Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Koreksi Diri Anda… Mengapa Malas Membaca Al Qur’an…

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika kamu melihat dirimu berpaling dari sebagian (tuntunan) Agama Allah, atau kamu melihat dirimu berpaling dari kitabullah azza wajall, baik berpaling dari membaca hurufnya, atau membaca dengan perenungan, atau membaca dengan pengamalan

Maka harusnya kamu mengobati dirimu, dan ingatlah bahwa sebab ‘berpaling‘-mu ini adalah kemaksiatan-kemaksiatan (yang kamu lakukan)”.

[Tafsir Surat Alma’idah 1/348].

Diterjemahkan oleh :
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da160115-1430

Menyikapi Ucapan Seseorang Yang Merendahkan Kedudukan Seorang Nabi ‘alayhissalam…

Simak penjelasan Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Jangan Katakan “KENAPA” Dan “BAGAIMANA”, Bila…

Jangan katakan “KENAPA” dan “BAGAIMANA“, bila Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam memerintahkannya atau melarangnya…
.
Imam Syafi’i -rohimahulloh- mengatakan:

“… akan tetapi Allah telah menyuruh Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dan semua makluk-Nya dengan perintah apapun yang Dia kehendaki melalui lisan Nabi-Nya. Maka, tidak boleh baginya -siapapun orangnya-, untuk memasukkan kata “kenapa” dan “bagaimana” serta pendapat apapun ke dalam hadits yang datang dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-. Begitu pula tidak boleh baginya untuk menolak hadits tersebut, bila datang dari orang yang terpercaya menurutnya, walaupun dia hanya satu orang.” 

.
[Kitab: Ikhtilaful Hadits, karya: Imam Syafi’i, hal: 16].
.

———

.
Sayangnya seringkali sebagian orang di zaman ini, ketika datang kepadanya Sunnah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, baik itu perintah atau larangan, dengan mudahnya dia mengatakan: “kenapa perintahnya seperti itu“, “kenapa dilarang ?!”Semoga perkataan Imam Syafi’i di atas, dapat menjadi masukan bagi mereka… dan itulah yang pantas bagi kita sebagai umatnya yang mengaku mencintai beliau shollallohu alaihi wasallam.

Cobalah bayangkan bila beliau shollallohu alaihi wasallam masih hidup di depan kita, dan menyuruh atau melarang sesuatu kepada kita, pantaskah kita mengatakan “kenapa” atau “bagaimana“, atau bahkan menolaknya mentah-mentah…?

Semoga bermanfaat….

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da270415-1415

Layak Untuk Direnungkan…

Jika Anda selalu membandingkan
kesejahteraan hidup Anda dengan
orang-orang kaya… maka, harusnya
Anda bandingkan juga keadaan agama
Anda dengan orang-orang yang bertakwa.
Itu baru adil.

Belum lagi dengan yang pertama, Anda
akan rugi dengan hilangnya ketenangan
hati… sedang dengan yang kedua, Anda
akan untung dalam agama dan dunia
sekaligus.

Ust. DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله

da140116-1323

AGAMA Adalah Pemersatu Yang Paling Kuat…

Karena sebenarnya yang mempersatukan hati manusia adalah Allah [Al-Anfal 63] .. dan Allah memerintahkan manusia untuk bersatu dengan Agama-Nya [Ali Imran 103].

Oleh karena itu, Anda tidak akan dapatkan persatuan yang lebih besar daripada persatuan AGAMA.

Oleh karenanya, seringkali masalah keluarga lebih mudah diselesaikan dengan sentuhan agama .. begitupula masalah-masalah yang terjadi di tengah-tengah masyarakat .. karena memang agama itu bisa mempersatukan.

Nah, ini yang tidak disenangi oleh musuh Islam .. sehingga mereka berusaha agar kaum muslimin tidak bisa bersatu dengan agama mereka .. maka dijadikanlah semangat kedaerahan sebagai salah satu alat yang lumayan efektif agar kaum muslimin tetap terpecah dengan agama mereka.

Dan contoh mudahnya adalah Islam Nusantara .. nanti ada Islam kejawen .. dan Islam-Islam dengan semangat kedaerahan yang lainnya .. sehingga kaum muslimin bisa terpecah pecah dengan Islamnya.

Oleh karenanya, jangan sampai kita sambut gayung ini .. tapi tetaplah teguh dengan persatuan Islam ..

Satukanlah daerah-daerah yang kita cintai dengan semangat Islam .. Jangan pecah belah Islam dengan semangat kedaerahan.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat ..

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Silaturrahim Adalah Usaha Untuk Menyambung Atau Menguatkan Hubungan KEKERABATAN…

Al-Hafizh Ibnu Hajar -rohimahulloh- mengatakan:

“RAHIM digunakan untuk menyebut para kerabat, yaitu orang yang antara dia dan orang lain memiliki hubungan nasab, baik orang tersebut mewarisinya atau tidak, baik orang tersebut masih termasuk mahromnya atau tidak.

Memang ada yang mengatakan bahwa RAHIM itu khusus untuk mahrom saja, namun pendapat yang pertama lebih kuat, karena pendapat kedua ini melazimkan anak-anaknya paman dari garis bapak dan anak-anaknya paman dari garis ibu keluar dari lingkup dzawil arham (orang yang masih ada hubungan rahim), padahal kenyatannya tidak demikian.”   [Fathul Bari 10/414].

——–

Jadi, fadhilah atau keutamaan bersilaturrahim yang dijelaskan oleh Alqur’an dan Assunnah hanya berlaku pada usaha menyambung dan menguatkan hubungan kekerabatan saja, bukan orang lain yang tidak ada hubungan kekerabatannya, wallohu a’lam.

Tapi bukan berarti menyambung dan menguatkan hubungan antara sesama muslim lainnya tidak dianjurkan, tapi tetap saja dianjurkan hanya saja keutamaannya lain lagi, wallohu a’lam.

Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Sesungguhnya seluruh kaum mukminin adalah bersaudara“. [QS. Al-Hujurat: 10].

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- juga bersabda: “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya itu ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya“, dan beliau pun mencengkramkan antara jari jemarinya. [Muttafaqun Alaih, Bukhori: 481, Muslim: 2585].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

da220715-2210

Tentang Menggabungkan Beberapa Niat Dalam Satu Ibadah Yang Sejenis…

Simak penjelasan Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Syubhat…

Silahkan belajar agama kepada siapa saja, yang penting “Ambil baiknya, buang buruknya“.

Jawaban:

⚉   Berarti boleh belajar ilmu agama kepada Iblis ?! Yang penting ambil baiknya, buang buruknya.

⚉   Berarti tidak usah pilih-pilih guru agama .. silahkan belajar kepada orang syiah, orang liberal, orang khawarij, orang mu’tazilah, orang qodariyah, orang jabariyah, dan siapa saja .. yang penting ambil baiknya, buang buruknya.

⚉   Berarti, kalau kita belajar agama, silahkan belajar kepada orang-orang yang jahil dalam agama .. yang penting ambil baiknya, buang buruknya.

⚉   Kalau ini dalam agama, apalagi dalam masalah dunia .. Berarti silahkan belajar ilmu ekonomi kapada ahli saraf .. atau belajar pijat kepada ahli teknik .. atau belajar ilmu kedokteran kepada koki .. dan seterusnya.

Lihatlah bagaimana buruknya kosekuensi prinsip ini .. dengan adanya konsekuensi buruk yang banyak ini, itu menunjukkan buruknya prinsip tersebut.

👉🏼  Prinsip ini, sebenarnya bisa digunakan dalam menerima kebenaran yang datang kepada kita .. BUKAN dalam menjadikan seseorang sebagai rujukan menimba ilmu agama.

Semoga mudah dipahami dan bermanfaat, amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Amalan Yang LUAR BIASA, Tapi Banyak Yang Melalaikannya…

Itulah amalan membantu seorang JANDA, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda:
.
Orang yang membantu kebutuhan seorang JANDA dan seorang miskin; itu seperti orang yang berjihad perang di jalan Allah, atau seperti orang yang malamnya shalat siangnya puasa“.
.
[Muttafaqun Alaih, Bukhori: 5353, Muslim: 2982].
.
Subhanallah… pahala jihad atau pahala orang yang malamnya shalat siangnya puasa, ternyata bisa kita raih dengan membantu SATU orang janda! Sungguh betapa maha pemurahnya Allah ta’ala.
.
Tidakkah Anda ingin mendapatkan keutamaan ini… Mari peduli dengan para janda yang ada di sekitar kita.. bantulah kebutuhannya dalam mengarungi sisa hidupnya, apalagi bila memiliki banyak anak yang menjadi tanggung jawabnya.
.
Bantulah dia karena Allah… sungguh kebutuhan kita terhadap pahala amalan ini, jauh lebih besar daripada kebutuhan dia terhadap bantuan kita.
.
Karena pahalanya disamping sangat besar, juga akan KEKAL menjadi milik kita.
.
Sedang bantuan kita, seringkali tidak seberapa dibanding kebutuhannya, itupun hanya akan dinikmatinya untuk sementara, wallohu a’lam.
.
Silahkan dishare, semoga bermanfaat…
.
Ustadz DR. Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da040615-0759