Category Archives: Muhammad Nuzul Dzikry

Lumbung Pahala Dibalik Kehilangan Pembantu

Ustadz M Nuzul, Lc, حفظه الله تعالى

Saudariku…
Apakah tumpukan piring kotor anda menjulang?

Lalu pakaian kotor menggunung?
Rumah bak kapal pecah!?

Sedangkan pembantu meninggalkan anda mudik ke kampung halaman.

Jangan meratap dan berkeluh kesah!!

Simaklah solusi nabawi bagi seorang ibu yang ditinggal mudik oleh pembantunya.

Ali bin Abi Thalib -radhiyallaahu anhu- berkata:
“Fathimah mengeluhkan bekas alat penggiling yang dirasakan tangannya.
Maka Fathimah pun mendatangi Nabi guna meminta seorang pembantu dari beliau, namun saat tiba di rumah beliau tidak ada seorangpun yang dapat ia temui kecuali Aisyah.
Lalu ia mengutarakan maksud kedatangannya kepada Aisyah.

Dan pada saat Nabi pulang, Aisyah memberitahu beliau perihal kedatangan putri beliau Fathimah. Maka beliaupun mendatangi kami (Ali & Fatimah) pada saat kami hendak tidur.

Akupun secara spontan berdiri, namun beliau berkata: “Tetaplah di tempatmu”.
Lalu beliau duduk ditengah-tengah kami, hingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku.

Beliau berkata: “Ketahuilah, aku akan ajarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta kepadaku,
“Jika kalian hendak tidur maka
– bertakbirlah 34x,
– bertasbihlah 33x dan
– bertahmidlah 33x,
maka itu lebih baik bagi kalian daripada seorang pembantu”.
(HR Bukhari)

Wahai saudariku…
Inilah solusi nabawi saat Fatimah merasa capek karena banyaknya pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan, karena dzikir yang dilafazhkan dengan lisan dan diresapi di dalam qolbu serta diamalkan dengan anggota badan akan memberikan kekuatan ke dalam jiwa dan raga kita saat kita mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah kita.

Kita akan lebih bersemangat dan bertenaga serta mengerjakan seluruh tugas kita dengan penuh keikhlasan.

Ingatlah seberat-berat sebuah pekerjaan, jika kita lakukan dengan ikhlas maka akan terasa ringat dan nikmat.

••• Semoga Bermanfaat •••

Berpesta Tuk Merayakan Akhir Tahun ?

Ust. M Nuzul, حفظه الله

Setiap manusia tengah digiring menuju kematiannya. Setiap waktu yang berlalu, mendekatkan dirinya kepada ajal yang telah menunggu. Dan tidaklah bergeser kaki seorang hamba kelak di hari kiamat, kecuali akan ditanya akan waktunya, untuk apa dia habiskan.

Saat ajal tiba, Orang-orang fasik akan memohon kepada Allah untuk kembali diberi waktu supaya bisa beramal sholih. Saat tubuh telah dikubur, ia berangan-angan untuk dikembalikan ke alam dunia, berharap bisa bersujud kepada Allah taala, meski hanya sekali saja.

Lantas, mengapa kita masih sempat berpesta pora, merayakan berlalunya tahun, dengan berdalih menyambut tahun baru ?
Simak penjelasan Ust Abu Ya’la Kurnaedi,Lc. Klik http://m.salamdakwah.com/videos-detail/muhasabah-akhir-tahun–.html

#Perhiasan Paling Indah#
Mobil Ferrari dengan kemewahanya, Gedung Empire State dengan kemegahannya, emas perak dengan kemilaunya, panorama alam dengan pesonanya, tak mampu menandingi indahnya seorang wanita dengan kesholihahannya.

Menjadi sholehah adalah dambaan setiap wanita. Wanita yang dicintai oleh Allah dan Rosul-Nya sebelum suami dan anak-anaknya. Wanita yang Allah janjikan dengan surga dan dijaga dari adzab neraka.

Kesholihan seorang wanita tak bisa dibeli dengan harta, tidak dituruni dari orang tua, tidak pula ada pada tahta ataupun pada cantiknya muka. Namun ia semata-mata adalah anugrah dari Dzat Yang Maha Kuasa.

Lantas, bagaimana usaha seorang wanita untuk bisa menjadi sholihah ?

Simak penjelasan Ust Muhammad Nuzul,Lc.
http://m.salamdakwah.com/videos-detail/bagaimana-menjadi-sholihah.html

Obat Penyakit Hati

Seri Tazkiatun Nufus Ust M. Nuzul Lc.

Setiap penyakit pasti ada obatnya, dan tidaklah اللهُ ta’ala menurunkan penyakit melainkan Dia juga menurunkan obatnya. Hati yang sakit masih dapat diobati, dan diantara obat penyakit hati ialah:

1. Mentauhidkan اللهُ dan menjauhkan syirik.

Obat yang paling mujarab untuk membersihkan hati adalah dengan mentauhidkan اللهُ dan menjauhkan syirik, ikhlas, serta beriman dengan keimanan yang benar. Tidak ada kebaikan, kelezatan, kenikmatan, dan kebaikan hati melainkan jika اللهُ sebagai Rabb-nya, Penciptanya Yang Maha Esa, satu-satunya Dzat yang diibadahinya, puncak tujuannya, dan paling dicintainya daripada yang lain. Setiap muslim wajib meyakini semua yang ada di langit, di bumi dan diantara keduanya, semua itu adalah milik اللهُ ta’ala, segala puji bagi-Nya. Oleh karena itu, wajib bagi makhluk untuk mentauhidkan اللهُ, beribadah hanya kepada-Nya, merasa takut, harap, cinta, tawakkal, taubat, memohon, meminta hanya kepada اللهُ ta’ala. اللهُ berfirman:
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al Fatihah: 5)

Dengan mentauhidkan اللهُ, hati menjadi hidup, sehat, selamat dan bahagia.

Ketahuilah, bahwa nanti di hari kiamat setiap manusia akan ditanya tentang beberpa perkara:
Pertama: bagaiman kita beribadah kepada اللهُ ta’ala?
Kedua: bagaimana kita mengikuti Nabi صلى الله عليه وسلم?

2. Menuntut ilmu syar’i dan mengamalkannya, serta menerima kebenaran dan mengamalkannya.

Menuntut ilmu syar’i adalah ladang penyubur iman. Nabi صلى الله عليه وسلم diutus oleh اللهُ ta’ala kepada seluruh umat manusia dengan membawa dua hal, yaitu ilmu yang bermanfa’at dan amal shalih. Karenanya, konsekuensi dari menuntut ilmu adalah menerima kebenaran dan mengamalkannya. Orang yang paling bahagia adalah orang yang menuntut ilmu syar’i, ikhlas karena اللهُ dan mengamalkannya.

3. Menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat.

Urutan dosa dan maksiat dari yang paling besar adalah syirik, kemudian bid’ah, lalu kemaksiatan secara umum. Kesemuanya ini harus dijauhkan dari amalan seorang muslim sehari-hari. Imam Ibnul Qayyim رحمه الله membahas hal ini secara khusus dalam kitab tersendiri berjudul Ad Daa’ wad Dawaa’ (Penyakit dan Obatnya).

4. Berdzikir dan istighfar.

Berdzikir yang sesuai dengan sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم dapat mengobati hati yang sakit. Maka hendaknya setiap muslim dan muslimah membiasakan diri berwirid dengan dzikir-dzikir yang berasal dari sunnah-sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم , seperti dzikir ketika mau tidur, bangun dari tidur, dzikir pagi petang dan dzikir-dzikir yang lainnya, serta banyak beristighfar dan memohon ampun kepada اللهُ ta’ala. Sebab dalam dzikir akan mendapatkan ketenangan hati, sebagaimana firman اللهُ ta’ala:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat اللهُ. Ingatlah, hanya dengan mengingat اللهُ hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du: 28)

Allah ta’ala berfirman: “Dan di akhir malam mereka memohon ampunan (kepada اللهُ).” (QS. Adz Dzarriyaat: 18)

5. Membaca Al Qur’an setiap hari.

Allah ta’ala berfirman: “Dan Kami turunkan dari Al Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zhalim (Al Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al Isra’: 82)

Allah ta’ala berfirman: “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al Qur’an) dari Rabb-mu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah seperti kuburan, karena sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat Al Baqarah.” (HR. Muslim)

Setiap muslim dan muslimah harus membaca Al Qur’an setiap hari, disertai tadabbur (mempelajari dan memahami isinya) dan mengamalkannya. Sebab, di dalam Al Qur’an itu terkandung penawar hati yang sakit.

6. Selalu bertaubat kepada اللهُ ta’ala.

Seorang yang beriman harus selalu bertaubat kepada اللهُ setiap hari. Nabi صلى الله عليه وسلم bertaubat sebanyak 100 kali dalam sehari. Bahkan pernah dalam satu majelis Nabi صلى الله عليه وسلم seratus kali mengucapkan: “Rabbigh firlii wa tub ‘alayya innaka antat tawwaabul ghafuur”, “Ya اللهُ, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Pengampun.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم mengucapkan: “Rabbigh firlii wa tub ‘alayya innaka anta tawwaabur rahiim”, “Ya اللهُ, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang.”

7. Berbuat baik kepada manusia.

Berbuat baik, membantu, dan menolong manusia akan menjadikan hati itu menjadi sehat dan hidup. Adapun orang yang lebih berhak supaya kita berbuat baik kepadanya adalah kedua orang tua kita. اللهُ memerintahkan kepada umat manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. اللهُ berfirman: “Dan sembahlah اللهُ dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua…” (QS. An Nisaa: 36)

Berbuat baik kepada orang tua akan melapangkan dada, memudahkan urusan dan dapat memasukkan seseorang ke dalam surga.

Kemudian setelah kepada orang tua, maka kita harus berbuat baik kepada suami atau istri, kepada anak, kepada sanak kerabat, kepada tetangga dan seluruh kaum muslimin. Seorang muslim harus bermanfa’at bagi dirinya dan bagi orang lain.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfa’at bagi orang lain.” (HR. Thabrani)

8. Membuang berbagai kotoran hati.

Agar hati menjadi sehat, maka seorang muslim harus selalu berusaha untuk membuang seluruh kotoran hati, seperti cinta dunia, sombong, ujub (bangga diri), tidak bersikap jujur, dan yang lainnya. Hati setiap muslim harus senantiasa dibersihkan.

Di awal-awal diutusnya Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- sebagai Rasul, beliau diperintah oleh Allah ta’ala: “Dan pakaianmu hendaklah engkau bersihkan.” (QS. Al Mudatstsir: 4)

Yang dimaksud dengan pakaian disini menurut penjelasan para ulama adalah hati, maksudnya adalah: “Dan hatimu hendaklah engkau bersihkan.”

9. Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfa’at.

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yanh lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfa’at bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata: ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu,’ tetapi katakanlah: ‘Ini telah ditakdirkan Allah, dan Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki,’ karena ucapan ‘seandainya’ akan membuka (pintu) perbuatan syaithan.” (HR. Muslim)

Setiap mukmin dan mukminah hendaknya menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfa’at. Betapa banyak orang muslim yang terlihat sibuk namun tidak melakukan hal-hal yang bermanfa’at bagi dunia dan akhiratnya, seperti membicarakan aib orang lain, bermain-main yang tidak bermanfa’at, berangan-angan kosong, dan sebagainya.

10. Zuhud terhadap dunia.

Orang yang zuhud terhadap dunia adalah orang yang dicintai Allah dan manusia. Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: Dari Abul ‘Abbas Sahl bin Sa’d as Sa’idi -radhiyallahu ‘anhu-

¤ SELESAI ¤

Jangan Sok Tahu

Ust. Nuzul LC

-Orang yang tidak tahu maka dia kewajibannya adalah bertanya, bukan berfatwa, menjelaskan atau sekedar menjawab “iya” atau “tidak” tentang agama Allah taala.

Selain mendapat dosa, orang berbicara tanpa ilmu sangatlah rentan terjatuh dalam kesalahan yang fatal. Bahkan bisa jadi dapat merenggut nyawa seseorang.

Para ulama sangat berhati-hati dalam berfatwa. Lihatlah Imam Malik. Beliau pernah ditanya dengan 50 pertanyaan dan tidak ada satupun pertanyaan yang beliau jawab.

Imam Malik pernah berkata,” Barang siapa yang hendak menjawab pertanyaan tentang suatu permasalahan (agama), maka sebelum menjawab, hendaklah ia bayangkan bahwa didepannya ada surga dan neraka, serta bagaimana dia bisa mempertanggung jawabkannya, barulah ia menjawab.”

Guru besar imam Malik; Rabiah bin Abdirrahman pernah berkata,” Diantara orang yang berfatwa pada zaman ini lebih layak masuk penjara daripada para pencuri….”

Abul Husain al Asadi mengatakan,” Salah seorang dari kalian berfatwa tentang sebuah permasalahan yang seandainya permasalahan ini diangkat di hadapan Umar bin Al-Khaththab tentu ia akan mengumpulkan Ahli Badar (untuk bermusyawarah mencari jawabannya).”

Lantas, mengapakah kita begitu mudah berfatwa ?

Kaidah-Kaidah Metode Beragama Aswaja

(1/8)

Kita akan mempelajari secara berkala kaidah2 yg berkaitan dg metode beragama ahlussunnah waljama’ah yg disarikn dr kitab Al Ishbah fi Bayan Manhajis Salaf fitTarbiyati wal Ishlah yg ditulis olh Syeikh Abdullah bin Sholih Al Ubailan&dikoreksi serta diberikan kta pengantar oleh Syeikh Sholih Fauzan.

Kaidah I :
“Agama islam dibangun diatas 2 pondasi, yaitu ikhlas&mutaba’atur rasul.”

——-Pondasi pertama:

Mengikhlaskan niat kita hanya u/ Allah dlm setiap amal ibadah, brdsrkn firman Allah dlm AlBayyinah- 5:

‫‫وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ‬‬

“Padahal merka tdk disuruh kec. spy menyembah Allah dg mengikhlaskn/memurnikn ketaatan kpd-Nya dlm (menjlnkan) agama dg lurus&spy mreka mendirikan salat&menunaikan zakat; &yg demikian itulah agama yg lurus.”

——-Pondasi ke-2:

Mutaba’ah, yaitu akidah serta amal ibadah kita sesuai dg apa yg disyari’atkan Rasulullah  صلى الله عليه وسلم .Hal ini bdsrkn ayat dlm Ali Imran-31:

‫‫قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ‬‬

Katakanlh:”Jika kamu (benar2) mencintai Allah,ikutilah aku,niscaya Allah mengasihi&mengampuni dosa2mu”,& Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Dan dua pondasi ini dihimpun Allah ta’ala dlm Al Mulk-2:

‫‫الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ‬‬

“yg menjadikan mati&hidup, spy Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yg paling baik amalnya.& Dia Maha Perkasa lgi Maha Pengampun.”

Fudhail bin ‘Iyadh berkta:“Makna ahsanu ‘amala adlh yg paling ikhlas&yg paling benar.”Lalu beliau ditanya:“Apa yg paling ikhlas&yg paling benar?”Beliau mnjwb:“Ikhlas:apa2 yg dikerjakn u/ Allah,& hal yg benar adlh apa yg sesuai dg assunnah

(Ibnu Abi Dunya dlm kitabnya Al Ikhlas wanNiyyah)

Kaidah ke-2:
“Sumber syari’at,dakwah&ibadah adlh AlQur’an&AsSunnah”

Allah taala brfrman:

‫‫وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ‬‬

“&taatilah Allah&Rasul,spy kmu diberi rahmat.”(QS.Ali Imran:132)
‫‫يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ‬‬

“Hai org2 yg beriman,jngnlh kamu mendahului Allah&Rasul-Nya&bertakwalah kpd Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lgi Maha Mengetahui.”(QS. Al Hujurat:1)Rasulullah   صلى الله عليه وسلم bersabda:
‫‫تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْن لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابُ الله وَ سُنَّتِي‬‬

“Aku tingglkan u/ kalian 2 hal yg kalian tdk akan tersesat setelahnya, Kitabullah & Sunnahku.”(HR. Hakim)

Ini adlh penyempurnaan dr kaidah seblmx bhw ssngghnya sebuah amal tdk akan diterima di sisi Allah kecuali dg 2 syarat:

a.  dikerjakan dg penuh keikhlasan
b.  & mengikuti syari’at atau tuntunan Rasulullah
Dan u/ mengtahui syariat Rasulullah kita hrs kembali ke sumberx yg otentik yaitu AlQur’an&AsSunnah(hadits2 Nabi yg shahih/valid).

Berangkat dari hal ini,kita memetik sebuah pelajaran berharga bhw keta’atan mutlak hanyalah u/ Allah & u/ Rasul-Nya krn beliau tdk mensyariatkan kecuali dg apa2 yg Allah perintahkan, sebgmn firmanNya:
‫‫وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى‬‬

“&tiadlh yg diucapkannya (Rasulullah) itu menurut kemauan hawa nafsunya (3)Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yg diwahyukan(kpdnya).”(AnNajm;3-4)

Sedangkan selain Rasulullah,jika kita ta’at kpd mereka mk ketaatan kita kpd mrka jk mrka mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم,bukan ketaatan scr mutlak.

Adapun jk mrka salah&menyelisihi Al Qur’an&As Sunnah mk mrka tdk dita’ati,hal ini berdsrkn sabda Nabi  صلى الله عليه وسلم:

‫‫لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخالِق‬‬

“tdk ada ketaatan kpd makhluk dlm kemaksiatan kpd Allah.”(HR. Ahmad)

Oleh : Ust. Muhammad Nuzul, Lc حفظه الله تعالى

Adab Menjawab Salam

Allah سبحانه وتعالى berfirman :

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
“Apabila kalian diberi salam/penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.” (QS. An-Nisa’: 86)

Maka balaslah salam saudaramu dgn yg lebih baik atau minimal serupa.

Jika saudaramu memberi salam “Assalaamu’alaikum” maka jawaban yg serupa adalah
“Wa’alaikum Assalaam” atau jika disambung “Wa’alaikumussalam”.

Jika jawabannya “Wa’alaikum salam” maka itu belum serupa karena “Assalaam” lebih tinggi daripada “Salam”.

(Faedah dari kajian Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc حفظه الله)

———¤•¤•¤———-

Orang Paling Pelit

Suatu ketika ada sahabat yang risau dan mengadu kepada nabi. Dikebunnya ada pohon kurma yang bukan miliknya.

Nabipun meminta untuk dipanggilkan si pemilik pohon kurma.

Setelah ia datang, Nabipun bersabda, “ juallah pohon kurmamu yang tumbuh dikebun temanmu itu kepadaku !” Orang itu menjawab, “ Tidak.”

“Kalau begitu, hadiahkan untukku.” Sabda Nabi. Orang itu kembali menjawab, “ Tidak.”

“ Kalau begitu, juallah pohon kurma itu dengan pohon kurma di surga !” Sabda Nabi lagi kepadanya. Namun, ternyata ia tetap menjawab,”Tidak !”

Akhirnya nabipun bersabda bahwa beliau tidak pernah melihat orang yang lebih pelit dari orang tersebut kecuali seseorang.

Siapakah seseorang yang lebih pelit dari orang yang tidak mau menukar pohon kurmanya dengan surga ?

Simak penjelasan lengkapnya bersama Ust Muhammad Nuzul Dzikri, Lc.

klik http://www.salamdakwah.com/videos-detail/manusia-paling-pelit.html