Category Archives: BBG Kajian

Ternyata Keshalihan Bisa Diturunkan…

Allah Ta’ala berfirman :

Dan berikanlah keshalihan kepadaku (dengan juga memberikan keshalihan itu) kepada anak cucuku” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15)

Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku termasuk orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb kami, perkenankanlah do’aku” (QS. Ibrahim [14]: 40)

Imam al-Bukhari rahimahullah, diantara sebab beliau menjadi anak yang shalih adalah karena keshalihan ayahnya yaitu Abul Hasan Isma’il bin Ibrahim…

Ahmad bin Hafsh berkata :

“Aku masuk menemui Abul Hasan Isma’il bin Ibrahim tatkala ia hendak meninggal. Maka beliau berkata : “Aku tidak mengetahui di seluruh hartaku ada satu dirham yang aku peroleh dengan syubhat” (Taariikh ath-Thabari 19/239 dan Tabaqaat asy-Syaafi’iyyah al-Kubra II/213).

Allah Ta’ala berfirman :

Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang “ayahnya adalah seorang yang shalih”, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu…” (QS. Al-Kahfi [18]: 82)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

Dikatakan bahwa ayah (yang tersebutkan dalam ayat di atas) adalah ayah/kakek ke-7, dan dikatakan juga kakek yang ke-10. Dan apapun pendapatnya (kakek ke-7 atau ke-10), maka ayat ini merupakan dalil bahwasanya seseorang yang shalih akan dijaga keturunannya” (Al-Bidaayah wan-Nihaayah 1/348).

Lihatlah bagaimana Allah menjaga sampai keturunan yang ke-7 karena keshalihan seseorang…

Sa’iid bin Jubair rahimahullah berkata :

Sungguh aku menambah shalatku karena putraku ini
Berkata Hisyam : “Yaitu karena berharap agar Allah menjaga putranya” (Tahdziibul Kamaal X/366 dan Hilyatul Auliyaa’ IV/279)

Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah berkata :

Setiap mukmin yang meninggal dunia (di mana ia terus memperhatikan kewajiban pada Allah), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu” (Jami’ al-‘Ulum wal Hikam 1/467)

Sekarang coba renungkan, apakah sudah termasuk orang-orang yang shalih…? Banyak beribadah…? Selalu menjaga diri untuk tidak memakan dan membeli dari harta yang syubhat…?

Maka janganlah seseorang heran jika mendapati anak-anaknya keras kepala dan bandel, masih lalai dengan shalat, tidak mau diajak shalat ke masjid, sulit untuk menghafal al-Qur’an, tidak mau diajak ke taklim, tidak mau menutupi aurat dll…

Bisa Jadi” sebabnya adalah orang tua itu sendiri yang tidak shalih, durhaka kepada orang tuanya serta memakan atau menggunakan harta haram, sehingga dampaknya kepada anak-anaknya…

Anak yang tumbuh dari makanan yang haram kelak menjadi orang yang tidak peduli akan rambu-rambu halal dan haram dalam agamanya, lalu bagaimana mungkin orang tua akan mendapatkan anak yang shalih…?

Akan tetapi pada asalnya insya Allah jika seorang ayah atau ibu itu shalih dan shalihah, maka Allah Ta’ala pun akan menjaga anak-anaknya…

Wahai Saudaraku…

Inginkah anakmu menjadi shalih dan shalihah…?

Ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berbakti kepada kedua orang tuanya…?

Dan jika engkau menginginkannya…

Lalu sudahkah engkau shalih sebagai orang tua…?

Allah Ta’ala berfirman :

“…Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat…” (QS. Az-Zumar [39]: 15)

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Sudahkah Takut Akan DOSA..?

Abdullah bin Syubrumah rahimahullah berkata :

عجبت للناس يحتمون من الطعام مخافة الداء، ولا يحتمون من الذنوب مخافة النار

Aku heran kepada manusia, mereka berhati-hati ketika mengkonsumsi makanan karena khawatir penyakit, namun mereka tidak berhati-hati dari dosa karena takut api Neraka” (Siyar A’laamin Nubalaa’ VI/348)

Ibnu Sirin rahimahullah berkata :

“Sungguh aku mengetahui sebuah dosa yang membuatku kini terlilit hutang. 40 tahun yang lalu aku pernah memanggil seseorang dengan ucapan : “Wahai orang yang bangkrut“. Lalu aku menceritakan hal ini kepada Abu Sulaiman ad-Darini, kemudian beliau berkata : “Dosa mereka sedikit, sehingga mereka tahu dosa mana yang menyebabkan musibah yang menimpa mereka, sedangkan dosaku dan dosamu banyak, sehingga kita tidak tahu dosa mana yang menyebabkan musibah menimpa kita” (Shifatus Shofwah III/246).

Suatu hari Kurz bin Wabiroh di dapati sedang menangis, lalu ketika ia ditanya apa sebabnya, maka ia pun berkata : “Tadi malam aku gagal membaca al-Qur’an seperti biasanya, itu semua gara-gara 1 dosa yang telah aku kerjakan” (Shifatus Shofwah III/122).

Ali bin Husain bin Abu Maryam berkata bahwa Riyaah al-Qoisi berkata : “Aku memiliki dosa sebanyak 40 lebih. Sungguh aku telah mohon ampun kepada Allah sebanyak 100rb kali untuk setiap dosa itu” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam hal 539 oleh Ibnu Rajab).

Wuhaib bin al-Warad ditanya : “Apakah orang yang melakukan maksiat itu bisa merasakan nikmatnya beribadah ?” Dia menjawab : “Tidak“, begitu pula bagi orang yang di dalam hatinya “TERBESIT” keinginan untuk melakukan maksiat” (Dzammul Hawaa hal 196 oleh Ibnul Jauzi).

Oh…..betapa malangnya hati yang buta, yang tidak sabar menahan kepahitan sesaat, dan lebih memilih kehinaan sepanjang abad dengan cara melakukan berbagai maksiat…

Oh…..betapa malangnya hati yang mati, berkelana memburu dunia, padahal dunia kelak pasti sirna, dan malas meniti jalan menuju akhirat, padahal semuanya akan berakhir disana…

اَللَّهُمَّ إِنَّ عَافِيَةَ يَوْمِيْ أَنْ لاَ أَعْصِيْكَ فِيْهِ

Ya Allah, sesungguhnya keselamatan hariku adalah dimana aku sama sekali tidak bermaksiat kepada-Mu pada hari tersebut…

اللهم لين قلبي بالتوبة ولا تجعل قلبي قاسيا كالحجر

Ya Allah, lembutkanlah hatiku dengan taubat, dan janganlah Engkau jadikan hatiku keras seperti batu…

اللهم ارزقني عينين هطالتين تشفيان القلب بذروف الدمع من خشيتك

Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku dua mata yang banyak meneteskan air mata, yang mengobati hati dengan air mata, lantaran rasa takut kepada-Mu…

اللهم انك تحول بين المرء و قلبه فحل بيني و بين معاصيك ان اعمل بشيء منها

Ya Allah, sesungguhnya Engkau memberi tabir di antara seseorang dengan hatinya. Maka tabirilah antara diriku dengan berbagai kemaksiatan kepada-Mu, agar aku tidak melakukan sedikit pun di antara kemaksiatan-kemaksiatan itu…

Aamiin…

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Kebahagiaan Di Akhirat Akan Di Dapat Melalui ISTIGHFAR…

Kebahagiaan di akhirat akan di dapat melalui ISTIGHFAR. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

مَن أحَبَّ أنْ تسُرَّه صحيفتُه فلْيُكثِرْ فيها مِن الاستغفارِ

Barangsiapa yang ingin berbahagia ketika melihat lembaran catatan amalnya, maka perbanyaklah ISTIGHFAR

(HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath, 1/256, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no, 5955).

Allah Ta’ala berfirman

“فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً”

Artinya: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh: 10-12)

Ayat di atas menjelaskan dengan gamblang bahwa di antara buah istighfar: turunnya hujan, lancarnya rizki, banyaknya keturunan, suburnya kebun serta mengalirnya sungai.

Karenanya, dikisahkan dalam Tafsir al-Qurthubi, bahwa suatu hari ada orang yang mengadu kepada al-Hasan al-Bashri rohimahullah tentang lamanya paceklik, maka beliaupun berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”.

Kemudian datang lagi orang yang mengadu tentang kemiskinan, beliaupun memberi solusi, “Beristighfarlah kepada Allah”. Terakhir ada yang meminta agar didoakan punya anak, al-Hasan menimpali, “Beristighfarlah kepada Allah”.

Ar-Rabi’ bin Shabih yang kebetulan hadir di situ bertanya, “Kenapa engkau menyuruh mereka semua untuk beristighfar ?”.

Maka al-Hasan al-Bashri rohimahullah pun menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Namun sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”.

Mereka Akan Menjadi Saksi…

Janganlah engkau memusuhi syaitan tatkala di hadapan manusia, namun engkau menjadi sahabatnya tatkala bersendirian. Tatkala engkau menutup pintu kamar, lalu menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihatmu, tatkala itu ingatlah:

1) Allah Maha Melihat dan Mendengar …

2) Jangankan gerakan tubuhmu, bahkan lirikan dan jelalatan matamu diketahui oleh Allah bahkan telah dicatat oleh Allah sebelum engkau mengedip matamu, bahkan isi hatimu diketahui oleh Allah …

3) Allah mengadakan pengawasan yang ketat dengan menugaskan para malaikat untuk mencatat segala gerak-gerikmu. Bahkan malaikat Raqib dan ‘Atid senantiasa menyertaimu …

4) Bukan hanya buku catatan amalanmu yang akan menjadi saksi kelak pada hari kiamat, bahkan tanganmu dan kakimu akan menjadi saksi, sementara mulutmu ditutup, maka bagaimana engkau bisa membela dirimu?

5) Bahkan kulitmu akan berbicara membeberkan aib-aibmu yang kau lakukan tatkala bersendirian …

6) Demikian juga bumi tempat pijakmu tatkala engkau bermaksiat akan ikut pula menjadi saksi …

7) Lantas bagaimana lagi jika ternyata yang memaparkan files aib-aibmu dan yang akan mengadilimu adalah Allah …

8) Lantas bagaimana lagi jika pengumbaran aib-aibmu ternyata di hadapan khalayak ramai, di hadapan kedua orang tuamu, istrimu, anak-anakmu, para sahabatmu, & murid-muridmu yang selama ini hanya mengenal penampilanmu sebagai orang baik di hadapan mereka?

Ya Allah anugrahkanlah kepada kami rasa khosyah kepada-Mu tatkala kami bersendirian.

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

da210614
da141116-2032

 

Di Surga Tidak Ada Matahari dan Bulan..?

TANYA:

Benarkah di surga tidak ada matahari dan bulan? Seperti yang disebutkan di surat al-Insan ayat 13. Sy pernah mendengar ini dr seorang ustad… mohon penjelasan…

JAWAB:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kita mengimani firman Allah sebagaimana yang Dia nyatakan dalam al-Quran,

مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الْأَرَائِكِ لَا يَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلَا زَمْهَرِيرًا

Di dalam surga mereka duduk bertelekan di atas dipan, di dalamnya mereka tidak merasakan matahari dan tidak pula zamharir.” (QS. al-Insan: 13)

Penjelasan ahli tafsir,

[1] Keterangan Ibnul Jauzi,

قوله تعالى : { لاَ يرَوْنَ فيها شمساً } فيُؤذيهم حَرُّها { ولا زمهريراً } وهو البرد الشديد . والمعنى : لا يجدون فيها الحَرَّ والبرد . وحكي عن ثعلب أنه قال : الزمهرير : القمر، أي : لم يطلع القمر .

Firman Allah, (yang artinya) “di dalamnya mereka tidak merasakan matahari” sehingga mereka terganggu dengan teriknya matahari. Dan tidak merasakan zamharir, yaitu cuaca dingin yang kuat. Maknanya, mereka tidak merasakan panas dan dingin. Sementara Ibnu Tsa’lab menyebutkan bahwa Zamharir maknanya adalah bulan. Sehingga maksud ayat, tidak terlihat bulan. (Tafsir Zadul Masir, Ibnul Jauzi, 6/104).

[2] Keterangan Ibnu Katsir,

أي: ليس عندهم حَرّ مزعج، ولا برد مؤلم، بل هي مزاج واحد دائم سَرْمَدْيّ

Artinya mereka tidak mengalami kepanasan yang terik dan dingin yang berat. Namun tergabung menjadi satu, terus seperti itu selamanya. (Tafsir Ibnu Katsir, 8/290).

Makna zamharir, dipahami banyak ulama tafsir dengan cuaca sangat dingin. Diantara dalil yang mendukung makna ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

قَالَتِ النَّارُ رَبِّ أَكَلَ بَعْضِى بَعْضًا فَأْذَنْ لِى أَتَنَفَّسْ. فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ نَفَسٍ فِى الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِى الصَّيْفِ فَمَا وَجَدْتُمْ مِنْ بَرْدٍ أَوْ زَمْهَرِيرٍ فَمِنْ نَفَسِ جَهَنَّمَ وَمَا وَجَدْتُمْ مِنْ حَرٍّ أَوْ حَرُورٍ فَمِنْ نَفَسِ جَهَنَّمَ

Neraka mengadu, ‘Ya Rabbi, kami antara satu dengan yang lain saling memakan, maka izinkan aku untuk menghembuskan nafasku.’ Lalu Allah izinkan untuk bernafas dua kali. Nafas ketika musim dingin dan nafas ketika musim panas. Cuaca dingin atau zamharir yang kalian jumpai, itu dari nafasnya jahanam. Sementara kondisi panas terik yang kalian jumpai, itu dari nafasnya jahanam. (HR. Muslim 1434).

Dalam hadis di atas ada penyebutan zamharir sebagai kesamaan dari cuaca dingin.

Sehingga kita mengimani seperti yang Allah beritakan. Dan ayat di atas dipahami kebanyakan ahli tafsir sebagai kenikmatan surga dalam bentuk mereka tidak kepanasan dan tidak kedinginan. Apakah di surga ada matahari dan bulan? Allahu a’lam kami tidak tahu pernyataan yang menegaskan itu…

Wal ilmu ‘indallah…

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits,  حفظه الله تعالى.

Ref:  https://konsultasisyariah.com/31121-di-surga-tidak-ada-matahari-dan-bulan.html

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-17

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj salaf dalam masalah tarbiyah dan perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH KE-16 bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 17 🌼

Bahwa mereka menyuruh kepada perbuatan yang ma’ruf dan melarang dari perbuatan yang mungkar DENGAN ILMU, dengan SIKAP LEMAH LEMBUT, dengan SABAR, dengan tujuan untuk memperbaiki.

Berdasarkan dengan firman Allah [QS Al-Imran : 104]

‎وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ

Hendaklah diantara kalian ada sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan, beramar ma’ruf nahi mungkar

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beraabda:

‎إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ

Sesungguhnya ALLAH  itu LEMBUT dan CINTA KELEMBUTAN

‎وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

Dan Allah memberikan pada kelembutan apa yang Allah tidak berikan kepada sikap keras dan kasar.”

Maka dari itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata dalam mad muftafawa jilid 13 halaman 96:

Maka apabila (kata beliau), kita tidak bisa menghasilkan kebaikan yang banyak kecuali dengan melakukan kebaikan yang sedikit, maka kita lakukan kebaikan yang sedikit itu. Bila kita tidak bisa menghasilkan kebaikan yang banyak.”

Dan apabila kita tidak bisa menghilangkan keburukan sama sekali, dimana kita di hadapkan pada dua keburukan yang satu lebih besar dan satu lebih kecil, maka tentunya lebih kecil lebih kita pilih.

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para Rasul untuk menghasilkan maslahat dan menyempurnakannya dan meniadakan mafsadat/menyedikitkannya.

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendakwahkan manusia dengan sesuai kemampuan.
Dan orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar, hendaklah mempunyai sifat-sifat yang tadi telah di sebutkan:

1. DIA HARUS BER-ILMU terhadap yang ia perintah dan larang.
2. DIA MEMPUNYAI SIFAT LEMBUT dan bukan orang yang kasar dan harus dengan punya sifat sabar.

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan tentang sifat-sifat orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar dalam kitab Minhajus Sunnah An Nabawiyah jilid 5 halaman 256. Kata beliau:
“..maka melaksanakan kewajiban berupa dakwah yang wajib membutuhkan kepada syarat-syarat yang harus terpenuhi..”

Orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar harus mempunyai sifat:
1. BER-ILMU terhadap dengan apa yang ia perintahkan, juga apa-apa yang ia larang.
2. LEMBUT dengan cara memerintahkan dan melarang.
3. HALIM (tidak cepat emosi), punya kesabaran dalam menahan emosi, ketika ia beramar ma’ruf nahi mungkar.

👉🏼 Maka SEBELUM KITA MENYURUH orang lain kepada kebaikan atau melarang dari keburukan KITA WAJIB BER-ILMU TERLEBIH DAHULU.
Sambil kemudian kita perbaiki dengan tata caranya penuh kelembutan dan kita harus siap untuk menahan emosi di saat kita di caci maki, di saat kita beramar ma’ruf nahi mungkar.

👉🏼 Adapun KALAU TIDAK TERPENUHI SYARAT-SYARATNYA maka TIDAK BOLEH ia melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar.

Wallahu a’lam🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-18

Susah Diam, Retorikanya Bagus, Tapi Jahil…

Inilah cobaan yang sangat berat bagi banyak orang di zaman ini, zaman medsos, zaman dimana setiap orang bisa memiliki panggung bicara sendiri-sendiri… anak SD pun bisa punya panggung bicara sendiri untuk bicara apapun yang dia sukai, dan hampir semuanya punya pendengar yang mendukungnya.

Bagi orang yang susah diam, retorikanya bagus, tapi jahil… sungguh zaman ini adalah zaman yang sangat berat… karena banyak hal yang akan dia komentari, banyak orang yang akan mendukungnya, padahal dia jahil, sehingga akan banyak terjerumus dalam kesalahan… dan biasanya orang yang demikian akan sulit memperbaiki kesalahannya, karena mengakui kesalahan itu tidak hanya butuh ilmu, tapi juga butuh jiwa yang besar dan kesatria.

Sungguh sangat tepat perkataan yang disebutkan oleh At-Thufi -rahimahullah-:

إن أشد الناس شقاء من بلي بلسان منطلق، وقلب منطبق، فهو لا يحسن أن يتكلم، ولا يستطيع أن يسكت.

Sungguh orang yang paling celaka adalah orang yang diuji dengan lisan yang liar (susah diam) dan hati yang tertutup (oleh kejahilan), sehingga dia tidak bisa berbicara dengan baik (ngawur), dan juga tidak bisa diam“. [Syarah Mukhtashar Raudhah 3/41].

Semoga kita semua Allah jauhkan dari ujian ini, amin.

Jika kita sudah tahu ada orang yang diuji oleh Allah dengan ujian ini, maka jangan sampai kita memperparah keadaan dia, sehingga dia semakin terjerumus ke dalam jurang yang lebih dalam.

Misalnya, jika ada orang yang sangat getol memusuhi dan menjatuhkan ustadz-ustadz salafi dengan sebutan talafi, maka jangan sampai kita menyebarkan tulisannya, atau menjadikannya semakin terkenal… Diamkan saja hal itu agar dia tenggelam dengan sendirinya. Tidak perlu digubris, dan anggaplah apa yang dikatakannya sebagai angin lalu.

Sebaliknya, sibukkan diri untuk terus menuntut ilmu dan menguatkan akidah dan manhaj yang benar, semakin kuat ilmu kita, maka semakin kuat pertahanan kita terhadap pengaruh buruk dari luar.

Tidak perlu risau dengan ocehannya dan orang-orang yang semisalnya, karena orang sepertinya tidak hanya ada di zaman ini saja, dari dulu juga ada orang-orang seperti itu, dan akhirnya mereka tenggelam oleh zaman, tapi Islam tetap Allah jaga dengan baik dan utuh. Ingatlah selalu firman Allah ta’ala:

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ

Adapun buih, dia akan hilang (dengan sendirinya) sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya. Adapun yang bermanfaat bagi manusia, dia akan tetap ada di bumi“. [Ar-Ra’d: 17].

Ingatlah, bahwa siapa yang bertakwa dalam ucapannya dan perbuatannya, maka dialah yang akan Allah menangkan, dan diantara bentuk ketakwaan kita adalah meninggalkan orang-orang yang demikian untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat bagi kita.

Sungguh sangat pas bagi kita perkataan Nabi Musa ‘alaihissalam kepada kaumnya yang diabadikan Allah dalam Alqur’an:

اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

Mohonlah kalian pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sungguh bumi ini milik Allah dan Dia akan mewariskannya kepada siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa“. [Al-A’raf: 128].

Iya, hasil akhir yang baik akan selalu Allah berikan kepada orang yang bertakwa… siapa yang lebih bertakwa, dialah yang akan Allah menangkan… Jadi berlomba-lombalah untuk menjadi yang paling bertakwa, baik dalam ucapan maupun perbuatan, baik lahir maupun batin… Pasti Allah memenangkan kita dan memuliakan kita.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى 

Kita Berada Di Golongan Yang Manakah..?

APAKAH KITA TERMASUK GOLONGAN 1 :

1.  (أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَشْكُرُونَ)  “Kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 243)

2.  (أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ)  “Kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al-A’raaf: 187)

3.  (أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ)  “Kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS. Huud: 17)

 

APAKAH KITA TERMASUK GOLONGAN 2 : 

1.  (أَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ)  “Kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Aali Imran: 110)

2.  (أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ)  “Kebanyakan mereka tidak berakal.” (QS. Al-Maa-idah: 103)

3.  (أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ)  “Kebanyakan mereka bodoh.” (QS. Al-An’aam: 111)

4.  (أَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ)  “Kebanyakan mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah.” (QS. An-Nahl: 83)

5.  (أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ الْحَقَّ فَهُم مُّعْرِضُونَ) “Kebanyakan mereka tidak mengetahui yang hak (kebenaran), karena itu mereka berpaling.”(QS. Al-Anbiyaa’: 24)

 

APAKAH KITA TERMASUK GOLONGAN 3 :

1.  (وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ)  “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

2.  (وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلاَّ قَلِيلٌ)  “Ternyata orang-orang beriman yang bersamanya hanya sedikit.” (QS. Huud: 40)

3.  (ثُلَّةٌ مِّنَ الْأَوَّلِينَ – وَقَلِيلٌ مِّنَ الْآخِرِينَ)  “Banyak dari orang-orang yang terdahulu dan sedikit dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al-Waaqi’ah: 13-14)