Category Archives: Syafiq Riza Basalamah

Tak Kan Tergantikan…

Bismillah
Akhi Ukhti…

Terkadang seorang lelaki yang telah menikah, dia tersibukkan dengan keluarga barunya
Mungkin dia mendapatkan cinta dan kasih sayang dari pasangan hidupnya
Cinta sehidup semati yang dinantinya

Ibundanya tidak lagi menjadi nomor satu baginya
Mungkin baginya itu sesuatu yang wajar
Dan mungkin ibundamu juga memakluminya

tapi ingatlah!

MUSTAHIL BAGIMU UNTUK MENDAPATKAN DADA YANG LEBIH PENGASIH DARI DADA IBUMU


HATI YANG LEBIH PENYAYANG DARINYA

Sembilan bulan engkau dikandungnya
Nyawanya dipertaruhkan demi kelahiran
Dari susunya darah yang mengalir di tubuhmu
Dialah yang rela tidak tidur ketika engkau sakit
Dialah yang rela kelaparan demi engkau kenyang
Dialah yang lelah demi engkau istirahat
Dialah yang rela memberikan nyawanya bila engkau membutuhkan

ENGKAU TIDAK AKAN MENDAPATKAN PENGGANTI BAGI KASIH SAYANGNYA

Dia meridhai kepergianmu untuk hidup bersama istrimu

NAMUN SEBELUM IBUNDAMU PERGI MENINGGALKAN DUNIA INI
BERIKAN PADANYA SECERCAH BAKTIMU DAN KASIH SAYANGMU

Datanglah padanya
kecuplah keningnya
pijatlah kakinya
Dan mintalah maaf dan keridhaannya

Dan untuk para istri…
Bersabarlah menghadapi ibu mertuamu
Bila Ia cemburu
Bila Ia Marah
Bila Ia Cerewet

Dia sedang bersedih melihat perhatian anaknya pada istrinya

CEPAT ATAU LAMBAT dirimu akan merasakan isi hatinya ketika putramu menikah

Di balik pahitnya kesabaran ada kebahagiaan dan ketentraman

Syafiq Riza Basalamah,  حفظه الله تعالى

Musuhmu…

Memiliki satu musuh sudah sangat banyak
Mempunyai seribu sohib masihlah kurang, itulah pesan salah seorang ulama’!

Biasanya seorang yang memiliki musuh  akan berusaha untuk menyakiti musuhnya…
Kecuali syetan… banyak dari kita yang telah mengetahui bahwa dia adalah musuh kita, tapi malah berkawan dan bersahabat dengannya
Bahkan melakukan hal-hal yang menyenangkan syaitan

Padahal Allah telah mengingatkan:

‬إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا‪

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu maka jadikanlah dia sebagai musuhmu.” Fathir: 6

Akhi/Ukhti…
Siapapun yang membencimu
Siapapun yang memusuhimu

Ada satu langkah untuk menyakitinya
Untuk membuatnya gusar dan sengsara;

Satu langkah yang diridhai Allah, namun membuat musuhmu sengsara
membuatnya seperti cacing yang kepanasan

Yaitu: memperbaiki diri
Dekatkan dirimu pada Ilahi
Tinggalkan segala yang dibenci Rabbi
Basahi bibirmu dengan asma Allah

Tidak perlu kamu mendengki dan menghasut
Apalagi berbuat yang tak dibenarkan
Cukup kamu memperbaiki diri, Niscaya kamu sudah menyakiti musuh-musuhmu, dari bangsa Jin dan Manusia

Seorang alim ulama’ pernah berwasiat:

‫‪ ‬إذا أردت أن تؤذي عدوك فأصلح نفسك‬‬

“Bila kamu ingin menyakiti musuhmu, maka perbaikilah dirimu”.

Tiada senjata yang lebih ampuh, lebih dari kita memperbaiki diri sendiri

Selamat mencoba.

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

 

da100913

 

Hari Jum’at…

Bismillah
Akhi Ukhti…
Kebodohan membuat kita memandang yang baik jadi buruk dan sebaliknya yang buruk menjadi baik

Kebodohan membuat seseorang membiarkan permata berhamburan di tanah karena menurut dia hanya serpihan kaca

Kebodohan membuat seseorang meneguk oplosan bir sampai tewas padahal Allah menghalalkan berbagai minuman segar dan menyehatkan

Kebodohan membuat orang tidak menghargai hari jum’at bahkan ada yang membenci-nya padahal itu adalah hari yang paling mulia

“Hari yang paling baik yang mana matahari terbit pada hari itu adalah hari jum’at, pada hari itu Adam ‘alaihissalam diciptakan, dimasukkan ke dalam Surga dan pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya.” (HR. Muslim)
begitulah pesan Baginda Nabi Shalllallahu alaihi wasallam

Akhi Ukhti…
Tahukah engkau bahwa makhluk-makhluk Allah yang mulia sangat memuliakan hari jum’at bahkan mereka takut dengan hari jumat ini karena kiamat itu akan terjadi pada hari jum’at, Rasulullah shalllahu alaihi wasallam bersabda

( إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَيِّدُ الْأَيَّامِ وَأَعْظَمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَهُوَ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يَوْمِ الْأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ فِيهِ خَمْسُ خِلَالٍ خَلَقَ اللَّهُ فِيهِ آدَمَ وَأَهْبَطَ اللَّهُ فِيهِ آدَمَ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيهِ تَوَفَّى اللَّهُ آدَمَ وَفِيهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا الْعَبْدُ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ حَرَامًا وَفِيهِ تَقُومُ السَّاعَةُ مَا مِنْ مَلَكٍ مُقَرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيَاحٍ وَلَا جِبَالٍ وَلَا بَحْرٍ إِلَّا وَهُنَّ يُشْفِقْنَ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ )

“Sesungguhnya hari Jum’at adalah pemuka hari dan merupakan hari paling agung di hadapan Allah.
Hari Jum’at lebih agung di hadapan Allah daripada hari idul adha dan idul fitri.
Dalam hari Jum’at terdapat lima hal:
Allah menciptakan Adam di hari Jum’at
Allah menurunkan Adam ke bumi di hari Jum’at.
Allah mewafatkan Adam di hari Jum’at.
Di dalamnya terdapat suatu waktu yang bila seorang hamba meminta sesuatu di waktu tersebut niscaya akan diberikan kepadanya selagi dia tidak meminta sesuatu yang haram.
Di hari Jum’at lah kiamat akan terjadi.
Dan tidaklah malaikat yang didekatkan dan juga langit, bumi, angin, gunung-gunung, dan lautan melainkan mereka takut kepada hari Jum’at.” (HR. Ibnu Majah dihasankan oleh Al Albani dalam shahihul jami’ 2279)

Akhi Ukhti…
Lalu bagaimana perasaanmu dengan hari Jum’at?
Aktivitas apa saja yang seharusnya kau lakukan pada hari jum’at?
Carilah tahu, dan bila kau sudah tahu, segera amalkan jangan suka menunda-nunda
Semoga Allah memberkahi hari jum’atmu

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Kapan Antum Belanja Untuk Bekal Perjalanan Panjang…

Akhi, ukhti…!

Kapan terakhir kali kau ke pasar?
Atau kapan terakhir kali kau berangkat ke sebuah toko, untuk melengkapi perabot rumahmu atau belanja keperluan yg lainnya…?
Atau kapan terakhir kali kau membawa anak2 dan kerabat ke taman bermain?

Akhi, ukhti!

Setelah itu, tanyakanlah kepada dirimu,
kapan terakhir kali kamu ke rumah Allah, untuk belanja keperluan perjalanan panjang menuju akhirat
Untuk kehidupan yang seharinya sama dengan 1000 tahun ???

Taman dari taman-taman surga…
Tempat turunnya malaikat…
Tempat dibaginya rahmat
Tempat kedamaian turun
Tempat orang-orang beriman…

Kalau sudah lama kamu tidak kesana…

Maka saatnya membawa semua keluargamu,
bahkan kalau kau punya pembantu, ajaklah ia, ke taman surga…

Akan datang suatu saat yang kau takkan dapat lagi melangkahkan kakimu…
Maka sebelum masa itu datang… Segeralah!

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

da150513

Setiap Detik Yang Berlalu Akan Ditanya…

Akhi ukhti,

Betapa nikmatnya menyeruput secangkir teh hangat di pagi hari yang sejuk.
Betapa lezatnya menikmati suguhan es teler di tengah panasnya terik mentari yang menyegat.
Betapa indahnya duduk di sebuah taman yang indah bersama orang-orang yang dicintai.

Namun semua kenikmatan itu akan terputus…
Akan sirna dan lenyap…
Berganti dengan azab Allah dan siksanya bila ternyata kita terlena selama berada di dunia.

Tersilaukan dengan kenikmatan sementara sehingga lupa…
Bahwa setiap detik yang berlalu akan ditanya.

Mereka yang tidak lulus dalam menjawab soal-soal tersebut…
Maka tiada lagi senyum yang menghias di bibir…
Tiada lagi secangkir teh hangat…
Atau semangkuk es teler…
Yang ada hanyalah siksaan dan siksaan…
Tiada pernah berhenti sejenakpun…

Pernahkah kau melihat ikan goreng yang telah mengelupas kulitnya ?
Bagaimana kiranya bila wajahmu yang digoreng ??

Tengoklah rintihan penghuni neraka…

وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ (٥٠)

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga : “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.” Mereka (penghuni surga) menjawab : “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.” ( Al-A’raf 50)

Bahkan karena pedihnya siksaan yang diterima, mereka minta mati…

Iya mereka minta mati…
Mereka menyeru MALIK penjaga neraka…

“Mereka berseru : “Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)..”(Qs. Az-Zukhruf 77)

Tiada kematian di sana….

Akhi ukhti…

Sebelum nasi menjadi bubur…
Saatnya mengoreksi diri…
Setiap kau meneguk air…
Tanyakan pada dirimu apakah kelak aku akan meneguknya di akhirat ?

Atau….

YAA ALLAH MASUKKAN HAMBA KE SYURGAMU…
DAN JAUHKAN HAMBA DARI NERAKAMU…
AAMIIN…

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Siapa Namamu..?

Bismillah
Akhi Ukhti…

Siapa namamu?
Sudah berapa lama dirimu membawa nama tersebut?
Siapa yang memberimu nama tersebut dan untuk apa?
Dan yang terakhir…
Apa arti namamu?

Sebagian orang membawa nama berpuluh-puluh tahun namun sampai hari ini ia tidak mengetahui arti namanya dan untuk apa ortunya memberi nama tersebut…
Sebagian berkata apa arti sebuah nama?
Padahal nama itu merupakan bentuk optimis dan doa orang tua untuk anaknya…

Sebaik-baiknya nama adalah Abdullah dan Abdurrahman serta nama-nama yang mengandung makna penghambaan kepada Allah, dan nama-nama pujian

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bila mendapati nama sahabat yang tidak baik artinya atau berlebihan, atau mengandung kesyirikan maka beliau merubahnya, seperti yang bernama Abdul Hajar (hamba batu) dirobah dengan Abdullah…
Ada yang bernama ‘ashiyah (عاصية) yang artinya pembangkang dengan Jamilah yang artinya cantik

Coba cari tahu apa arti namamu?

Ada nama yang haram, karena mengandung unsur penghambaan kepada selain Allah, atau bahkan nama-nama kesyirikan, seperti nama-nama dewa dan Dewi Hindu, atau karena nama itu hanya pantas untuk Allah, maka kau harus merubahnya

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَخْنَى الأَسْمَاءِ يَوْمَ القِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الأَمْلاَكِ

“Sehina-hinanya nama di sisi Allah pada hari Kiamat kelak adalah seseorang yang bernama Malik AL-Amlak (raja pemilik semua)”. ( Shohih Bukhori, no.6205 )

Ada nama yang makruh, karena membawa makna yang buruk atau berlebihan, maka lebih baik bila kau merubahnya, seperti nama ribut

Jangan seperti seorang sahabat yang tidak mau dirobah namanya yang mengandung makna buruk maka keburukan dalam namanya selalu menemani kehidupan keluarga
coba kau baca kisah di bawah ini:

Sa’id bin Musayyab bin Hazn, meriwayatkan dari ayahnya, “Bahwa ayahnya (kakek Said) datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Maka beliau bertanya,
‘Siapa namamu?’
Dia menjawab, ‘Hazn,
Beliau bersabda, ‘Engkau (aku beri nama) Sahl (artinya mudah)
Dia menjawab, ‘Saya tidak mau mengganti nama yang diberikan oleh ayahku’.”
Ibnul Musayyab berkata, “Maka setelah kejadian itu, Al-Huzunah senantiasa ada pada kami.” (HR Al Bukhari )
Al-Huzunah bermakna “Muka kasar dan mengandung kekerasan.”

Akhi Ukhti…. coba kau cari tahu makna dari namamu…
Tanyakan pada ortumu, “Kenapa engkau diberi nama tersebut oleh mereka?

Jangan sampai engkau membawa nama yang membuat hidupmu sulit di dunia dan di akhirat.

Syafiq Riza Basalamah,  حفظه الله تعالى 

Musibah Sebagai Jalan Menghapus Dosa…

Akhi ukhti…

Tatkala kita mengetahui besarnya jumlah utang kita
Dan kita mengetahui pula bahwa
jumlah aset kita tidak cukup untuk melunasinya
Bahkan kalau kita mempekerjakan
diri kita dan keluarga kita untuk menebus hutang
Maka kita tergolong orang yang bangkrut, pailit.

sekarang coba bayangkan,
dalam setiap harinya, berapa banyak dosa yang kita lakukan
Kita tidak pernah menghitungnya,
kalau amal kebajikan insyaAllah dihitung…

sebagian tidak merasa berbuat dosa, karena memang ia tidak mengetahui mana yang dosa dan mana yang bukan…

Lepas dari semua itu, Allah, ar Rahman ar Rahiem…
Yang Maha Mengetahui dengan segala kekurangan hambanya, telah membuat suatu sistem pelunasan dosa yang sangat indah…

Yaitu, dengan menurunkan berbagai macam musibah

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ
مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى
– حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih , kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)

Jadi yang lagi sakit, pada hakekatnya dia sedang melunasi hutang-hutangnya

Maka tiada kata yang lebih pantas diucapkan pada waktu itu kecuali bersyukur kepada Allah

Salah satu ulama’ salaf
berkata:

لولا مصائب الدنيا
لوردنا الآخرة مفلسين

“Andai kata bukan karena musibah-musibah dunia, niscaya kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut”

Bagi akhi ukhti yang sedang
dapat musibah…
saatnya menjadikan musibah
itu sebagai ladang pelunasan dosa…

Dengan menata hati,
Bersabar
Meridhoi takdir ilahi
Bersyukur kepada Rabbi

Selamat mengamalkan…

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

da140913

Menghadapi Hari Esok…

Bismillah
Akhi Ukhti…
MENGHADAPI HARI ESOK

Jangan bangga dengan jumlahmu yang banyak
Jumlah itu hanya bilangan tanah yang berjalan
Hanya angka yang bisa ditambah dan dikurangi

Ingatlah umat islam sempat kalah padahal ditengah mereka ada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
dan jumlah mereka pada waktu itu Buanyaakkkkk

Bacalah dan camkan firman Allah, jangan hanya dibaca artinya

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ﴿٢٥﴾ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

Sesungguhnya Allâh telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain. Yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allâh menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allâh menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allâh menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. [at-Taubah/9:25-26].

INGAT… JANGAN CONGKAK

Yang bisa memenangkan kita itu bukan jumlah kita
Bukan kekayaan kita
Bukan kecerdasan kita
Bukan siasat kita, namun karena Allah jalla jalaluhu yang menolong dan memenangkan kita
Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ ۗ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Jika Allâh menolong kamu, maka tidak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allâh membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allâh sesudah itu ? Karena itu hendaklah kepada Allâh saja orang-orang Mukmin bertawakkal. [Ali Imrân/3:160]

Maka untuk hari esok dan yang selanjutnya
Bila umat islam ingin menang, kita harus berubah, yakni dengan:
Kembalilah kepada agama Allah
Serahkan semuanya pada Allah
Bertaubat atas segala dosa
perbaiki perbuatan kita
terus beribadah
berdoa memohon dengan sangat, jangan hanya untuk diri sendiri namun kita umat islam semua dan negeri ini
banyak-banyak membaca:

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Kalau umat islam masih mengandalkan jumlah dan kekuatannya
Maka sepertinya kekalahan itu akan kembali dirasakan…
sampai kapan???
sampai kembali kepada agamanya
tunjukkan bahwa engkau ada muslim sejati

Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Inilah Rasa Malu Yang Sebenarnya…

Bismillah
Akhi ukhti rahimakallah

Menurutmu sifat malu itu terpuji apa tidak?
Ana rasa kita sepakat nich, namun yang terkadang masih abstrak adalah memaknai sifat malu yang terpuji…

Rasa malu adalah bagian dari keimanan
Orang yang berakal sehat niscaya memiliki sifat pemalu, karena ia adalah akar kesehatan akal seseorang dan sumber kebaikan, yang tidak malu hanyalah orang bodoh dan biasanya akan berlaku jahat dan buruk, tindakannya membuat orang lain terperanjat, seraya berucap,
“Koq bisa dia melakukan itu?”
“Tidak menyangka kalau fulan tega berbuat itu”
Ungkapan kekecewaan yang mendalam

Ketika rasa malu hilang…
Tatkala pokok malu telah layu, manusia akan berdusta, menipu, mencuri, merampok, membunuh, memutilasi, memperkosa,korupsi, ingkar janji, jorok ucapannya, mengumbar auratnya….
Dia bertindak seenak perutnya
Bahkan ada yang seperti binatang

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda

((إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ)).

“Sesungguhnya di antara yang didapat manusia dari perkataan kenabian terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” [HR. al-Bukhori no. 6120]

Tatkala rasa malu hilang, maka kebaikan telah sirna dan pergi dan ketentraman ini akan segera berakhir

Perasaan malu itu dua macam, malu kepada Allah dan malu kepada manusia, keduanya terpuji,

hanya yang awal wajib dan yang kedua sunnah

Malu kepada Allah mendorong pemiliknya untuk menghindari hal-hal yang dibenci Allah

Malu kepada manusia membuat orang itu menghindari perbuatan dan perkataan yang tidak disukai masyarakat

Perhatikan petuah nabi shallallahu alaihi wasallam di bawah ini, Dari ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Hendaklah kamu benar-benar malu kepada Allâh!”
Para sahabat berkata:
“Wahai Rasûlullâh, al-hamdulillah kami malu (kepada Allah) dan alhamdulilah ”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Bukan begitu (sebagaimana yang kamu sangka-pen). Tetapi (yang dimaksud) benar-benar malu kepada Allâh adalah:

Engkau menjaga kepala dan isinya

Menjaga perut dan apa yang berhubungan dengannya;

Dan hendaklah engkau mengingat kematian dan kebinasaan.

Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia meninggalkan perhiasan dunia.

Barangsiapa telah melakukan itu, berarti dia telah benar-benar malu kepada Allâh Jalla jalaluhu (HR. Tirmidzi, no. 2458; Ahmad, no. 3662)

Akhi ukhti…
Itulah rasa malu yang sebenarnya
Moga engkau sudah merasakannya
Barakallahu fik

Syafiq Riza Basalamah,  حفظه الله تعالى