Category Archives: Kitab AL ISHBAAH

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-46

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
KAIDAH SEBELUMNYA (KE-44 dan 45) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 46 🌼

⚉   Bahwa mereka mengingatkan kaum muslimin dan mewanti-wanti mereka dari fitnah yang menyesatkan.

Ibnul Qayyim membawakan hadits Hudzaifah ibnul Yamaan, dimana Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

Fitrah akan di jalin di dalam hati seperti tikar yang dijalin seutas demi seutas, hati mana saja yang menerima fitnah, maka akan di berikan padanya goresan hitam. Dan hati mana saja mengingkari akan diberikan padanya goresan putih”. 

Sehingga hati menjadi dua hati, yang pertama hati yang hitam dan kelam, bagaikan cangkir yang di balikkan, sudah tidak lagi mengenal yang ma’ruf, tidak pula mengingkari kemungkaran kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya saja. Dan hati yang putih tidak ter-mudhorotin oleh fitnah selama langit dan bumi masih ada. (Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam shohihnya).

Kata Ibnul Qayyim disini Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam memberikan perumpamaan, dijalinnya fitnah dihati itu seperti tikar, sedikit demi sedikit. Lalu kemudian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam membagi hati menjadi dua, hati yang menerima fitnah, maka lalu ia menjadi hitam dan hati yang menolak fitnah maka iapun menjadi putih.

Kata beliau “wal Fitan” dan fitnah-fitnah yang masuk ke hati itu sebabnya adalah akibat penyakit, yaitu penyakit syahwat dan penyakit syubhat.

👉🏼  Maka ketika hati menerima penyakit syahwat atau penyakit syubhat (pemikiran-pemikiran yang menyesatkan) maka ia akan menjadi gelap gulita, sehingga tidak lagi bisa melihat hakikat kebenaran.

👉🏼  Maka di zaman sekarang kita banyak melihat para penuntut ilmu sengaja memasukkan syubhat itu ke hatinya, dengan cara membuka situs-situs yang syubhat, website-website yang syubhat atau duduk di majelis-majelis ustadz yang banyak syubhatnya dengan alasan katanya, ambil baiknya dan buang buruknya. Padahal dia belum punya kemampuan ilmu untuk membedakan…

Akibatnya apa ?
Masuklah syubhat tersebut ke dalam hatinya. Sehingga apa yang terjadi ?
Menyebabkan hatinya menjadi kelam, akhirnya apa ?
Ia berada di atas kebingungan, kegelapan, mana yang sebetulnya di atas kebenaran.

Yang musibahnya kemudian, kalau hatinya terbalik melihat kebathilan sebagai sebuah kebenaran, dan kebenaran sebagai sebuah kebathilan. Akibat daripada kurangnya keilmuan, sudah begitu di kuasai oleh syubhat dan syahwat.

Oleh karena itulah kewajiban kita, ini merupakan manhaj Salaf, selalu mengingatkan manusia untuk hati-hati jangan sampai kita terjerumus dalam fitnah yang menyesatkan tersebut.

Maka Asatidzah, Ustadz-Ustadz jika mengingatkan tentang kesalahan da’i-da’i yang sedang tenar misalnya.
Kenapa ?
Karena itu syubhat, dan itu bisa membahayakan hati kita, dan syubhat itu menyambar-nyambar… maka bukanlah ustadz-ustadz tersebut sedang karena dengki ataupun mencari ketenaran,… tidak, demi Allah.

Tapi itulah manhaj Salaf, manhaf Ahlussunnah wal Jama’ah untuk mengingatkan manusia daripada fitnah-fitnah yang menyesatkan.

👉🏼  Karena fitnah syubhat dan fitnah syahwat ini adalah 2 fitnah yang sangat berat sekali, yang bisa menyebabkan hati kita bahkan bisa mati, bahkan hati kita menjadi hati yang seperti Rasulullah sebutkan dalam hadits tersebut, tidak lagi bisa mengenal kebaikan, tidak pula mengingkari kemungkaran kecuali sesuai dengan hawa nafsunya saja. Akibat apa ?
Karena hati tersebut tidak dijaga dari fitnah-fitnah yang akan bisa merusaknya.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-44 dan 45

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
KAIDAH SEBELUMNYA (KE-43) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 44 dan ke 45 🌼

🌼 Kaidah yang ke 44 🌼

⚉   Mereka meyakini bahwa hak Allah itulah tujuan. Adapun hak manusia maka itu mengikuti saja.

Karena apa?
Karena Allah Ta’ala berfirman [QS Adz-Dzariyat : 56]

‎وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku

Berarti tujuan penciptaan manusia dan jin adalah untuk merealisasikan ibadah.
Berarti ini menunjukkan bahwa hak ibadah itulah yang merupakan tujuan.
Adapun hak manusia bukan tujuan.

Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam juga bersabda kepada Muadz: “Hai Muadz, tahukan kamu apa hak Allah atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah”.
Aku berkata Allah dan Rasul-Nya lebih tahu, kata Muadz, maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Sesungguhnya hak Allah atas hamba yaitu agar mereka beribadah kepada-Nya, dan tidak mempersekutukan-Nya sedikitpun juga. Dan hak hamba atas Allah, Allah tidak akan mengazab orang yang tidak mempersekutukan-Nya”.
(Diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim)_

👉🏼  Ini menunjukkan bahwa hak Allah yang paling agung adalah agar kita beribadah kepada Allah.
Dan inilah merupakan hak Allah yang paling Agung.

👉🏼  Adapun hak manusia, kita melaksanakan hak mereka tetap, karena melaksanakan hak Allah. Allah yang memerintahkan kita berbuat baik kepada manusia, maka kita berbuat baik kepada mereka dalam rangka beribadah kepada Allah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
Sebagian orang filsafat mengatakan bahwa tujuan adanya agama adalah sebatas mengadakan maslahat dunia saja, bukan sebatas maslahat agama.” Ini kata mereka orang filsafat.
Ini jelas adalah merupakan perkataan yang bathil.

Tentunya saudaraku… bahwa tujuan atau hak Allah yang paling besar yang harus kita perhatikan adalah ibadah… itulah tujuan yang harus kita benar-benar perhatikan.“`

Adapun hak manusia kita amalkan, kita lakukan, karena itupun juga dalam rangka melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

🌼 Kaidah yang ke 45 🌼

⚉   Bahwa mereka memvonis manusia sesuai yang tampak dari amal perbuatan mereka.

⚉   Adapun masalah yang tidak tampak (yaitu yang ada di hatinya) dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

👉🏼  Artinya, kita di dalam menghukumi manusia sesuai dengan yang terlihat di mata kita.
Kalau dia menampakkan keburukan, kita menilai dia buruk.
Kalau dia menampakkan kebaikan, maka kita menilai dia baik.

Siapapun yang memperlihatkan dua kalimat syahadat, sholat, zakat, puasa, kita hukumi dia orang Islam, tidak boleh kita katakan kafir sampai ada sesuatu bukti yang sangat meyakinkan bahwa dia telah kafir.
Dan orang yang melakukan kekafiran di lihat, apakah sudah tegak hujjah atau belum, apakah sudah sampai atau belum ke dia keterangan yang menjelaskan bahwasanya dia ;
1⃣melakukan itu dalam keadaan tahu
2⃣sudah hilang darinya syubhat-syubhat, sudah tegak padanya hujjah.

Karena masalah kafir-mengkafirkan tentunya bukan masalah yang mudah, butuh kepada pemenuhan syarat-syaratnya dan menghilangkan penghalang-penghalangnya.
👉🏼  Yang jelas kita menghukumi orang itu sesuai dengan yang tampak kepada kita.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

‎إِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَلْحَنُ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ

“Kalian bersengketa kepadaku, barangkali sebagian kalian lebih pandai mengemukakan hujjahnya/argumennya daripada yang lain._

‎وإنَّما أقضي بينكما بما أسمعُ

dan aku memutuskan keputusannya sesuai dengan yang aku dengar dari hujjah-hujjah kalian. Maka siapa yang aku berikan kepadanya hak saudaranya, maka janganlah ia mengambilnya, karena itu hakikatnya, aku telah memberikan padanya bagian dari api neraka.”
[Diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim]
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-43

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
KAIDAH SEBELUMNYA (KE-42) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 43 🌼

⚉   Bahwa mereka menyuruh manusia untuk senantiasa meng-esakan Allah dengan cara menggantungkan diri kita kepada-Nya, dalam ibadah dan minta pertolongan.
.
⚉   Dan selalu berpegang kepada petunjuk Nabi, pada setiap urusan merekaDiantaranya juga apa yang kita hadapi atau yang di hadapi oleh manusia berupa problematika-problematika hidup bahkan juga menyembuhkan masalah-masalah kejiwaan.
.
Ahlussunnah wal Jama’ah berkeyakinan bahwa manusia di ciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan seluruh kaum muslimin berkeyakinan ini. Dan tentunya Allah yang menciptakan yang paling tau tentang apa yang paling mashlahat untuk manusia.
.
Allah Ta’ala berfirman [QS Asy-Syu’araa’ : 78-80]

‎الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (٧٨) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (٧٩) وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (٨٠)

”{78}. Dialah Allah yang telah menciptakan aku, dan Dia pula yang memberikan aku hidayah, {79}. dan Dia pula yang memberikan aku makan dan memberikan aku minum, {80}. dan apabila aku sakit, maka Dialah yang memberikan kesembuhan kepadaku.”
.
👉🏼  Maka Allah yang menciptakan manusia , tentu yang paling tau obat yang paling manjur untuk hatinya dan untuk badannya, bahkan seluruh problematika hidup manusia. Pastilah Allah telah memberikan jalan keluarnya melalui wahyu yang Allah berikan kepada Rasul-Nya.
.
Sebuah contoh misalnya musibah-musibah yang menimpa kehidupan manusia telah Allah tentukan.
Allah berfirman [QS Al-Baqarah :155]

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

sungguh Kami akan menguji kalian, dengan sedikit rasa takut , rasa lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Maka berikan kabar gembira untuk orang-orang yang sabar
.
👉🏼  Lihatlah Allah mengatakan, bahwa yang namanya manusia pasti akan di uji, lalu Allah mengatakan berikan kabar gembira untuk orang-orang yang sabar.
.
Siapa dia?
Siapa yang bisa mampu untuk menghadapi, yaitu berbagai macam ujian dan cobaan itu?
Yaitu Allah mengatakan:

‎الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: (إِنَّا لِلَّهِ) sesungguhnya kami milik Allah, [artinya: penyerahan diri kepada Allah secara total.]
‎(وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ) dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah,” [artinya berkeyakinan bahwa semua manusia pasti akan di kembalikan kepada Allah untuk di berikan balasan terhadap perbuatan mereka].
.
👉🏼  Maka dengan keyakinan bahwa kita semua ini milik Allah, dan semua kita akan kembali kepada Allah, tentu seseorang akan bisa bersabar menghadapi semua itu, karena ia mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang besar ketika ia bersabar.
.
Maka Allah mengatakan :

‎أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

merekalah orang-orang yang akan mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan Rahmat-Nya. Dan merekalah orang-orang yang mendapat hidayah
[QS Al-Baqarah : 155-157]
.
Perhatikanlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah menentukan ujian dan cobaan untuk hidup manusia, berbagai macam problematika hidup adalah ujian.
Ternyata Allah juga telah memberikan padanya obat yang paling baik untuk kehidupan manusia, yaitu BERGANTUNG KEPADA ALLAH, yakin bahwa kita milik Allah dan menyerahkan semuanya kepada Allah dan yakin akan bahwasanya adanya kebangkitan kehidupan akhirat, dimana setiap manusia pasti akan diberikan balasan .
.
👉🏼  Maka kata Ibnul Qayyim :
kalimat ini yaitu اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَجِعُوْنَ termasuk obat yang paling bagus bahkan paling bermanfaat untuk di dunia dan di akhirat.”
Karena ia mengandung 2 pokok yang agung.
Apa itu?
.
1⃣  Meyakini bahwa seorang hamba hartanya semuanya milik Allah, dimana Allah hanya meminjamkan saja kepada dia.
Maka ketika dia tahu bahwasanya ini semua pinjaman dari Allah lalu pemiliknya telah mengambilnya kembali, ia segera ridho karena memang itulah kewajiban seorang hamba demikian.
.
2⃣  Bahwa tempat kembali hamba adalah kepada Allah.
Maka pastilah kehidupan dunia akan segera hilang dan diganti dengan kehidupan akhirat, maka dengan keyakinan seperti ini dia berharap akan pahala yang besar kelak pada kehidupan akhirat, sehingga pada waktu itu membuat dia sabar dalam menghadapi problematika-problematika hidupnya.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-42

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
KAIDAH SEBELUMNYA (KE-41) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 42 🌼

⚉   Bahwasanya mereka mewaspadai dari menyerupai orang-orang kafir, dan dari mengikuti jalan mereka.

Artinya, Ahlusunnah wal Jama’ah senantiasa berusaha untuk mengingatkan ummat, jangan sampai kita menyerupai orang-orang kafir… kenapa ?
Karena hal itu di larang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

‎مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka”. [HR Abu Dawud]

Ini menunjukkan dan bahkan merupakan ancaman berat bagi orang-orang yang menyerupai orang-orang kafirin bahwa jika ia sengaja menyerupai mereka, maka ia dimasukkan dalam golongan mereka, dimana dzohir hadits ini menunjukkan kekufuran pelakunya. Tapi para ulama memberikan padanya perincian.

⚉   Orang yang menyerupai orang kafir jika memang karena menyerupainya karena rasa senang, rasa bangga dengan agama dan keyakinan orang-orang kafirin, maka ini bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam.

⚉   Tapi jika tidak disertai dengan keyakinan seperti itu maka ia termasuk pelaku dosa besar. Dan menyerupai orang-orang kafirin ini, walaupun niat kita atau diri kita tidak ada niat untuk menyetujui agama mereka, akan tetapi secara mutlak hal itu perkara yang dilarang.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda dari hadits Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu:
Benar-benar kalian akan mengikuti ummat-ummat sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sampai-sampai kalau salah seorang dari mereka masuk ke lubang dhob, kalian akan ikuti masuk padanya.”

Lalu Abu Hurairah berkata: “Silakan kalian baca
Firman Allah [QS At-Taubah : 69]:

‎كَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ كَانُوٓا۟ أَشَدَّ مِنكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَٰلًا وَأَوْلَٰدًا فَٱسْتَمْتَعُوا۟ بِخَلَٰقِهِمْ فَٱسْتَمْتَعْتُم بِخَلَٰقِكُمْ كَمَا ٱسْتَمْتَعَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُم بِخَلَٰقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَٱلَّذِى خَاضُوٓا۟ أُو۟لَٰٓئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ

Bagaikan orang-orang sebelum kalian, dahulu mereka lebih kuat dan lebih banyak harta dan anak-anaknya dan mereka telah menikmati kenikmatan mereka di dunia. Kalian juga ikut mengikuti, menikmati, kenikmatan kalian sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah menikmati kenikmatan mereka dan kalianpun tenggelam dalam perkara yang mereka tenggelam padanya. Mereka itu orang-orang yang batal amalannya di dunia dan di akhirat. Dan mereka itu orang-orang yang merugi.”

Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa kalian akan seperti mereka, sebagai pembenaran terhdap apa yang Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam kabarkan dalam hadits ini.

⚉   Maka kewajiban atas kita saudaraku untuk : segala macam yang kita pakai, pakaian dan yang lainnya, kita harus pertanyakan: apakah itu adalah merupakan tasyabbuh atau tidak.

⚉   Dan yang perlu kita pahami juga bahwa tasyabbuh itu dalam perkara-perkara yang khusus orang-orang kafirin dan merupakan syiar agama mereka juga.

⚉   Adapun jika itu tidak khusus dan tidak menjadi ciri-ciri khusus orang kafir maka itu tidak disebut tasyabbuh. Contoh, kalau kita memakai jam tangan, mereka memakai jam tangan, apakah berarti kita tasyabbuh ? Tentu tidak, tasyabbuh itu kalau itu adalah khusus mereka dan menjadi ciri mereka, makanya disebut dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pernah memakai jubah romawi.

👉🏼  Syaikh Albani berkata itu menunjukkan bahwa “tasyabbuh itu hanya dalam perkara yang merupakan kekhususan orang-orang kafirin. Adapun yang bukan kekhususan mereka itu diperbolehkan.”

Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-41

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
KAIDAH SEBELUMNYA (KE-40) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 41 🌼

.
.
⚉   Bahwasanya mereka memandang termasuk wasilah syar’iyyah dalam dakwah adalah berbicara di hadapan manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka.
.
⚉   Adapun kemudian menyama-ratakan dalam mengajak bicara kepada manusia dalam selain perkara-perkara yang sifatnya fardu ‘ain , itu bukanlah manhaj para nabi .
.
Tapi terkadang ada sebagian orang, sebagian Ustadz tidak membedakan ketika berbicara dengan orang yang sangat awam atau orang yang berkedudukan atau orang berpendidikan, sama saja.

Maka ini jelas bukan manhaj yang benar.

👉🏼  Manhaj yang benar itu melihat dengan siapa kita berbicara, maka kita sampaikan sesuai dengan pemahaman mereka, sesuai dengan keilmuan mereka.
.
Tidak setiap ilmu bisa kita sampaikan kepada setiap orang, terkadang kita tidak menyampaikan dulu kepada sebagian orang karena khawatir akan muncul fitnah.

Allah Ta’ala berfirman [QS. An Nahl: 125]:

‎ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah dengan jalan Rabb-mu dengan penuh hikmah dan peringatan yang baik

‎وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

dan debat lah mereka dengan yang lebih baik

‎إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ

Sesungguhnya Rabb-mu, lebih tahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya

‎وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

dan Dia lebih tahu tentang orang yang mendapatkan hidayah
.
Imam Al Bukhori berkata dalam Shohihnya, Kitabul ‘Ilm,

‎با ب مَنْ خَصَّ باِلْعِلْمِ قَوْ م كَرَ١ هِيَةَ أَ نْ لا يَفْمَوا

(Bab orang yang mengkhususkan ilmu dengan suatu kaum saja tanpa kaum yang lain karena khawatir mereka tidak paham).
.
Dan Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu ‘anhu berkata,

‎حدثوا الناس بما يعرفون

Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka

‎أتحبون أن يكذب الله ورسوله

Apakah kamu suka Allah dan Rasul-Nya di dustakan ?
.
Artinya, Imam Bukhori disini memberikan kepada kita pemahaman, boleh kita mengkhususkan pembicaraan suatu ilmu kepada suatu kaum tanpa kaum yang lain, kalau memang ilmu tersebut kalau di sampaikan kepada orang awam akan di fahami dengan tidak baik dan tidak benar.
.
Kemudian Imam Bukhori berkata:

‎حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ

Ia berkata Abi (Ayahku) dari Qatadah, ia berkata, bercerita kepada kami [Anas bin Malik] bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam dan Mu’adz membonceng di belakang Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Lalu Nabi memanggil: “Hai Mu’adz bin Jabal !” Maka Mu’adz menjawab :

‎لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ

Kemudian Rasulullah bersabda:

‎مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

Tidak ada seorangpun yang bersyahadat

‎لا إله إلا الله محمد رسول الله,

dengan penuh kejujuran dari hatinya kecuali Allah akan haramkan dari api neraka.”
Lalu Mu’adz berkata, “Ya Rasulullah bolehkah aku mengabarkan berita gembira ini kepada manusia ?
Kata Rasulullah:

‎لا إله إلا الله ‎إِذًا يَتَّكِلُوا

Jangan, kalau begitu mereka tidak mau beramal, maksudnya hanya mengandalkan syahadat.”

Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-40

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
KAIDAH SEBELUMNYA (KE-39) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 40 🌼

.
⚉   Alhussunnah meyakini bahwa mengatur manusia, maksudnya yaitu berhubungan dengan politik wajib sesuai dengan Alqur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan pemahaman Salafush Sholih.
.
Maka mereka tidak pernah menghalalkan apa yang Allah haramkan dengan alasan memberikan kemudahan kepada manusia atau untuk menarik simpati mereka.
Atau dalam rangka sampai pada kedudukan, sehingga mereka jatuh di hadapan syahwat dan tipuan-tipuan media (i’lan alqodir)
.
Jadi ini keyakinan yang harus diyakini, bahwa masalah siyasah/politik, yang tentunya politik dalam Islam tujuannya adalah untuk mengatur manusia untuk lebih kemaslahatan yang besar dan menghindarkan dari mereka kemudhorotan.
Itu semua harus sesuai dengan Alqur’an dan Hadits. Tidak boleh di sesuaikan dengan hawa nafsu manusia, harus sesuai dengan pemahaman para Salafush Sholih, tidak boleh di sesuaikan dengan pemahaman sendiri-sendiri.
.
👉🏼  Maka tidak boleh ada istilah namanya tujuan menghalalkan segala cara, akhirnya yang haram jadi halal dulu demi untuk mendapatkan kedudukan.
Maka yang seperti ini jelas sama sekali bukan untuk menegakkan agama, justru hal seperti itu hanya merusak agama.
.
Oleh karena itulah saudara-saudaraku sekalian, seperti di zaman sekarang, yang namanya politik penuh dengan kelicikan, saling menjatuhkan, sudah begitu banyak mereka yang masuk dalam dunia politik pasti tidak lepas dari kotoran-kotoran berupa menghalalkan apa yang Allah haramkan.
.
Karena mereka harus mendapatkan suara, sementara untuk mendapatkan suara pasti mau tidak mau harus ikut-ikutan dulu dengan keinginan manusia, akhirnya mereka ikut-ikutan berbuat bid’ah, bahkan mereka sudah hilang wala’ dan baro’ lagi, demi untuk mendapatkan apa?… kedudukan
Sehingga apa yang terjadi ?… yang terjadi hukum-hukum agama di injak-injak hanya untuk mendapatkan kedudukan…. Allahul musta’aan.
.
👉🏼  Maka kewajiban para Ulama hendaklah mereka tegak diatas Kitabullah dan Sunnah Rasulillah shallallahu ‘alayhi wasallam
.
⚉   para ulama hendaknya tidak mendatangi pintu-pintu penguasa
⚉   hendaknya para ulama menasehati mereka, aga mereka itu betul-betul bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka janganlah tentunya demi untuk mendapatkan kedudukan atau simpati manusia atau suara, akhirnya batasan-batasan agama sudah tidak diperhatikan lagi.
.
Ibnul Qayyim rohimahullah berkata:
Orang yang mempunyai pengalaman terhadap apa yang Allah utus dengan Rasul-Nya, dan mempunyai pengetahuan tentang kehidupan para sahabat, ia akan melihat ternyata di zaman sekarang ini, orang yang dianggap agamis, justru orang-orang yang sebetulnya paling sedikit agamanya.”
.
Maksudnya kata beliau, contohnya:
⚉   Ketika ia melihat keharaman-keharaman Allah …..dilanggar.
⚉   Batasan-batasan Allah ……di sia-siakan .
⚉   Agama-agama Allah ….di hina.
⚉   Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam ……dijauhi,
Tapi ternyata hatinya dingin, lisannya diam bagaikan setan yang bisu, karena takut, karena khawatir kedudukannya jatuh, karena takut kehilangan pengikut dan yang lainnya, akhirnya diam seribu bahasa.
.
Maka kata beliau (Ibnul Qayyim):
👉🏼  Maka kebaikan-kebaikan apa pada orang seperti ini dalam agama, kalau ternyata ketika ia melihat semua itu dia diam, dan dia tidak berusaha untuk memberikan nasehat, tidak berusaha sekuat tenaga untuk mengadakan islah perbaikan dan perubahan.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-39

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
.
KAIDAH SEBELUMNYA (KE-38) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 39 🌼

.
.
⚉   Pengaruh bid’ah itu akan tampak pada wajah mereka dan lisan mereka.

Allah Ta’ala berfirman [QS. Muhammad: 30]

‎وَلَوْ نَشَآءُ لأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ

Kalaulah Kami kehendaki, Kami akan perlihatkan kepada mereka kepadamu tentang mereka dan kamu akan mengenal mereka dengan tanda-tanda mereka. Dan kamu akan mengenal mereka dalam ucapan-ucapan mereka dan Allah mengetahui amalan kamu.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah:
Orang yang jujur dan banyak berbuat kebaikan akan tampak di wajahnya cahaya kejujurannya. Demikian pula orang yang suka berdusta dan suka berbuat dosa semakin panjang umur seseorang akan sampai, semakin tampak bekas atau pengaruh tersebut”.

Terkadang ada anak kecil, waktu kecilnya itu wajahnya bagus, tapi karena dia banyak berbuat dosa setelah besarnya, terus menerus berbuat dosa, ternyata apa yang terjadi di akhir umurnya terlihat wajahnya buruk, akibat pengaruh daripada apa yang ada di batinnya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa yang berkata:

‎إن للحسنة ضياء في الوجه، ونورا في القلب، وسعة في الرزق، وقوة في البدن، ومحبة في قلوب الخلق، وإن للسيئة سوادا في الوجه، وظلمة في القبر والقلب، ووهنا في البدن، ونقصا في الرزق، وبغضة في قلوب الخلق).”

Sesungguhnya perbuatan kebaikan itu menimbulkan cahaya di hati dan akan terlihat kegembiraan di wajah, kekuatan di badan, keluasan dalam rezeki, dan cinta di hati-hati makhluk.
Dan sesungguhnya keburukan itu akan menimbulkan kegelapan di hati, hitam di wajah, lemah di badan dan di jadikan hati-hati makhluk benci kepadanya.”

Subhaanallah… hal seperti ini bisa kita saksikan juga, kalau kita perhatikan orang-orang yang banyak berbuat dosa, terlihat wajah mereka itu tidak enak kita pandang. Orang-orang yang hatinya juga keyakinannya jelek terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kata beliau ( Ibnu Taimiyyah lagi ):
Terkadang seseorang itu tidak sengaja berdusta akan tetapi ia punya keyakinan-keyakinan yang bathil, yang dusta terhadap Allah dan Rasul-Nya dan agama-Nya dan hak hamba-hamba-Nya yang sholeh, namun ia mempunyai kezuhudan dan kesungguhan dalam ibadah akan tetapi keyakinan yang dusta tersebut memberikan pengaruh dalam batinnya dan akan tampak pada wajahnya.”

Sehingga sebagian salaf berkata : “Kalaulah pelaku bid’ah itu, ahli bid’ah itu memakai minyak setiap hari, minyak rambut ataupun pemutih wajah, ataupun yang lainnya, maka sesungguhnya hitamnya kebid’ahan itu akan tampak pada wajah mereka.”

Dan itu pada hari kiamat akan tampak secara sempurna sebagaimana Allah berfirman [QS. Az-Zumar: 60]

‎وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسْوَدَّةٌ

Pada hari kiamat nanti kamu akan melihat orang-orang yang berdusta atas nama Allah, wajah-wajah mereka itu hitam.”

👉🏼  Lihat.. Allah mengatakan bahwa orang-orang yang berdusta atas nama Allah, kelak pada hari kiamat wajahnya hitam.
Berdusta atas nama Allah, maksudnya berbicara dalam agama dengan tanpa ilmu, tanpa hak dan dengan kebatilan.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-38

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-37) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 38 🌼

⚉   Orang-orang yang menyelisihi Salafus Shalih itu sebetulnya telah membuka pintu untuk musuh-musuh Islam untuk meragukan Islam, untuk merusak Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman [QS Al-Ma’idah : 51]

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ

Hai orang-orang yang beriman jangan kamu jadikan Yahudi dan Nasrani sebagai wali-wali kalian

‎بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

sebagian mereka adalah wali untuk sebagian yang lain

‎وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

siapa diantara kalian yang memberikan loyalitas kepada mereka maka sesungguhnya ia bagian dari mereka

‎إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

sesungguhnya Allah tidak memberikan hidayah kepada orang-orang yang zalim.”

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
Mereka orang-orang ahli bid’ah itu yang tidak mau mengikuti pemahaman Salafus Shalih bukan hanya menutup pintu atas diri mereka untuk membantah musuh-musuh Islam, bahkan mereka malah membuka pintu musuh-musuh Islam dalam rangka memerangi Alqur’an dan Sunnah.

Ketika musuh-musuh Islam masuk dari pintu mereka, maka mereka akhirnya marah menjadi pembantu-pembantu musuh-musuh Islam, memerangi wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Kalau kita perhatikan apa yang dikatakan Al Imam Ibnul Qayyim itu benar, sebuah contoh misalnya: 

⚉   Pemikiran khawarij yang menyatakan kafir pelaku-pelaku dosa besar dan kemudian menganggap bahwa orang pemimipin yang tidak berhukum dengan hukum Allah, Kafir secara mutlak.
Ini menjadi pintu untuk orang-orang kafirin masuk memerangi dan merusak Islam dari sisi sini.

Sehingga mereka masuk dengan pura-pura masuk Islam, pura-pura memperlihatkan ketaqwaan, lalu kemudian mengkafir-kafirkan kaum muslimin dengan hujjah karena mereka tidak berhukum dengan hukum Allah dan yang lainnya.
Akhirnya mengkafirkan, akhirnya menghalalkan darah, kalau sudah halal darah, akhirnya membuka pintu untuk bom bunuh diri dan yang lainnya.

⚉    Murji’ah yang mengatakan bahwa amal tidak termasuk iman dan mengatakan yang penting hatinya baik, yang penting dia punya keyakinan…. “selesai”
Masalah amal baik atau buruk itu mereka tidak peduli yang penting hatinya baik.

Ini juga menjadi pintu yang sangat empuk dari musuh-musuh Islam untuk merusak Islam dan kaum muslimin sehingga mereka memberikan pemahaman kepada kaum muslimin bahwa beramal sholeh itu tidak penting, yang penting hatinya baik, yang penting yakin kepada Allah…”selesai”.
Akhirnya banyak kaum muslimin meremehkan amal, meninggalkan amal, bahkan berbuat maksiat dengan alasan bahwa yang penting hatinya baik.

⚉    Demikian pula orang-orang mu’tazilah yang mendewakan akal membuka pintu untuk orang-orang musuh-musuh Islam merusak Islam.
“Dari pintu apa ?”
Dari pintu akal bahwa katanya akal itu harus lebih didahulukan.
Sehingga akhirnya Alqur’an dan Hadits ditolak hanya karena tidak sesuai dengan akal.
Maka ini menjadi permainan orang-orang kafirin untuk menghancurkan Islam.
Makanya munculnya liberal. 
Itu dari pintu seperti itu, menggunakan akal-akal mereka untuk menolak wahyu.

⚉    Demikian Tassawuf yang mengatakan bahwa kalau seorang sudah sampai derajat wali ( ma’rifattullah ) tidak perlu mengikuti syari’at Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam
Bahwasanya wali itu tidak mungkin salah, maka kemudian itu menjadi pintu musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam, mereka masuk, pura-pura masuk Islam lalu mengaku-ngaku sebagai wali, kalau sudah jadi wali dan dianggap sebagai orang yang maksum tidak mungkin salah.
Disitulah mereka mengutak-atik Islam, merusak Islam.

👉🏼  Makanya semua pemikiran kebid’ahan pasti membuka pintu untuk orang-orang kafir yang merusak Islam.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-37

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-35 dan KE-36) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 37 🌼

⚉  Orang-orang yang menyelisihi jalan salaf, mereka pasti jatuh kepada sikap ghuluw (berlebih-lebihan) atau kebalikan, yaitu sikap terlalu meremehkan

Allah Ta’ala berfirman [QS Al-Ma’idah : 77]

‎يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

Hai Ahli Kitab, jangan kalian berlebih-lebihan dalam agama kalian dengan tanpa haq. Dan jangan mengikuti hawa nafsu suatu kaum yang telah tersesat sebelumnya dan menyesatkan banyak manusia dan tersesat dari jalan yang benar.

Di sini Allah menyebutkan bahwa orang-orang ahli kitab itu bersikap ghuluw ( berlebih-lebihan ) dalam agama, maka kita kaum muslimin di larang untuk mengikuti cara beragama mereka yang berlebih-lebihan tersebut.
Demikian pula sikap kebalikan daripada ghuluw yaitu meremehkan,ini pun perkara yang tidak dibenarkan dalam syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Banyak ahli bid’ah seperti khawarij, rafidhah, qodariyah, jahmiyyah meyakini sebuah keyakinan, sebetulnya itu sesat tapi mereka pandang dari sebuah kebenaran.”
Lalu mereka mengkafirkan orang-orang yang menyelisihi mereka, sehingga mereka ada keserupaan dengan orang-orang ahli kitab.
Dimana mereka, dimana orang-orang ahli kitab itu kufur kepada kebenaran dan zalim kepada makhluk, demikian pula mereka, mereka menyimpang dari kebenaran, bahkan menzalimi orang lain dengan mengkafirkan orang-orang yang tidak setuju dengan pendapatnya.

Sementara sudah begitu kata mereka, (kata beliau – Syaikh Al Ubailaan):  “sudah begitu mereka yang mengkafirkan orang-orang yang menyelisihinya, tidak memahami dengan benar tentang keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah atau mereka hanya mengetahui sebagiannya saja, sebagiannya lagi tidak faham.”

Kalau pun mereka tahu, mereka tidak menjelaskannya kepada manusia bahkan menyembunyikannya.
Nah inilah keserupaan mereka. Berbeda tentunya dengan Ahlussunnah wal Jama’ah.
Ahlussunnah wal Jama’ah mereka orang paling tahu tentang kebenaran dan paling sayang kepada makhluk, Ahlussunnah tidak mudah mengkafirkan orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka, kecuali orang-orang yang tentunya dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Beliau juga berkata, oleh karena itu kamu akan dapati banyak dari mereka (orang-orang ahli bid’ah para pengikut hawa nafsu itu), karena belum jelas kepada mereka petunjuk, maka ia pun mundur ke belakang.
Lalu ia pun sibuk dengan mengikuti syahawat yang menyesatkan dalam perut dan kemaluannya.
Atau syahwat terhadap kedudukan atau hartanya atau yang lainnya.
Kenapa ?
Karena kurangnya keilmuan dan keyakinan mereka.

Maka Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam hadits Imam Ahmad : “Sesungguhnya di antara perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian, yaitu syahwat yang menyesatkan, pada perut kalian dan kemaluan kalian dan fitnah yang menyesatkan.”
Ibnu Taimiyah mengucapkan itu dalam Majmu Fatawa dalam jilid 12 halaman 467.

Oleh karena itulah salaf terdahulu berkata:

‎احْذَرُوا فتْنَة الْعَالم الْفَاجِر

hati-hatilah kalian dengan (1) fitnah orang alim yang fajir, yang tidak mengamalkan ilmunya dan (2) fitnah orang yang ahli ibadah tapi bodoh.”

Karena fitnah 2 orang ini fitnah untuk setiap orang-orang yang mudah terkena fitnah, sebagaimana kita lihat di zaman sekarang, banyak orang yang mudah terkena subhat, pemikiran yang menyesatkan akibat kurangnya keilmuan mereka.
⚉  Sudah dia kurang paham hakikat aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, sudah begitu tasawwur dia.
⚉  Penggambarannya dia tentang Ahlussunnah pun juga salah.
⚉  Ahkirnya kita dapati setiap Ustadz yang membawakan Alqur’an dan Hadits dianggapnya Ahlussunnah wal Jama’ah, padahal belum tentu keyakinannya sesuai dengan keyakinan Ahlussunnah di wal Jama’ah.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah Ke-35 dan 36

Dari buku yang berjudulAl Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-34) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 35 dan ke 36 🌼

🌼 Kaidah yang ke 35 🌼

⚉  Wajibnya mewaspadakan kaum muslimin, mentahzir kaum muslimin dari kitab-kitab yang mengandung kebid’ahan.

Ini sebetulnya pembahasannya mirip dengan pembahasan sebelumnya tentang wajibnya mentahzir ahli bid’ah karena menpertahankan kelurusan agama lebih didahulukan diatas segala-galanya, dan menyelamatkan umat dari penyimpangan dan pemikiran yang menyesatkan, tentu maslahatnya jauh lebih besar.

🌼 Kaidah yang ke 36 🌼

⚉  Wajibnya bersikap tengah-tengah, bersikap adil dalam menghukumi orang-orang yang jatuh ke dalam kesalahan

Allah Ta’ala berfirman [QS Al-Maidah : 8]

‎ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ

Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum, menyeret kalian untuk bersikap tidak adil. Bersikap adillah kerena itu lebih dekat kepada ketaqwaan.

Dalam ayat ini Allah mengatakkan bahwa dengan sampainya sikap benci kita kepada suatu kaum membuat kita tidak bisa adil, dan ini yang kita lihat di zaman sekarang ketika kita benci kepada suatu kaum atau seseorang sering kali kita tidak bisa bersikap adil, kita lebih banyak mencari kesalahannya, menjatuhkannya atau bergembira dengan kesalahannya tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Orang-orang yang meniti jalan Salaf, mereka menyalahkan yang salah tapi tidak sampai mengkafirkan kecuali orang-orang yang telah tegak padanya hujjah risalah.”

Imam Syafi’i rahimahullah berkata : “Aku berbicara dalam satu ilmu yang dikatakan kepadaku padanya kamu salah lebih aku sukai daripada aku berbicara pada suatu ilmu yang dikatakan kepadaku padanya kamu kafir.”

👉🏼  Diantara kejelekan ahli bid’ah itu, mereka mudah mengkafirkan sebagian yang lainnya yang tidak setuju dengan pendapat mereka, beda dengan ahlul ‘ilm mereka menyalahkan tapi tdak mudah mengkafirkan.

Kenapa ?
Karena mereka berbicara dengan ilmu bukan dengan hawa nafsu, bukan dengan sebatas kebencian.

Ahli ilmu itu mereka menimbang segala sesuatu dengan ilmu, bukan dengan perasaan sehingga mereka pun juga tidak mudah begitu saja mengkafirkan orang-orang yang tidak setuju dengan pendapat mereka. Itulah kehebatan atau keutamaan para ulama.

Seperti contoh misalnya kalau kita perhatikan dizaman sekarang orang-orang yang mudah mengkafirkan, itu bukan hanya khawarij, tetepi juga orang Syi’ah, bahkan juga orang-orang yang notebene Mu’tazilah, Assyari’ah, mereka mengkafirkan orang yang tidak setuju dengan pendapatnya, seperti misalnya kaum Assyari’ah menganggap orang yang meyakini Allah bersemayam diatas Arasy katanya kafir, dan yang lainnya.
Inilah Ikhwata Islam, saudara-saudaraku sekalian sementara Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Salafiyun terutama tidak mengkafirkan mereka.

Kita mengatakkan bahwa orang yang mengatakkan bahwa Allah berada dimana-mana itu salah, dan bahwasanya kewajiban kita meyakini Allah bersemayam diatas Arasy tapi kita tidak sampai mengakafirkan mereka, kita juga mengingkari pendapat mu’tazilah yang mendewakan akal tapi kita pun tidak mudah mengkafirkan mereka, tentu yang kita kafirkan adalah yang jelas-jelas yaitu merupakkan kelafiran sesuai dengan dalil dari Al-Quran dan Hadits Nabi telah-telah tegak hujjah kepada pelakunya dengan jelas.

👉🏼  Maka kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :
⚉  Ahlus Sunnah wal Jama’ah mereka paling tahu tentang kebenaran dan yang paling sayang kepada manusia.
⚉  Mereka mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam .
⚉  Mereka tidak berani berbuat bid’ah, mereka berusaha untuk ittiba’ kepada Rasul shallallahu ‘alayhi wasallam.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN