Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Rahasia Mengapa Seringkali Orang Miskin Lebih Bahagia…

Yahya bin Mu’adz -rohimahulloh- mengatakan:

Orang-orang fakir itu menjadi lebih bahagia dari orang-orang kaya karena mereka dalam kekangan Allah, seandainya mereka dilepaskan dari kepungan kefakiran, tentunya kamu dapati sedikit dari mereka yang teguh dalam dzikirnya.

[Hilyatul Aulia 10/63].

———–

Karena kebahagiaan hati itu dengan berdzikir…
bukan dengan harta…
sayang, banyak pula orang miskin yang ingin mendapatkan kebahagiaan dengan cara orang kaya, yakni dengan harta…
padahal cara membahagiakan dirinya sangat dekat dengannya dan sangat mudah dilakukannya…
basahilah lisan dengan berdzikir, dan penuhilah hati dengan bersyukur.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da210215-1254

Sholawat…

Mari semarakkan malam Jum’at dan harinya dengan sholawat kepada Nabi tercinta, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Jangan LUPA sabda beliau : “Perbanyaklah ber-SHOLAWAT untukku, pada hari JUM’AT dan malam JUM’AT! Maka barangsiapa bersholawat kepadaku sekali, ALLAH bersholawat kepadanya SEPULUH kali.” [HR. Albaihaqi, dihasankan oleh Syeikh Albani]

Siapa yang tidak ingin ALLAH ta’ala bersholawat kepadanya 10 kali, setiap kali dia bersholawat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam?

Amal yang RINGAN dengan pahala yang AGUNG dan ISTIMEWA.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da050117-1948

Termasuk Tindakan Yang Bodoh…

“Maka termasuk tindakan yang bodoh, jika engkau datang ke kuburan orang yang sudah jadi tulang belulang, lalu engkau meminta kepadanya, padahal DIALAH YANG SEBENARNYA BUTUH KEPADA DO’AMU. Dan engkau tidaklah butuh untuk meminta kepadanya.

Karena dia sama sekali tidak kuasa memberikan SEDIKITPUN manfaat ataupun mudharat untuk dirinya sendiri, lalu bagaimana dia akan memberikan hal itu kepada yang lain ?!”

[Syeikh Utsaimin rohimahulloh, dalam Alqoulul Mufid 1/11]
Diterjemahkan oleh :
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tidak Boleh Menakut-Nakuti Saudara Seiman Walaupun Maksudnya Bercanda…

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Tidak boleh salah seorang dari kalian mengacungkan senjata kepada saudaranya, karena dia tidak tahu bisa jadi setan menghempaskannya dari tangannya, hingga dia jatuh ke dalam jurang Neraka” [Muttafaqun Alaih].

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan: “Begitu pula yang dilakukan oleh sebagian orang yang kurang akalnya, dia naik mobil dengan ngebut menuju ke orang yang sedang berdiri atau duduk atau tidur, dengan maksud mencandainya, lalu dia belokkan dengan cepat ketika sudah dekat dengannya agar tidak menabraknya.

Maka ini juga dilarang, dan ini seperti tindakan mengacungkan senjata, karena dia tidak tahu, bisa jadi setan mengambil kendali dari tangannya, sehingga dia tidak dapat mengendalikan mobilnya, dan ketika itulah dia jatuh ke dalam jurang Neraka.

Dan diantara contohnya lagi, bila seseorang mempunyai anjing, dan ada orang lain yang berkunjung kepadanya atau tujuan yang semisalnya, lalu dia memerintahkan anjingnya (mendekat) kepada orang tersebut, karena bisa jadi anjing itu lari dan memakan orang tersebut atau melukainya, dan si pemiliknya tidak mampu menyelamatkannya setelahnya.

Intinya, manusia dilarang melakukan semua sebab/jalan kebinasaan, baik dilakukan secara sungguhan ataupun gurauan“. 

[Kitab: Syarah Riyadhus Sholihin 6/556].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da131115-2031

Mending TIDAK TAHU Hukumnya…..

Mending TIDAK TAHU hukumnya, sehingga ketika kita melakukannya; kita tidak berdosa…

========

Sekilas tampak logis, tapi sebenarnya:

1. Ketidak-tahuan yang DISENGAJA adalah perbuatan dosa, karena dia telah meninggalkan sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: “Menuntut ilmu (agama) adalah kewajiban bagi setiap muslim” [HR. Ibnu Majah: 224, dishohihkan oleh Syeikh Albani]… Oleh karenanya, kita wajib mengilmui dahulu apapun yang kita lakukan.

2. Ketidak-tahuan dalam hal agama akan mendatangkan banyak kerugian… Sebagaimana dalam masalah duniawi, kita akan sulit maju kecuali dengan ilmu dunia, begitu pula dalam masalah akherat, kita akan sulit menjadi mulia kecuali dengan ilmu agama.

3. Ketidak-tahuan adalah sesuatu yang berusaha kita hindari dalam hal dunia, bagaimana ia menjadi sesuatu yang kita cari dalam hal akherat ?!

————

Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, menjadikan kita bermanfaat dengan ilmu tersebut, dan memberikan kita keikhlasan dalam amal dan perbuatan, amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da141015-2042

 

Penyakit Kronis Zaman Now !!

Katanya “tidak tahu“, tapi menghukumi sesuatu .. yang tentangnya ia “tidak tahu”.

Sehingga jatuhlah dia dalam keadaan .. yang ditakutkan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam “sesat dan menyesatkan“.

Sungguh kasihan umat Islam Indonesia .. yang “dizalimi” oleh orang-orang yang seperti dia.

Tapi ingatlah, bahwa ada sunnatullah yang pasti berjalan .. “siapapun yang merendahkan Agama Allah pasti ia akan Allah rendahkan“.

Kecuali apabila dia bertaubat .. oleh karenanya, silahkan bertaubat … sebelum terlambat … Atau anda akan rasakan sendiri keburukan suatu akibat.

Silahkan menunggu akibatnya .. kita akan tunggu bersama.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Dunia Yang Untuk Anda… Bukan Anda Yang Untuk Dunia !

“Sungguh mengherankan; jika manusia mengejar dunia yang diciptakan untuknya, hingga seakan-akan dia yang diciptakan untuknya –wal iyaadzu billah-, dia melayani dunia dengan pelayanan yang luar biasa, dia memforsir badannya dan pikirannya, (mengorbankan) kesantaiannya dan waktu bersama keluarganya (untuk dunia)… Lalu apa (hasilnya)?

Bisa jadi dia kehilangan dunia itu dalam sekejab!.. Bisa jadi dia keluar dari rumahnya lalu tidak kembali lagi.. tidur di atas ranjangnya, lalu tidak bangun lagi.. dan ini nyata adanya.

Dan mengherankannya lagi, fenomena-fenomena ini kita saksikan, tapi hati-hati ini keras… Kita menyaksikan seorang yang akad nikah dengan seorang perempuan, lalu meninggal sebelum dia menggaulinya, padahal dia sangat berhasrat dan telah lama menginginkannya, namun kematian menghalanginya… Kita melihat banyak orang yang surat-surat undangan pernikahannya sudah bersama mereka, lalu mereka meninggal padahal si pengantin wanita masih di mobil mereka.

Jadi, apa gunanya dunia jika sampai seperti ini dalam menipu ?

Oleh karena itu, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam -yang sangat penyayang, sangat penyantun, dan sangat simpati terhadap kaum mukminin- telah mengabarkan; bahwa beliau khawatir terhadap kita, bila dunia ini dibuka untuk kita, sehingga kita saling berlomba untuk mendapatkannya, dan inilah yang terjadi.

Maka waspadalah saudaraku, jangan sampai kehidupan dunia ini menipumu, dan jangan sampai pula (setan) penipu mengelabuimu.

Anda, bila Allah meluaskan rizkimu dan kamu bersyukur, maka itulah yang baik bagimu, sebaliknya bila Dia menyempitkan rizkimu dan kamu bersabar, maka itulah yang baik bagimu.

Adapun menjadikan dunia sebagai target utamamu dan tujuan akhir ilmumu, maka ini adalah kerugian di dunia dan di akherat.

Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari berbagai cobaan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

[Oleh: Syeikh Utsaimin, Kitab: Syarah Riyadhus Sholihin 6/687].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da191015-1950

3 Kunci Keselamatan…

Sahabat Uqbah bin Aamir -rodhiallohu ‘anhu- pernah bertanya: “Apakah (kunci) keselamatan itu ?”

Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- mengatakan: “Kendalikanlah lisanmu, jadikanlah rumahmu lapang untukmu, dan menangislah karena dosamu.”

[HR. Ahmad dan Attirmidzi, dihasankan oleh Attirmidzi dan Syeikh Albani].

——–

Dalam hadits ini Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menyebutkan bahwa keselamatan itu bisa diraih dengan 3 hal:

1. Menjaga lisan dari perkataan yang mendatangkan dosa, maupun bahaya dari orang lain. Hendaklah seseorang tidak mengatakan kecuali kebaikan, sebagaimana dalam hadits lain.

2. Sebisa mungkin untuk selalu di rumah, kecuali bila ada kebutuhan untuk keluar rumah… Karena dengan begitu seseorang akan semakin memperhatikan keluarganya, dan dapat mengurangi kemungkinan berbuat salah kepada orang lain.

3. Menyesali dosa-dosa yang telah dia perbuat, dia menangis dan bersimpuh di hadapan Allah meminta ampun kepadaNya, sehingga dengannya dia terhindar dari murka Allah dan selamat di dunia dan akheratnya, wallohu a’lam.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da010215-1253

Mari Merenungi Hakekat Hidup Ini…

Setiap hari sebenarnya semua orang selalu mendapatkan musibah, namun seringkali dia tidak menyadarinya, apalagi mengambil pelajaran darinya.

Musibah pertama:

Umur yang terus berkurang.

Ironisnya pada hari ketika umurnya berkurang, dia tidak sedih karenanya, tapi apabila uangnya berkurang, dia bersedih.. padahal uang bisa dicari lagi, sedangkan umur tidak mungkin dicari gantinya.

Musibah kedua:

Setiap hari dia memakan dari rezeki Allah.

Bila rezeki itu haram; dia akan disiksa karenanya.. dan bila rezeki itu halal; dia tetap akan dihisab untuk mempertanggung jawabkannya, dan dia tidak tahu apakah dia akan selamat dalam hisab itu atau tidak.

Musibah ketiga:

Setiap hari, dia semakin mendekat kepada akherat, dan semakin menjauh dari dunia.

Meskipun begitu, dia tidak memperhatikan akheratnya yang kekal sebagaimana dia memperhatikan dunianya yang fana… padahal dia tidak tahu, pada akhirnya nanti dia akan ke surga ataukah ke neraka.

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia, sebagai tujuan terbesar hidup kami dan tujuan akhir ilmu kami..

Ya Allah.. Hindarkanlah kami dari nerakaMu, dan jadikanlah rumah abadi kami adalah surgaMu, amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da070415-2116

Tentang Sholat Di-Jamak Tanpa Qoshor Atau Sebaliknya…

Pertanyaan:

Boleh tidak akh, sholat dijamak (*) tanpa qoshor (*) atau sebaliknya qoshor tanpa jamak, atau dijamak dan di qoshor ?

Jawaban:

Antara jamak dan qoshor bisa berkumpul dan bisa berpisah tergantung keadaan orangnya.

1. Bila dia mukim biasa, maka dia tidak boleh qoshor tidak boleh jamak.

2. Bila dia mukim, tapi ada kegiatan yang sangat mendesak, sehingga perlu menjamak shalat, seperti dia menjalani operasi yang cukup lama.. maka dia boleh menjamak, tidak boleh meng-qoshor.

3. Bila dia musafir, dan masih dalam perjalanan.. afdhalnya meng-qoshor dan menjamak.

4. Bila dia musafir tapi sudah menetap untuk sementara waktu saat safarnya.. maka afdhalnya dia meng-qoshor tanpa menjamak.. dengan catatan tidak ada adzan di masjid dengan dia menetap.. karena kalau ada masjid, dan ada adzan, dia wajib mendatangi panggilan adzan tersebut selama mampu dan harus mengikuti imamnya.

Wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

NB (admin):
(*) Jamak: Menggabungkan 2 sholat Fardhu di satu waktu, seperti:
● Menggabungkan Sholat fardhu Zhuhur dengan ‘Ashar (masing-masing 4 roka’at) di waktu Zhuhur (Jamak Taqdiim) atau di gabungkan “berurutan” di waktu ‘Ashar (Jamak Takhir).
● Menggabungkan Sholat fardhu Maghrib (3 roka’at) dan ‘Isya (4 roka’at) di waktu Maghrib (Jamak Taqdiim) atau di digabungkan “berurutan” di waktu ‘Isya (Jamak Takhir).
● Sedangkan untuk Sholat fardhu Shubuh, maka TIDAK ADA dan TIDAK BOLEH di Jamak.

(*) Qoshor: Mengurangi jumlah bilangan roka’at, seperti:
● Sholat fardhu Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya dari 4 roka’at menjadi 2 roka’at.

● Sedangkan untuk Sholat Shubuh yang 2 roka’at dan Maghrib yang 3 roka’at, maka TIDAK ADA dan TIDAK BOLEH di qoshor.