“Kullu” Itu Semua

Sebagian ahli bid’ah..
Bila kita sampaikan hadits: “Kullu bid’ah dlolalah..

Mereka berkilah, “Kullu itu artinya tidak semua.”…
Jadi tidak semua bid’ah itu dlolalah…
Aneh..

Padahal dahulu para shahabat yang amat fasih..
Memahami kullu itu semua..

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya..
Dari Abu Qotadah..
Bahwa Imron bin Hushain berkata..
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda..

الحياء خير كله أو قال الحياء كله خير

“Malu itu baik kulluh (semuanya).” Atau beliau bersabda, “Malu kulluh (semuanya) baik.”

Lalu Busyair bin Ka’ab berkata, “Sesungguhnya kami mendapati pada sebagian buku atau hikmah..
Bahwa malu ada yang merupakan ketenangan dan ketundukan kepada Allah..
Dan ada yang merupakan kelemahan..

Imran pun marah hingga merah kedua matanya..
Ia berkata, “Kenapa aku sampaikan hadits dari Rasulullah..
Lalu kamu tentang dengan yang ada pada sebagian buku?..

Perhatikanlah..
Imran radliyallahu ‘anhu marah karena ia memahami kullu itu semua..
Bila kullu itu tidak bermakna semua..
Tak perlu lah Imran marah demikian hebatnya..

Buka lah kitab kitab ushul fiqih bab lafadz-lafadz yang umum..
Semua ulama ushul memasukkan kata kullu dalam lafadz yang umum..

Tidak boleh dikhususkan kecuali dengan dalil..

Yah itulah ahlul bid’ah..
Selalu mencari-cari alasan untuk mendukung bid’ahnya..
Allahul Musta’an..

. Ust. Badrusalam Lc

– – – – – – 〜 ✽ 〜- – – – – –

ILMU & KEUTAMAANNYA

Ust. Rochmad Supriyadi LC

Allah سبحانه وتعالى berfirman,” Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kaliyan dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat “. Al-mujadalah 11.

Allah سبحانه وتعالى berfirman,” Katakanlah (wahai Muhammad) , Apakah sama antara orang-orang yang memiliki ilmu dan orang-orang yang tidak memiliki ilmu?” Az-Zumar 9.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,” Barang siapa yang Allah kehendaki bagi nya kebajikan, niscaya Allah fahamkan bagi nya agama nya “. HR Bukhary – Muslim.

Ilmu senantiasa membimbing pemilik nya pada jalan menuju surga, dan akan menerangi dan menunjuki pada hidayah dan menjauhkan pada jalan kegelapan dan kesesatan.

Berkata Al-Hasan,” Ilmu ada dua jenis, Ilmu secara lisan dan ini adalah hujjah bagi anak cucu Adam, sebagaimana terdapat dalam hadist, ” Al-Qur’an hujjah yang akan menguatkan dirimu atao akan membinasakan mu “. HR Muslim.

Dan ilmu jenis yang kedua adalah ilmu yang akan menguatkan hati, dan ini adalah ilmu yang bermanfaat. Yaitu ilmu tentang Allah dan nama serta sifat-sifat Nya, yang akan mendatangkan khosyah, mahabbah, tawakal dan seterusnya.

Berkata Ubadah ibnus Shomith رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ,” Ilmu yang akan pertama kali terangkat dari manuasia adalah khusyuk dan khosyah “.

Bilamana ilmu yang berada di hati terangkat, maka tinggallah ilmu yang berada di lisan. Selagi manusia tidak mengamalkan ilmu lisan ini dan tidak memperhatikan nya maka hilanglah ilmu secara keseluruhannya, dan tinggallah seburuk-buruk manusia dan dengan nya tegak hari kiyamat.

Ujian Harta Lebih Berat Daripada Kemiskinan

Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam brsabda:
إِنَّ لِكُلِ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
“Sesungguhnya bagi setiap umat ada ujian/cobaan, dan ujian bagi umatku adalah harta.”
(Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2336).

عَنْ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ , وَكَانَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا , أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلَكِنْ أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

Dari ‘Amr bin ‘Auf Radhiallahu ‘anhu, salah seorang sahabat yang ikut serta dalam perang Badar,menuturkan: bahwa Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Bukanlah kemiskinan yang aku takutkan atas kalian. Akan tetapi aku khawatir akan dilapangkan (harta) dunia kepada kalian, sebagaimana telah dilapangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian akan saling berlomba-lomba untuk mendapatkannya sebagaimana mereka telah berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Dan (kemewahan) dunia itu akan membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Abdurrahman bin ’Auf Radhiallahu ‘anhu berkata: “Dahulu kami diuji (oleh Allah) bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan kesengsaraan, maka kami pun bisa bersabar. Kemudian setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam meninggal dunia, kami diuji dengan kemewahan maka kami tidak mampu bersabar (dalam menghadapi kekayaan ini).” (Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2464).

Saudaraku..
Banyak dari kita yg mengatakan:
Jika nanti aku punya harta maka aku akan begini dan begitu.. Aku akan sedekah.. Aku akan menyantuni orang miskin..aku akan membangun pesantren, dll..

Tp disaat ia diberi harta maka ia lupa segalanya. Dan ia gunakan nikmat ini untuk foya foya atau untuk kemewahannya saja. Maka harta tsb hanya habis didunia belaka tak sampai ke akhirat…

By. Abu riyadL
www.abu-riyadl.blogspot.com

Mau Buat Rumah Di Surga ?

Disempatkan untuk sunah rowatib..

Mau buat rumah disurga?

Buat rumah didunia aja sampai ngoyo..dan mau rekoso… Kenapa buat bangunan abadi itu kita berleha leha..

عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ بِنْتِ أَبِي سُفْيَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ الْفَرِيضَةِ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَوْ إِلَّا بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ

Dari Ummu Habibah binti Abu Sufyan radhiyallahu ‘anha berkata, aku mendengar صلى الله عليه وسلم
sholallahu alaihi wasalam bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang setiap hari mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat karena Allah, selain shalat fardhu, melainkan Allah bangunkan untuknya sebuah rumah di surga, atau akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di surga.”
Shahih, diriwayatkan Muslim (728) dan At-Tirmidzi (415).

www.abu-riyadl.blogspot.com
Abu riyadl

Bersikap Jujur Dan Jangan Berbohong

Saudaraku!

Berbohong adalah kebiasaan 
orang munafik. Orang munafik 
akan selalu menampakkan 
sesuatu yang menyelisihi apa yang ada dalam hatinya, 
di antaranya adalah dgn 
berbohong.
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam berkata:

“Tanda orang munafik ada tiga: Apabila berbicara dia dusta,
apabila berjanji mengingkari,
dan apabila dipercaya dia 
khianat.” 
(HR. Bukhari no. 6095).
 
Renungilah dengan benar kisah yg sangat berharga dalam hadits  berikut ini yang menunjukkan  
bahwa berbohong bukan 
sekedar dosa yang ringan!

Dari sahabat Samurah bin Jundab Radhiyallahu anhu, dia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi 
wa sallam bersabda:

“Pada suatu malam aku 
bermimpi didatangi dua 
orang, kemudian keduanya 
membawaku ke sebuah tempat/ bumi yang suci.  Di tempat  itu  aku melihat seorang lelaki yg tidur terlentang pada tengkuknya,  dan tiba-tiba disitu ada orang yg berdiri diatasnya dgn membawa sebuah pengait dari besi. Yang kemudian ia mendatangi org yg tidur terlentang tadi menuju kesalah satu bagian wajahnya, kemudian merobek-robek dari ujung mulut sampai tengkuknya, dari hidung ke tengkuknya, dan juga dari mata sampai tengkuknya, kemudian pindah lagi kesebelah wajahnya yg lain dan dilakukan sebagaimana yg dikerjakan pada muka/ wajah yg sebelumnya. dan terus diulang yg demikian pada wajahnya/mukanya.

Akhirnya Nabi shallallahu
 ‘alaihi wa sallam bertanya: 

“Kalian telah mengajakku
berkeliling, sekarang kabarkan 
kepadaku peristiwa demi
peristiwa yang telah aku lihat

Keduanya berkata: iya…

“Adapun orang yg engkau lihat , ia sedang dirobek-robek ujung mulut sampai ketengkuk, dari lobang hidung sampai ke ketengkuk, dan juga mata sampai ketengkuknya,
dia adalah seorang PENDUSTA, 
berkata bohong hingga dosanya 
itu memenuhi penjuru langit, maka dia akan disiksa dengan siksaan tersebut sampai hari kiamat.
HR. Bukhari no. 1386)

Semoga bermanfaat. (Ahmad Ferry)

Ihram Umrah Dari Jeddah

Banyak orang berumroh yang menjadikan kota Jeddah sebagai Miqaatnya, para ulama masa kini (kontemporer) dunia bergabung dalam Majma’ fikih Islami dibawah Liga Muslim Dunia berfatwa melarangnya. Bagaimana penjelasan mereka?

Lebih lanjut penjelasan mereka ada di http://klikuk.com/hukum-ihram-dari-jeddah/

Silakan bantu sebarkan info dakwah ini. Semoga bermanfaat

KlikUK.com
titan ilmu penyejuk qalbu

Peduli Antar Sesama

Ust. Djazuli LC

Dalam Islam, ternyata untuk menunjukkan kepedulian antar sesama muslim memiliki banyak cara:

1. Bisa membantunya dengan materi

2. Bisa juga menolongnya dengan pengaruh & kedudukan

3. Bisa dengan fisik & tenaga

4. Bisa menyejukkan hatinya dengan untaian nasehat

5. Bisa memberinya perhatian dengan doa & istighfar

6. Bisa juga dengan menunjukkan perasaan yg sama dgn apa yg dirasakan saudaranya yg sedang berduka

Namun semua itu bergantung kepada kekuatan iman, dimana semakin kuat keimanan seseorang, maka akan semakin tinggi semangat untuk menjadi orang yg bermanfaat bagi orang lain dan demikian pula sebaliknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok manusia sempurna yg telah membuktikannya selama hidupnya terhadap seluruh sahabatnya
Ternyata kekuatan untuk menjadi orang yg bermanfaat yg tulus terletak pada kekuatan ittiba’ (mengikuti petunjuk) beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ya Allah! Yg membolak balikkan hati, teguh hati kami diatas kebenaran sehingga kami bisa tetap menjadi orang yg bermanfaat!

Al-Fawaid hal 248 karya Ibnul Qoyyim

Mengajak Manusia Kepada Kebaikan Dan Mencegah Dari Kemaksiatan

Hak asasi manusia untuk berbuat sesuka hatinya dg tidak menggangu orang lain adalah kaidah yg bertentangan dg ajaran islam..

Islam memerintahkan kita untuk mengajak manusia kepada kebaikan dan mencegah dari kemaksiatan…Dengan cara yg bijak tentunya. Dan sesuai porsinya.

Perbuatan ini merupakan kewajiban umat.. Jika ditinggalkan maka akan ada bahaya besar..
Bahkan orang orang yg sholeh tatkala menengadahkan tangannya kelangit tidak akan dijawab Allah ta’ala..

Sungguh merana jika suatu kaum telah bernasib demikian..

Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam , bahwasannya Beliau bersabda:

(( يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: مُرُّوا باِلْمَعْرُوْفِ, وَانْهَوْا عَنِ اْلمُنْكَرِ, قَبْلَ أَنْ تَدْعُوْنِيْ فَلاَ أَسْتَجِيْبَ لَكُمْ, وَقَبْلَ أَنْ تَسْأَلُوْنِيْ فَلاَ أُعْطِيْكُمْ, وَ قَبْلَ أَنْ تَسْتَنْصُرُوْنِيْ فَلاَ أَنْصُرَكُمْ ))

Allah berfirman: “Perintahkanlah kepada yang ma`ruf, dan laranglah dari hal yang munkar, sebelum kalian berdoa lalu Aku tidak mengabulkan doa kalian, sebelum kalian meminta kepadaKu
lalu Aku tidak memberi kepada kalian, sebelum kalian meminta pertolongan kepadaKu lalu aku tidak memberi pertolongan kepada kalian.”

(Hasan. HR Ahmad (VI/159) dan al-Bazzâr (no. 3304) dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha.)

Bagaimanakah kita dan sekeliling kita?..

Bagaimana nasib hamba jika doanya tidak diterima.?

Mari bersemangat amar ma’ruf nahi munkar.

Namun sebelum itu semua..

Carilah ilmunya.

Agar apa yg anda sampaikan merupakan kebenaran dari Allah ta’ala..bukan hasil akal..

Ingat..
Faqidu syai’ la yu’thi
(Yg gak punya apa apa gak bisa memberi)

Jika anda ingin hidup bahagia diakhirat laksanakan beberapa hal berikut:

1. Mencari ilmu
2. Mengamalkannya
3. Mendakwahkannya(mengajak kepd kebaikandan mencegah kemungkaran walau lingkup yg tidak luas)
4. Bersabar atas cobaan
didalamnya.

Semoga Allah mudahkan hati kita tuk selalu berfikir terhadap kehidupan akhirat..

www.abu-riyadl.blogspot.com
Abu riyadL.

Patokan Bolehnya Menjamak Shalat Ketika Hujan

Dalam Al Mughni disebutkan, ”Hujan yang membolehkan seseorang menjama’ shalat adalah hujan yang bisa membuat pakaian basah kuyup dan mendapatkan kesulitan jika harus berjalan dalam kondisi hujan semacam itu. Adapun hujan yang rintik-rintik dan tidak begitu deras, maka tidak boleh untuk menjama’ shalat ketika itu.” Lihat Al Mughni, 2: 117.

Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan bahwa orang yang tidak bepergian jauh dibolehkan untuk menjama’ shalat pada waktu pertama dari shalat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’ dikarenakan hujan, menurut pendapat yang benar. Meski ada juga yang berpendapat bahwa menjama’ karena hujan hanya berlaku untuk shalat Maghrib dan Isya’ karena kondisi ketika malam itu memang lebih merepotkan. Hukum ini disyaratkan jika shalat dikerjakan di suatu tempat yang seandainya orang itu berangkat ke sana akan kehujanan sehingga pakaiannya menjadi basah. Demikian persyaratannya menurut Ar Rafi’i dan Imam Nawawi.

Sedangkan Qodhi Husain memberi syarat tambahan yaitu alas kaki juga menjadi basah sebagaimana pakaian. Al Mutawalli juga menyebutkan hal yang serupa dalam kitab At Tatimmah.  Lihat Kifayatul Akhyar, hal. 206-207.

Untuk lengkap patokan dibolehkannya menjamak sholat ketika hujan, silahkan baca:

http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/4192-patokan-boleh-menjamak-shalat-ketika-hujan.html

Kiamat Begitu Dekat

Allahu akbar, kiamat begitu dekat…..

Demikianlah yang disebutkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kiamat begitu dekat dan beliau isyaratkan dengan jari tengah dan jari telunjuk.  

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat bagaikan dua jari ini.”[Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuk] (HR. Muslim no. 7597)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan terlihat begitu marah sehingga seolah-olah beliau meneriaki pasukan.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat bagaikan dua jari ini….”Al Qodhi mengatakan,”Ini menunjukkan sangat dekatnya kiamat dan diutusnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Juga menunjukkan bahwa tidak ada jari di antara keduanya dan berarti tidak ada Nabi lagi antara diutusnya beliau
shallallahu ’alaihi wa sallam dan hari kiamat. (Syarh Muslim, 3/247)

Dalam tafsir Al Baghowi (tafsir surat An Nahl : 2), Ibnu Abbas mengatakan, ”Diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan tanda datangnya hari kiamat. Tatkala Jibril ‘alaihis salam yang menjadi utusan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati penghuni langit. Para penghuni langit tersebut mengatakan,”Allahu akbar, sebentar lagi terjadi kiamat.”

Gambarannya, jari tengah itu adalah umur kehidupan di dunia ini hingga hari kiamat. Sedangkan
jari telunjuk adalah lamanya waktu mulai dunia ini ada hingga pengutusan Nabi.

Adapun jarak pengutusan Nabi kita dengan hari kiamat adalah selisih antara jari tengah dan jari telunjuk. Bandingkanlah umur dunia ini hingga Nabi kita diutus dengan masa setelah Nabi diutus hingga hari kiamat! Jika kita bandingkan, waktu terjadinya kiamat itu sangatlah dekat dengan umat Muhammad.

Manusia mungkin merasakan kiamat itu masih sangat lama. Namun itulah pemikiran dan pandangan manusia yang dangkal. Rabb kita dan Rasul-Nya menganggap bahwa kiamat itu begitu dekat.

“Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya.” (QS. An Nahl)

“Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi).” (QS. An Nahl: 77)

Wallahu waliyyut taufiq.

Ust. M Abduh Tuasikal

Menebar Cahaya Sunnah