Category Archives: Musyaffa Ad Dariny

Perbanyaklah Membaca Sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam…

Perbanyaklah membaca sirah Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, terutama pada fase dakwah di Mekah sebelum hijrah… itu akan menjadikan kita semakin tegar menghadapi cobaan dalam berdakwah.

=====

Karena, biasanya orang yang membawa kebenaran dan memperjuangkannya, dia akan mendapatkan cobaan dan rintangan sebagaimana pendahulunya.

* Jika ada yang diboikot karena dakwahnya, maka ingatlah bahwa beliau dan para sahabat beliau juga pernah diboikot, bahkan hingga TIGA TAHUN lamanya… sampai-sampai mereka harus makan dedaunan. [Lihat: Sirah Ibnu Hisyam 1/388].

* Bila ada yang dituduh pendusta dan tukang sihir, maka ingatlah bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- juga pernah dituduh demikian, bahkan Allah abadikan hal itu dalam Alqur’an:

Mereka (orang² kafir) heran dengan datangnya seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka sendiri, dan orang-orang kafir itu mengatakan: ‘orang ini adalah tukang sihir, tukang dusta’.” [QS. Shad: 4].

* Bahkan beliau sampai dikatakan gila oleh para penentang dakwahnya, Allah juga abadikan hal ini dalam kitab-Nya:

“Mereka (orang-orang kafir) itu mengatakan: wahai orang yang diturunkan kepadanya Adz-Dzikr (Alqur’an), sungguh kamu benar-benar gila“. [QS. Al-Hijr: 6].

* Jika ada yang dituduh memecah belah umat, maka beliau juga dahulu telah menerima hal yang sama. Ketika itu ‘Utbah bin Rabi’ah pernah mengatakan kepada beliau:

Sungguh kamu telah datang kepada kaummu dengan masalah besar, dengannya kamu PECAH BELAH persatuan mereka, kamu rendahkan kedudukan mereka, kamu cela Tuhan dan agama mereka, dan kamu KAFIRKAN nenek moyang mereka“. [Lihat: Sirah Ibnu Hisyam, 1/359].

* Bila ada yang diusir dari tempat tinggalnya, maka ingatlah bahwa beliau juga akhirnya terusir dari kota kelahiran beliau (Mekah) yang sangat beliau cintai… ketika akan berpisan dengan kota suci itu, beliau mengatakan:

Betapa baiknya engkau sebagai negeri, dan betapa cintanya diriku kepadamu, seandainya bukan karena kaumku mengeluarkanku darimu, tentu aku tidak akan menetap di tempat selainmu“. [HR. Attirmidzi: 3926, shahih].

* Bahkan di banyak kesempatan beliau dan para sahabatnya harus berperang dengan para penentang tersebut… tidak lain, tujuannya adalah agar dakwah tetap bisa berlangsung dengan baik, dan kebenaran bisa sampai kepada umat manusia. Oleh karenanya dalam perang badar beliau bermunajat:

“Ya Allah, jika pasukanku dari kaum muslimin ini binasa; Engkau tidak akan lagi disembah di muka bumi ini“. [HR. Muslim: 1763].

* Dan masih banyak lagi rintangan dan gangguan yang beliau alami.

Meski demikian, beliau tetap saja maju di jalan dakwah yang terjal tersebut, karena itulah jalan kemuliaan di dunia dan di akhirat… Siapa pun yang ingin mendapatkan kemuliaan seperti beliau, maka ikutilah jalan beliau.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menasehatilah… Tapi Tetap Jaga Perasaannya, Apalagi Diantara Ahlussunnah Sendiri…

Abdulloh bin Mubarok -rohimahulloh- mengatakan:

Dahulu bila seseorang melihat saudaranya melakukan
sesuatu yang dibenci, dia (mengingatkannya dengan)
amar ma’ruf secara rahasia, dan dia (mengingatkannya
dengan) nahi munkar secara rahasia.

Namun sekarang, jika seseorang melihat orang lain
melakukan sesuatu yang dibenci, dia membuat marah
saudaranya tersebut, dan mengoyak tabir yang
menutupinya.”

[Kitab: Roudhotul Uqola’ 1/196]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da181214-1349

Mengapa Masih Meminta Kepada MAKHLUK Dalam Berdo’a..?

Cobalah renungkan ayat yang sangat dahsyat penjelasannya berikut ini:

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلا ضَرًّا إِلاَّ ما شاءَ اللَّهُ

“Katakanlah (Muhammad kepada umatmu): “aku TIDAK memiliki untuk diriku satupun manfa’at dan tidak pula satupun mudhorot, kecuali apa yang Allah kehendaki.” [Al-A’rof: 188].

Perhatikanlah dengan mendalam poin-poin yang dikandung ayat ini:

1. Jika NABI yang PALING MULIA saja tidak memiliki daya apapun untuk memberikan manfa’at ataupun mudhorot, lalu bagaimana dengan orang yang kemuliaannya di bawah beliau ?!

2. Jika kepada diri sendiri saja, Beliau tidak mampu memberikan apapun tanpa kehendak Allah, lalu bagaimana akan mampu memberikannya kepada yang lain.

3. Jika hanya satu manfa’at saja Beliau tidak mampu berikan, bagaimana Beliau akan mampu memberikan banyak manfa’at. Itu tidak mungkin tanpa kehendak Allah.

4. Ayat ini diturunkan kepada Beliau saat masih hidup… Jika saat hidup saja Beliau tidak mampu memberikan manfaat dan mudhorot apapun, lalu bagaimana setelah wafatnya ?!

5. Jika SEMUANYA tergantung kehendak Allah, maka mengapa masih menujukan permohonan dan do’a kepada yang selain-Nya ?!

Sungguh ayat yang sangat agung dalam mementahkan dalih mereka yang masih mendua dalam berdo’a, bahkan saat mereka di masjid-masjid Allah.

Ingatlah selalu firman-Nya:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Sungguh masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kalian berdoa (meminta) kepada SIAPAPUN disamping berdoa kepada Allah” [Al-Jin: 18].

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da220914-1252

Ahli Ibadah Yang JAHIL dan Ahli Ilmu Yang FAJIR…

Ahli Ibadah yang JAHIL dan ahli ilmu yang FAJIR … Dua orang yang menjadi cobaan paling berat bagi kaum muslimin dalam agamanya.

=====

Sufyan Ats-Tsauri -rohimahulloh- mengatakan:

Ada yang mengatakan: Berlindunglah kepada Allah dari fitnah yang ditimbulkan oleh ahli ibadah yang jahil, dan ahli ilmu yang fajir, karena fitnah yang ditimbulkan oleh keduanya merupakan fitnah yang nyata bagi siapapun yang terkena fitnah.”

[Akhlaqul Ulama, karya: Al-Ajurri, hal: 63]

Kenapa demikian? Alasannya telah dijelaskan oleh Ibnul Qayyim -rohimahulloh-, beliau mengatakan:

Karena manusia biasanya akan mengikuti ulamanya dan ahli ibadah mereka. Apabila para ulamanya fajir, dan para ahli ibadahnya jahil, maka musibah dari keduanya mudah menyebar, dan fitnahnya menjadi sangat besar pengaruhnya, baik untuk kalangan khusus maupun untuk kalangan umum.”

[Miftahu Daris Sa’adah 1/160]

——-

Oleh karenanya, marilah kita kembalikan semua perkara kepada Alqur’an dan Sunnah, dan pahamilah keduanya sebagaimana pemahaman ulama salaf yang merupakan generasi terbaik umat ini.

Sungguh di akhir-akhir ini, fitnah dari dua jenis orang ini sangat kita rasakan di sekitar kita.. orang yang bergelar profesor atau doktor, tapi banyak membawa pemikiran yang nyeleneh, dan kaum muslimin banyak terfitnah atau tertipu olehnya.

Begitu pula halnya dengan tokoh yang terkenal ibadahnya, tapi kurang dalam ilmu syariatnya.. kaum muslimin mengikutinya tanpa menanyakan dalil amalan yang dibawa, padahal amalan itu tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga tidak mendatangkan pahala.. atau bahkan membahayakan keamanan dan keutuhan negara.

Saudaraku seiman, sudah saatnya untuk selalu memegang teguh perkataan salah seorang ulama salaf: “Sungguh ilmu (syariat) ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian!”

Semoga Allah meneguhkan kita di atas jalan kebenaran.. dan melindungi kita dari fitnah dua orang di atas, amin.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da151216-2156

Fakta Sejarah Tentang Keyakinan Bahwa Allah Berada di Atas Arsy…

Imam Syafi’i (wafat 204 H) dan guru senior beliau Imam Malik (wafat 179 H), meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy.

Begitu pula Imam Abu Hanifah (wafat 150 H), Imam Ahmad (wafat 241 H), dan para Imam Ahlussunnah lainnya, semoga Allah merahmati mereka semua.

=====

Inilah fakta sejarah yang tidak mungkin dipungkiri oleh siapapun yang jujur dan obyektif.

Imam Syafi’i -rahimahullah- pernah mengatakan:

Makna firman Allah dalam kitab-Nya: MAN FIS SAMAA’ adalah: Dzat yang berada di atas langit, di atas Arsy, sebagaimana Dia firmankan: ‘Allah yang Maha Pengasih itu berada di atas Arsy’ (QS. Thaha: 5) … Maka, Allah itu di atas Arsy sebagaimana Dia kabarkan sendiri, tanpa perlu mempersoalkan bagaimananya … ‘Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya, Dia maha mendengar lagi maha melihat‘ (QS. Asy-Syuro: 42)”.

[lihat: Manaqibusy Syafi’i lil Baihaqi 1/397-398].

Perhatikanlah bagaimana Imam Syafi’i -rahimahullah- mengumpulkan dua ayat di atas… itu menunjukkan bahwa dua ayat itu saling melengkapi, dan tidak boleh dipertentangkan.

Kesimpulan dari dua ayat itu menurut Imam Syafi’i -rahimahullah- adalah, bahwa “Allah tidak sama dengan makhluk dalam keberadaan-Nya di atas Arsy“.

Inilah pemahaman yang harus kita teladani, bukan malah mempertentangkan dua ayat tersebut, dan mengatakan: karena Allah tidak sama dengan makhluk, maka Allah tidak berada di atas Arsy.

Inilah yang menjadikan Imam Syafi’i -rahimahullah- mengatakan: “tanpa mempersoalkan bagaimananya”, karena mempersoalkan hal itu akan menggiring seseorang untuk mempertentangkan dua ayat tersebut, lalu menafikan keberadaan Allah di atas Arsy-Nya.

Ini pula yang menjadikan Imam Malik -rahimahullah- membid’ahkan pertanyaan tentang ‘bagaimana’ keberadaan Allah di atas Arsy-Nya. [Lihat: Al-Asma was Sifat lil Baihaqi 2/360].

Karena memang hal itu tidak pernah dipersoalkan oleh para sahabat -radhiallahu anhum-, dan kita juga tidak akan tahu jawabannya bagaimanapun kita mengusahakannya… karena itu hal gaib, dan kita tidak boleh mengatakan satu huruf pun tentang itu, kecuali dari sumber yang maksum.

Contoh mudahnya: kita tahu ada kurma di surga… kita juga tahu bahwa nikmat di surga tidak sama dengan nikmat yang ada di dunia… Bolehkah kita mempersoalkan ‘BAGAIMANA‘ hakikat kurma itu ? Lalu setelah itu, kita mentakwilnya atau menafikannya ?… tentu tidak boleh.

Kita akan tetap mengatakan: bahwa ada kurma di surga, walaupun kita tidak tahu perincian detilnya, tapi yang jelas kurma itu jauh lebih baik dan lebih enak dari kurma yang ada di dunia.

Seperti inilah para ulama salaf memahami semua kabar ghaib, baik tentang Allah -jalla wa’ala-, malaikat, nikmat dan siksa kubur, timbangan amal, shirat, surga, neraka, dan hal-hal ghaib lainnya… karena mereka-reka hal itu tanpa sumber yang maksum akan menjatuhkan seseorang pada kesalahan.

Imam Abu Hanifah -rahimahullah- juga meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy, beliau mengatakan:

Orang yang tidak mengikrarkan bahwa Allah di atas Arsy, maka dia telah kufur, karena Allah ta’ala berfirman (yang artinya): ‘Allah yang Maha Pengasih itu berada di atas Arsy‘ (QS. Thaha: 5), dan Arsy-Nya di atas langit yang tujuh“. [Lihat: Kitabul ‘Arsy lidz Dzahabi 2/178].

Lihatlah bagaimana kerasnya pengingkaran beliau dalam masalah ini, karena beliau hidup di zaman yang tergolong masih awal dalam sejarah Islam, beliau lahir tahun 80 H, masih ada beberapa sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang hidup ketika itu, sehingga kesesatan dalam bidang akidah ketika itu masih tergolong sedikit… wajar bila ‘mengingkari keberadaan Allah di atas Arsy’ dianggap kufur ketika itu.

Adapun Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah-, maka beliau juga sama dengan imam-imam ahlussunnah sebelumnya dalam meyakini keberadaan Allah di atas Arsy-Nya.

Dalam bantahannya kepada kelompok Jahmiyah, beliau mengatakan: “Mengapa kalian mengingkari bahwa Allah berada di atas Arsy, padahal Dia sendiri telah mengatakan: ‘Allah yang Maha Pengasih itu berada di atas Arsy’ (QS. Thaha: 5)”. [lihat: Arradd alaz Zanadiqah, hal 287].

Beliau juga dengan tegas mengatakan: “Dia berada di atas Arsy, tapi pengetahuan-Nya meliputi apapun yang ada di bawah Arsy, tidak ada satupun tempat yang luput dari pengetahuan-Nya“. [Lihat: Arrad alaz Zanadiqah, hal 293].

Bahkan, inilah akidahnya seluruh ulama Ahlussunnah di masa awal-awal Islam, Imam Ibnu Abdil Barr -rahimahullah- (wafat 463 H) mengatakan:

Ahlussunnah telah ber-ijma’ (sepakat), dalam mengikrarkan dan mengimani semua sifat-sifat Allah yang datang dalam Alqur’an dan Assunnah.

Mereka memaknai sifat-sifat itu dengan makna hakiki, bukan dengan makna majazi, dan mereka tidak mem-bagaimana-kan satupun dari sifat-sifat itu. Mereka juga tidak membatasi Allah dengan sifat yang terbatas.

Adapun para ahli bid’ah, Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Khawarij: mereka semua mengingkari sifat-sifat itu, mereka tidak memaknainya dengan makna hakiki, bahkan beranggapan bahwa orang yang mengikrarkan sifat-sifat itu sebagai ‘MUSYABBIH‘ (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Sebaliknya, mereka di mata orang-orang yang menetapkan sifat-sifat itu adalah orang-orang yang meniadakan sesembahannya.

Dan kebenaran ada di pihak mereka yang mengatakan dengan apa yang dikatakan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, merekalah para imam (ahlussunnah wal) jama’ah, walhamdulillah”. [Lihat: Attamhid libni Abdil Barr 7/145].

Jadi, jika Anda merasa asing di zaman akhir ini, karena berpegang teguh dengan akidah ini, maka tidak perlu bersedih, karena sebenarnya Anda telah bersama seluruh ulama ahlussunnah waljama’ah di zaman awal Islam.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menafikan Allah Di Atas Arsy-Nya Bukan Akidah Ahlussunnah Waljama’ah…

MENAFIKAN ALLAH DI ATAS ARSY-NYA, BUKAN AKIDAH AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH… karena itu bertentangan dengan Alqur’an, Assunnah, Ijma’ Sahabat, dan fitrah alami manusia.

Apapun retorika yang dipakai… dan siapapun yang menjadi rujukan… jika itu menyelisihi Alqur’an, Assunnah, dan Ijma’ para sahabat = maka tetap saja harus ditinggalkan, karena itu kebatilan.

Sudah sangat tegas Allah berfirman (yang artinya):
Allah yang maha penyayang itu berada di atas Arsy” [QS. Thaha: 5].

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang sangat masyhur, juga sangat tegas menjelaskan bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- akhirnya di bawa ke atas menghadap Allah, untuk menerima syariat shalat lima waktu.
Dan ketika itu beliau melewati langit pertama hingga langit ketujuh, kemudian naik lagi hingga menemui Rabbnya -subhanahu wa ta’ala.. ini jelas menunjukkan bahwa Allah berada di atas makhluk-Nya, tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya.

Sahabat Ibnu Mas’ud -radhiallahu anhu- juga berkata:
Jarak antara langit dunia dengan langit setelahnya adalah jarak perjalanan 500 tahun, jarak antara setiap dua langitnya adalah 500 tahun, jarak antara langit ketujuh dengan Alkursi adalah 500 tahun, jarak antara Al-kursi dengan air adalah 500 tahun, dan Arsy di atas air itu, dan Allah -jalla dzikruhu- di atas Arsy, tapi Dia mengetahui apapun yang antum lakukan“.
[HR. At-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Kabir: 8987, sanadnya hasan].

Bahkan Ibnu Abdil Barr -rohimahulloh- (wafat 463 H) telah mengatakan, bahwa seluruh ulama dari generasi Sahabat dan Tabi’in mengatakan bahwa Allah itu di atas Arsy. [Lihat: Attamhid 7/138-139].

Jika Anda masih sulit menerima keterangan ini, cobalah merenung saat Anda berdo’a, mengapa tangan Anda menengadah ke atas ? Mengapa juga hati Anda menghadap ke atas ? bisakah Anda mengingkari fitrah ini.

Dan masih banyak lagi, dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas, berada di atas Arsy-Nya… TIDAK SEPANTASNYA ORANG YANG MENGAKU BERAKIDAH AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH MENOLAK KETERANGAN INI, HANYA KARENA AKALNYA TIDAK MAMPU MEMAHAMINYA DENGAN BAIK DENGAN BAIK dan dengan tetap mensucikan Allah dari menyerupai makhluk-Nya.

Harusnya kita menerima kabar langit yang bersanad shahih tersebut dengan apa adanya, memaknainya sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah ta’ala, dengan tanpa mentakwilnya, atau menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.

Seringkali orang menolak nash syariat, karena adanya kaidah yang dia anggap bertentangan dengan nash tersebut, contoh mudahnya: sebagian orang menolak ketentuan hukum waris dalam Alqur’an, karena membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan, hal itu dia anggap bertentangan dengan kaidah keadilan Allah.

Padahal sebenarnya “KEADILAN” itu tidak harus berarti persamaan, tapi keadilan adalah memberikan sesuatu sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masing-masing. Tentunya kebutuhan anak laki-laki jauh lebih banyak daripada kebutuhan anak perempuan.
(Anak laki-laki saat menikah harus memberikan mahar, sedang yang perempuan malah mendapatkan mahar… saat sudah menikah, anak laki-laki harus menafkahi isterinya, sedang anak perempuan, malah mendapatkan nafkah dari suaminya… saat ada yang terjatuh dalam pembunuhan secara tidak sengaja, saudara laki-laki harus menanggung diyat-nya, sedang yang perempuan tidak).

Hal ini juga terjadi dalam bab sifat-sifat Allah, sebagian orang menolak kabar tentang sebagian sifat Allah, karena dalam pandangan dia, hal itu tidak sesuai dengan kaidah bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya.

Padahal kriteria “TIDAK MENYERUPAI MAKHLUK” itu tidak berarti harus menafikan atau mentakwil sifat tersebut, tapi bisa juga dengan menetapkan sifat itu sesuai kemuliaan dan keagungan Allah, yang sangat jauh berbeda dengan makhluk-Nya… Dan inilah yang harusnya diambil oleh seorang hamba yang menjunjung tinggi Firman Allah dan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibnul Qoyyim -rahimahullah- telah menyebutkan perkataan yang pantas ditorehkan dengan tinta emas dalam hal ini, beliau mengatakan:
Adapun kita membuat suatu kaidah, dan kita katakan itulah hukum asalnya, kemudian kita menolak Assunnah (Hadits) karena alasan menyelisihi kaidah itu, maka demi Allah (ini tidak boleh sama sekali), sungguh merusak SERIBU kaidah yang tidak dibuat Allah dan Rasul-Nya lebih wajib bagi kita, daripada menolak SATU hadits“. [I’lamul Muwaqqi’in 2/252].

Dan jauh sebelum itu, Imam Syafi’i -rahimahullah- telah mengatakan:
Tidak boleh ada qiyas, bila sudah ada khabar“. [Ar-Risalah, hal: 599].. dan itu berarti: “Tidak boleh ada ijtihad, bila sudah ada nash yang menjelaskan”, karena qiyas dan ijtihad menurut beliau adalah dua kata yang satu makna. [Ar-Risalah, hal 477].

Sehingga bila sudah ada nash yang menjelaskan tentang dimana keberadaan Allah dan sifat-sifat Allah lainnya, maka tunduklah kepada nash-nash itu, dan buanglah semua ijtihad kita.. lalu nafikan semua konsekuensi batil yang berasal dari kepala kita yang lemah ini.

Karena nash yang haq, pasti punya konsekuensi yang haq, dan itulah yang harusnya diambil.

Bila Anda menemukan konsekuensi yang batil dari nash yang haq, maka yakinlah bahwa konsekuensi yang batil itu pasti dari akal Anda yang lemah, dan itulah yang harus Anda buang.

Nash yang haq tidak mungkin menunjukkan kebatilan bila dipahami dengan baik dan lurus.

Inilah manhaj ulama salaf kita, manhaj ahlussunnah waljama’ah dalam bab sifat-sifat Allah ta’ala. wallahu a’lam.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kegaduhan Itu Dari Mana Bermula..?

Jawabannya, biasanya datang dari orang yang ilmunya masih setengah-setengah, belum matang.

Imam Syaukani -rahimahullah- menukil perkataan seorang ulama di zamannya, “Ali bin Qaasim Hanasy” (wafat 1219 H):

“Manusia itu terbagi menjadi tiga tingkatan:

PERTAMA : Tingkatan atas, yaitu tingkatan para ulama besar, mereka adalah orang-orang yang mengetahui mana yang benar dan mana yang batil, meski mereka berbeda pendapat, tapi hal itu tidak menimbulkan fitnah (kegaduhan), karena mereka saling memahami antara satu dengan yang lainnya.

KEDUA : Tingkatan bawah, yaitu tingkatan orang-orang awam, yang masih di atas fitrahnya, mereka tidak benci kebenaran, mereka adalah pengikut orang-orang yang menjadi panutannya. Apabila panutannya benar, maka mereka pun demikian. Apabila panutannya dalam kebatilan, maka mereka juga seperti itu.

KETIGA : Tingkatan tengah, inilah tempat munculnya keburukan dan sumber fitnah dalam agama. Mereka ini tidak belajar ilmu dengan mendalam hingga sampai pada tingkatan pertama, mereka juga tidak meninggalkan ilmu hingga turun ke tingkatan bawah.

Mereka ini jika melihat orang yang berada di ‘tingkatan atas‘ mengatakan perkataan yang tidak mereka ketahui, perkataan yang menyelisihi apa yang mereka yakini, yang sebabnya adalah kekurangan mereka (dalam mendalami ilmu); mereka akan lepaskan panah-panah celaan, dan mereka menganggap perkataan (ulama) itu sangat buruk.

Di sisi lain, mereka juga merusak fitrah orang-orang yang berada di tingkatan bawah dari menerima kebenaran, dengan penjelasan-penjelasan batil yang menyesatkan.

Maka, ketika itulah fitnah-fitnah dalam agama ini muncul dengan kuat”.

Setelah menyebutkan perkataan ini, Imam Syaukani -rahimahullah- mengatakan: “Sungguh benar apa yang dia katakan, dan siapapun yang merenungi hal ini, ia akan mendapatinya seperti itu“.

[Sumber: Al-Badrut Thaali’, hal 511].

——-

Jika demikian adanya, maka harusnya setiap dari kita memahami posisi masing-masing, dan hendaknya setiap dari kita menjaga diri dan lisan, agar jangan sampai menzalimi orang lain.

Ingatlah selalu sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam-: “Seorang muslim (sejati) adalah orang yang kaum muslimin selamat dari (keburukan) tangan dan lisan dia“. [HR. Bukhari: 10, dan Muslim: 64].

Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Lupakan Celaannya, Lalu JAUHI Dia Dengan Cara Yang Baik…

Orang yang menerapkan kebenaran, apalagi yang mendakwahkannya dan ingin memperbaiki keadaan, tentu akan banyak menuai celaan dari manusia.

Dan itu adalah sunnatullah yang biasa dialami oleh para pembawa dan pejuang kebenaran.

Tapi ingatlah, Allah berkehendak demikian bukan untuk menghukum mereka yang baik, namun untuk memuliakan mereka dan memberikan banyak pahala.
Semakin berat cobaan yang mereka alami, tentu semakin besar PAHALA yang Allah berikan, dan semakin tinggi kedudukan yang mereka dapatkan.

Oleh karena itu, lupakanlah celaan mereka, dan ingatlah pahalaNya, lalu jauhilah para pencela itu dengan cara yang baik.

Ingatlah perintah Allah kepada Nabi Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam-, Sang Pejuang kebenaran:

وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا

Bersabarlah terhadap apapun yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik“. [Al-Muzzammil:10]

Ya… kita tidak hanya diperintah untuk bersabar, tapi juga diperintah menjauhi mereka.
Karena dengan itu hati kita akan terjaga, dan kita bisa terus berjalan untuk mendakwahkan kebenaran kepada yang lainnya, wallohua’lam.

Semoga kita bisa teguh dan istiqomah di atas jalan kebenaran, di atas Al Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para salafush shalih, amin.

Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da020715-1027

Bendera Dan Panji Perang Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam…

1. Sahabat Ibnu ‘Abbas -radhiallahu anhuma- mengatakan: “Dahulu raayah Rasulullah -shallallahu ‘alahi wasallam– (warnanya) hitam, sedang liwaa’ beliau (warnanya) putih“. [HR. Attirmidzi: 1681, dan yang lainnya, dinilai hasan oleh Syeikh Albani].

2. Para ulama berbeda pendapat tentang maksud dari kata “Arraayah” dan “Alliwaa‘”, dalam hadits tersebut, kesimpulannya:

a. ada yang mengatakan keduanya adalah dua kata yang bermakna sama = bendera… tidak ada perbedaan sama sekali antara keduanya.

b. ada yang mengatakan bahwa keduanya bermakna bendera, namun Arraayah ukurannya lebih besar, sedang Alliwaa’ ukurannya lebih kecil.

c. ada yang mengatakan sebaliknya, Alliwaa’ lebih besar daripada Arraayah… Alliwa’ = bendera besar yang menunjukkan tempat amir… sedang arraayah = bendera yang dibawa oleh pembawa bendera di medan perang.

d. ada yang mengatakan Arraayah bermakna bendera yang kainnya berkibar… sedangkan Alliwaa’ adalah kain yang ujung satunya dililitkan di pucuk atas tombak dan ujung yang lain dililitkan di bawahnya, sehingga tidak berkibar seperti berkibarnya bendera… inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Arabi -rahimahullah-.

[Silahkan merujuk ke kitab Fathul Bari (6/126), Umdatul Qaari (14/232), Tuhfatul Ahwadzi (5/266), dan yg lainnya]

3. Dari banyaknya pendapat di atas dan penjelasan lainnya, penulis lebih condong kepada pendapat yang mengatakan, bahwa kata “Arraayah” dan “Alliwaa‘” bisa bermakna sama, bila keduanya disebutkan secara terpisah.

Apabila dua kata itu disandingkan dalam satu redaksi sebagaimana dalam hadits di atas, maka makna Arraayah dan Alliwaa’ adalah sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Arobi -rahimahullah- di atas.

Karena pendapat inilah yang lebih dekat kepada asul-usul kata arrooyah (yang terlihat) dan kata alliwaa’ (yang dililitkan) dalam bahasa arab… ini juga yang lebih dekat kepada julukan orang arab untuk keduanya, arrooyah dijuluki sebagai “ummur harb” (puncak perang), sedang alliwaa’ dijuluki sebagai “ummur rumh” (puncak tombak).

Dari kesimpulan ini, mungkin terjemahan yang paling mendekati hakekat keduanya adalah, bahwa Arrooyah itu bendera, sedang Alliwaa’ itu panji. wallahu a’lam.

4. Tidak ada hadits yang shahih atau hasan tentang tulisan yang tertera dalam bendera perang Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ini. Ada hadits yang menjelaskan khusus tentang itu, namun lemah, sehingga tidak bisa dijadikan sandaran.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Attabarani dalam Al-Mu’jamul Ausath 1/77, hadits no: 219. Hadits itu hanya datang dari Hayyan bin Ubaidillah, padahal beliau dinilai ‘mudhtharib’ (goncang) dalam meriwayatkan hadits ini.

Yang perlu ditekankan di sini, bahwa lemahnya hadits ini bukan berarti kita tidak boleh menulis kalimat tauhid atau syahadatain dalam bendera… itu boleh saja dilakukan, atau bahkan dianjurkan karena mulianya kata itu… hanya saja kita tidak bisa memastikan bahwa dahulu bendera perang Nabi bertulisakan seperti itu, wallahu a’lam.

Sebaliknya, kita juga boleh menuliskan kalimat lain di bendera, asalkan tidak bertentangan dengan Islam, karena tidak adanya batasan dalam hal ini, sesuai hukum asalnya, wallahu a’lam.

5. Tidak benar, bahwa Arrayah adalah bendera perang, sedang Alliwa’ itu tulisan yang ada dalam bendera itu… sehingga tidak benar orang yang menyimpulkan dari hadits pertama di atas dengan kesimpulan bahwa bendera Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- itu berwarna dasar hitam, dan tulisannya berwarna putih.

Masalah bendera ini bukan masalah ibadah, sehingga pada asalnya dibolehkan, selama tidak ada dalil yang melarangnya.. oleh karenanya, sepanjang sejarah pun, kaum muslimin punya bendera yang berbeda-beda, begitu pula tulisan yang tertera dalam bendera tersebut, wallahu a’lam.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Dakwaan DUSTA..!!!

Hadits baru ada (dibukukan) 200 tahun setelah wafatnya Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ?!

=====

Inilah adalah dakwaan dusta, dan tak berdasar sama sekali.
Karena sejak Nabi -shallallahu alaihi wasallam- masih hidup, beliau telah memberikan izin kepada sebagian sahabatnya untuk menulis hadits.

Hal ini sebagaimana perkataan Sahabat Abu Hurairah -radhiallahu anhu-:

Tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi -shallallahu alahi wasallam- yang haditsnya lebih banyak daripada aku, kecuali Abdullah bin ‘Amr, karena dia dulu MENCATAT sedang aku tidak“. [HR. Bukhari: 113].

Dan masih banyak sahabat yang memiliki catatan hadits-hadts sebagaimana telah disebutkan oleh pakar hadits Al-Khatib dalam kitabnya “Taqyidul Ilmi” (membukukan ilmu).

Sahabat Anas bin Malik juga pernah takjub kepada sebuah hadits yang dia dengar, kemudian mengatakan kepada anaknya: “CATATLAH“, dan anaknya pun mencatatnya. [HR. Muslim: 54].

Seorang dari kalangan tabi’in Basyir bin Nahik -rahimahullah- pernah mengatakan: “Aku telah menulis dari Abu Hurairah sebuah KITAB, lalu ketika aku ingin berpisah dengannya aku mengatakan kepadanya: ‘wahai Abu Hurairah, sungguh aku telah menulis kitab darimu, bolehkah aku meriwayatkannya darimu?‘, maka dia mengatakan: ‘iya, riwayatkanlah itu dariku‘.”. [Atsar shahih riwayat Alkhatib dalam Taqyidul Ilmi: 203, dan yang lainnya].

Bahkan Imam Bukhari -rahimahullah- mengatakan dalam shahihnya:

Umar bin Abdul Aziz (w 101 H) telah mengirimkan surat perintah kepada Abu Bakar bin Hazm (yang isinya): lihatlah hadits-hadits Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- dan bukukanlah, karena aku khawatir dengan hilangnya ilmu dan perginya para ulama“. [Shahih Bukhari 1/31].

Dan masih banyak nukilan-nukilan kabar tentang pembukuan hadits Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, dan itu telah dimulai sejak beliau masih hidup, bukan 200 tahun setelah beliau wafat.

Ingatlah hadits-hadits Nabi telah Allah jaga kemurniannya, sebagaimana kemurnian Al Qur’an.. karena Allah memang ingin menjaga kemurnian agamanya hingga hari akhir.. dan itu tidak akan terwujud kecuali dengan menjaga kemurnian keduanya yang merupakan sumber utama agama ini.

Oleh karenanya, jangan dengarkan ocehan orang-orang yang meragukan keduanya atau salah satunya… jika ada hadits-hadits yang lemah dan palsu, bukan berarti semuanya juga demikian… karena para ulama sudah menjelaskan dengan sangat detail, mana hadits yang shahih dan mana hadits yang lemah.

Justru itulah bukti penjagaan Allah terhadap hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam agar tetap murni, meski banyak yang ingin menyusupkan hadits lemah dan palsu, ternyata Allah bukakan tabirnya, melalui para pakar hadits di sepanjang zaman, wallahu a’lam.

Silahkan dishare… Semoga bermanfaat…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى