Category Archives: Musyaffa Ad Dariny

Yang Paling Banyak Membinasakan…

Sesuatu yang paling banyak membinasakan orang-orang yang saleh adalah sikap takjub terhadap amal-amal ketaatan yang dilakukan.

Dan sesuatu yang paling banyak membinasakan para pendosa adalah sikap meremehkan perbuatan-perbuatan maksiat.

Adapun orang yang benar-benar mengenal Allah, maka dia tidak akan merasa ketaatannya berlebih, dan dia juga tidak memandang remeh tindakan kemaksiatan.

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

 

da070914

Untuk Warga Muslim JAKARTA dan Kota Lain Yang Keadaannya Sama dengannya…

Menggunakan hak suara dalam pemilukada untuk memilih pemimpin muslim adalah sebuah kewajiban dan keharusan dalam syariat.

Karena Islam mewajibkan kita mengangkat pemimpin muslim, dan melarang kita dengan ancaman yang KERAS memilih pemimpin kafir.

Allah telah berfirman (yang artinya):

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang KAFIR sebagai PEMIMPIN meninggalkan orang-orang mukmin!

Apakah kalian ingin memberikan alasan yang jelas bagi Allah (untuk menghukum kalian)?!

“Sungguh, orang-orang MUNAFIK itu ditempatkan pada jurang paling bawah di Neraka. Dan engkau tidak tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka!” [Annisa’: 144-145].

Saudaraku seiman, rasakanlah getaran 3 ancaman Allah dalam ayat ini jika memilih pemimpin kafir:

1. Memilih pemimpin kafir, berarti membuka pintu hukuman dari Allah.

2. Allah menganggap mereka yang memilih pemimpin kafir sebagai munafik.

3. Bahwa orang munafik yang demikian tempatnya di jurang neraka yang paling dalam.

=====

Saudaraku seiman, bagi yang merasa golput adalah tindakan menghindarkan diri dari sistem demokrasi dan itulah pilihan yang selamat; penulis hanya bisa mengingatkan:

a. Golput adalah pilihan yang diberikan oleh sistem demokrasi sebagaimana pilihan memilih… sehingga dengan bergolput; sebenarnya kita juga tidak lepas dari sistem demokrasi… karena memilih atau tidak memilih masih dalam koridor demokrasi.

b. Dengan bergolput, berarti kita memberikan jalan kepada orang kafir untuk memimpin kaum muslimin… dan ini sangat bertentangan dengan firman Allah ta’ala (yang artinya):

“Allah tidak akan memberikan jalan kepada orang KAFIR untuk mengalahkan orang-orang yang beriman” [Annisa: 141, lihat Ibnu Katsir 2/437].

Jika Allah tidak menginginkan orang yang beriman kalah, lalu bagaimana kita malah memuluskan jalan orang kafir untuk menguasai kaum mukminin.

c. Bolehnya menggunakan suara dalam pemilu, tidak harus sampai pada derajat darurat atau genting, karena para ulama ahlussunnah memasukkannya dalam kaidah “memilih pilihan yang paling ringan mudharatnya.”

Hal ini bisa disederhanakan dengan contoh kasus: apabila kita berada diantara dua pilihan, rugi kehilangan motor atau kehilangan mobil, karena sesuatu hal… Maka, yang akan kita lakukan adalah memilih untuk mengamankan mobil karena dia lebih berharga, walaupun motor harus menjadi korban… dan keadaan ini bukanlah keadaan darurat atau genting sehingga kalau tidak memilih kita akan mati… tapi kita memilih pilihan itu hanya karena menginginkan mafsadah yang lebih ringan.

Oleh karena itu, marilah kita semua sebagai sesama saudara, saling membantu saudara kita yang seiman, untuk mengalahkan yang kafir, dan ingatkan diri masing-masing pada sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:

“Sungguh seorang mukmin yang satu dengan mukmin lainnya itu ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya” [HR. Bukhori:481 dan Muslim:2585].

Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Bagi Yang Orang Tuanya Sudah Meninggal…

Bagi yang orang tuanya sudah meninggal, belum habis kesempatan untuk berbakti.

Banyaklah memintakan AMPUN untuknya. Karena Nabi tercinta -shollalohu alaihi wasallam- pernah bersabda:
“Sungguh, ada seseorang DINAIKKAN DERAJATNYA di surga, sehingga dia bertanya: “Dari mana ini?”. Maka dikatakan padanya: “Itu karena PERMINTAAN AMPUN ANAKMU untukmu..” [HR. Ibnu Majah: 3660, dihasankan oleh Syeikh Albani].

Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Update donasi pembebasan tanah wakaf untuk Pusat Kajian Ahlussunnah Jepara… 

Update donasi pembebasan tanah wakaf untuk Pusat Kajian Ahlussunnah Jepara (Masjid, pondok tahfizh, dll), hingga tanggal 5 Jumadil Ula 1438 H / 2 Feb 2017 M.

=======

Alhamdulillah, donasi yang masuk dari awal pembukaan hingga hari ini sebesar = Rp. 132.577.676,-
(perincian di akhir pesan ini).

Kekurangan biaya pembebasan tanah wakaf utk pembangunan masjid dan pusat kajian sunnah ini masih cukup banyak, yakni: Rp. 267.422.324,- sehingga uluran donasi dari segenap kaum muslimin masih sangat diharapkan.

Semoga Allah melipatgandakan pahala infak para donatur, menjadikannya amal jariyah yg terus mengalir pahalanya, serta memberkahi dan melapangkan rezeki dan harta mereka, amin.

Silahkan menyalurkan donasi Anda ke rekening-rekening berikut ini:

1. Bank BNI Syariah, cabang Kudus
No rek: 04 858 47 919
a/n. Sasmono

2. Bank CIMB Niaga Syariah, cabang Jepara
No rek: 7608 6904 7200
a/n. Sasmono

3. Bank BCA, cabang Jepara
No rek: 24 717 044 09
a/n. Sasmono

Konfirmasi ke:
+966 508 774 890 (WA, Musyaffa’ Addariny)
+6281 325 711 311 (sms dan WA, Sasmono)

Format konfirmasi:
Nama#Alamat#BankTujuan#Tanggal#Nominal

Ttd: Yayasan Dakwah Ahlussunnah “Madinatul Islam”.

———-

* Jika Anda tidak mampu membantu dana, Anda bisa membantu menyebarkan pesan ini, mungkin dari usaha Anda ini ‘dakwah sunnah’ akan semakin menyebar, dan pahala anda akan terus mengalir.

* Tanah wakaf ini akan dikelola oleh Yayasan Dakwah Ahlussunnah Jepara “Madinatul Islam”, dan saya Musyaffa’ Addariny sebagai salah satu dewan pembinanya.

——–

Perincian donasi yang kami terima:

hamba Allah# 762,849 #BNI# kebunjeruk
hamba Allah #140,500 #BNI#kudus
Hamba Allah#500,000# BNI
ian #350,000 #BNI #jakarta
ana #500,000# BNI# ogan ilir sumsel
hamba Allah #1,500,000 #BNI
joko firmanto# 150,000 #BNI #gresik
sandi rosadi #281,000 #BNI
junaidah #140,500 #BNI# batam
hamba Allah #50,000# BNI
hamba Allah #200,000 #BNI
fahmi amrullah #1,000,000# BNI# jayapura
hamba Allah #500,000 #BNI
arif #150,000 #BNI #jakarta
dinaragung# 140,500 #BNI #semarang
anjung #100,000 BNI# cilegon
hamba Allah # 140,500 #BNI
hamba Allah #500,000 # BNI
hamba Allah # 300,000 #BNI
hamba Allah #140,500 BNI
muhammad zaki #150,001 #BNI #tegalmulyobanguntapan bantul
hamba Allah #300,000 #bca
hamba Allah #250,000# bca
hamba Allah #150,000 #bca #jakarta
hamba Allah #300,000 # bca
abdullah# 1,500,000 #bca #kudus
risbanbi/rosidah# 1,500,000# bca #kudus
bambang war #1,500,000 #bca# kudus
hamba Allah #140,500 #bca
hamba Allah #140,500# bca
hamba Allah #140,500 #bca
hamba Allah #100,000 #bca
hamba Allah #500,000# bca
imam# 281,000 # bca #karawang
hamba Allah # 300,000# bca #jkt
hamba Allah #500,000# bca
zaki hayaza #200,000 #bca# mataram
fwd #500,000 # bca
nur fajar# 500,000 #bca #bandung
hamba Allah #500,000# bca
tusriyono# 500,000 #bca
hamba Allah #165,165 #bca
hamba Allah # 250,000# bca# riau
ade kusnandar #140,500# bca #cipondoh
agung pradono #140,500 #bca #bogor
hamba Allah #25,000 #bca
khusnul #200,000 #bca
winindya yuningsari# 281,000# bca# jaktim
hamba Allah # 300,000 #bca
teguh #140,500 #bca #bekasi
abdullah# 300,000 # bca #lampung
akhwat #140,500 #bca #pekanbaru
hamba Allah #300,000 #bca
aan pratama hikam #500,000 #bca#gorontalo
robby #500,000 #bca# jakarta
hamba Allah # 281,000# bca
hamba Allah # 1,000,000# niaga
hamba Allah #250,000 #Niaga
hamba Allah #140,500 # niaga
tusriyono# 500,000 # bca
hamba Allah #165,165# bca
hamba allah #250,000# bca
ade kusnandar# 140,500 # bca
agung pradono #140,500 #bca
hamba Allah #25,000 #bca
khusnul# 200,000 #bca
winindya yuningsari# 281,000# bca
hamba allah # 300,000# bca
teguh# 140,500 # bca
abdullah# 300,000 # bca
akhwat #140,500 # bca
hamba Allah #300,000 #bca
aan pratama hikam #500,000 #bca
robby# 500,000 #bca
hamba Allah #281,000 # bca
hamba Allah #1,000,000# niaga
hamba Allah #250,000 #niaga
hamba Allah #140,500 #niaga

Jadilah Hakim, Jangan Jadi Pengacara…

Bagi Anda yang dapat memahami dalil dan metode berdalil dengan baik, maka posisikanlah diri sebagai HAKIM saat melihat perbedaan pendapat para ulama, bukan sebagai PENGACARA.

Syeikh Al-Mu’allimi -rohimahulloh- mengatakan:

“Intinya, bahwa seorang pencari kebenaran, jika melihat perbedaan pendapat para ulama, harusnya dia memposisikan dirinya sebagai hakim; maka dia mendengar perkataan dan hujjah setiap dari mereka yang berselisih, kemudian memberi keputusan dengan adil.

Sebagaimana seorang hakim, jika melihat perselisihan antara orang yang saleh dengan orang yang bejat, atau antara orang yang mukmin dengan orang yang kafir;
⚫ dia TIDAK BOLEH memutuskan untuk kebaikan orang yang saleh atau orang yang mukmin tanpa hujjah,
⚫ dia TIDAK BOLEH mendengar dari orang yang saleh tapi menolak keterangan dari orang yang bejat, dan
⚫ dia TIDAK BOLEH enggan dalam memberikan pembelaan kepada orang yang bejat atau kafir jika dia berhak mendapatkannya.

Maka demikian pula seorang pencari kebenaran dalam masalah-masalah yang diperselisihkan oleh para ulama.

Ketahuilah, bahwa kebanyakan ulama yang berafiliasi kepada madzhab tertentu; mereka tidak memposisikan dirinya sebagai hakim, tapi mereka memposisikan dirinya sebagai pengacara, setiap dari mereka menjadi pengacara bagi madzhabnya.

Maka sebagai seorang pencari kebenaran; harusnya mendudukkan mereka pada posisinya, jangan menganggap mereka sebagai hakim, sehingga semua perkataannya harus diterima dalam menguatkan (atau membela) madzhabnya, lalu menyalahkan perkataan selain mereka.

Harusnya dia tahu bahwa mereka adalah para pengacara bagi madzhab mereka; maka janganlah mendengar dari mereka kecuali sebagaimana seorang hakim mendengar dari seorang pengacara.

Dalam hal ini telah masyhur perkataan Amirul Mukminin Ali -rodhiallohu nahu-: ‘Janganlah engkau melihat siapa yg berbicara, tapi lihatlah kepada apa yang dia bicarakan’.”

[Kitab: Atsarul Mu’allimi 2/215].

——

Status ini khusus untuk orang yang sudah bisa mencerna dan memahami dalil dengan baik, dan bisa menempatkan dalil pada tempatnya… bukan untuk orang yang masih awam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Sebab Tersesatnya Semua Golongan Sesat, Dari Zaman Dulu Hingga Sekarang…

Syeikh Albani -rohimahulloh-:

“Pokok-pokok dakwah salaf berdiri di atas tiga pilar:

(1) Al Qur’anul Karim,
(2) Hadits yang sahih,
(3) Memahami keduanya sesuai dengan cara generasi salafus shalih dari para sahabat, para tabiin, dan para tabiut tabiin.

Dan sebab tersesatnya seluruh kelompok sesat, baik di zaman dulu maupun di zaman sekarang adalah tidak berpegang teguh dengan PILAR YANG KE-TIGA.”

[Majalah Al-Asholah, edisi 27].

——

Maka tak heran bila ada orang yang berdalil dengan Al Qur’an atau Hadits yang shahih untuk membela orang kafir dan menyudutkan orang Islam… Karena dia menafsirkan dalil itu dengan cara dia, dalam bahasa orang jawa “sak pena’e udele dewe”, bukan dengan cara generasi salafus shalih.

Semoga Allah melindungi kita semua dari segala bentuk kesesatan dan penyesatan, amin.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Cadar Bukan Budaya Bangsa Arab…

Ada sebagian kaum muslimin yang beranggapan bahwa cadar adalah budaya arab, bukan bagian dari syariat Islam.. Dengan begitu, dia bisa menyudutkannya, karena budaya arab pasnya di negara arab saja.

Kita katakan, bahwa orang yang demikian sangat pas dengan sebutan “kurang piknik”, walaupun sebagian dari mereka bergelar doktor, bahkan profesor –Allohu yahdihim wa yahdina jami’an-.

Hal ini karena ternyata sebagian ulama dari madzhab syafi’i justru menegaskan bahwa cadar itu bukan budaya arab, tapi itu adalah syariat Islam yang mulia, yang dibawa oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- menggantikan budaya arab sebelumnya.

Lihatlah penegasan imam Ibnul Mulaqqin -rohimahulloh- (w 804 H) berikut ini:

“Dahulu Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- meninggalkan pakaian hijab (untuk para isteri beliau) karena berjalan sesuai budaya arab ketika itu, sampai akhirnya beliau diperintahkan dengan syariat hijab (cadar).

Perintah berhijab tersebut diturunkan (untuk para isteri beliau) karena kemuliaan mereka, tingginya kedudukan mereka, dan agungnya martabat mereka. Dan karena yang pantas untuk mereka adalah dengan mengenakan hijab di depan orang lain.”

[Kitab: At-Taudhih Li Syarhil Jaami’ish Shohih, 5/412].

——

Lihatlah bagaimana beliau mengatakan dengan tegas, bahwa di budaya arab dahulu justru para wanita tidak berhijab (bercadar), kemudian Allah menurunkan syariat tersebut menggantikan budaya yang ada ketika itu.

Dari sini kita juga bisa memahami bahwa jilbab (tanpa penutup wajah) merupakan budaya kaum muslimin yang telah mendapatkan ikrar (persetujuan) dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, sehingga itu juga termasuk bagian dari syariat Islam yang mulia.

Oleh karena itu, sebagai kaum muslimin di zaman akhir ini, kita harus cerdas melihat tipuan musuh Islam dalam menjauhkan kaum muslimin dari syariatnya… Seringkali mereka menjadikan bagian dari syariat Islam sebagai budaya arab, agar mereka bisa dengan bebas menyudutkan syariat tersebut.

Oleh karenanya, jangan heran jika kita mendengar: jilbab itu budaya arab… merapatkan shaf dalam shalat hanya budaya arab… ucapan assalamu’alaikum itu budaya arab… jenggot juga budaya arab… celana atau sarung cingkrang hanyalah budaya arab… dst.

Dan lihatlah setelah itu, mereka akan mengolok-olok apa yang dia katakan sebagai budaya arab… padahal sebenarnya itu merupakan syariat Islam yang dulu diperjuangkan oleh Nabi tercinta Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Terbukti…

Kaum Muslimin, semoga Allah memuliakan kita semua..

Kita telah melihat bersama, bahwa:

Sudah tidak relevan lagi slogan “kafir yang adil lebih baik daripada muslim yang zhalim” bagi masyarakat Jakarta.

Karena sudah nyata yang kafir telah menzalimi banyak sekali wong cilik, bahkan telah nyata menzalimi seorang kyai yang banyak berjasa bagi kaum muslimin.. Justru yang muslim, dari track recordnya terlihat lebih adil dan berhati nurani.

Tidak laku lagi slogan “kafir bersih lebih baik daripada muslim yang koruptor”.

Karena sudah nyata yang kafir telah terendus banyak korupsi, hanya saja karena kesaktiannya atau kekuatan bekingannya, dia kebal dan hukum sangat tumpul terhadapnya… Justru yang muslim, terlihat lebih bersih dan tulus.

Tidak pas lagi slogan “mulut kasar yang memihak rakyat lebih baik daripada mulut santun tapi main di belakang”

Karena ternyata sudah terbukti, ternyata dia disamping mulutnya kasar juga seringkali tidak memihak rakyat kecil, bahkan tidak memihak kaum muslimin dan para ulamanya… Justru yang muslim, terlihat: cerdas, santun, dan lebih sejuk dipandang.

Wahai kaum muslimin Jakarta, sayangilah diri kalian dengan memilih pemimpin yang muslim, bersih, santun, dan berhati nurani.. !!

Dan niatkanlah ibadah dalam memilih pemimpin yg muslim, yaitu dalam rangka menaati perintah Allah dalam Almaidah:51 dan banyak ayat lainnya yg senada.

Dan takutlah digolongkan Allah sebagai orang-orang munafik, sebagaimana dalam firman-Nya (yg artinya):

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang MUNAFIK, bahwa bagi mereka adzab yang pedih. (yaitu) mereka yang menjadikan orang-orang KAFIR sebagai pemimpin meninggalkan kaum mukminin. Apakah mereka menginginkan kemuliaan di sisi orang-orang kafir itu?! Maka, sungguh semua kemuliaan itu milik Allah”. [Annisa: 138-139].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Tiga Hal Yang Sangat Berharga Dalam Kehidupan…

Tiga hal yang sangat berharga dalam kehidupan… Jangan sampai kita sia-siakan.

Muhammad bin Wasi’ -rohimahulloh- mengatakan:

“Tidak ada yang tersisa dari kehidupan dunia ini kecuali tiga hal:

(Pertama): Shalat berjamaah; engkau mendapatkan keutamaannya dan dimaafkan lupamu di dalamnya.

(Kedua): Kehidupan yang mandiri dan bersih; engkau tidak merasa berhutang budi di dalamnya pada orang lain, dan harta itu tidak mendatangkan dosa kepada Allah.

(Ketiga): Saudara yang baik denganmu, jika engkau salah; dia meluruskanmu”.

[Kitab: Roudhotul Uqola’, hal: 86].

——-

Di saat kita diganggu dengan kegaduhan berita oleh media-media.. kita perlu mengingat pesan-pesan sederhana seperti di atas ini.

Kita juga perlu menyadarkan diri, bahwa sebenarnya banyak berita yang hanya mengganggu pikiran kita.. kita hanya dibuat khawatir olehnya, tapi kita tidak bisa berusaha mengubahnya.

Jika kita hanya penonton, mengapa cari tontonan yang tidak mengenakkan pikiran.. sudah saatnya kita ganti dengan menonton kajian sunnah yg menyejukkan hati dan mendekatkan kepada ilahi.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat.

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Wahai Ahlussunnah, Bersabarlah…

Wahai Ahlussunnah, bersabarlah…

Dan teruslah mendakwahkan tauhid dan sunnah Nabi, semampu kalian dan sesuai batasan syariat… walaupun badai cobaan terus menerpa kalian… ujian itu pasti akan berlalu dan semoga kita bisa melaluinya dengan baik, amin.
Ambillah pelajaran dari kisah Nabi Musa alaihissalam dengan Firaun:

a. Fir’aun adalah raja yang jelas-jelas kafir… disifati oleh Allah sebagai musuh-Nya dan musuh Nabi Musa (QS.Thaha: 39)… bahkan dia mengaku tuhan (QS. Annazi’at: 24)… dia kejam dan biadab, sampai-sampai tega memberi perintah membunuh semua bayi laki-laki Bani Isroil di negerinya, entah berapa ribu jumlahnya (QS. Al-A’rof: 141)… dan masih banyak kejahatan, kebejatan, dan kebiadaban dia yang lainnya.

b. Fir’aun keadaannya demikian sudah sejak sebelum lahirnya Nabi Musa alaihissalam, hingga Nabi Musa diutus, dan biasanya seorang nabi diutus di usia ke 40 tahun.. setelah Nabi Musa diutus pun, dia masih seperti itu.. bahkan setelah melihat 9 mukjizat Nabi Musa pun masih seperti itu juga (QS. Al-Isro’: 101).

Bisa kita bayangkan berapa tahun Allah membiarkannya dalam kesesatan dan kejahatannya. Ibnu Jarir Ath-Thobari -rohimahulloh- mengatakan: “Dari lahirnya Nabi Musa sampainya keluarnya Bani Isroil dari negeri mesir 80 tahun”. [Tarikh Thobari 1/386]. Dan ini belum termasuk masa berkuasanya Fir’aun sebelum Nabi Musa lahir.
Meski demikian, Allah memerintahkan kepada Nabi Musa -alaihissalam- untuk bersabar dalam mendakwahi Fir’aun, dengan mengatakan perkataan yang halus kepadanya, dan Allah memberikan harapan kepada Nabi-Nya mungkin saja dia sadar (QS. Thaha: 44).

c. Allah tidak memerintahkannya untuk memberontak dan menggulingkan Fir’aun… Bahkan akhirnya Allah memerintahkannya untuk membawa keturunan Bani Isroil yang beriman kepadanya untuk lari dan menyelamatkan diri dan umatnya yang beriman (QS. Asy-Syu’aro’: 52) .

Lihatlah bagaimana kesabaran Nabi Musa alaihissalam, beliau terus mengikuti perintah Allah dengan apa adanya, hingga akhirnya Allah menyelamatkannya dari Fir’aun dan bala tentaranya.
Lihatlah bagaimana Allah menolong para pejuang agama-Nya, di saat mereka di puncak kelemahan, dan di saat musuh mereka di puncak kekuatan!

Ingatlah selalu bahwa Allah hanya memerintahkan untuk membela Islam sesuai kemampuan kita dan sesuai jalan yang Allah gariskan untuk kita… Di sisi lain, Allah juga telah memberikan jaminan akan menjaga agama-Nya… Oleh karenanya, jangan sampai kita melampui batasan-Nya, sehingga kita menjadi binasa sendiri.

d. Ingatlah pemerintah kita, masih jauh lebih baik dari Fir’aun… dan diri kita jauh lebih rendah kedudukannya di sisi Allah dari Nabi Musa -alaihissalam-… Jika Nabi Musa saja memilih jalan sabar dengan tetap mendakwahkan yang baik dengan halus dan beradab, maka harusnya kita juga demikian, wallohu a’lam.

e. Kalaupun kita mati dalam memperjuangkan agama-Nya satu demi satu, hingga kita semua mati dalam rentang waktu lebih lama, itu lebih baik bahkan jauh lebih baik daripada kita semuanya mati dalam waktu singkat… tentu ini hanya seandainya saja, dan semoga hal itu tidak terjadi pada para pejuang dakwah sunnah di negeri yang kita cintai semua, Indonesiaku… wallohul musta’an, wa ilaihil musytaka.

[Faedah ini, penulis rangkum dari tausiah Syeikh Tarhib Addausary -hafizhahullah-, guru besar ilmu ushul fikih Univ Islam Madinah, di rumah beliau pada tanggal 22 Januari 2017 M].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى