Category Archives: Najmi Umar Bakkar

Apa Yang Kau Ketahui Tentang Bid’ah..?

Bid’ah adalah setiap keyakinan, perkataan, perbuatan dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’ala yang tidak ada dalil yang mendukung pensyari’atannya.

➡️ Bid’ah Itu Dalam Aqidah Dan Amaliyah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَاٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah), dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Muslim no. 867, hadits dari Jabir bin Abdillah).

Beliau bersabda akan sesatnya semua bid’ah, dan “tidak membedakan” antara bid’ah aqidah dan amaliyah dalam statusnya yang sama-sama sesat.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata :

Maka setiap orang yang mengada-adakan sesuatu yang baru, dan dia nisbatkan kepada agama padahal tidak ada dasarnya di dalam agama, maka dia sesat. Agama ini berlepas diri darinya, baik itu dalam masalah aqidah atau amal atau ucapan yang zhahir maupun yang bathin” (Jaami’ul Ulum wal Hikam hal 128)

➡️ Siapakah Ahlul Bid’ah itu ?

Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

Madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah adalah madzhab yang terdahulu dan telah terkenal sebelum Allah menciptakan Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad. Ia adalah madzhab para sahabat yang diterima dari Nabi mereka. Barangsiapa yang menyelisihi (madzhab tersebut), maka ia adalah AHLUL BID’AH menurut (kesepakatan) Ahlussunnah wal Jama’ah” (Minhajus Sunnah II/482 dengan tahqiq Muhammad Rasyad Salim).

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata :

Maka setiap orang yang melakukan ibadah dengan sesuatu yang tidak disyariatkan Allah, atau dengan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan al-Khulafaa’ ar-Rasyidun, maka ia adalah seorang mubtadi’ (AHLUL BID’AH), baik ibadah yang dilakukannya itu berkaitan dengan asma Allah dan sifat-Nya, atau berkaitan dengan hukum dan syariat-Nya” (Majmu’ Fatawa wa Rasail II/291 no. 346)

➡️ Apakah Orang Yang Jatuh ke Dalam Kebid’ahan, Maka Langsung Dapat Disebut Ahlul Bid’ah ?

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata :

Tidak setiap orang yang jatuh ke dalam kebid’ahan maka (dengan serta merta) kebid’ahan jatuh atasnya (sehingga ia menjadi ahlul bid’ah), dan tidak setiap orang yang jatuh ke dalam kekufuran maka (dengan serta merta) kekufuran jatuh atasnya (sehingga ia menjadi kafir)”

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata :

Maka wajib bagi kita untuk tenang dan tidak tergesa-gesa. Kita tidak berkata kepada seseorang yang datang dengan membawa satu bid’ah dari ribuan sunnah bahwa dia adalah seorang ahlul bid’ah” (Syarah Hadits Arba’in, hadits ke 28).

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata :

Jika seseorang berbuat bid’ah karena tidak paham, maka ia dimaafkan karena ketidak-tahuannya itu, dan tidak dihukumi sebagai mubtadi’ (ahlul bid’ah), namun perbuatannya (tetap) disebut sebagai perbuatan bid’ah” (Muntaqa Fatawaa al-Fauzan II/181, Asy-Syamilah)

Syaikh Ali Hasan al-Halabi hafizhahullah berkata :

Adapun pelaku bid’ah ini kadang-kadang berasal dari seorang mujtahid, maka dalam ijtihad seperti ini (kalau hasil ijtihadnya salah), pelakunya tidak dapat dikatakan sebagai ahlul bid’ah.

Dan kadang-kadang pelaku bid’ah ini berasal dari orang bodoh, maka (karena kebodohannya) hukum sebagai ahlul bid’ah ditiadakan darinya, meskipun ia berdosa karena ia telah melalaikan (dirinya) dalam menuntut ilmu, kecuali jika Allah berkehendak (yang lain).

Boleh jadi juga terdapat beberapa kendala yang menghalangi orang yang terperosok dalam jurang bid’ah menjadi ahlul bid’ah.

Adapun orang yang terus menerus dalam bid’ahnya padahal telah nampak kebenaran baginya, karena ia mengikuti nenek moyang dan berjalan di belakang tradisi dan budaya, maka orang seperti ini sangat layak untuk dicap sebagai AHLUL BID’AH, karena ingkar dan berpaling dari kebenaran” (Ilmu Ushul Bida’ hal 209 – 210).

Maka pelaku bid’ah dalam aqidah dan amaliyah bisa disebut sebagai Ahlul Bid’ah dan bukan Ahlus Sunnah wal Jama’ah jika termasuk dalam pengertian di atas.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Bersikap Bijaklah Kepada Ulama…

Para ulama tidaklah maksum, yakni bebas dari kesalahan dan kekeliruan. Mereka yang mempunyai andil besar dalam mendakwahkan al-Qur’an dan as-Sunnah di atas manhaj salaf tidak bisa digugurkan keutamaannya, jika seandainya diantara pendapatnya ada yang salah atau kurang kuat, dan juga tidak boleh untuk menghina dan merendahkan mereka.

Syaikh DR. Muhammad bin Umar Bazmul berkata :

ليس من منهج السلف معاملة أخطاء أهل السنة كمعاملة أهل البدع. فإن كل
ابن آدم خطاء، فينظر في منهج الرجل ويعامل الخطأ الذي وقع منه على أساس ذلك

Tidak termasuk dalam manhaj salaf, yaitu menyikapi kesalahan-kesalahan seorang ahlus-sunnah seperti menyikapi kesalahan ahlul-bid’ah, karena setiap anak Adam pasti memiliki kesalahan. (Apabila seorang ahlus-sunnah terjatuh dalam kesalahan), maka manhajnya dilihat dan kesalahan tersebut disikapi sesuai dengan manhajnya

Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

Kalau seandainya seorang alim (ulama) yang banyak memberikan fatwa salah dalam100 masalah, maka itu bukan suatu aib. Karena siapa saja selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dia bisa benar dan bisa saja salah” (Majmu Fataawa 28/301)

Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata :

Orang alim (ulama) tidak lepas dari kesalahan. Siapa yang SEDIKIT kesalahannya dan BANYAK benarnya maka dialah orang alim. Dan siapa yang sedikit benarnya dan banyak kesalahannya maka dialah orang jahil” (Jami’ Bayaan al-Ilmi II/106)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

وبالجملة فقد كان رحمه الله من كبار العلماء وممن يخطئ ويصيب ، ولكن خطأه بالنسبة إلى صوابه كنقطة في بحر لجي ، وخطؤه مغفور له

Secara umum, beliau (Ibnu Taimiyah) rahimahullah termasuk ulama besar, dan juga termasuk orang yang berbuat benar dan berbuat keliru. Akan tetapi kesalahan beliau jika dibandingkan dengan kebenaran beliau, maka seperti satu titik dalam lautan dalam. Dan kesalahan beliau adalah diampuni” (Al-Bidayah wan Nihayah 14/160).

Dan apa yang dialami oleh al-Qadhi Jamaluddin Abu Abdillah ar-Raimi az-Zubaidi asy-Syafi’i (wafat tahun 791 H) merupakan kematian yang tragis karena seringnya ia mencela Imam an-Nawawi rahimahullah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

أخبرني الجمال المصري محمد بن أبي بكر بزبيد أنه شاهده عند وفاته وقد اندلع لسانه وأسود فكانوا يرون أن ذلك بسبب كثرة وقيعته في الشيخ محيي الدين النووي رحمه الله تعالى.

Aku diberitahu oleh al-Jamal al-Mishri Muhammad bin Abu Bakar di kota Zubaid Yaman, bahwa beliau menyaksikan ar-Raimi saat wafatnya dalam keadaan lidahnya terjulur dan menghitam. Para ulama berpendapat bahwa keadaan tersebut karena ar-Raimi suka mencela Imam an-Nawawi rahimahullah” (Ad-Durarul Kaminah fil A’yanil Mi’atits Tsaminah II/9).

Berhati-hatilah, karena tanda dari ilmu yang tidak bermanfaat adalah : “Menumbuhkan kesombongan, ambisi kepada dunia, mengalihkan perhatian orang kepada dirinya, berburuk sangka dan menganggap bodoh Ulama, serta merasa lebih apa yang dimilikinya” (Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘alal Khalaf oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali).

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

 

Oh.. Alangkah Besarnya Penyesalan…

Bagaimana mata kan terpejam, kalau ia terbelalak diam, di mana seharusnya ia sangat awam, di Surga atau Neraka ia berdiam…

Seseorang yang tergoda oleh nafsu syahwat, ia akan cepat menghampirinya, dan tidak pernah berpikir tentang apa akibat yang akan ditimbulkannya kelak…

Berapa banyak penyesalan yang telah ia teguk di dalam menjalani sisa-sisa hidupnya…?
Berapa besar kehinaan yang ditanggung setelah kematiannya…?

Ingatlah hari yang tidak bisa dihindarkan datangnya, yaitu mempertanggungjawabkan semua perbuatan dihadapan Allah, dan itu disebabkan oleh kenikmatan sesaat, yang terasa bagaikan sebuah kilat…

Alangkah mengkhawatirkan bagi orang yang meyakini sebuah perintah, akan tetapi setelah itu ia pun melupakannya. Sungguh, sebesar-besar hukuman adalah apabila si terhukum tidak merasa dirinya sedang dihukum…

Ketahuilah bahwa derajat yang tinggi di sisi Allah tidak akan diraih kecuali setelah bersungguh-sungguh…

Sungguh-sungguh tidak akan ada kecuali setelah adanya rasa takut…

Rasa takut tidak akan ada kecuali setelah adanya keyakinan…

Keyakinan tidak akan ada kecuali setelah adanya ilmu…

Ilmu tidak akan ada kecuali setelah belajar…

Dan belajar sulit dilakukan jika tanpa adanya niat, tekad dan semangat yang kuat…

Perbaharuilah taubat setiap waktu, dan jadikanlah umur dalam tiga waktu : untuk ilmu, beramal dan waktu untuk memenuhi hak dan kewajiban…

Hindarilah maksiat hati, yaitu menganggap sedikitnya rezeki, menganggap remeh nikmat Allah, lalai dari Allah, menganggap remeh bencana agama, menganggap besar dunia dan bersedih hati karena dunia yang telah meninggalkannya…

Dosa itu mewariskan kelalaian…
Kelalaian mewariskan kekerasan hati…
Kekerasan hati mewariskan jauh dari Allah…
Jauh dari Allah mewariskan Neraka…

Umur manusia hanyalah hitungan hari…
Manusia akan mendapatkan kebahagiaan jika ia menghibahkan dirinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla…

Ingatlah suatu hari, dimana penyesalan tidaklah berguna lagi…

ٌيَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ…

“…Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah…” (QS. Az-Zumar [39]: 56)

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Dia mengatakan : “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini” (QS. Al-Fajr [89]: 24)

قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا…

“…Mereka berkata : Sungguh betapa menyesalnya kami atas apa yang kami sia-siakan dahulu di dunia…” (QS. Al-An’aam [6]: 31)

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata : “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul” (QS. Al-Ahzab [33]: 66)

Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan taufiq bagi para pengikut kebenaran, dan semoga Dia menjadikan kita termasuk bagian dari mereka…

Aamiin…

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Ada Apa Dengan Penyebutan “AL-MARHUM” Bagi Orang Yang Telah Meninggal..?

Penyebutan AL-MAGHFUR LAHU (orang yang diampuni) dan AL-MARHUM (orang yang dirahmati) bagi orang-orang yang telah meninggal tidak diperbolehkan. Karena memastikan bahwa ia adalah orang yang diampuni atau dirahmati merupakan perkara-perkara ghaib, tidak ada yang mengetahuinya melainkan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Katakanlah : “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (QS. An-Naml [27]: 65)

Dalam literatur kitab-kitab para ulama pun tidak pernah kita dapati penyebutan al-marhum imam Bukhari, atau al-marhum imam Muslim, atau al-marhum imam Syafi’i. Tetapi yang kita dapati adalah ungkapan rahimahullah dibelakang nama-nama mereka.

Syaikh bin Baz rahimahullah berkata :

Dalam masalah ini kata-kata yang dibenarkan adalah ghafarallahu lahu (semoga Allah mengampuninya) atau rahimahullah (semoga Allah merahmatinya), kalau ia orang Islam.

Kata-kata al-maghfur lahu atau al-marhum tidak boleh digunakan karena hal itu berarti suatu penyaksian kepada orang tertentu bahwa ia ahli surga atau ahli neraka atau lain-lainnya, padahal hanya Allah yang dapat memberikan kesaksian kepada orang-orang yang berhak untuk itu sebagaimana yang tersebut di dalam al-Qur’an atau kesaksian Rasul-Nya atas yang bersangkutan

(Majmu’ Fataawa wa Maqaalat Mutanawwi’ah V/365-366)

Dan ini juga Fatawa al-Lajnah ad Da-imah Lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’ II/159-160.

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى 

Hukum Menambahkan Nama Suami di Belakang Nama Istri – Menisbatkan Diri Kepada Suami…

Dalam ajaran Islam seorang istri TIDAK BOLEH menambahkan nama suaminya atau nama keluarga suaminya yang terakhir setelah namanya.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau MENISBATKAN dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Allah, malaikat, dan segenap manusia. Pada hari Kiamat nanti, Allah tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang sunnah” (HR. Muslim no.3327 dan at-Tirmidzi no.2127 dan Ahmad no.616).

Barang siapa bernasab kepada selain ayahnya dan ia mengetahui bahwa ia bukan ayahnya, maka Surga haram baginya” (HR. Bukhari no.3982, Muslim no.220 dan Abu Dawud no.5113).

Setelah menikah, terkadang wanita barat mengganti nama belakangnya atau nama keluarganya dengan nama suaminya atau nama keluarga suaminya. Misalnya istrinya Bill Clinton: Hillary Clinton yang nama aslinya Hillary Diane Rodham atau istrinya Barrack Obama: Michelle Obama yang nama aslinya Michelle LaVaughn Robinson.

Karena itu, hendaklah kita tidak meniru-niru budaya yang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Marilah kita melihat teladan pada para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidaklah nama-nama mereka dinasabkan kepada Rasulullah meski agung dan tingginya kedudukan beliau di sisi Allah dan di sisi manusia. Mereka tetap dipanggil dengan nama ayah-ayah mereka seperti Aisyah bintu Abu Bakar, Hafshah bintu Umar, Zainab bintu Jahsy, begitu pula yang lainnya.

Kaum muslimin yang telah melakukan perbuatan ini berarti tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, karena tradisi yang tercela ini tidak pernah dikenal kecuali dari mereka, dan dari merekalah sebagian kaum muslimin yang awam mengadopsinya.

Penisbatan istri kepada nama suaminya merupakan hal yang belum dikenal di zaman para salafus shalih dahulu, namun baru dikenal di zaman ketika kaum muslimin mulai berinteraksi dengan budaya barat.

Seorang istri hanya boleh menisbatkan kepada suami jika penyebutannya seperti QS.At-Tahrim ayat 10 dan 11, dimana Allah menggunakan penyebutan nama dengan sandingan nama suami, “imra’atu Nuh (istrinya nabi Nuh) dan imra’atu Luth (istrinya nabi Luth), “imra`atu Fir’aun” (istrinya Fir’aun).

Pada hadits riwayat Abu Sa’id al-Khudri, bahwa suatu ketika Zainab istri Abdullah bin Mas’ud datang kepada Rasulullah dan meminta izin untuk bertemu. Lalu ada salah seorang yang ada di dalam rumah berkata : “Wahai Rasulullah, Zainab meminta izin untuk bertemu“. “Zainab siapa?” tanya Rasul. “Istri Ibnu Mas’ud“. Lalu beliau berkata : “Ya, persilahkan dia masuk” (HR. Bukhari)

Pada hadits ini kita perhatikan penyebutannya bukan Zainab Ibnu Mas’ud, tetapi Zainab istri Ibnu Mas’ud.

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى 

Apakah Termasuk GHIBAH Yang Haram Dengan Membongkar Keburukan Seorang Da’i Yang Menyimpang..?

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata :

الإنسان لو اغتاب شخصا داعية سوء وعينه باسمه ليحذر الناس منه، فإن هذا لا بأس به، بل قد يكون واجبا عليه، لما في ذلك من إزالة الخطر على المسلمين، حيث لا يعلمون عن حاله شيئا.

Seseorang seandainya dia mengghibahi seorang da’i yang jahat (menyimpang) dan menyebutkan namanya agar orang lain mewaspadainya, maka sesungguhnya hal ini tidak mengapa, bahkan bisa menjadi wajib atasnya, karena pada perbuatan tersebut terdapat upaya melenyapkan bahaya yang mengancam kaum muslimin, karena mereka tidak mengetahui tentang keadaan dai yang jahat tersebut” (Nuurun Alad Darb, kaset no. 158 side A)

MEMBANTAH KESALAHAN YANG TERSEBAR BUKAN TERMASUK GHIBAH YANG DIHARAMKAN

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata :

رد المقالات الضعيفة وتبيين الحق في خلافها بالأدلة ليس هو مما يكرهه العلماء، بل مما يحبونه ويمدحون فاعله ويثنون عليه، فلا يكون داخلا في الغيبة.

Membantah pendapat-pendapat yang lemah dan menjelaskan kebenaran yang menyelisihi pendapat-pendapat yang lemah tersebut berdasarkan dalil-dalil bukan termasuk yang dibenci oleh para ulama, bahkan termasuk yang mereka sukai dan mereka puji dan sanjung pelakunya, jadi hal itu bukan termasuk ghibah” (Al-Farqu Bainan Nashihah wat Ta’yir hal 3)

Sebagian orang berkata kepada Imam Ahmad rahimahullah bahwa berat baginya untuk berkata si B itu begini dan si C itu begitu (dalam rangka memperingatkan umat dari kebid’ahannya), maka Imam Ahmad pun berkata : “Jika kamu diam dan aku juga diam, maka kapan orang bodoh itu tahu mana yang benar dan mana yang salah ?” (Majmu’ Fatawa 28/231).

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya :

Mana yang lebih engkau sukai, seseorang berpuasa, shalat dan beri’tikaf atau dia membicarakan (penyimpangan) ahlul bid’ah ?” Maka beliau menjawab : “Kalau dia berpuasa, shalat dan beri’tikaf maka hal itu untuk dirinya sendiri, tapi kalau membicarakan (penyimpangan) ahlul bid’ah maka ini untuk dirinya dan kaum muslimin dan ini lebih utama

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

Seandainya Allah tidak memilih orang yang dapat menolak bahaya ahlul bid’ah maka rusaklah agama ini. Dan kerusakannya lebih dahsyat dari pada kerusakan yang ditimbulkan oleh musuh dari kalangan ahli perang, karena mereka jika telah menguasai tidak akan memulai dengan merusak hati serta agama kecuali terakhir. Adapun ahli bid’ah mereka langsung merusak hati” (lihat Majmu’ Fatawa 28/231-232).

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata bahwa boleh melakukan ghibah jika :

(1). Mengadukan tindak kezaliman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang. Seperti mengatakan : “Fulan telah menzhalimiku”

(2). Meminta tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat kemungkaran tersebut kembali pada jalan yang benar.

Seperti meminta pada orang yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran : “Fulan telah melakukan tindakan kemungkaran semacam ini, tolonglah kami agar lepas dari tindakannya”

(3). Meminta fatwa kepada seorang mufti seperti seorang bertanya mufti : “Saudara kandungku telah menzhalimiku demikian dan demikian. Bagaimana caranya aku lepas dari kezaliman yang ia lakukan”

(4). Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan seorang perowi hadits.

(5). Membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah, bukan pada masalah lainnya. Yaitu boleh menyebutkan apa-apa yang dia lakukan secara terang-terangan tadi, namun tidak diperbolehkan membicarakan aibnya yang lain, kecuali memang ada sebab-sebab tertentu yang membolehkan.

(6). Menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma’ruf dengannya, seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang bagus, maka itu lebih baik (Syarah Shahih Muslim 16/124-125)

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Saudaraku, Bersabarlah Di Atas Sunnah…

Pada akhir zaman akan semakin sedikit kebaikan, banyak yang menentang, dan banyak fitnah yang menyesatkan, fitnah syubhat, keraguan, berpaling dari kebenaran, fitnah syahwat dan condongnya manusia kepada dunia…

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

Akan datang suatu masa, dimana orang yang bersabar (berpegang teguh) pada agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api” (HR. At-Tirmidzi no. 2260, hadits dari Anas bin Malik, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 8002)

فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ

Sesungguhnya setelah kalian akan ada hari-hari kesabaran, dimana bersabar pada hari-hari itu seperti menggenggam bara api. Orang yang beramal tatkala itu memperoleh pahala sama dengan 50 orang yang beramal seperti amalannya” (HR. At-Tirmidzi no. 3058 dan Ibnu Majah no. 4014, hadits dari Abu Tsa’labah al-Khusyani). Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan tambahan :

قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ منكم

Ditanyakan : “Wahai Rasulullah, sama dengan pahala 50 orang dari mereka atau kami ?“. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “50 orang dari kalian” (lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no. 3172)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

Pahala yang besar ini karena keterasingannya di antara manusia, dan karena dia berpegang teguh dengan “SUNNAH” di antara kegelapan hawa dan akal pikiran” (Madarijus Salikin III/199)

Maka Syaikh al-Albani rahimahullah berkata :

اعرف السنة تعرف البدعة، أما إذا عرفت البدعة فلا يمكنك أن تعرف السنة.

Pelajarilah as-Sunnah, otomatis engkau akan mengetahui bid’ah, adapun jika engkau hanya mengetahui bid’ah, maka tidak mungkin bagimu untuk mengenal as-Sunnah” (Silsilah al-Huda wan Nur no. 715)

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata :

Sesungguhnya Ahlussunnah adalah “Yang Paling Sedikit” dari manusia pada zaman yang telah lewat dan mereka paling sedikit dari manusia pada “Zaman Yang Tersisa”. Mereka adalah orang-orang yang tidak ikut-ikutan dengan orang-orang yang bermewah-mewahan, dan tidak juga dengan ahli bid’ah dalam kebid’ahan mereka, dan mereka sabar di dalam menjalankan “SUNNAH” hingga bertemu Rabb mereka” (Sunan ad-Darimi 1/83 dan Ta’dzimu Qodzrus Shalat Lil Marwazih II/678).

Imam Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata :

لأن يكونوا خصمائي أهل البدع يوم القيامة خير من أن يكون خصمي رسول الله بتركي الذب عن سُنته.

Sungguh lebih baik ahli bid’ah yang akan menjadi musuh-musuhku pada hari Kiamat nanti, daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan menjadi musuhku, karena aku tidak mau membela sunnah beliau” (Al-’Alamusy Syamikh hal 388)

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata :

ولزوم السنة ماهو بالأمر السهل ، فيه ابتلاء وامتحان، هناك ناس يعيرونك ويؤذونك ويتنقصونك، ويقولون : هذا متشدد متنطع إلى آخره ، أو ربما أنهم لا يكتفون بالكلام، ربما أنهم يقتلونك أو يضربونك، أو يسجنونك ولكن اصبر إذا كنت تريد النجاة وأن تشرب من هذا الحوض، اصبر على التمسك بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى أن تلقاه على الحوض

Komitmen dengan sunnah itu bukanlah perkara yang mudah. Di dalamnya penuh dengan berbagai ujian dan cobaan. Akan selalu ada orang-orang yang mencelamu, menyakitimu dan merendahkanmu. Mereka mengatakan : “ini radikal ekstrem” dll. Bahkan kadang kala tidak cukup hanya ucapan saja, mereka pun bisa membunuhmu, memukulmu atau memenjarakanmu. Tetapi tetaplah bersabar, jika engkau ingin keberhasilan dan bisa menenggak air dari telaga Rasulullah ﷺ. Bersabarlah dalam berpegang dengan sunnah Rasulullahsampai engkau bertemu dengan beliau di telaganya kelak” (Syarah ad-Durroh al-Madhiyyah fî Aqdi Ahlil Firoqil Mardhiyyah hal 190)

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Benarkah Engkau Mencintai Rasul..?

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata :

Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata : “Ya Rasulullah, demi Allah ! Sesungguhnya engkau adalah orang yang lebih aku cintai daripada diriku sendiri, dan sesungguhnya engkau adalah orang yang lebih aku cintai daripada keluargaku dan hartaku, lebih aku cintai daripada anakku

Sungguh, ketika aku berada di dalam rumahku, maka aku selalu mengingatmu. Aku tidak sabar sehingga aku pun mendatangimu lagi, kemudian melihatmu

Jika aku teringat akan kematianku dan wafatmu, maka sadarlah aku bahwa engkau akan masuk ke dalam Surga, diangkat bersama dengan para Nabi. Sedangkan aku, kalaupun aku masuk Surga, maka aku khawatir tidak bisa lagi melihatmu

(HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath no. 477 dan al-Mu’jamus Shaghiir no. 52, lihat ash-Shahiihul Musnad min Asbaabin Nuzul hal 70-71 oleh Syaikh Muqbil al-Wadi’i dan ‘Umdatut Tafsir ‘an al-Hafizh Ibnu Katsir oleh Syaikh Ahmad Syakir)

Subhanallah, sudah seperti inikah cintamu kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam…?

Sebelum ada mimbar yang dibuatkan oleh budak wanita Anshar, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam biasa berkhutbah dengan bersandar pada sebatang pohon kurma.

Tatkala mimbar diletakkan untuk menggantikan batang pohon kurma itu, maka pohon itu berteriak menangis seperti jeritan anak kecil.

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun turun lalu memegangnya dan memeluknya. Maka batang pohon kurma itu terisak-isak bagaikan isakan anak kecil yang dibujuk untuk diam, hingga akhirnya ia tenang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda : “Pohon kurma itu menangisi dzikir yang biasa ia dengar” (HR. Bukhari no. 2095, hadits dari Jabir bin Abdillah)

Subhanallah, sudah seperti inikah cintamu kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam…?

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang setiap hari bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih merasa khawatir dan takut kalau nanti tidak bisa bertemu lagi dengan beliau di akhirat, maka ia pun senantiasa berdoa :

َاَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا لاَ يَرْتَدُّ وَنَعِيْمًا لاَ يَنْفَدُ وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فِيْ أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ

Ya Allah, aku mohon kepada-Mu iman yang tidak pernah lepas, kenikmatan yang tidak pernah habis, dan dapat menyertai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di Surga yang tertinggi dan kekal” (HR. Ahmad VI/128 dan Ibnu Hibban no. 1970, lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah V/379).

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata :

Aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar. Dan aku berharap akan bersama mereka dengan sebab kecintaanku kepada mereka, meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka” (HR. Bukhari no. 3688 dan Muslim no. 2639)

Subhanallah, sudah seperti inikah cintamu kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam…?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ

Diantara umatku yang paling mencintaiku adalah orang-orang yang hidup setelahku, salah seorang dari mereka sangat ingin melihatku walaupun (harus menebusnya) dengan keluarganya dan hartanya” (HR. Muslim, hadits dari Abu Hurairah, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 5893)

ْمَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي

Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh dia telah melihatku, karena sesungguhnya syaitan tidak dapat menyerupaiku” (HR. Muslim no. 4206, hadits dari Abu Hurairah)

ْاَللَّهُمَّ اَرِنِيْ وَجْهَ نَبِيِّكَ وَ رَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فِيْ مَنَامِي

Ya Allah perlihatkanlah kepadaku wajah Nabi-Mu dan Rasul-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpiku

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Masih Suka Duduk Di Majelisnya Ahlul Bid’ah…

Karena melihat banyaknya ikhwan dan akhaawat yang masih suka duduk di majelisnya ahlul bid’ah, atau mereka yang tidak mengikuti sunnah dan manhaj salaf, maka apakah memang ada larangan duduk bermajelis dan menimba ilmu dari mereka ?

Telah terfitnah sebagian kaum muslimin oleh ahlul bid’ah karena mereka melihat apa yang ada pada ahlul bid’ah tersebut seperti sikap zuhudnya, terlihat seakan-akan khusyu’, mudahnya menangis, atau yang lainnya dari banyaknya ibadah yang mereka lakukan. Namun hal tersebut bukanlah satu ukuran yang benar untuk mengetahui al-haq (kebenaran).

Imam al-Auza’i rahimahullah berkata :

Telah sampai kepadaku bahwa barangsiapa mengada-adakan satu bid’ah yang sesat, maka syaitan akan membuatnya cinta untuk beribadah atau meletakkan rasa khusyu’ dan mudah untuk menangis agar ia dapat memburunya” [lihat Ushuulus-Sunnah oleh Imam Ahmad bin Hanbal hal 30-37].

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim tersebut sesudah teringat (akan larangan itu)” [QS. Al-An’aam: 68].

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata :

Dalam ayat ini terkandung nasihat yang agung bagi mereka yang membolehkan duduk bermajelis dengan ahlul bid’ah, yaitu dengan orang-orang yang suka mengubah-ubah perkataan Allah, mempermainkan Kitab-Nya dan Sunnah Rasul-Nya, serta mengembalikan pemahaman al-Qur’an dan as-Sunnah kepada hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan bid’ah mereka yang rusak. Maka, jika seseorang tidak mampu mengingkari atau mengubah kebid’ahan mereka, paling tidak dia harus meninggalkan majelis mereka, dan tentu ini mudah baginya, tidak susah. Dan terkadang orang-orang yang menyimpang tersebut menjadikan kehadiran seseorang bersama mereka (meskipun orang tersebut bersih dari kebid’ahan yang mereka lakukan) sebagai syubhat, dengannya mereka mengaburkan (permasalahan) atas orang-orang awam. Jadi, dalam kehadirannya (di majelis mereka) terdapat tambahan mudharat dari sekedar mendengarkan kemungkaran” [lihat Tafsir Fathul Qadir II/185].

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur-an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam” [QS. An-Nisaa’: 140].

Imam ath-Thabari rahimahullah berkata :

“Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas tentang larangan untuk ikut di dalam majelis ahlul bid’ah dari setiap macam pelaku kebid’ahan dan orang-orang fasik yang mereka berbicara tentang kebathilan” [lihat Tafsir ath-Thabari IV/328].

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata :

Apabila telah tetap (perintah) menjauhi para pelaku kemaksiatan, maka menjauhi para pelaku kebid’ahan lebih utama (diperintahkan)” [lihat Tafsir al-Qurthubi V/418].

*Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :*

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ اْلأَصَاغِرِ

Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah seseorang menimba ilmu dari al-Ashaaghir” (HR. Abdullah bin Mubarak dalam Kitab Zuhudnya no.61 dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir juz 22 hal 361-362, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no.2207).

Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah berkata bahwa kata al-Ashaaghir dalam hadits tersebut adalah “Ahlul Bid’ah“* [lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah I/95 no. 102 dan Silsilah ash-Shahihah no.695).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata :

Ini adalah sifat yang sesuai dengan yang disifatkan. Ahli bid’ah adalah kecil meskipun mereka menganggap besar diri-diri mereka dan setiap orang yang menyelisihi nash (dalil) maka dia kecil” (Syarah Hilyah Thalibil ‘Ilmi hal 136).

Lalu apakah tanda dari ahlul bid’ah itu ?

Imam Abu Hatim ar-Raazi rahimahullah berkata :

“Tanda ahlul bid’ah itu adalah (selalu) mencela ahlul atsar (pengikut jejak salafus shalih)” (lihat Aqidah Abi Hatim ar-Raazi hal 69).

Lihatlah perkataan para salaf terdahulu dibawah ini, bagaimana mereka sangat perhatian dan selalu mengingatkan umat dalam masalah ini.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Janganlah engkau duduk bermajelis dengan para pengikut hawa nafsu, karena bermajelis dengan mereka itu akan menyebabkan hati menjadi sakit” [lihat asy-Syari’ah no. 55 oleh al-Ajurri dan al-Ibaanah oleh Ibnu Baththah no. 619].

Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin rahimahumallah berkata :

Janganlah kalian bermajelis dengan ahlul ahwa ! Janganlah kalian berdebat dengan mereka ! Dan janganlah kalian mendengar dari mereka !” [lihat Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat al-Kubra VII/172 dan Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah I/133 oleh al-Lalika’i].

لا تجالس صاحب بدعة فانه يمرض قلبك

Janganlah kalian duduk bersama ahli bid’ah, karena duduk dengan mereka bisa menularkan penyakit (syubhat) dalam hatimu” (Al-I’tisham I/60).

Dari Marhum bin Abdil Aziz al-Aththar, aku mendengar ayahku dan pamanku berkata, kami mendengar al-Hasan al-Bashri melarang bermajelis dengan Ma’bad al-Juhani (seorang tokoh Qodariyyah), ia (al-Hasan) berkata :

لا تجالسوه فإنه ضال مضل

Jangan kalian bermajelis dengannya ! Karena ia sesat dan menyesatkan” [lihat as-Sunnah II/391 oleh Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dan Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah IV/637 oleh al-Lalika’i].

Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata :

Barangsiapa mendengarkan ahlul bid’ah dengan pendengarannya, padahal dia mengetahui, maka ia keluar dari penjagaan Allah dan (urusannya) diserahkan kepada dirinya sendiri

Setelah membawakan perkataan Sufyan ats-Tsauri di atas, al-Hafidz adz-Dzahabi berkata: “Kebanyakan para imam Salaf berpendapat dengan tahdzir ini, mereka melihat bahwa hati itu lemah dan syubhat-syubhat itu menyambar-nyambar” [lihat Siyar A’laamin Nubalaa’ VII/261].

Mubasyir bin Isma’il al-Halabi rahimahullah berkata :

Pernah dikatakan kepada al-’Auzai : “Sesungguhnya ada seseorang yang mengatakan : Aku akan bermajelis dengan ahlus sunnah dan aku akan bermajelis (juga) dengan ahlul bid’ah“. Maka al-’Auza’i berkata : “Orang ini mau menyamakan antara yang haq dan yang bathil” [lihat al-Ibaanah II/456 oleh Ibnu Baththah].

Imam al-’Auza’i rahimahullah berkata :

Barang siapa yang menutupi bid’ah-nya dari kami, tidaklah samar bagi kami pergaulannya” [lihat al-Ibaanah II/479 oleh Ibnu Baththah].

Ma’mar berkata : Suatu ketika Ibnu Thowus sedang duduk, kemudian datang seorang Mu’tazili lalu berbicara, Ibnu Thawus lalu memasukkan dua jari ke telinganya dan berkata kepada anaknya : “Wahai anakku, masukkan dua jarimu ke dua telingamu dan kencangkanlah ! Jangan engkau dengarkan apa yang ia katakan sedikitpun !” [lihat Hilyatul Auliyaa’ 1/218 dan Siyar A’laamin Nubalaa’ 11/285].

Abu Qilabah rahimahullah berkata :

لا تجالسوا أهل الأهواء، ولا تجادلوهم، فإني لا آمن أن يغمسوكم في الضلالة، أو يلبسوا عليكم في الدين بعض ما لبس عليهم

Janganlah kalian duduk bersama ahlu ahwa’ (ahlul bid’ah) dan janganlah mendebat mereka dikarenakan sesungguhnya aku tidak merasa aman (khawatir) mereka akan menanamkan kesesatan kepada kalian atau menanamkan keraguan kepada kalian dalam perkara agama, yaitu dengan sebagian kerancuan yang ada pada mereka” (lihat asy-Syari’ah oleh al-Ajurry hal 56 dan al-Ibaanah oleh Ibnu Batthah II/437).

Mufadhdhol bin Muhalhal as-Sa’di rahimahullah berkata :

Seandainya ahlul bid’ah itu, jika engkau duduk bersamanya, lalu ia berbicara dengan bid’ahnya maka engkau akan mentahdzirnya dan lari darinya. Akan tetapi ia berbicara kepadamu dengan hadits-hadits sunnah pada majelisnya yang tampak, lalu bid’ahnya masuk kepadamu, kemudian bid’ah itu mengenai hatimu, maka kapan bid’ah itu akan keluar dari hatimu ?” [lihat Ibnu Baththoh dalam al-Ibaanah].

Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata :

Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang bertugas mencari majelis-majelis dzikir, maka lihatlah bersama siapakah majelismu itu, janganlah bersama ahlul bid’ah, karena Allah Ta’ala tidak melihat kepada mereka. Dan salah satu tanda nifaq adalah seseorang bangun dan duduk bersama ahlul bid’ah. Aku mendapati sebaik-baik manusia (yakni tabi’in), mereka semuanya adalah Ahlus Sunnah dan mereka melarang (yakni memperingatkan umat) dari ahlul bid’ah” [lihat Hilyatul Auliyaa’ VIII/104 dan I’tiqaad Ahlis Sunnah 1/138).

Beliau juga berkata :

Jauhilah olehmu duduk dengan orang yang dapat merusak hatimu (aqidahmu) dan janganlah engkau duduk bersama pengikut hawa nafsu (ahlul bid’ah) karena sungguh aku khawatir kamu terkena murka Allah” [lihat Ibnu Baththoh dalam Al-Ibaanah II/462-463 no. 451-452) dan al-Lalika’i dalam Syarhul Ushul 262].

Imam Ibnul Mubarak rahimahullah berkata :

ليكن مجلسك مع المساكين، وإياك أن تجلس مع صاحب بدعة

Hendaklah majelismu itu bersama orang-orang miskin dan berhati-hatilah kamu dari duduk dengan ahlul bid’ah” [lihat Siyar A’laamin Nubalaa’ VIII/399].

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata :

أهل البدع ما ينبغي لأحد أن يجالسهم ولا يخالطهم ولا يأنس بهم

Ahli bid’ah itu, tidaklah pantas bagi seseorang untuk bermajelis dengan mereka dan bercampur dengan mereka serta bersikap lunak kepada mereka” [lihat al-Ibaanah II/475 oleh Ibnu Baththah].

Sebagian orang berkata kepada Imam Ahmad bahwa berat baginya untuk berkata si B itu begini dan si C itu begitu (dalam rangka memperingatkan umat dari kebid’ahannya), maka Imam Ahmad pun berkata : “Jika kamu diam dan aku juga diam, maka kapan orang bodoh itu tahu mana yang benar dan mana yang salah ?” (Majmu’ Fatawa 28/231).

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya :

Mana yang lebih engkau sukai, seseorang berpuasa, shalat dan beri’tikaf atau dia membicarakan (penyimpangan) ahlul bid’ah ?” Maka beliau menjawab : “Kalau dia berpuasa, shalat dan beri’tikaf maka hal itu untuk dirinya sendiri, tapi kalau membicarakan (penyimpangan) ahlul bid’ah maka ini untuk dirinya dan kaum muslimin dan ini lebih utama“.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

Seandainya Allah tidak memilih orang yang dapat menolak bahaya ahlul bid’ah maka rusaklah agama ini. Dan kerusakannya lebih dahsyat dari pada kerusakan yang ditimbulkan oleh musuh dari kalangan ahli perang, karena mereka jika telah menguasai tidak akan memulai dengan merusak hati serta agama kecuali terakhir. Adapun ahli bid’ah mereka langsung merusak hati” (lihat Majmu’ Fatawa 28/231-232).

Abul Qosim Ismail bin Muhammad bin Fadl at-Taymi al-Asbahany rahimahullah berkata :

Amalan meninggalkan majelis-majelis ahlul bid’ah dan meninggalkan pergaulan dengan mereka adalah sunnah, supaya hati-hati kaum muslimin yang lemah tidak terpikat dengan sebagian bid’ah mereka, sampai manusia mengetahui bahwasanya mereka adalah ahlul bid’ah. Dan juga jangan sampai bermajelis dengan mereka sebagai perantara untuk menampakkan bid’ah mereka ataupun berdalam-dalam pada perkataan yang tercela. Menjauhi pelaku bid’ah terpuji agar diketahui bahwasanya mereka menyimpang dari jalannya para sahabat رضي الله عنهم” (lihat al-Hujjah fii Bayaanil Muhajah wa Syarah Aqidah Ahlis Sunnah II/550).

Kalaupun seseorang tetap bergaul dengan ahlul bid’ah karena kesombongannya dengan ilmunya dan ia yakin tidak akan terpengaruh, maka ketahuilah, kehadirannya di majelis-majelis ahlul bid’ah atau majelis-majelis yang menyebarkan kesesatan terdapat bahaya-bahaya yang lain.

Dampak negatif akibat dari duduk bermajelis dan bergaul dengan ahlul bid’ah antara lain

🔥 Orang yang duduk bermajelis dengan ahlul bid’ah akan terkena syubhat mereka dan tidak bisa membantahnya, yang akhirnya dia pun terjerumus dalam kesesatan dan kebid’ahan mereka.

🔥 Duduk bermajelis dengan mereka (ahlul bid’ah) bertentangan dengan perintah Allah untuk tidak duduk bersama di majelis mereka dan menentang Rasulullah yang juga telah melarang bermajelis dengan mereka serta menyimpang dari jalan para sahabat.

🔥 Duduk bermajelis dengan ahlul bid’ah akan menumbuhkan rasa kecintaan kepada mereka, padahal Allah telah memerintahkan untuk membenci dan memusuhi mereka.

🔥 Duduk bermajelis dengan ahli bid’ah dapat membahayakan bagi ahli bid’ah itu sendiri.

Karena diantara hikmah menjauhi mereka adalah agar mereka jera dan kemudian rujuk (keluar) dari kebid’ahannya. Adanya orang yang dekat dengan mereka akan menjadi sebab jauhnya mereka dari keinginan untuk bertaubat, karena merasa jalan yang ditempuhnya adalah kebenaran.

🔥 Duduk bermajelis dengan mereka (ahlul bid’ah) dapat menjadi sebab orang lain berburuk sangka kepadanya, meskipun ia tidak terpengaruh dengan bid’ah-bid’ah mereka dan tidak setuju dengan mereka.

(lihat Mauqif Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah min Ahlil Ahwaa’ wal Bida’ II/550-551 oleh Syaikh DR.Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili).

Inilah sebagian dari keburukan yang kita ketahui. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tahu betapa banyak mafsadah yang muncul akibat duduk bermajelis dan berteman dengan ahlul bid’ah. Mudah-mudahan ini cukup sebagai nasihat bagi orang yang menginginkan keselamatan agamanya.

Jika datang larangan dari para ulama untuk bermajelis dengan ahlul bid’ah, maka maknanya bukan berarti seseorang yang berilmu dengan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya tidak perlu mendakwahkan mereka kepada kebaikan, tidak membantah mereka dan tidak mendekati majelis-majelis mereka untuk tujuan ini, AKAN TETAPI maksud para ulama di sini adalah kekhawatiran bagi orang yang tidak mampu untuk menolak syubhat-syubhat mereka (ahlul bid’ah) dari dirinya sehingga akan berpengaruh pada hatinya.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata :

Agamamu ! Agamamu ! Sesungguhnya ia adalah darah dagingmu, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambilnya. Ambillah dari orang-orang yang istiqomah (di atas sunnah) dan jangan mengambil dari orang-orang yang melenceng (dari sunnah)” (lihat Al-Kifaayah fii ‘Ilmir Riwayah oleh al-Khathib al-Baghdadi hal 121).

Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata :

Sesungguhnya ilmu itu adalah agama, maka hendaklah kalian berhati-hati dari siapa kalian mengambil agama ini” (lihat Muqaddimah Shahiih Muslim Bisyarhin Nawawi I/126).

Kita boleh menerima nasihat dari siapa saja jika memang itu benar (meskipun pelaku maksiat), tetapi kita tidak boleh menuntut ilmu dan duduk bermajelis kepada ahlul bid’ah, tetapi haruslah dengan orang yang agamanya, aqidahnya, ibadah dan manhajnya benar.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Ringkasan Dalil dan Keterangan 20 Dampak Buruk Dan Akibat Yang Merugikan Bagi Pelaku Bid’ah…

(1). Amalannya tidak akan diterima Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perkara baru dalam urusan (agama) kami ini apa-apa yang tidak ada darinya (keterangan), maka amalan itu tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718 (17), hadits dari ‘Aisyah).

Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan atas perintah kami, maka ia tertolak” (HR. Muslim no.1718 (18), Abu Dawud no.4606 dan Ahmad VI/73, hadits dari ‘Aisyah).

Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah : “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya ?”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS. Al-Kahfi [18] : 103-104).

(2). Pelaku bid’ah dianggap telah mematikan Sunnah.

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :

Tidaklah datang (suatu masa) kepada manusia, melainkan mereka akan membuat bid’ah di dalamnya dan akan mematikan Sunnah, sehingga maraklah perbuatan bid’ah dan matilah Sunnah” (Al-I’tisham I/87 oleh Imam asy-Syathibi).

(3). Pelaku bid’ah dianggap pemecah-belah umat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ما من نبيٍّ بَعثَهُ اللهُ في أُمَّةٍ قبْلِي ، إلَّا كان لهُ من أُمَّتِه حوَارِيُّونَ ، وأصحابٌ يأخُذونَ بِسنَّتِه ، ويَتقيَّدُونَ بأمْرِهِ ، ثمَّ إنَّها تَخُلُفُ من بعدِهِمْ خُلُوفٌ ، يقولُونَ ما لا يَفعلُونَ ، ويفعلُونَ ما لا يُؤْمَرُونَ ، فمَنْ جاهدَهمْ بيدِهِ فهوَ مُؤمِنٌ ، ومَنْ جاهدَهمْ بِلسانِه فهوَ مُؤمِنٌ ، ومَنْ جاهدَهمْ بقلْبِهِ فهوَ مُؤمنٌ ، ليس وراءَ ذلكَ من الإيمانِ حبَّةُ خرْدَلٍ

Tidak seorang Nabi pun yang diutus Allah pada umat sebelumku kecuali ia mempunyai shahabat-shahabat dan penolong-penolong yang setia. Mereka mengikuti sunnah-sunnahnya dan mengerjakan apa yang diperintahkannya. Kemudian datang setelah mereka kaum yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan dan “Mengerjakan Apa Yang Tidak Diperintahkan”. Maka barang siapa yang berjihad melawan mereka dengan tangannya maka dia adalah mukmin dan barang siapa berjihad dengan lisannya dia adalah mukmin dan siapa yang berjihad dengan hatinya maka dia mukmin. Setelah itu tidak ada lagi iman walaupun sebesar biji sawi” (HR. Muslim no. 50, hadits dari Ibnu Mas’ud, Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no.5790).

إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابَيْنِ افْتَرَقُوا فِي دِينِهِمْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً يَعْنِي الْأَهْوَاءَ كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصِلٌ إِلَّا دَخَلَهُ وَاللَّهِ يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ لَئِنْ لَمْ تَقُومُوا بِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَغَيْرُكُمْ مِنْ النَّاسِ أَحْرَى أَنْ لَا يَقُومَ بِهِ

Sesungguhnya ahli kitab telah berpecah menjadi 72 firqah; dan sesungguhnya umat ini akan berpecah menjadi 73 millah, mereka semua berada di Neraka kecuali satu, yaitu al-Jama’ah. Nanti akan muncul pada umatku sekelompok orang yang kerasukan bid’ah dan hawa nafsu sebagaimana anjing kerasukan rabies, tak tersisa satu pun dari urat dan sendinya melainkan telah kerasukan. Wahai sekalian bangsa Arab, kalau kalian saja tidak mau melaksanakan ajaran Nabimu, maka orang lain akan lebih tidak mau lagi” (HR. Abu Dawud no 4597 dan Ahmad IV/102 no. 17061, hadits dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, lihat ash-Shahiihah no. 204)

(4). Pelaku bid’ah yang tidak bertaubat, maka ia akan membuat-buat bid’ah yang lebih buruk lagi.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata :

Tidaklah seseorang selalu mengikuti pendapat akalnya dalam hal-hal bid’ah kemudian meninggalkannya, kecuali kepada hal-hal yang lebih buruk darinya” (Al-I’tisham I/92).

(5). Pelakunya dianggap telah terjatuh ke dalam kesesatan, karena semua bid’ah adalah sesat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Muslim no. 867, hadits dari Jabir bin Abdillah).

وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

Jauhilah segala perkara baru (di dalam agama) karena sesungguhnya setiap perkara baru di dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” [HR. Abu Dawud no.4607, at-Tirmidzi no.2678, Ibnu Majah no.43, Ahmad IV/126, Ibnu Hibban no.102, al-Hakim I/95-97 dll, lihat Irwaa-ul Ghaliil VIII/107 no.2455, hadits dari ‘Irbadh bin Saariyah].

Abdullah bin ’Umar radliyallaahu ’anhuma berkata:

كُلُّ بِدْعَةٍِ ضَلاَلَةٌُ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةًَ

Setiap bid’ah itu adalah sesat walaupun manusia memandangnya sebagai satu kebaikan” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikai dalam Syarah Ushulil-I’tiqad no. 205 dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 205].

(6). Pelaku bid’ah adalah orang yang dilaknat menurut syari’at.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru (bid’ah) atau mendukung pelaku bid’ah di dalam (kota Madinah), maka dia akan mendapatkan laknat dari Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya baik amalan yang fardhu maupun yang sunnah pada hari kiamat” (HR. Bukhari no 1870 dan Muslim no.1370, hadits dari ‘Ali bin Abi Thalib).

(7). Pelaku bid’ah tidak mendapatkan penjagaan dari Allah Ta’ala.

Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata :

“Barangsiapa mendengarkan ahlul bid’ah dengan pendengarannya, padahal dia mengetahui, maka ia keluar dari penjagaan Allah dan (urusannya) diserahkan kepada dirinya sendiri”

Setelah membawakan perkataan Sufyan ats-Tsauri di atas, al-Hafidz adz-Dzahabi berkata: “Kebanyakan para imam Salaf berpendapat dengan tahdzir ini, mereka melihat bahwa hati itu lemah dan syubhat-syubhat itu menyambar-nyambar” [lihat Siyar A’laamin Nubalaa’ VII/261].

Ancaman ini bagi yang mendengarkan, lalu bagaimana bagi pelaku kebid’ahan itu sendiri ???

(8). Semakin menjauhkan pelakunya dari Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ …

Akan muncul diantara kalian suatu kaum yang kalian akan meremehkan shalat kalian (para sahabat), puasa kalian dan amal kalian di samping shalat mereka, puasa mereka, dan amal mereka. Mereka rajin membaca al-Qur’an akan tetapi (pengaruhnya) tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah yang keluar menembus sasarannya” (HR. Bukhari no 5058 dan Muslim no 1064, hadits dari Abu Sa’id al-Khudri).

Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah (salah seorang tokoh tabi’in) berkata :

مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً

Tidaklah bertambah semangat pelaku bid’ah dalam beribadah, melainkan menjadikan mereka semakin jauh dari Allah” (Hilyatul Auliya’ 1/392).

(9). Pelaku bid’ah dianggap telah mendustakan Allah, yaitu dengan menyakini bahwa Islam itu belum sempurna, padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah menyempurnakannya.

Allah Ta’ala berfirman :

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan kepada Surga dan menjauhkan dari Neraka, melainkan sudah dijelaskan semuanya kepada kalian” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir no.1647 dan Ahmad V/153, 162, hadits dari Abu Dzar, lihat ash-Shahiihah no.1803)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

اتبعوا و لا تبتدعوا فقد كُفِيتم

Ikutilah dan jangan berbuat bid’ah, sebab kalian telah dicukupkan

(Al-Lalika’i I/22 no.119)

(10). Pelaku bid’ah ikut menanggung dosa orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.

Allah Ta’ala berfirman :

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

Agar mereka memikul dosa-dosa mereka seluruhnya pada hari kiamat dan sebahagian dari dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu” (QS. An-Nahl [16]: 25).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“…Dan barangsiapa yang mengadakan suatu bid’ah lalu mengamalkannya, maka ia akan mendapatkan dosa dari orang yang ikut melakukannya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR. At-Tirmidzi no.2677 dan Ibnu Majah no.209).

(11). Pelaku bid’ah sangat sulit untuk bertaubat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَ اللهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعْ بِدْعَتَهُ

Sesungguhnya Allah akan menghalangi setiap pelaku bid’ah untuk bertaubat sampai dia meninggalkan bid’ahnya” (HR. At-Tirmidzi, ath-Thabrani dan al-Baihaqi, hadits dari Anas bin Malik, lihat Shahihut Targhiib wat Tarhiib no. 54 dan ash-Shahiihah IV/154 no.1620)

Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata :

البدعة أحبُ إلى إبليس من المعصية ، المعصية يُتابُ منها، والبدعة لا يُتابُ منها

Bid’ah lebih disukai oleh iblis daripada (pelaku) maksiat, sebab (pelaku) maksiat masih bisa diharapkan taubatnya, sedangkan (pelaku) bid’ah tidak dapat diharapkan pelakunya mau bertaubat darinya (sulit bertaubat)” (Talbis Iblis hal 221 dan Ilmu Ushulil Bida’ hal 218).

(12). Pelaku bid’ah tidak akan minum dari telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ أُنَادِيهِمْ أَلَا هَلُمَّ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا

“Aku akan mendahului mereka (umatku) menuju telaga. Sungguh, akan ada beberapa orang yang dihalau dari telagaku sebagaimana di halaunya unta yang sesat. Aku memanggil mereka: “Hai datanglah kemari…!” Namun dikatakan kepadaku : “Mereka telah merubah-rubah (ajaranmu) sepeninggalmu“. Maka aku berkata : “(kalau begitu) menjauhlah sana… menjauhlah sana” (HR. Muslim no 249, Ibnu Majah no 4306, dan Ahmad II/300, 408 hadits no. 7980, 8865 dan 9281).

Dalam riwayat yang lain dikatakan :

Aku lantas berkata : “Wahai Rabbku, ini adalah umatku“. Lalu Allah berfirman : “Engkau tidak mengetahui (bid’ah) apa yang mereka ada-adakan setelahmu” (HR. Bukhari no. 7049)

(13). Pelaku bid’ah secara tidak langsung menuduh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم tidak amanah dan menganggapnya tidak menyampaikan seluruh ajaran agama Islam kepada umat.

Imam Malik rahimahullah berkata :

من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا – صلى الله عليه وسلم- خان الرسالة ، لأن الله يقول :{اليوم أكملت لكم دينكم}، فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا

“Barangsiapa yang melakukan bid’ah di dalam Islam yang dianggapnya baik (hasanah), maka sungguh dia telah menganggap (Nabi) Muhammad telah mengkhianati risalah (kenabian), karena Allah Ta’ala berfirman : “Pada hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian untuk kalian” [QS Al-Maidah: 3]. Maka perkara apa saja yang pada masa itu (saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup) tidak dianggap (sebagai bagian dari) agama, maka pada hari ini pun tidak dianggap sebagai (bagian dari) agama” [Al-I’tisham oleh asy-Syathibi 1/49].

(14). Pelaku bid’ah dikhawatirkan terjerumus ke dalam kekafiran.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku” (HR. Bukhari no.5063 dan Muslim no.1401, hadits dari Anas).

Tidak termasuk golongan kami siapa saja yang mengamalkan sunnah selain sunnah kami” (HR. At-Tirmidzi no.2695, ad-Dailami dan ath-Thabrani dalam al-Kabiir, hadits dari Ibnu Abbas, Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 5439 dan ash-Shahiihah no.2194)

(15). Pelaku bid’ah dikhawatirkan akan mati dalam keadaan suu’ul khatimah.

Seorang pelaku bid’ah berarti orang yang sedang bermaksiat kepada Allah dan siapa pun yang bersikukuh dengan maksiatnya perlu dicemaskan kalau-kalau ia mati dalam keadaan itu.

(16). Pelaku bid’ah akan mendapatkan kebinasaan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan dalam perkara agama, karena sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian oleh sikap berlebih-lebihan mereka dalam perkara agama” (HR. Ahmad I/215 dan 347, an-Nasaa’i V/268, Ibnu Majah no.3029 dan al-Hakim I/466, hadits dari Ibnu Abbas, lihat Shahiihul Jaami no.2680).

Sesungguhnya setiap amal mempunyai kesemangatan dan setiap kesemangatan mempunyai masa jenuh, maka barangsiapa masa jenuhnya menuju kepada Sunnahku maka ia benar-benar telah mendapat petunjuk dan barangsiapa masa jenuhnya kepada yang selain itu (yaitu bid’ah), maka ia benar-benar binasa” (HR. Al-Baihaqi, hadits dari Ibnu Umar, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 2152)

Sesungguhnya aku telah meninggalkan kalian di atas agama yang terang, siangnya sepertinya malamnya. Tiada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam Kitab as-Sunnah, lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib no.59).

(17). Pelaku bid’ah adalah orang yang dibenci Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Orang yang paling dibenci Allah ‘Azza wa Jalla adalah orang yang mencari sunnah jahiliyah dalam Islam…” (HR. Ath-Thabrani, lihat Tafsir Ibnu Katsir III/164, tahqiq oleh Syaikh Muqbil al-Wadi’i).

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata :

إن أبغضَ الأمور إلى الله البِدَع

Sesungguhnya perkara yang paling dibenci Allah adalah bid’ah” (Al-Baihaqi dalam as-Sunan IV/316).

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata :

Sesungguhnya Allah memiliki Malaikat yang bertugas mencari majelis-majelis dzikir, maka lihatlah bersama siapakah majelismu itu, janganlah bersama ahlul bid’ah, karena Allah Ta’ala tidak melihat kepada mereka. Dan salah satu tanda nifaq adalah seseorang bangun dan duduk bersama ahlul bid’ah. Aku mendapati sebaik-baik manusia (yakni tabi’in), mereka semuanya adalah Ahlus Sunnah dan mereka melarang (yakni memperingatkan umat) dari ahlul bid’ah” [lihat Hilyatul Auliyaa’ VIII/104 dan I’tiqaad Ahlis Sunnah 1/138).

(18). Pelaku bid’ah dianggap seperti dajjal.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

سيَكونُ في أمَّتي دجَّالونَ كذَّابونَ ، يحدِّثونَكُم ببدَعٍ منَ الحَديثِ ، بما لم تَسمَعوا أنتُمْ ولا آباؤُكُم ، فإيَّاكم وإيَّاهُم لا يفتِنونَكُم

Akan ada para dajjal pendusta diantara umatku yang membuat bid’ah dari hadits yang tidak pernah didengar oleh kalian maupun bapak-bapak kalian. Maka berhati-hatilah terhadap mereka dan janganlah kalian disesatkan dan terfitnah oleh mereka” (HR. Muslim no.7 dan Ahmad 16/245 no.8580, hadits dari Abu Hurairah).

(19). Wajah pelaku bid’ah akan menghitam di hari kiamat.

Allah Ta’ala berfirman :

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri dan ada pula yang hitam muram…” (QS. Ali ‘Imran [3]: 106)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menafsirkan ayat ini dengan mengatakan :

يَعْنِي: يَوْمَ الْقِيَامَةَ، حِيْنَ تَبْيَضُّ وُجُوْهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَتَسْوَدُّ وُجُوْهُ أَهْلِ الْبِدْعَةِ وَالُفُرُقَةِ

Yaitu hari kiamat… ketika wajah ahlussunnah wal jama’ah putih berseri, sedangkan wajah ahlul bid’ah wal furqah hitam legam” (Tafsir Ibnu Katsir II/92)

(20). Pelaku bid’ah diancam dengan neraka.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin (yaitu para sahabat), niscaya akan Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan akan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An-Nisaa’ [4]: 115)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka” (HR. An-Nasaa’i no. 1578)

Al-Imam Al-Barbahaari rahimahullah berkata :

Hati-hatilah dari bid’ah-bid’ah yang kecil, karena bid’ah yang kecil itu akan terus meningkat hingga menjadi bid’ah yang besar. Demikianlah setiap kebid’ahan yang diada-adakan oleh umat ini awalnya dianggap ‘sepele’ menyerupai al-Haq (kebenaran), sehingga tertipulah orang yang terjatuh di dalamnya, kemudian ia tidak mampu untuk keluar darinya. Lalu membesarlah kebid’ahan tersebut dan menjadi agamanya. Akhirnya ia pun menyimpang dari “Ash-Shiraatul Mustaqiim” (jalan yang lurus) dan keluar dari keislamannya…” (lihat Ithaaful Qaari bit Ta’liqaat ‘ala Syarhissunnah lil Imam Al-Barbahaari 1/81).

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى