Category Archives: Muhammad Nuzul Dzikry

Renungan Ibnul Mubarak Rahimahullah…

Ibnu Mubarak rahimahullah sering memilih duduk (membaca Al Qur’an & Hadits-hadits Nabi) di rumah beliau.

Beliau pun ditanya: “Apakah engkau tidak jenuh berada di rumah ?”

Beliau menjawab: “Bagai­mana mungkin aku jenuh sedangkan aku bersama Rasulullah dan para shahabatnya ?!”
(Siyar A’laamin Nubalaa’)

Inilah perasaan seorang pecinta Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam , ia menikmati saat-saat ia membaca dan mengkaji sunnahnya.

Pernahkah kita mendapatkan sepucuk surat dari orang yang kita cintai? Bagaimana perasaan kita? Apakah kita bosan dan jenuh?

Tentu tidak, hati kita berbunga, kita menikmati kebersamaan kita dengan dirinya walaupun hanya dengan sepucuk surat. Kita tidak beranjak dari tempat kita sampai kita menyelesaikan seluruh isi surat itu, bahkan tidak jarang kita baca kembali dari awal untuk yang ke-2 kalinya.

Itulah perasaan yang bersemi di dalam lubuk hati pencinta Allah dan Rasul-Nya saat ia membaca firman-Nya atau hadits Nabi-Nya.

Pertanyaan yang masih mengganjal, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memiliki perasaan tersebut saat kita membaca Al Qur’an, hadits atau berada di majlis ilmu ??

Allahul musta’aan

Muhammad Nuzul Dzikry, حفظه الله تعالى

 

da260413

Saat Semua Berpaling – Kisah Ka’ab bin Malik, Rodhiyallahu ‘Anhu… Part # 6

Bergemuruh dada Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu ketika membaca surat dari Raja Ghassan (baca Part # 5). Sebuah pesan yang menyampaikan tawaran pelayanan raja kaum nasrani di Palestina yang dapat mengobati derita hukuman isolasi sosialnya di Kota Madinah akibat dari kelalaiannya luput mengikuti ajakan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam pada perang Tabuk. Pun tentunya yang notabene tawaran pelayanan dari Raja Ghassan tersebut ditebus dengan konsekuensi menggadaikan keimanan Islam & kesetiaannya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam.

Inilah salah satu sunnatullah dalam kehidupan manusia, di mana datangnya ujian ketika berada di titik nadir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

احسب الناس ان يتركوا ان يقولوا ءامنا وهم لا يفتنون – ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكذبين

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabuut 2-3).

Inilah sebuah ujian yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita pada masa-masa yang genting dengan membukakan lebar pintu-pintu kesempatan bermaksiat serta akses kemudahan maksiat lainnya. Tak luput manusia sekaliber Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu pun mendapatkan ujian ini.

Sebuah tawaran indah dunia bagi Ka’ab yang datang ketika belumlah kering luka sesak hati Ka’ab diacuhkan sahabat yang sekaligus sepupunya, yakni Abu Qatadah. Tak ayal membaca tawaran yang tersurat dari Raja Ghassan tersebut membuat gemuruh dada Ka’ab.

Namun gemuruh hati Ka’ab bukanlah karena hatinya melemah, bukanlah karena pendiriannya tergoyah, namun karena amarah. Amarah yang terbit dari keimanan Islam yang ‘bermental baja’, hingga-hingga sesampainya di rumah, Ka’ab membakar surat tersebut dan meninggalkan jauh-jauh perkara tawaran manis dunia tersebut. Pembakaran surat tersebut pun merupakan simbol sebuah teguhnya sikap dalam membawa diri dalam menjauhi kemaksiatan.

Demikiannya pada diri kita, wajiblah kiranya bagi kita menyiapkan diri dengan baik ketika ujian ini dihadapkan kepada diri kita oleh Allah Jalla Jalaluhu. Jangan sampai tergoyahkan dan kesempatan maksiat malah kita sambut dengan suka cita, yang tentunya kondisi mudah terlena kenikmatan maksiat dunia adalah perwujudan dari iman ‘bermental kerupuk’, jauh dari iman yang ‘berkekuatan mental baja’.

Indah jika pada saat ujian itu terjadi di hadapan kita, justru penyikapan kita harus bisa mengatakan TIDAK dan menutup segera pintu menuju kemaksiatan-kemaksiatan yang ada.

Kita kembali pada kisah Ka’ab, hari demi hari hukuman sanksi pengucilan dijalaninya. Menginjak fase pekan demi pekan, hingga menginjak 40 hari lamanya dari total 50 hari hukuman yang dijatuhkan. Dan tiada hari yang membahagiakan dilalui Ka’ab, Murarah dan Hilal yang menyempitkan rasa hati mereka, kecuali dengan dukungan setia dari istri mereka masing-masing.

Inilah faidah rumah tangga yang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam ajarkan, di mana peran istri dalam mendukung suami sangatlah besar. Demikian besarnya hingga Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam perintahkan; istri adalah pengecualian di dalam kasus hukuman mendiamkan. Sehingga para istri masih merespon dan melayani mereka masing-masing.

Pun tak dapat dipungkiri, para ketiga sahabat tersebut dapat bertahan menjalani hukuman yang ada dengan pertolongan Allah melalui dukungan para istri dan anak-anak mereka masing-masing.
Inilah resep survive yang diajarkan dalam agama Islam. Jika kita ingin dapat melalui ujian yang berat, maka kita harus memiliki istri yang tegar dalam mendukung kita. Jika kita ingin dapat menghadapi rintangan kehidupan yang menantang, kita harus memiliki istri yang dapat matang dalam berpikir. Sehingga seorang suami senantiasa dapat mengandalkan istrinya. Karena istri adalah kekuatan.

Demikiannya peran istri sangat luar biasa. Oleh karena itu, cara menjadi istri yang tegar dan cara menjadi istri yang matang dalam berpikir, serta cara menjadi istri yang senantiasa dapat diandalkan oleh suami ialah tiada jalan lain kecuali kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena pondasi paling kuat untuk menjadi tegar adalah iman kepada takdir, setelah iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun apa daya, pada hari ke 40 tibalah utusan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tiba menyampaikan berita, bahwa ketiga sahabat yang sedang menjalani hukuman untuk menjauhi istri mereka masing-masing. Mendengar berita tersebut, Ka’ab mengkonfirmasi berita tersebut kepada utusan yang membawa berita:
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkan padamu supaya engkau menyendirikan isterimu.”
Ka’ab bertanya:
“Apakah saya harus menceraikannya ataukah apa yang harus saya lakukan?”
Ia berkata:
“Tidak usah menceraikan, tetapi menyendirilah daripadanya, jadi jangan sekali-kali engkau mendekatinya.”

Begitu jelas didengar instruksi dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, Ka’ab langsung berkata kepada istrinya:
“Istriku mulai detik ini pulanglah ke rumah orangtuamu, tinggal di sana, kita lihat apa yang Allah putuskan untuk rumah tangga kita.”
Inilah tanggapan orang yang beriman. Inilah yang membedakan Ka’ab dengan kita kebanyakan. Tidak ada reaksi yang ”baper” (terbawa perasaan –Red). Begitu mendengar, langsung dilaksanakan. Dan semua dijalankan meluncur di atas iman yang tebal.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS: An Nisa: 65).

Karena inilah inti dari makna menjadi muslim, yakni menyerah. Menyerah kepada ketentuan Allah Jalla Jalaluhu.

Selanjutnya, Ka’ab melanjutkan kisahnya dengan menceritakan bagaimana istri Hilal menghadap kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam untuk memohon dispensasi meninjau keringanan hukuman karena kondisi Hilal yang sudah berlanjut usia dan tidak ada aktivitas yang dilakukan hanya menangisi dengan sesal atas kekhilafannya.

Pun pantas kita memetik hikmah, bagaimana istri seorang Hilal bin Umayyah al-Waqifi yang setia berkhidmat untuk melayani suaminya dalam kondisi apapun. Sehingga dengan kondisi demikian Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam mengizinkan dispensasi kepada istri Hilal untuk dapat tetap melayani suaminya.

Mendengar kondisi dispensasi tersebut, para keluarga Ka’ab pun menganjurkan kepada Ka’ab untuk memohon dispensasi serupa kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Namun mendengar anjuran tersebut dari keluarganya, maka Ka’ab pun berkata:
“Saya tidak akan meminta izin untuk isteriku itu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, saya pun tidak tahu bagaimana nanti yang akan diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sekiranya saya meminta izin pada beliau perihal isteriku itu – yakni supaya boleh tetap melayani diriku? Saya adalah seorang yang masih muda.

Demikiannya Ka’ab memilih untuk menghabiskan 10 hari terakhir di masa hukumannya dengan menyendiri. Terkait hal ini, Ibnu Qayyim Al Jauziyah pada kitab Zadul Maad melakukan bedah pada kasus khusus ini, terkutip pendapat Ibnu Qayyim yang senada dengan ulama-ulama terdahulu; karena Allah berkehendak kepada 3 orang sahabat tersbut menjalani 10 hari terakhir hukumannya dengan fokus penuh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Allah meminta kita untuk beritikaf di bulan Ramadhan, dan menghabiskan 10 hari terakhir dengan fokus beritikaf.

Kenapa?

Karena 10 hari terakhir tersebut adalah babak final. Adalah sebuah prime time. Adalah sebuah golden moment. Allah ingin kita habis-habisan beribadah, karena sudah mendekati garis finish. Agar banyak bersujud kepada Allah. Agar banyak beristighfar kepada Allah. Karena Allah akan menyelesaikan masalah-masalah kita dengan cara kita meningkatkan ibadah kepada Allah.

Karena jalan keluar dari masalah-masalah kita adalah bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا } { وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ }

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3).

Serta merta beribadah ialah fokus semata yang dilakukan ketiga sahabat tersebut. Tiada hari kian berganti dan berlalu adanya sujud, dzikir, istighfar, dan beribadah kepada Allah. Hingga tibalah waktu subuh pada hari ke 50.

Apa yang terjadi di hari ke 50 pada Ka’ab, Hilal dan Murarah?
Insya Allah akan kita bahas pada kajian berikutnya.

Bersambung di PART # 7
Baca kisah sebelumnya di
PART # 5
PART # 4
PART # 3
PART # 2
PART # 1

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Courtesy of The Rabbaanians
https://www.facebook.com/therabbaanians/posts/1636565783313885:0

Video Kajian :

Saat Semua Berpaling – Kisah Ka’ab bin Malik, Rodhiyallahu ‘Anhu… Part # 5

Telah tiba hukuman (baca PART # 4) bagi Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam memerintahkan kepada seluruh muslim di kota Madinah untuk mendiamkan Ka’ab dan kedua mu’minin lainnya yang tidak ikut Perang Tabuk, yakni Murarah bin Rabi’ah al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi sebagai wujud hukuman kepada Ka’ab untuk selama 50 hari.

Seketika itu kota Madinah berubah bagi mereka bertiga. Ka’ab serasa bukan tinggal di kota Madinah. Setiap orang yang akan jalan berpas-pasan dengan Ka’ab, seketika menjauh. Setiap orang tidak sengaja eye contact dengan Ka’ab, seketika berpaling.

Berbeda dengan Ka’ab yang lebih tahan banting dengan kondisi isolasi sosial tersebut karena paling muda di antara kedua sahabatnya; Murarah bin Rabi’ah al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi menghabiskan waktu-waktu hukuman dengan di rumah, menangis. Menangisi kesalahan dan kekhilafan yang dilakukannya. Tiada waktu yang berlalu bagi mereka tanpa meratapi dengan penyesalan.

Sulit dipungkiri kita tidak dapat mengambil ibrah dari apa yang dilakukan Murarah & Hilal. Kedua orang ini adalah alumni Perang Badr. Sebagaimana apa yang telah kita ketahui apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan kepada muslimin yang telah mengikuti jalan juang pada Perang Badr;

“Sungguh Allah telah berfirman kepada orang-orang yang ikut Perang Badar, ‘Berbuatlah sesuka kalian, sungguh Aku telah mengampuni kalian’.” (HR Bukhari no. 4066, Muslim No. 4550).

Murarah dan Hilal, sosok kedua sahabat yang telah diampuni Allah Subhanahu wa Ta’ala atas partisipasinya di perang Badr, masih meratapi kesalahan dan menangisi sesal perbuatan atas khilaf tidak ikut ke perang Tabuk.

Lalu bagaimana dengan diri kita? Apakah kita sudah ada jaminan ampunan dari Allah? Lalu kita belum pernah menangisi dosa-dosa di masa lalu? Murarah & Hilal hanya melalukan 1 kesalahan atas absensi di Perang Tabuk, itu pun ditebus dengan kejujuran kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Mereka depresi berat khawatir akan dosa-dosanya dengan mengunci diri di rumah karena takut dirinya masuk ke dalam golongan orang-orang munafik.

Dan bagaimana dengan kita? Berapa sholat yang pernah kita tinggalkan di masa lalu? Berapa hari puasa Ramadhan yang kita remehkan tidak kita tunaikan?

Ibnu Mas’ud Rahimahullah berkata:

إن المؤمن يرى ذنوبه كأنه قاعد تحت جبل يخاف أن يقع عليه, وإن الفاجر يرى ذنوبه كذباب مر على أنفه فقال به هكذا فذبه عنه

“Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut jatuh menimpanya. Dan seorang fajir memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya lalu ia berkata demikian (mengipaskan tangannya di atas hidungnya) untuk mengusir lalat tersebut.” (Bukhari)

Tak ubahnya Ka’ab, bathin dirinya menderita karena dijauhkan para sahabat-sahabatnya. Ka’ab membawa dirinya berjalan ke pasar, namun tiada kenalan, teman bahkan para sahabat tiada yang mau membalas salam darinya. Tak putus asa, Ka’ab mencoba memutuskan untuk bertemu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Karena dirinya yakin, kasih sayang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam kepada umatnya melebihi cinta kepada dirinya sendiri.

Sesampainya di depan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang baru saja menyelesaikan sholat, Ka’ab menghampiri dan mengucapkan salam. Serta merta tiada balasan salam yang meluncur kepada Ka’ab. Sekalipun Ka’ab telah dengan teliti penuh harap menyimak gerak bibir Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, namun tiada sambut gerak salam atau ucap kepada Ka’ab.

Tak putus akal, Ka’ab berupaya kembali menarik perhatian Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Ka’ab memutuskan untuk sholat persis di sebelah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Tujuannya; Ka’ab ingin melirik curi pandang selagi sholat ke arah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dengan harapan besar ada pandangan balasan kedirinya. Namun didapatinya tiada pandang balas ke arah Ka’ab dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Belakangan setelah kisah ini berlalu, Ka’ab baru mengetahuinya; ternyata pada saat Ka’ab melanjutkan fokus pada sholatnya diwaktu samping Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, terdapat pandang balasan dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dengan penuh kasih sayang kepada Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu.

Inilah bukti kasih sayang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Marah yang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam adalah marah dengan penuh kasih sayang. Demi pendidikan ke sahabatnya. Bukan meluncur di atas rasa sakit hati karena Ka’ab telah tidak mengikuti perintahnya mengikuti perang Tabuk, melainkan tergerak atas perintah Allah Jalla Jalaluhu.

Inilah teladan yang diberikan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, bagaimana pendidikan kepada sahabat dengan kasih sayang. Indahnya jika dapat diaplikasikan nasehat dan pendidikan penuh kasih sayang kepada saudara-saudara seiman kita. Mengkritik dengan santun dan bahasa yang hikmah. Menasehati saudari seiman yang belum berhijab sesuai syariat dengan kasih sayang, tidak menjatuhkan.

Kembali pada kondisi Ka’ab, dirinya menjalani hari kian terasa sesak di dada. Pengucilan sosial dirinya semakin membuat sempit dadanya. Namun tak membuat sempit pikirannya, Ka’ab mengambil akal untuk mencari figur lainnya yang harapnya dapat membalas interaksi dengan dirinya. Yakni sepupunya yang disayang, Abu Qatadah RadhiAllahu’anhu.

Ka’ab menghampiri rumah Abu Qatadah. Diucapkan salam di depan pintu rumahnya, namun tiada balasan dari balik pintu rumah sepupunya. Tak mau menelan asumsi Abu Qatadah tidak di rumahnya, Ka’ab memanjat rumah Abu Qatadah dan mendapati sepupunya sedang di rumahnya mengacuhkan dirinya.

Ka’ab mengucapkan salam kepada Abu Qatadah. Demikiannya karena perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, Abu Qatadah memilih menaatinya dan mendiamkan Ka’ab. Mendapati sepupunya mengambil tindakan serupa dengan mu’minin lainnya seantero Madinah, Ka’ab melanjutkan salamnya dengan melempar pertanyaan kepada orang yang paling disayangnya setelah Rasulullah Shallallahu’alalihi wa Sallam:

“Hai Abu Qatadah, saya hendak bertanya padamu kerana Allah, apakah engkau mengetahui bahwa saya ini mencintai Allah dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam?”

Masih tiada suara sambutan yang membalas pertanyaan Ka’ab, yang tak lain pertanyaan yang dilontarkan Ka’ab semata dengan harapan untuk diyakinkan bahwa dirinya bukanlah termasuk orang munafik. Diulanginya hingga 3 kali kepada Abu Qatadah, namun tiada respon yang didapatinya kecuali keheningan.

Namun sontak terkejut hati Ka’ab, Abu Qatadah menjawab pertanyaan Ka’ab dengan penuh hikmah:

“Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui tentang itu.”

Begitu mendapati sepupu kesayangannya yang sekaligus sahabatnya tidak memberikan kesaksian kepada dirinya, Ka’ab langsung mendapati dirinya dalam kegamangan status dirinya, tak ayal terbit pertanyaan di hatinya, “jangan-jangan saya munafik? Separah itukah saya?”
Kelebat pertanyaan demi pertanyaan menghampiri pikirannya hingga tanpa sadar air mata jatuh dari mata Ka’ab, dan meninggalkan sepupunya itu. Perjalanan pulang Ka’ab dalam kegalauan. Walau berat pula bagi Abu Qatadah memberikan perlakuan tersebut kepada Ka’ab, Abu Qatadah tetap setia kepada perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Sekalipun dirinya tahu persis kualitas ibadah Ka’ab, sekalipun dirinya tahu persis perangai kesetiaan Ka’ab pada Islam dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dengan berat hati Abu Qatadah memberikan tanggapan sedemikian dinginnya.

Cuplikan adegan di rumah Abu Qatadah dapatlah terbetik ibrah bagi kita, yakni bagaimana sikap Abu Qatadah kepada Ka’ab; Sahabat adalah segalanya. Apalagi sahabat yang berada di jalan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun masih terdapat prioritas di atas itu, yakni Allah dan Rasul-Nya.

Kesetiakawanan dan kasih sayang Abu Qatadah yang membuat berat berbuat demikian kepada Ka’ab, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ

Artinya:
”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama umat Islam …” (QS: Al Fath: 29).

Ka’ab bukanlah sembarang muslim di mata Abu Qatadah, dirinya adalah sahabatnya. Dan kasih sayangnya didasari dari gerak iman di hatinya. Namun di atas itu, ketika perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam datang, Abu Qatadah menuruti dan dengan berat hati memberikan perlakuan demikiannya kepada Ka’ab. Sekalipun tidak ada orang lain yang menyaksikan, Abu Qatadah dapat saja melunakkan hatinya dari perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan berinteraksi dengan leluasa kepada Ka’ab, karena terlindung tembok rumahnya. Namun Abu Qatadah memilih setia dan melaksanakan pada perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Sepulangnya dari rumah Abu Qatadah, Ka’ab melewati pasar dan tak sengaja melihat sekelompok petani yang datang dari luar kota Madinah. Serta merta, sekelompok petani yang dilihatnya, ternyata sedang mencari dirinya. Ka’ab mengetahui dengan persis bagaimana petani-petani tersebut bertanya kepada para pedagang satu per satu lokasi dirinya. Namun begitu tahu yang ditanya adalah dirinya, para pedagang tidak ada yang membalas dengan ucapan, tapi hanya menunjuk ke posisi Ka’ab berada. Sulit dipungkiri bahwa hal yang dilihatnya pun menambah derita hati Ka’ab.

Setibanya para petani tersebut di depan Ka’ab, mereka menyerahkan sepucuk surat yang didapatinya dari Raja Ghassan, yang beragama nasrani. Yang isinya sebagai berikut:

“Telah sampai kepada kami, bahwa sahabat Anda mendiamkan Anda. Selain dari itu, bahwa sahabatmu sudah bersikap dingin terhadapmu. Allah tidak menjadikan kau hidup terhina dan sirna. Maka, ikutlah dengan kami di Ghassan, kami akan menghiburmu!”

Pesan Raja Ghassan tepat ketika suasana kekalutan hati Ka’ab, dikucilkan satu Madinah. Tujuannya tak lain untuk memprovoksi Ka’ab untuk berpaling dan menetap di bawah fasilitas yang ditawarkan Raja Ghassan.

Apa tanggapan Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu ?

Bersambung di PART # 6
Baca kisah sebelumnya di
PART # 4
PART # 3
PART # 2
PART # 1

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Courtesy of The Rabbaanians
https://www.facebook.com/therabbaanians/photos/a.1433546910282441.1073741828.1433458263624639/1630510637252733/?type=3&theater

Video Kajian : Saat Semua Berpaling… Part # 5

Saat Semua Berpaling – Kisah Ka’ab bin Malik, Rodhiyallahu ‘Anhu… Part # 4

Minggu lalu (PART # 3) kita sudah mengikuti penuturan kisah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu dan penyikapannya untuk memilih jalan kejujuran dalam menyampaikan ketiadaan uzur yang dimilikinya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam karena tidak mengikuti perang Tabuk. Dirinya lebih memilih dimarahi oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam daripada dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lalu kejujuran Ka’ab dipuji oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dengan sabdanya;
”Tentang orang ini, maka pembicaraannya memang benar – tidak berdusta. Oleh sebab itu bolehlah engkau berdiri sehingga Allah akan memberikan keputusannya tentang dirimu.”

Tak kurang ujian yang dihadapi Ka’ab, sepulangnya ke rumah Ka’ab diprovokasi oleh segolongan dari Bani Salimah, demikian ucapan-ucapan mereka telah menghasut hati dan pikiran Ka’ab sampai-sampai dirinya hampir ingin kembali ke Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan ‘merevisi’ pernyataan jujurnya dengan alasan kedustaan. Terkait cuplikan pengalaman Ka’ab ini, ibrah (pembelajaran) yang dapat kita petik ialah terdapat urgensi bagi kita untuk senantiasa menjaga ketiga organ tubuh kita; pendengaran, penglihatan dan hati guna dijauhkan dari paparan informasi yang jauh dari ajaran Islam & destruktif kepada keimanan kita.

Terdapat faedah yang sayang kita untuk kita lewatkan; yakni manusia memiliki kecenderungan labil yang besar. Dan dari faedah ini, kita dapat mengambil dua pelajaran; yang pertama mengenai istiqomah, janganlah terlarut dalam euforia hijrah. Pembenahan hati tidak berhenti ketika sudah berhijab sesuai syariat. Penegakkan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tidak berhenti ketika memiliki jenggot. Bisa jadi seseorang terlena dengan keadaan dan terjebak dalam kelalaian ibadah lainnya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya hati semua anak cucu Adam itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah subhanahhu wa ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” (HR. Muslim)

Bayangkan, jika manusia sekaliber Ka’ab, sosok sahabat yang pernah berjuang bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam di perang Badr, yang notabene adalah salah satu dari 70 orang yang tergabung dalam Bai’at Aqobah, dalam hitungan menit dapat terpengaruh dalam hitungan menit. Apalagi diri kita, tak pelak lebih berpeluang untuk dapat mengalami kelabilan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Artinya:
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS: Al Ankabut:2)

Itulah sebab kenapa kita harus istiqomah, karena Allah akan menguji kita. Dan ketika kesempatan ujian itu tiba, jangan sampai kita missed. Jangan mengira ketika kita sudah _ngaji_, kita sudah di comfort zone. Karena pada prinsipnya tidak ada comfort zone di dunia ini bagi orang beriman, karena tujuang akhir orang beriman adalah kampung akhirat.

PELAJARAN KEDUA dari faedah kelabilan manusia setelah istiqomah, yakni hal yang berkaitan dengan muammalah; selama kita berhadapan dengan manusia, maka masihlah terdapat peluang berjuang. Karena manusia mudah berubah, maka usahakan yang terbaik untuk mereka dalam upaya menyampaikan kebaikan.

Kita kembali ke kisah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu. Dalam kegoncangannya atas pengaruh provokasi golongan Bani Salimah, Ka’ab menanyakan sesuatu kepada mereka:

“Apakah ada orang lain yang menemui peristiwa sebagaimana hal yang saya temui itu?”

Orang-orang itu menjawab:
“Ya, ada dua orang yang menemui keadaan seperti itu. Keduanya berkata sebagaimana yang engkau katakan lalu terhadap keduanya itupun diucapkan – oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sebagaimana kata-kata yang diucapkan padamu.”

Ka’ab berkata:
“Siapakah kedua orang itu?”

Orang-orang menjawab:
“Mereka itu ialah Murarah bin Rabi’ah al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi.”

Ka’ab berkata:
“Orang-orang itu menyebut-nyebutkan di mukaku bahwa kedua orang itu adalah orang-orang sholeh dan juga benar-benar ikut menyaksikan peperangan Badar dan keduanya dapat dijadikan sebagai contoh – dalam keberanian dan lain-lain.”_

Dari momen tersebut kita dapat kembali mengambil ibrah, obat untuk mengobati kegalauan yang kita alami adalah teman sepenanggungan. Keberadaan teman, apalagi jika lebih senior dari kita, yang pernah satu profesi dari kita, dapat menghilangkan penyakit kegalauan di dalam hati kita. Karena tak pelak lagi, ketika kita sedang menapaki jalan hidayah kita membutuhkan figur; tak luput Rasullullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Namun selain beliau, pada tingkatan pergaulan yang sebaya dengan diri kita, kita membutuhkan teman sepenanggungan.

Inilah resep istiqomah untuk survive hidup di kota yang penuh fitnah. Di mana dunia sudah terbuka semua, kita butuh teman. Kita butuh figur. Kita butuh senior. Janganlah kita jadi eksklusif.

Kita kembali ke kisah Ka’ab in Malik RadhiAllahu’anhu. Maka Ka’ab pulang ke rumahnya. Setibanya dirinya di kediamannya, telah tiba kabar hukuman untuk dirinya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam melarang seluruh kaum Muslimin untuk berinteraksi dengan Murarah bin Rabi’ah al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi serta Ka’ab bin Malik.

Semenjak hari itu, semuanya berubah. Satu kota Madinah mendadak berubah suasana bagi Ka’ab dua teman lainnya. Sampai Ka’ab merasa asing di kota Madinah. Semua orang berubah, pertanyaan dari Ka’ab tidak ada yang menjawab. Dan hal ini diberlangsungkan selama 50 hari khusus bagi mereka.

Hal ini tentu berbeda dengan apa yang sudah kita ketahui mengenai haramnya sesama muslim untuk mendiamkan selama lebih dari 3 hari. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ، فَمَنْ هَجَرَ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَمَاتَ دَخَلَ النَّارَ

Artinya:
“Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang memboikot saudaranya lebih dari 3 hari, kemudian dia meninggal maka dia masuk neraka.” (HR. Abu Daud dishahihkan Al-Albani).

Inilah mulianya agama Islam. Islam adalah agama yang sangat humanis. Karena yang menurunkan adalah Yang Menciptakan manusia. Allah Jalla jalaluhu yang paling memahami kapasitas emosi setiap manusia yang berbeda-beda, telah diatur bagaimana kita bersikap batas mendiamkan sesama muslim tak lebih dari 3 hari.

Adalah pengecualian pada treatment Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang memberlakukan hukuman mendiamkan kepada Ka’ab dan dua temannya selama 50 hari. Perlakuan khusus ini dijelaskan oleh Imam al Khattabi di dalam kitab Ma’alimul Sunan, karena terdapat kekhawatiran Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam pada diri tiga sahabatnya yang tidak ikut ke perang Tabuk tumbuh virus kemunafikan. Karena hanya orang munafik yang tidak memiliki uzur untuk tidak ikut dalam perang Tabuk. Pun hukuman yang diberlakukan adalah sarana uji ketahanan kapasitas Ka’ab dan kedua temannya, karena orang munafik tidak akan tahan didiamkan selama 50 hari.

Sejenak mari kita berkaca pada momen tersebut;
Hilal bin Umayyah yang pernah menghancurkan berhala dengan dua tangannya di khawatirkan menjadi munafik.
Ka’ab bin Malik, salah satu figur sahabat alumni perang Badr, perang Uhud, dan Fathul Mekkah telah dikhawatirkan menjadi munafik.

Mereka dikhawatirkan menjadi munafik karena sebuah kesalahan. Lalu pertanyaannya; “bagaimana dengan kita?” Kitalah yang paling pantas dikhawatirkan.

Apa yang sudah kita lakukan dengan masa lalu yang bergelimang dosa? Barulah kita bertaubat kemarin hari. Barulah kita menghadiri kajian dalam hitungan jari. Atau pun janganlah kita merasa senantiasa besar hati telah mengamalkan beberapa anjuran Sunnah.

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan; “Tidak ada orang merasa aman dari sifat nifak kecuali orang munafik dan tidak ada orang yang merasa khawatir terhadapnya kecuali orang mukmin.”

Pemboikotan yang dialami Ka’ab dan kedua temannya hendaknya menginsipirasikan diri kita. Audit diri kita sebelum di audit Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat.

Bersambung di PART # 5
Baca kisah sebelumnya di 
PART # 3
PART # 2
PART # 1

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Courtesy of The Rabbaanians
https://www.facebook.com/therabbaanians/photos/a.1433546910282441.1073741828.1433458263624639/1628101810826949/?type=3&theater

Video Kajian : Saat Semua Berpaling… Part # 4

Saat Semua Berpaling – Kisah Ka’ab bin Malik, Rodhiyallahu ‘Anhu… Part # 3

Menyambung dari pembahasan kajian kita pekan kemarin (baca PART # 2), tibalah saatnya Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu untuk menghadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam guna menyampaikan penjelasan sebabnya Ka’ab tidak ikut berperang bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu menceritakan dalam hadits yang telah disampaikan lalu, bagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam setibanya di Madinah mendengarkan alasan tidak ikut berperangnya dari sedikitnya 80 orang dari kaum munafik setelah selesainya sholat dua rakaat di masjid selesai shafarnya dari Tabuk.

Kedustaan demi kedustaan dari alasan yang disampaikan oleh kaum munafik pun tidak ada yang dibantah, namun tidak ada juga yang dibenarkan. Setelah beliau memberikan himbauan untuk senantiasa taat pada perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam kepada kaum munafik, bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam ber-istighfar kepada Allah Jalla wa’ala untuk mengampuni kesalahan mereka.

Sampai tiba giliran Ka’ab bin Malik menghadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan tiada hal yang keluar dari ekspresi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam kecuali sebuah senyuman orang yang sedang marah, kemudian bersabda:

“Kemarilah!”

Ka’ab pun mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan duduk berhadap-hadapan dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, dan kemudian beliau membuka percakapan dengan santun kepada Ka’ab dengan sabda:

“Apakah yang menyebabkan engkau tertinggal bukankah engkau telah membeli unta untuk kendaraanmu?”

Lalu Ka’ab menjawab pertanyaan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam;

” Ya Rasulullah, sesungguhnya saya, demi Allah, andaikata saya duduk di sisi selain Rasulullah dari golongan ahli dunia, niscayalah saya rasa bahwa saya akan dapat keluar dari kemurkaannya dengan mengemukakan suatu alasan (palsu). Sebenarnya saya telah dikaruniai kepandaian dalam bercakap-cakap. Tetapi saya ini -demi Allah- yakin andai kata saya menyampaikan alasan palsu pada hari ini yang Rasulullah akan menerima dan ridha dengan alasanku itu, namun sesungguhnya Allah akan membuat Rasulullah marah terhadapku. Dan Sebaliknya jikalau saya menyampaikan alasan yang sebenarnya yang mungkin membuat Rasulullah marah terhadap diriku namun saya berharap akhir yang baik dari Allah ‘Azza wa jalla. Demi Allah, saya tidak punya alasan syar’i sedikitpun – sehingga tidak mengikuti peperangan itu. Demi Allah, sama sekali saya belum pernah merasa lebih kuat dan lebih ringan untuk mengikutinya itu, yakni di waktu saya tidak ikut perang tabuk.”

Demikiannya Ka’ab, lebih memilih jujur kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam daripada berbohong. Padahal dirinya dikenal dengan kepiawaiannya dalam bahasa dan berbicara, serta merta tak membuatnya mau mengambil tindakan berdusta untuk alasan tidak berperang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dengan menggunakan kepandaian berbicaranya. Karena Ka’ab lebih takut kepada Allah Jalla jalaluhu jika membohongi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Tentu banyak pembelajaran dari penyikapan Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu ke dalam kehidupan kita. Banyak pembohong yang tidak sampai terpikir hal seperti yang dipikirkan Ka’ab. Secanggih-canggih pembohong hanya melihat hal di depan dirinya saja. Dirinya tidak melihat konsekuensi dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara Ka’ab jelas memahami 100% konsekuensi berdusta kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Artinya: Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (QS: Ibrahim: 42)

Allah Maha Mengetahui. Semua yang apa-apa kita perbuat Allah mengetahui, hingga ke isi hati kita. Demikiannya elegan cara Allah bersikap kepada pendusta, segala hukuman ditangguhkan sampai pada waktunya. Dan inilah yang tidak terpikirkan oleh para pembohong. Dan Allah membenci para pendusta. Karena dusta adalah pokok kemunafikan.

Ulama Hasan Al Bashri berkata;

“Inti kemunafikan yang diatasnya dibangun kemunafikan adalah kebohongan” (dzammul kadzib wa ahlih hal 20)

Dari Abu Hurairah RadhiAllahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa Sallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji berdusta, dan jika dipercayai mengkhianati” (HR. Bukhari).

Dan orang munafik tempatnya kelak adalah di neraka bawah. Karena kemunafikan adalah kekufuran.

Itulah yang dikhawatirkan Ka’ab bin Malik bin RadhiAllahu’anhu:

“Aku khawatir Allah membuat Anda (Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam) membenci kepada saya.”

Itulah konsekuensi dari berdusta. Sekalipun ada orang yang berdusta demi ridho orang yang didustakannya, kelak Allah akan membuat orang yang didustakannya menjadi benci pada si pendusta dengan sebab lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Artinya:
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS: Ali Imran: 54)

Karena jika bermain tipu daya, Allah Jalla jalaluhu akan balas dengan tipu daya pula. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar.

Ka’ab sadar betul, untuk menjadi orang bertaqwa adalah dengan sabar dan kejujuran. Karena Ka’ab memilih akhir yang baik. Ka’ab memilih jalan kejujuran untuk mengharap dapat senantiasa bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالْعَاقِبَةُ للتقوى

Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa. (QS: At Thaha: 132).

Demikiannya, orang yang melakukan dusta itu hidupnya akan melelahkan. Karena dirinya akan terus berhadapan dengan dampak kebohongannya. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda:

…عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ

”Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga…” (HR: Ahmad)

Kita kembali ke kisah Ka’ab, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda setelah mendengar tutur jujur Ka’ab:

“adapun ka’ab ia telah berkata jujur. Oleh sebab itu bolehlah engkau berdiri sehingga Allah akan memberikan keputusannya tentang dirimu.”

Mendengar hal tersebut, pulanglah Ka’ab ke rumahnya. Serta merta diperjalanannya Ka’ab ditemui oleh beberapa orang dari sekampungnya, dari Bani Salimah. Mereka melakukan provokasi terus-terusan kepada Ka’ab. Mereka berkata:

“Demi Allah, kita tidak menganggap bahwa engkau telah pernah bersalah dengan melakukan sesuatu dosapun sebelum saat ini. Engkau agaknya tidak kuasa, mengapa engkau tidak mengemukakan alasan palsu saja kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sebagaimana kepalsuan yang dikemukakan oleh orang-orang yang tertinggal yang lain-lain. Sebenarnya bukankah telah mencukupi untuk menghilangkan dosamu itu jikalau Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam suka memohonkan mengampunan kepada Allah untukmu.”

Demikiannya Ka’ab menjadi terpengaruh. Sampai-sampai dirinya ingin kembali lagi kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan bermaksud ‘merevisi’ pernyataan sebelumnya.

Inilah pelajaran yang sangat berharga, bahwa kita makhluk lemah. Kita sangat terpengaruh dengan apa yang kita dengar. Kita sangat tepengaruh dengan apa yang kita lihat. Kita sangat terpengaruh dengan lingkungan kita. Sejenak kita refleksi kepada Kaab bin Malik RadhiAllahu’anhu, orang yang telah duapuluhan kali berperang di jalan Allah, orang yang ikut bai’at Aqobah, dan dalam sekejap akibat perkataan-perkataan yang buruk, dirinya menjadi terpengaruh. Lalu bagaimana dengan kita?

Bagaimana kita bisa istiqomah, jika kita masih berada di lingkungan yang jauh dari yang mengamalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Bagaimana kita bisa istiqomah, jika kita masih berada di lingkungan yang jauh dari yang mengamalkan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam?

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengulang mengenai pentingnya peran pendengaran dan penglihatan sedikitnya hingga 22 kali. Berikut beberapa firman-Nya:

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya:
Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. al-Baqarah: 7)

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Artinya:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Isra’:36)

Karena mata dan telinga adalah informan terbaik bagi hati kita. Dan jika kedua indera tersebut senantiasa dipaparkan dengan informasi kesyirikan, maka hati akan hancur. Demikiannya orang sekaliber Ka’ab sekalipun, dapat lemah atas paparan pendengaran yang buruk.

Sementara bagi sebagian kita; optimis dapat isitqomah sementara jarang mendengar ayat-ayat Allah? Mustahil.

Oleh karena itu senantiasa jagalah penglihatan dan pendengaran kita, sebagai langkah menjaga hati tetap istiqomah di jalan Allah…

Bersambung di PART # 4
Baca kisah sebelumnya di
PART # 2
PART # 1

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Courtesy of The Rabbaanians
https://www.facebook.com/therabbaanians/photos/a.1433546910282441.1073741828.1433458263624639/1625812731055857/?type=3&theater

Video Kajian : Saat Semua Berpaling… Part # 3

Saat Semua Berpaling – Kisah Ka’ab bin Malik, Rodhiyallahu ‘Anhu… Part # 2

Pada pekan kemarin (baca PART # 1) kita telah membahas bagaimana profil Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu, beliau ialah salah satu sosok sahabat Nabi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang pernah mengikuti bai’at Aqobah, janji setia kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Namun khilaf luput mengikuti ajakan perang Tabuk oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Dialah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu, sosok pahlawan di perang Tabuk, walaupun dirinya tidak mengikuti perang Tabuk tersebut. Dialah sosok inspirator. Khususnya inspirasi bagi orang-orang yang telah melakukan kesalahan di masa lalunya, inspirasi bagi orang yang memilih bangkit dari kesalahannya, inspirasi bagi orang yang ingin memperbaiki ‘raport merahnya’.

Sebagaimana telah kita bahas pada pekan yang lalu, kekhilafan Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu, tidak mengikuti perang Tabuk karena dua kesalahan fatal yang dilakukannya;
(1) Dirinya terlalu mengandalkan kemampuan dan prestasi diri dan
(2) Dirinya menunda-nunda pekerjaannya sehingga tiba waktunya dirinya ketinggalan rombongan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam ke Tabuk.

Ka’ab menceritakan kisahnya pada hadits yang panjang diriwayatkan oleh Imam Bukhari; – yang telah kami publikasikan pekan lalu (Red) (baca PART # 1) -, bahwa begitu banyaknya sahabat dan partisipan kaum muslimin yang berangkat ke perang Tabuk, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam belum tersadar kalau Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu tidak ikut, hingga Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tiba di Tabuk.

Karena begitu tiba di Tabuk, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menanyakan kabar keadaan Ka’ab. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam memang dikenal sebagai pribadi yang hangat dan penuh perhatian kepada sahabat-sahabatnya.

“Apa yang dilakukan oleh Ka’ab bin Malik?”

Sejurus kemudian sontak seorang dari golongan Bani Salimah menjawab:

“Ya Rasulullah, ia ditahan oleh pakaian indahnya dan oleh keadaan sekelilingnya yang permai pandangannya.”

Disinilah momen terbangun bagaimana Ka’ab lengah dengan dunia. Dirinya dianggap lebih mencintai dunia, daripada berperang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ka’ab lengah sehingga sibuk dengan dunianya, sibuk dengan panen kurma yang melimpah, sibuk dengan bersantai, dan sibuk menikmati nikmat dunia di Madinah, daripada berjalan ratusan kilometer dalam cuaca panas yang ekstrim.

Mendengar jawaban yang menyudutkan Ka’ab tersebut, Mu’az bin Jabal RadhiAllahu’anhu langsung berkata:

“Buruk sekali yang kau katakan itu. Demi Allah ya Rasulullah, kita tidak pernah melihat keadaan Ka’ab itu kecuali yang baik-baik saja.”

Inilah pelajaran bagi kita, lihat bagaimana karakter kesetiakawanan para sahabat. Mereka tetap membela saudaranya ketika mendengar sesuatu yang buruk mengenai saudaranya. Anak muda yang ngaku beriman harus bersuara membela ketika saudaranya dighibahi, sebagaimana Mu’az bin Jabal RadhiAllahu’anhu bersuara membela Ka’ab.

Tindakan membela saudaranya ini tak lain karena mereka mengamalkan salah satu hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam;

“Barang siapa membela daging (kehormatan) saudaranya dari gunjingan orang lain, maka Allah pasti akan membebaskannya dari Neraka.” [HR. Ahmad]

Itulah karakter muslim sejati. Jika ada saudara, teman, kerabatnya sedang dijelekin, jangan kita pilih diam. Apalagi janganlah kita menikmati. Atau lebih parah; jangan sampai malah kita ikut menghabisi daging saudara kita sendiri dengan ikut-ikutan menggibahinya. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:

“Barang siapa yang tidak membela saudaranya sesama muslim pada saat kehormatan dan harga dirinya dilecehkan, maka Allah pasti tidak akan membelanya pada saat pertolongan Allah sangat diharapkan.” [HR. Abu Dawud & Imam Ahmad].

Kita kembali ke kisah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu, mendengar dua versi ucapan orang-orang sekelilingnya, Nabi terdiam. Nabi tidak membenarkan ucapan Mu’az bin Jabal RadhiAllahu’anhu, namun tidak membela pula _statement_ sebelumnya.

Sejurus kemudian dalam terdiamnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, muncul sesosok yang memakai jubah putih menembus oase pada saat itu. Melihat sosok tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyampingkan sejenak perihal Kaab, lalu menaruh atensi penuh kepada orang yang sedang mendekat ke dirinya.

Dialah Abu Khaitsamah al Anshari RadhiAllahu’anhu. Tentunya ada hal yang luar biasa dari sosok Abu Khaitsamah al Anshari RadhiAllahu’anhu, hingga-hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sejenak tak menghiraukan perihal Ka’ab dan menaruh perhatian ke Abu Khaitsamah al Anshari RadhiAllahu’anhu.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda:

“Engkaukah Abu Khaitsamah?”

Dialah memang Abu Khaitsamah al Anshari, orang yang pernah bersedekah dengan sesha’ kurma untuk mendukung perang Tabuk, sekalipun dicibir orang-orang munafik. Sekalipun dicaci orang, sekalipun dicela orang, Abu Khaitsamah tetap menegakkan amalan sedekah sesuai dengan kemampuannya dan dengan hati yang ikhlas.

Ya, itulah ciri orang munafik. Hanya bisa comment namun miskin amal. Demikiannya kita hidup di era yang mudah melempar komentar. Namun sedikit berbuat. Demikiannya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam surat At Taubah ayat 79:

Allah Ta’ala berfirman :

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya:
(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih. (QS: At Taubah:79)

Selain itu, tindakan Abu Khaitsamah al Anshari RadhiAllahu’anhu membuahkan penegakkan prinsip di atas agama. Dirinya tidak terpengaruh apapun kata orang sekelilingnya. Pantas adanya jika kita mengambil keteladanan sikap ini; janganlah kita mudah terpengaruh omongan orang lain. Tidak perlui kita sampai diperbudak opini yang tidak jelas. Karena pada prinsipnya kita sudah memiliki trendsetter yang jelas, yakni teladan kita Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Tak sampai disitu, Abu Khaitsamah sempat tergoda untuk kembali ke Madinah karena panas dan beratnya medan yang akan dilalui dalam perjalanan ke Tabuk. Namun serta merta benaknya berteriak meluruskan kembali niatnya, sehingga mantap kembali menyusul ke Tabuk sampai mendapatkan senyum dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di oase pada daerah Tabuk.

Itulah karakter mukmin sejati. Orang yang bijak adalah orang bisa bangkit dari keterpurukan khilaf dosa. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٣٤) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (١٣٥)

Artinya:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS: Ali Imran: 133-135).

Itulah Abu Khaitsamah, teladan untuk orang-orang yang apabila yang mengerjakan dosa yang besar, atau dia mendzalimi dirinya sendiri. Langsung kembali ke Allah Jalla Jalaluhu. Tidak mau terpuruk dosa lama-lama. Memilih bangkit dan move-on dari dosa dengan taubat sebaik-baik taubat.

Sejenak dari sekilas kisah Abu Khaitsamah RadhiAllahu’anhu, kita kembali ke kisah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu.

”Setelah ada berita yang sampai di telingaku bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah menuju kembali dengan kafilahnya dari Tabuk, maka datanglah kesedihanku..”

Ka’ab mengalami kesedihan. Demikian singkatnya perang Tabuk, sehingga dirinya gagal menyusul dan mendapat kabar rombongan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah kembali ke Madinah.

Singkatnya durasi perang Tabuk, karena di medan perang tidak ada adu pedang. Karena di Tabuk tidak ada adu tombak dan senjata. Karena di Tabuk, ternyata tidak didapat kemunculan tentara Romawi. Membuat kondisi pasukan kaum muslimin pada saat itu menang ‘WO’.

Ketiadaan pasukan Romawi di Tabuk, semata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya ingin menguji keyakinan kita kepada-Nya. Demikiannya tak ubahnya dengan kondisi kita saat ini. Kerap kenyataan tidak semenakutkan mimpi kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya ingin menguji kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya ingin melihat sejauh mana effort kita kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya ingin menguji keikhlasan kita kepada-Nya.

Itulah ujian yang ada. Karena jika ujian berhasil dilalui dengan baik, ending yang baik hanya untuk orang-orang yang bertaqwa. Karena balasan tersebut adalah surga, sementara surga bukanlah barang murah.

Ternyata tidak ada peperangan di tabuk. Tentu ujian yang disangka berat oleh kaum munafik yang memilih mangkir ajakan perang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam ternyata tidak seberat yang dipikirkan. Itulah ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan syaithon memanfaatkan kondisi tersebut. Hasutan syaithon telah menggulirkan rasa ragu dan was-was di hati manusia. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

.. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) …

Artinya:
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (QS: An Nas:4-5).

Kembali ke kisah Ka’ab; tentu mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah mengarah pulang ke Madinnah menerbitkan kesedihan Ka’ab. Kalut, was-was, cemas, ragu turut menyertai perasaan Ka’ab.

Pasalnya, di hati Ka’ab sempat muncul untuk berdusta guna mencari-cari alasan ketidak-sertaanya dalam berperang ke Tabuk, agar tidak mendapatkan hukuman Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Karena dirinya mengakui, dirinya telah terpedaya dengan nikmat dunia yang terdapat di Madinnah. Karena memang dunia yang telah menipunya. Tak sedikit dosa-dosa termuncul dipicu oleh cinta dunia yang berlebihan. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

Artinya:
Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS: At Taubah: 55)

Namun di sinilah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu mengambil sikap yang bijak. Sebelum dipilih tindakan tersebut, dirinya meminta bantuan dan nasehat dari keluarganya dan saudaranya yang sholeh-sholeh. Hingga mantap hatinya untuk meninggalkan langkah berdusta mencari alasan dan lebih baik jujur secara ksatria kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

”Saya pun meminta bantuan untuk menemukan jalan keluar dari kesulitan ini dengan setiap orang yang banyak mempunyai pendapat dari golongan keluargaku. Setelah diberitahukan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah tiba maka lenyaplah kebathilan dari jiwaku – yakni keinginan akan berdusta itu – sehingga saya mengetahui bahwa saya tidak dapat menyelamatkan diriku dari kemurkaannya itu dengan sesuatu apapun untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu saya menyatukan pendapat hendak mengatakan secara sebenarnya.”

Ka’ab memilih jalan musyawarah dengan orang-orang sholeh ketika muncul di hatinya pikiran-pikiran kotor. Ka’ab semakin yakin dan mantap, bahwa berbohong adalah langkah bunuh diri. Maka dirinya bertekad untuk jujur apa adanya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tiba di Madinnah pada waktu dhuha. Dan kegiatan pertama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam setibanya di Madinnah adalah menegakkan sholat 2 rakaat di masjid. Inilah sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang kian dilupakan, sunnah yang kian langka di amalkan. Hendaknya sepulang shafar, dirikanlah 2 rakaat sholat sunnah di masjid sebelum melanjutkan kegiatan rutinitas.

Setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam sholat 2 rakaat di masjid, beliau keluar kemudian datanglah 80-an orang dari golongan munafik untuk menyampaikan alasan-alasan dustanya tidak mengindahkan anjuran berperang di jalan Allah ke Tabuk.

Tapi ini pelajarannya: Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam serta merta hanya tersenyum. Beliau menerima alasan-alasan mereka, beliau tidak membantah ucapan orang-orang munafik. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam memilih untuk mengembalikan hakikat mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah salah satu akhlaq Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang teladan.

Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam berisitghfar untuk mereka. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memberikan ampun kepada orang-orang munafik tersebut.

Dan setelah menerima kaum munafik, tibalah giliran Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu untuk menyampaikan alasannya kenapa tidak ikut berperang ke Tabuk…

Bersambung di PART # 3
Baca kisah sebelumnya di PART # 1

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Courtesy of The Rabbaanians
https://www.facebook.com/therabbaanians/photos/a.1433546910282441.1073741828.1433458263624639/1623594514611012/?type=3&theater

Video Kajian : Saat Semua Berpaling… Part # 2

Saat Semua Berpaling – Kisah Ka’ab bin Malik, Rodhiyallahu ‘Anhu… Part # 1

Kajian kita kali ini akan membahas sebuah kisah kepahlawanan dari salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, yakni Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu. Dimana kisah ini terjadi pada salah satu momen peperangan besar kaum muslim melawan bangsa Romawi yang terjadi pada tahun 9 hijriah.

Namun kisah ‘kepahlawanan’ ini bukanlah menceritakan pengorbanan seorang panglima di medan perang, bukanlah menceritakan seorang pemanah handal yang heroik menumpas musuh, apalagi pasukan garda depan, tapi uniknya karena justru yang dikisahkan adalah kesalahan seorang sosok sehingga ia tidak memiliki andil dalam peperangan ini.

Kisah ini menceritakan bagaimana Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu tidak ikut berangkat dalam kafilah perang Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, karena sebuah kekhilafan. Tapi justru kesalahan beliau di perang Tabuk inilah yang mencatatkan namanya sebagai seorang pahlawan. Beliau menjadi inspirator, khususnya bagi orang-orang yang pernah membuat kesalahan dalam hidupnya.

Dialah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu. Seorang pemuda dari kaum Anshar yang tidak pernah absen ajakan jihad oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam kecuali perang badar. Dimana dirinya pun pernah menjadi satu dari 70 penduduk Madinah yang mengikuti bai’at Aqobah, janji setia kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Namun dirinya melakukan sebuah kelalaian yang fatal ketika momen ajakan perang Tabuk. Meski demikian, atas kesalahan yang dilakukannya dirinya mendapatkan hukuman, serta merta karena ketepatan sikapnya, justru telah mengantarkan dirinya from Zero to Hero.

Dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu. Menceritakan ketika peristiwa ajakan perang Tabuk dirinya dalam kondisi yang sehat dan dalam kondisi yang lebih sejahtera dari waktu-waktu sebelumnya, dimana dirinya memiliki dua ekor kuda, serta tidak ada uzur yang membatalkan dirinya untuk ikut perang Tabuk.

Ketika rombongan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam beserta sahabat harus berjalan sejauh 620-an km ke Tabuk dari Madinah dengan medan yang melelahkan dan di cuaca musim panas tanah Arab bersuhu tinggi sedikitnya 50⁰ celcius, di Madinah sedang panen kurma yang melimpah.

Pun ajakan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam ke Tabuk langsung disambut gembira dan semangat oleh para sahabat. Panen kurma yang melimpah tak membuat silau para sahabat untuk enggan menyambut ajakan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka rela berjalan jauh meninggalkan nikmat dunia untuk ke medan yang dahsyat untuk berhadapan dengan pasukan Romawi dan berjihad untuk Allah jalla jalaluhu. Karena para sahabat yang berlomba-lomba memenuhi seruan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam adalah orang-orang yang mengambil sikap zuhud kepada dunia. Mereka yang memiliki keimanan.

Sama halnya pada diri Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu, beliau langsung menyiapkan diri untuk menyambut seruan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Perbekalan pun disiapkannya. Namun yang terjadi adalah justru persiapannya kian tertunda karena perihal-perihal sepele. Hingga kian semakin tertundanya, sampai Ka’ab menemukan dirinya telah tertinggal oleh rombongan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam ke Tabuk.

Penyebab sepele tertundanya menyiapkan perbekalannya pun disikapinya dengan sikap yang menyepelekan pula, “Kalau aku mau, semua ini bisa kupersiapkan segera.”

Disinilah kunci dari kekhilafan yang dilakukan Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu. Dirinya lalai terlalu yakin dengan kemampuan yang dimiliki dirinya. Dirinya kurang bergantung kepada ALLAH dan mengucapkan kata “insya Allah”.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman di dalam surat Al Kahfi ayat 23 dan 24:

. وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا
. إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚوَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا

Artinya: Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,(23) kecuali (dengan menyebut): “Insya-Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”.(24) (QS: AL Kahfi: 23-24)

Jangan sampai Anda akan melakukan sebuah aktivitas, dengan mengucapkan “Aku bisa melakukannya”, tanpa mengucapkan kata “insya-Allah.” Jangan sampai Anda menggantungkan diri Anda kepada kekuatan Anda. Kita harus selalu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jangan pernah merasa diri besar atas prestasi-prestasi yang telah diraih. Jangan pernah merasa diri cukup ilmu atas telah hadir di kajian-kajian ilmu agama. Jangan pernah merasa paling mampu dalam keahlian yang kita miliki. Karena ketahuilah, semua hal itu dicapai atas izin ALLAH.

Kita juga dapat mengambil pembelajaran; janganlah gemar menunda-nunda suatu urusan kebaikan. Sebagian ulama berkata; “Menunda-nunda adalah salah satu bala tentara iblis.”

Demikiannya Ka’ab tersadar, tidak ada satupun orang beriman yang beliau temui di kota Madinah. Ka’ab menemukan dirinya di tengah-tengah orang munafik. Karena para sahabat dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sudah sampai ke Tabuk. Iman di dalam hatinya menjerit dan membuat Ka’ab terperangah dan merenungi nasibnya.

Menarik nasib Ka’ab tertinggal di Madinah bersama orang-orang munafik, dapatlah kita mengambil pembelajaran dengan diri kita, ketika kita mendapati diri ini masih berkecimpung di lingkungan yang buruk dan dikelilingi oleh pelaku maksiat. Adakah iman kita menjerit? Jika tidak ada, selamat: kita akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat nanti. Na’udzubillah min dzalik.

Bersambung di PART # 2

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
Courtesy of The Rabbaanians
https://www.facebook.com/therabbaanians/photos/a.1433546910282441.1073741828.1433458263624639/1620667594903704/?type=3&theater

Video Kajian : Saat Semua Berpaling… Part # 1

Hanya Detik Ini…

“Kemarin adalah sebuah pengalaman,
Hari ini adalah amal,
Dan Esok adalah angan.”
(Fudhail bin ‘Iyadh dalam Az Zuhud Al Kabiir no 475)

Saudaraku, hanya detik ini kesempatan pasti kita tuk beramal.

Belajarlah dari hari kemarin lalu gunakan hari ini dengan sebaik-baiknya!

Sedangkan esok… masih sebuah angan yang belum tentu dapat dijangkau oleh usia seorang insan.

Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhu- menasehati:
“Jika anda berada di sore hari, jangan menunggu waktu pagi dan jika anda berada di pagi hari, jangan menunggu waktu sore.”
(HR Bukhari 6416)

Selamat beramal shalih…

Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى

 

Tips Untuk Memahami Ilmu…

Anda ingin memahami ilmu yang disuguhkan dalam sebuah majelis ?

Al Khathiib Al Baghdaadi memberikan tipsnya:

“Ikhlas mencari wajah ALLAH mewariskan pemahaman tentang ALLAH.”
(Zuhd War Raqaiq lil Khathiib Al Baghdaadi, 71)

IKHLAS, itulah kunci dalam memahami ilmu.

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى