Category Archives: Musyaffa Ad Dariny

Nasehat Berharga Dari Sufyan Ats Tsauri Rohimahulloh…

Salah seorang saudara Sufyan Ats-Tsauri -rohimahullah- pernah menulis surat kepadanya, dia menulis: “Berilah aku nasehat tapi singkat saja“.

Maka Sufyan pun menjawab suratnya dan berpesan:

Semoga Allah menyelamatkan kami dan kamu dari semua keburukan.

Ya akhi, sungguh dunia ini, kegalauannya tidak akan hilang, kebahagiaannya tidak akan selamanya, dan memikirkannya tidak akan ada habisnya.

Oleh karena itu, beramallah untuk dirimu, agar kamu selamat, dan jangan menunda-nunda lalu (tiba-tiba) kamu terhenti (mati). Wassalam“.

[Hilyatul Aulia, Abu Nu’aim, 5/7]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da281214-1918

Kunci Sukses…

Kunci sukses: “Ciptakan rutinitas sederhana, lalu pertahankan“.

=====

Keberhasilan itu bukan dari kuantitas usaha kita.. tapi dari kedisiplinan kita dalam merutinkan usaha.

Keberhasilan itu bukan dari besarnya usaha, atau tingginya cita-cita.. tapi dari kemampuan kita untuk menciptakan rutinitas sederhana yang bisa dilakukan sepanjang umur.

Tentunya, ini semua setelah taufiq dari Allah.

Maka, dari sekarang, putuskanlah untuk menciptakan rutinitas sederhana yang bisa mengantarkanmu kepada kesuksesan.. jangan terbebani oleh terciptanya kesuksesan itu sendiri.

Jangan sibukkan pikiranmu dengan menghapal Al Qur’an dari awal sampai akhir.. Tapi, sibukkan saja dirimu dengan menghapal setengah halaman setiap hari.

Jangan sibukkan diri memikirkan bagaimana mendapatkan bentuk badan yang atletis.. Tapi, khususkan saja waktu seperempat jam tiap hari untuk olahraga.

Jangan sibukkan dirimu dengan target mahir dalam disiplin ilmu tertentu.. Tapi, khususkan saja sedikit waktu tiap hari untuk membaca beberapa halaman tentang disiplin ilmu tersebut.

Jangan sibuk memikirkan diet yang ideal, atau target turun 30 kilo dalam dua bulan.. Tapi, buat saja kebiasaan makan sehat yang mudah dijalani sepanjang hidup.

Ingatlah, bahwa umur itu akan berjalan dengan sangat cepat.. oleh karenanya, ketika kita sudah menjalankan sebuah rutinitas dengan baik meski sederhana, maka setelah berjalan setahun atau dua tahun, kita akan mampu meraih apa yang menjadi target kita, atau bahkan melebihi target kita.. dan mungkin saja kita akan kagum sendiri dengan capaian itu.

Saya misalkan Anda memutuskan untuk mengkhususkan waktu:
1. 30 menit untuk menghapal Al Qur’an.
2. 15 menit untuk olahraga.
3. 15 menit untuk membaca kitab atau buku tentang disiplin ilmu yang anda inginkan.

Tentu setelah berjalan beberapa tahun yang tidak lama (bisa saja terasa seperti kedipan mata), Anda akan kaget sendiri, ternyata Anda sudah hapal Al Qur’an, sudah memiliki badan yang atletis, dan telah selesai membaca puluhan kitab atau buku.. padahal itu hanya dengan menyisihkan waktu 1 satu jam saja.. tentu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan waktu 23 jam yang banyak tersia-siakan setiap harinya.

Intinya sangat sederhana, untuk meraih sukses: “ciptakan rutinitas sederhana“.. itu akan berakhir dengan menumpuknya banyak hasil, dan terwujudnya apa yang kita cita-citakan, atau bahkan lebih dari itu.

Oleh karena itulah, sejak dahulu Nabi -shallallahu alaihi wasallam- telah menyabdakan: “Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling dirutinkan, meski hanya sedikit“. [HR. Bukhari: 6464, Muslim: 783].

[Dari pesan berbahasa arab dengan beberapa penyesuaian]

Silahkan dishare… semoga bermanfaat..

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Kita Itu Lemah, Allah Yang Menguatkan Kita…

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh-:

Seseorang selama ruhnya masih di raganya, dia bisa saja ter-‘fitnah‘, oleh karena itu aku berpesan kepada diriku sendiri dan kalian semua, agar kita selalu meminta kepada Allah KETEGUHAN di atas iman.

Dan hendaknya kalian takut, karena ada banyak tempat licin di bawah kaki kalian, bila Allah -azza wajall- tidak meneguhkan kalian, maka kalian akan terjatuh dalam kebinasaan.

Dengarkanlah firman Allah kepada RosulNya -shollallohu ‘alaihi wasallam- yang merupakan orang paling kuat keteguhannya dan paling kuat imannya:

“Kalau Kami tidak meneguhkanmu, niscaya kamu hampir saja condong sedikit kepada mereka”.

Jika ini berlaku pada diri Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam-, lalu bagaimana dengan kita yang lemah iman dan keyakinannya, serta sering dihinggapi syubuhat dan syahawat ?!

Sungguh kita berada dalam bahaya besar, oleh karenanya kita harus memohon kepada Allah ta’ala KETEGUHAN di atas kebenaran, dan agar Dia tidak menjadikan hati kita condong pada kesesatan.

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

[Diringkas dar Syarhul Mumti’ 5/388]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da031014-1815

Jangan GANTUNGKAN Kebenaran Kepada Orang.. Tapi Gantungkanlah Kebenaran Kepada KITAB Dan SUNNAH…

Suatu saat Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- dipuji oleh muridnya dengan syair yang isinya:

Wahai umatku, sungguh (kelamnya) malam ini akan disusul oleh fajar yang sinarnya menyebar di muka bumi. Kebaikan akan datang dan kemenangan tinggal menunggu.

Kebenaran akan menang bagaimanapun keburukan itu diusahakan… selama di tengah-tengah kita ada Ibnu Sholih (Al-Utsaimin) yang menjadi syeikh kebangkitan kita…

Mendengarnya Syeikh langsung menghentikannya dan mengatakan:

Aku tidak setuju dengan bait ini, aku tidak setuju MENGGANTUNGKAN kebenaran kepada orang perorang, karena setiap orang akan mati, maka jika kita gantungkan kebenaran kepada orang-perorang, artinya jika orang itu mati; manusia akan menjadi putus asa (dari kebenaran) karena kematiannya.

Oleh karena itu, jika kamu sekarang bisa mengubah bait itu, (gantilah dengan redaksi): “selama di tengah-tengah kita ada KITABULLAH dan SUNNAH Rasul-Nya…”

Aku nasehatkan kepada kalian untuk saat ini dan seterusnya, janganlah kalian menggantungkan kebenaran kepada orang perorang, karena:

PERTAMA: Orang itu bisa tersesat, sampai-sampai Ibnu Mas’ud mengatakan: ‘Barangsiapa ingin mengikuti seseorang, maka ikutilah orang yang sudah meninggal, karena orang yang masih hidup itu tidak aman dari fitnah (kesalahan).’

Jika kebenaran digantungkan kepada orang perorang, ada kemungkinan orang tersebut terlena dengan dirinya sendiri sehingga dia meniti jalan yang salah -na’udzu billah min dzalik-… Aku memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan kami dan kalian (di atas kebenaran)…

KEDUA: Orang itu akan mati, tidak ada seorang pun yang kekal, (sebagaimana firman Allah): “Kami tidak jadikan manusia sebelummu hidup kekal, apakah jika kamu mati mereka akan akan kekal?!”. [Al-Anbiya’: 34].

KETIGA: Sesungguhnya anak cucu Adam adalah manusia, mungkin saja dia akan terlena bila melihat orang-orang mengagungkannya, memuliakannya, dan mengerumuninya. Mungkin saja dia terlena lalu mengira dan mengaku dirinya maksum, bahwa semua yang dilakukannya itu yang benar, dan setiap jalan yang dipilihnya itulah yang disyariatkan, sehingga dengan begitu datang kebinasaan.

Oleh karena itu, ketika ada seseorang memuji orang lain di depan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, beliau (ingkari dengan) mengatakan: ‘Celaka kamu, kamu telah memotong leher sahabatmu…‘ [Muttafaq Alaih].”))

Kemudian Syeikh mengatakan kepada muridnya tersebut:

Aku berbaik sangka kepadamu, tapi aku tidak suka (isi syair) ini. Aku akan memberimu beberapa hadiah insyaAllah, semoga Allah ta’ala membalasmu kebaikan.”

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da171114-1407

Siapakah Orang Yang Benar-Benar Terhalang Dari Kebaikan..?

Dialah orang yang terhalang dari ketaatan kepada Allah.

Tahu kalau waktu shalat dhuha itu hingga 6 jam, tapi tidak bisa shalat meski hanya 2 rekaat, padahal hanya 5 menit untuk melakukannya.

Tahu kalau waktu shalat witir itu mulai ba’da isya’ hingga shubuh, bisa sampai 9 jam, tapi tidak bisa shalat witir meski hanya satu rekaat, padahal hanya 3 menit untuk melakukannya.

Tahu kalau waktu sehari semalam itu 24 jam, tapi tidak bisa membaca Qur’an, walaupun hanya 1 juz, padahal hanya membutuhkan waktu ½ jam.. bahkan meski hanya satu halaman, padahal hanya membutuhkan waktu 2 menit.

Tahu kalau lidah itu tidak bertulang dan tidak mudah lelah, tapi dia tidak gunakan berzikir kepada Allah.

Tapi, kalau untuk komen tentang orang lain, atau ustadz, atau bahkan tiang listrik, semangatnya luar biasa.. memang apa manfaatnya untuk dirinya ?!

Begitulah.. kehidupan dunia ini akan terus berjalan, dan manusia akan terus lalai, kecuali mereka Allah rahmati.

Ayolah, sadarkan diri.. ingatlah waktu yang berlalu takkan pernah kembali lagi.. kita hanya punya kesempatan pada waktu yang tersisa saja dari umur kita.

Dunia ini akan kita tinggalkan.. yang terpenting adalah nasib kita di akhirat.. mari persiapkan sebaik-baiknya dengan amal, semoga Allah merahmati kita semua, amin.

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Siapa Yang Menjamin Umurmu Bisa Bertahan Hingga Esok Hari..?!

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

Jangan berangan-angan bahwa bila kamu hidup di pagi hari; akan bisa bertahan hingga sore.

Atau bila kamu hidup di sore hari; akan mampu bertahan hingga pagi.

Karena betapa banyak orang yang hidup di pagi hari, akhirnya tidak bertahan hingga sore.

Sebaliknya, betapa banyak orang hidup di waktu sore, akhirnya tidak bertahan hingga waktu pagi.

Betapa banyak orang memakai baju sendiri, akhirnya baju tersebut dilepas oleh pemandi jenazah.

Betapa banyak orang yang meninggalkan keluarganya, lalu mereka menyiapkan makan siang atau makan malam untuknya, tapi akhirnya dia tidak bisa menyantapnya.

Dan betapa banyak orang yang tidur, akhirnya dia tidak bangun lagi dari kasurnya.

Intinya: bahwa seseorang jangan sampai memanjangkan angan-angannya.

Tapi, hendaknya dia waspada, cerdas, giat, dan tidak malas.

[Syarah Riyadhus Sholihin, jilid 3, bab: mengingat kematian dan memendekkan angan]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da200515-0603

Bahagia Itu Bila Orientasi Anda Akherat…

Ibnu Hazm -rohimahulloh- mengatakan:

Aku dapati orang yang ‘beramal untuk akherat’, jika dia diuji dengan sesuatu yang dibenci di jalannya itu; dia tidak sedih, bahkan dia malah bahagia, karena harapannya terhadap apa yang akan diterimanya (di akherat) itu menjadi penolong baginya pada hal yang dia inginkan, dan itu melebihi target yang dia inginkan.

Dan aku dapati bila dia terhenti langkahnya oleh sesuatu hal di jalannya itu; dia tidak sedih, karena dia (tahu) tidak disalahkan karena itu, sehingga hal tersebut tidak berpengaruh terhadap apa yang dia inginkan (di akherat).

Aku melihat bila dia dijadikan sasaran gangguan; dia bahagia. Bila ditimpa kesulitan; dia bahagia. Dan bila dia lelah karena apa yang dijalani; dia gembira, sehingga dia dalam keadaan bahagia selamanya…

Dan ketahuilah, bahwa yang diinginkan (oleh manusia) hanyalah satu; MENGUSIR KESEDIHAN, dan tidak ada jalan untuk itu melainkan satu jalan, yaitu: beramal karena Allah ta’ala.

[Al-Akhlaq was Siyar, Ibnu Hazm, hal: 15-16].

——-

Inilah yang jauh hari telah disinggung oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-:

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, karena semua keadaannya adalah kebaikan, dan itu tidaklah ada melainkan pada diri seorang mukmin.

Bila dia menerima nikmat; dia bersyukur, sehingga itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ditimpa ujian, dia bersabar, sehingga itu menjadi kebaikan pula baginya“. [HR. Muslim: 2999].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da230115-0516

Renungan…

Kita hidup di dunia, tidak lama.. Rosululloh, shollallohu alaihu wasallam, telah bersabda:

Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampaui umur tersebut“. [HR. Ibnu Majah: 4236, Syeikh Albani mengatakan: hasan shohih].

Dan ternyata dalam waktu yang sebentar itu, kita memerlukan bekal yang banyak untuk mengarunginya.. BAHKAN kadang kita harus BANTING TULANG demi mencari bekal untuk kehidupan ini.

Jika untuk waktu +-70 tahun saja kita harus BANTING TULANG untuk mencari bekalnya, lalu sudahkah kita banting tulang untuk kehidupan alam barzakh yang mungkin bisa sampai RIBUAN TAHUN ?!

Setelah alam barzakh juga kita harus dibangkitkan dan hidup dalam waktu yang sangat lama, SATU HARINYA = 50 RIBU TAHUN…

Ingat, ketika itu tak ada yang berguna kecuali amal baik kita..

Tak ada pakaian, tak ada sandal, matahari hanya berjarak 1 mil dan tak ada naungan kecuali naunganNya.

Sungguh, kehidupan setelah kehidupan dunia ini jauh lebih lama, dan jauh lebih berat… tentu itu memerlukan usaha mengumpulkan BEKAL yang jauh lebih banyak dan jauh lebih intens.

Oleh karena itu, lihatlah diri Anda, sudahkah dia mempersiapkannya…?!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan LIHATLAH DIRI MASING-MASING apakah yang sudah ia PERSIAPKAN untuk KEHIDUPAN ESOKNYA”. [Al-Hasyr:18]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Darini MA. حفظه الله تعالى

da180715-0519

Faidah: Jika Ada Yang Menjauhi Kajian Kita…

Syeikh Ibrahim Arruhaily -hafizhahullah-:

Aku dulu menganggap bahwa menjauhnya orang-orang dari kajian (ku) termasuk musibah yang harus dihadapi dengan sabar, dan itu risiko dalam menyampaikan kebenaran.

Ternyata itu adalah PROSES SELEKSI dari Allah yang harusnya disyukuri, karena Dia telah menyelamatkanku dari berkumpul dengan mereka“.

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=68167

——

Sampaikanlah kebenaran dengan apa adanya, dengan tetap menyiasati lingkungan dengan sebaik mungkin.. apapun yang kita lakukan dalam menyampaikan kebenaran, dan secantik apapun kita melakukannya, pasti akan ada cobaan dan risikonya.

Hadapilah segalanya dengan berpikir positif, karena “bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu lebih baik bagi kalian… padahal Allah menjadikan banyak kebaikan padanya” [QS. Albaqarah: 216, Annisa’: 19].

Silahkan dishare.. Semoga bermanfaat..

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Semua Nikmat Akan KITA Pertanggung-Jawabkan…

Allah ta’ala berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيم

Kemudian kalian benar-benar akan ditanya tentang semua nikmat (yang diberikan)” [At-Takatsur: 8]

Syeikh Sholeh Assindi -hafizhohulloh- mengatakan:

Dan nikmat apakah yang lebih agung dari TAUHID?!

Maka barangsiapa ingin menjadi orang yang mensyukuri nikmat ini, maka hendaklah dia memberikan waktu dan usaha utamanya untuk BERDAKWAH (mengajak umat) kepadanya.

Hendaklah dia semangat dalam memberikan hidayah kepada seluruh makhluk.

Dan Hendaknya dia menganggap MURAH dzatnya demi (memuliakan) Dzat Allah“.

[Addakwah ilat Tauhid, 42-43].

———-

Mari dakwahkan TAUHID dan SUNNAH kepada orang di sekitar kita… sesuai kemampuan dan kapasitas masing-masing… dan dengan cara yang paling baik dan paling mudah diterima oleh mereka.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da040215-1740