Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Pasukan Nasi Bungkus

Oleh Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Akhir akhir ini sering kita dengar dan baca tentang sebutan “pasukan nasi bungkus”.

Satu sebutan untuk sekelompok orang yang diberi sebingkisan “nasi bungkus” alias bayaran untuk satu pekerjaan ringan, yaitu menggugah informasi atau opini positif tentang satu figur capres, atau menyerang balik setiap orang yang berkomentar negatif tentang “tuan mereka”.

Sobat, mungkin bagi banyak orang berprofesi sebagai ” pasukan nasi bungkus” adalah hal sepele alias oke oke saja. Padahal tidaklah demikian, karena ketahuilah bahwa setiap ucapan, komentar dan sikap kita pastilah kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah Azza wa Jalla.

Bila informasi positif yang berfungsi sebagai rekomendasi ini salah maka itu adalah bentuk dari pengkhianatan. Dan bila benar, maka rekomendasi model “nasi bungkus” alias komersial seperti ini adalah perbuatan nista, dan keji karena tidak dilandasi dari ketulusan hati, namun karena adanya pamrih. Dengan demikian, dapat ditebak bila ada pembawa ” nasi bungkus” yang lebih besar niscaya mereka segera berbalik arah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ شَفَعَ لِأَحَدٍ شَفَاعَةً فَأَهْدَى لَهُ هَدِيَّةً عَلَيْهَا فَقَبِلَهَا فَقَدْ أَتَى بَابًا عَظِيمًا مِنْ أَبْوَابِ الرِّبَا
“Barang siapa memberi rekomendasi kepada seseorang lalu orang itu memberinya suatu hadiah, dan iapun menerimanya, maka ia telah memasuki satu pintu besar dari sekian banyak dari pintu pintu riba.” ( Ahmad dan lainnya)

Semoga Allah Azza wa Jalla melindungi kita dari perilaku keji yang memperbudakkan diri kepada materi, sehingga tidak berada di barisan “pasukan nasi bungkus.”

– – – – – •(*)•- – – –

 

 

Derita Mengundang Bahagia

Oleh Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobatku!

Dalam kehidupan di dunia ini, betapa banyak derita yang membawa bahagia.

Bahkan fakta telah membuktikan bahwa orang yang tidak siap untuk menderita biasanya adalah orang yang paling susah untuk bahagia.

Anda tidak percaya?
Coba ingat kembali betapa sering anda menderita karena kepedasan namun anda dengan senang melakukan itu karena anda percaya bahwa rasa pedas menambah nikmat hidangan anda. Makan semakin lahap dan hidangan semakin terasa sedap dengan derita lidah kepedasan.

Berolah raga, melelahkan dan sering kali memakan biaya dan waktu. Namun demikian olah raga diyakini menjadi salah satu kunci hidup sehat.

Masih banyak lagi hal serupa yang awalnya berupa derita namun membawa bahagia. Itulah dunia, nikmatnya harus diimbangi dengan derita yang setimpal dan nikmatnya harus ditebus dengan derita yang sepadan.

Imam ibnul qayyim berkata:

بقدر التعب تنال الراحة ولا راحة لمن لا تعب له

Sebesar rasa lelah/pengorbananmu engkau mendapatkan kesenangan dan tiada kesenangan bagi orang yang tidak pernah merasakan rasa lelah.

Bisa Jadi: Nikmat Bagi Anda, Siksa Bagi Dia, Nikmat Bagi Dia, Siksa Untuk Anda

Oleh Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat!

Ketahuilah, sejatinya rasa nikmat dan siksa di dunia ini sering kali bersifat semu. Betapa banyak urusan yang menurut anda terasa begitu nikmat dan menyenangkan, namun bagi banyak orang hal yang sama terasa menyiksa dan menyakitkan.

Membuang sampah sembarangan, di aliran sungai, di jalan, dan dimanapun anda mau, memang bagi anda terasa nyaman alias memudahkan. Namun bagi banyak orang perbuatan anda ini tentu menyedihkan dan sering kali mendatangkan petaka.

Parkir kendaraan sembarangan, memang memudahkan anda namun sering kali menyengsarakan banyak orang.

Bertutur kata sesuka hati anda memang ringan dan sering kali terasa menyenangkan, namun sesering itu pula ucapan anda menyakitkan perasaan orang.

Walau anda merasa bahagia dan senang dengan perbuatan di atas, namun ketahuilah cepat atau lambat dan pada gilirannya nasib malang serupa pasti menimpa anda.

Karena itu, berpikirlah dan timbanglah setiap ucapan dan perbuatan anda. Tidak semua yang anda senang lantas boleh anda lakukan, namun pikirkanlah agar tindakan dan ucapan anda itu juga dapat menyenang setiap orang yang mengetahui atau merasakannya.

Kepekaan anda terhadap efek dari setiap ucapan dan perbuatan anda adalah cermin dari iman anda. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ”

“Tidaklah engkau dinyatakan sempurna imanmu hingga engkau memperlakukan saudaramu sebagaimana engkau memperlakukan dirimu sendiri.” ( Muttafaqun alaih).

Oleh Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

– – – – – •(*)•- – – – –

Senandung Yang Mengajarkan Dusta

Ust. DR. M Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Nina bobok oh nina bobok, kalau tidak bobok digigit nyamuk.

Senandung “kuno” ini sering dinyanyikan oleh ibu-ibu disaat menidurkan putranya yang masih kecil. Senandung ini terus mereka nyanyikan tanpa sedikitpun ada rasa sungkan atau risih, atau kawatir, seolah-oleh nyanyian itu adalah salah satu prosedur formal menidurkan anak kecil.

Namun demikian, sobatku sekalian!

Pernahkah anda berpikir: kira-kira apa respon dan perasaan anak anda bila mengetahui bahwa nyamuk lebih leluasa untuk beraksi mengisap darah ketika ia telah terlelap tidur?

Tidakkah anda kawatir bahwa tanpa disadari, dan secara terus menerus anda menanamkan kebiasan buruk, yaitu berdusta atau bahkan pembodohan kepada anak anda sendiri?

Tidakkah anda kawatir bila perilaku serupa di kemudian hari akan mereka lakukan kepada anda, setelah mereka pandai merangkai sendiri senandung yang serupa?

Bila dulu anda berdusta dengan nina bobok, karena anak anda belum mengenal nyamuk, maka bisa jadi besok, anak anda berdusta dalam urusan lain yang tidak atau belum anda ketahui ?

Bukankah anda menyadari bahwa di zaman ini dan saat ini anak-anak anda lebih menguasai tentang tekhnologi dan alat komunikasi ?

Sangat memungkinkan kini mereka melakukan hal serupa “ibu bobok oh ibu bobok, kalau tidak bobok digigit nyamuk”.

Tenang saja ibu, jangan kawatir, aku ada acara kuliah sore, praktikum LAB, PKL, ambil sampel, dll, padahal nyatanya pergi bersama pacar.

(رَبَّنَاهَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا)

“Wahai Tuhan kami, anugrahkan kepada kami istri-istri dan anak keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang beriman.”

– – – – – •(*)•- – – – –

Alaaah ! Sok Benar, Sok Paling Benar !

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat, mungkin anda sering mendengar tuduhan atau ucapan semacam di atas. Terlebih lagi bila anda adalah lelaki berjenggot, bercelana cingkrang atau wanita muslimah yang menutup rapat aurat anda.

Terlebih lagi bila anda senantiasa meminta dalil dalam setiap urusan agama.

Nah, pada saat menghadapi tuduhan semacam itu, apakah yang anda ucapkan atau lakukan ?

Anda berang ?
Anda buru buru menepis dan berkata : aah tidak, saya tidak merasa paling benar!

Sobat! Coba camkan jawaban anda: bila ternyata anda tidak merasa paling benar lalu mengapa anda mengamalkan bahkan mengajarkan pilihan anda kepada yang lain ?

Dan mengapa anda enggan menggantinya dengan pilihan lain ?

Kalau menurut hemat saya, sebagai seorang muslim, sewajarnya untuk senantiasa memilih yang terbenar dan terbaik. Sangat nista bila anda memilih yang tersalah, atau paling kurang pilihan yang salah, terlebih dalam urusan agama.

Untuk urusan pasangan hidup saja saya yakin anda berusaha memilih yang “the best” dari yang ada atau dari yang bisa anda dapatkan.
Dengan demikian wajar bila anda setia kepada pilihan anda.

Alangkah meruginya bila dalam urusan pasangan hidup anda bersikap “asal dapat” apalagi memilih yang buruk, terlebih lagi bila pilihan yang terburuk.

Walaupun tentunya apapun pilihan anda bukan berarti anda pantas untuk membusungkan dada apalagi meremehkan pilihan orang lain, karena tentunya mereka juga telah berusaha untuk memilih yang terbaik menurut persepsi mereka.

Karena itu dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»

“Kesombongan yang sejati ialah bila engkau menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR Muslim)

Oleh Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

– – – – – •(*)•- – – – –

Antara Ulama’ Dan Juhala’

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وَالْعَالِمُ يَعْرِفُ الْجَاهِلَ؛ لِأَنَّهُ كَانَ جَاهِلًا وَالْجَاهِلُ لَا يَعْرِفُ الْعَالِمَ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ عَالِمًا؛

Ulama’ mampu mengenali orang bodoh, karena ia dahulu pernah bodoh, namun orang bodoh tidak dapat mengenali ulama’ karena ia belum pernah menjadi ulama’. ( Majmu Fatawa 13/235)

– – – – – •(*)•- – – – –

Pemimpin Idaman

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Saudaraku sekalian!

Setiap insan pastilah mendambakan untuk memiliki pemimpin yang bagus, baik pemimpin dalam cakupan yang luas semisal pemimpin negara atau yang sempit pemimpin rumah t angga. Adil, mewujudkan kemakmuran, melayani rakyatnya dan mampu menjaga kedaulatan negaranya.

Saudaraku! Bila anda masih kebingungan mencari dan mengenali calon pemimpin anda, maka temukan kriterianya pada sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Berikut ini:

من أصبح منكم آمنا في سربه، معافا في جسده، عنده طعام يوم فكأنما حيزت له الدنيا بحذافيرها»

Barang siapa merasa aman di negrinya sehingga ia bebas pergi kemanapun, memiliki persediaan makanan yang ia makan pada hari itu, dan badannya juga sehat, maka seakan akan ia telah mendapatkan dunia dengan segala isinya. ( Bukhari dalam kitab Al Adab Al Mufrad dan Ibnu Abi Ashim).

Itulah tiga pilar kemakmuran suatu negri dan sekaligus tiga kriteria pemimpin yang bagus:

1. Mampu menegakkan stabilitas keamanan, baik dari dalam ataupun luar.

2. Memberikan layanan kesehatan yang bagus bagi masyarakatnya.

3. Mampu mengangkat perekonomian masyarakatnya.

Adapun pemimpin yang hanya bisa cengangas cengenges, dan obral janji, maka itu pemimpin yang hanya pantas ada dalam dunia dongeng.

Saudaraku! Percayalah, dengan terwujudnya ketiga aspek di atas, niscaya dengan izin Allah negri atau juga rumah tangga anda makmur, damai dan maju.

 Ditulis oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Ucapanmu Amalanmu

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Ulama’ dahulu semisal Al Fudhail bin Iyadh dan lainnya berkata:

مَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ قَلَّ كَلَامُهُ فِيمَا لَا يَعْنِيهِ

“Siapa saja yang menyadari bahwa ucapannya adalah bagian dari amalannya, niscaya ia menahan diri dari berbicara kecuali dalam hal hal yang benar benar berguna baginya.”

Sobat! Camkan baik baik, benarkah setiap ucapan saudara berguna bagi saudara? Ataukah hanya sebatas melampiaskan uneg uneg dan memuaskan hasrat berbicara?

Oleh: Ustadz Dr Muhammad Arifin Badri

– – – – – •(*)•- – – – –

Antara Orang Cerdas Dan Orang Yang Telat Cerdas

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله

Sobat, nenek moyang kita menggambarkan orang yang cerdas nan sigap dengan pepatah: ” sedia payung sebelum hujan”.

Sungguh benar, betapa Antisipasi yang tepat pada waktu yang tepat dalam setiap masalah benar benar mencerminkan kercerdikan.

Beda dengan orang yang hanya bisa membeo dan mengekor, biasanya mereka bertindak disaat semuanya telah terlanjur, sehingga tidak dapat dihindari lagi.

Setelah hujan turun, atau mulai rintik rintik, mereka baru kalang kabut mencari payung atau minimal mencari tempat berteduh. Untung bila berhasil mendapatkan payung,namun bila tidak, tentu saja mereka menjadi basah kuyup.

Petuah nenek moyang di atas sejatinya juga telah diajarkan oleh para ulama’ terdahulu. Dalam referensi fiqih fiqih klasik telah ditemukan kaedah :
سد الذريعة

Anjuran Menutup segala celah terjadinya kerusakan sebelum kerusakan tersebut benar benar menjadi kenyataan.

Sebagai contoh kongkritnya, wanita dianjurkan menutup auratnya dengan rapi, walaupun belum ada lelaki hidung belang yang bermata jelalatan. Karena bila telah terlanjur berada dihadapan lelaki hidung belang sedangkan anda baru menyadari pentingnya jilbab yang benar, maka sering kali kurang berguna, paling kurang anda perlu perjuangan keras untuk menyelamatkan diri dari gangguan dan ulahnya.

Para orang tua diperintahkan untuk menjaga anak gadisnya agar tidak berduaan/ pacaran dengan lelaki yang belum halal baginya, walaupun belum ada hasrat untuk berzina, bahkan belum saling kenal.

Karena bila terlanjur saling kenal, saling cinta apalagi ada indikasi telah berkobar hasrat untuk berzina ( mabok cinta) maka walaupun anak gadis itu dipingit oleh orang tuanya, ia akan kabur dari rumah demi menemui lelaki hidung belang pujaan hatinya dan menyerahkan kehormatan dirinya.

Anda diharamkan untuk berjudi karena judi berpotensi menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara ummat manusia.

Namun betapa terlambatnya diri anda bila menyadari bahaya judi dan baru mencari cara untuk meninggalkannya setelah api permusuhan dan kebencian mulai terpercik, dan menyengat kulit anda.

Demikian seterusnya dalam banyak masalah, kaedah di atas berlaku. Karena itu sobat, jadilah orang cerdas dan bukan orang yang telat cerdas,karena orang yang telat cerdas sering kali menjadi korban dan susah untuk menghindari ancaman.

Orang yang telat cerdas biasanya baru menyadari adanya ancaman dan terbuka mata setelah ancaman benar benar berada di depan mata bahkan mulai merasakan percikan api petakanya.

 Ditulis oleh Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Menggunakan Hak Suara Bukan Berarti Masuk Parlemen Atau Partai

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله

Sobat! Fatwa beberapa ulama’ besar yang saya unggah di status saya beberapa waktu lalu, hanyalah menjelaskan bolehnya menggunakan hak pilih untuk memilih yang paling ringan madharatnya. Harapannya, gerakan tokoh tokoh pembawa kerusakan dapat dibendung, bukan dalam rangka mencari pemimpin yang dapat menegakkan Hukum hukum islam.

Sobat! Camkan baik baik sabd Nabi shallallahu alaihi wa sallam berikut ini:

«أنه لا يدخل الجنة إلا نفس مسلمة، وأن الله يؤيد هذا الدين بالرجل الفاجر»

Sejatinya tidak ada yang dapat masuk surga kecuali jiwa jiwa yang beriman. Namun demikian kadang kala Allah meneguhkan agama ini dengan perantaraan orang fajir/ keji.” ( Muttafaqun Alaih)

Karena tanggapan sebagian teman terhadap fatwa tersebut dengan anggapan : ” sia sia keberadaan orang orang baik di parlemen, atau partai adalah hasil demokrasi yang sudah barang tentu menyimpang dari ajaran Islam” adalah tanggapan yang sangat mengherankan dan salah sasaran.

Menggunakan hak suara dalam pemilu bukan dalam rangka mencari pemimpin yang akan menegakkan islam, namun dalam rangka meminimalkan ruang gerak para penjahat dan musuh Islam.

Dahulu, pada awal kedatangan Nabi shallallahu alaihi wa sallam di kota Madinah, beliau Shallallahu alaihi wa sallam membuat perjanjian damai/ kerjasama dengan kaum Yahudi untuk mempertahankan kota Madinah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam sepenuhnya memahami bahwa Yahudi tidak akan membela Islam apalagi menegakkan Islam, namun beliau melakukan hal itu untuk meminimalkan ancaman dan resiko serangan Kafir Quraisy dan sekutunya. Kisah perjanjian tersebut dimuat dalam kitab kitab sirah dan juga dikisahkan oleh para ulama’ dalam kitab kitab mereka.

Demikian pula fatwa ulama’ yang membolehkan penggunaan hak suara pada pemilu mendatang. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan menepis kesalah pahaman sebagian saudara kita. wallallahu Ta’ala a’alam bisshawab.

 Oleh Ustadz Dr. Arifin Badri حفظه الله تعالى