Category Archives: Kaidah USHUL FIQIH

Kaidah Ushul Fiqih Ke-52 : Istidamah Lebih Kuat Dari Ibtida…

Kaidah ushul fiqih yang diambil dari kitab syarah Mandzumah ushul fiqih Syaikh Utsaimin, rohimahullah.

Kaidah ke 52 :

Istidamah lebih kuat dari ibtida

Istidamah artinya berlangsung dari awal sebelum melakukan ibadah.
Ibtida artinya memulai melakukan sesuatu ketika sedang ibadah.

Contohnya: Orang yang memakai minyak wangi sebelum ihrom dan wanginya tersisa sampai ketika umroh, maka ini tidak berpengaruh apapun.
Tetapi jika ia memakai minyak wangi di saat sedang ihram, maka hukumnya haram.

Contoh lainnya, orang yang sedang berihrom lalu mantalaq istri. Kemudian ia rujuk lagi di saat ihrom. Maka ini boleh.

Berbeda jika ia melakukan aqad nikah di saat ihrom maka dilarang.

Sebagaimana hadits

لا ينكح المحرم ولا ينكح ولا يخطب

“Orang yang sedang berihrom tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan dan melamar.” (HR Muslim).

Badru Salam, حفظه الله

Kaidah Ushul Fiqih Ke 51 : Terkadang Ibadah Yang Tidak Utama Menjadi Lebih Utama Dalam Keadaan Tertentu…

KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Kaidah Ushul Fiqih Ke 51 : Terkadang Ibadah Yang Tidak Utama Menjadi Lebih Utama Dalam Keadaan Tertentu…

Kaidah ushul fiqih yang diambil dari kitab syarah Mandzumah ushul fiqih Syaikh Utsaimin, rohimahullah.

Kaidah ke 51 :

Terkadang ibadah yang tidak utama menjadi lebih utama dalam keadaan tertentu.

Contohnya sholat dzuhur lebih utama di awal waktu. Tapi ketika sangat panas maka yang lebih utama diakhirkan.

Dzikir yang paling utama adalah membaca al qur’an. Tetapi ketika adzan berkumandang maka yang paling utama adalah menjawab adzan.

Di saat suatu ibadah lebih mengena di hati menjadi lebih utama. Seperti ketika berdzikir lebih khusyu dan terasa di hati, maka lebih utama dari membaca alquran dalam keadaan tidak bisa khusyu.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 50 : Pengganti Sama Hukumnya Dengan Yang Diganti…

KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Kaidah Ushul Fiqih Ke 50 : Pengganti Sama Hukumnya Dengan Yang Diganti…

Kaidah ushul fiqih yang diambil dari kitab syarah Mandzumah ushul fiqih Syaikh Utsaimin, rohimahullah.

Kaidah ke 50 :

Pengganti sama hukumnya dengan yang diganti.

Contoh kaidah ini adalah tayammum sebagi pengganti wudlu ketika tidak ada air. Maka hukum tayammum sama dengan wudlu dari sisi pembatal pemabatalnya. Sebagaimana boleh sholat beberapa sholat dengan sekali wudlu karena tidak batal, demikian juga tayammum.
Apabila terkena janabah kemudian ia tidak menemukan air untuk mandi, maka cukup dengan tayammum. Namun ketika setelah itu ia mendapatkan maka wajib ia mandi. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

الصعيد الطيب وضوء المسلم وإن لم يجد الماء عشر سنين فإذا وجد الماء فليتق الله وليمسه بشرته

“Tanah yang baik adalah alat berwudlu untuk muslim walaupun ia tidak menemukan air selama sepuluh tahun. Apabila ia menemukan air, maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menyentuhkannya dengan kulit (wudlu atau mandi).” (HR Ahmad).

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, alat transaksi adalah dinar dan dirham. Adapun di zaman sekarang telah diganti dengan uang. Maka hukum uang sama dengan dinar dan dirham yang terjadi padanya riba baik riba nasiah ataupun riba fadl.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 49 : Setiap Yang Masyghul (Sedang Terpakai) Tidak Boleh Dipakai…

KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Kaidah Ushul Fiqih Ke 49 : Setiap Yang Masyghul (Sedang Terpakai) Tidak Boleh Dipakai…

Kaidah ushul fiqih yang diambil dari kitab syarah Mandzumah ushul fiqih Syaikh Utsaimin, rohimahullah.

Kaidah ke 49 :

Setiap yang masyghul (sedang terpakai) tidak boleh dipakai untuk yang perkara lain yang menggugurkan pemakaian yang pertama.

Contoh kaidah ini adalah apabila A menggadaikan rumahnya kepada B. Maka rumah tersebut tidak boleh digadaikan kepada orang lain karena sedang dipakai sebagai gadaian.

Si A menyewakan motornya kepada B. Lalu A menyewakan lagi ke C padahal motor tsb sedang disewa B. Maka ini tidak boleh.

Apabila tidak menggugurkan pemakaian pertama maka tidak apapa. Contohnya bila A meminjam uang ke B sebanyak 100 juta dengan menggadaikan rumahnya. Lalu si A kembali datang ke B lagi dan berkata, “Pinjamkan saya uang 100 juta lagi dengan gadaian yang sama.” Maka ini boleh karena tidak menggugurkan gadaian pertama.

Si A menyewakan rumah ke si B selama setahun. Dipertengahan tahun A menjual rumah tersebut kepada C. Maka boleh tapi dengan syarat mengabarkan bahwa rumah tersebut masih akan dipakai setengah tahun karena statusnya masih disewakan.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 48 : Pada Asalnya Syarat Dalam Akad Dan Perdamaian Adalah Boleh, Kecuali…

KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Kaidah Ushul Fiqih Ke 48 : Pada Asalnya Syarat Dalam Akad Dan Perdamaian Adalah Boleh, Kecuali…

Kaidah ushul fiqih yang diambil dari kitab syarah Mandzumah ushul fiqih Syaikh Utsaimin, rohimahullah.

Kaidah ke 48 :

Pada asalnya syarat dalam akad dan perdamaian adalah boleh, kecuali bila syarat tersebut menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

Contoh syarat yang boleh: Apabila si A menjual rumahnya ke B dan A meminta syarat untuk tinggal dahulu selama setahun di rumah tersebut dan B menyetujuinya.

Contoh lain: bila penjual berkata kepada pembeli: Saya mau menjual mobil saya kepadamu seharga 200 juta misalnya dengan syarat kamu menggadaikan rumahmu kepadaku.

Contoh syarat perdamaian yang boleh: Bila seorang laki laki mempunyai dua istri, lalu dua istri tersebut berdamai dimana istri yang keduanya berkata, “Nggak apapa kamu tidak menafkahi aku asal jangan ceraikan aku.”
Syarat seperti diperbolehkan karena nafkah adalah hak istri. Di sini istri telah menggugurkan haknya.

Contoh yang tidak boleh: bila si A meminjamkan uang kepada B dengan syarat mengembalikan uang dengan tambahan sejumlah uang. Maka ini riba.

Dalil kaidah ini adalah hadits:

من اشترط شرطا ليس في كتاب الله فهو باطل و إن كان مائة شرط

“Siapa yang memberikan syarat yang tidak sesuai dengan kitabullah maka ia batil walaupun seratus syarat.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang artinya “perdamaian dibolehkan dikalangan  kaum muslimin, kecuali perdamaian menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang haram. Dan orang-orang islam bergantung pada syarat-syarat mereka (yang telah disepakati), selain syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. Ibnu Hibban dan At Tirmidzi).

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 47 : Setiap Syarat Dalam Akad Yang Apabila Dilafadzkan Dapat Merusak Akad, Maka…

KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Kaidah Ushul Fiqih Ke 47 : Setiap Syarat Dalam Akad Yang Apabila Dilafadzkan Dapat Merusak Akad, Maka…

Kaidah ushul fiqih yang diambil dari kitab syarah Mandzumah ushul fiqih Syaikh Utsaimin, rohimahullah.

Kaidah ke 47 :

Setiap syarat dalam akad yang apabila dilafadzkan dapat merusak akad, maka sebatas berniat pun dapat merusak akad.

Contohnya orang yang menikah dengan niat talaq, maka akadnya tidak sah atas pendapat yang paling kuat.

Orang yang menikahi wanita yang ditalaq tiga oleh suaminya dengan niat untuk metalaqnya setelah itu agar wanita ini menjadi halal kembali untuk suaminya, maka akadnya rusak karena niat tersebut terlarang dalam syari’at.

Tetapi apabila wanita yang dinikahi tersebut tidak mengetahui niat lelaki yang menikahinya, maka nikah tersebut sah untuk wanita tersebut dan berdosa bagi lelaki yg menikahinya. Karena akad berlaku sesuai yang tampak bukan yang tidak tampak.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 46 : Laksanakanlah Amanah Kepada Orang Yang Memberimu Amanah, Dan…

KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Kaidah Ushul Fiqih Ke 46 : Laksanakanlah Amanah Kepada Orang Yang Memberimu Amanah, Dan…

Kaidah ushul fiqih yang diambil dari kitab syarah Mandzumah ushul fiqih Syaikh Utsaimin, rohimahullah.

Kaidah ke 46 :

Laksanakanlah amanah kepada orang yang memberimu amanah, dan jangan mengkhianati orang yang mengkhianatimu.

Kaidah ini berasal dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya no 3535. Nabi shallallahu alahi wasallam bersabda:

أد الأمانة إلى من ائتمنك ولا تخن من خانك

“Laksakanlah amanah kepada orang yang memberimu amanah dan jangan mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” Diriwayatkan oleh At Tirmidzi juga.

Contohnya bila ada orang yang mengatakan kepada kita, “Sampaikan salamku untuk si fulan.” Lalu kita mengatakan, “Saya sampaikan in sya Allah.” Maka kita wajib menyampaikan amanah tersebut. Berbeda bila kita tidak menerima amanah tersebut, maka bila tidak disampaikan pun tidak berdosa.

Bila ada orang yang berkhianat kepada kita, maka kita tidak boleh membalasnya dengan cara mengkhianatinya lagi. Misalnya bila kita menitipkan emas kepada teman yang kita berhutang kepadanya, lalu setelah sebulan kita memintanya namun ia malah mengingkari. Maka kita wajib membawakan bukti, dan jika tidak ada bukti, dia bersumpah bahwa kita tidak memberikan kepada dia apapun.
Tidak boleh kita membalasnya dengan cara tidak mau membayar hutangnya.
Karena kemungkaran tidak boleh dibalas dengan kemungkaran lagi.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 45 : Orang Yang Amanah Apabila…

KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Kaidah Ushul Fiqih Ke 45 : Orang Yang Amanah Apabila…

Kaidah ushul fiqih yang diambil dari kitab syarah Mandzumah ushul fiqih Syaikh Utsaimin, rohimahullah.

Kaidah ke 45:

Orang yang amanah apabila mengaku telah mengembalikan maka pengakuannya diterima selama bukan pada barang yang ia mengambil manfaat padanya.

Contohnya apabila si A menitip uangnya kepada si B yang sangat amanah. Lalu beberapa hari kemudian si A meminta uangnya, dan si B mengaku sudah dikembalikan. Maka  pengakuan B diterima karena ia orang yang amanah.
Dasarnya adalah firman Allah Ta’ala:

ما على المحسنين من سبيل

“Orang yang berbuat ihsan, tidak jalan untuk (menghukumnya).”

Kecuali pada barang yang ia mengambil manfaat padanya, maka pengakuannya tidak diterima sampai membawakan bukti.

Contohnya bila ia meminjam pulpen, lalu pemiliknya memintanya. Namun ia mengaku sudah mengembalikan. Maka pengakuannya tidak diterima.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 44 : Orang Yang Mengklaim Wajib Membawa Bayyinah…

KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Kaidah Ushul Fiqih Ke 44 : Orang Yang Mengklaim Wajib Membawa Bayyinah…

Kaidah ushul fiqih yang diambil dari kitab syarah Mandzumah ushul fiqih Syaikh Utsaimin, rohimahullah.

Kaidah ke 44:

Orang yang mengklaim wajib membawa bayyinah dan orang yang mengingkari hendaknya bersumpah.

Bayyinah adalah segala sesuatu yang menjelaskan kebenaran berupa saksi, atau qorinah (indikasi) atau kebiasaan atau yang lainnya.

Adapun saksi maka ada beberapa macam:

1. Permasalahan yang memerlukan empat saksi. Yaitu masalah tuduhan zina.

2. Yang memerlukan tiga saksi laki laki. Yaitu orang yang bangkrut dan menjadi miskin lalu ia datang meminta zakat. Maka harus ada tiga saksi yang adil yang menyaksikan bahwa ia memang fakir.

3. Yang memerlukan dua orang laki laki. Yaitu dalam masalah penegakan hukuman Hadi selain zina. Seperti potong tangan.

4. Yang memerlukan dua saksi laki laki atau satu laki laki dan dua wanita. Yaitu dalam masalah yang berhubungan dengan harta. Contohnya bila ada orang dituduh mencuri, dan penuduh hanya bisa mendatangkan satu laki laki dan dua wanita, maka hartanya diberikan kepadanya namun tidak ditegakkan hukuman Hadd karena saksinya tidak memenuhi.

5. Yang membutuhkan satu saksi wanita. Yaitu dalam masalah yang berhubungan kewanitaan seperti penyusuan, melahirkan dan sebagainya.

Adat kebiasaan pun bisa menjadi bayyinah. Contohnya bila suami istri bercerai lalu istri mengklaim bahwa gelas kopi miliknya. Secara adat kebiasaan bahwa gelas kopi itu milik suami bukan istri.

Apabila yang menuduh tidak dapat membawakan bayyinah, maka orang yang dituduh diminta untuk bersumpah bahwa tuduhan tersebut tidak benar.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 43 : Apabila Dua Orang Yang Berakad Berselisih…

KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Kaidah Ushul Fiqih Ke 43 : Apabila Dua Orang Yang Berakad Berselisih…

Kaidah ushul fiqih yang diambil dari kitab syarah Mandzumah ushul fiqih Syaikh Utsaimin, rohimahullah.

Kaidah ke 43 :

Apabila dua orang yang berakad berselisih, yang satu mengklaim bahwa akadnya tidak sah dan yang lainnya mengklaim akadnya sah. Pendapat yang dipegang adalah sah, karena pada asalnya akad itu sah sampai ada bukti yang kuat menunjukkan batalnya.

Contohnya bila A menjual mobil dan B membelinya. Seminggu kemudian A datang kepada B bahwa akadnya tidak sah karena terjadi di saat adzan jumat. Sementara B mengingkarinya dan mengatakan bahwa akadnya terjadi sebelum adzan jumat.

Maka pendapat yang dipegang adalah pendapat B, kecuali bila si A membawa bukti yang kuat. Bila A tidak punya bukti, maka B cukup bersumpah dan akadnya sah.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 42 : Setiap Orang Yang Keridloannya Tidak Dianggap, Maka…

KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Courtesy of Al Fawaid