Category Archives: Syafiq Riza Basalamah

Siapa Namamu..?

Bismillah
Akhi Ukhti…

Siapa namamu?
Sudah berapa lama dirimu membawa nama tersebut?
Siapa yang memberimu nama tersebut dan untuk apa?
Dan yang terakhir…
Apa arti namamu?

Sebagian orang membawa nama berpuluh-puluh tahun namun sampai hari ini ia tidak mengetahui arti namanya dan untuk apa ortunya memberi nama tersebut…
Sebagian berkata apa arti sebuah nama?
Padahal nama itu merupakan bentuk optimis dan doa orang tua untuk anaknya…

Sebaik-baiknya nama adalah Abdullah dan Abdurrahman serta nama-nama yang mengandung makna penghambaan kepada Allah, dan nama-nama pujian

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bila mendapati nama sahabat yang tidak baik artinya atau berlebihan, atau mengandung kesyirikan maka beliau merubahnya, seperti yang bernama Abdul Hajar (hamba batu) dirobah dengan Abdullah…
Ada yang bernama ‘ashiyah (عاصية) yang artinya pembangkang dengan Jamilah yang artinya cantik

Coba cari tahu apa arti namamu?

Ada nama yang haram, karena mengandung unsur penghambaan kepada selain Allah, atau bahkan nama-nama kesyirikan, seperti nama-nama dewa dan Dewi Hindu, atau karena nama itu hanya pantas untuk Allah, maka kau harus merubahnya

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَخْنَى الأَسْمَاءِ يَوْمَ القِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الأَمْلاَكِ

“Sehina-hinanya nama di sisi Allah pada hari Kiamat kelak adalah seseorang yang bernama Malik AL-Amlak (raja pemilik semua)”. ( Shohih Bukhori, no.6205 )

Ada nama yang makruh, karena membawa makna yang buruk atau berlebihan, maka lebih baik bila kau merubahnya, seperti nama ribut

Jangan seperti seorang sahabat yang tidak mau dirobah namanya yang mengandung makna buruk maka keburukan dalam namanya selalu menemani kehidupan keluarga
coba kau baca kisah di bawah ini:

Sa’id bin Musayyab bin Hazn, meriwayatkan dari ayahnya, “Bahwa ayahnya (kakek Said) datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Maka beliau bertanya,
‘Siapa namamu?’
Dia menjawab, ‘Hazn,
Beliau bersabda, ‘Engkau (aku beri nama) Sahl (artinya mudah)
Dia menjawab, ‘Saya tidak mau mengganti nama yang diberikan oleh ayahku’.”
Ibnul Musayyab berkata, “Maka setelah kejadian itu, Al-Huzunah senantiasa ada pada kami.” (HR Al Bukhari )
Al-Huzunah bermakna “Muka kasar dan mengandung kekerasan.”

Akhi Ukhti…. coba kau cari tahu makna dari namamu…
Tanyakan pada ortumu, “Kenapa engkau diberi nama tersebut oleh mereka?

Jangan sampai engkau membawa nama yang membuat hidupmu sulit di dunia dan di akhirat.

Syafiq Riza Basalamah,  حفظه الله تعالى 

Musibah Sebagai Jalan Menghapus Dosa…

Akhi ukhti…

Tatkala kita mengetahui besarnya jumlah utang kita
Dan kita mengetahui pula bahwa
jumlah aset kita tidak cukup untuk melunasinya
Bahkan kalau kita mempekerjakan
diri kita dan keluarga kita untuk menebus hutang
Maka kita tergolong orang yang bangkrut, pailit.

sekarang coba bayangkan,
dalam setiap harinya, berapa banyak dosa yang kita lakukan
Kita tidak pernah menghitungnya,
kalau amal kebajikan insyaAllah dihitung…

sebagian tidak merasa berbuat dosa, karena memang ia tidak mengetahui mana yang dosa dan mana yang bukan…

Lepas dari semua itu, Allah, ar Rahman ar Rahiem…
Yang Maha Mengetahui dengan segala kekurangan hambanya, telah membuat suatu sistem pelunasan dosa yang sangat indah…

Yaitu, dengan menurunkan berbagai macam musibah

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ
مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى
– حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih , kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)

Jadi yang lagi sakit, pada hakekatnya dia sedang melunasi hutang-hutangnya

Maka tiada kata yang lebih pantas diucapkan pada waktu itu kecuali bersyukur kepada Allah

Salah satu ulama’ salaf
berkata:

لولا مصائب الدنيا
لوردنا الآخرة مفلسين

“Andai kata bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut”

Bagi akhi ukhti yang sedang
dapat musibah…
saatnya menjadikan musibah
itu sebagai ladang pelunasan dosa…

Dengan menata hati,
Bersabar
Meridhoi takdir ilahi
Bersyukur kepada Rabbi

Selamat mengamalkan…

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

da140913

Menghadapi Hari Esok…

Bismillah
Akhi Ukhti…
MENGHADAPI HARI ESOK

Jangan bangga dengan jumlahmu yang banyak
Jumlah itu hanya bilangan tanah yang berjalan
Hanya angka yang bisa ditambah dan dikurangi

Ingatlah umat islam sempat kalah padahal ditengah mereka ada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
dan jumlah mereka pada waktu itu Buanyaakkkkk

Bacalah dan camkan firman Allah, jangan hanya dibaca artinya

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ﴿٢٥﴾ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

Sesungguhnya Allâh telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain. Yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allâh menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allâh menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allâh menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. [at-Taubah/9:25-26].

INGAT… JANGAN CONGKAK

Yang bisa memenangkan kita itu bukan jumlah kita
Bukan kekayaan kita
Bukan kecerdasan kita
Bukan siasat kita, namun karena Allah jalla jalaluhu yang menolong dan memenangkan kita
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Jika Allâh menolong kamu, maka tidak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allâh membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allâh sesudah itu ? Karena itu hendaklah kepada Allâh saja orang-orang Mukmin bertawakkal. [Ali Imrân/3:160]

Maka untuk hari esok dan yang selanjutnya
Bila umat islam ingin menang, kita harus berubah, yakni dengan:
Kembalilah kepada agama Allah
Serahkan semuanya pada Allah
Bertaubat atas segala dosa
perbaiki perbuatan kita
terus beribadah
berdoa memohon dengan sangat, jangan hanya untuk diri sendiri namun kita umat islam semua dan negeri ini
banyak-banyak membaca:

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Kalau umat islam masih mengandalkan jumlah dan kekuatannya
Maka sepertinya kekalahan itu akan kembali dirasakan…
sampai kapan???
sampai kembali kepada agamanya
tunjukkan bahwa engkau ada muslim sejati

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Inilah Rasa Malu Yang Sebenarnya…

Bismillah
Akhi ukhti rahimakallah

Menurutmu sifat malu itu terpuji apa tidak?
Ana rasa kita sepakat nich, namun yang terkadang masih abstrak adalah memaknai sifat malu yang terpuji…

Rasa malu adalah bagian dari keimanan
Orang yang berakal sehat niscaya memiliki sifat pemalu, karena ia adalah akar kesehatan akal seseorang dan sumber kebaikan, yang tidak malu hanyalah orang bodoh dan biasanya akan berlaku jahat dan buruk, tindakannya membuat orang lain terperanjat, seraya berucap,
“Koq bisa dia melakukan itu?”
“Tidak menyangka kalau fulan tega berbuat itu”
Ungkapan kekecewaan yang mendalam

Ketika rasa malu hilang…
Tatkala pokok malu telah layu, manusia akan berdusta, menipu, mencuri, merampok, membunuh, memutilasi, memperkosa,korupsi, ingkar janji, jorok ucapannya, mengumbar auratnya….
Dia bertindak seenak perutnya
Bahkan ada yang seperti binatang

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda

((إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ)).

“Sesungguhnya di antara yang didapat manusia dari perkataan kenabian terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” [HR. al-Bukhori no. 6120]

Tatkala rasa malu hilang, maka kebaikan telah sirna dan pergi dan ketentraman ini akan segera berakhir

Perasaan malu itu dua macam, malu kepada Allah dan malu kepada manusia, keduanya terpuji,

hanya yang awal wajib dan yang kedua sunnah

Malu kepada Allah mendorong pemiliknya untuk menghindari hal-hal yang dibenci Allah

Malu kepada manusia membuat orang itu menghindari perbuatan dan perkataan yang tidak disukai masyarakat

Perhatikan petuah nabi shallallahu alaihi wasallam di bawah ini, Dari ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Hendaklah kamu benar-benar malu kepada Allâh!”
Para sahabat berkata:
“Wahai Rasûlullâh, al-hamdulillah kami malu (kepada Allah) dan alhamdulilah ”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Bukan begitu (sebagaimana yang kamu sangka-pen). Tetapi (yang dimaksud) benar-benar malu kepada Allâh adalah:

Engkau menjaga kepala dan isinya

Menjaga perut dan apa yang berhubungan dengannya;

Dan hendaklah engkau mengingat kematian dan kebinasaan.

Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia meninggalkan perhiasan dunia.

Barangsiapa telah melakukan itu, berarti dia telah benar-benar malu kepada Allâh Jalla jalaluhu (HR. Tirmidzi, no. 2458; Ahmad, no. 3662)

Akhi ukhti…
Itulah rasa malu yang sebenarnya
Moga engkau sudah merasakannya
Barakallahu fik

Syafiq Riza Basalamah,  حفظه الله تعالى

Sebesar Apakah Pengorbananmu..?

Bismillah
Akhi Ukhti Rahimakallah…

Sebesar apakah pengorbananmu dalam menuntut ilmu?

Apalagi untuk ilmu yang akan mengantarkanmu kepada Allah
Menunjukimu jalan ke surga
Menerangi untukmu yang halal dan yang haram
Mengangkat derajatmu di dunia dan di akhirat
Ilmu yang hingga semut dan ikan berdoa untukmu

Salah seorang ulama terkenal dari abad kelima Hijriah Muhammad bin Thahir, yang telah melakukan perjalanan panjang dalam ilmu, mengelilingi Syam, Hijaz, Mesir, Irak, Khurrasan

Abul Hasan al Karji pernah ditanya tentang Kredibilitas Ibn Thahir, dia berkata, “Tidak ada yang menandinginya pada masa itu”.

Tahukah engkau bagaimana perjuangan beliau dalam menuntut ilmu, beliau berkata:

“Aku pernah kencing darah dua kali
Sekali di Baghdad dan sekali di Mekah
Penyebabnya aku berjalan kaki tanpa alas di cuaca yang panas
Aku tidak pernah naik kendaraan selama mengumpulkan hadits
Aku membawa buku-bukuku di punggungku
Aku tidak tidak pernah minta-minta selama masa menuntut ilmu
Aku mencukupkan diri dengan apa yang datang
(Siyar A’lam an Nubala 19/363)

MaSya ALLAH…

Kiranya seperti apakah kondisimu dalam masa menuntut ilmu… apalagi ilmu akhirat?

Kalau hanya makan dengan tahu dan tempe
Atau nasi dengan lauk garam
Atau tidur beralaskan tikar…
Sepertinya itu belum seberapa di banding dengan Ibnu Thahir, yang sampai kencing darah…

Apa yang kau berikan kepada ilmu, ilmu hanya akan memberimu sebagiannya…

Coba kau duduk merenung…
Semua yang di dunia ini akan sirna kecuali yang di sisi Allah

Syafiq Riza Basalamah,  حفظه الله تعالى 

Jadilah Yang Terbaik…

Bismillah
Akhi ukhti… rahimakallah

Di mana letak tanganmu ketika ruku’?
Dan bagaimana posisi kepala dan punggungmu ketika itu?

Coba kau perhatikan, apakah ruku’mu sudah sesuai dengan buku panduan?
Atau kau berinisiatif sendiri mengikuti kenyamanan perasaanmu?
Hanya kau yang tahu hal itu.

Demi kesempurnaan shalat hamba, seyogyanya setiap muslim mengevaluasi posisi ruku’ dia, apakah sudah mendekati gerakan ruku’ Rasulullah shallallahu alaihi wasallam panutan kita?

Mungkin ada Sebagian yang berkata, yang penting kan shalatnya sah, tidak usah terlalu muluk-muluk!
Subhanallah, keenapa kita dalam urusan ibadah tidak mengejar yang sempurna dan paripurna, sebagian selalu mencari yang minimal…
minimalis…. he he he

Cobalah untuk tidak meraih yang di bawah bintang
Jadilah yang terbaik…

Dan yang bisa ana simpulkan tentang ruku’ dari hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah sebagai berikut

1. KEDUA TANGAN DILETAKKAN TEPAT DI LUTUT ( bukan di bawah lutut)(lihat HR. Abu Daud no. 863 dan An Nasai no. 1037. (Admin : lihat video berikut : https://www.instagram.com/p/BP5Z5iJjuMo/

2. KONDISI JARI-JARI TANGAN MEREGANG SEAKAN MENGGENGGAM LUTUT (lihat HR. Abu Daud no. 731 dan No. 734)

3. POSISI TANGAN DAN SIKU TIDAK MENEMPEL DENGAN SAMPING TUBUH NAMUN DIJAUHKAN dengan catatan tidak mengganggu yang di sampingnya bila shalat berjamaah (lihat HR Tirmidzi no: 260) )

4. POSISI KEPALA SEJAJAR DENGAN PUNGGUNG TIDAK MENDONGAK( lihat HR. Abu Daud no. 734, Tirmidzi no. 260 dan Ibnu Majah no. 863)

5. KONDISI PUNGGUNG RATA SEHINGGA JIKA AIR DITUANGKAN DI ATAS PUNGGUNGNYA, AIR ITU AKAN TETAP DIAM BUKAN SEPERTI BUKTI BILA DITUANGKAN AIR AKAN MENGALIR (lihat HR. Ibnu Majah no. 872)

6. THUMA’NINAH, TENANG SAMBIL MEMBACA BACAAN RUKU’ (lihatHR. al-Bukhâri,no. 757 dan Muslim,no. 397)

7. TIDAK MEMBACA AL QUR’AN (HR Muslim. no. hadits 1074)

8. MATA MAMANDANG KE TEMPAT SUJUD (ada yang berpendapat memandang pada kakinya ketika ruku’) (HR. Al Baihaqi 2/283)

Mungkin engkau ingin mempraktekkannya, semoga ALLAH memudahkannya untukmu…
(Admin : lihat video berikut : https://www.instagram.com/p/BP5Z5iJjuMo/

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Kita Perlu Terus Belajar Untuk Menjadi Lebih Baik…

Bismillah
Akhi Ukhti rahimakallah

Siapa yang tidak tahu dengan kedudukan shalat
Rukun islam yang kedua
Tiangnya agama
Pencegah dari perbuatan keji dan munkar
Tempat mengadu dan istirahat
Awal yang akan dihisap pada hari Kiamat?

InsyaAllah semua pada tahu…

Namun ternyata tidak semua mengamalkannya
Dan yang mengamalkannya belum tentu shalatnya benar dan diterima

Yang belum shalat segeralah untuk bertaubat, rasakan nikmatnya shalat
Yang sudah shalat perhatikan shalatmu, kiranya diterima atau tidak oleh Allah

Karena ada orang yang shalat selama 60 tahun, ternyata satupun shalatnya tidak diterima, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُصَلِّي سِتِّينَ سَنَةً وَمَا تُقْبَلُ لَهُ صَلاَةٌ وَلَعَلَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَلاَ يُتِمُّ السُّجُودَ وَيُتِمُّ السُّجُودَ وَلاَ يُتِمُّ الرُّكُوعَ

“Sesungguhnya (ada) seseorang sholat selama enam puluh tahun, namun tidak ada satu sholat pun yang diterima. Barangkali orang itu menyempurnakan ruku’ tapi tidak menyempurnakan sujud. Atau menyempurnakan sujud, namun tidak menyempurnakan ruku’nya.” [Hadits hasan riwayat al-Ashbahani dalam at-Targhib, lihat ash-Shohihah no. 2535]

Seorang muslim sejatinya tidak boleh beribadah asal-asalkan tanpa memperhatikan standar dari diterimanya amalan tersebut, yaitu :
1. Ikhlas
2. Sesuai dengan tuntunan nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam

Apakah shalatmu sudah benar dan baik?
Untuk baik hanya engkau yang tahu, dari niatmu
Untuk benar mungkin ada orang lain yang bisa melihat gerakan dan bacaanmu

Kita perlu terus belajar untuk menjadi lebih baik

Syafiq Riza Basalamah,  حفظه الله تعالى 

Pertanyaan Untuk Anda…

Bismillah
AKhi Ukhti…

Sudah sejak kapan engkau menjadi seorang muslim?
Sudah berapa kali engkau mengkhatamkan al Qur’an?
Hanya engkau yang tahu dan bisa menjawabnya

Tahukah engkau bahwa biasanya seorang pegawai baru akan mendapatkan training atau penjelasan yang gamblang tentang aturan perusahaan, agar dia tidak salah dalam bekerja
Kitapun ketika naik pesawat selalu mendapatkan penjelasan beberapa hal yang harus diketahui oleh penumpang:
Cara memakai sabuk pengaman
Cara meletakkan barang
Cara memakai Pelampung
Cara Memakai masker pernafasan, siapa dahulu yang harus memakainya?
Apalagi yang duduk di pintu darurat
Bila kau berkata kepada pramugarinya, saya sudah tahu dan sudah sering kali naik pesawat, dia tetap akan menjelaskan karena seperti itulah SOPnya

Ada sebuah pertanyaan yang ingin ana sampaikan, moga kau bisa menjawabnya

Sebagai seorang muslim tentunya engkau membaca al Qur’an
ia terdiri dari 30 juz dan terbagi menjadi 114 surat: bermula dengan al Fatihah dan berakhir denga an Naas
Perintah apakah yang pertama kali disebutkan di dalam al Qur’an, yang harus dilaksanakan hamba ?
hmm

Apakah engkau harus berfikir untuk menjawabnya?

sepertinya tidak perlu, karena engkau adalah seorang muslim yang memang harus mengetahui dan mengamalkannya
Kalau ternyata engkau belum tahu, maka bukalah surat al Baqarah ayat 21

Aku tidak akan menuliskan di sini, engkau harus membuka al Qur’an dan mengetahui tempatnya
Lalu Bacalah bersama artinya, hayati maknanya dan amalkan serta sampaikan

Itu modal hidup seorang hamba di muka bumi ini, supaya tidak lagi muncul muslim-muslim yang tersesat dan tidak tahu jalan
Jangan pernah bosan mengulanginya, seperti pramugari yang tidak pernah bosan memberikan penjelasan pada penumpang pesawat

Barakallahu fiik

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Berusaha Untuk Mendapatkan Yang Lebih Baik dan Abadi…

bismillah
Akhi ukhti…

Ketika engkau bersama menyantap makanan lezat, apa yang kau ingat pada waktu itu?
Sebagian orang mungkin aku termasuk di dalamnya, akan mengingat makanan yang lebih enak dari ini, restoran yang menyajikan lebih lezat dari yang ini, dsb

Dan bila kau melihat sebuah bangunan yang mewah, kiranya engkau akan mengingat bangunan lain yang lebih indah dan lebih mewah

Dan bila kau menaiki atau melihat kendaraan yang menakjubkan engkau akan membandingkan dengan mobil yang lebih wah yang mungkin pernah kau lihat walaupun hanya gambarnya

Sehingga dunia benar-benar menjadi visi dan misimu

Akhi Ukhti…

Pernahkah tatkala engkau melihat sesuatu yang menakjubkan, lalu dirimu ingat kepada surga Allah, sehingga adrenalinmu berkobar untuk meraihnya,
Berusaha untuk mendapatkan yang lebih baik dan abadi
Atau hal itu tidak pernah terjadi Padamu ?

Anas radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diberikan hadiah jubah sutera yang halus. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memakai sutera. Orang-orang takjub ketika itu dengan kelembutan kain Sutera tersebut A, Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَمَنَادِيلُ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ فِى الْجَنَّةِ أَحْسَنُ مِنْ هَذَا »

“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh sapu tangan Saad bin Muadz di surga, lebih baik dari ini.” (HR. Bukhari)

Semua kenikmatan di dunia ini seharusnya membuatmu ingat pada kenikmatan surga, segala kenikmatan yang kau pikirkan akan kau dapatkan bahkan lebih dari yang kau pikirkan

Atau kalau engkau tidak mengingat ingat surga, engkau ingat

anak-anak yatim di Aleppo

janda-janda miskin yang rumahnya hancur

mereka yang timpa banjir dan gempa
mengingat orang- orang yang ahli ibadah dan akhirnya mati dalam kondisi miskin
sehingga membuatmu melihat makanan itu menjadi tidak lezat dan enak untuk santap

Lihatlah sahabat yang kaya raya Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu, Suatu saat pernah dihidangkan makanan kepadanya berupa roti dan daging yang lezat, Tetapi waktu itu ia sedang berpuasa.
‘Abdurrahman ketika itu berkata, “Mush’ab bin ‘Umair adalah orang yang lebih baik dariku. Ia meninggal dunia pada perang uhud dikafani dengan kain, bila kepalanya ditutup, maka terbukalah kakinya. Jika kakinya ditutup terbukalah kepalanya
Begitu pula Hamzah demikian adanya, ia pun lebih baik dariku. Sedangkan kami diberi kekayaan dunia yang banyak.” Kami khawatir, jikalau kebaikan kami telas dibalas dengan kekayaan ini.” Kemudian ia terus menangis dan meninggalkan makanan itu.” (HR. Bukhari)

Subhanallah, kita tidak lebih baik dari mereka dan mereka hidup serba kekurangan

 Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Apakah Engkau Termasuk Orang Yang Selalu Terobsesi Untuk…

Bismillah

Akhi Ukhti…

Apakah engkau termasuk orang yang selalu terobsesi untuk mengganti barang yang kau miliki?

ingin ganti mobil yang lebih mewah dan baru

ingin ganti gadjet keluaran terbaru

ingin ganti tas dengan merk dan model yang lebih wah

ingin ganti motor yang lebih keren dan menawan

Atau apa saja…

Kalau yang mendorong dirimu itu karena faktor kebutuhan mungkin sesuatu yang oke-oke saja

Namun terkadang, engkau melakukan bukan karena kebutuhan
Tapi karena sesuatu yang ada di hatimu

Karena fulanah ganti mobil, engkau juga ingin
Karena fulanah pakai tas yang lebih mahal dari milikmu
Karena fulan memiliki gadjet teranyar
Karena Fulan membeli motor baru sedang motormu adalah bekas

Kalau yang menjadi pembimbing dalam belanja adalah nafsumu maka hidupmu akan susah
Engkau akan dibikin lelah olehnya, karena nafsu tidak pernah puas
Engkau selalu akan melihat yang lebih dari dirimu
Engkau akan terus memeras keringatmu dan menghabiskan waktumu bekerja keras hanya untuk menuruti nafsumu

Ada satu cara yang membuat hidupmu nyaman, bahkan engkau akan merasa lebih kaya dari semua orang, apa itu?

Sa’ad bin Abi Waqqash pernah berpesan pada anaknya

“يا بني، إذا طلبت الغنى فاطلبه بالقناعة؛ فإنها مال لا ينفد”

“Wahai ananda kalau engkau mencari kekayaan, maka carilah dengan Qana’ah, sesungguhnya ia adalah harta yang tidak ada habisnya” (Uyunul Akhbar 3/207)

Qana’ah ada Hati yang senantiasa menerima dan ridha atas pemberian Allah
Bila engkau memiliki hati yang Qana’ah sesungguhnya engkau dengan raja terkaya di muka bumi ini adalah sama

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى