Category Archives: Zainal Abidin

Penyimpangan Setelah Hidayah…

*لماذا ينتكس البعض بعد استقامته على طريق الهداية ؟؟؟*

Mengapa ada sebagian orang yang justru berbalik (menyimpang) setelah ia konsisten di atas jalan hidayah (bahkan sebelumnya ia mendakwahkan sunnah)…??

قيل للشيخ ابن باز :

Syaikh Bin Baz pernah ditanya:

ياشيخ ، فلان انتكس،

Wahai Syaikh; si fulan berbalik (menyimpang)

قال الشيخ :

Syaikh berkata;

(لعل انتكاسته من أمرين :

Boleh jadi dia berbalik menyimpang karena dua hal:

إما أنه لم يسأل الله الثبات ، أو أنه لم يشكر الله على الإستقامة) .

Pertama, dia mungkin tidak pernah meminta kepada Allah agar diteguhkan (di atas alhaq), atau yang kedua, ia tidak bersyukur setelah diberikan keteguhan dan keistiqomahan oleh Allah.

فحين اختارك الله لطريق هدايته،

Maka tatkala Allah telah memilihmu berjalan di atas jalan hidayah-Nya,

ليس لأنك مميز أو لطاعةٍ منك ،

camkanlah bahwa itu bukan karena keistimewaanmu atau karena ketaatanmu,

بل هي رحمة منه شملتك ،

melainkan itu adalah rahmat dari-Nya yang meliputimu

قد ينزعها منك في أي لحظة ،

Allah bisa saja mencabut rahmat tersebut kapan saja darimu

لذلك لا تغتر بعملك ولا بعبادتك

Oleh karena itu, jangan engkau tertipu dengan amalanmu, jangan pula disilaukan oleh ibadahmu

ولا تنظر باستصغار لمن ضلّ عن سبيله

Jangan engkau memandang remeh orang yang tersesat dari jalan-Nya

فلولا رحمة الله بك لكنت مكانه .

Kalau bukan karena rahmat Allah padamu, niscaya engkau akan tersesat pula, posisimu akan sama dengan orang yang tersesat itu.

أعيدوا قراءة هذه الآية بتأنٍّ

Ulang-ulang lah membaca ayat berikut ini dengan penuh penghayatan

﴿ ولوﻵ أن ثبتناك لقد كدت تركن إليهم شيئا قليلا ﴾

“Andai Kami tidak meneguhkanmu (wahai Muhammad ﷺ), sungguh engkau hampir-hampir saja akan sedikit condong kepada mereka (orang-orang yang tersesat itu).”

إياك أن تظن أن الثبات على الإستقامة أحد إنجازاتك الشخصية …

Jangan pernah engkau menyangka, bahwa keteguhan di atas istiqomah, merupakan salah satu hasil jerih payahmu pribadi.

تأمل قوله تعالى لسيد البشر..

Perhatikan firman Allah kepada Pemimpin segenap manusia (Muhammad ﷺ):

“ولولا أن ثبتناك”

“Kalau bukan Kami yang meneguhkanmu (wahai Muhammad ﷺ)…”

فكيف بك !!؟.

Maka apalagi engkau…!!?

نحنُ مخطئون عندما نتجاهل أذكارنا،

Kita sering keliru, manakala kita melupakan dzikir-dzikir kita

نعتقد أنها شيء غير مهم وننسى

Kita menyangka bahwa dzikir-dzikir itu tidak penting, sehingga kita pun melupakannya.

بأن الله يحفظنا بها، وربما تقلب الأقدار..

Kita lupa bahwa Allah akan menjaga kita karena dzikir-dzikir tersebut. Boleh jadi takdir Allah akan berbalik.

يقول ابن القيم:

Ibnu al-Qayyim berkata:

حاجة العبد للمعوذات أشدُ من حاجته للطعام واللباس..!

Kebutuhan hamba akan doa dan dzikir (agar Allah memberikan perlindungan), melebihi kebutuhannya akan makanan dan pakaian.

داوموا على أذكاركم لتُدركوا معنى:

Maka rutinkanlah membaca doa dan dzikir kalian, agar kalian meraih apa yang dijanjikan dalam sabda Rasulullah ﷺ.

احفظ الله يحفظك..

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjaga kalian”

تحصنوا كل صباح ومساء ؛

Niscaya kalian akan mendapatkan perlindungan pagi dan petang.

فالدنيا مخيفة .. وفي جوفها مفاجأت .. والله هو الحافظ لعباده

Dunia ini benar-benar menakutkan…. di lorongnya ada banyak hal yang menyentakkan… Allah, Dialah yang Maha Menjaga hamba-hamba-Nya.

Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc, حفظه الله تعالى

Bukan Milikku…

Puisi terakhir WS Rendra (1935 – 2009)
(di buat sesaat sebelum dia wafat)

Hidup itu seperti UAP, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !!
Ketika Orang memuji MILIKKU,
aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja.

Bahwa mobilku adalah titipan-NYA,
Bahwa rumahku adalah titipan-NYA,
Bahwa hartaku adalah titipan-NYA,
Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA …

Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya,
MENGAPA DIA menitipkannya kepadaku?
UNTUK APA DIA menitipkan semuanya kepadaku.

Dan kalau bukan milikku,
apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA?

Malahan ketika diminta kembali,
kusebut itu MUSIBAH,
kusebut itu UJIAN,
kusebut itu PETAKA,
kusebut itu apa saja …
Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah DERITA….

Ketika aku berdo’a,
kuminta titipan yang cocok dengan
KEBUTUHAN DUNIAWI,
Aku ingin lebih banyak HARTA,
Aku ingin lebih banyak MOBIL,
Aku ingin lebih banyak RUMAH,
Aku ingin lebih banyak POPULARITAS,

Dan kutolak SAKIT,
Kutolak KEMISKINAN,
Seolah semua DERITA adalah hukuman bagiku.

Seolah KEADILAN dan KASIH-NYA,
harus berjalan seperti penyelesaian matematika
dan sesuai dengan kehendakku.

Aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku,
Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku …

Betapa curangnya aku,
Kuperlakukan DIA seolah Mitra Dagang ku
dan bukan sebagai Kekasih!

Kuminta DIA membalas perlakuan baikku
dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku …

Duh ALLAH …

Padahal setiap hari kuucapkan,
Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU ya ALLAH, AMPUNI AKU, YA ALLAH …

Mulai hari ini,
ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur
dalam setiap keadaan
dan menjadi bijaksana,
mau menuruti kehendakMU saja ya ALLAH

Sebab aku yakin….
ENGKAU akan memberikan anugerah dalam hidupku …
KEHENDAKMU adalah yang ter BAIK bagiku ..

Ketika aku ingin hidup KAYA,
aku lupa,
bahwa HIDUP itu sendiri
adalah sebuah KEKAYAAN.

Ketika aku berat untuk MEMBERI,
aku lupa,
bahwa SEMUA yang aku miliki
juga adalah PEMBERIAN.

Ketika aku ingin jadi yang TERKUAT,
….aku lupa,
bahwa dalam KELEMAHAN,
Tuhan memberikan aku KEKUATAN.

Ketika aku takut Rugi,
Aku lupa,
bahwa HIDUPKU adalah
sebuah KEBERUNTUNGAN,
kerana AnugerahNYA.

Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu BERSYUKUR kepada NYA

Bukan karena hari ini INDAH kita BAHAGIA.
Tetapi karena kita BAHAGIA,
maka hari ini menjadi INDAH.

Bukan karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS.
Tetapi karena kita optimis, RINTANGAN akan menjadi tak terasa.

Bukan karena MUDAH kita *YAKIN BISA.
Tetapi karena kita YAKIN BISA.!
semuanya menjadi MUDAH.

Bukan karena semua BAIK kita TERSENYUM.
Tetapi karena kita TERSENYUM, maka semua menjadi BAIK,

Tak ada hari yang MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yang membuat SULIT.

Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar,
cukuplah menjadi JALAN SETAPAK
yang dapat dilalui orang,

Bila kita tidak dapat menjadi matahari,
cukuplah menjadi LENTERA
yang dapat menerangi sekitar kita,

Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang,
maka BERDOALAH untuk
kebaikan.

Di-Share karena ini sangat bagus untuk pembelajaran kehidupan kita semua…

Posted by
Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc,  حفظه الله تعالى 

Nasehat Dan Mutiara Hikmah Syaikh Ibnu Utsaimin…

قال رحمه الله:
《 والإنسان ما دامت روحه في جسده فهو معرّض للفتنة،
ولهذا أوصي نفسي وإياكم أن نسأل الله دائماً الثبات على الإيمان ، وأن تخافوا ؛ لأن تحت أرجلكم مزالق ، فإذا لم يثبتكم الله -عز وجل- وقعتم في الهلاك،
واسمعوا قول الله سبحانه وتعالى لرسوله -ﷺ- أثبت الخلق ، وأقواهم إيماناً : ﴿ وَلَوْلاَ أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدَّتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئاً قَلِيلاً ﴾،
فإذا كان هذا للرسول -ﷺ- فما بالنا نحن؛ ضعفاء الإيمان واليقين ، وتعترينا الشبهات والشهوات.
فنحن على خطر عظيم ، فعلينا أن نسأل الله تعالى الثبات على الحق ، وألا يُزيغ قلوبنا ، وهذا هو دعاء أولي الألباب ﴿ رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبُنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا ﴾ . 》
“الشرح الممتع” ٣٨٨/٥

Selagi hayat masih dikandung badan, maka manusia tidak bisa lepas dari fitnah, oleh sebab itu saya senantiasa berpesan agar kita selalu memohon kepada Allah keteguhan iman, dan hendaknya senantiasa takut karena jalan yang kita lalui amat licin, bila Allah tidak meneguhkanmu pasti kalian binasa, dengarkan firman Allah kepada utusanNya, hamba yang amat kokoh dan kuat keimanannya,

“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka” (AL-Isra 74).

Bila hal itu bisa terjadi pada Rasulullah apalagi dengan kita, yang lemah iman dan keyakinan, yang amat mudah terserang syubhat dan syahwat maka kita senantiasa dalam bahaya besar sehingga harus terus memohon kepada Allah bisa teguh di atas kebenaran agar tidak tergelincir maka doa yang paling pantas dipanjatkan orang cerdik adalah;

Ya Allah janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau berikan petunjuk.

وقال:
العاقل إذا قرأ القرآن وتبصر ؛ عرف قيمة الدنيا وأنها ليست بشيء ، وأنها مزرعة للآخرة ، فانظر ماذا زرعت فيها لآخرتك ؟
إن كنت زرعت خيرًا ؛ فأبشر بالحصاد الذي يرضيك ، وإن كان الأمر بالعكس ؛ فقد خسرت الدنيا والآخرة .
شرح رياض الصالحين ٣ / ٣٥٨

Beliau berkata, Orang yang cerdas saat membaca dan merenungi Alquran maka dia mendapat kesimpulan bahwa dunia itu tidak ada nilainya sama sekali bahkan hanya tempat cocok tanam akhirat, maka perhatikan apa yang sudah kamu tanam untuk akhiratmu, bila kamu menanamkan kebaikan untuk akhiratmu maka bergembiralah di waktu panen, namun bila kamu tanam sebaliknya berarti kamu rugi dunia dan akhirat.

وقال:
إذا اجتمع في قلب الإنسان المحبة التامة لله عز وجل مع التعظيم استقام تماما على شرع الله عز وجل؛
لأنه بحبه لربه يطلب ربه، وبتعظيمه لله يخاف منه فيكون فاعلا للمأمور تاركا للمحظور،
فلا بد من هذين الأمرين: تمام المحبة وتمام الذل لله عز وجل.
شرح الكافية الشافية / ج1 / ص366

Beliau berkata, Bila telah tertanam rasa cinta kepada Allah secara sempurna dalam hati seorang hamba, yang disertai pengagungan besar kepada Allah maka kamu akan lebih istiqamah menjalankan syariat Allah, karena dengan kecintaan kepada Allah, akan mengejar Allah dan dengan pengagungan kepada Allah, akan tumbuh rasa takut yang akhirnya mendorong hamba untuk melakukan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Sehingga keduanya akan melahirkan sempurnanya cinta dan sempurnanya penghinaan diri kepada Allah.

وقال:
لم يعهد عن السلف أنهم يذكرون ذكرًا جماعيًا كما يفعله بعض أهل الطرق من الصوفية وغيرها .
شرح رياض الصالحين(٥٣٤/٥)

Beliau berkata, Tidak pernah dikenal pada kehidupan salaf bahwa mereka berdzikir secara berjamaah sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian pengikut terikat dari kalangan shufi dan selainnya.

وقال:
كم من إنسان طليق اللسان ، فصيح البيان ، إذا رأيته يعجبك جسمه ، وإن يقول تسمع لقوله ، ولكنه لا خير فيه .
شرح رياض الصالحين(١٣٨/٦)

Beliau berkata, Berapa banyak orang fasih lisannya, bagus penjelasannya dan kamu terkagum-kagum saat melihat tampilannya dan kamu juga tertarik ucapannya, ternyata tidak ada dalam dirinya kebaikan sama sekali.

وقال:
‏”الأيام تمضي ولا أدري هل ازددت قرباً من الله
‏أو بعداً من الله ؟
‏هل نحاسب أنفسنا على هذا الأمر ؟”
‏القول المفيد (١٥٠/١

Beliau berkata, Hari-hari berjalan terus, namun saya tidak tahu apakah makin dekat atau makin jauh dari Allah ? Apakah kita sudah menghisab diri kita masing-masing.

وقـال:
( ‏فنـحـن الآن في حاجـة إلى جهـاد النفـس :
⇦ فالقلــوب مريضـة
⇦ والجوارح مقصّرة ،
⇦ والقلـوب متنافـرة ،
وهـذا يحتـاج إلى جهـادٍ قبـل كل شـيء ).
〖مجـمـوع الفتـاوى 〖 ٣١٤/٢٥〗

Beliau berkata, Kita sekarang amat butuh terhadap jihad nafsu karena rohani sedang sakit, tindakan teledor, hati tercerai berai. Semuanya butuh jihad sebelum segala sesuatu.

Zainal Abidin Syamsuddin, حفظه الله تعالى

Mutiara Hikmah Salafy…

لا تتهاونوا في سماعِ الموسيقى والغناء​
في أجهزتكم و أجهزة أطفالكم

Janganlah Anda meremehkan musik dan nyanyian dalam setiap HP dan media elektronik kalian.

قال ابن القيم رحمه الله :

والذي شاهدناه نحنُ وغيرُنا وعرَفناه بالتجارب أنهُ ما ظهرت المعازفُ وآلاتُ اللهو في قومٍ وفشَتْ فيهم واشتغلوا بها ​إلّا سلّطَ الله عليهم العدوّ ، وبـُـلوا بالقحط والجَدب وولاةِ السوء​ .
والعاقلُ يتأمّل أحوالَ العالم وينظر ؛ والله المستعان
📚

Imam Ibnu Qayyum berkata,
Sungguh kami dan selain kami menyaksikan dan mengetahui dengan baik berdasarkan pengalaman bahwa tidaklah merajalela alat musik dan media gamelan pada suatu kaum bahkan menyebar dan mereka sibuk dengannya melainkan Allah menguasakan atas mereka musuh-musuh mereka dan ditimpa krisis ekonomi dan paceklik serta munculnya para pemimpin yang jahat. Orang yang cerdik akan merenungkan kondisi alam sekitarnya dan mengamati dengan seksama.

​مدارج السالكين ( 1 / 496 )​

‏قال العلامة الألباني رحمه الله :

*”أخشى أن يزداد الأمر شدة ، فينسى الناس حكم الغناء حتى إذا ما قام أحد ببيانه أُنكِر عليه ونُسِب إلى التشدّد”*
​[“تحريم آلات الطرب” ص/16]

Syekh Albani berkata,
Saya khawatir perkara yang terjadi lebih parah, di mana banyak umat manusia melupakan hukum musik hingga pada saat ada orang yang menjelaskannya dan mengingkarinya maka dianggap orang radikal.

Zainal Abidin Syamsuddin,  حفظه الله تعالى

Telah Membuat Kita Terpecah dan Berpisah…

Rasulullah shallalahu ‘alayhi wasallam bersabda:

« والذي نفس محمد بيده ؛ ما تواد اثنان في الله ففرق بينهما إلا بذنب يحدثه أحدهما » أخرجه أحمد وصححه الألباني في الإرواء 8/99

“Demi dzat yang jiwa Muhammad ada di tangannya, tidaklah dua orang saling mencintai karena Allah kemudian Allah pisahkan keduanya kecuali karena dosa yang dilakukan salah satu di antara keduanya.” (HR. Ahmad dishahihkan imam al-Albani dalam al-Irwa’: 8/99)

Al-Imam al-Munawi mengomentari hadits ini dan berkata:

“Perpisahan dan perpecahan adalah hukuman dari sebuah dosa, maka dari itulah Musa al-Kazhim berkata: jika temanmu berubah sikap kepadamu, maka ketahuilah itu sebab dosa yang kamu lakukan, segeralah bertaubat krpada Allah dari segala dosa agar cinta temanmu langgeng untukmu.”

Al-Imam al-Muzani berkata:

“Jika engkau menjumpai sifat acuh dari sahabat2mu maka segeralah bertaubat kepada Allah karena engkau telah berbuat dosa.

dan jika engkau menjumpai tambahan cinta dari mereka maka itu berasal dari ketaatan yang kau lakukan…maka bersyukurlah kepada Allah.”

Al-Faidl (5/437)

Zainal Abidin, حفظه الله تعالى

Musibah Terasa Nikmat Asal Dihadapi Dengan Lima Langkah Berikut Ini…

1. Ketahuilah semua peristiwa dan kejadian terjadi karena takdir Allah.

2. Pahamilah bahwa sikap gundah gulana tidak bisa merubah takdir.

3. Sadarlah bahwa kenikmatan yang tersisa pada Anda masih lebih melimpah daripada nikmat yang lepas darimu.

4. Renungkanlah bahwa setiap musibah tidak sepi dari hikmah baik berupa pahala, pengampunan, penebusan, peningkatan derajat dan ujian mental agar makin tangguh.

5. Camkanlah bahwa musibah yang diderita orang lain lebih berat dari yang Anda alami. Bahkan bisa jadi Anda termasuk orang yang paling beruntung di antara mereka.

Zainal Abidin Syamsuddin,  حفظه الله تعالى 

Cinta Sejati Hingga Mati…

Wawancara dengan seorang wanita tua di sebuah stasiun Radio.
Kisah seorang nenek yang telah hidup berumah tangga bersama suami 50 tahun penuh bahagia.
Dia ditanya rahasia kebahagiaannya selamanya 50 tahun.

*** Apakah karena pintar masak, ataukah karena cantiknya ataukah karena pandai melahirkan anak ataukah ada yang lainnya ?

Sang nenek pun bercerita, kebahagiaan hidup rumah tangga setelah Taufik dari Allah, amat bergantung pada sang istri, seorang wanita bisa menjadikan rumahnya surga atau sebaliknya.

*** Apakah harta !!
Banyak wanita yang kaya raya hidupnya menderita batin bahkan suaminya lari darinya.

*** Apakah anak sumber kebahagiaan!!
Di sana ada wanita yang melahirkan 10 anak sementara suaminya kehilangan rasa cinta bahkan mungkin menceraikannya.
Malah zaman sekarang banyak kaum wanita yang pandai membuat menu masakan istimewa sepanjang hari sedangkan suami terus mengeluh buruknya pergaulan sehari-hari.

*** Sang penyiar pun terpesona lalu bertanya, kalau memang begitu apa yang menjadi rahasia kebahagiaan Anda?

Sang wanita tua pun menukas, Kalau suamiku marah, aku memilih diam penuh dengan hormat sampil menundukkan kepala penuh penyesalan.
Waspadalah terhadap diam tapi penuh dana pelecehan, karena seorang laki-laki amat cerdik dalam memahami sikap itu.

*** Kemudian sang pembawa acara menyergap dengan pertanyaan, Kenapa Anda tidak keluar dari kamarmu ?

Sang wanita tua pun berkata, jangan lakukan itu,……karena dia menyangka kamu lari darinya dan tidak ingin mendengarkan ucapannya, bahkan kamu harus diam dan setuju terhadap semua yang dikatakan hingga dia tenang!
Kemudian saya katakan
Apakah kamu sudah selesai dari marahmu ?

*** Kemudian sang penyiar bertanya kembali, Lalu apakah yang anda lakukan? Apakah kamu cemberut atau tidak berbicara hingga seminggu atau lebih?

Sang wanita tua menjawab, Jangan… tinggalkan kebiasaan buruk, ibarat pisau bermata dua. Jika kamu mendiamkan suami seminggu, barang kali suami ingin berdamai tapi tidak kamu berikan kesempatan akhirnya masalah blunder. Boleh jadi tuntutannya makin tidak berkompromi.

*** Sang penyiar bertanya, Kalau memang begitu apa yang kamu lakukan ?

Sang wanita tua itu menjawab, Setelah dua jam atau lebih, suamiku saya buatkan segelas jus atau kopi. Maka saya katakan kepadanya, silahkan diminum.
Memang benar dia butuh hal itu, kemudian saya mengajaknya bicara seperti biasanya.
Lalu suamiku bertanya kepadaku, Apakah kamu marah? Saya jawab, Tidak, setelahnya dia minta maaf kepadaku atas ucapannya yang pedas. Setelah dia berbicara dengan santun.

*** Sang penyiar bertanya, Benarkah demikian ?

Sang wanita tua menjawab, Ya memang demikian yang terjadi dan aku bukan termasuk wanita pandir.
Apakah kamu mau aku ceritakan dengan sejujurnya, aku lebih mempercayai ucapannya saat marah lebih daripada saat dia tenang.

*** Sang penyiar bertanya lagi, Bagaimana kehormatan dan harga dirimu ?
Sang wanita tua pun menjawab, Kehormatan dan harga diriku ada pada ridha suamiku serta pada mesranya hubungan kita. Tidak ada kehormatan dan harga diri antar suami dan istri selain itu. Meski harus telanjang di depannya dari seluruh pakaiannya.
Aku berharap pesan ini tersampaikan kepada seluruh kaum laki-laki dan kaum wanita meskipun mereka yang mau menikah.
Hendaknya semua memahami hal-hal berikut ini,

لو خُلقت المرأة طائراً لكانت “طاووسآ

Andaikata wanita seekor burung maka dia ibarat Merak.

لو خلقت حيواناً لكانت « غزالة

Andaikata wanita hewan maka dia ibarat kijang.

لو خلقت حشرة لكانت ” فراشة ”

Andaikata wanita itu serangga maka dia ibarat kupu-kupu.

لكنها خلقت « بشراً » فأصبحت حبيبةً و زوجةً وأماً رائعة ، و أجملَ نعمةٍ للرجل على وجه الأرض.

Akan tetapi dia seorang anak manusia, sehingga dia menjadi sosok kekasih, istri dan Ibu yang bersahaja serta menjadi sumber nikmat paling indah bagi seorang laki-laki di muka bumi.

فلو لم تكن •• المرأة •• شيئاً عظيماً جداً لما جعلها « اللّه » حوريةً يكافئ بها المؤمن في الجنة …

‏Seandainya wanita bukan makhluk yang Agung maka Allah tidak akan menjadikannya makhluk yang merdeka yang menjadi pendamping kaum Mukmin di surga.

حقيقه أعجبتني لدرجة أنَّ وردةً تُرضيهآ ، وكلمةً تقتلها ) !!!

Aku heran seakan bunga wangi atau kalimat yang mencekik!

رائعة هي الأُنثى ♡

Wanita itu hidupnya bertabur keindahan.

في طفولتها تفتح لأبيها باباً في الجنة ..

Saat masih bayi menjadi pembuka surga untuk kedua orang tuanya.

وفي شبابها تُكمل دين زوجها ..

Saat remaja menjadi penyempurna agama suaminya.

وفي أمومتها تكون الجنّة تحت قدميها ..

‏Saat menjadi seorang ibu maka surga dibawah kedua telapak kakinya.
Untaian mutiara hikmah yang amat indah.

كلام في قمة الروعة

‏شكراً لمن أرسله وأفرح به قلب البنت والاخت والزوجة والأم العظيمة


‏Terima kasih bagi yang menyebarkan untuk membuat gembira putrinya, saudarinya, istrinya dan ibunya yang Agung.

BACALAH DENGAN SEKSAMA KARENA NASEHAT MAHAL

Zainal Abidin Syamsuddin, حفظه الله تعالى

Nasihat Dari DR. MUHAMMAD MUSA ALU NASHR Untuk Peserta Group WA…

1. Hidupkan dengan sering menuturkan kebenaran
2. Tinggalkan segala yang bercorak kebatilan
3. Jauhilah untuk tidak menyebarkan gambar-gambar haram
4. Hindarilah debat yang tidak bermanfaat
5. Hindarilah seluruh bentuk postingan yang merendahkan agama, sosok atau suku bangsa
6. Jangan menjadi BIANG penyebar berita atau tulisan dusta atau hoax dan hendaklah dipasikan kebenaran hadits, kisah dan berita
7. Hendaknya tulisan yang antum posting menguntungkanmu tidak merugikanmu
8. Tuisan apapun bentuknya anda adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap isinya
9. Janganlah kamu mengirimkan video yang ada musiknya atau wanita yang membuka aurat karena takut anda yang akan menanggung dosa tiap orang yang menyaksikan atau mendengarnya hingga hari Kiamat

Zainal Abidin Syamsuddin, حفظه الله تعالى
(Penterjemah)

Beribu Alasan Menghidupkan Bid’ah…

Mereka sangat pandai membuat alasan untuk menghidupkan bid’ah tapi kurang semangat untuk menghidupkan Sunnah, mereka sangat antusias berbuat maksiat tapi amat pasif dalam beribadah, memang benar, kebanyakan kaum muslimin lemah dalam mencari kebenaran, justru lebih hebat membenarkan kelemahan dengan dalil.

Perhatikanlah, mereka semangat merayakan tahun baru dengan dalih tutup tahun.
Mereka gemar merayakan Maulid Nabi dengan alasan cinta Rasul.
Mereka antusias merayakan Valentina dengan alasan untuk menyuburkan rasa cinta antara sesama.
Mereka rajin merayakan hari ibu dengan alasan untuk menumbuhkan suasana harmonis pada orang tua.

Akan tetapi, bila mereka ditawarkan untuk mengamalkan Sunnah, mereka abaikan dengan alasan itu kan Sunnah tidak wajib.

{فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا}

Kenapa mereka menjadi aneh dan pincang dalam memahami hakikat permasalahan.

Zainal Abidin Syamsuddin, حفظه الله تعالى

Koreksi Pemahaman Terhadap Hadits Tentang Umur Umat Islam…

Dalam Shahih–nya, Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu. Terjemahan bebas hadits ini ialah: “Perumpamaan eksistensi kalian (umat Islam) dibanding umat-umat sebelum kalian ialah seperti waktu antara salat asar hingga tenggelam matahari. Ahli Taurat (Yahudi) diberi kitab Taurat, lalu beramal sehingga tatkala mencapai tengah hari (zuhur) mereka tak sanggup lagi beramal, lalu diberi pahala seqirat-seqirat. Kemudian ahli Injil (Nasrani) diberi Injil, lalu beramal hingga masuk waktu salat asar, lalu tidak sanggup melanjutkan, lalu diberi pahala seqirat-seqirat. Kemudian kita diberi Al–Qur’an, dan kita beramal (dari asar) hingga tenggelam matahari, dan kita diberi pahala dua qirat-dua qirat. Maka, kedua ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) bertanya, ‘Wahai Rabb kami, (mengapa) Engkau beri mereka (muslimin) pahala dua qirat, dan kami (hanya) satu qirat, padahal kami lebih banyak amalnya?’ ‘Apakah Aku mengurangi pahala (yang kujanjikan) bagi kalian?’ tanya Allah. ‘Tidak,’ jawab mereka. ‘Itulah keutamaan yang kuberikan kepada siapa yang kukehendaki,’ jawab Allah”.

Dalam hadits lainnya, Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa Al–Asy’ari, bahwa Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Perumpamaan kaum muslimin, Yahudi, dan Nasrani ialah seperti seseorang yang menyewa suatu kaum agar bekerja hingga malam. Maka kaum tersebut bekerja hingga tengah hari dan mengatakan, ‘Kami tak butuh kepada upahmu.’ Lalu, orang tersebut mengupah kaum lainnya dan berkata, ‘Lanjutkanlah waktu yang tersisa dari hari ini dan kalian akan mendapat upah yang kusyaratkan.’ Maka, mereka pun bekerja hingga tiba waktu salat asar dan berkata, ‘Jerih payah kami untukmu (tidak minta upah).’ Kemudian, orang tersebut menyewa kaum lainnya dan kaum tersebut bekerja mengisi sisa waktu hari itu hingga tenggelam matahari dan mereka mendapat upah sebanyak upah kedua kaum sebelumnya.”
(Artinya, walau tempo kerja mereka paling singkat, namun upahnya setara dengan upah yang disyaratkan bagi kedua kaum sebelum mereka, yang bekerja dari pagi hingga sore.)

Dalam syarahnya yang berjudul Fathul Baari (jilid 4 hal 566 cet. Daarul Kutub Al–Ilmiyyah), Ibnu Hajar mengatakan sebagai berikut yang artinya: “Hadits ini dijadikan dalil bahwa eksistensi umat ini mencapai lebih dari seribu tahun, sebab konsekuensi dari hadits ini ialah bahwa eksistensi Yahudi setara dengan gabungan eksistensi (umur) Nasrani dan muslimin. Sedangkan ahli sejarah telah sepakat bahwa tenggang waktu yang dilalui umat Yahudi hingga diutusnya Nabi adalah lebih dari 2000 tahun, sedangkan tempo yang dilalui Nasrani hingga diutusnya Nabi adalah 600 tahun, dan ada pula yang mengatakan kurang dari itu, sehingga tempo yang akan dilalui kaum muslimin pasti lebih dari seribu tahun.”
(Ini berarti bahwa Ibn Hajar sekadar menukil pendapat sebagian kalangan dalam menafsirkan hadits tersebut tanpa menyebut siapa orang yang berpendapat. Dengan kata lain, ini pendapat yang bersumber dari orang misterius yang agaknya bukan tergolong ulama panutan. Andai saja orangnya tergolong ulama panutan, pastilah namanya layak untuk disebutkan. Jadi, Ibnu Hajar sendiri sama sekali tidak bisa dianggap menyetujui pendapat tersebut karena beliau sendiri menukilnya dengan shighat mabni lil majhul, yang identik dengan shighat tamridh, dan shighat tamridh mengesankan lemahnya pendapat yang dinukil.)

Ibnu Hajar juga mengatakan sebelumnya sebagai berikut: “Hadits ini juga mengandung isyarat akan singkatnya umur dunia yang tersisa. Jadi, kalkulasi umur umat Islam sama dengan umur Yahudi dikurangi umur Nasrani, alias 2000 lebih sedikit dikurangi 600 tahun, yakni 1400 tahun lebih sedikit.”

Sementara itu, As–Suyuti dalam kitab (الكشف عن مجاوزة هذه الأمة الألف) mengatakan:  “Berdasarkan sejumlah riwayat (atsar), umur umat ini (islam) adalah lebih dari seribu tahun, namun lebihnya tidak mungkin lebih dari 500 tahun (al Kasyf hal 206). Artinya, maksimal umur umat ini adalah 1500 tahun.”

Dari kedua pendapat inilah lantas disimpulkan bahwa umur umat Islam berkisar antara 1400-1500 tahun, sedangkan kita saat ini berada pada tahun 1437 H.

Sebagaimana dimaklumi, bila ditambahkan 13 tahun (periode prahijrah sejak masa kenabian Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam), berarti umur umat Islam saat ini adalah 1450 tahun. Artinya, tempo yang tersisa sehingga umat ini punah ialah 50 tahun saja. Dan bila kita tinjau dari hadits shahih tentang turunnya Isa Al-Masih di akhir zaman menjelang kiamat, kita dapatkan bahwa Isa Al-Masih akan hidup selama 40 tahun di bumi sebelum akhirnya wafat dan disalatkan oleh kaum Muslimin (berdasarkan H.R. Abu Dawud, disahihkan oleh Al-Albani). “Artinya, turunnya Isa Al-Masih tinggal kurang dari 10 tahun lagi dari sekarang! Dan turunnya Isa Al-Masih merupakan salah satu tanda besar hari kiamat!” demikianlah menurut pendapat yang meyakini kalkulasi tersebut.

Koreksi Atas Kalkulasi Di Atas
Perlu diketahui, bahwa kedua hadits dalam Shahih Bukhari di atas, bukanlah dalam konteks menjelaskan umur umat Islam, melainkan sekadar membuat perumpamaan.

Hal ini dijelaskan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali (wafat 795 H): “Hadits ini disampaikan oleh Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam sekedar sebagai perumpamaan, dan perumpamaan itu cenderung bersifat longgar.” (Fathul Baari 4/341)

Sementara itu, Imamul Haramain (wafat 478 H) mengatakan: “Hukum-hukum agama tidak boleh diambil dari hadits-hadits yang disampaikan dalam bentuk perumpamaan.” (Fathul Baari 2/50).

Jadi, sabda Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam bahwa, “Perumpamaan eksistensi kalian (umat Islam) dibanding umat-umat sebelum kalian…” jelas dalam rangka membuat perumpamaan karena menggunakan harf tasybih (“kaaf”). Ini bisa dilihat kembali dalam lanjutan hadits tersebut (كما بين صلاة العصر إلى غروب الشمس) yang diterjemahkan sebagai “seperti waktu antara salat asar hingga tenggelam matahari”.

Perhatikan satu contoh, ketika dikatakan (كاألسد زيد) “Zaid seperti singa”, artinya bukan berarti sama persis seperti singa, melainkan ada salah satu sifat khas singa yang dimiliki Zaid, yaitu pemberani. Dan berdasar kaidah dalam metode penyerupaan, yang diserupakan tidak harus sama dengan contohnya, kata benda yang terletak sebelum kata “seperti” tidak harus sama persis dengan yang terletak setelahnya. Ibnu Hajar mengatakan, “Penyerupaan dan permisalan tidak harus berarti menyamakan dari semua sisi” (Fathul Baari, 2/50).

Dengan demikian, ketika Nabi menyerupakan eksistensi kita dibanding umat-umat sebelumnya ialah seperti tempo antara masuknya waktu asar hingga terbenam matahari, maka ini sekedar permisalan dengan maksud mubaalaghah (majas hiperbola) dalam menjelaskan dekatnya terjadinya hari kiamat. Dan hal ini bukan berarti bahwa eksistensi umat akan sesingkat itu. Dari sini, jelaslah bahwa Nabi tidak sedang menjelaskan umur umat Islam dalam hadits tersebut, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian kalangan.

Dan sanggahan pertama atas syubhat ini ialah bahwa yang disebutkan dalam hadits itu sekadar perumpamaan yang bersifat longgar dan tidak bisa menjadi sumber hukum (hujjah) dalam masalah fikih. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh sejumlah ulama seperti Imamul Haramain, Ibnu Rajab dan Ibnu Hajar.

Oleh karenanya, dalam syarahnya Ibnu Hajar mengatakan, “Mereka yang lebih banyak amalnya (Yahudi dan Nasrani) tidak harus berarti lebih lama eksistensinya karena ada kemungkinan bahwa beramal di masa mereka lebih berat sehingga pahalanya otomatis lebih besar. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah yang artinya, ‘Wahai Rabb kami, janganlah Kaubebankan kepada kami beban yang berat, sebagaimana yang telah Kau bebankan kepada orang-orang sebelum kami’.”

Alasan lain yang menguatkan bahwa yang dimaksud oleh hadits ini ialah sebatas banyak sedikitnya amal tanpa dikaitkan dengan panjang pendeknya tempo masing-masing umat adalah bahwa mayoritas ahli sejarah menyebutkan selang waktu antara Nabi Isa ‘alaihissalaam dengan Nabi kita shallallaahu’alaihi wa sallam adalah 600 tahun, dan ini merupakan pendapat Salman Al Farisi yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari.

Meski demikian, ada pula yang berpendapat bahwa temponya kurang dari itu, sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa selang waktunya hanya 125 tahun!

Padahal, kita menyaksikan bahwa selang waktu yang telah dilalui oleh umat Islam sejauh ini adalah lebih dari 600 tahun (Dengan mengingat bahwa Ibnu Hajar hidup antara tahun 773-852 H, yang berarti bahwa ketika beliau menuliskan kata-kata tersebut, umat Islam telah berumur lebih dari 800 tahun sejak diutusnya Rasulullah shallallaahu‘alaihi wa sallam.).

Dengan demikain, bila kita berpegang pada pendapat bahwa yang dimaksud adalah perumpamaan panjang pendeknya tempo masing-masing umat (alias bukan banyak sedikitnya amal mereka), maka konsekuensinya waktu asar harus lebih panjang daripada waktu zuhur, padahal tidak ada seorang alim pun yang berpendapat demikian. Ini berarti bahwa yang dimaksud lewat perumpamaan tersebut sebenarnya ialah banyak-sedikitnya amalan. Wallaahu Ta’ala a’lam. (Fathul Baari, Ibnu Hajar, 2/50-51, cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyyah).

Ibnu Rojab mengatakan, “Menentukan sisa waktu (umur) dunia dengan bersandar kepada hadits-hadits seperti ini adalah sesuatu yang tidak dibenarkan karena hanya Allah-lah yang mengetahui kapan terjadinya kiamat, dan tidak seorang pun yang diberitahu tentang waktunya. Oleh karenanya, Nabi ketika ditanya tentang kapan terjadinya kiamat telah menjawab, ‘Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya’.” Jadi, maksud dari perumpamaan Nabi dalam hadits ini ialah sekedar mendekatkan waktu terjadinya hari kiamat, tanpa menentukan waktunya.” (Fathul Baari, Ibnu Rajab, 4/338).

Selain itu, bila kita perhatikan dalam hadits-hadits di atas, Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam menyebutkan dua hal,

Pertama: perumpamaan antara ajal (umur) umat Islam dibanding ajal umat-umat sebelum kita. Dan ini berarti meliputi seluruh manusia sejak zaman Adam ‘alaihissalam hingga diutusnya Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, alias tidak terbatas pada kaum Yahudi dan Nasrani saja.

Kedua: perumpamaan antara balasan amal umat islam dengan balasan amal dua umat besar sebelum kita, yaitu Yahudi dan Nasrani. Kesimpulannya, menghitung umur umat Islam dengan cara yang telah disebutkan (umur Yahudi minus umur Nasrani) adalah keliru karena mestinya yang jadi acuan adalah umur semua umat, yang dibandingkan dengan umat Islam. Dan umur semua umat zahirnya seperti panjangnya waktu antara terbit fajar hingga waktu asar, sedangkan umur umat islam sesingkat waktu antara asar hingga magrib. Berhubung kita tidak tahu berapa lama usia umat-umat terdahulu, maka mustahil kita bisa memprediksi umur umat Islam

Jadi, perbandingan antara umat Islam dengan ahli kitab, bukan dalam hal panjang-pendeknya umur masing-masing, melainkan dalam hal banyak sedikitnya pahala yang didapat oleh masing-masing lewat amalnya. Ini dikarenakan saat berbicara tentang umat Islam dengan ahli kitab, Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam tidak menyebutkan “ajal” atau “eksistensi”, tetapi menggunakan istilah “orang yang diberi kitab lalu mengamalkannya hingga waktu tertentu”, atau dengan istilah “orang yang mempekerjakan suatu kaum”, dan sejenisnya, sehingga tidak bisa menjadi acuan untuk menghitung umur masing-masing umat.

Dari sini, ketika disebut dalam hadits bahwa orang-orang Yahudi beramal hingga tengah hari, tidak berarti mereka beramal sejak terbit fajar karena sebelum mereka ada sejumlah umat yang berumur ribuan tahun telah mendahului mereka dalam amal, dan Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam tidak menyebutkan sejak kapan Yahudi mulai beramal. Namun, hanya dijelaskan bahwa mereka beramal hingga masuk waktu zuhur. Oleh karenanya, tidak bisa dijadikan acuan untuk menghitung berapa umur nisbah umur mereka dibanding umur Nasrani dan umat Islam.

Di samping itu, hadits perbandingan umur kita dengan umur-umur umat sebelum kita, bisa dipahami dari sisi lain, yaitu bahwa umur rata-rata individu umat Islam adalah jauh lebih singkat dibanding umur rata-rata individu umat-umat sebelumnya. Sebagaimana singkatnya waktu asar dibanding waktu siang secara keseluruhan. Jika kita anggap waktu asar sekitar 3 jam, sedangkan waktu siang adalah 12 jam, berarti rata-rata umur individu umat Islam adalah seperempat umur individu umat sebelumnya, namun umat Islam diberi pahala yang lebih besar. Pemahaman ini justru lebih sesuai dengan maksud hadits yang ingin menonjolkan besarnya karunia Allah atas umat Muhammad, yakni walau usianya lebih pendek dan amalnya relatif lebih sedikit, tetapi pahala yang diterimanya lebih banyak.

Dalam tulisan diatas telah dijelaskan beberapa poin sanggahan atas pendapat yang mengatakan bahwa umur umat Islam adalah 1400-1500 tahun, dan masih tersisa satu pendapat lagi yang belum disanggah, yaitu pendapat As-Suyuti rahimahullah.
Setelah merujuk ke kitab As Suyuti, ternyata atsar-atsar yang menjadi pijakan As-Suyuti hingga mengatakan bahwa Allah menangguhkan umat Islam sampai lebih dari 1000 tahun, dan lebihnya tidak akan lebih dari 500 tahun (alias maksimal umur umat ini adalah 1500 tahun), semuanya adalah atsar-atsar yang tergolong dha’if. Sementara atsar sahabat yang sahih dalam bab ini, menurut para ulama sumbernya adalah dari ahli kitab. Kesimpulannya, semua atsar ini tidak bisa jadi pijakan dalam masalah yang sangat vital seperti ini.

Oleh karenanya, pendapat As-Suyuti tersebut dibantah oleh As-Shan’ani dalam risalahnya yang berjudul كم الباقي من عمر الدنيا؟ (Berapa Sisa Umur Dunia?). As-Shan’ani menyebutkan atsar-atsar yang menjadi pijakan As-Suyuti, yaitu:

1. Atsar Abdullah bin Amru bin Ash yang berbunyi:
يبقى الناس بعد طلوع الشمس من مغرهبا مائة وعشرين سنة
“Setelah matahari terbit dari Barat, manusia akan tetap eksis selama 120 tahun“.
2. Bahwasanya Isa Al-Masih akan tetap hidup selama 40 tahun setelah membunuh Dajjal.
3. Kemudian setelah itu Isa akan menggantikan kepemimpinan seorang lelaki dari Bani Tamim selama 3 tahun.
4. Dan bahwasanya manusia akan tetap hidup 100 tahun setelah Allah mengirim angin baik yang mencabut ruh setiap mukmin, akan tetapi mereka yang masih hidup tersebut tidak mengenal agama apa pun.

Setelah menyebutkan atsar-atsar tadi, As-Shan’ani lantas berkata:

فهذه مئتان وثلاث وستون سنة، ونحن الآن في قرن الثاني عشر، ويضاف إليه مئتان وثلاث وستون سنة، فيكون الجميع أربعة عشر مئاة وثلاث وستون، وعلى قوله إنه لا يبلغ خمسمئة سنة بعد الألف، يكون منتهى بقاء الأمة بعد الألف: أربعمئة وثلاث وستين سنة، يتخرج منه أن خروج الدجال –أعاذنا الله من فتنته– قبل انخرام هذه المئة التي نحن فيها!

“Berarti, total temponya ialah 263 tahun, sedangkan kita saat ini berada pada abad ke-12 hijriyah, yang bila ditambah 263 tahun, berarti totalnya 1463 tahun. Dan menurut pendapat As-Suyuti yang mengatakan, ‘Bahwa penangguhan umur umat islam tidak lebih dari 500 tahun setelah berlalu seribu tahun,’ berarti batas akhir eksistensi umat Islam setelah melalui 1000 tahun, adalah 463 tahun. Kesimpulannya, keluarnya Dajjal –semoga Allah melindungi kita darinya– adalah sebelum abad ke-12 H ini berakhir!” (Risalah (كم الباقي من عمر الدنيا) hal 40.)

Jadi, ternyata atsar-atsar yang dijadikan pijakan oleh As-Suyuti untuk menentukan batas umur umat Islam maksimal adalah 1500 tahun itu memiliki kalkulasi yang berbeda. Sebabnya, 1500 tahun itu masih dikurangi peristiwa-peristiwa berikut:
1. Tempo 120 tahun setelah matahari terbit dari barat.
2. Tempo 40 tahun dari keberadaan Isa Al-Masih setelah terbunuhnya Dajjal.
3. Tempo 3 tahun ketika Isa menggantikan kepemimpinan seorang lelaki Bani Tamim.
4. Tempo 100 tahun setelah semua orang beriman diwafatkan melalui berhembusnya angin baik.
Totalnya dari data di atas ialah 120 + 40 + 3 + 100 = 263 tahun. Kesimpulannya, umur umat Islam harus berakhir setelah melalui (1500 – 263 =) 1237 tahun. Dengan kata lain, semua peristiwa besar tadi mestinya telah muncul pada tahun 1237 H menurut kalkulasi As-Suyuti (yang ternyata tidak terjadi)!

Dari sini saja terbukti betapa rancunya pendapat tersebut, apalagi jika dilihat dari banyaknya tanda-tanda hari kiamat yang belum muncul, seperti jazirah Arab kembali menghijau dan dialiri sungai-sungai. Ini pun bukan sesuatu yang bersifat temporer, melainkan menjadi ciri dominan bagi jazirah Arab. Dan kita lihat sampai sekarang hal itu belum terwujud.

Demikian pula tentang kaya rayanya umat Islam sehingga seseorang tidak lagi mendapati orang yang mau menerima sedekahnya.

Demikian pula tentang kembalinya paganisme di jazirah Arab, penyembahan terhadap berhala-berhala Latta dan ‘Uzza dan semisalnya yang dahulu pernah disembah.

Demikian pula perang besar antara kaum muslimin dengan Yahudi hingga orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon tersebut memanggil kaum muslimin, “Yaa Muslim (hai orang islam)… Yaa ‘Abdallaah (hai hamba Allah), ini ada orang Yahudi bersembunyi di belakangku, kemari dan bunuhlah dia!” Dan panggilan ini (Yaa Muslim ataupun Yaa ‘Abdallah) menunjukkan betapa Islam telah mewarnai kaum muslimin, serta peribadatan kepada Allah semata (tauhid) juga telah mendominasi kaum muslimin. Sebabnya, hakikat Islam adalah tauhid dan panggilan tersebut adalah pengakuan atas keislaman kaum muslimin hari itu .

.(penjelasan Asy Syaikh Al ‘Allaamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin ketika ditanya tentang bagaimana kaum muslimin dapat merebut kembali Palestina dari tangan yahudi, dapat dilihat di: (كتب ورسائل الشيخ ابن عثيمين 8/117).

Kalau kita lihat hari ini semua hal tersebut masih jauh dari kenyataan mengingat syirik masih mendominasi umat yang mengaku muslim hari ini. Entah perlu berapa lama lagi untuk mewujudkan Islam dan tauhid yang sebenarnya di tengah-tengah umat. Wallaahu a’lam.

Penulis: DR. Sufyan bin Fuad Baswedan, MA, حفظه الله تعالى
Doktor Ilmu Hadits dari Universitas Islam Madinah, KSA.
Solo, 29 Jumada Tsaniyah 1437 H, bertepatan dengan 7 Maret 2016 M.

Referensi:
• Shahih Bukhari.
• Kitab (الإفحام لمن زعم انقضاء عمر أمة الإسلام), Abdul Hamid Hindawi.
• Risalah (كم الباقي من عمر الدنيا؟) Ash Shan’ani.
• Fathul Baari, Ibnu Rojab Al Hambaly.
• Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqalani.
• (كتب ورسائل الشيخ ابن عثيمين 8/117) Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

posted by:

Zainal Abidin bin Syamsuddin, حفظه الله تعالى