Category Archives: Musyaffa Ad Dariny

Jangan Sampai Anda Menyerupai Babi…

Sufyan bin ’Uyainah -rohimahulloh- mengatakan:

“Diantara manusia ada yang menyerupai babi, apabila dilemparkan makanan yang baik kepadanya; ia enggan menyantapnya.

Tapi apabila ada orang yang berdiri meninggalkan kotoran (BAB) nya; ia menjilatinya.


Begitupula kamu dapati sebagian anak adam, ada yang kalau mendengar 50 kata hikmah; dia tidak mengingatnya sama sekali. Tapi kalau ada orang salah; ia menyebarkannya dan menghapalnya.

[Syifa’ul Alil, Ibnul Qoyyim: 6/566].

——-

Sungguh tidak ada orang yang ma’shum selain para Nabi shalallahu ‘alaihim wasallam.. semua pasti ada kekurangan dan kelebihannya.. pasti ada salahnya.. dia dan juga Anda.

Maka jangan sampai kita hanya mencari-cari kesalahan saudara kita.. apalagi kesalahan-kesalahan ustadz Ahlussunah.. tapi harapkanlah kebaikan untuknya dengan menasehatinya secara halus dan baik.. karena sebagaimana engkau memperlakukan orang lain; engkau juga akan diperlakukan demikian.

Sungguh sangat indah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, sampai dia menginginkan untuk saudaranya; kebaikan yang dia inginkan untuk dirinya”

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Ingin ILMU Anda Menyebar… Kucinya: AMALKAN Ilmu Itu..!

Ibnul Jauzi -rohimahulloh- (w 597 H) mengatakan:

“Aku banyak bertemu para syeikh, keadaan mereka berbeda-beda, keilmuan mereka juga bertingkat-tingkat. Namun yang PALING BERMANFAAT BAGIKU dalam bergaul dengannya adalah orang yang MENGAMALKAN ILMUNYA, meskipun ada yang lebih alim dari dia.

Aku juga telah bertemu para ulama hadits, mereka punya hapalan dan keilmuan, namun mereka bermudah-mudahan dalam GHIBAH yang mereka legalkan dengan label ‘JARH WAT TA’DIL’. Mereka juga mengambil upah dari bacaan hadits, dan segera menjawab pertanyaan agar terjaga namanya, meski dia jatuh dalam kesalahan.

Aku juga telah bertemu dengan Abdul Wahhab Al Anmathi, dia dulu berjalan di atas ‘aturan’ SALAF, ghibah TIDAK PERNAH terdengar di majlisnya, tidak pula mengambil upah dari kegiatan memperdengarkan haditsnya. Dan aku pernah membaca hadits roqo’iq di depannya, maka diapun menangis, dan menangis lama, sehingga tangisan itu MERASUK ke dalam hatiku -padahal saat itu aku masih kecil-, dan membangun pilar-pilar akhlak (dalam jiwaku). Dia memang serupa dengan ciri-cirinya para syeikh yang sifat-sifat mereka kami dengar dari nukilan (kitab).

Aku juga telah bertemu dengan Abu Manshur Al Jawaliki. Dia banyak diam, sangat berhati-hati dalam ucapannya, sangat kuat ilmunya, dan muhaqqiq. Namun begitu, kadang ketika ditanya masalah yang mudah, yang sebagian muridnya akan segera menjawabnya, dia berhenti menjawabnya hingga yakin dengan jawabannya. Dia itu banyak puasa dan pendiam.

Manfaat yang kudapatkan dengan melihat dua orang ini -Al Anmathi dan Al Jawaliqi-, lebih banyak dari manfaat yang kuambil dari selain dua orang ini. Sehingga dari keadaan ini aku paham, bahwa petunjuk dengan tindakan lebih kuat pengaruhnya daripada petunjuk dengan ucapan.

Aku juga melihat para syeikh yang memiliki banyak waktu berkholwat (dengan teman-temannya) untuk nyantai dan canda. Akibatnya mereka jauh dari hati manusia, dan keteledoran mereka itu mencerai-beraikan kembali ilmu yang sudah mereka kumpulkan, sehingga ketika hidupnya, mereka kurang bermanfaat, dan ketika meninggalnya mereka dilalaikan, dan HAMPIR TIDAK ADA SEORANG PUN yang tertarik dengan kitab-kitab mereka.

Maka… hendaklah kalian MENJAGA ILMU DENGAN AMAL, karena ini merupakan pokok yang paling mendasar. Sungguh orang yang paling kasihan adalah orang yang menyia-nyiakan umurnya dalam ilmu yang tidak diamalkan, hingga hilang darinya kenikmatan dunia dan kebaikan akhirat, lalu dia datang merugi (di akhirat), padahal dia harus menanggung hujjah yang kuat terhadapnya”. [Shoidul Khothir 108-109].

===========

Subhanallah.. ini di zaman beliau, bagaimana jika beliau hidup di zaman ini?!.. Ghibah dengan label ‘tahdzir dan nasehat’ di mana-mana.. Banyak orang berilmu, tapi tidak tampak sama sekali pada akhlaknya..

Bahkan, dalam masalah hukum syariat; tidak hanya yang punya ilmu, YANG MODAL NONGOL di TV pun, berlomba-lomba untuk membicarakan HUKUM ALLAH.

Seandainya mereka merenungi bahwa berbicara HUKUM SYARIAT dalam sebuah masalah, itu sama saja mengabarkan hukum hal tersebut ATAS NAMA ALLAH, tentunya mereka akan diam seribu bahasa.

Wallohul mustaan.. semoga Allah memperbaiki keadaan umat ini, dan menuntun mereka semakin dekat kepada syariat-Nya.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Riba Fadhl… Meluruskan Pesan Berantai… (RALAT)

Faedah:
Riba pada intinya adalah tambahan.

Dari sisi RANAHnya, riba terbagi menjadi dua:
1. Riba dalam jual beli (komoditi riba), dan
2. Riba dalam hutang piutang.

Sedang dari sisi SEBABnya, riba terbagi menjadi dua juga:
1. Riba FADHL dan
2. Riba NASI’AH.

RIBA FADHL adanya perbedaan kadar antara dua komoditi riba yang sama jenisnya.. misalnya: emas 4 gr baru ditukar dengan emas 5 gr lama.. misalnya lagi: kurma bagus 4 kg ditukar dengan kurma biasa 5 kg.

Adapun RIBA NASI’AH; ia adalah riba yang terjadi karena penundaan.

Riba nasi’ah ini bisa terjadi dalam jual beli komoditi riba, misalnya: jual beli kurma dengan kurma, tapi tidak kontan (ada yang diakhirkan).. misalnya lagi: jual beli emas dengan cara kredit.

Riba nasi’ah ini juga bisa dalam ranah hutang piutang.. misalnya hutang 100rb hingga sebulan dengan syarat dibayar 110rb.. misalnya lagi: karena telat membayar hutang, maka ada penambahan pada nominal hutangnya. Ini yang masyhur dengan riba jahiliyah, karena ini yang dulu banyak dilakukan oleh masyarakat jahiliyah.

Namun perlu diketahui bahwa tambahan yang terjadi dalam kasus hutang piutang bisa dikategorikan dalam riba nasi’ah, jika ada syarat di awal (baik tertulis, atau secara lisan, atau secara adat).

Jika tidak ada kesepakatan​ sama sekali tentang tambahan, maka tidak masuk dalam riba nasi’ah, sehingga boleh saja, apabila orang yang berhutang saat melunasi hutangnya menambahi nominalnya atau memberi hadiah kepada orang yang menghutanginya sebagai tanda terimakasih.

Bahkan ini merupakan amalan yang sangat agung, yang bisa mengantarkan seseorang menjadi orang terbaik, sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

“Sungguh orang terbaik dari kalian adalah orang yang paling baik dalam melunasi hutangnya” [HR. Bukhori: 2393]

Dan sabda ini beliau katakan kepada orang yang melunasi hutang dengan sesuatu yang lebih baik dari hutangnya.. walaupun ini merupakan bentuk manfaat yang diperoleh pemberi hutang dari pengambil hutang, namun karena tidak ada persyaratan di awal, maka ia bukan riba.. ia tidak masuk dalam hadits: “setiap hutang yang mendatangkan manfaat, maka itu riba”.
Dari sini kita bisa memahami, tidak benarnya pesan berantai yang mengatakan bahwa: kita akan jatuh ke dalam riba, jika kita memesan makanan kepada orang lain, kemudian sebelum kita bayar, kita mengajak orang itu untuk memakan makanan itu.. dengan alasan itu adalah bentuk mengambil manfaat dari hutang piutang.

Ini kurang pas: karena manfaat tersebut didapat oleh pemberi hutang tanpa syarat di awal.. itu juga biasanya dilakukan tanpa ada hubungan dengan hutang piutang sama sekali.

Kalau misalnya makannya orang tersebut bersama kita, dikatakan manfaat yang diambil dari hutang piutang dan termasuk riba, maka sebenarnya sama saja, baik sudah dibayar lunas atau belum, itu sama ribanya.

Intinya tidak pas bila hal itu dimasukkan dalam bab riba. Wallohu a’lam.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Bukanlah Predikat Yang Ditunggu…

Syeikh Muhammad Mukhtar Asy Syinqithi -hafizhohulloh-:

“Wahai penuntut ilmu (agama)… Yang ditunggu manusia dari kamu bukanlah predikat ‘cumlaude’, bukan pula masuk kategori ’10 orang pertama’.

Tapi yang ditunggu mereka dari kamu adalah dua hal:

1. Agamamu, keistiqomahanmu, serta akhlak dan adab yang menerjemahkan keislamanmu.

Jika Allah memberimu taufiq dalam hal ini, maka kamu adalah yang terdepan, meskipun kamu di barisan paling akhir.

2. Ilmu (agama)mu dan penguasaanmu di dalamnya.

Sehingga meskipun kamu datang di rangking paling akhir, tapi kamu benar-benar menguasai apa yang kamu katakan, maka kamu adalah yang terdepan, dan Allah akan mengangkatmu, meskipun selang beberapa waktu.

Maka janganlah kamu jadikan DUNIA target utamamu, tapi berusahalah untuk hidup dalam istiqomah, akhlak, ilmu dan menguasainya dengan baik.

Aku memohon kepada Allah yang maha agung, Rabbnya Arsy yang agung, semoga Dia menerangi hati dan akal kalian, dan semoga dia menuntun pena-pena kalian kepada kebenaran.”

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

 

da291214

Sakit Hati…

Sakit hati, mengapa terus dipelihara?!… Tidakkah anda segera mengobatinya?!

Tidak seperti ketika sakit di badannya… seringkali seseorang malah ‘memelihara’ sakit hatinya, padahal harusnya dia bisa segera mengobati lara hatinya itu, sebagaimana dia bisa segera mengobati sakit badannya.

Dan diantara OBAT pelipur lara hati yang PALING AMPUH adalah dengan MEMAAFKAN kesalahan orang yang menyakiti kita… karena itulah sumber dan sebab utama sakitnya hati kita, oleh karenanya ketika sumber sakitnya sudah teratasi, maka tentunya sakit hati kita akan hilang dengan sendirinya.

Seringkali seseorang tidak mau, atau gengsi, atau merasa rugi untuk memaafkan orang lain, padahal sebenarnya dengan begitu dia akan rugi sendiri, karena hatinya akan sakit, tersiksa, dan TERBEBANI terus-menerus.

Seringkali seseorang TIDAK INGIN memaafkan kesalahan orang lain, kecuali bila orang tersebut yang meminta maaf kepadanya, padahal apakah dia akan melakukan hal yang sama saat badannya disakiti orang lain?! Apakah dia mau menunggu hingga orang lain mau mengobati sakit di badannya?! Tentunya tidak.

Maafkanlah kesalahan orang lain… karena dia sama sekali tidak akan mampu mengubah TAKDIR tanda…

Maafkanlah dia… karena Allah menjanjikan pahala yang tiada tara kepada Anda: “Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya itu Allah (yang menentukannya)”. [QS. Asy-Syuro: 40].

Maafkanlah dia… karena Allah akan mengampuni dosa-dosa Anda: “Maafkanlah, dan berlapang dadalah! Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?!” [QS. Annur: 22].

Maafkanlah dia… bersyukurlah kepada Allah, karena Dia telah menjadikan Anda lebih tinggi darinya… Anda yang disalahi, bukan orang yang menyalahi…

Maafkanlah dia, agar sakit hati Anda segera hilang… Agar hati Anda menjadi lapang, ringan, dan bahagia…

Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

 

da250115

Dua Hal Yang Sangat Memilukan…

1. Seorang muslim yang tidak masuk masjid, kecuali saat jenazahnya dishalati.

2. Seorang muslimah yang tidak menutup tubuhnya, kecuali saat dikafani.

Mari ingatkan orang-orang kita sayangi.. mumpung masih ada waktu.. hidup di dunia hanya sekali.. semuanya akan berarti bagi kehidupan selanjutnya.. baiknya berarti baik, dan buruknya berarti buruk pula.

Mungkin di dunia, kita bisa menyembunyikan keburukan kita.. Tapi tidak demikian setelah kita mati.. Tidak ada yang bisa kita sembunyikan di kehidupan setelah ini.

Allah azza wajall berfirman (yang artinya):

“Tidakkah dia tahu apabila semua yang di kuburan dibangkitkan, semua yang ada di dada dinampakkan, sungguh Rabb mereka Maha Tahu detil-detil keadaan mereka” [QS. Al-’Aadiyat: 9-11].

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Sampai Kapan Engkau Terlelap dan Tak Sadarkan Diri..??

Ibnul Qayyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Sungguh sangat mengherankan sekali keadaan kebanyakan manusia, waktu terus berlalu dan umurpun habis, namun hatinya masih tetap tertutup dari Allah dan kehidupan akhirat.

Dia keluar dari dunia sebagaimana dia memasukinya, dia tidak mencicipi sesuatu yang paling nikmat darinya. Dia hidup seperti hidupnya hewan, dan dia berpindah seperti pindahnya orang-orang yang pailit.

Sehingga dia menjadi orang yang hidupnya lemah, matinya menyedihkan, dan kembalinya (ke akherat) adalah kerugian dan penyesalan.”

[Thoriqul Hijrotain, hal: 385].

Sekali lagi sampai kapan kita terlelap dan tak sadarkan diri ?? bangunlah sebelum semuanya terlambat !! Bukankah Anda yakin semuanya akan mati… dan bisa jadi itu tidak lama lagi !!

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat..

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Ucapan Marhaban Kepada Tamu Yang Baru Datang… Sunnah Yang Sering Dilupakan…

Mungkin ucapan “marhaban” ini, amalan yang terlihat sederhana… Akan tetapi dalam menghidupkan sunnah Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan mengharapkan pahala dari Allah -jalla wa’ala-; sebenarnya tidak ada amalan yang sederhana.. samua akan mendatangkan pahala yang sangat agung di sisi Allah ta’ala.

Ingatlah selalu perkataan seorang ulama salaf: “Betapa banyak amalan kecil, tapi menjadi besar karena niatnya”

Dalil sunnah ini sangat banyak, diantaranya:

1. Ketika menyambut kedatangan tamu utusan dari Abdul Qois, beliau mengucapkan: “marhaban kepada rombongan” [HR. Bukhari: 4368].

2. Beliau juga pernah mengatakannya kepada Ummu Hani: “marhaban, Ummu Hani”[Shahih Bukhori: 6158].

3. Begitu pula kepada sahabat Ammar bin Yasir, beliau pernah mengatakan: “marhaban kepada orang yang baik dan mulia” [HR. Ahmad: 2/225].

Dan masih banyak lagi hadits lain yang menjelaskannya.

Saudaraku kaum muslimin, inilah sikap yang harusnya dilakukan kepada sesama saudara kita seiman, menyambut mereka yang bertamu dengan sebaik mungkin.. bukan hanya dengan memberikan hidangan dan tempat tinggal yang pantas bagi tamu, tapi juga dengan tutur kata yang lembut dan memuliakan.

Bukan malah mengusirnya tanpa ada penghormatan sama sekali.. sungguh itu bukan cerminan akhlak ASWAJA.

Jika kita mengaku aswaja, maka harusnya kita menerapkan sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dlm memuliakan tamu, sebagaimana sabda hadits:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya”

Jika ada yang tidak disukai dari seorang tamu, maka akhlak seorang aswaja bukanlah dengan mengusirnya, tapi dengan menasehatinya dengan santun, lembut, dan penuh adab.. tindakan mengusir hanyalah cerminan kelemahan, baik dari sisi ilmu maupun dari sisi AKHLAK, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyabdakan:

“Orang yang paling sempurna imannya, adalah orang yang paling baik akhlaknya”

Ingatlah saudaraku aswaja, apapun yang engkau lakukan.. Allah pasti akan menolong agama-Nya.. semakin engkau melawan seorang alim ulama yang merupakan wali (kekasih) Allah, maka semakin besar pula pertolongan Allah untuk ulama dan agama-Nya.

Tentu kita ingat sebuah hadits yang sudah sangat masyhur di pendengaran kita:

“siapapun yang mengganggu wali (kekasih)-Ku, maka Aku benar-benar mengumumkan perang kepadanya”

Dan kepada saudaraku ahlussunnah, teruslah berjuang untuk mendakwahkan agama Allah.. rintangan yang terjadi adalah ujian, jangan sampai kita menghentikan langkah, agar kita berhasil menjalani ujian-Nya.. karena menghentikan langkah, sama saja menggagalkan diri dalam menghadapi ujianNya.. “sungguh dalam kesukaran pasti ada kemudahan”, Allah mengulanginya hingga dua kali.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى 

Jangan Jadikan Dunia Di Atas…

Lihatlah alam sekitar yang natural.. dunia akan menjadi indah, jika engkau melihatnya dari atas.. cobalah ke puncak gunung dan pandanglah dunia, sungguh sangat indah dan mengagumkan.

Begitulah seharusnya kita memperlakukan dunia, dunia akan menjadi sangat indah bila kita memperlakukannya demikian.

Allah telah menjadikan dunia di bawah kita sejak kita dilahirkan, maka jangan sampai kita menjadikannya di atas kepala kita.. hingga kita sangat dipusingkan olehnya.

Allah Rabb kita yang sangat penyayang tidak menginginkan kita terlalu pusing dengan dunia, oleh karenanya Dia menjelaskan kepada kita melalui lisan nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa rezeki telah dijamin, bahwa manusia tidak akan mati kecuali telah disempurnakan jatah rezekinya.

Di sisi lain, lihatlah langit.. dia akan menjadi sangat indah bila kita melihatnya saat berada di atas puncak gunung pula, ketika dunia jauh di bawah kita.. itulah langit, dan di sanalah surga yang dijanjikan untuk kita, sebagaimana Allah firmankan dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan.

Maka begitulah seharusnya perlakuan kita terhadap dua perkara ini.. perkara dunia harusnya kita posisikan di bawah, sedangkan perkara akherat harusnya kita posisikan di atas.. sebagaimana Allah menjadikannya demikian.. sungguh jika kita memperlakukannya demikian, keduanya akan menjadi sangat indah..

Begitulah surga dunia dan surga akherat.. keduanya hanya bisa diraih saat kita memposisikan dunia di bawah kita, wallohu a’lam.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Yang Paling Banyak Membinasakan…

Sesuatu yang paling banyak membinasakan orang-orang yang saleh adalah sikap takjub terhadap amal-amal ketaatan yang dilakukan.

Dan sesuatu yang paling banyak membinasakan para pendosa adalah sikap meremehkan perbuatan-perbuatan maksiat.

Adapun orang yang benar-benar mengenal Allah, maka dia tidak akan merasa ketaatannya berlebih, dan dia juga tidak memandang remeh tindakan kemaksiatan.

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

 

da070914