Category Archives: Musyaffa Ad Dariny

Suara Bacaan Al Qur’an Anda Merdu.. Ingatlah Wasiat Berikut Ini..

Imam Abu Bakar al-Ajurri -rahimahullah- mengatakan:

“Bagi orang yang diberikan kemerduan suara dalam (membaca) Al Qur’an, ketahuilah bahwa Allah telah mengistimewakannya dengan kebaikan yang agung.

Maka, harusnya dia sadar akan besarnya keistimewaan yang Allah berikan kepadanya, dan harusnya dia membaca (Al Qur’an) karena Allah, bukan karena makhluk-makhluk-Nya.

Harusnya dia waspada akan:

keinginan untuk didengarkan oleh orang-orang, karena ingin mendapatkan dunia. 

keinginan untuk mendapatkan pujian dan kedudukan di hati pemilik dunia.

(keinginan) untuk memiliki hubungan baik dengan orang-orang yang berkedudukan, meninggalkan hubungan baik dengan orang-orang awam.

Maka orang yang punya keinginan terhadap sesuatu yang kularang ini, aku khawatir kemerduan suaranya akan menjadi fitnah (musibah) baginya.

Merdunya suara dia itu hanya akan memberikan manfaat bagi dia, jika:

dia takut kepada Allah -azza wajalla- saat sendiri maupun saat bersama.

niatnya agar Al Qur’an didengar darinya, sehingga orang-orang yang lalai menjadi sadar, hingga mereka mencintai apa yang diinginkan Allah -azza wajalla- untuk dicintai, dan berhenti dari apapun yang Allah larang.

Maka, siapa yang sifatnya demikian, dia akan mendapatkan manfaat dari kemeduan suaranya, dan manusia pun akan mendapatkan manfaat darinya”.

[Kitab: Akhlaqu Ahlil Qur’an, hal: 161].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Meminta Kepada Malaikat Agar Dibangunkan Dari Tidur Di Akhir Malam, Bolehkah..?

SOAL:

Telah masyhur di kalangan sebagian orang awam, bahwa sebagian dari mereka mengatakan sebelum tidurnya; ‘wahai malaikat penjaga, bangunkan aku pada jam sekian, atau saat waktu ini’.

Syeikh Binbaz -rohimahulloh- menjawab:
“Ini tidak boleh, bahkan termasuk SYIRIK AKBAR, karena itu do’a (permintaan) kepada selain Allah dan do’a kepada sesuatu yang gaib, maka itu seperti meminta kepada Jin, berhala-berhala, dan orang-orang mati.

Ini berdasarkan keumuman firman Allah ta’ala (yang artinya):
‘Sungguh masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kalian berdoa (meminta) kepada siapapun bersama Allah’. [Al-Jin 18].

Begitu pula, (berdasarkan keumuman) firman Allah -subhanah- (yang artinya):
‘Itulah Allah Rabb kalian, hanya miliknya semua kekuasaan. Adapun orang-orang yang kalian mintai selain Allah, sama sekali mereka tidak memiliki meski hanya qithmir (selaput tipis pada biji kurma).
Jika kalian memanggil mereka, mereka tidak bisa mendengar kalian. Jika seandainya mereka mendengar kalian, mereka tidak akan bisa menyanggupi (permintaan) kalian. Dan pada hari kiamat nanti mereka akan mengingkari perbuatan SYIRIK kalian itu’. [Fathir: 13-14].

[Lihat Majmu’ Fatawa Syeikh Binbaz 7/180].

——

Faedah: bila meminta kepada malaikat dan jin saja tidak dibolehkan, apalagi meminta kepada mayit!

Tidak ada yang menyangkal, bahwa malaikat dan jin itu hidup dan bisa berbuat sesuatu untuk manusia.. Tapi karena mereka itu gaib, maka meminta kepada mereka termasuk kesyirikan.

Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa alasan sebagian orang yang membolehkan meminta kepada sebagian mayit dengan alasan dia HIDUP karena dia wali misalnya; ini adalah alasan yang sangat lemah dan sangat mudah dipatahkan.

Karena meminta kepada malaikat adalah kesyirikan padahal mereka jelas-jelas hidup.. meminta kepada jin juga kesyirikan, padahal mereka juga jelas-jelas hidup.. meminta kepada Nabi Isa -alaihissalam- juga kesyirikan, padahal beliau juga jelas-jelas masih hidup.

Walhasil, meminta kepada mereka termasuk perbuatan syirik, walaupun mereka dikatakan hidup, karena mereka gaib dari kita, dan meminta kepada sesuatu yang gaib, hanya dibolehkan kepada Allah ta’ala saja.

Wallahu a’lam.

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى 

Pelajaran Dari Kehidupan…

Ketika sukses, teman-teman akan tahu siapakah Anda. Tapi, ketika gagal, Anda akan tahu siapakah teman-teman yang sebenarnya.

Ketahuilah hakekat ini, agar Anda tidak kaget dan kecewa.. agar Anda siap menghadapinya dan memakluminya.

Jangan terlena dengan kesuksesan, sebaliknya jangan putus asa dengan kegagalan, karena kita adalah umat pertengahan.. maka hadapilah semuanya dengan proporsional dan sewajarnya.

Hal ini telah lama disiratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:
“Cintailah orang yang kau cintai dengan sewajarnya, karena bisa jadi suatu hari dia akan menjadi orang yang kau benci.
Dan bencilah orang yang kau benci dengan sewajarnya, karena bisa jadi suatu hari dia akan menjadi orang kau cintai.” [HR. Attirmidzi:1997, disahihkan oleh Syeikh Albani]

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى 

Musuhmu, Tidak Peduli Kamu Benar Atau Salah…

Yang dia inginkan hanyalah menyerangmu.

Jadi jangan berusaha menjelaskan kepadanya bahwa kamu tidak bersalah.. atau dia tidak benar.. karena sebenarnya mereka sudah tahu, atau tidak mau tahu.

Tapi lakukan usaha untuk menahan serangannya atau melawannya.

Dalam negara hukum, harusnya aparat bisa kita minta bantuannya untuk melindungi kita.

Dan tentunya usaha lahir ini, harus kita barengi dengan usaha batin, yaitu dengan banyak berdo’a kepada Allah.

Setelah ini semua, kita harus yakin, apapun yang terjadi, semua atas kehendak ALLAH yang mengatur alam ini.. Dia bisa saja berkehendak menjadikan ya g haq kalah untuk sementara waktu, yang bisa jadi lama menurut kita.

Dan bisa saja DIA berkehendak membalik keadaan dalam sekejap, menghapuskan semua kemenangan yang diraih oleh mayoritas masyarakat yang menang-menangan, dan menjadikan yang tadinya lemah sebagai pemenang.

Maka jangan kaget, hari-hari itu akan silih berganti, itu sunnatullah yang tidak mungkin berubah.. karenanya kita berharap nantinya dakwah sunnah yang haq ini me-nusantara, biidznillah..

Tidak ada yang sulit bagi Allah yang maha berkuasa atas segala sesuatu.

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى 

Coba Perhatikan Keadaan Rumah Anda…

Rumah yang dihidupkan dengan ibadah, maka ia akan menjadi terasa nyaman dan hati penghuninya akan tenang, tentram, dan bahagia.

Sedang rumah yang dipenuhi dengan maksiah, maka ia akan menjadi tidak nyaman dan hati penghuninya juga tidak tenang dan gersang.

Syeikh Binbaz -rahimahullah- mengatakan:

“Suatu keluarga, semakin banyak mereka membaca Qur’an, atau mempelajari hadits, atau membaca dzikir, bertasbih dan bertahlil; maka mereka akan semakin selamat dari setan dan semakin jauh darinya.

Sebaliknya, semakin mereka dipenuhi dengan kelalaian dan dan hal-hal yang menyebabkan mereka lalai, seperti: nyanyian bermusik, dan membincangkan gosip; maka mereka akan semakin dekat dengan setan yang menyemangati mereka melakukan kebatilan”.

[Fawaid Ilmiyah min Durus Baziyyah 1/142]

—–

Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya yang paling penting bukanlah bentuk fisik rumah.. tapi bagaimana kita membangun sisi rohaninya, agar sebuah rumah hidup dengan ibadah-ibadah yang dicintai oleh Allah ta’ala, sehingga rahmat Allah memenuhi rumah tersebut.

Rumah yang megah, setiap orang kaya bisa membuatnya.. tapi itu tidak menjamin kenyamanan penghuninya.

Oleh karena itu, seringkali kita mendapati rumah megah, tapi hati kita tidak nyaman saat memasukinya.. sebaliknya seringkali kita dapati rumah yang sangat sederhana, tapi hati kita sangat nyaman dan bahagia tinggal di dalamnya.

Inilah kemurahan Allah ta’ala.. bahwa kenyamanan suatu rumah bisa didapatkan oleh siapapun.. baik yang kaya maupun yang miskin.. kuncinya satu, hidupkan rumah itu dengan ibadah yang dituntunkan oleh-Nya.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat.

Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Mana Toleransi dan Bhinneka Tunggal Ika Yang Mereka Dengung-Dengungkan.. ?

Katanya mereka sangat toleran.. Tapi, ternyata banyak kajian yang diusik dan digagalkan.. padahal pihak panitia tidak mewajibkan untuk hadir, mau datang yo monggo, mau ndak datang yo ndak masalah.. mau percaya isinya yo monggo, mau ndak percaya yo ndak masalah.

Katanya mereka sangat rahmatan lil alamin.. Tapi, ternyata banyak pembangunan masjid yang mereka tentang keras-keras.. padahal tidak ada yang memaksa mereka untuk shalat di sana nantinya.. dan jika mereka shalat di sana juga ga ada yang melarang.

Katanya mereka Bhinneka Tunggal Ika, meski beda tapi tetap bersatu juga.. Tapi, ternyata mereka sering menyesatkan kaum muslimin yangg berbeda amaliyahnya dengan mereka.

Jika ada yang tidak tahlilan, atau tidak yasinan, atau tidak manaqiban, langsung dicap sesat atau wahabi atau cap-cap buruk lainnya.. Padahal kaum muslimin yang mereka cap buruk membiarkan mereka melakukan amaliyah-amaliyah mereka tanpa gangguan sedikit pun.

Dari lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya ingiiin bertanya dan mendapat jawaban:

“Mengapa mereka bisa toleran kepada orang kafir.. tapi tidak mau toleran dengan saudara seiman ?

Bukankah saudara seiman lebih pantas ditoleransi ?

Jika kaum muslimin yang berbeda amaliyahnya itu mereka anggap salah.. bukanlah sebaiknya dinasehati dengan baik tanpa paksaan sedikitpun? Sebagaimana hal itu dilakukan saat menasehati saudaranya yang berzina, atau mabuk, atau maksiat-maksiat lainnya.. bahkan terhadap orang yang murtad sekalipun?”

Wahai kaum muslimin.. berlapang-dadalah dan toleranlah kepada saudaramu seiman.. sebagaimana engkau bisa demikian kepada tetanggamu yang kafir.

Sikap ekstrimmu kepada saudara-saudaramu seiman, hanya akan membuat tertawa musuh-musuhmu di luar sana.

Sangatlah tidak pantas engkau membuat tertawa musuh-musuhmu di luar.. dengan membuat sengsara saudara-saudaramu di dalam.

Ini semua jika engkau masih menganggap mereka saudaramu seiman.. bila engkau menganggap mereka sudah kafir, maka perkaranya lain lagi.. dan itu akan mengalihkan kita ke soal lain: “sejak kapan engkau terjangkiti benih takfiri ?”.

Silahkan dishare.. Semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny MA,,  حفظه الله تعالى

Bolehkah Qodho Ramadhan Di Tanggal 9 Dzulhijjah Sambil Mengharapkan Pahala Puasa Arofah ..?

Pertanyaan :

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh, Ustadz, bolehkah membayar qodho Romadhon di tanggal 9 Dzulhijjah dan di saat yang sama BERHARAP Mendapatkan keutamaan puasa Arofah (ampunan dosa setahun lalu + setahun akan datang) ? Syukron Ustadz

Jawaban :

Waalaikumussalam warohmatulloh wabarokatuh.

Boleh, wallahu a’lam.
Qadha di hari-hari ini ( 9 hari awal Zhulhijjah -adm ) juga bagus.. karena amal-amal baik di hari ini paling dicintai oleh Allah daripada amal-amal di hari lain.

Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Faidah: Seorang Mu’adzin Juga Disunnahkan Membaca Do’a Setelah Adzan…

Ada seorang ustadz mengatakan, bahwa seorang muadzin tidak dibenarkan membaca do’a setelah adzan, karena sasaran hadits tentang doa itu adalah orang yang mendengarkan adzan, bukan orang yang mengumandangkan adzan.

Kita katakan, pendapat ini jauh dari kebenaran, karena seorang muadzin juga masuk dalam keumuman hadits tentang anjuran doa setelah adzan tersebut, karena dia juga termasuk orang yang mendengarkan adzan, meski yg dia dengar adalah adzannya sendiri.

Hal ini telah ditegaskan oleh para ulama dalam 4 madzhab sejak dahulu.. dan banyak juga ulama kontemporer yang menegaskan hal ini.

Syeikh Muhammad Al-Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Pendapat yang jelas (kuat), bahwa seorang muadzin juga berdoa (setelah adzan), karena doa ini tidak ada yang serupa dengannya dalam adzan.

Hanya saja dia tidak menjawab (adzan) dirinya sendiri sebagaimana hal itu dikatakan oleh sebagian ulama. Sebagian ulama mengatakan bahwa seorang muadzin juga (dianjurkan) menjawab adzannya sendiri, sehingga jika dia mengatakan: Allahu Akbar dengan suara keras; ia mengatakan dg suara lirih (setelahnya) Allahu Akbar…

Dengan keterangan ini, berarti semua lafal adzan itu terulang-ulang, yang pertama dengan adzannya, yang kedua dengan jawaban dia sendiri. Namun pendapat ini lemah, karena Rasul -shallallahu alaihi wasallam- mengatakan: “jika kalian mendengar muadzin, maka katakanlah …”, beliau di sini membedakan antara pendengar dengan muadzin.

Adapun dzikir (doa setelah adzan), maka karena muadzin tidak mengatakannya saat adzan, maka hendaknya dia mengatakannya setelah adzan sebagaimana orang lain.

Maka yang benar, bahwa doa setelah adzan itu mencakup muadzin dan pendengarnya”. (yakni disunnahkan bagi keduanya untuk berdoa setelah adzan, karena keumuman hadits itu mencakup keduanya).

sumber: http://islamancient.com/play.php?catsmktba=21686

Lihat juga: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-56940.html

Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Jangan Sampai…

Jangan sampai engkau jadikan hubunganmu dengan Allah seperti hubunganmu dengan mobil Ambulance, engkau hanya menghubunginya saat darurat saja.

Akan tetapi,

Jadikanlah hatimu selalu bergantung kepada Allah, baik saat darurat maupun saat lapang.. Ingatlah selalu kepada-Nya, baik saat sedih maupun saat bahagia.

Sungguh, ingat kepada Allah dan dekat dengan-Nya adalah sumber kebahagian.. sebagaimana dekat dengan orang-orang yang engkau cintai mendatangkan kebahagiaan.

Jika dengan mendekat kepada Allah belum menjadikan engkau bahagia, berarti engkau sebenarnya belum mencintai Allah.. Cintailah Allah sepenuh hati, niscaya akan datang kebahagiaan hakiki yang tiada tara.

Dan buktikan cinta itu dengan MENTA’ATI semua yang datang dari utusan-Nya Muhammad shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana firman-Nya (yang artinya):

“Katakanlah: jika kalian MENCINTAI Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian”. [Alu Imran: 31].

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Masalah Hidup…

Orang yang hidup di dunia, pasti akan menghadapi banyak masalah, Allah telah menegaskan hal ini dalam Alqur’an:

“Dialah Allah yang menciptakan kehidupan dan kematian, untuk menguji kalian, siapakah diantara kalian yang paling baik amalannya”. [Al-Mulk: 2].

Jangankan kita, para Nabi saja -alaihimussalam- menghadapi banyak masalah hidup, bahkan Nabi -shallallahu alaihi wasallam- telah bersabda:

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang yang paling baik (setelah mereka), kemudian orang yang paling baik (setelah mereka). Orang akan diuji sesuai dg tingkatan agamanya”. [HR. Attirmidzi 2398, dishahihkan oleh Sy. Albani dalam Silsilah Shahihah: 143].

Kita tidak mungkin lari dari masalah, bahkan ketika kita ingin lari dari masalah dengan mengakhiri hidup (baca: bunuh diri); justru kita sebenarnya malah menjerumuskan diri ke masalah yang jauh lebih besar!

Sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

“Siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung hingga dia membunuh dirinya, maka dia nanti di neraka jahannam menjatuhkan dirinya (dari gunung) secara terus menerus dan selama-lamanya.

Siapa yang menelan racun hingga membunuh dirinya, maka nanti di neraka racun itu akan berada di tangannya, dia menelannya, secara terus menerus dan selama-lamanya.

Siapa yang bunuh diri dengan senjata tajam, maka nanti di neraka senjata tajam itu akan di tangannya, dia menusukkannya ke perutnya, secara terus menerus dan selama-lamanya”. [HR. Bukhari: 5442 dan Muslim: 109].

Jika masalah tidak mungkin lagi dihindari, maka menghadapinya adalah sebuah keniscayaan.

Dalam menghadapinya kita harus tahu, bahwa masalah hidup, tidak keluar dari dua keadaan:
a- masalah yang solusinya ada di tangan kita.
b- masalah yang solusinya ada di tangan Allah.

Jika solusinya ada di tangan kita, maka berusahalah untuk menyelesaikannya semampu mungkin.

Jika solusinya ada di tangan Allah, maka mintalah solusinya dari Allah.

Jika kita telah tahu hakekat ini, maka tidak perlu ada rasa gundah dan sedih yang berkelanjutan karena masalah kita yang tak kunjung clear.

Jika memang solusinya hanya di tangan Allah, harusnya kita sabar dan selalu meminta kepada Allah agar Dia selesaikan masalah tersebut.

Kita juga harusnya menyerahkan masalah itu kepada Allah, dan tidak perlu banyak memikirkannya, karena dengan kita pikir pun, masalah tidak akan selesai, karena solusinya hanya ada di tangan Allah.

Intinya, hadapi dengan sabar, banyak berdoa, menyerahkannya kepada Allah, husnuzhon kepada-Nya, dan mengharap pahala dari Allah dari ujian tersebut.

InsyaAllah, dengan demikian, kita akan dapat mewujudkan keajaiban diri seorang mukmin, “jika mendapatkan kemudahan, bisa bersyukur, dan jika menemui kesulitan, bisa bersabar”, dan dua-duanya akan mendatangkan kebaikan bagi kita.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى