Category Archives: Tanya – Jawab

1393. Kapan Membaca DZIKIR Dahsyat Ini..?

Pertanyaan:

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh Ustadz, baarakallahu fiikum Ustadz. Maaf Ustadz, mau menanyakan sbb:

1. Apa derajat hadits berikut dan apakah boleh dirutinkan ?
2. Dibacanya kapan saja Ustadz ? Diulang-ulang atau sekali saja setiap sore dan pagi ? Syukron Ustadz

Suatu saat Nabi -shollallohu alaihi wasallam- melihat Abu Umamah -rodhiallohu anhu- menggerakkan bibirnya, maka beliau bertanya: “Apa yang sedang kau baca wahai Abu Umamah”.

Dia menjawab: “Aku sedang berdzikir kepada Allah”.

Beliau mengatakan: “Maukah aku tunjukkan kepadamu dzikir yang pahalanya LEBIH BANYAK dari dzikirmu selama SEHARI SEMALAM ?

Kemudian beliau mengajarinya dzikir di bawah ini, dan beliau berpesan ajarkanlah dzikir ini kepada orang-orang setelahmu.

[HR Ath-Thobroni dalam Kitab Al Mu’jam Al Kabir no 7930, Hadits dishohihkan oleh Syeikh Albani dalam Shohihul Jami’: 2615].

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ مَا خَلَقَ،

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ،

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ،

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَدَدَ كُلِّ شَيْءٍ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ مِلْءَ كُلِّ شَيْءٍ.

سُبْحَان الِله عَدَدَ مَا خَلَقَ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ مَا خَلَقَ،

وَسُبْحَان الِله عَدَدَ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ،

وَسُبْحَان الِله عَدَدَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ مَا أَحْصَى كِتَابُهُ،

وَسُبْحَان الِله عَدَدَ كُلِّ شَيْءٍ، وَسُبْحَان الِله مِلْءَ كُلِّ شَيْءٍ.

Jawaban:
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

1. Shahiih, in-syaa Allah

2. Terserah, karena gak ada ketentuannya.

Wallahu a’lam

da050716-23:38

1397. Siapa ULIL AMRI..?

Pertanyaan:

Ustadz tolong jelaskan siapa itu ulil amri, dan apakah syarat disebut ulil amri harus dengan pengangkatan secara syari’iy serta bagaimana jika ia berhukum kepada hukum selain islam, apakah masih disebut ulil amri ?

Jawab:
Badru Salam , حفظه الله

Syaikh Shalih Al Fauzan ditanya: “Apakah prinsip ini, khusus untuk untuk penguasa yang berhukum dengan syariat Allah sebagaimana negeri kita yang diberkahi ini, ataukah umum untuk pemerintah kaum muslimin bahkan yang tidak berhukum dengan syariat Allah dan menggantinya dengan qawanin wadh’iyyah (hukum buatan manusia) ?”

Beliau menjawab: “Allah ‘Azza Wajalla berfirman:

مكنم رملأا يلوأو

“Dan ulil amri di antara kalian” [QS An Nisa 59]

Maksudnya, dari kaum muslimin. Maka jika dia penguasa itu muslim, tidak kafir kepada Allah dan juga tidak melakukan salah satu dari pembatal-pembatal keislaman, maka dia adalah ulil amri yang wajib ditaati.

(Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13289)

Di sini beliau menjelaskan bahwa ulil amri itu setiap penguasa muslim secara mutlak baik diangkatnya secara syari’iy atau pun tidak sesuai syari’at.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa ulil amri itu hanya bila diangkat bila sesuai syariat saja adalah pendapat yang tidak memiliki pendahulu bahkan ia adalah pendapat yang diada adakan.

Justeru para ulama bersepakat bahwa orang yang menjadi pemimpin karena menang dalam revolusi maka ia wajib ditaati.

Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah berkata:

وقد أجمع الفقهاء على وجوب طاعة السلطان المتغلب والجهاد معه وأن طاعته خير من الخروج عليه لما في ذلك من حقن الدماء وتسكين الدهماء

“Para fuqoha telah berijma’ akan wajibnya menaati penguasa yang menang (dengan senjata) dan berjihad bersamanya. Dan bahwa menaatinya lebih baik dari memberontak kepadanya. Karena yang demikian itu lebih mencegah terkucurnya darah dan menenangkan kekacauan.”
(Fathul Baari 13/7).

Padahal memberontak itu tidak sesuai syariat, namun ketika ia menjadi penguasa dengan cara seperti itu, tetap ditaati dan dianggap sebagai ulil amri.

Ini menunjukkan bahwa walaupun tata caranya tidak sesuai syariat, maka tetap ditaati sebagai ulil amri. Ini juga ditunjukkan oleh hadits:

أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي

“Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun ia seorang hamba sahaya habasyah.” (HR At Tirmidzi)

Dalam pemilihan pemimpin secara syariat, hamba sahaya tak mungkin menjadi pemimpin karena semua ulama menyatakan bahwa syarat pemimpin adalah merdeka dan bukan hamba sahaya.
Bila ia menjadi pemimpin pasti dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap menyuruh kita untuk menaatinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengabarkan akan adanya pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Beliau bersabda:

يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس
قلت كيف أصنع يا رسول الله إن أدركت ذلك? قال تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mengambil petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”

Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim no. 1847).

Hadits ini tegas menunjukkan bahwa walupun mereka tidak mengambil petunjuk nabi dan sunnahnya, tetap harus ditaati dalam hal yang ma’ruf. Ini sebagai bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa bila pemimpin itu berhukum dengan selain hukum Allah maka tidak disebut ulil amri.

Hadits ini juga membantah orang yang mengkafir setiap penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara mutlak. Namun bukan berarti kita menyetujui perbuatan mereka.

Wallahu a’lam

Badru Salam, حفظه الله تعالى

 

da220816

1396. Soal Operasi Bibir Sumbing…

Pertanyaan:
Assalamualaikum Ustadz … ada seorang dokter yang menanyakan apa hukumnya operasi bibir sumbing. Syukron Ustadz

Jawaban :
Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Boleh, karena itu masuk bab pengobatan, bukan kecantikan.

Untuk membedakan mana yang masuk bab pengobatan, dan mana yang masuk bab kecantikan, maka harus dilihat, apakah itu untuk mengubah sesuatu yang normal atau tidak.

Jika untuk mengubah sesuatu yang dikategorikan tidak normal, maka itu masuk pengobatan, misalnya: operasi untuk meratakan gigi, operasi untuk mata juling, operasi untuk bibir sumbing, dst.

Bila untuk mengubah sesuatu yang dikategorikan normal, maka ini masuk bab kecantikan, sehingga diharamkan… Misalnya: operasi wajah menjadi tirus, operasi mata menjadi lebar, bibir menjadi tebal atau tipis, dst.

Wallahu a’lam

1395. Bolehkah Menggabung ke DUA Do’a Berikut…?

​Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh Ustadz, baarakallahu fiikum Ustadz.
Ustadz, do’a setelah wudhu yang ana dengar ada 2 berdasarkan dalil yaitu :
1. Asyhaadu an-Laa ilaaha ILLALLAH WAHDAHU Laa SYARII-KALAH, wa Asyhaadu Anna Muhammadan ‘abduuhu wa rosuuluh + Allahummaj’alnii minat-tawwabiina wa ja’alnii minal mutathohirin..
2. Subhanakallahumma wabihamdika, Asyhadu an-laa ilaaha illa ànta, Astaghfiruuka wa atuubu ilayka

Apakah ke 2 do’a ini sebaiknya digabungkan setiap habis wudhu atau di selang seling Ustadz, maksudnya wudhu zhuhur baca do’a no 1 Dan wudhu ‘azhar baca do’a no 2 dst ? Syukron Ustadz, baarakallahu fiikum

Jawaban :
Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Boleh digabung (kedua do’a tersebut).

Wallahu a’lam 

1394. Bagaimana posisi Ya’jin ketika akan bangun ke roka’at berikutnya…?

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh, baarakallahu fiikum Ustadz. Maaf ingin tanya tentang posisi tangan mengepal “ya’jin” pada saat akan bangkit ke roka’at berikutnya, apakah punggung kepalan tangan menghadap ke depan ke arah kiblat atau agak miring ke samping ? Syukron Ustadz

Jawaban :
Badru Salam,

Tidak ada keterangannya, (jadi) yang mana aja boleh.

Wallahu a’lam

1392. Kapan membaca Do’a agar di baguskan Ibadah…?

Pertanyaan:

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarakatuh Ustadz, baarakallah fiikum Ustadz. Maaf mengganggu waktu antum lagi Ustadz, Ingin tanya, apakah do’a dibawah ini termasuk Dzikir/wirid setelah sholat fardhu ?

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tanganku dan berkata, ‘Wahai Mu’adz, demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu.’ Lalu aku berkata, “Ayah-ibuku menjadi penebus engkau, demi Allah, sesungguhnya aku juga benar-benar mencintaimu.” Beliau berkata, ‘Wahai Mu’adz, sesungguhnya aku berwasiat kepadamu. Janganlah engkau tinggalkan untuk mengucapkan pada akhir tiap shalat:

“اَللّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.”

“Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.” (Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 7969)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/384 no. 1508), dan Sunan an-Nasa-i (III/53)

ATAUKAH sebenarnya dibaca ANTARA tahiyat akhir dan salam ?

Jawaban :
Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Baiknya (dibaca) sebelum Salam.

Wallahu a’lam 

1391. Adakah batasan Zakat Fitr yang diberikan kepada setiap Faqir-Miskin…?

Pertanyaan:

Ustad, ingin tanya, jika zakat fitri saya dan istri saya berdua dikasi ke satu orang miskin , bolehkah ? Ataukah zakat fitri saya hanya boleh ke satu orang miskin dan zakat fitri istri saya ke faqir miskin yang berbeda ..? Batasannya bagaimana Ustadz ? Syukron

Jawaban:
Muhammad Wasitho,  حفظه الله تعالى 

Boleh dan sah zakatnya. Bahkan kalau ada 1 keluarga 10 orang memberikan zakatnya kepada 1 orang miskin tetap boleh dan sah.

Wallahu a’lam

1390. Memperolok orang yang menyelisihi sunnah…

1390. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, akhir-akhir ini banyak orang yang melecehkan ajaran sunnah dan yang menjalankan sunnah. Namun di pihak lain, mereka yang menjalankan sunnah memperbincangkan hal ini di komunitas mereka masing-masing (WA/BBM/FB dll) dan cenderung mentertawakan/memperolok/mencaci maki ‘kebodohan’ orang tersebut. Apakah ini benar ustadz ?

Jawab :
Syaikh Abdurrazzaq Al Badr, حفظه الله تعالى pernah berkata :
“Membicarakan MUKHOOLIF (orang yang menyelisihi manhaj) tanpa suatu keperluan baik untuk membantah atau mengingatkan ummat adalah GHIBAH. Seperti menjadikan mereka sebagai bahan tertawaan atau pelengkap majelis.”

Lebih lanjut Ustadz Aan Chandra Thalib, حفظه الله تعالى menulis bahwa ada pepatah Arab sebagai berikut :
“Welas asih itu adalah keindahan, sementara diam adalah keselamatan.
Jika engkau berucap, jangan sampai berlebihan. Aku tak pernah menyesali diamku walau sekali saja. Namun sungguh aku menyesali ucapankan berkali-kali.”

Semoga Allah menjaga lisan-lisan kita dari petaka ghibah.”

Ref: http:/bbg-alilmu.com/archives/7812
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1389. Yang sunnah diucapkan ketika menaiki/menuruni tangga, eskalator, lift…

1389. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, ada sunnah mengucapkan takbir “Allahu Akbar” ketika berjalan pada jalanan menanjak dan mengucapkan tasbih “SubhaanAllah” ketika jalanan menurun.

Apakah hal ini juga berlaku, yaitu mengucapkan  “Allahu Akbar” dan SubhaanAllah” ketika kita menaiki/menuruni eskalator atau Lift di gedung-gedung bertingkat, dan apabila kita menaiki/menuruni tangga baik itu di rumah kita sendiri atau masjid ?

Jawab :
Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى

Iya, TERMASUK juga.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊