Category Archives: Musyaffa Ad Dariny

Kaya Udah Punya Kaplingan Di Surga Saja..!

Kata inilah yang seringkali dikatakan kepada orang yang menyampaikan ancaman neraka dari Allah ta’ala, baik melalui kitab-Nya Al Qur’an, ataupun melalui lisan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Padahal ancaman-ancaman tersebut banyak sekali kita dapati dalam Al Qur’an dan Hadits.. apakah mereka ingin ayat-ayat dan hadits-hadits itu disembunyikan dan tidak disampaikan kepada manusia, sebagaimana telah dilakukan oleh kaum ahli kitab (yahudi dan nasrani) dalam ajaran mereka ?!

Saudaraku seiman.. jika engkau TIDAK mau diancam dengan neraka Allah, maka berhentilah melakukan perbuatan yang dapat menjerumuskanmu ke dalamnya, bukan malah menuduh sinis orang yang telah berbaik hati kepadamu dengan usahanya memperingatkanmu dari bahaya tindakan burukmu !

Harus kita pahami juga bahwa nash-nash tentang “ancaman” itu sama seperti nash-nash tentang “janji pahala”.. itu bukan hasil akhir yang pasti.

Lebih jelasnya, bahwa ancaman tersebut belum tentu akan benar-benar dialami oleh pelakunya di kemudian hari, karena bisa jadi akhirnya dia bertaubat, atau amal baiknya lebih banyak, atau Allah mengampuninya.. sehingga bisa saja ancaman itu tidak terjadi padanya.

Begitu pula sebaliknya, jika ada nash tentang janji-janji pahala dari Allah, misalnya tentang amalan ‘menanggung kehidupan anak yatim’ akan memasukkan seseorang ke dalam Surga, bahkan dekat dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.. belum tentu hal ini akan benar-benar terjadi pada semua pelakunya, karena bisa jadi amal buruk dia lebih banyak, bisa jadi Allah tidak menerima amal itu karena tidak ikhlas atau dari harta haram, bisa jadi hidupnya ditutup dengan su’ul khatimah, dan sebab-sebab lainnya yang menjadikannya tidak berhak mendapatkan janji tersebut.

Kita harus memahami hal ini dengan baik, sehingga kita bisa mendudukkan nash-nash tentang ancaman dan janji pahala dengan pas dan proporsional.. Kita juga harus memahami maksud Allah dari ancaman-ancaman dan janji-janji itu adalah agar kita takut melakukan kemaksiatan, dan semangat dalam menjalankan ketaatan, sehingga harusnya kita mengondisikan diri kita sebagaimana Allah kehendaki.

Jika kita melihat nash-nash tentang ancaman neraka ini, ternyata mengarah kepada semua bab maksiat, mulai dari yang paling parah; kekafiran dan kesyirikan, lalu kebid’ahan, lalu dosa besar, sampai dosa-dosa yang di bawahnya… Anda bisa perhatikan contoh² berikut ini:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ خَالِدِينَ فِيهَا

“Orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, merekalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. [QS. At-Taghabun: 10].

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

“Sungguh orang yang berbuat syirik kepada Allah, maka Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya neraka”. [QS. Al-Maidah:72].

وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّار

“Seburuk-buruk perkara (dalam agama ini) adalah perkara-perkara yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan (dalam agama ini) adalah bid’ah, padahal setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu di neraka”. [HR. An-Nasa’i, dishahihkan oleh Albani].

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

“Sungguh orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim, sesungguhnya mereka makan api dalam perut mereka, dan mereka akan masuk neraka”. [QS. An-Nisa: 10].

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

“Barangsiapa bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh baginya neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya selamanya”. [QS. Al-Jin: 23].

Lihatlah, nash-nash diatas, semuanya memberikan ancaman neraka, dan bukan berarti orang yang pernah melakukan hal itu, pasti akhirnya akan masuk neraka.. karena bisa jadi dia bertaubat setelah itu dan Allah mengampuninya, atau karena sebab-sebab lainnya.

Masih sangat banyak sekali nash-nash lainnya yang senada dengan nash-nash di atas, kita tidak bisa menyebutkan semuanya, karena terbatasnya waktu dan tempat.. tentu semuanya harus kita sampaikan kepada manusia, sebagaimana dulu telah disampaikan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, para sahabat beliau -rodhiallohu anhum-, dan para ulama setelahnya –rohimahumulloh-.

Pantaskah kita mengatakan kepada mereka, “Kaya udah punya kaplingan di surga saja..!”

Mari berbenah diri, semoga Allah merahmati kita semua.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kontradiktif.. (pake banget)

– Banyak orang yang hidup dengan gaya hidup barat.. tapi ingin mati seperti matinya para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

– Banyak orang yang hidupnya tidak ingin dengan Islam, meski hanya penampilan lahirnya.. tapi kalau mati, ingin dengan Islam lahir batin.

– Banyak orang melihat bahwa mati di jalan Allah adalah sesuatu yang hebat dan mulia.. Tapi mengapa jika ada orang yang hidup di jalan Allah, dilihat ekstrim, sok suci, dan sok-sok yang lainnya.

Mari berbenah diri.. semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semuanya, amin.

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

DZIKIR Yang Sangat Dahsyat Pahalanya…

Suatu saat Nabi -shollallohu alaihi wasallam- melihat Abu Umamah -rodhiallohu ‘5anhu- menggerakkan bibirnya, maka beliau bertanya: “Apa yang sedang kau baca wahai Abu Umamah”.
Dia menjawab: “Aku sedang berdzikir kepada Allah”.

Beliau mengatakan: “Maukah aku tunjukkan kepadamu dzikir yang pahalanya LEBIH BANYAK dari dzikirmu selama SEHARI SEMALAM ?

Kemudian beliau mengajarinya (…dzikir di bawah ini…), dan beliau berpesan ajarkanlah dzikir ini kepada orang-orang setelahmu.

[HR Ath-Thobroni dalam Kitab Al Mu’jam Al Kabir no 7930, Hadits dishohihkan oleh Syeikh Albani dalam Shohihul Jami’: 2615].

Mari kita berdzikir dengannya, dan mari kita ajarkan kepada orang lain.

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ مَا خَلَقَ،
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ،
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ،
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ كُلِّ شَيْءٍ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ كُلِّ شَيْءٍ.

سُبْحَان الِله عَدَدَ مَا خَلَقَ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ مَا خَلَقَ،
وَسُبْحَان الِله عَدَدَ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ،
وَسُبْحَان الِله عَدَدَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ،
وَسُبْحَان الِله عَدَدَ كُلِّ شَيْءٍ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ كُلِّ شَيْءٍ.

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Artikel terkait:

1393. Kapan Membaca DZIKIR Dahsyat Ini..?

NB:
Latin:
Alhamdulillahi ‘Adada Maa Kholaqo
Walhamdulillahi Mil-a Maa Kholaqo
Walhamdulillahi ‘Adada Maa Fis-samaa-waati Wa Maa Fil-Ardhi
Walhamdulillahi ‘Adada Maa Ahsho Kitaabuhu
Walhamdulillahi Mil-a Maa Ahsho Kitaabuhu
Walhamdulillahi ‘Adada Kulli Syai-in
Walhamdulillahi Mil-a Kulli Syai-in

Subhanallahi ‘Adada Maa Kholaqo
Wa Subhanallahi Mil-a Maa Kholaqo
Wa Subhanallahi ‘Adada Maa Fis-samaa-waati Wa Maa Fil-Ardhi
Wa Subhanallahi ‘Adada Maa Ahsho Kitaabuhu
Wa Subhanallahi Mil-a Maa Ahsho Kitaabuhu
Wa Subhanallahi ‘Adada Kulli Syai-in
Wa Subhanallahi Mil-a Kulli Syai-in

Artinya :
ALHAMDULILLAH sebanyak semua ciptaanNya,
dan ALHAMDULILLAH sepenuh semua ciptaanNya,
dan ALHAMDULILLAH sebanyak seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi
dan ALHAMDULILLAH sebanyak semua yang dicatat kitabNya,
dan ALHAMDULILLAH sepenuh apa yang dicatat kitabNya,
dan ALHAMDULILLAH sebanyak segala sesuatu,
dan ALHAMDULILLAH sepenuh segala sesuatu.

SUBHANALLAH sebanyak semua ciptaanNya,
dan SUBHANALLAH sepenuh semua ciptaanNya,
dan SUBHANALLAH sebanyak seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi
dan SUBHANALLAH sebanyak semua yang dicatat kitabNya,
dan SUBHANALLAH sepenuh apa yang dicatat kitabNya,
dan SUBHANALLAH sebanyak segala sesuatu,
dan SUBHANALLAH sepenuh segala sesuatu.

Bila Kehidupanmu Tak Terarah…

Ibnul Qayyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Hati yang kacau tidak menentu, tidak ada yang bisa memperbaikinya kecuali menghadapkan hati itu kepada Allah.” [Zadul Ma’ad 2/82].

Sufyan bin Uyainah -rohimahulloh- sebelumnya telah mengatakan:

“Para ulama dahulu biasa saling menasehati satu sama lain dengan kata-kata ini:

Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, niscaya Allah perbaiki keadaan lahirnya.

Barangsiapa memperbaiki hubungan dia dengan Allah, niscaya Allah akan perbaiki hubungan dia dengan manusia.

Barangsiapa beramal untuk akhiratnya, niscaya Allah akan cukupkan kehidupan dunianya.”

[Kitab Ikhlash, karya Ibnu Abid Dunya].

—–

Seringkali kita merasa keadaan kita tidak terarah, tidak menentu, tidak teratur, hampa, gersang, dst..

Jika keadaan ini menimpa kita, ingatlah bahwa itu pertanda kita sudah jauh dari Allah.. Solusinya sangat sederhana sebenarnya, hanya saja semua kembali kepada kita, mau atau tidak untuk move on.

Segeralah kembali kepada Allah, dan fokuslah dengan ibadah.. Jika ibadah kita beres, Allah akan membereskan kehidupan kita dan memberkahi waktu kita.. Karena sangat tidak mungkin Allah melantarkan orang yang mendekat kepada Dia dengan ikhlas dan sesuai tuntunan.

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Biasakanlah Lisan Anda Untuk Mengingat Allah…

JANGAN BIASAKAN LISAN ANDA UNTUK DIAM, TAPI BIASAKANLAH UNTUK SELALU BERDZIKIR, BERISTIGHFAR, BERTASBIH, dst… karena ketika dia sudah terbiasa berdzikir, dia takkan diam selamanya.

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Sungguh benar-benar akan ada seorang hamba yang datang pada hari kiamat… dengan amal-amal keburukan yang besarnya seperti gunung-gunung, lalu dia dapati lisannya telah meluluh-lantakkannya DENGAN BANYAKNYA DZIKIR KEPADA ALLAH.”
[Kitab: Adda’ wad Dawa’ 375].

Semoga Allah menjadikan kita; seorang hamba yang lisannya selalu basah dengan bacaan-bacaan dzikir untuk-NYA… amin.

Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da201015-2100

Selalu Mengingat Allah = Kunci Berkahnya Waktu Anda…

Syeikh Al-Utsaimin -rohimahulloh-:

“Orang yang mendapat taufiq itu selalu dalam keadaan ‘sadar’, sedang orang yang hina itu selalu dalam keadaan lupa,

Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami LALAIKAN dari mengingat kami, dia menuruti keinginannya, dan keadaannya sudah melewati batas”.

Oleh karena itu, bila kamu melihat dirimu tidak beramal, dan hari-harimu berlalu begitu saja, maka curigailah dirimu, maka sungguh (kamu akan dapati) hatimu selalu lupa dari MENGINGAT Allah -azza wajall-, karena orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah, tentu Dia akan MEMBERKAHI waktu dan amalnya, serta semua waktunya akan HIDUP dengan sesuatu yang ada kebaikannya.”

Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Basahilah Selalu Lisan Anda Dengan Berdzikir Kepada Allah Azza Wajall…

Imam Auza’i -rohimahulloh-:

Tidaklah waktu demi waktu di dunia ini melainkan akan ditampakkan kepada seorang hamba pada hari kiamat… Hari demi hari, bahkan DETIK DEMI DETIK.

Dan tidaklah berlalu satu detik saja sedang dia tidak berdzikir mengingat Allah ta’ala, melainkan akan tercabik-cabik hatinya karena merasa rugi.

Lalu bagaimana dengan orang yang detik demi detik, hari demi hari, dan MALAM DEMI MALAM BERLALU SEDANG DIA TIDAK BERDZIKIR MENGINGAT RABBNYA ?!

[Kitab: Hilyatul Auliya’ 6/142]

Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da180815-0433

Amalkan Ilmu-mu, Agar Tidak Rugi Dunia Akhirat…

Ibnul Jauzi -rohimahulloh- mengatakan:

“Orang yang paling kasihan adalah orang yang umurnya habis dalam (menuntut) ilmu, tapi dia TIDAK MENGAMALKANNYA !

Dia tidak menikmati kelezatan-kelezatan dunia, begitu pula kebaikan-kebaikan akhirat.

Maka, dia datang dalam keadaan bangkrut, padahal hujjah atas dia begitu kuat”.

[Shaidul khaathir, hal 159]

Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Sadarlah Wahai Saudaraku…

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- berkata:

Mungkin saja engkau memakai jam tanganmu, lalu yang melepaskannya dari tanganmu itu pewarisnya…

Mungkin saja engkau menutup pintu mobilmu, lalu yang membukakannya untukmu petugas ambulan…

Mungkin saja engkau memasang kancing bajumu, lalu yang membukakannya untukmu pemandi mayat…

Mungkin saja engkau memejamkan mata saat berbaring di kamarmu, lalu mata itu tidak terbuka lagi melainkan di hadapan Allah Penakluk langit dan bumi pada hari kiamat…

Tidakkah kita melihat bagaimana kita menghidupkan waktu kita, dengan apa kita mengisinya, dan dengan apa hidup kita akan ditutup ?!

Ya Allah… sadarkanlah kami dari kelalaian ini!

Penterjemah: Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Janganlah Mudah Terheran-Heran…

Berkata KUFUR saja boleh… apalagi hanya memberikan tazkiyah (rekomendasi) kepada SATU tokoh yang tidak semanhaj.

=====

Dakwah tauhid dan sunnah sekarang ini, sudah sangat luas sebarannya di tanah air yang kita cintai Indonesia, walhamdulillah.. Konsekuensinya, angin yang menerpa akan semakin kencang, seiring dengan semakin tingginya kesuksesan dakwah ini.

Diantara ujian yang menimpa dakwah tauhid baru-baru ini, adanya ustadz yang harus mengalah dan meralat beberapa penilaiannya terhadap tokoh tertentu.

Kejadian ini memang telah membuat sebagian orang bingung, dan sebagian lagi bersorak karena lawan dakwahnya dianggap kalah.
Saudaraku seiman, janganlah kita mudah terheran-heran melihat suatu kejadian.. apalagi bila kejadian itu telah banyak terjadi di masa lalu [ingat kembali fitnah perkataan bahwa alquran ciptaan Allah di masa Imam Ahmad -rohimahulloh-].

Janganlah mudah terheran-heran.. “Ojo gumunan”.. apalagi bila hal tersebut telah Allah jelaskan dalam ayat-Nya [QS. An-Nahl:106].

Dalam kasus ini, kita harus bersikap husnuzhon kepada ustadz kita -hafizhahullah-, karena banyak celah bagi kita untuk bersikap demikian, diantaranya:

a. Mungkin beliau dipaksa untuk mengatakan “tanpa ada paksaan” di surat pernyataan tersebut… dan sebenarnya kata itulah yang menjadi kunci utama permasalahan ini, karena jika kata-kata itu tidak ada, atau diganti dengan kata “dengan sangat terpaksa”, tentu kita akan maklum.

b. Bisa saja yang dimaksud sebagai ahlussunnah di situ, adalah makna ahlussunnah secara umum, yakni kaum muslimin yang bukan dari golongan syiah.. dan ini juga sesuai fakta, karena tokoh tersebut jelas bukan dari golongan syiah.

c. Adapun bahwa tokoh tersebut merupakan ahli hadits yang diakui dunia internasional… maka ini sah-sah saja, dan itu bukan berarti ustadz kita mengakui bahwa tokoh itu ahli hadits, atau bahwa tokoh itu pemahamannya sebagaimana generasi salaf.

d. Jika pun apa yang ada dalam surat pernyataan itu dikatakan tulus oleh ustad kita -dan ini SANGAT KECIL SEKALI kemungkinannya-, maka itupun tidak berarti beliau tidak boleh rujuk dari pernyataan tersebut.. Sejak kapan keyakinan seseorang bisa diikat dengan kertas bermaterai ?

Keyakinan adalah amalan hati, tidak ada seorang pun yang mampu memaksakan keyakinan kepada orang tertentu.. Memaksa orang mengatakan sesuatu, itu sangat mungkin.. Tapi memaksa orang meyakini sesuatu, itu mustahil.. dan jika antara keyakinan hati dan perkataan lisan berbeda, maka yang didahulukan adalah apa yang ada di hati.

Sekian, semoga bisa dipahami dengan baik.. Ya Allah, jagalah dakwah tauhid ini di Indonesia dan teruslah Engkau mengembangkannya..

Ya Allah, selamatkan kami dari fitnah dan ujian dalam meniti jalan sunnah ini hingga ajal menjemput kami.. amin.

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى