Category Archives: Najmi Umar Bakkar

Siapakah Ustadz Dalam Menuntut Ilmu..?

Saudaraku, hendaknya penilaian itu bukan hanya karena mereka memulai kajian dengan menyebut innal hamda lillah, adanya jenggot, tidak isbal, adanya gelar lc dll, bicara tentang sunnah dan bid’ah, atau mereka sendiri mengaku telah mengikuti manhaj Salaf, atau merasa pernah duduk di kajiannya 1 atau 2 kali, lalu dengan mudahnya engkau berkata bahwa ia telah mengikuti Sunnah dan manhaj Salaf…?

Saudaraku, para jamaah umumnya awam, hanya sekedar berkata bagus cara penyampaiannya, lembut atau lucu, atau ceramahnya banyak di YouTube, atau banyak yang hadir di kajiannya, atau ustadz itu juga memakai dalil dari al-Qur’an dan al-Hadits dst…

Saudaraku, yang jadi masalah bukan hanya sekedar itu, tetapi ketahuilah “BAGAIMANA IA MEMAHAMI DALIL ?”, dan itu harus dikembalikan kepada bagaimana Rasulullah, para Sahabat, Tabi’in dan para ulama setelahnya dalam memahami dan mengamalkannya…

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

(1). “Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah seseorang menimba ilmu dari al-Ashaaghir (orang-orang bodoh dan pelaku bid’ah)” (HR. Abdullah bin Mubarak dalam Kitab Zuhudnya no. 61 dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir 22/361-362, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 2207)

(2). “Wahai Ibnu Umar, agamamu ! agamamu ! Ia adalah darah dan dagingmu. Maka lihatlah dari siapa engkau mengambilnya. Ambillah dari orang-orang yang istiqamah (terhadap sunnah), dan jangan engkau mengambil dari orang-orang yang melenceng (dari sunnah)” (Al-Kifaayah fii ’Ilmir Riwayah hal 81, oleh al-Khathib al-Baghdadi)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Lihatlah dari siapa kalian mengambil ilmu ini, karena ia adalah agama” (Al-Kifaayah fii ’Ilmir Riwayah hal 121, oleh al-Khathib al-Baghdadi)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Senantiasa umat manusia dalam kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari para Akaabir (yaitu ahli ilmu/ulama) mereka. Jika mereka mengambil ilmu dari Ashaaghir (orang-orang bodoh dan pelaku bid’ah) dan orang-orang jelek di antara mereka, niscaya mereka akan binasa” (Jaami’ Baayanil ’Ilmi wa Fadhlihi hal 112, oleh Ibnu Abdil Barr)

Ibrahim bin Yazid an-Nakha’i rahimahullah berkata :

“Dulu para ulama Salaf ketika datang kepada seorang (guru) untuk menimba ilmu agama, maka mereka meneliti (terlebih dahulu) bagaimana shalatnya, (pengamalannya terhadap) sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan penampilannya, kemudian barulah mereka mengambil ilmu darinya” (As-Sunan 1/124 oleh Imam ad-Darimi)

Abdur Rahman bin Yazid rahimahullah berkata :

“Tidak boleh mengambil ilmu kecuali kepada orang yang dipersaksikan (pernah) menuntut ilmu (Sunnah)” (Al-Jarhu wat Ta’diil II/28 oleh Imam Ibnu Abi Hatim)

Al-Khathib al-Bagdadi rahimahullah berkata :

“Sepantasnya bagi penuntut ilmu untuk memilih guru yang dikenal pernah mempelajari hadits (Sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta diakui ketelitian dan kedalaman ilmunya” (Al-Jaami’u li-Akhlaaqir Raawi wa Aadaabis Saami’ 1/189)

Imam al-Munawi rahimahullah berkata :

“Janganlah kamu mengambil ilmu agama dari sembarang orang, kecuali orang yang telah kamu yakini keahlian dan kepantasannya untuk menjadi tempat mengambil ilmu” (Faidhul Qadiir II/545)

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata :

“Ilmu agama tidaklah diambil dari 4 jenis manusia, dan diperbolehkan diambil dari selainnya, yaitu :

(1). Ahli bid’ah yang mengajak manusia untuk mengikutinya dalam bid’ah tersebut.

(2). Orang yang bodoh yang tampak jelas kebodohannya, meskipun ia banyak meriwayatkan (hadits) dari manusia.

(3). Orang yang dalam kesehariannya suka berbohong, meski engkau tidak pernah mencurigainya membuat hadits palsu atas nama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

(4). Orang yang mempunyai keutamaan, shalih dan ahli ibadah, namun ia tidak paham apa yang dia sampaikan (yaitu tidak berilmu) (Al-Muhaddits al-Faashil 403)

Saudaraku, sudahkah engkau mengamalkannya ?

Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Sikap Menghadapi Orang Yang Marah Dihadapan Kita Atau Telah Memfitnah Dibelakang Kita…

Demikianlah, setiap manusia akan menghadapi ujian dan cobaan selama hidup di dunia ini…

Lalu apa yang akan kita lakukan ?

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak ingin diampuni Allah ? (QS. An-Nuur [24]: 22)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Janganlah marah dan bagimu Surga” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath no.2374, hadits dari Abu Darda’, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no.7374 dan Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.2749).

Seorang muslim bukan hanya baik dalam masalah aqidah, ibadah dan manhaj saja, tapi ia juga baik dalam masalah akhlak, sekali lagi ia juga harus baik dalam masalah akhlak. DAN INI YANG PALING BANYAK DITINGGALKAN.

Bacalah potret kaum salaf dibawah ini yang harus kita jadikan teladan :

▶ Saat ditanya tanggapannya tentang orang yang menjelek-jelekkan dirinya, Fudhail bin ‘Iyadh رحمه الله berkata : “Demi Allah, aku benar-benar marah kepada yang menyuruhnya (yakni Iblis)”. Lalu dia berkata : “Ya Allah jika ia jujur, ampunilah aku, dan jika ia berdusta ampunilah ia”

▶ Salman al-Farisi رضي الله عنه pernah dicaci maki oleh seseorang, lalu dia menjawab : “Jikalau timbangan amalku ringan, berarti aku lebih buruk dari apa yang kau katakan. Dan jikalau timbangan amalku berat, berarti apa yang kau katakan itu tidak berbahaya bagiku”

▶ Ahnaf bin Qois رحمه الله pernah dicaci maki oleh seseorang, tetapi Ahnaf tetap diam saja. Orang itu mengulangi lagi makiannya, tetapi Ahnaf tetap diam saja. Lalu orang itu berkata : “Sialan ! Tiada yang menghalanginya untuk menjawab makianku selain kehinaanku di matanya”

▶ Ibnu Abbas رضي الله عنه pernah dicaci maki oleh seseorang. Setelah selesai Ibnu Abbas berkata : “Wahai Ikrimah ! Apakah orang ini membutuhkan sesuatu yang bisa kau penuhi ?” Orang itu langsung menundukkan kepalanya dan malu”

▶ Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه pernah dicaci-maki oleh seseorang. Kemudian Ali memberikan baju yang dia kenakan bergaris-garis kepada orang itu. Dan dia juga menyuruh seseorang memberikan uang 1000 dirham kepada orang itu” (lihat Sholahul Ummah fii ‘Uluwwil Himmah V/253-272 oleh Sayyid al-Afani).

▶ Suatu malam Hasan al-Bashri رحمه الله memanjatkan doa seraya berkata : “Ya Allah, ampunilah siapapun yang pernah menzhalimiku”, begitu banyak beliau mengulang-ulang doa itu hingga terdengar oleh seorang pria dan ia bertanya : “Wahai Abu Sa’id, malam ini sungguh aku mendengarmu mendoakan kebaikan (memohonkan ampunan kepada Allah) bagi siapapun yang telah menzhalimimu sehingga aku (sempat) berharap termasuk yang pernah berbuat zhalim kepadamu. Apa yang sesungguhnya mendorong engkau melakukan hal tersebut ?”. Al-Hasan menjawab : “(Yang mendorongku tidak lain adalah) firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Barangsiapa memaafkan dan berbuat kebajikan, maka Allah akan melimpahkan pahala baginya” [QS. Asy-Syuura [26]: 40]. (lihat Syarah Shahih al-Bukhari oleh Ibnu Baththal VI/575)

▶ Suatu hari sebongkah batu yang dilemparkan seseorang tanpa sengaja menimpa ar-Rabi’ bin Haitsam رحمه الله . Lemparan tersebut membuat kepala beliau mengalami luka yang cukup serius. Sambil mengusap darah dari wajahnya dia berdoa : “Ya Allah maafkanlah dia. Dia tidak sengaja melempariku dengan batu” (Shifatush Shafwah II/654)

Saudaraku, sudahkah akhlak kita seperti mereka…?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ

“Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan memanggilnya pada hari Kiamat di hadapan seluruh makhluk, lalu Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari mana yang ia sukai” (HR. Abu Dawud no. 4777, at-Tirmidzi no. 2021 dan Ibnu Majah no. 4286, hadits dari Mu’adz bin Anas al-Juhani)

Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

 

Seandainya Yang Mati Bisa Bicara…

Telah diberikan apa yang mencukupi, masih meminta apa yang bisa membuat melampaui batas…

Tidak pernah merasa puas dengan yang sedikit dan tidak merasa kenyang dengan yang banyak…

Maka sungguh aneh orang yang menyakini adanya tempat kebenaran (akhirat) namun dia berusaha untuk tempat penipuan (dunia)…

Alangkah celakanya diri…

Bagaimana mungkin orang yang syahwatnya tidak pernah puas dan keinginannya tidak pernah berakhir bisa beramal untuk akhirat…?

Bagaimana mungkin ia lalai, sedangkan Allah tidak pernah lalai…?

Bagaimana hidup memberi kenyamanan, sedangkan hari yang berat ada dibelakangnya…?

Bagaimana mungkin takjub dengan sebuah negeri, sedangkan kegembiraan dan keabadian ada di negeri lain…?

Saat ini, kita belum merasakan mati…
Tapi kedatangannya adalah pasti, meskipun tak seorangpun tahu, kapan maut menghampiri…

Saat ini, belum ada yang disesali, namun boleh jadi ia datang esok hari saat penyesalan tak berguna lagi…

Kematian merupakan akhir dari kehidupan dunia, dan alam kubur merupakan tempat kehidupan akhirat yang pertama kali…

Andai orang yang mati dapat berbicara…
Andai bisa mendengar rintihan mereka…

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata :

Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sebentar, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”

Wahai saudaraku…

Mengapa engkau tidak menangis atas sisa-sisa umur dari hidup ini…?

Berapa banyak orang yang diakhir hidupnya tergelincir dengan melakukan amalan buruk ketika ajal menjemputnya…?

Allah Ta’ala berfirman :

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)” (QS. Al-Hijr [15] : 3).

Sampai kapankah kebaikan-kebaikan terus menghilang dan maksiat-maksiat terus diperbarui…?

Belumkah datang saatnya bagi orang-orang yang tidur untuk bangun…?

Belumkah datang saatnya bagi orang-orang yang lalai untuk sadar…?

Belumkah datang saatnya bagi orang beriman untuk tunduk khusyu’ mengingat Allah…?

Kapan akan waspada terhadap satu hari ketika kulit berbicara dan memberikan kesaksian di dalamnya…?

Tidakkah takut ketika ruh dicabut, sementara berada dalam kemaksiatan…?

Dimanakah rasa kesedihan…?

Apakah engkau musafir ataukah mukim…?

Jika seorang musafir, kemanakah akan pergi, Surga ataukah Neraka…?

Jangan tahan air matamu, hingga melihat keuntungan di akhirat…!

Jangan pula bertaubat lalu merasa gembira, sebelum tahu akibat segala urusan di akhirat…!

Mu’min yang akan meninggal dunia tidak menangis karena dunia yang akan ditinggalkan, tapi mereka akan memasuki akhirat dan merasa belum banyak berbekal diri untuknya…

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَو كانَ في المسجِدِ مائةُ ألفٍ أو يَزيدون ثمَّ تَنَفَّسَ رجُلٌ مِن أهلِ النَّارِ لأَحْرَقَهُمْ

“Seandainya di masjid ada 100 ribu orang atau lebih dan di dalamnya juga ada SEORANG PENGHUNI NERAKA, lalu ia bernafas dan nafasnya mengenai mereka, tentulah NAFAS ITU BISA MEMBAKAR MASJID BESERTA ORANG-ORANG YANG ADA DI DALAMNYA

(HR. Abu Ya’la no.6640, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.3668 dan Hilyatul Auliyaa’ no.5772)

Ya Allah selamatkanlah kami dari api neraka…
Ya Allah selamatkanlah kami dari api neraka…

Semoga Allah merahmati seorang hamba yang melakukan dosa, lalu sadar, merasa takut, kemudian mau beramal dengan segera…

Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

…Ya Allah, Sungguh Aku Mencintai-Mu, Walaupun Aku Bermaksiat Kepada-Mu…

Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ…

“…Dan orang-orang yang beriman amat sangat besar rasa cintanya kepada Allah…” (QS. Al-Baqarah [2]: 165)

Apakah engkau yang dimaksud oleh ayat ini…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan di waktu malam dan siang engkau selalu menantang-Nya…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan berulang-ulang kali engkau mengundang kemurkaan-Nya dan mendurhakai-Nya…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan jalan menuju masjid pun engkau tidak mengetahuinya…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan engkau mencintai musuh-musuh-Nya dan membanggakan mereka…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan engkau berlaku sombong terhadap wali-Nya, bahkan menghinakan dan melecehkan mereka…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan engkau menyelisihi Rasulullah صلي الله عليه وسلم secara zhahir dan bathin…?

Padahal Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu” (QS. Ali Imran [3]: 31)

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan surat-surat cinta-Nya tidak pernah engkau baca…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan perintah dan larangan-Nya selalu engkau abaikan…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan kedatangan-Nya di sepertiga malam akhir tidak pernah engkau sambut…?

Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan dosa dan maksiat secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi masih terus engkau lakukan, bahkan berbangga diri saat melakukannya…?

Dimanakah bukti cintamu kepada Allah, wahai diri yang mengaku cinta kepada-Nya…?

Dimanakah bukti ittiba’mu kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم, wahai diri yang mengaku cinta…?

Engkau membangkang kepada-Nya…
Lalu mengaku bahwa engkau cinta…
Inilah pengakuan yang nyata dustanya…

Jika benar engkau mencintai-Nya…
Tentulah engkau mentaati-Nya…
Karena seseorang akan taat kepada kekasihnya…

Berdoalah dengan merintih kepada-Nya…

اللهم اغفرلي مغفرة واقية في الدنيا و الآخرة

Ya Allah, ampuni dosaku dengan ampunan yang dapat melindungiku di dunia dan akhirat…

تَعَاظَمَنِي ذَنْبِي فَلَمَّا قَرَنْتُهُ بِعَفْوِكَ رَبِّي كَانَ عَفْوُكَ أَعْظَمَا

Dosaku terasa sangat besar bagi diriku, akan tetapi tatkala aku bandingkan dengan ampunan-Mu wahai Rabbku, ternyata ampunan-Mu lebih besar…

اللهم ارزقني طاعتك أبدا ما أبقيتني و ارحمني بترك المعاصى أبدا ما أبقيتني

Ya Allah, karuniakanlah kepadaku rezki untuk selalu dapat mentaati-Mu selama engkau hidupkan aku, dan rahmatilah aku sehingga selalu dapat meninggalkan berbagai maksiat selama Engkau hidupkan aku…

اللهم اني احبك و ان كنت اعصيك

Ya Allah, sungguh aku mencintai-Mu, walaupun aku bermaksiat kepada-Mu…

اللهم اجعل حبك احب الاشياء الي و خشيتك اخوف الاشياء عندي

Ya Allah, jadikanlah cintaku kepada-Mu sesuatu yang paling aku cintai, dan jadikanlah rasa takutku kepada-Mu adalah sesuatu yang paling aku takuti…

و اقطع عني حاجات الدنيا بالشوق الى لقائك

Serta putuskanlah keinginanku atas dunia dengan perasaan rindu untuk berjumpa dengan-Mu…

و إذا اقررت أعين أهل الدنيا من دنياهم فأقر عيني من عبادتك

Dan jika penduduk dunia mata mereka lebih sejuk dengan dunia, maka sejukkanlah pandanganku dengan ibadah kepada-Mu…

Aamiin…

Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Sudahkah Selalu Menghadiri Majelis Ilmu..?

Nabi صلى الله عليه وسلم‎ ‎bersabda :

(1). “Menuntut ilmu itu WAJIB atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, hadits dari Anas bin Malik, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 3913)

(2). “Barangsiapa yang MENEMPUH perjalanan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan “ketenangan” akan turun atas mereka, “rahmat” meliputi mereka, para Malaikat “mengelilingi” mereka dan Allah “menyanjung” mereka di hadapan Malaikat yang berada di sisi-Nya” (HR. Muslim no. 2699, Abu Dawud no. 3643, at-Tirmidzi no. 2646, Ibnu Majah no. 225 dan Ahmad II/252, hadits dari Abu Hurairah).

(3). “Barangsiapa pergi ke masjid, dia tidak menginginkan kecuali mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala seperti orang yang melakukan HAJI, di mana hajinya sempurna” (HR. Ath-Thabrani, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 86)

(4). “Apabila kalian berjalan melewati taman-taman Surga, maka perbanyaklah berdzikir”. Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud taman-taman Surga itu ?” Beliau menjawab : “Yaitu halaqah-halaqah dzikir (majelis ilmu)” (HR. At-Tirmidzi no. 3510, Ahmad III/150 dan lainnya, hadits dari Anas bin Malik, lihat Silsilah ash-Shahiihah no. 2562)

Majelis dzikir yang dimaksud adalah “majelis ilmu”, majelis yang di dalamnya diajarkan tentang tauhid, ‘aqidah yang benar menurut pemahaman salafush shalih, ibadah yang sesuai sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم‎, akhlak yang mulia, muamalah dan lainnya.

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Sungguh ada orang yang keluar dari rumahnya dengan membawa dosa seperti Gunung Tihama. Maka ketika dia mendengar kajian ilmu, ia pun menjadi takut, kembali baik dan bertaubat. Lalu orang itu pun kembali ke rumahnya tanpa dosa sedikitpun. Oleh karena itu, janganlah kalian menjauhi majelisnya para ulama !” (Miftaah Daaris Sa’aadah I/122 oleh Imam Ibnu Qayyim)

Jangan sampai dengan banyaknya sarana dakwah baik lewat radio, tv, wa, bbm, fb, telegram dll akan menjadikan alasan bagimu untuk “meninggalkan” majelis ilmu, sehingga jarang hadir, atau bahkan tidak hadir sama sekali karena merasa sudah berilmu, atau merasa sudah “selevel” dengan ustadznya…

Merupakan nikmat yang sangat besar jika memiliki kemampuan untuk menuntut ilmu, mengamalkan ilmu dan menyampaikan ilmu…

Berkahnya ilmu sesuai dengan berkahnya niat…
Semakin ikhlas niat, maka semakin berkah ilmu…
Semakin tidak ikhlas, semakin tidak berkah ilmu…

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah ditanya :

BAGAIMANA SEMANGATMU DALAM MENUNTUT ILMU ?” Beliau menjawab : “Aku mendengar kalimat yang sebelumnya tidak pernah kudengar, maka anggota tubuhku yang lain ingin memiliki pandangan untuk bisa menikmati ilmu tersebut sebagaimana yang dirasakan telinga”. Lalu ia ditanya lagi : “BAGAIMANA KERAKUSANMU TERHADAP ILMU ?” Beliau menjawab : “Seperti rakusnya orang penimbun harta, yang mencari kepuasan dengan hartanya”. Beliau ditanya lagi : “BAGAIMANA ENGKAU MENCARINYA ?“. Beliau menjawab : “Sebagaimana seorang ibu mencari anaknya yang hilang, yang ia tidak memiliki anak lain selain dia” (Tawaalit Ta’sis min Manaqib Muhammad bin Idris hal 106 oleh Ibnu Hajar al-Asqolani).

Lalu bagaimana dengan para penuntut ilmu yang hadir dan belajar di majelis ilmu hanya seminggu sekali atau dua minggu sekali, atau mungkin ia futur dengan tidak pernah lagi datang ke majelis ilmu untuk belajar, tetapi merasa sudah berilmu dan bahkan merasa yakin akan masuk Surga…?

اَللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا وَزِدْنَا عِلْمًا

“Ya Allah, berikanlah manfaat pada ilmu yang telah Engkau ajarkan kepada kami dan ajarkanlah hal-hal yang bermanfaat untuk kami dan tambahkanlah kami ilmu”

Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Mengapa..?

Mengapa orang yang berilmu dengan sederet titel agamanya, bahkan lulusan luar negeri, tapi memiliki pemahaman yang menyimpang atau tidak terlihat sebagai orang yang takut kepada Allah Ta’ala ? 

Allah Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya adalah ‘Ulama (yaitu orang-orang yang berilmu)” (QS. Fathir [35]: 28)

Kenapa realitanya terkadang tidak seperti itu ?

Penyebabnya antara lain :

(1). bisa jadi mereka tidak ikhlas dalam menuntut ilmu, mengamalkan dan mengajarkan ilmunya.

(2). bisa jadi mereka berilmu, tapi mereka tidak mau mengamalkan ilmunya tersebut dengan benar.

(3). bisa jadi mereka berilmu, tapi mereka salah dalam memahami ilmu, yaitu tidak kembali kepada sunnah dan manhaj salaf (cara beragama yang dipahami dan diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dst).

Ilmu tergantung amal, amal tergantung keikhlasan dan keikhlasan mewariskan pemahaman tentang Allah ‘Azza wa Jalla…

Jika ikhlas dan mengikuti cara beragama yang benar dengan kembali kepada sunnah dan manhaj salaf, maka insya Allah orang inilah yang akan memiliki rasa takut yang benar kepada Allah ‘Azza wa Jalla…

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

كل من آثر الدُّنْيَا من أهل الْعلم واستحبها فَلَا بُد أَن يَقُول على الله غير الْحق فِي فتواه وَحكمه فِي خَبره وإلزامه لِأَن أَحْكَام الرب سُبْحَانَهُ كثيرا مَا تَأتي على خلاف أغراض النَّاس

“Setiap orang dari kalangan ULAMA yang lebih mendahulukan DUNIA dan mencintainya, pasti dia akan berkata “Tidak Benar Atas Nama Allah” di dalam fatwa dan hukumnya, begitu pula dalam kabar dan keputusannya. Karena hukum-hukum Allah subhanahu seringkali tidak sejalan dengan keinginan-keinginan manusia” (Al-Fawaid hal 100)

Syaikh DR. Shalih al-Fauzan hafizhahullah ditanya :

: هل يكفي لمن أراد تعليم الناس أمور دينهم , هل يكفي أن يحمل شهادة جامعية , أم لا بد له من تزكيات العلماء ؟

“Apakah seseorang yang ingin mengajarkan perkara-perkara agama kepada manusia cukup baginya dengan titel universitas yang dia sandang, ataukah harus ada tazkiyah (rekomendasi) dari para ulama ?”

لا بد من العلم ..ما كل من حمل شهادة يصير عالم ،،لا بد من العلم والفقه في دين الله ..والشهادة ما تدل على العلم !!قد يحملها وهو أجهل الناس !وقد لا يكون عنده شهادة وهو من أعلم الناس ..هل الشيخ ابن باز معه شهادة ؟؟!! هل الشيخ ابن إبراهيم ؟؟!! هل الشيخ ابن حميد ؟؟!! هل هم معهم شهادات ؟؟!! ومع هذا هم أئمة هذا الوقت فالكلام على وجود العلم في الإنسان والفقه في الإنسان ،،،لا على شهاداته ولا على تزكياته ما يعتبر هذا !! …والواقع يكشف الشخص :إذا جاءت قضية أو حدثت ملمة تبين العالم من المتعالم والجاهل . نعم

“Harus memiliki ilmu, tidak semua orang yang menyandang titel menjadi ulama. Harus memiliki ilmu dan kefakihan dalam agama Allah. Semata-mata titel tidaklah menunjukkan ilmu, karena terkadang seseorang memiliki titel padahal dia termasuk manusia yang paling bodoh.

Sebaliknya terkadang seseorang tidak memiliki titel namun dia termasuk manusia yang paling berilmu.
Apakah Syaikh Ibnu Baz memiliki titel ? Demikian juga Syaikh Ibnu Ibrahim dan Syaikh Ibnu Humaid ? Apakah mereka semuanya memiliki titel ? (tidak) Walaupun demikian mereka menjadi para imam di masa ini.

Maka yang terpenting adalah membicarakan apakah ilmu dan kefakihan itu ada pada seseorang. Bukan tentang titel atau tazkiyah, ini semua tidak teranggap.

Dan fakta nanti yang akan menyingkap keadaan seseorang. Jika ada sebuah masalah, atau muncul sebuah bencana, ketika itulah akan nampak siapa yang benar-benar seorang ulama dan mana orang yang sok berilmu dan jahil” (http://bit.ly/2ulQpHf)

Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى

Sungguh Betapa Mengherankan…

Berapa kali aku mencela orang-orang yang dijauhi oleh Allah, tapi celaan itu ternyata tidak bermanfaat…

Betapa sering aku menyeru kepada orang-orang yang tuli dan lalai, tapi ternyata seruan itu tidak terdengar…

Betapa seringnya aku berbicara pada hatimu dan aku sangat ingin engkau mendengarkannya…

Wahai orang yang beku air matanya yang tidak pernah bisa menangis karena takut kepada Allah…

Kenapa hatimu dan jasadmu telah engkau gunakan untuk mencintai dunia yang fana…

Kenapa engkau pun selalu saja menampakkan maksiatmu kepada Allah dan kepada makhluk-Nya…

Kenapa engkau selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh-Nya…

Ketahuilah, salah satu tanda dari kesesatan itu ialah hati yang tidak mau tunduk kepada Allah…

Wahai orang yang lalai…

Hitunglah kerugianmu selama ini dengan mengumpulkan yang haram-haram…

Segeralah tinggalkan itu semua…

Jangan sampai engkau masih berada di kebun kelalaian ketika datang panggilan kematian dari-Nya secara tiba-tiba…

Hingga engkau pun berangkat dalam memenuhi panggilan itu dengan cara yang mengenaskan…

Siapa saja yang memperbanyak dosanya, berarti sungguh ia telah memperbanyak penyesalan…

Abu Al-Fadhl Jabrail bin Manshur berkata :

“Sampai kapan engkau larut dalam kelalaian ?
Sepertinya engkau menganggap remeh akibat penundaan siksa. Masa santai dan muda telah berlalu, sementara engkau tidak meraih keridhoan dari Tuhanmu ? Sekarang, yang tersisa adalah masa-masa hina dan malas serta engkau tidak mendapatkan manfaat apa-apa…!” (Al-Bidayah wan Nihayah XIII hal 126).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

“Sungguh sangat mengherankan sekali keadaan kebanyakan manusia, waktu terus berlalu dan umurpun habis, namun hatinya masih tetap tertutup dari Allah dan kehidupan akhirat. Dia keluar dari dunia sebagaimana dia memasukinya, dia tidak mencicipi sesuatu yang paling nikmat darinya. Dia hidup seperti hidupnya hewan, dan dia berpindah seperti pindahnya orang-orang yang pailit. Sehingga dia menjadi orang yang hidupnya lemah, matinya menyedihkan, dan kembalinya (ke akhirat) adalah kerugian dan penyesalan” (Thoriqul Hijrotain hal 385)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Tidak akan masuk Neraka seseorang yang menangis karena merasa TAKUT KEPADA ALLAH……” (HR. At-Tirmidzi no.1633)

Mengapa seseorang malu untuk menangis karena takut kepada Allah Ta’ala…

Apakah karena keras dan hitamnya hati dari maksiat yang begitu sering dilakukan…

Apakah hatinya telah terkunci…?

Apakah hatinya sudah lebih keras dari pada batu…?

Hendaklah seseorang itu menangis karena ia tidak dapat menangis…

Ia takut akan dosa-dosanya yang tidak terhitung banyaknya…

Ia takut akan su’ul khatimah…

Ia takut akan adzab kubur…

Ia takut Allah akan menolak amal-amal yang telah ia lakukan…

Ia takut tidak dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang ia cintai di akhirat kelak…

Ia takut nantinya ia dan keluarganya akan dimasukkan ke dalam Neraka Jahannam…

Ia takut tidak mendapat rahmat dan pertolongan Allah…

Ia takut tidak mendapatkan keselamatan dan ampunan Allah…

Ia takut…! Ia takut…! Ia takut…!

Oh…betapa keringnya mata dari air mata yang mengalir…

Oh…betapa jauhnya hati dari rasa takut kepada Allah…

Oh…betapa malunya diri yang selalu dipandang oleh Allah sedang bermaksiat kepada-Nya…

Oh…betapa sedikitnya ibadah dan doa yang dipersembahkan kepada Allah dalam keadaan ikhlas…

Ya Allah, jadikanlah rasa takut kepada-Mu merupakan sesuatu yang paling kami takuti…

Ya Allah, lindungilah kami dari kedua mata kami yang tidak pernah menangis karena takut kepada-Mu…

Wahai Rabb, lindungilah kami dari kedua mata kami yang tidak pernah menangis karena mengharap ampunan dan rahmat-Mu…

Ya Allah, lindungilah kedua mata kami yang tidak pernah menangis karena bertaubat kepada-Mu…

Ya Allah, gantikan air mata kami yang menetes karena-Mu dengan air penyejuk yang akan menyejukkan kami dari panasnya api Neraka…

Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى