Category Archives: Muhammad Wasitho

Beginilah Sikap TAWADHU’ (Rendah Hati) Yang Benar Kepada Sesama Muslim…

Bismillah.

Bakr bin Abdullah rahimahullah berkata:

» Jika engkau melihat orang yang lebih tua darimu, maka katakanlah (di dalam dirimu): “Dia telah mendahuluiku dalam memeluk agama Islam dan melakukan amal sholih. Oleh karenanya, dia lebih baik dariku.”

» Jika engkau melihat orang yang lebih muda darimu, maka katakanlah (di dalam dirimu); “Aku telah mendahuluinya dengan perbuatan dosa dan maksiat. Oleh karenanya, dia lebih baik dariku.”

» Jika engkau melihat teman-temanmu memuliakan dan menghormatimu, maka katakanlah (di dalam dirimu); “Mereka telah melakukan suatu nikmat.”

» Dan Jika engkau melihat kekurangan atau kelalaian dari mereka terhadap dirimu, maka katakanlah (di dalam dirimu); “Hal ini disebabkan dosa yang aku lakukan.”
(Lihat ‘Uyuunu Al-Akbaar, karya Ibnu Qutaibah, I/267).

Inilah wasiat mulia dari seorang ulama sunnah kepada kita semua, yaitu agar kita senantiasa bersikap tawadhu’ (rendah hati) dan tidak merasa lebih mulia, sombong dan bangga diri di hadapan orang lain dengan kekayaan, kedudukan dan jabatan yang tinggi, popularitas, kecantikan atau ketampanan, banyaknya ilmu dan amal, atau banyaknya pengikut kita. Karena semakin seorang hamba bersikap tawadhu’, maka semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah dan di hadapan manusia.

» Di dalam hadits yang shohih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

Artinya: “Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim no.2588)

Al-Qodhi Iyadh rahimahullah berkata: “Di dalam hadits tersebut terkandung dua makna, yaitu:

(Pertama) : Bahwa Allah Ta’ala memberikan kepadanya kedudukan yang tinggi di dunia sebagai balasan atas sikap tawadhu’nya karena Allah.

(Kedua) : Peninggian derajat merupakan pahala baginya di akhirat sebagai balasan atas sikap tawadhu’nya itu.”
(Lihat Syarah Shohih Muslim karya Al-Qodhi Iyadh VIII/599).

Demikian Faedah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. (Kualalumpur, 25 Januari 2017)

Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى

Mintalah Hajatmu Hanya Kepada ALLAH, Pasti DIA Akan Kabulkan Untukmu…

Muslim bin Qutaibah rahimahullah berkata:
“Janganlah engkau meminta hajatmu kepada salah satu dari tiga golongan (yaitu):

1. Janganlah engkau minta hajatmu kepda seorang pendusta, karena sesungguhnya ia akan (berpura-pura) mendekatkan hajatmu, padahal ia masih jauh (maksudnya, ia menampakkan seolah-olah akan memberi hajatmu dalam waktu dekat, padahal yang sebenarnya masih lama, atau bahkan tidak akan memberi hajatmu, pent).

2. Janganlah engkau minta hajatmu kepada orang dungu (tolol), karena sesungguhnya ia ingin memberimu manfaat, tapi justru ia akan memberimu mudhorot (sesuatu yang berbahaya).

3. Janganlah engkau minta hajatmu kepada seseorang yang kebutuhan makannya bergantung kepada kaumnya, karena sesungguhnya ia akan menjadikan hajatmu sebagai sarana untuk memenuhi hajatnya. (Lihat Al-Amaali karya Abu Ali Al-Qoli, II/190).

Atho’ rahimahullah berkata:
“Thowus rahimahullah (seorang ulama tabi’in) datang menemuiku, lalu ia berkata kepadaku: “Wahai ‘Atho, janganlah engkau mengajukan hajat-hajatmu kepada orang yang menutup dan menghalangi pintu (rumah)nya dari hadapanmu. Akan tetapi, hendaklah engkau meminta segala hajatmu hanya kepada Allah, yang mana pintu (pengabulan permohonan)-Nya senantiasa terbuka untukmu sampai hari Kiamat. Dia memintamu agar engkau selalu berdoa (meminta) kepada-Nya, dan Dia juga berjanji akan selalu mengabulkan permintaanmu.” (Lihat Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani, IV/11).

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

ادْعُونِي أسْتَجِبْ لَكُمْ

Artinya: “Berdo’alah kamu sekalian hanya kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan do’a kalian.” (QS. Al-Mu’min/ Ghoofir: 60).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berwasiat kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma dengan sabdanya:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

Artinya: “Apabila engkau meminta (hajat), maka mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah.” (Diriwayatkan oleh imam Ahmad dan At-Tirmidzi).

Demikian Faedah Ilmiah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Allah memberikan taufiq dan pertolongan-Nya kepada kita agar senantiasa istiqomah dalam beribadah dan berdo’a hanya kepada-Nya hingga akhir hayat. (Jakarta, 23 Januari 2017).

Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى

Inilah Corong Setan…

Bismillah.

Diriwayatkan bahwa Maula (mantan budak) Al-FadhL berkata:
“Aku pernah duduk bersama Wahb bin Munabbih (seorang ulama tabi’in) rahimahullah, lalu ada seorang laki-laki yang mendatanginya dan mengatakan kepadanya; “Sesungguhnya aku pernah bertemu si Fulan. Ia mencaci-makimu.” Maka Wahb bin Munabbih rahimahullah marah kepada orang yang membawa berita buruk itu seraya berkata; “Apakah setan sudah tidak mendapatkan seorang utusan pun selain dirimu?”

Maula Al-FadhL berkata:
“Tatkala aku masih duduk di majlis Wahb bin Munabbih rahimahullah, tiba-tiba orang yang mencaci makinya datang menemuinya, lalu ia mengucapkan salam kepada Wahb bin Munabbih. Maka Wahb pun menjawab salamnya, lalu beliau menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengannya, dan menyuruhnya agar duduk di sampingnya.”
(Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah, karya Al-Hafizh Ibnu Katsir IX/276).

» Subhanallah, betapa mulia dan bijaknya sikap Wahb bin Munabbih rahimahullah tersebut, ia tetap bersikap tenang, sabar dan berlapang dada, serta tidak mudah percaya dan emosi karena terpengaruh dengan berita buruk yang disampaikan seseorang kepada diri beliau.

Oleh karenanya, kita pun sebagai seorang muslim dan muslimah yang mendambakan persatuan Umat Islam, perdamaian dan keselamatan di dunia dan akhirat, hendaknya bersikap seperti Wahb bin Munabbih ketika mendengar berita-berita buruk, berupa fitnah, tuduhan dusta, cacian, dan semisalnya yang ditujukan kepada diri kita maupun kepada saudara kita yang disampaikan oleh seseorang. Karena bisa jadi motiv dari penyampain berita buruk itu karena ingin mengadu domba diantara kita, atau karena adanya kedengkian atas suatu nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita berupa ilmu, harta, kesuksesan, kedudukan yang tinggi, dan selainnya. Apalagi jika suadara kita yang digunjing dan difitnah tersebut dikenal baik kwalitas agama dan akhlaknya, serta lurus AQIDAH dan MANHAJ nya, maka janganlah kita mudah terpancing utk marah dan membalasnya dengan keburukan karena percaya dan terpengaruh oleh penyampai berita buruk tersebut. Tetapi hendaknya kita bersikap tenang, sabar, lapang dada, dan tabayyun (meneliti dan mencari kejelasan atau bukti kebenaran berita itu).

» Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (6) ﴾

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang yang fasiq dengan membawa suatu berita, maka ambillah sikap tabayyun (mencari kejelasan dan bukti kebenaran berita tersebut) agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

» Sikap mulia, hati-hati, sabar dan lapang dada sebagaimana yang dilakukan Wahb bin Munabbih rahimahullah ini bisa menutup rapat pintu-pintu perpecahan dan permusuhan diantara kaum muslimin, serta dapat memadamkan api kebencian dan kedengkian di dalam hati manusia. Karena setan terlaknat tiada henti-hentinya dalam berupaya menyebarkan benih-benih kedengkian, perpecahan dan permusuhan diantara umat manusia secara umum, dan diantara kaum muslimin secara khusus.

» Orang yang hobinya suka mendengarkan berita-berita buruk tentang seseorang lalu dia menyampaikannya kepada saudaranya yang digunjing tersebut, maka dia adalah salah satu UTUSAN SETAN yang diutus untuk mengadu domba dan menimbulkan perpecahan dan permusuhan diantara kaum muslimin secara umum, dan diantara Ahlussunnah wal Jamaah secara khusus, sebagimana yang dikatakan oleh Wahb bin Munabbih rahimahullah.

Demikian Faedah Ilmiah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

(Mekkah, 6 Januari 2017)

Muhammad Wasitho,  حفظه الله تعالى

Hukum Istri Memandikan Jenazah Suami dan Sebaliknya…

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum… Ustad, saya mau tanya : apakah seorang suami/istri bila salah satu dari mereka meninggal lebih dulu boleh memandikan jasad pasangan mereka masing2..? Blm lama ini saya dapat kiriman sms kisah perihal tsb. diatas. Nanti saya kirimkan kisah itu jg ke pak Ustadz. Mohon penjelasannya ..ustadz. Terima kasih ustadz .

Jawab:
Bismillah. Menurut pendapat ulama yg shohih bahwa seorang istri BOLEH memadikan jenazah suaminya yang lebih dahulu meninggal dunia. Demikian juga sebaliknya, BOLEH bagi seorang suami memandikan jenazah istrinya yang lebih dahulu meninggal dunia.

Hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut ini:

عن عائشة رضي الله عنها قالت : (رَجَعَ إلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ جِنَازَةٍ بِالْبَقِيعِ وَأَنَا أَجِدُ صُدَاعًا فِي رَأْسِي وَأَقُولُ : وَارَأْسَاهُ , فَقَالَ : بَلْ أَنَا وَارَأْسَاهُ , مَا ضَرَّكِ لَوْ مِتِّ قَبْلِي فَغَسَّلْتُكِ وَكَفَّنْتُكِ , ثُمَّ صَلَّيْتُ عَلَيْكِ وَدَفَنْتُكِ ) رواه أحمد (25380) ، وابن ماجة (1456)، وصححه الشيخ الألباني في صحيح ابن ماجة (1/247) .

1. Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, ia menceritakan, ‘bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah pulang ke (rumah)ku setelah mengantar jenazah ke Baqi’, beliau menemuiku ketika aku sedang sakit kepala, aku mengeluh: “Duh kepalaku.” Beliau bersabda, “Saya juga Aisyah, duh kepalaku.” Kemudian beliau menyatakan,

«مَا ضَرَّكِ لَوْ مِتِّ قَبْلِي، فَقُمْتُ عَلَيْكِ، فَغَسَّلْتُكِ، وَكَفَّنْتُكِ، ثُمَّ صَلَّيْتُ عَلَيْكِ، وَدَفَنْتُكِ»

“Tidak jadi masalah bagimu, jika kamu mati sebelum aku. Aku yang akan mengurusi jenazahmu, aku mandikan kamu, aku kafani, aku shalati, dan aku makamkan kamu.” (HR. Ahmad nomor.25380, Ibnu Majah nomor.1465, dan derajatnya dinyatakan SHOHIH oleh syaikh al-Albani di dalam Shohih Ibnu Majah I/247).

2. Riwayat yang menerangkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu pernah berwasiat agar dimandikan oleh istrinya, Asma’ binti `Umais radhiyallahu ‘anha, sehingga istrinya melaksanakan wasiat ini. (HR. Imam Malik dalam al-Muwaththa’ I/223, Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya nomor.6113, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya III/249).

3. Atsar yang diriwayatkan Ibnul Mundzir bahwa Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu memandikan jenazah Fathimah radhiyallahu `anha, dan hal ini diketahui oleh para sahabat Radhiyallahu `Anhum, namun tiada seorang pun dari mereka yang mengingkarinya; karena itu hal ini merupakan sebuah irma’ (konsensus para sahabat).

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Smg mudah dipahami n menjadi ilmu yg bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-taufiq. (Klaten, 20 November 2014)

Muhammad Wasitho,  حفظه الله تعالى

Ref : https://abufawaz.wordpress.com/2014/11/22/hukum-istri-memandikan-jenazah-suami-dan-sebaliknya/

Rebo Wekasan : Apa Arti Arba’ Mustamir ..?

Arba dari Arbi’a yang artinya hari Rabu, Mustamir artinya membawa sial atau keburukan.

Jadi dalam bahasa Jawanya “Rebo Wekasan.”

Bismillah. Peringatan Rabu atau Rebo Kasan yang biasa dilakukan oleh sebagian kaum muslimin di negeri ini dan negeri-negeri lainnya pada hari Rabu pekan terakhir dari bulan Shafar adalah peringatan (perayaan) yang tidak ada tuntunannya dalam ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Demikian pula do’a-do’a yang dibaca pada waktu tersebut dalam rangka menolak bala’ (bahaya/bencana) yang mereka yakini bahwa pada hari Rabu pekan terakhir dari bulan Shafar Allah menurunkan 320 ribu bencana dan musibah, maka do’a-do’a tersebut tidak benar datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan jika ditelusuri sumbernya, maka do’a-do’a tersebut yang semisalnya berasal dari tarekat-tarekat SUFI yang sesat dan menyesatkan.

Di samping itu, pada hari Rebo Kasan (Wekasan) terdapat sejumlah amalan-amalan khusus yang dianjurkan untuk diamalkan seperti sedekah, sholat sunnah, bacaan wirid dan dzikir-dzikir tertentu yang diada-adakan dalam agama Islam. Padahal Allah & Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan hal itu semua secara khusus pada hari Rebo Wekasan tersebut.

Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi kita semua untuk menjauhinya da memperingatkan keluarga dan saudara-saudara kita seislam agar tidak ikut-ikutan memperingatinya. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah melindungi kita semua dari segala keburukan dan perbuatan yang tidak ada tuntunannya di dalam Al-Quran & As-Sunnah yang Shohih. Dan semoga jawaban ini bermanfaat bagi kita semua. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.

Muhammad Wasitho,  حفظه الله تعالى

Bagaimana Bacaan Shalawat Yang Benar..?

Pertanyaan:
Bagaimanakah cara bersholawat kepada Nabi Muhammad yang benar sehingga kita memperoleh pahala dan keutamaan-keutamaan yang telah disebutkan di atas?

Jawab:
Bismillah. Cara bersholawat kepada Nabi Muhammad yang benar dan sesuai dengan tuntunannya adalah dengan mengucapkan sholawat ibrahimiyyah, yaitu sebagaimana berikut ini:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allohumma Sholli ‘Ala Muhammadin Kamaa Shollaita ‘Ala aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid. Allohumma Baarik ‘Ala Muhammad Kamaa Baaromta ‘Ala aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid.

Hal ini berdasarkan hadits shohih berikut ini:
Dari Ka’b bin Ujrah Radhiyallaahu ‘anhu. Ia berkata, “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar menuju kami lalu kami pun berkata, ‘Kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?’ Beliau menjawab, “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allohumma Sholli ‘Ala Muhammadin Kamaa Shollaita ‘Ala aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid. Allohumma Baarik ‘Ala Muhammad Kamaa Baaromta ‘Ala aali Ibroohiima innaka Hamiidun Majiid.
(Diriwayatkan oleh imam al-Bukhari no. 3370, dan imam Muslim no. 406).

Atau bisa juga dengan bacaan sholawat yang lebih pendek, yaitu:

صلى الله عليه وسلم.

(shallallahu ‘alaihi wasallam), atau dengan membaca ( Allahumma Sholli wa Sallim ‘Ala Nabiyyina Muhammad) atau dengan lafazh lain yang maknanya seperti itu.

Demikianlah beberapa keistimewaan sholawat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan bacaan sholawat yang benar sebagaimana dijelaskan di dalam hadits-hadits yang shohih.

Muhammad Wasitho Abu Fawaz, حفظه الله

Ref : http://bbg-alilmu.com/archives/5104

Perbanyaklah Sholawat…

img_20160915_203613

Makna sholawat Allah kepada Nabi dan hamba-Nya ialah pujian dan sanjungan Allah kepadanya di hadapan para malaikat yang mulia yang berada di sisi-Nya.

Sedangkan makna sholawat Para malaikat kepada Nabi dan orang-orang yang beriman ialah Doa. Maksudnya para malaikat mendoakan kebaikan dan memohonkan ampunan kepada Allah bagi Nabi shallallahu alai wasallam dan kaum mukminin.

Muhammad Wasitho,  حفظه الله تعالى

1391. Adakah batasan Zakat Fitr yang diberikan kepada setiap Faqir-Miskin…?

Pertanyaan:

Ustad, ingin tanya, jika zakat fitri saya dan istri saya berdua dikasi ke satu orang miskin , bolehkah ? Ataukah zakat fitri saya hanya boleh ke satu orang miskin dan zakat fitri istri saya ke faqir miskin yang berbeda ..? Batasannya bagaimana Ustadz ? Syukron

Jawaban:
Muhammad Wasitho,  حفظه الله تعالى 

Boleh dan sah zakatnya. Bahkan kalau ada 1 keluarga 10 orang memberikan zakatnya kepada 1 orang miskin tetap boleh dan sah.

Wallahu a’lam

Keutamaan Duduk Di Masjid Untuk Menunggu DATANGNYA Waktu Sholat Berikutnya…

Bismillah. Duduk di masjid atau di tempat sholat dalam rangka menunggu tiba waktu sholat berikutnya adalah termasuk amalan ibadah yang memiliki keutamaan dan pahala yang besar, diantaranya:

1. Selama seseorang duduk di masjid atau tempat sholatnya dalam rangka menunggu datangnya waktu sholat berikutnya, ia dianggap oleh Allah bagaikan orang yang sedang sholat.

2. Allah menghapuskan kesalahan dan dosanya, serta meninggikan derajatnya.

3. Para malaikat senantiasa bersholawat atasnya dan mendoakan kebaikan, serta memohon kepada Allah ampunan dan rahmat baginya.

4. Duduk di masjid atau tempat sholat dalam rangka menunggu datangnya waktu sholat berikutnya pahala dan keutamaannya bagaikan orang yang berjaga-jaga di wilayah perbatasan negeri muslim dengan negeri kafir.

Berikut ini kami akan sebutkan hadits-hadits shohih yang menunjukkan pahala dan keutamaan amalan ibadah di atas:

» HADITS PERTAMA:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَ يَنْتَظِرُهَا وَلَا تَزَالُ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي الْمَسْجِدِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ, فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ وَمَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ, قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاط

“Salah seorang dari kalian akan tetap dianggap sedang sholat selama ia menunggu sholat. Dan malaikat juga akan senantiasa bersholawat selama salah seorang dari kalian berada di masjid, mereka berkata; “Ya Allah, ampunilah ia, Ya Allah rahmatilah ia, ” yakni selama ia tidak berhadats (tidak batal wudhunya).” maka ada seorang laki-laki dari Hadramaut bertanya, “Wahai Abu Hurairah, seperti apa hadats (yang membatalkan wudhu itu)?” ia menjawab, “Kentut tanpa suara atau pun bersuara.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan selainnya).

» HADITS KEDUA:

Dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ جَلَسَ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ فَهُوَ فِي صَلَاةٍ

“Barangsiapa duduk di masjid dalam rangka menunggu sholat, maka dia terhitung dalam keadaan sholat.” (HR. an-Nasa’i dan Ahmad dengan sanad hasan).

» HADITS KETIGA:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا ويرفع به الدرجات, قالوا بلى يا رسول الله, قال : إسباغ الوضوء على المكاره, وكثرة الخطا إلى المساجد, وانتظار الصلاة بعد الصلاة, فذلكم الرباط ”

“Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat-derajat?” Para sahabat menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak disukai, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu sholat (yang berikutnya) setelah melakukan sholat, itu adalah ribath (yakni pahalanya seperti berjaga-jaga di wilayah perbatasan negeri muslim dan kafir, pent).” (HR. Muslim nomor.251).

» CATATAN:
Keutamaan dan pahala amalan tersebut akan didapatkan oleh siapa saja yang duduk di masjid atau tempat sholatnya dalam rangka menunggu datangnya waktu sholat berikutnya, dan ia senantiasa menahan jiwa dan raganya dari kesibukan dalam urusan dunia seperti jual beli, memenuhi nafsu syahwat yang mubah/halal, dan selainnya.

Semoga Allah memberikan taufiq dan kemudahan kepada kita semua agar bisa meraih pahala dan keutamaan dari setiap amalan yang disyari’atkan-Nya. Amiin.

Muhammad Wasitho,  حفظه الله تعالى

Mungkinkah Wanita Muslimah Meraih Pahala Haji dan Umroh Dengan Sholat Di Rumahnya…?

(Masalah nomor: 428)

» Tanya:
Assalamualaikum ustad. Bagaimana dengan wanita yang Kita tahu bahwa sholatnya wanita yang lebih baik adalah di rumah dan di kamarnya sendiri, lalu jika kami (para wanita muslimah) ingin mendapatkan pahala shalat isyroq tersebut, apakah bisa kami dapatkan jika shalat di rumah?, kalau tidak bisa, Manakah yang lebih baik bagi wanita, shalat subuh di rumahnya namun tidak dapat pahala besar shalat isyraq itu, atau sholat berjamaah ke mesjid untuk mencari pahala shalat isyroq?. Mohon pencerahannya ustadz.

»» Jawab:

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah. Sudah barang tentu bahwa yang lebih utama bagi wanita muslimah adalah sholat di dalam rumahnya.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk pergi ke masjid, meskipun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.”. (HR. Abu Daud, dan derajatnya dinyatakan HASAN oleh syaikh Al-Albani di dalam kitab Irwa’ul Gholil no.515).

Dan juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:

خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ

“Sebaik-baik masjid (tempat sholat) bagi wanita adalah di bagian dalam rumahnya.” (HR. Ahmad, no. 26002, dan dinyatakan HASAN oleh syaikh Al-Albani di dalam Shohih At-Targhib Wa At-Tarhib, no. 341).

» Dan wanita muslimah yang mengerjakan sholat Subuh di dalam kamarnya atau rumahnya, lalu ia berdzikir atau membaca Al-Quran di tempat sholatnya tsb sampai matahari terbit, lalu sholat dua rakaat, maka ia juga mendapatkan pahala haji dan umroh yang sempurna.

» Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah ketika beliau ditanya tentang hadits keutamaan sholat isyraq, apakah tinggal di rumah setelah shalat subuh untuk membaca Al-Qur’an sampai terbit matahari kemudian sholat dua rakaat, dia mendapat pahala (haji dan umroh) sebagaimana orang yang berdzikir di masjid?

» Beliau menjawab: “Amal ini memiliki banyak keutamaan dan pahala yang besar. Namun teks hadits yang ada, menunjukkan orang (laki-laki) yang tinggal di rumah tidak mendapatkan pahala sebagaimana orang yang duduk di tempat sholatnya di masjid. Tetapi jika orang (laki-laki) itu sholat subuh di rumah karena sakit atau karena takut, kemudian duduk di tempat sholatnya sambil berdzikir dan membaca Al-Qur’an sampai matahari meninggi (seukuran 1 tombak atau sekitar 10 atau 15 menit setelah matahari terbit, pent) kemudian sholat dua rakaat, maka orang ini mendapatkan pahala (Haji dan Umroh) sebagaimana yang disebutkan dalam hadist. Karena orang ini memiliki udzur (alasan syar’i) untuk sholat di rumahnya.

Demikian pula WANITA. Jika seorang WANITA sholat subuh (di rumahnya) kemudian duduk berdzikir di tempat sholat di dalam rumahnya sampai terbit matahari, maka dia juga mendapat pahala (haji dan umroh) sebagaimana yang disebutkan dalam hadits…”.

(Dapat dilihat di dalam Majmu’ Fatawa wa Maqalat Syaikh Abdul Aziz bin Bazz, XI/218).

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan kita bisa mengamalkannya dengan ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Amiin.

Muhammad Wasitho, حفظه الله