah cukupi urusan dunianya. Adapun bila ia memecah orientasinya pada berbagai urusan dunianya, maka Allah mencampakkannya, sehingga tiada berkenan menolongnya, di manapun ia ditimpa binasa.” (Ibnu Majah)

Ingat sobat, anda diciptakan untuk beribadah, sedang dunia diciptakan untuk anda, karena itu jangan sibukkan diri anda dengan urusan dunia, namun sibukkan diri anda dengan tujuan hidup anda, yaitu mengabdi kepada Pencipta anda.

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Takut Mati, Tapi Tidak Pernah Takut Hidup…

Sobat!
Kemaren sebelum anda terlahir, pernahkah anda merasa kawatir atau takut akan kehidupan? Mengapa setelah hidup, kini anda takut akan kematian? Padahal keduanya pasti anda jalani tanpa ada kesempatan menunda atau menghindar.

Barang kali anda berkata: karena dosa dosa saya banyak, sedang amal ibadah saya sedikit.

Betul, tapi apakah itu semua bsa menunda kematian atau menghalanginya ? Tentu saja tidak, mati pasti menghampiri, jadi tidak ada pilihan bagi anda kecuali menghadapinya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi.ya.

Kalau anda sadar bahwa dosa andalah yang menyebabkan anda takut mati, maka lawanlah dosa anda, hapuslah dosa anda, niscaya kondisinya berubah.

Segera ucapkan istighfar, bulatkan penyesalan dan ketuklah pintu rahmat Allah Taala, niscaya Allah mengampuni semuanya.

( وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)

Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang orang yang beriman, niscaya kalian mendapatkan kesuksesan. [Surat An-Nur 31]

Astaghfirullah wa atuubu ilaihi.

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Bumi Datar Atau Bulat..?

Debat dan kontroversi tentang bulat atau datar, bisa jadi panjang dan mungkin tidak akan ada ujungnya. Andai energi yang dikeluarkan untuk mendiskusikanya dialihkan kepada upaya menjawab dan membuktikan pertanyaan lain yang lebih mudah menjawabnya, niscaya hasilnya luar biasa.

Pertanyaan yang saya maksud: “apa yang sudah anda lakukan demi memakmurkan dan menegakkan kebenaran di muka bumi ini ?”

Saudaraku! sepatutnya anda, saya dan juga semua ummat Islam sadar bahwa Allah Ta’ala memberi kepercayaan kepada kita semua untuk memakmurkan bumi dengan amal sholeh dan aktifitas lain yang berguna. Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya (Huud 61)

Bumi datar atau bulat, satu ketetapan yang tidak lagi bisa dirubah, namun apa yang dapat anda lakukan demi kemakmuran bumi dan penduduknya adalah satu tindakan yang dapat anda upayakan.

Pertanyaan lain yang serupa dengan masalah ini pernah diajukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Datang seorang lelaki bertanya kepada beliau perihal kapan datangnya hari Qiyamat? Beliau menjawab:

مَا أَعْدَدْتَ لَهَا

Apa yang telah engkau persiapan untuk menghadapi datangnya Qiyamat?

Demikian pula dengan pertanyaan datar atau bulat, akan lebih efektif bila diganti dengan: apa yang telah anda lakukan dan yang akan anda lakukan bila ternyata bumi ini benar benar bulat atau datar ?

Berpikir cerdas dan produktif lebih keren dibanding sibuk berdebat tanpa ada hasil nyata apalagi bila hanya memancing kebencian dan perseteruan.

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Contoh Nyata Murid Bengal Yang Gagal Paham, Namun Sok Jago…

Suatu hari sahabat Ibnu Abbas berceramah, -menurut sebagian ulama’- dalam rangka meredam gejolak masyarakat yang hendak memberontak kepada penguasa kala itu. Beliau berceramah sejak ba’da sholat Asar, hingga matahari terbenam, dan bintang bintang mulai terbit.

Sebagian orang mulai gelisah dan berkata: ayo dirikan sholat, ayo dirikan sholat. DItengah kegelisahan itu , ada seorang laki laki dari Bani Tamim yang tanpa ragu dan sungkan sedikitpun menghampiri Ibnu Abbas , lalu berkata kepada beliau: ayo dirikan sholat , ayo dirikan sholat .

Mendapat perlakuan yang kurang santun dari lelaki itu, Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata:

أَتُعَلِّمُنِى بِالسُّنَّةِ لاَ أُمَّ لَكَ. ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ.

Apakah engkau hendak mengajariku tentang sunnah? Sungguh aku pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Madinah menjama’ shalat Zuhur dengan Asar dan sholat Maghrib dengan Isya’. (Muslim dll)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjama’ sholat karena ada urusan penting bahkan genting, yaitu berusaha meredam gejolak masyarakat yang hendak melakukan pemberontakan. Bila ceramah beliau ditunda dikawatirkan kehilangan momentum, dan masyarakat nekad melakukan perlawanan atau pemberontakan. Demi mencegah terjadinya kekacauan yang besar beliau berencana menjama’ ta’khir sholat Maghrib dan Isya’.

Demikianlah syari’at Islam, dalam kondisi kondisi tertentu, diajarkan melakukan sikap semacam ini, sesuai dengan kaedah “kewajiban mengedepankan maslahat yang lebih besar atau mencegah kerusakan yang lebih besar”.

Namun demikian, penerapan kaedah ini tentu tidak sembarangan, haruslah dilakukan dengan pertimbangan matang dan oleh orang yang memiliki kapasitas keilmuan yang cukup.

Kisah di atas, adalah contoh bagaimana “pendekar turun dari gunung” orang orang yang kata orang tua “durung gaduk kuping” yang sekilas nampak kokoh di atas sunnah, lantang menyuarakan kebenaran, dan istiqamah, namun sebenarnya ia gagal paham dan dangkal nalarnya.

Berbeda dengan ulama’ yang telah matang keilmuannya, mampu bersikap tepat pada waktu dan kondisi yang tepat, karena itu tidak seorang ulama’pun yang mencela atau mengkritisi sikap Ibnu Abbas radhiallallah ‘anhu di atas.

Karena itu, kalau anda gagal paham terhadap sikap ulama’ atau pendapat ulama’ yang lebih matang keilmuannya dibanding anda, jangan buru buru, bertanyalah dengan santun, bukan asal sruduk kayak banteng.

Wallahu a’alam bisshowab.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى