Menjadi Umat Terbaik

Ust. Fuad Hamzah Baraba’ Lc

Allah Ta’ala berfirman:

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف و تنهون عن المنكر و تؤمنون بالله

“Kamu adalah umat Чαπƍ terbaik Чαπƍ dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada Чαπƍ ma’ruf, dan mencegah dari Чαπƍ mungkar, dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali Imran:110).

Umar bin Khathab رضي الله عنه berkata:

يا أيها الناس من سره أن يكون من تلك الأمة، فليؤد شرط الله منها

“Wahai manusia, barangsiapa Чαπƍ senang untuk menjadi umat ini (umat terbaik), maka hendaklah dia menunaikan syarat Чαπƍ ‎​δ¡syaratkan Allah padfa ayat ini.” (Fathul Qadir:1/453).

Jika kita ingin menjadi umat Чαπƍ terbaik, maka kita harus melaksanakan apa Чαπƍ diperintahkan Allah Ta’ala, yaitu dengan beramar ma’ruf nahi mungkar.

Dan diantara sifat Чαπƍ harus ada pada orang-orang Чαπƍ beramar
ma’ruf dan nahi mungkar adalah:

1. Ikhlas

2. Berilmu

3. Teladan Чαπƍ baik

4. Kasihan kepada pelaku kemungkaran, dan takut kalau dia akan tertimpa adzab dari Allah Ta’ala

5. Tatsabut dalam setiap tindakan dan tidak dengan prasangka (zhann)

6. Lemah lembut

7. Mampu menimbang maslahat dan mafsadat.

Ikhlas

Ust. Rochmad supriyadi LC

Ibadah adalah urusan yang sakral, dan syarat diterima ibadah tersebut adalah ikhlas dan mutabaah.

Para ulama menjabarkan makna ikhlas diantaranya;

– Memurnikan niyat hanya mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi dari segala kotoran yg melumurinya.

– Mengesakan Allah سبحانه وتعالى dalam meniyatkan segala ketaatan.

– Melupakan pandangan para makhluk dengan senantiasa melihat Allah سبحانه وتعالى.

Segala bentuk bagiyan dunia senantiasa mengoda jiwa, hati condong padanya, entah disadari atau tidak, sedikit atau banyak.

Tatkala manusia tergerak utk amal, niscaya banyak godaan hingga menghilangkan keikhlasan.

Olih karenanya para salaf mengatakan,” Barang siapa yang selamat sesaat dalam umurnya utk ber-ikhlas untuk wajah Allah sungguh ia akan beruntung”.

Betapa tidak? Ikhlas sangatlah berat dan sukar, dikarenakan berbolak-baliknya hati.

Singkat kata, ikhlas adalah membersihkan hati dari segala noda kotoran semuanya, sedikit dan banyak nya, hingga hati tersebut hanya semata berupaya mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى , hingga tiada niayatan lain.

Perkara ini tidaklah timbul melainkan hanya orang yang cinta Allah dan mengharap perjumpaan akhirat, hingga tidak tersisa untuknya perkara dunia didalam hatinya.

Allah سبحانه وتعالى berfirman,” Katakanlah (wahai Muhammad) Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya? Merekalah orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya”. Al-Kahfi 103-104.

Menjadi Ahli Hadits Karena Mimpi

Ust. Badrusalam Lc

Imam Qutaibah bin Sa’I’d rahimahullah (240H) berkata:
“Dahulu ketika masih muda..
Aku suka menuntut ro’yu..
Kemudian..
Aku bermimpi melihat bejana tergantung di langit..
Aku melihat orang-orang berusaha meraihnya..
Namun mereka tidak mampu..
Akupun datang..
Aku berhasil meraihnya..
Lalu aku melihat apa yang ada dalam bejana itu..
Ternyata aku melihat timur dan barat..
Di pagi hari..
Aku datang kepada seorang ahli ta’wil mimpi..
Aku ceritakan padanya perihal mimpiku..
Ia berkata, “Wahai anak, hendaklah kamu menuntut atsar..
Karena ro’yu tidak mencapai timur dan barat..
Yang dapat mencapainya hanyalah atsar (hadits)…
Semenjak itu aku tinggalkan ro’yu..
Dan menuntut atsar..
(Siyar A’laam An Nubalaa 11/17).

Imam Qutaibah bin Sa’I’d adalah guru para ahli hadits yang tersohor..
Guru imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai ibnu Majah dan ulama-ulama hadits lainnya..
Semoga Allah mengumpulkan kita dengan mereka..

Hukum Makan Di Restoran “All You Can Eat”

Bayar sekian anda bisa makan sepuasnya.

Ada perbedaan pendapat pada ulama’ masa kini
Yaitu sebagai berikut:

Pendapat yang mengaharamkan:
Dalam Majalah As-Sunnah, Edisi 11/Tahun VIII/1425H/2005M hal. 9 tersebut disana fatwa Syaikh Salim Al-Hilaly hafidzahullah tentang hukum restaurant yang memasang tarif yang sama kepada semua pengunjung. Setiap orang dibolehkan mengkonsumsi apa saja yang tersedia disana. Padahal porsi makan masing-masing orang berbeda-beda.Disebutkan disana hukumnya tidak boleh karena terkandung unsur jahalah dan dan gharar (penipuan).Unsur ketidak tahuannya, yaitu pertama, menyerahkan uang dalam jumlah tertentu untuk mendapatkan sesuatu yang belum jelas. Dan yang kedua, unsur gharar,yaitu karena mengambil makanan yang kurang dari nilai yang yang kita serahkan,sementara orang lain ada yang mengambil makanan yang lebih besar dibandingkan dengan nilai uang yang ia serahkan.

Pendapat lainnya yg berseberangan yaitu
Ibnu Utsaimin rahimahulah berkata :

مسألة : هناك محلات تبيع الأطعمة تقول : ادفع عشرين ريالا والأكل حتى الشبع ؟
الجواب : الظاهر أن هذا يتسامح فيه ؛ لأن الوجبة معروفة ، وهذا مما تتسامح فيه العادة ، ولكن لو عرف الإنسان من نفسه أنه أكول فيجب أن يشترط على صاحب المطعم ؛ لأن الناس يختلفون ” انتهى من “الشرح الممتع” (4/322)

Syaikh berkata:”Ada sejumlah toko yang menjual makanan dan berkata :”Bayarlah 20 real dan makan sampai kenyang”

Al-Jawab:  Yang nampak bahwa ini bentuk toleransi (musamahah) karena ukuran makan manusia itu diketahui berapa banyaknya. Akan tetapi jika seseorang tahu bahwa dirinya tukang makan banyak, maka dia harus izin kepada pemilik restaurant, karena manusia itu berbeda-beda.(Syarhul Mumthi’ 4 /322 )

Dari jawaban dua syaikh diatas
dapat kita ambil kesimpulan.

Mengapa ada perbedaan pandangan?

Baca Selengkapnya di :
http://www.abu-riyadl.blogspot.com/2013/03/hukum-makan-di-restoran-all-you-can-eat.html?m=1

Berterima Kasih Adalah Wajib

Ust. Badrusalam LC

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang berbuat baik kepadamu maka balaslah, jika tidak ada sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do’akanlah sampai kamu memandang bahwa kamu telah membalasnya”. (HR Ahmad dan dishahihkan oleh syaikh al bani dalam irwaul galil no 1617).

Sudahkah kita berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita ??

Sudahkah kita berterima kasih kepada guru dan ustadz kita?

Imam Ahmad berkata: “Aku senantiasa mendo’akan imam syafi’I semenjak 30 tahun yang lalu..

TAHLILAN ADALAH BID’AH MENURUT MADZHAB SYAFI’I

Ust. Firanda Andirja Lc

Sering kita dapati sebagian ustadz atau kiyai yang mengatakan, “Tahlilan kok dilarang?, tahlilan kan artinya Laa ilaah illallahh?”.
 
Tentunya tidak seorang muslimpun yang melarang tahlilan, bahkan yang melarang tahlilan adalah orang yang tidak diragukan kekafirannya. Akan tetapi yang dimaksud dengan istilah “Tahlilan” di sini adalah acara yang dikenal oleh masyarakat yaitu acara kumpul-kumpul di rumah kematian sambil makan-makan disertai mendoakan sang mayit agar dirahmati oleh Allah.
 
Lebih aneh lagi jika ada yang melarang tahlilan langsung dikatakan “Dasar wahabi”..!!!
 
Seakan-akan pelarangan melakukan acara tahlilan adalah bid’ah yang dicetus oleh kaum wahabi !!?
 
 Sementara para pelaku acara tahlilan mengaku-ngaku bahwa mereka bermadzhab syafi’i !!!. Ternyata para ulama besar dari madzhab Syafi’iyah telah mengingkari acara tahlilan, dan menganggap acara tersebut sebagai bid’ah yang mungkar, atau minimal bid’ah yang makruh. Kalau begitu para ulama syafi’yah seperti Al-Imam Asy-Syafii dan Al-Imam An-Nawawi dan yang lainnya adalah wahabi??!!
 
A. Ijmak Ulama bahwa Nabi, para sahabat, dan para imam madzhab tidak pernah tahlilan
 
Tentu sangat tidak diragukan bahwa acara tahlilan –sebagaimana acara maulid Nabi dan bid’ah-bid’ah yang lainnya- tidaklah pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak juga para sahabatnya, tidak juga para tabi’in, dan bahkan tidak juga pernah dilakukan oleh 4 imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafii, dan Ahmad rahimahumullah).
 
Akan tetapi anehnya sekarang acara tahlilan pada kenyataannya seperti merupakan suatu kewajiban di pandangan sebagian masyarakat. Bahkan merupakan celaan yang besar jika seseorang meninggal lalu tidak ditahlilkan. Sampai-sampai ada yang berkata, “Kamu kok tidak mentahlilkan saudaramu yang meninggal??, seperti nguburi kucing aja !!!”.

Tidaklah diragukan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah kehilangan banyak saudara, karib kerabat, dan juga para sahabat beliau yang meninggal di masa kehidupan beliau.

Anak-anak beliau (Ruqooyah, Ummu Kaltsum, Zainab, dan Ibrahim radhiallahu ‘anhum) meninggal semasa hidup beliau, akan tetapi tak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah semuanya dikuburkan oleh Nabi seperti menguburkan kucing??.
 
Istri beliau yang sangat beliau cintai Khodijah radhiallahu ‘anhaa juga meninggal di masa hidup beliau, akan tetapi sama sekali tidak beliau tahlilkan. Jangankan hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, ke-1000 bahkan sehari saja tidak beliau tahlilkan.

Demikian juga kerabat-kerabat beliau yang beliau cintai meninggal di masa hidup beliau, seperti paman beliau Hamzah bin Abdil Muthholib, sepupu beliau Ja’far bin Abi Thoolib, dan juga sekian banyak sahabat-sahabat beliau yang meninggal di medan pertempuran, tidak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
 
Demikian pula jika kita beranjak kepada zaman al-Khulafaa’ ar-Roosyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) tidak seorangpun yang melakukan tahlilan terhadap saudara mereka atau sahabat-sahabat mereka yang meninggal dunia.
 
Nah lantas apakah acara tahlilan yang tidak dikenal oleh Nabi dan para sahabatnya, bahkan bukan merupakan syari’at tatkala itu, lantas sekarang berubah statusnya menjadi syari’at yang sunnah untuk dilakukan??!!, bahkan wajib??!! Sehingga jika ditinggalkan maka timbulah celaan??!!
 
Sungguh indah perkataan Al-Imam Malik (gurunya Al-Imam Asy-Syaafi’i rahimahumallahu)
………
baca selengkapnya disini: http://www.firanda.com/index.php/artikel/fiqh/408-tahlilan-adalah-bid-ah-menurut-

Kata Mutiara Dari Al-Hasan al Bashri

“Semoga Allah memberikan rahmat kepada seorang hamba yang berfikir terlebih dahulu saat berkehendak, apabila hal itu dilakukan karena Allah maka ia lakukan, namun jika tujuannya untuk selain-Nya maka ia urungkan.”

Semoga kita termasuk orang orang yg selalu menimbang segala sesuatu jika ingin melakukan perbuatan.. Agar energi yg kita keluarkan mendatangkan manfaat.. Bukan terbuang sia sia. Atau malah menambah dosa..

Sehingga tiada penyesalan yg terucap dikemudian hari..

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

Selamat beraktivitas.
Salam dari abu riyadl di boyolali.

Untukmu Para Penuntut Ilmu

Nasihat ini saya ambil dari perkataan emas al-imam ibnu qoyyim

و من العحب أن الإنسان يهون عليه التحفظ و الاحتراز من أكل الحرام و الظلم و الزنى و السرقة و شرب الخمر, و من النظر المحرم و غير ذلك, و يصعب عليه التحفظ من حركت لسانه, حتى ترى الرجل يشار إليه بالدين و الزهد, و العباد, و هو يتكلم بالكلمات من سخط الله لا يلقي لها بالاً ينزل بالكلمات الواحدة منها أبعد مما بين المشرق و المغرب
و كم ترى من رجل متورع الفواحش و الظلم, و لسانه يفرى في أعراض الأحياء و الأموات و لا يبالي ما يقول.

Dan diantara perkara yang mengherankan bahwa umumnya manusia bisa menjaga diri-diri mereka dari memakan makanan yang haram, berbuat dzholim, berzina, mencuri, minum khomr, dari memandang suatu yang diharamkan ataupun selainnya.
AKAN TETAPI sangat disayangkan mereka sangat susah untuk menjaga gerakan-gerakan lisannya. Sampai ada seseorang yang dikenal dia sebagai ahli ibadah, orang yang zuhud, dan gemar beribadah, akan tetapi mereka sering berbicara dgn ucapan yang dapat membuat ALLAH murka (tanpa mereka pedulikan lagi), yang dengan
sebab ucapannya ia dilempar keneraka jahannam yg jaraknya lebih jauh dari jarak antara timur dan barat. Betapa banyak orang yang demikian, engkau melihat dia sebagai org yg wara’, meninggalkan kekejian, kedzoliman, AKAN Tetapi lisannya dibiarkan olehnya kesana-kemari utk MENJATUHKAN KEHORMTAN SESEORANG baik orang tersebut masih hidup ataupun yg telah wafat, tanpa mempedulikan lagi kata-kata yg mereka ucapkan.

Semoga pelajaran kita hari ini memberikan manfaat terutama utk diri saya pribadi & kepada ikhwah sekalian.

Semoga ALLAH سبحانه وتعالى menyatukan hati-hati kita diatas islam dan sunnah.

Akhukum Ahmad Ferry Nasution

(Kitab Ad-Daa’ wad Dawaa’, hal: 226-227 yang ditahqiq dan ditakhrij oleh syaikh ali bin hasan bin ali al-halaby al-atsary

WAJIBNYA SEORANG MUSLIM UNTUK MENCARI NAFKAH, DAN TIDAK BOLEH BERGANTUNG KEPADA ORANG LAIN

Ikhwani….

ALLAH dan Rasul-Nya memerintahkan dan menganjurkan umat islam seluruhnya untuk bekerja mencari nafkah, untuk keperluan pribadinya, orang tuanya, anak dan istrinya apabila dia telah berkeluarga.

Artinya bekerja untuk mencari rezeki yang halal. Dan sesungguhnya kita mengetahui dengan jelas dari petunjuk Nabi صلى الله عليه وسلم bahwa para Nabi dan Rasul seluruhnya mereka mencari nafkah, mereka bekerja dan berusaha untuk menghidupi diri serta keluarganya dan ini merupakan bentuk kemuliaan, karena mereka para Nabi dan Rasul makan dari jerih payah sendiri, hasil keringat sendiri dan yang demikian adalah lebih terhormat dan nikmat.

Perhatikan pelajaran diatas, yang kita mengetahui mereka adalah orang yang mulia tetapi tetap mereka mencari nafkah utknya dan keluarganya.

Sedangkan mengadahkan tangan, meminta-minta kepada orang lain serta makan dari hasil jerih payah orang lain merupakan suatu kehinaan pada dirinya dan menghilangkan kehormatan padanya dan termasuk perbuatan tercela. Oleh sebab itu islam agama yang mulia ini sangat menganjurkan akan kita berusaha dan bekerja serta berharap kepada ALLAH, karena ALLAH lah yang memberikan rezeki kepada seluruh makhluk.

Akhir pembahasan ini saya akan membawakan hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang menunjukkan tanda-tanda kemuliaan seorang mukmin.

Malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi yang mulia صلى الله عليه وسلم ; Ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin yaitu pada Shalatnya diwaktu malam dan TIDAK MENGHARAPKAN sesuatu kepada orang ( silsilah shohihah: 831)

Belum Shalat Maghrib Padahal Sudah Iqamat Shalat Isya

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
 
Pertanyaan
Pada suatu hr sy msk ke sebuah masjid dan saat itu sedang berlangsung jama’ah shalat Isya. Padahal saat itu sy blm shalat Maghrib. Apakah sy hrs shalat Maghrib dahulu kemudian menyusul jama’ah Isya? Ataukah sy shalat Isya dahulu bersama jama’ah kemudian shalat Maghrib?

Jawaban
Dalam keadaan seperti ini anda hrs ikut shalat bersama para jamaah yg sedang shalat Isya, tp anda berniat shalat Maghrib. Ketika imam berdiri pd rakaat keempat, anda harus tetap duduk (attahiyat akhir) pd rakaat ketiga, sambil menunggu imam menyelesaikan rakaat terakhirnya. Ketika imam salam, barulah anda ikut salam bersama para jamaah.

Perlu anda ketahui bahwa beda niat antara imam dan makmum adalah diperbolehkan, menurut pendapat yg lebih shahih dari sebagian ulama. Dlm contoh diatas, anda jg boleh shalat Maghrib dahulu sendirian, kemudian setelah itu anda ikut shalat Isya bersama para jama’ah.

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Tsani, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Edisi Indonesia Fatawa bin Baz, Penerjemah Abu Abdillah Abdul Aziz, Penerbit At-Tibyan – Solo]

Menebar Cahaya Sunnah