Category Archives: Muhammad Nuzul Dzikry

Koq Pada Puasa… Emangnya Sunnah..?

Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam berpuasa pada 9 hari pertama di bulan Dzulhijjah.
(HR. Abu Daud 2439 dan dishahihkan Albani)

Belum lagi keumuman hadits Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhu-tentang keutamaan amal shalih di 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Sahabat Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam seperti Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhu- pun berpuasa di 9 hari ini.
(Syarh Sunnah lil Baghawi 6/347)

Imamnya ulama tafsir, Mujahid -rahimahullah- pun berpuasa.
(Ibnu Abi Syaibah 9222)

Belum lagi nama-nama besar seperti ‘Atho bin Abi Robah dan Muhammad bin Sirin -rahimahumallah-.
(Ibnu Abi Syaibah 9221 & 9222)

Ibnu Rojab -rahimahullah- menyatakan bahwa berpuasa 9 hari pertama Dzulhijjah adalah pandangan mayoritas ulama.
(Lathooif Ma’aarif 289),
dan termasuk pandangan madzhab Syafi’i.
(I’aanatuth Thaalibiin 2/266, Raudhatuth Thaalibiin 2/254).

Inipun yang difatwakan Al Lajnah Ad Daaimah dalam fatwa no. 20247 dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.
(Al Liqaa’ Asy Syahri 2/10)

Terakhir…
Imam Nawawi -rahimahullah- menyatakan:
“Puasa (9 hari pertama Dzulhijjah) ini sunnah yang sangat ditekankan.”
(Al Minhaaj 4/209)

Saudaraku,
Selamat berpuasa di hari-hari terbaik ini..

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى

Dianak-Tirikan…

Ia adalah bulan mulia…
Bulan ibadah…
Bulan yang memiliki 2 gelar:

1. Bulan Haji

ALLAH ta’ala berfirman:

ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومات

Musim haji jatuh pada beberapa bulan yang telah diketahui (Syawwal, Dzul Qa’dah, 10 hari pertama Dzul Hijjah).”
(Al Baqarah: 197)

2. Bulan Haram

Bulan dimana DOSA dilipatgandakan, sebagaimana PAHALA setiap tetesan keringat dan langkah kebajikan dilipatgandakan.

ALLAH ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمٰوٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram/mulia (Dzul Qa’dah, Dzul hijjah, Al Muharram, dan Rajab).” (At Taubah: 36)

Namun…
Bulan ini cenderung dilupakan.
Jarang terlihat penyambutan dan jamuan.

Jangankan menyambut kedatangannya, banyak dari kita tidak sadar bahwa ia telah bertamu dalam kehidupan kita.

Saudaraku,
Kita telah berada di bulan Dzul Qa’dah .
Lumbung dari pahala dan mimpi buruk bagi setiap dosa.

Maksimalkanlah…
Perlakukanlah dia dengan semestinya dan jangan sampai kita “menganak-tirikan”-nya.

(Tafsir Ath Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir Surat Al Baqarah: 197 dan Surat At Taubah: 36)

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc,  حفظه الله تعالى

da250717-2106

Menata Hati…

Sedang berjuang untuk menata hati ?
Ingin tetap tenang dalam tekanan ?
Bahagia dalam kesendirian ?
Renungkan nasehat singkat pakar hati berikut ini

Dasar segala hal yang membersihkan hati dan jiwa adalah tauhid“.
Ibnul qoyyim (ighatsatul lahfan 1/108)

Saudaraku,
Pelajarilah tauhid,
Duduklah di majelis yang mengajarkan tauhid, lalu amalkan tauhidmu dalam kehidupan sehari-hari

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى.

 

Bulan Puasa Berlalu, Bulan Haji pun Datang…

Kita terbiasa mengatakan Ramadhan adalah bulan puasa. Sekarang marilah kita populerkan bahwa *bulan Syawwal, Dzulqo’dah dan 10 hari pertama Dzulhijjah adalah bulan haji.*

Mari kita simak QS. Al Baqarah: 197

الحج أشهر معلومات

Musim haji jatuh pada beberapa bulan yang telah diketahui (Syawwal, Dzulqo’dah, 10 hari pertama Dzulhijjah).”

Memang benar prosesi haji sendiri baru dimulai tanggal 8 Dzulhijjah, namun jika anda mau, anda sudah bisa melakukan ihram pada bulan Syawwal ini.

Selamat datang di bulan haji…
Hadirkan suasana ibadah, khususnya haji di dalam diri kita!

Perbanyaklah ibadah di hari-hari ini!

Bagi yang akan berangkat tahun ini, lakukan persiapan semaksimal mungkin!

Bagi yang belum mendaftar, segera daftarkan diri anda!

Bagi yang telah mendapatkan nomor porsi, selamat menunggu dengan penuh kesabaran!

Bagi yang telah berhaji, semikan kembali kenangan indah itu serta bumikan makna dan hikmah dalam keseharian anda, dan tancapkan tonggak-tonggak tauhid di dalam hati anda.

Catatan:
– Terinspirasi dari nasehat Al ‘Allaamah Syaikh ‘Abdul Aziz Alu Syaikh, mufti KSA tentang bulan haji.
– Lihat tafsir Ibnu Katsir pada QS. Al Baqarah: 197.
– Penjelasan apa saja bulan-bulan haji diatas disitir dari penjelasan ulama, diantaranya pandangan madzhab Syafi’i.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى 

Bertemu Dengan Saudara…

Lebaran dan bulan Syawal adalah momentum bertemu dengan saudara.

‘Urwah -rahimahullah- menuturkan:

Jika engkau melihat seseorang mengerjakan kebaikan maka ketahuilah bahwa kebaikan itu memiliki banyak saudara (kebaikan-kebaikan yang lain), dan jika engkau melihat seseorang mengerjakan keburukan maka ketahuilah bahwa keburukan itu memiliki banyak saudara (keburukan-keburukan yang lain). Sesungguhnya kebaikan itu mengarahkan kita ke saudara-saudaranya (sesama amal shalih) dan keburukan itu mengarahkan kita ke saudara-saudaranya (sesama dosa dan keburukan).”

(Hilyatul Auliya’ 2/177)

Saudaraku,
Maka pertanyaan besarnya adalah: Dalam suasana ‘Ied dan Syawal ini, “saudara-saudara” siapa yang bercengkrama dan menemani hari-hari kita ?

Jawabannya adalah cermin apa yang kita perbuat di bulan suci Ramadhan

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى

Indikator di Bulan Syawwal…

Di dunia ini tidak ada yang bisa tahu dengan pasti apakah puasa Ramadhannya diterima atau tidak oleh sang Khaliq.

Namun ada sebuah indikator di bulan Syawwal ini.
Indikator itu bernama puasa 6 hari di bulan Syawwal.”

Sebuah kaidah di tengah para ulama berbunyi:

Balasan dari sebuah kebaikan (yang diterima) adalah kebaikan berikutnya.”

Saudaraku,
Jika puasa Ramadhan anda diterima, niscaya jiwa ini tidak akan kesulitan dalam memilih 6 hari saja dari 1 bulan untuk kembali berpuasa.

Selamat berpuasa…

(Lathaiful Ma’aarif hal. 311 dengan perubahan redaksi)

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc,  حفظه الله تعالى

 

da300617-1440

Sungguh Miris Rasanya…

Sungguh miris rasanya jika shalat, puasa, tilawah Al Qur’an dan berbagai torehan emas ibadah yang berhasil kita rajut dengan kokoh selama bulan suci mulai terurai satu demi satu, lalu akhirnya kembali tercerai berai karena kelalaian kita di awal bulan Syawwal.

Akhirnya semua yang kita perjuangkan selama Ramadhan berlalu begitu saja tanpa makna.

Tetap waspada, saudaraku.

‏﴿٩٢﴾ وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكٰثًا …

Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benang yang sudah dipintalnya dengan kuat, sehingga menjadi cerai berai kembali…
(QS. An Nahl: 92)

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى

Pahala Puasa Wajib…

29 + 6 = 1..
.
Bingung..?
.
Mari kita simak penjelasannya,
.
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
.
Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan lalu ia lanjutkan dengan puasa 6 hari di bulan Syawwal, niscaya ia mendapat pahala seperti puasa 1 tahun penuh.
(HR. Muslim)
.
Dalam HR. An Nasa’i, Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menguraikan:
.
“ALLAH menjadikan kebaikan menjadi 10 kali lipat, maka puasa 1 bulan (Ramadhan) bernilai 10 bulan dan puasa 6 hari setelah ‘Iedul Fitri (di bulan Syawwal) menyempurnakannya menjadi 1 tahun.”
.
Sehingga:
29 hari + 6 hari= 1 tahun
.
Saudaraku,
Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
.
“Barangsiapa yang berpuasa SATU HARI di jalan ALLAH, niscaya ALLAH akan jauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 puluh tahun perjalanan.”
(HR. Bukhari dan Muslim) .

JIKA ITU KEUTAMAAN PUASA SATU HARi, MAKA SILAHKAN BAYANGKAN BAGAIMANA PAHALA PUASA SELAMA SATU TAHUN PENUH ??
.
Saudaraku…
Tahukah anda penjelasan banyak ulama (diantaranya ULAMA MADZHAB SYAFI’i) tentang hal ini ?
.
TERNYATA PAHALA PUASA 1 TAHUN PENUH TERSEBUT ADALAH PAHALA PUASA WAJIB.
.
Maksudnya?
Ya, puasa 6 hari di bulan Syawwal merupakan puasa sunnah, NAMUN PAHALANYA SENILAI DENGAN PUASA WAJIB, layaknya puasa Ramadhan.
.
Masih ada banyak waktu… hanya 6 hari dari 29/30 hari…
Bisa di awal atau di pertengahan atau di akhir bulan Syawwal, bisa berturut-turut atau tidak. .
Pahala puasa 1 tahun penuh itu sudah sangat dimudahkan, saudaraku…
.
.
Referensi:
I’anatut Thaalibiin 2/268, Tuhfatul Habiib 3/155, Tuhfatul Muhtaj 14/69, Fathul Wahhab 2/351, Mughnil Muhtaj 1/447, Nihayatul Muhtaj 3/208, Al Inshaf 3/344, Kasysyaaful Qina’ 2/337 dan lain-lain.
.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى

Sunnah Yang Terlupakan…


.
Sunnah yang kerap terlewatkan… Yuk hidupkan kembali…..

SUNNAH YANG TERABAIKAN…..
.
“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidak mengerjakan shalat sunnah sebelum shalat ied, namun jika beliau pulang dan sampai di rumah beliau shalat 2 raka’at.”.(HR. Ibnu Majah dishahihkan oleh Imam Hakim, Adz Dzahabi, dihasankan oleh Imam Ibnu Hajar, Al Buushairi, Albani).
.
Ibnu khuzaimah mengatakan: “Disunnahkan shalat di rumah selepas pulang dari shalat ied.”(Shahih Ibnu Khuzaimah 2/362).Silahkan lihat keterangan imam iibnu quddamah dalam al mugni 2/241 dan imam ibnu hajar dalam fathul baari 3/418.
.
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى..
.
.
#sunnah#rumah..

Follow: @bbg_alilmu

Follow: @bbg_alilmu

Follow: @bbg_alilmu

Menengok Ke Belakang…

Di malam ke 29 ini, mari sejenak kita menengok ke belakang, ternyata…

Telah 28 hari kita berpuasa.
Puasa yang penuh kekurangan.
Puasa yang diselingi dengan khilaf dan maksiat.
Puasa yang terkadang terbakar nafsu dan emosi.

Tengoklah kembali!
Ternyata… telah 28 malam kita lewati.
Ternyata… waktu tidur lebih banyak dari waktu tadabbur.
Ternyata… waktu tertawa lebih sering dari membaca Al Qur’an dan berdoa.

Ada penyesalan,
Ada kepiluan,
Ada tanda tanya besar, masih tersisakah taqwa untuk diri ini??

Saudaraku,
Harapan itu masih ada,

Resapi sabda sang Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- berikut ini:

من أحسن فيما بقي غفر له ما مضى ومن أساء فيما بقي أخذ بما مضى وما بقي

Barangsiapa yang memaksimalkan waktu yang masih tersisa, maka kesalahannya yang lalu pasti terampuni, dan barangsiapa yang melalaikan waktu yang tersisa, maka ia akan disiksa karena kesalahan yang lalu dan yang tersisa.”  (HR. Thabrani Fil Awsath dan dihasankan oleh Albani)

Optimis dan husnuzhan-lah kepada ALLAH!
Tabuhkan kembali genderang perjuangan kita!
Kencangkan kembali ikat pinggang kita!
Hidupkanlah waktu yang tersisa!

Ingatlah!
ini adalah malam ganjil terakhir dan bisa jadi malam terakhir pada Ramadhan 1439 H ini .

Sesungguhnya amal ibadah itu tergantung penutupannya.”
(HR. Bukhari)

Semoga ALLAH memberi taufiq kepada kita di sisa waktu ini.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc,  حفظه الله تعالى