Category Archives: Sofyan Chalid Ruray

Pemilik Rumah Al Hamdu Di Surga…

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِى فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِى فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِى بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

“Apabila mati anak seorang hamba, maka Allah berkata kepada para malaikatnya: Kalian telah mencabut ruh anak hambaku. Mereka menjawab: Iya. Allah berkata: Kalian telah mengambil buah hatinya. Mereka berkata: Iya. Maka Allah berkata: Apa yang dikatakannya? (Dan Allah Maha Tahu apa yang dikatakannya). Mereka menjawab: Dia memujimu dan mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Allah pun berkata: Bangunlah untuknya sebuah rumah di surga, dan namakan rumah pujian (Al-Hamdu).” [HR. At-Tirmidzi dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1408]

Al-Munawi rahimahullah berkata,

أن الأسقام والمصائب لا يثاب عليها لأنها ليست بفعل اختياري بل هو على الصبر وهو ما عليه ابن السلام وابن القيم قالا فهو إنما نال ذلك البيت بحمده واسترجاعه لا بمصيبته

“Hadits ini menunjukan bahwa penderitaan dan musibah tidaklah diberikan pahala begitu saja, sebab ia bukan perbuatan berdasarkan pilihan, tetapi pahala diberikan karena KESABARAN, inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnus Salam dan Ibnul Qoyyim, mereka berdua berkata: Dia mendapatkan rumah di surga itu karena pujiannya dan ucapan Innaa liLlaahi wa innaa ilaihi rooji’uun, bukan semata karena musibahnya.” [Faidhul Qodhir, 1/564]

Dan bisa jadi, seorang yang ditimpa musibah malah mendapat dosa, bahkan menjadi kafir dan musyrik, sebab dia marah kepada Allah ta’ala, tidak senang dengan ketentuan-Nya, mengeluh kepada makhluk, bahkan mendatangi DUKUN, ORANG PINTAR (yang sebenarnya bodoh), paranormal (yang sebenarnya tidak normal), kubur “keramat” sampai berdoa kepada penghuni kubur, padahal doa adalah ibadah yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain-Nya. Berdoa kepada selain-Nya, apakah kepada malaikat, nabi maupun wali adalah perbuatan SYIRIK besar yang menyebabkan pelakunya murtad, keluar dari Islam dan kekal di neraka apabila dia mati sebelum bertaubat.

Asy-Syaikh Ibnul ‘Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qoulul Mufid menjelaskan, manusia dalam menghadapi musibah terbagi menjadi empat tingkatan:
1) Marah
2) Sabar
3) Ridho
4) Syukur.

Maka syukur adalah tingkatan tertinggi, minimalnya sabar, dianjurkan ridho, adapun marah diharamkan.

Sofyan Chalid Ruray, حفظه الله تعالى

Jujurkah Cintamu..?

Benarkah engkau mencintai pasanganmu, anakmu, orang tuamu, keluargamu atau sahabatmu…?

Kalau benar cintamu maka tentu engkau akan menjaga mereka dari penderitaan yang paling dahsyat, yaitu azab neraka yang sangat pedih,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” [At-Tahrim: 6]

Kalau jujur cintamu maka tentu engkau ingin berkumpul kembali bersama mereka dalam kehidupan yang kekal abadi di negeri akhirat, di surga yang penuh kenikmatan,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Orang-orang yang saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” [Az-Zukhruf: 67]

إِلَّا الْمُتَّقِينَ يعني الموحِّدين

“Kecuali orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang mengamalkan tauhid.” [Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, Zaadul Masir, 4/83]

Maka tidak ada bukti cinta yang lebih hakiki di dunia ini selain menasihati dan mendidik orang-orang yang tercinta untuk melakukan amalan terbesar yang akan menjadi kunci surga dan menjauhi dosa terbesar yang akan mengekalkan pelakunya di neraka, yaitu mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik.

Sofyan Chalid Ruray,  حفظه الله تعالى

Usia…

* 8 Jam larut dalam pekerjaan.
* 2 Jam didalam kendaraan.
* 7 Jam tidur.
* 1 Jam chatting.
* 1 Jam makan.
* 30 Menit dikamar mandi.
* 1 Jam rebahan istirahat.
* 1 Jam berbicara dan ber gurau bersama sahabat.
* 30 Menit bercanda dengan sang buah hati.

Sehari waktu yang terpakai aktifitas 22 jam, setara dengan 66 tahun jika usia kita 70 tahun maka yang tersisa adalah 4 tahun.

Yang kami maksudkan dari hitungan diatas, sekedar mengingatkan untuk kita menjaga dan memanfaatkan waktu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran.”
[ al-‘Ashr/103: 1-3]

Ali Basuki, حفظه الله تعالى
Posted on Telegram by:
Sofyan Chalid Ruray,  حفظه الله تعالى

Teman Yang Sempurna…

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

من طلب أخا بلا عيب، صار بلا أخ

“Barangsiapa mencari teman yang tidak memiliki aib, sungguh ia akan hidup sendiri tanpa teman.”

Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah senantiasa menjagamu-,

Sesungguhnya “persaudaraan” bukanlah semata-mata sebuah slogan, akan tetapi “persaudaraan” adalah suatu akhlak yang bersumber dari dalam jiwa.

Kita semua butuh untuk saling menasehati.

Memegang teguh adab di antara kita merupakan perkara yang penting demi kelanggengan dan kelangsungan sebuah persaudaraan.

Jangan engkau menyangka akan mendapatkan seorang teman yang tidak pernah terjatuh dalam kesalahan.

Jika aku terjatuh dalam kesalahan terhadapmu, maka dimanakah sifat pemaafmu?

Allah ta’ala berfirman,

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” [Ali Imron: 134]

Apakah engkau telah mencarikan udzur/alasan buatku ketika sampai kabar kepadamu bahwa aku telah terjatuh dalam kesalahan terhadapmu?

Aku menduga engkau akan mendatangiku dan menasehatiku (terhada­p kesalahanku) serta mendoakanku agar tetap istiqomah.

‘Amir bin ‘AbdilQois berkata,

الكلمة إذا خرجت من القلب، وقعت في القلب، وإذا خرجت من اللسان لم تجاوز الآذان

“Suatu ucapan (nasehat) ketika keluar/bersumber dari hati, maka pengaruhnya sampai ke hati. Apabila ucapan tersebut hanya keluar dari mulut maka (pengaruhnya) tidak akan melebihi telinga.” [Lihat Kitab Washooyaa Al-Aabaa lil Abnaa]

Akan tetapi aku terkejut, ketika aku mengetahui bahwa engkau telah berbicara terhadap harga diriku dan telah menggibahiku.

Sungguh mengherankan perbuatanmu!

INIKAH “NILAI PERSAUDARAAN” YANG ENGKAU PAHAMI?

Abu Qilabah rahimahullah berkata,

إذا بلغك عن أخيك شيء تكرهه فالتمس له عذرا، فإن لم تجد له عذرا، فقل: لعله له عذر لا أعلمه

“Jika sampai kepadamu suatu berita yang engkau benci dari saudaramu, maka carikanlah udzur/alasan, jika engkau tidak mendapatkan udzur/alasan untuknya, maka katakanlah: Mungkin saja dia memiliki alasan yang aku tidak ketahui.” [Lihat kitab Raudhatul ‘Uqolaa]

Sesungguhnya hubungan sesama manusia membutuhkan kesabaran yang besar.

Jiwa manusia secara fitrah terdapat padanya kekurangan, kebodohan­ dan kedzoliman.

“MAKA JADILAH ENGKAU: PRIBADI YANG MEMILIKI AKHLAK YANG TERPUJI”.

Sesungguhnya bersabar terhadap teman-teman, merupaka­n tabi’at/sifat orang-orang yang mulia.

Orang yang bersabar terhadap teman-teman adalah orang yang mampu memikul, memahami dan mema’afkan kesalahannya, melupak­an kejelekannya serta mencarikan udzur/alasan untuk mereka.

Jangan engkau menunggu dan berharap (sampai) aku mengucapkan terima kasih atas kebaikanmu, sungguh aku telah lupa perkara tersebut.

Janganlah engkau mencari seseorang/teman yang sempurna (tidak pernah terjatuh dalam kesalahan), sesungguhnya KESEMPURNAAN hanya milik Allah semata.

Berkata sebagian orang bijak:

“Barangsiapa yang memcari teman yang tidak memiliki aib/kekurangan maka hendaklah ia hidup seorang diri.

Barangsiapa yang mencari seorang alim ulama yang tidak pernah tergelincir dalam kesalahan maka hendaklah ia hidup dalam kebodohan.

Barangsiapa yang mencari seorang teman tanpa mau mengerti dan memahami kesalahannya hendaklah ia berteman dengan penghuni kuburan.”

BETAPA INDAHNYA JIKA HUBUNGAN DIANTARA KITA SEMATA-MATA TULUS KARENA ALLAH TA’ALA!

Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang saling mencintai di atas kemuliaan-Mu dan naungilah kami di bawah naungan-Mu, di hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Mu (naungan arsy Allah Rabbul’izzah).

Penulis: Ustadz Abu ‘Abdillah Al-Bugisy hafizhahullah, Yaman.

Sumber: Group WA An-Nashihah.

*Dengan sedikit editan dari kami, semoga bermanfaat insya Allah ta’ala. Silakan dishare, jazaakumullaahu khayron.

Sofyan Chalid Ruray,  حفظه الله تعالى

Renungan Bermakna Di Akhir Tahun Akan Pentingnya Ilmu Agama…

✅ Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

🌴 “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” [Az-Zumar: 9]

➡ Banyak sekali perbedaan antara orang yang berilmu dan tidak berilmu, diantaranya yang sangat mendasar adalah, orang yang mengetahui suatu kemungkaran dan akibat-akibat jeleknya akan lebih terdorong untuk meninggalkannya dan mewaspadainya.

✅ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Barangsiapa tidak mengetahui kecuali kebaikan saja, maka bisa jadi datang kepadanya keburukan sedang ia tidak menyadari bahwa itu adalah keburukan, sehingga mungkin ia melakukannya dan mungkin juga ia tidak mengingkarinya, sebagaimana orang yang telah mengetahui keburukan dapat mengingkarinya.” [Majmu’ Al-Fatawa, 10/301]

➡ Sebagai contoh, di setiap malam pergantian tahun masehi, kita bisa mengukur seberapa jauh perbedaannya dan betapa pentingnya ilmu agama dalam kehidupan seorang hamba, dan tidak usah terlalu jauh, lihatlah kepada diri kita sendiri.

🌃 Dulu, sebagian kita ada yang ikut merayakan Tahun Baru, dan mungkin ketika itu sama sekali tidak terbayang kalau ternyata perayaan tersebut hukumnya haram, lalu setelah kita menuntut ilmu agama kita pun mengerti walhamdulillah, bahwa perayaan tersebut hukumnya haram karena termasuk tasyabbuh (menyerupai) orang kafir.

➡ Bahkan kita juga mengerti bahwa tasyabbuh terhadap orang-orang kafir dapat mengantarkan kepada kekafiran.

➡ Inilah pentingnya ilmu wahai Saudaraku.

🌌 Dulu, kita tidak tahu bahwa hari perayaan dalam Islam bukan sekedar seremonial belaka, hanya kebiasaan atau tradisi atau urusan dunia, lalu setelah kita menuntut ilmu agama kita pun tahu ternyata hari perayaan diatur dalam Islam, tidak boleh ditambah.

➡ Inilah pentingnya ilmu wahai Saudaraku.

🌠 Dulu, kita ikut membantu untuk suksesnya perayaan Tahun Baru, setelah kita menuntut ilmu agama kita pun tahu tidak boleh tolong menolong dalam perkara yang haram.

➡ Bahkan dulu, diantara kita masih mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru, setelah kita menuntut ilmu agama kita pun paham bahwa itu menunjukkan keridhoaan kita terhadap kesesatan dan ulama sepakat atas keharamannya.

➡ Inilah pentingnya ilmu wahai Saudaraku.

⛺ Dulu, kita tidak tahu bahwa membakar uang (rokok, petasan, mercon) adalah pemborosan harta, lalu setelah kita menuntut ilmu kita pun tahu bahwa hukumnya haram karena termasuk pemborosan dan penyia-nyiaan harta.

➡ Inilah pentingnya ilmu wahai Saudaraku.

🌃 Dulu, kita tidak tahu bercampur baur bahkan berdua-duaan dengan lawan jenis dan berpacaran hukumnya haram, lalu kita menuntut ilmu agama kita pun tahu keharamannya sebab itu semua mengantarkan kepada zina.

➡ Inilah pentingnya ilmu wahai Saudaraku.

🌌 Dulu, kita tidak tahu kalau musik, lagu-lagu dan nyanyian yang enak dinikmati ternyata hukumnya haram, lalu setelah kita menuntut ilmu kita pun mengerti keharamannya.

➡ Inilah pentingnya ilmu wahai Saudaraku.

🌠 Dan masih banyak lagi, kemungkaran yang dulu kita tidak mengetahuinya, dengan menuntut ilmu maka Allah ta’ala menganugerahkan hidayah kepada kita untuk mengenalnya dan menjauhinya.

➡ Inilah pentingnya ilmu wahai Saudaraku.

Sofyan Chalid Ruray,  حفظه الله تعالى 

Mengapa Mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru Masehi..?

Alasannya: Menjaga perasaan teman, tidak enak sama bos, menyenangkan pelanggan….?!

Subhaanallaah, takut membuat manusia marah tapi berani membuat Allah murka…?!

Saudaraku, yang menciptakanmu, yang selalu memberikan rezeki dan mencurahkan nikmat kepadamu adalah Allah ‘azza wa jalla, bukan manusia.

Yang Maha Mampu membalasmu dan menolongmu hanya Allah ‘azza wa jalla, bukan manusia.

Dialah Allah yang Maha Luas rahmat-Nya dan sangat keras azab-Nya. Maka Allah yang lebih patut engkau takuti, bukan manusia.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ الله تعالى عَنْهُ وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَسْخَطَ عليه الناس

“Barangsiapa mencari keridhoaan Allah walau dengan membuat manusia marah, maka Allah ta’ala akan ridho kepadanya dan menjadikan manusia pun ridho kepadanya, dan barangsiapa yang mencari keridhoaan manusia walau dengan membuat Allah murka, maka Allah murka kepadanya dan Allah jadikan manusia pun murka kepadanya.” [HR. Ibnu Hibban dari Aisyah radhiyallahu’anha, At-Ta’liqootul Hisan: 276, lihat juga Ash-Shahihah: 2311 dan Shahih At-Targhib: 2250]

Saudaraku, menjaga imanmu jauh lebih penting dari apa pun di dunia ini. Menjaga hubungan baikmu dengan Allah ‘azza wa jalla jauh lebih berharga daripada hubunganmu dengan makhluk.

Sofyan Chalid Ruray,  حفظه الله تعالى

DIA Bukan Saudaramu…!

Allah jalla wa ‘ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

 “Hanyalah orang-orang yang beriman itu bersaudara.” [Al-Hujurat: 10]

Asy-Syaikh Al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

لا يحل للمسلم أن يصف الكافر أيا كان نوع كفره؛ سواء كان نصرانيا، أم يهوديا، أم مجوسيا، أم ملحدا لا يجوز له أن يصفه بالأخ أبدا، فاحذر يا أخي مثل هذا التعبير، فإنه لا أخوة بين المسلمين وبين الكفار أبدا، الأخوة هي الأخوة الإيمانية كما قال الله عز وجل إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Tidak halal bagi seorang muslim untuk menyebut orang kafir dengan sebutan ‘saudara’. Orang kafir apa pun sama saja, apakah ia seorang Nasrani, Yahudi, Majusi atau Ateis, tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyebut orang kafir itu sebagai ‘saudara’ selama-lamanya.

Berhati-hatilah wahai saudaraku dengan ungkapan seperti ini, karena sesungguhnya tidak ada persaudaraan antara kaum muslimin dan orang-orang kafir (non muslim) selama-lamanya.

Ukhuwah adalah persaudaraan iman, sebagaimana firman Allah ta’ala, ‘Hanyalah orang-orang yang beriman itu bersaudara.’ (Al-Hujurat: 10).”

[Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 3/43, no. 402]

Sofyan Chalid Ruray, حفظه الله تعالى

Mari Do’akan…

Mari do’akan negeri yahudi yang lagi kebakaran…

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdoa,

مَلَأَ اللَّهُ بُيُوتَهُمْ وَقُبُورَهُمْ نَارًا

“Semoga Allah memenuhi rumah-rumah dan kuburan-kuburan mereka dengan api.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu]

Hadits yang mulia ini adalah doa yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam atas orang-orang kafir yang memerangi kaum muslimin di Perang Khandak.

Al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah berkata,

وفي الحديث : دليل على جواز الدعاء على الكفار بمثل هذا

“Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya mendoakan kejelekan atas orang-orang kafir (yang berbuat zalim) dengan doa seperti ini.” [Ihkaamul Ahkaam, hal. 101]

Sofyan Chalid Ruray,  حفظه الله تعالى