Category Archives: Najmi Umar Bakkar

Saudaraku, Sudah Benarkah Taubatmu..?

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا…

Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya…” (QS. At-Tahrim [66]: 8)

Agar taubat diterima oleh Allah Ta’ala, maka seseorang harus memenuhi 8 syarat, yaitu :

(1). Menyesali dosa yang telah dilakukan, sehingga tidak ingin mengulanginya kembali.

(2). Memohon ampunan kepada Allah Ta’ala atas dosa-dosa yang telah dilakukan.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui” (QS. Ali Imran [3]: 135)

(3). Berniat dan bertekad untuk tidak lagi mengulangi perbuatan dosa.

(4). Meminta maaf kepada orang yang pernah di zhalimi atau disakiti, serta mengembalikan barang orang lain yang pernah diambil.

(5). Taubat dilakukan pada waktu masih terbukanya peluang untuk diterimanya taubat, yaitu sebelum ruh sampai di kerongkongan, atau sebelum matahari terbit dari arah barat, atau sebelum datangnya adzab sebagai balasan dari Allah Ta’ala.

(6). Memperbanyak amal shalih setelah bertaubat.

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

“Dan barangsiapa yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya” (QS. Al-Furqan [25]: 71)

(7). Taubat dilakukan dengan ikhlas, bukan karena makhluk atau untuk tujuan duniawi.

(8). Seseorang yang bertindak sebagai penyeru kepada kesesatan, maka harus mengumumkan taubatnya dan menjelaskan kesalahannya.

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kecuali mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan dan (juga) menjelaskan (kebenaran), maka mereka itulah yang Aku terima taubatnya, dan Akulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Baqarah [2]: 160)

Laksanakanlah 8 syarat diterimanya taubat di atas.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak punya dosa” (HR. Ibnu Majah dan ath-Thabrani, hadits dari Ibnu Mas’ud, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3145)

Barangsiapa melakukan kebaikan pada usia yang masih tersisa, maka diampuni dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa melakukan keburukan pada usia yang masih tersisa, maka dia akan disiksa karena dosa masa lalunya dan pada usia yang tersisa” (HR. Ath-Thabrani, hadits dari Abu Dzar, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3156)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

Barangsiapa yang malu kepada Allah di saat dia hendak bermaksiat kepada-Nya, maka Allah pun malu untuk mengadzabnya di saat dia berjumpa dengan Allah. Dan barangsiapa yang tidak malu bermaksiat kepada-Nya, maka Allah pun tidak akan malu untuk mengadzabnya” (Al-Jawabul Kaafi hal 170)

Bertaubatlah, apa lagi yang kau tunggu…?

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Hakikat Kebodohan…

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوٓءَ بِجَهٰلَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولٰٓئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya bertobat kepada Allah itu hanya (pantas) bagi mereka yang melakukan kejahatan karena tidak mengerti, kemudian segera bertobat. Tobat mereka itulah yang diterima Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 17)

Penjelasan Ayat Di Atas : 

Setiap orang yang melakukan kemaksiatan adalah orang yang pada hakikatnya bodoh, hingga ia meninggalkan kemaksiatan tersebut.

Dan kebodohan yang disebutkan dalam ayat ini yang menjangkiti pelaku kemaksiatan bukanlah kebodohan atau ketidaktahuan akan hukum kemaksiatan yang ia lakukan. Karena jika seseorang tidak mengetahui bahwa perbuatan yang dilakukannya tersebut merupakan kemaksiatan maka tentunya ia tidak akan dihukumi oleh Allah. Akan tetapi yang dimaksud dengan kebodohan di dalam ayat ini adalah kebodohan yang hakiki.

Hakekat kebodohannya –sebagaimana keterangan para ulama- bisa ditinjau dari beberapa sisi, diantaranya :

Tatkala bermaksiat sesungguhnya ia bodoh bahwasanya Allah sedang melihatnya, dan sedang mengawasinya, dan mencatat seluruh perbuatan maksiatnya tersebut

Ia bodoh akan akibat buruk yang timbul dari perbuatan maksiatnya tersebut, di antaranya berkurangnya imannya atau bisa jadi menyebabkan hilangnya keimanannya

Ia bodoh bahwasanya perbuatannya tersebut menyebabkan kemurkaan Allah

Ia bodoh bahwasanya perbuatannya tersebut bisa menyebabkan siksaan yang pedih di akhirat kelak (lihat penjelasan Syaikh As-Sa’di dalam Tafsirnya hal 171)

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

 

Apa Itu Manhaj Muwazanah..?

Manhaj Muwazanah adalah memperingatkan manusia dari penyimpangan seseorang atau kelompok bid’ah tetapi dengan menyebutkan juga kebaikan mereka, dan cara seperti ini TIDAK DIBENARKAN.

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhohullah berkata :

“Jika engkau menyebut kebaikan mereka berarti engkau mengajak (manusia) kepada mereka, tidak ; jangan engkau sebut kebaikan mereka ! Tetapi sebutkan kesalahan mereka saja, karena tugasmu bukanlah untuk mempelajari keadaan mereka dan menilainya… tetapi tugasmu adalah menyebutkan kesalahan yang ada pada mereka agar mereka bertaubat darinya, dan agar selain mereka menjauhi kesalahan itu. Demikian juga kesalahan yang ada pada mereka bisa jadi menghilangkan kebaikan mereka semuanya jika kesalahan itu berupa kekufuran atau kesyirikan, bisa jadi mengalahkan kebaikan mereka, dan bisa jadi itu adalah kebaikan menurut pandanganmu padahal sebenarnya bukanlah kebaikan di sisi Allah”

(Ajwibah Mufidah ‘An As’Ilatil Manahijil Jadidah hal 13-14)

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Teruslah Belajar Wahai Saudaraku…

Alhamdulillah dakwah Sunnah mulai menyebar dimana mana, dan mulai banyak pula bermunculan da’i-da’i Sunnah di atas manhaj Salaf.

Tetapi ada yang benar-benar da’i Sunnah, dan ada juga da’i-da’i yang baru rujuk ke manhaj ini yang akhirnya saat mengisi kajian, pemahaman yang dia sampaikan masih campur sari, dan yang seperti ini tidak sedikit, yang menyusup ke dalam barisan da’i Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Akhirnya terjadilah benturan-benturan diantara para tholibul ilmi, yang terkadang permasalahan itu sudah jelas dan sudah baku dalam pokok manhaj Ahlus Sunnah, tapi diantara mereka masih ada yang belum tahu.

Maka inilah zaman yang penuh dengan fitnah, karena ternyata tidak semua ulama dan ustadz itu berada diatas Sunnah dan manhaj Salaf.

Saudaraku, tolak ukur yang di lihat bukannya sekedar lembaga ini dan itu, ustadz ini dan itu, dosen ini dan itu, tetapi lihatlah apakah mereka memang benar-benar ulama dan ustadz Sunnah di atas manhaj Salaf ?

Begitu banyak ustadz atau individu yang mengaku mengikuti Sunnah dan manhaj Salaf, tetapi dalam lisan, tulisan dan perbuatan tidak semuanya terbukti.

Hendaknya penilaian kita itu bukan hanya karena mereka memulai kajian dengan menyebut innal hamda lillah, adanya jenggot, tidak isbal, adanya gelar lc dll, bicara tentang sunnah dan bid’ah atau mereka mengaku sendiri mengikuti manhaj Salaf dll, atau karena merasa pernah duduk di kajiannya 1 atau 2 kali sehingga dengan mudahnya lalu berkata bahwa ustadz ini telah mengikuti Sunnah dan manhaj Salaf.

Adapun para jamaah umumnya awam, hanya sekedar berkata bagus cara penyampaiannya, lembut atau ceramahnya banyak di you tobe atau banyak yang hadir di taklimnya atau ada yang berkata bahwa da’i itu juga pakai dalil al-Qur’an dan al-Hadits dll.

Saudaraku, yang jadi masalah bukan hanya sekedar da’i itu memakai dalil al-Qur’an dan al-Hadits, tetapi kita juga harus tahu “Bagaimana ia memahami dalil itu”, dan harus dikembalikan kepada Rasul, para Sahabat, para Tabi’in dan ulama-ulama setelahnya dalam memahamiya.

Jika tidak tahu atau masih ragu, maka tanyakanlah kepada para ustadz Sunnah yang lebih senior untuk mengetahui siapa mereka dan apa manhajnya ? Karena biasanya yang tahu apa saja syubhat yang masih ada pada ustadz itu adalah para ustadz juga. Karena terkadang umat ini tidak berilmu sehingga tidak mengetahui.

Seandainya syubhat dalam memahami Islam, Sunnah dan manhaj Salaf masih ada pada ustadz itu, dan ia pun sudah dinasihati tetapi tetap belum juga mau rujuk darinya maka jelas ini berbahaya.

Adakah yang lebih berbahaya dari salah dalam memahami Islam dan menempuh manhaj Salaf ?

Sebenarnya ustadz Sunnah yang mengikuti manhaj Salaf dengan benar itu banyak, tetapi zaman ini penuh dengan fitnah, sehingga banyak ikhwan dan akhawat yang tergelincir dalam memahami Sunnah dan manhaj Salaf yang sebenarnya.

Jika terjadi saling tahdzir antara satu ustadz dengan ustadz lain atau satu ulama dengan ulama lain, padahal mereka sama sama mengusung manhaj salaf, maka yang harus dilakukan oleh seorang penuntut ilmu dalam menyikapi fenomena tersebut adalah tetap menuntut ilmu.

Bisa jadi mereka benar-benar sama dalam manhaj salaf lalu terjadi perbedaan pendapat yang bisa saja terjadi sebagai manusia, maka hendaknya penuntut ilmu hanya menyibukkan dirinya dalam belajar dan selalu sabar dalam menuntut ilmu dan jangan ikut-ikutan mentahdzir atau mencela.

Atau bisa jadi sebenarnya salah satu dari mereka tidaklah mengusung manhaj salaf, tetapi terlihat oleh orang awam seakan-akan sama manhajnya. Jika demikian maka tinggalkanlah mereka yang menyelisihi manhaj salaf itu.

Maka dari itu, janganlah ikhwan dan akhawat selalu bermudah-mudah dalam menyebarkan info dan ilmu dari para da’i yang manhajnya masih menyimpang, dan itu adalah perkara yang tidak diperbolehkan.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufik kepada pemahaman serta pengamalan Islam dan Sunnah yang benar di atas manhaj Salaf…

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Saudaraku, Sembunyikan Amalmu…

Janganlah menceritakan kepada orang lain amal yang telah dilakukan, karena khawatir bisa membahayakan niat yang ada pada hati…

Siapakah yang bisa menjamin bahwa kita pasti akan terjaga niatnya ketika selesai menceritakan amal kepada orang lain ?

Dan itu bukanlah contoh dari perilaku orang-orang yang shalih. Bacalah kisah dibawah ini :

(1). Abdullah bin ‘Amru menceritakan hadits kepada Ibnu ‘Umar, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya kepada manusia, niscaya Allah akan perdengarkan amal tersebut kepada makhluk-Nya yang dapat mendengar. Dan Allah pun akan merendahkan dan meremehkannya”. Laki-laki itu berkata : “(Mendengar itu), menangislah mata ‘Abdullah (bin ‘Umar)” (Diriwayatkan oleh Ahmad II/195)

(2). Nu’aim bin Hammad menuturkan bahwa ia pernah mendengar Ibnul Mubarak berkata : “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih tinggi derajatnya dari pada Malik. Dia tidak banyak memiliki shalat dan puasa, namun dia memiliki banyak amal yang disembunyikan dan dirahasiakan” (Nuzhatul Fudhala’ II hal 621).

(3). Abu Bakar al-Marwazi berkata : “Suatu hari Ahmad bin Hambal menyebut-nyebut tentang Ibnul Mubarak dan ia berkata : “Allah tidak meninggikan derajatnya melainkan karena kerahasiaan yang dimilikinya” (Shifatus Shafwah IV hal 104).

(4). Yahya bin Ma’in berkata : “Aku tidak melihat orang seperti Ahmad bin Hambal. Aku menemaninya selama 50 tahun, dan ia tidak menyebutkan sedikitpun pada kami kebaikan yang ia lakukan”

(5). Semasa hidup Imam al-Mawardi, tidak ada satu pun karyanya yang dikeluarkan. Ia menulis karya dengan menghabiskan umurnya, berjaga pada malam hari dan tidak tidur, namun setelah semuanya rampung, dia inginkan agar buku-buku itu dilempar ke sungai Dajlah, karena dia takut riya’.

Dia berkata kepada seseorang :

“Jika aku dalam keadaan sakaratul maut, peganglah tanganku. Jika aku menggenggam tanganmu, maka ketahuilah ini berarti tidak ada satu pun karyaku yang diterima-Nya. Jika demikian, ambillah seluruh karyaku dan lemparkan semuanya ke sungai Dajlah pada malam hari.

Jika aku membentangkan telapak tanganku dan tidak menggenggam tanganmu saat mati, maka ketahuilah bahwa karyaku diterima, sebab aku mendapatkan niat ikhlas yang kuharapkan.

Ternyata dia membentangkan telapak tangnnya dan tidak menggenggam tanganku. Aku pun tahu, ini tanda diterima amalnya. Sehingga setelah itu aku pun mengedarkan buku-buku hasil karyanya” (Siyar A’laamin Nubalaa’ oleh Imam adz-Dzahabi 18/66-67).

Mereka para imam saja seperti itu, khawatir amalnya tidak ikhlas sehingga lebih suka menyembunyikan amal kebaikannya. Lalu bagaimana dengan orang yang baru belajar dan mengamalkan Islam, kemudian merasa yakin akan selamat dari bisikan syaitan seperti riya, sum’ah dan ujub ?

Orang yang ikhlas adalah orang yang berusaha menyembunyikan berbagai macam kebaikannya, seperti ia menyembunyikan berbagai macam kejelekannya.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Perkara Yang Bukan Termasuk Manhaj Salaf…

Asy-Syaikh Prof. DR. Muhammad bin Umar Bazmuul hafizhahullah berkata :

ليس من منهج السلف العمل قبل العلم، إنما كانوا يبدأون بالعلم قبل العمل، قال تعالى: فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك وللمؤمنين) محمد19

(1). Bukan termasuk manhaj salaf, beramal sebelum berilmu. Dahulu salaf memulai dengan ilmu sebelum beramal. Allah Ta’ala berfirman : “Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang haq) selain Allah, dan meminta ampunlah atas dosamu dan juga kaum mukminin” [QS. Muhammad: 19]

ليس من منهج السلف : ترك العمل بالعلم، فقد ورد: “هتف العلم بالعمل فإن أجابه وإلا ارتحل

(2). Bukan termasuk manhaj salaf, meninggalkan amal setelah berilmu. Disebutkan dalam sebuah riwayat : “Ilmu memanggil amal, apabila amal memenuhi panggilannya (maka ilmu akan tetap bersamanya), namun jika sebaliknya, maka ilmu akan pergi meninggalkannya”

ليس من منهج السلف أن يشتغل الطالب بأي شيء قبل القرآن والحديث، فإذا تفقه وتعلم ما يحتاجه لدينه طلب ما يريده بعد ذلك

(3). Bukan termasuk manhaj salaf, menyibukkan diri dengan sesuatu sebelum (menghafal dan mempelajari) al-Qur’an dan hadits. Apabila seorang telah mempelajari ilmu yang ia butuhkan untuk agamanya, silahkan ia mempelajari ilmu yang ia inginkan.

ليس من منهج السلف الأخذ عن أي أحد إلا بعد النظر في حاله مع السنة. فكان يقال: “إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم”.

(4). Bukan termasuk manhaj salaf, mengambil (ilmu) dari setiap manusia kecuali setelah mengamati keadaannya apakah ia di atas sunnah. Dahulu dikatakan sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah kepada siapa kalian mengambil agama kalian.

ليس من منهج السلف ترك طلب العلم الواجب، وإهمال طلب العلم المستحب

(5). Bukan termasuk manhaj salaf, meninggalkan thalabul ilmi yang sifatnya wajib, serta meremehkan thalabul ilmi yang sifatnya sunnah.

ليس من منهج السلف الاهتمام بالعلوم العقلية البحتة، إنما علمهم قال الله قال رسوله قال الصحابة

(6). Bukan termasuk manhaj salaf, lebih mementingkan ilmu-ilmu yang hanya bersandar pada akal. Ilmu salaf tidak lain adalah perkataan Allah dan Rasul-Nya, serta perkataan sahabat.

ليس من منهج السلف ترك الاحتجاج بحديث الآحاد في العقائد

(7). Bukan termasuk manhaj salaf, tidak mau berhujjah dengan hadits ahad dalam permasalahan aqidah.

ليس من منهج السلف حصر افادة العلم في الحديث المتواتر

(8). Bukan termasuk manhaj salaf, membatasi ilmu hanya diambil dari hadits mutawatir.

ليس من منهج السلف رد الحديث إذا لم تبلغه العقول والاعتراض عليه، بل منهجهم الاتباع والتسليم، لآمنا به كل من عند ربنا

(9). Bukan termasuk manhaj salaf, menolak dan mengkritik hadits apabila tidak masuk akal. Bahkan manhaj salaf adalah mengikuti, menerima dan beriman dengan hadits, serta seluruh apa yang datang dari Rabb kita.

ليس من منهج السلف التحزب والتحالف والإجتماع سراً دون الناس ؛ فقد ورد : “إذا رأيت من يجتمع في المسجد من دون الناس فاعلم أنهم على ضلالة

(10). Bukan termasuk manhaj salaf, membuat kelompok-kelompok, persekutuan dan perkumpulan yang tersembunyi dari manusia. Diriwayatkan dari salaf : “Apabila engkau melihat orang-orang berkumpul di masjid secara sembunyi-sembunyi, maka ketahuilah bahwa mereka berada di atas kesesatan.

ليس من منهج السلف الابتداع والاختراع. وشعارهم : اتبعوا و لا تبتدعوا فقد كفيتم، وعليكم بالأمر العتيق

(11). Bukan termasuk manhaj salaf, mengada-adakan kebid’ahan dan perkara-perkara baru (dalam agama). Syiar salaf adalah “Ikutilah, janganlah kalian berbuat bid’ah, sungguh kalian telah dicukupkan. Berpegang teguhlah dengan perintah Nabi”

ليس من منهج السلف ترك الاقتداء والاتباع للرسول عليه الصلاة والسلام

(12). Bukan termasuk manhaj salaf, tidak mau mencontoh dan mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

ليس من منهج السلف الغلو في الرسول صلى الله عليه ، ومساواته بالله تعالى

(13). Bukan termasuk manhaj salaf, bersikap ghuluw kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyamakan kedudukan Rasul dengan Allah Ta’ala.

ليس من منهج السلف : ترك الاتباع لما كان عليه الصحابة، واختراع معاني يخرج بها عما في الشرع

(14). Bukan termasuk manhaj salaf, tidak mau mengikuti jalan para sahabat, dan membuat kaidah-kaidah baru yang menyelisihi syariat.

ليس من منهج السلف الطعن في الصحابة أو أحد منهم

(15). Bukan termasuk manhaj salaf, mencela para sahabat nabi atau mencela salah seorang dari sahabat Nabi.

ليس من منهج السلف تهييج الناس على الحكام وتحريضهم على الخروج أو المظاهرات أو الثورات. أو الانتقاد العلني لهم ولوزرائهم أو عمالهم

(16). Bukan termasuk manhaj salaf, memprovokasi manusia untuk melawan pemerintah dan menghasung mereka untuk keluar dari ketaatan baik berupa demonstrasi, pemberontakan maupun menyampaikan kritikan terbuka kepada pemerintah dan jajarannya terkait kesalahan-kesalahan mereka.

ليس من منهج السلف السكوت عن النصيحة لله ولرسوله ولكتابه ولأئمة المسلمين وعامتهم

(17). Bukan termasuk manhaj salaf, diam dan enggan memberikan nasihat karena Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, serta nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin dan manusia pada umumnya.

ليس من منهج السلف إحداث بيعة لغير الإمام المتولي شأن المسلمين وجماعتهم

(18). Bukan termasuk manhaj salaf, melakukan bai’at kepada selain pemimpin yang menguasai urusan kaum muslimin.

ليس من منهج السلف إهمال الكلام في توحيد الله تعالى وتقرير ذلك في النفوس، فإنه الأساس الذي يقوم عليه بناء الإسلام في كل أحد

(19). Bukan termasuk manhaj salaf, meremehkan pembahasan tauhid dan tidak menanamkannya dalam jiwa, karena tauhid merupakan pokok agama setiap manusia yang Islam dibangun di atasnya.

ليس من منهج السلف أن يكون موضوع الدعوة الأساس توزيع الثروات ولو باسم الاصلاح الاثتصادي، و لا العمل السياسي ولو باسم الإصلاح السياسي

(20). Bukan termasuk manhaj salaf, memprioritaskan dakwah dengan menyebarkan kekacauan meskipun dengan alasan perbaikan ekonomi, demikian pula terjun dalam politik meskipun dengan alasan memperbaiki politik.

ليس من منهج السلف : الاشتغال بما لا نفع فيه في الآخرة

(21). Bukan termasuk manhaj salaf, menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat.

ليس من منهج السلف الركون إلى الدنيا وترك العمل للآخرة

(22). Bukan termasuk manhaj salaf, merasa puas dengan kehidupan dunia dan meninggalkan beramal untuk akhirat.

ليس من منهج السلف الإكثار من الكلام والحديث، إنما كانوا يقولون: من كثر كلامه كثر سقطه. ويسكتون حتى يظن أن بهم عي وما بهم ذلك إنما خوف الله

(23). Bukan termasuk manhaj salaf, banyak berbicara dan bercakap-cakap. Dahulu salaf menyatakan barangsiapa yang banyak bicara, maka akan banyak kesalahannya. Mereka diam hingga orang-orang mengira bahwa ia memiliki cacat. Tidaklah mereka melakukan demikian melainkan karena takut kepada Allah.

ليس من منهج السلف الاستعلاء على الخلق، فهم دعاة خير، ورفق ورحمة

(24). Bukan termasuk manhaj salaf, menyombongkan diri terhadap makhluk. Salaf adalah para da’i yang menyeru kepada kebaikan, bersikap lembut lagi penyayang.

ليس من منهج السلف طلب الشهرة، والارتفاع على الناس، فإن حب الظهور يقصم الظهور، وإذا تسود الحدث فاته خير كثير

(25). Bukan termasuk manhaj salaf, mencari ketenaran dan kedudukan tinggi di tengah manusia, karena cinta ketenaran akan mematahkan punggung. Apabila seorang telah ditokohkan (sebelum waktunya), maka akan terluput darinya kebaikan yang banyak (maksudnya ia kehilangan kesempatan menuntut ilmu)

ليس من منهج السلف، الدخول في الكلام والجدال بل يستفرغون وسعهم في التفقه في الكتاب والسنة والعمل بهما والدعوة اليهما

(26). Bukan termasuk manhaj salaf, masuk dalam perdebatan dan perkataan yang sia-sia, bahkan salaf memfokuskan waktu mereka untuk mempelajari al-Qur’an dan as-Sunnah, mengamalkan keduanya dan mendakwahkannya.

ليس من منهج السلف : الخروج بدلالات النصوص عن أصول العربية وفهم السلف الصالح

(27). Bukan termasuk manhaj salaf, tidak memahami nash-nash syariat berdasarkan pokok bahasa arab dan pemahaman salaf yang shalih.

ليس من منهج السلف : الكلام بالمجملات وترك التفصيل والبيان

(28). Bukan termasuk manhaj salaf, membahas sesuatu secara global, tanpa merinci dan memberikan penjelasan.

ليس منهج السلف الاستدلال بكل آية أو حديث، حتى تكون الآية محكمة والحديث سنة متبعة

(29). Bukan termasuk manhaj salaf, berdalil dengan setiap ayat dan hadits hingga diketahui bahwa ayat tersebut muhkam dan hadits tersebut merupakan sunnah yang diikuti.

ليس من منهج السلف وضع القواعد والضوابط بالرأي، وإنما كان سبيلهم تتبع ألفاظ القرآن والسنة . فلايغادر في الفتوى الآية أو الحديث ما امكنه

(30). Bukan termasuk manhaj salaf, membuat kaidah-kaidah dan aturan agama berdasarkan akal. Jalan salaf adalah mengkaji lafazh-lafazh al-Qur’an dan as-Sunnah. Tidak tergesa-gesa dalam berfatwa terkait dengan ayat atau hadits sebisa mungkin.

ليس من منهج السلف التعصب للرأي والاعتداد به، فكان قائلهم يقول: ما أنا عليه صواب يحتمل الخطأ، وما مخالفي عليه خطأ يحتمل الصواب

(31). Bukan termasuk manhaj salaf, bersikap ta’ashub dan ghuluw terhadap suatu pendapat. Salaf menyatakan : “Pendapat yang aku yakini benar, tapi ada kemungkinan salah, sedangkan pendapat orang yang menyelisihiku salah, tapi ada kemungkinan benar”

ليس من منهج السلف المعاداة لمجرد وقوع اختلاف، فكانوا يفرقون في ذلك بحسب حال الرجل وواقع المسألة، فالاختلاف مع صفاء النية لا يفسد للود قضية

(32). Bukan termasuk manhaj salaf, melakukan permusuhan hanya disebabkan oleh perselisihan. Salaf membedakan suatu perselisihan bergantung dengan keadaan seseorang dan permasalahan yang terjadi. Perselisihan yang dibarengi dengan niat yang bersih, tidak akan merusak kecintaan dan persaudaraan di antara mereka.

ليس من منهج السلف حصر الدين في مسألة فمن وافقني عليها هو سلفي ومن خالفني فيها فهو غير سلفي. فالسلفية منهج وليست مسألة

(33). Bukan termasuk manhaj salaf, membatasi agama ini hanya dalam permasalahan tertentu, barangsiapa yang sejalan denganku dalam permasalahan tersebut, maka ia salafy, dan barangsiapa yang menyelisihiku dalam permasalahan tersebut, maka ia bukan salafy. As-Salafiyyah adalah manhaj, bukan permasalahan tertentu.

ليس من منهج السلف التقليد والتعصب بدون دليل

(34). Bukan termasuk manhaj salaf, bersikap taklid (mengikuti pendapat seseorang tanpa dalil) dan ta’ashub (fanatisme) tanpa disertai dalil.

ليس من منهج السلف تكفير الناس إلا بما ورد أنه كفر في الشرع

(35). Bukan termasuk manhaj salaf, (bermudah-mudahan) dalam mengkafirkan manusia, kecuali yang ditunjukkan oleh syariat bahwa hal itu adalah penyebab kekufuran.

ليس من منهج السلف الحكم على المعين بالكفر قبل إقامة الحجة بثبوت الشروط وانتفاء الموانع

(36). Bukan termasuk manhaj salaf, memvonis kafir seseorang sebelum menegakkan hujjah dengan terpenuhinya syarat-syarat dan ketiadaan penghalang-penghalangnya.

ليس من منهج السلف الحكم على المعين ببدعته إلا بعد إقامة الحجة، بثبوت الشروط وانتفاء الموانع

(37). Bukan termasuk manhaj salaf, memvonis (mubtadi’) seseorang karena kebid’ahan yang ia lakukan, kecuali setelah ditegakkan hujjah dengan terpenuhinya syarat-syarat dan ketiadaan penghalang-penghalangnya.

ليس من منهج السلف العذر بمطلق الجهل، إنما يعذرون بالجهل من بذل وسعه في التعلم وطلب العلم و لم يقصر وكان الذي صدر منه هو مبلغه من العلم

(38). Bukan termasuk manhaj salaf, memberikan udzur jahl (kebodohan) secara mutlak, seorang diberikan udzur jahl hanyalah ketika ia telah berupaya untuk belajar dan menuntut ilmu, serta bersungguh-sungguh dalam mendapatkannya. Dan penyelisihan yang ia lakukan berdasarkan kadar ilmu yang sampai kepadanya.

ليس من منهج السلف إعطاء العصمة لأحد غير رسول الله صلى الله عليه وسلم

(39). Bukan termasuk manhaj salaf, memberikan sifat ma’shum kepada seseorang selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

ليس من منهج السلف : ترك الرجوع للعلماء، بل كانوا يدعون الناس إلى مجالسة العلماء، ولزوم غرسهم

(40). Bukan termasuk manhaj salaf, enggan untuk kembali kepada ulama, bahkan dahulu salaf menyeru manusia untuk duduk kepada ulama dan terus menapaki langkah mereka.

ليس من منهج السلف : إعمال التعديل مع وجود الجرح المفسر إلا إذا ذكره المعدل ورده بعلم

(41). Bukan termasuk manhaj salaf, mendahulukan ta’dil (pujian) saat terdapat jarh (kritikan) yang terperinci, kecuali apabila ulama yang men-ta’dil menyebutkan sebab jarh, kemudian menolak jarh tersebut dengan ilmu.

ليس من منهج السلف : إعمال الجرح المجمل في حق من ثبتت عدالته، إلا إذا فسر، أو صدر من إمام كبير، فالنفس أميل إليه

(42). Bukan termasuk manhaj salaf, mendahulukan jarh yang masih global terhadap orang-orang yang telah nampak keadilannya, kecuali apabila jarh tersebut dirinci atau berasal dari seorang imam (ulama besar ahlus-sunnah), maka jiwa ini akan condong kepadanya.

ليس من منهج السلف أن يعرف الحق بالرجال، فكل ما جاء عن فلان فهو حق، بل شعارهم أعرف الحق تعرف أهله، أعرف الحق تكن من أهله

(43). Bukan termasuk manhaj salaf, mengukur kebenaran dengan seseorang yaitu setiap apa yang datang dari fulan, maka itulah kebenaran. Bahkan syiar salaf adalah kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenal orang-orang yang berada di atasnya, dan kenalilah kebenaran, niscaya engkau termasuk ahlinya.

ليس من منهج السلف رد خبر الثقة، وعدم قبوله إلا مسموعاً أو مقروءا

(44). Bukan termasuk manhaj salaf, menolak khabar tsiqah, tidak mau menerimanya kecuali apabila khabar tersebut berupa rekaman suara atau tulisan.

ليس من منهج السلف أن يخوض كل طالب علم في الجرح والتعديل،فإن لكل فن رجاله فكما لا يؤخذ العلم عن كل أحد فإنه لا يتكلم في الجرح والتعديل أي أحد

(45). Bukan termasuk manhaj salaf, setiap penuntut ilmu berdalam-dalam dalam permasalahan jarh wat ta’dil, karena setiap cabang ilmu terdapat ahlinya, sebagaimana ilmu tidak diambil dari setiap orang, demikian pula setiap orang tidak berhak berbicara dalam permasalahan jarh wat ta’dil.

ليس من منهج السلف معاملة أخطاء أهل السنة كمعاملة أهل البدع. فإن كل
ابن آدم خطاء، فينظر في منهج الرجل ويعامل الخطأ الذي وقع منه على أساس ذلك

(46). Bukan termasuk manhaj salaf, menyikapi kesalahan-kesalahan seorang ahlus-sunnah seperti menyikapi kesalahan ahlul-bid’ah, karena setiap anak Adam pasti memiliki kesalahan. (Apabila seorang ahlus-sunnah terjatuh dalam kesalahan), maka manhajnya dilihat, kesalahan tersebut disikapi sesuai dengan manhajnya.

ليس من منهج السلف الهجوم على العلماء والكلام فيهم واطراح علمهم وكتبهم والدعوة إلى حرقها وإتلافها وتارك الرجوع إليها لمجرد خطأ وقعوا فيه

(47). Bukan termasuk manhaj salaf, memusuhi, melawan, membicarakan ulama, serta membuang ilmu dan kitab-kitab mereka. Demikian pula menyerukan untuk membakar kitab-kitab mereka, merusaknya dan tidak mengambil ilmu dari ulama hanya karena mereka terjatuh dalam kesalahan.

ليس من منهج السلف : الركون إلى أهل البدع، والتبسط إليهم

(48). Bukan termasuk manhaj salaf, bergaul bersama ahlul-bid’ah dan melapangkan majelis untuk mereka.

ليس من منهج ألسلف محبة أهل البدع، أو إحسان الظن بهم، لا يغرهم فصاحتهم و لا بيانهم، يعلمون أن المرء مع من أحب، كما في الحديث

(49). Bukan termasuk manhaj salaf, mencintai ahlul-bid’ah atau berprasangka baik kepada mereka, tidak tertipu oleh kefasihan lisan dan penjelasan mereka. Salaf mengetahui bahwa seorang bersama orang yang ia cintai sebagaimana disebutkan dalam hadits.

ليس من منهج السلف توقير صاحب البدعة

(50). Bukan termasuk manhaj salaf, memuliakan ahlul-bid’ah.

ليس من منهج السلف : الدخول في جدال مع أهل الباطل، فإن المسلم لا يعرض ديبنه للأهواء

(51). Bukan termasuk manhaj salaf, masuk dalam perdebatan bersama orang-orang yang berada di atas kebatilan, karena seorang muslim tidak mempertaruhkan agamanya demi mengikuti hawa nafsu.

ليس منهج السلف الاستشراف للفتن والخوض فيها، بل كانوا يتجنبونها ويحذرون منها.

(52). Bukan termasuk manhaj salaf, menjadi corong dalam fitnah-fitnah dan menyibukkan diri di dalamya. Bahkan dahulu salaf menjauh dan memperingatkan dari berbagai fitnah.

ليس من منهج السلف الوقوع في الفرقة والاختلاف والتباغض، وشعارالسلف لا تباغضوا و لا تدابروا وكونوا – عباد الله – إخوانا

(53). Bukan termasuk manhaj salaf, perpecahan, perselisihan dan saling membenci. Syiar salaf adalah “janganlah kalian saling membenci, saling membelakangi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”

ليس من منهج السلف منازعة العلماء، في كلامهم، فالطالب يعلم أنه طالب وأن بحث هذه المسائل متروك للعلماء، فما بالكم بالنوازل والمسائل الكبار!

(54). Bukan termasuk manhaj salaf, mempertentangkan perkataan ulama. Seorang penuntut ilmu harus tahu bahwa ia hanyalah penuntut ilmu. Permasalahan kontemporer dan permasalahan yang besar hendaklah ditinggalkan dan diserahkan kepada ulama, seorang penuntut ilmu tidak diperkenankan membahas permasalahan-permasalahan tersebut.

Sumber: Twitter Asy-Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullah (penterjemah Abul-Harits)

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Saudaraku, Kemana Akalmu..?

Manusia sangat cerdas hingga mampu memecahkan rahasia alam yang sangat rumit, tapi terkadang manusia teramat bodoh, cobalah dipikirkan…

Semua orang yakin bahwa dirinya pasti mati…
Ia melihat saudaranya, juga teman-temannya yang mati, bahkan ia turut mengantarkan ke kuburan…

Namun tetap saja ia lupa akan mati dan tidak berusaha keras untuk mengumpulkan bekal akhirat. Bukankah manusia yang sedang mengantarkan juga menunggu giliran untuk mati…?

Dan sapi pun demikian. Meskipun tempat penjagalan hanya berjarak beberapa meter darinya, ia tetap saja makan rumputan segar dengan lahapnya…

Kalau saja sapi itu mau berfikir, tentu ia akan menyadari bahwa gilirannya dijagal mungkin tinggal beberapa menit lagi, ia tentu akan berupaya melarikan diri, atau setidak-tidaknya nafsu makannya akan hilang…

Lalu bagaimana dengan sikap manusia yang berakal, apakah mereka mau dipersamakan dengan para sapi yang terus melahap makanannya, padahal yang pasti akan mendatanginya yaitu KEMATIAN…!?

Qotadah rahimahullah berkata :

“Allah menciptakan Malaikat dengan akal tanpa syahwat, dan menciptakan hewan dengan syahwat tanpa akal, serta menciptakan manusia dan menjadikan baginya akal dan syahwat. Maka barangsiapa akalnya mengalahkan syahwatnya, maka dia bersama Malaikat, dan barangsiapa syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia seperti hewan” (‘Uddatush Shabirin 1/15)

Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu berkata :

لو يعلم أحدكم حقيقة جهنّم لصرخ منها حتى ينقطع صوته ولصلّّى حتى ينكسر صلبه

“Seandainya salah seorang di antara kalian mengetahui hakikat Neraka Jahanam, niscaya dia akan menjerit sekeras-kerasnya (minta tolong kepada Allah) sampai suaranya terputus. Dan niscaya dia juga akan melakukan shalat sampai tulang punggungnya patah” (Zawaid az-Zuhd oleh Ibnul Mubarak no.1007)

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Apakah Ada Landasannya Dalam Syariat Islam Hari Raya Atau Lebaran Anak Yatim Setiap Tanggal 10 Muharram..?

[ A ]. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة

“Barangsiapa yang mengusapkan tangannya ke kepala anak yatim di hari Asyuro’ (10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat”

Hadits ini terdapat dalam kitab Tanbiihul Ghaafiliin no.475 dan dinyatakan maudhu’ atau “PALSU” oleh para ulama, karena dalam jalur sanadnya terdapat nama “Habib bin Abi Habib”, seorang perawi yang tertuduh pernah berdusta dan memalsukan hadits. Oleh karenanya status perawi ini adalah matruk (ditinggalkan).

Para ulama memberikan komentar tentangnya :

– Ahmad bin Hanbal berkata : “Pendusta” (Lisaanul Miizaan II/168/752 oleh Ibnu Hajar).

– Ibnu Ady berkata : “Ia pernah memalsukan hadits” (Al-Maudhuu’aat II/571).

– Ibnul Jauzi berkata : “Ini adalah hadits palsu dengan tanpa keraguan” (Al-Maudhuu’aat II/571)

– Adz-Dzahabi berkata : “Tertuduh berdusta” (Talkhis Kitab al-Maudhuu’aat hal 207).

– Adz-Dzahabi berkata : “Pendusta” (Miizaanul I’tidaal I/451/1693).

– Abu Haatim berkata : “Ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya” (Al-Maudhuu’aat II/571).

– Asy-Syaukani berkata : “Hadits palsu” (Al-Fawaa-idul Majmuu’ah hal 92 no.33)

– lihat juga al-La’aali al-Mashnu’ah II/109 oleh as-Suyuthi, at-Tanziih asy-Syari’ah II/149-150 oleh Ibnu ‘Arraq al-Kanani dll.

[ B ]. Berbeda dengan “Agama Syi’ah” dalam menyambut bulan Muharram. Mereka menjadikan hari Asyuro’ (10 Muharram) sebagai hari berkabung, bersedih, menangis, meratap bersama dan menyakiti anggota badan lainnya dengan melukai kepala atau memukulkan pedang ke atas kepala atau dengan memukulkan rantai ke bagian punggung hingga berdarah sebagai tanda berkabung atas syahidnya Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Mereka berpawai di jalan-jalan raya dan tempat-tempat umum dengan memakai pakaian hitam-hitam sambil mengulang-ngulang nyanyian berisi pujian-pujian kepada Husain.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ritual Asyuro’ oleh syiah ini dimulai tahun 352 H. Pencetusnya adalah Dinasti Buwaih beraliran syi’ah yang mewajibkan penduduk Irak untuk melakukan ratapan terhadap Husein. Yaitu dengan menutup pasar, melarang memasak makanan, dan para wanita mereka keluar kemudian menampar-nampar wajah serta membuat fitnah di hadapan manusia.

Hal ini kemudian diikuti oleh Dinasti Fathimiyah yang merayakannya dengan tindakan serupa. Pada hari itu, khalifah duduk dengan muka masam sambil memperlihatkan kesedihan, begitu juga para hakim, da’i, dan pejabat pemerintah. Para penyair membuat syair dan menyebutkan riwayat dan kisah-kisah karangan tentang pembunuhan Husein.

Mereka menganggap bahwa pada hari itu Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan banyak dari kaum muslimin laki-laki yang terbunuh, sehingga banyak dari anak-anak mereka yang menjadi yatim. Maka mereka pun menjadikan hari itu sebagai tradisi memperingati hari anak yatim yang dibenarkan dalam “Syariat Agama Syiah”.

Mereka merobek-robek pakaian dan meneriakkan ucapan berlebihan kepada Husain. Bukankah Husain mati syahid dan akan mendapatkan tempat yang tinggi di sisi Allah Ta’ala ? Lalu kenapa ia diratapi seperti itu ?

Demikianlah “Agama Syi’ah” dalam memperingati hari terbunuhnya Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yang sangat mereka agung-agungkan. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya melarang perbuatan demikian.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

“Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang menampar pipi (wajah), merobek saku, dan melakukan amalan Jahiliyah” (HR.Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103)

Buruknya lagi, cerita kematian Husein pun telah mereka palsukan. Padahal kaum syi’ah sendirilah yang telah membunuhnya.

Salah seorang ulama besar syi’ah, murtadha muthahhari berkata : “Tidak diragukan lagi bahwa penduduk Kufah adalah pendukung Ali dan yang membunuh Imam al-Husein adalah pendukungnya sendiri” (Al-Mahamatul Husainiyah I/129, oleh al-Khamis, 2014: 255).

Sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu menyalahkan penduduk Irak sebagai pembunuh Husain dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari no. 5994 :

‏ ‏ ‏عن ‏ ‏ابن أبي نعم ‏ ‏قال كنت شاهدا ‏ ‏لابن عمر ‏ ‏وسأله رجل عن دم البعوض فقال : ممن أنت ؟ فقال : من ‏ ‏أهل ‏ ‏‏العراق ، ‏قال انظروا إلى هذا يسألني عن دم البعوض وقد قتلوا ابن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ،‏ ‏وسمعت النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يقول ‏ ‏هما ريحانتاي من الدنيا


Dari Ibnu Abi Nu’min, dia berkata : “Saya menyaksikan Abdullah bin Umar ketika ditanya oleh seseorang tentang darah nyamuk, maka Ibnu Umar bertanya : “Engkau berasal dari mana ?”. Dia menjawab : “Dari penduduk Irak”. Ibnu Umar berkata : “Lihatlah kepada orang ini ! Dia bertanya kepadaku tentang darah nyamuk padahal merekalah yang telah membunuh cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib). Aku telah mendengar Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Mereka berdua (yaitu Hasan dan Husain) adalah bunga raihanku di dunia”

Islam tidak pernah mengajarkan tanggal 10 Muharram diisi dengan perbuatan nista seperti “Agama Syiah”. Asyura’ tidak diisi dengan kesedihan dan penyiksaan diri seperti syiah. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengajarkan untuk berpuasa sunnah pada hari Asyura’.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam Kitabnya al-Bidaayah wan Nihaayah VIII/221 :

“Setiap muslim seharusnya bersedih atas terbunuhnya Husain radhiyallahu ‘anhu karena ia adalah sayyid-nya (penghulunya) kaum muslimin, ulamanya para sahabat dan anak dari putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Fathimah yang merupakan puteri terbaik beliau. Husain adalah seorang ahli ibadah, pemberani dan orang yang murah hati. Akan tetapi kesedihan yang ada janganlah dipertontonkan seperti yang dilakukan oleh syi’ah dengan tidak sabar dan bersedih yang semata-mata dibuat-buat dan dengan tujuan riya’ (cari pujian, tidak ikhlas). Padahal ‘Ali bin Abi Thalib lebih utama dari Husain. ‘Ali pun mati terbunuh, namun ia tidak diperlakukan dengan dibuatkan ma’tam (hari duka) sebagaimana hari kematian Husain. ‘Ali terbunuh pada hari Jum’at ketika akan pergi shalat shubuh pada hari ke-17 Ramadhan tahun 40 H.

Begitu pula ‘Utsman, ia lebih utama daripada ‘Ali bin Abi Thalib menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. ‘Utsman terbunuh ketika ia dikepung di rumahnya pada hari tasyriq dari bulan Dzulhijjah pada tahun 36 H. Walaupun demikian, kematian ‘Utsman tidak dijadikan ma’tam (hari duka). Begitu pula ‘Umar bin Khatthab, ia lebih utama daripada ‘Utsman dan ‘Ali. Ia mati terbunuh ketika ia sedang shalat shubuh di mihrab ketika sedang membaca al-Qur’an. Namun, tidak ada yang mengenang hari kematian beliau dengan ma’tam (hari duka). Begitu pula Abu Bakar ash-Shiddiq, ia lebih utama daripada ‘Umar. Kematiannya tidaklah dijadikan ma’tam (hari duka).

Lebih daripada itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau adalah sayyid (penghulu) cucu Adam di dunia dan akhirat. Allah telah mencabut nyawa beliau sebagaimana para Nabi sebelumnya juga mati. Namun tidak ada satu pun yang menjadikan hari kematian beliau sebagai ma’tam (hari kesedihan). Kematian beliau tidaklah pernah dirayakan sebagaimana yang dirayakan pada kematian Husain, seperti yang dilakukan oleh (syi’ah) rafidhah yang jahil”

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Apakah Puasa Asyura Itu Boleh Di Tanggal 10 dan 11 Muharram..?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan yaitu puasa di bulan Allah Muharram” (HR. Muslim no.1163, hadits dari Abu Hurairah).

“Sesungguhnya puasa pada hari ‘asyuro (10 Muharram) bisa menghapus dosa setahun dan puasa pada hari arofah bisa menghapus dosa 2 tahun” (HR. Muslim no.1162, hadits dari Abu Qotadah).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Ketika Rasulullah berpuasa hari Asyuro’ (10 Muharram) dan memerintahkannya, para sahabat berkata : “Wahai Rasulullah, ini adalah hari yang diagungkan kaum Yahudi dan Nashrani”. Lalu Rasulullah bersabda : “Pada tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9 (juga)”. Ibnu Abbas berkata : “Sebelum tiba tahun depan Rasulullah telah wafat” (HR. Muslim no.1134)

‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata :

“Bershaumlah pada hari ke-9 dan ke-10, selisihilah kaum Yahudi !” [HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf­ no.7839, al-Baihaqi IV/287 dan at-Tirmidzi no. 755]

Imam Malik, asy-Syafi’i dan Ahmad berpendapat bahwa disunnahkan menyatukan puasa hari ke 9 dan hari ke 10 agar tidak menyerupai kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ke 10 saja” (Az-Zarqoni dalam Syarah al-Muwaththa’ II/237)

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata :

“Para sahabat kami dan lainnya berpendapat sunnah puasa ‘Asyuro (hari ke 10 muharram) dan puasa Tasu’a (hari ke 9 muharram)” (lihat al-Majmu’ VI/383).

Adapun untuk hadits “Berpuasalah sehari sebelumnya (tanggal 9) dan sehari sesudahnya (tanggal 11)” ADALAH HADITS YANG DHO’IIF karena ada rawi yang bernama Dawud bin Ali.

Ibnu Hibban berkata : “Dia sering keliru”.

At-Tirmidzi meriwayatkan 1 hadits darinya dan ia menjadikan haditsnya hadits yang gharib.

Imam adz-Dzahabi berkata : “Haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah” dan cacat yang lain yaitu adanya rawi yang bernama Muhammad bin Abdurrahman bin Ali Ya’la.

Imam Ahmad berkata : “Dia perawi yang buruk hafalannya dan haditsnya muththarib (tidak menentu pada matannya), begitu pula perkataan Syu’bah, Ibnu Hibban dll.

Hadits ini telah dianggap dho’iif oleh Imam al-Albani di dalam kitabnya Dha’iiful Jaami’ ash-Shaghiir no.3506, Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam Ta’liq Musnad Imam Ahmad IV/52, al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawaaid III/191, asy-Syaukani dalam Nailul Authar IV/330, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalaani dll.

Karena haditsnya dho’if maka tiada pengkhususan puasa di tanggal 11 muharram, tetapi cukup hanya tanggal 9 dan 10 Muharram saja sebagaimana pendapat mayoritas ulama.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Kenapa Berbuat Maksiat Setelah Bermaksiat..?

Hati yang sarat galau…
Jiwa berteman gelisah…
Sanubari yang dipenuhi kehampaan serta berbagai rasa yang tidak mengenakkan…

Itulah tanda hati sedang sakit dan dapat membutakan pandangannya, dan bisa jadi semuanya disebabkan oleh kemaksiatan atau dosa-dosa yang telah dilakukannya…

Kemaksiatan dan dosa membuat hati gelisah, resah dan rasa tidak aman yang tidak jelas ujung pangkalnya, dan harta sebesar apa pun tidak akan dapat mengobatinya…

Kemaksiatan adalah kegelapan…
Manakala kegelapan itu semakin menguat, maka semakin bertambah pula kebingungan yang dirasakan…

Kemaksiatan akan melemahkan keinginan pelakunya untuk taat dan berbuat baik, dan menjadikan keinginan untuk berbuat maksiat semakin kuat, sehingga keinginan bertaubat pun akan luntur…

Kemaksiatan akan melahirkan kemaksiatan lainnya, dan pada saat itu keburukan menjadi watak, karakter dan sifat yang melekat di dalam diri seseorang…

Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

“Barangsiapa yang melakukan kejahatan (maksiat dan dosa), niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan (maksiat dan dosa)…” (QS. An-Nisaa’ [4]: 123)

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا

“Dan balasan suatu kejahatan (dosa) adalah kejahatan (dosa) yang serupa…” (QS. Asy-Syuura’ [42]: 40)

Maksiat mengantarkan pada maksiat lainnya…

Demikianlah keadaan seorang hamba, ketika ia melihat suatu yang haram, lantas tidak terbetik dalam dirinya untuk “BERTAUBAT”, maka dosa berikutnya akan tumbuh. Dalam hatinya pun ingin terus melakukan maksiat atau dosa besar selanjutnya…

Kemaksiatan akan menutup hati pelakunya hingga berkarat. Dan jika karat hati itu bertambah maka ia akan menutupi hati hingga terkunci dan di saat itu hati tak lagi sanggup melihat kebenaran sebagai kebenaran…

Akhirnya…

Kemaksiatan menyebabkan pelakunya dilupakan oleh Allah, dan bahkan seorang hamba pun lupa akan dirinya sendiri…

Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini selalu susah untuk taat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini selalu saja bermaksiat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini selalu tidak bersemangat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini mau saja mengikuti langkah-langkah syaithan yang jahat…
Oh…inilah sebabnya, kenapa selama ini petunjuk dan hidayah tidak didapat…

Wahai Saudaraku…

Jika seluruh kenikmatan di dunia ini disatukan, maka itu tidak akan sepadan dengan kemurungan dan penyesalan pelaku maksiat di hadapan Allah…

Segeralah bertaubat…
Sebelum ajal dicabut Malaikat…
Sehingga tidak menyesal di akhirat…

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. Al-Hasyr [59]: 19)

“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka” (QS. At-Taubah [9]: 67)

Hidup di dunia ini hanya 3 hari…

Hari kemarin, sudah dilalui dan tidak akan kembali…
Hari ini, dijalani dan tidak akan abadi…
Hari esok, tidak pernah tahu apa yang terjadi, bisa jadi sudah mati…

Sebesar-besar hukuman adalah apabila si terhukum tidak merasa dirinya sedang dihukum…

TIPUAN YANG PALING BESAR adalah bersikap tenang dalam berbuat dosa dengan mengharap ampunan tanpa adanya PENYESALAN…

Dan mengira telah mendekatkan diri kepada Allah tanpa melakukan ketaatan, menunggu hasil dari SURGA dengan menanam benih API NERAKA…

“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya ? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Al-Maidah [5]: 74)

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى