Patokan Bolehnya Menjamak Shalat Ketika Hujan

Dalam Al Mughni disebutkan, ”Hujan yang membolehkan seseorang menjama’ shalat adalah hujan yang bisa membuat pakaian basah kuyup dan mendapatkan kesulitan jika harus berjalan dalam kondisi hujan semacam itu. Adapun hujan yang rintik-rintik dan tidak begitu deras, maka tidak boleh untuk menjama’ shalat ketika itu.” Lihat Al Mughni, 2: 117.

Dalam Kifayatul Akhyar disebutkan bahwa orang yang tidak bepergian jauh dibolehkan untuk menjama’ shalat pada waktu pertama dari shalat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’ dikarenakan hujan, menurut pendapat yang benar. Meski ada juga yang berpendapat bahwa menjama’ karena hujan hanya berlaku untuk shalat Maghrib dan Isya’ karena kondisi ketika malam itu memang lebih merepotkan. Hukum ini disyaratkan jika shalat dikerjakan di suatu tempat yang seandainya orang itu berangkat ke sana akan kehujanan sehingga pakaiannya menjadi basah. Demikian persyaratannya menurut Ar Rafi’i dan Imam Nawawi.

Sedangkan Qodhi Husain memberi syarat tambahan yaitu alas kaki juga menjadi basah sebagaimana pakaian. Al Mutawalli juga menyebutkan hal yang serupa dalam kitab At Tatimmah.  Lihat Kifayatul Akhyar, hal. 206-207.

Untuk lengkap patokan dibolehkannya menjamak sholat ketika hujan, silahkan baca:

http://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/4192-patokan-boleh-menjamak-shalat-ketika-hujan.html

Kiamat Begitu Dekat

Allahu akbar, kiamat begitu dekat…..

Demikianlah yang disebutkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kiamat begitu dekat dan beliau isyaratkan dengan jari tengah dan jari telunjuk.  

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat bagaikan dua jari ini.”[Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuk] (HR. Muslim no. 7597)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berkhutbah matanya memerah, suaranya begitu keras, dan terlihat begitu marah sehingga seolah-olah beliau meneriaki pasukan.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat bagaikan dua jari ini….”Al Qodhi mengatakan,”Ini menunjukkan sangat dekatnya kiamat dan diutusnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Juga menunjukkan bahwa tidak ada jari di antara keduanya dan berarti tidak ada Nabi lagi antara diutusnya beliau
shallallahu ’alaihi wa sallam dan hari kiamat. (Syarh Muslim, 3/247)

Dalam tafsir Al Baghowi (tafsir surat An Nahl : 2), Ibnu Abbas mengatakan, ”Diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan tanda datangnya hari kiamat. Tatkala Jibril ‘alaihis salam yang menjadi utusan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati penghuni langit. Para penghuni langit tersebut mengatakan,”Allahu akbar, sebentar lagi terjadi kiamat.”

Gambarannya, jari tengah itu adalah umur kehidupan di dunia ini hingga hari kiamat. Sedangkan
jari telunjuk adalah lamanya waktu mulai dunia ini ada hingga pengutusan Nabi.

Adapun jarak pengutusan Nabi kita dengan hari kiamat adalah selisih antara jari tengah dan jari telunjuk. Bandingkanlah umur dunia ini hingga Nabi kita diutus dengan masa setelah Nabi diutus hingga hari kiamat! Jika kita bandingkan, waktu terjadinya kiamat itu sangatlah dekat dengan umat Muhammad.

Manusia mungkin merasakan kiamat itu masih sangat lama. Namun itulah pemikiran dan pandangan manusia yang dangkal. Rabb kita dan Rasul-Nya menganggap bahwa kiamat itu begitu dekat.

“Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya.” (QS. An Nahl)

“Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi).” (QS. An Nahl: 77)

Wallahu waliyyut taufiq.

Ust. M Abduh Tuasikal

Ucapan Bila Mendengar Seorang Kafir Meninggal

Tanya :

Bila seorang lelaki atau wanita kafir yang mati, apakah dibolehkan kita mengucapkan
‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (Sesungguhnya kita adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kita dikembalikan)?

Jawab :

Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab:

“Bila seorang kafir meninggal dunia tidak mengapa kita mengucapkan kalimat istirja’ tersebut, walaupun dia bukan dari kalangan karib kerabat anda. Karena memang semua manusia hanyak kembali kepada Allah Azza wa Jalla dan semua manusia adalah milik Allah Azza wa Jalla. Akan tetapi kita tidak boleh mendoakan kebaikan untuknya bila ia mati dalam keadaan kafir. Bila orang kafir yang meninggal itu dari kalangan kerabat anda, tidaklah menjadi masalah orang mendoakan anda dengan mengatakan: “Semoga Allah memberikan pahala yang besar untukmu dengan kematiannya dan memberikan hiburan/pelipur lara untukmu sebagai pengganti kematiannya.”

Memang hidupnya si kafir terkadang tidak memberi maslahat bagi anda di mana ia berbuat baik dan memberi manfaat kepada anda. Dengan demikian, tidak menjadi masalah anda didoakan seperti itu. Akan tetapi terhadap si kafir sendiri tidak boleh didoakan kebaikan, tidak boleh dimintakan ampun, dan tidak boleh bersedekah atas namanya, bila ia mati dalam keadaan kafir.”

[Fatawa Nurun ‘ala Darb, hal. 374-375]

Read more:
http://abuayaz.blogspot.com/2011/04/taziyah-kepada-orang-kafir.html#ixzz2Od0K9y4S

TATA CARA SHALAT ORANG YANG SAKIT

Para ulama sepakat bahwa barangsiapa yang tidak mampu melakukan shalat dgn berdiri hendaknya shalat sambil duduk, jika tdk mampu dgn duduk hendaknya sambil berbaring dgn posisi tubuh miring dan menghadapkan muka ke kiblat. Disunnahkan miring dgn posisi tubuh miring diatas tubuh bagian kanan, jika tdk mampu jg maka boleh shalat dgn berbaring telentang, sebagaimana sabda Rosul صلى الله عليه وسلم kpd Imran bin Husain:

‘Shalatlah kamu sambil berdiri, jika kamu tidak mampu maka sambil duduk dan jika tidak mampu maka dgn berbaring’ (HR. Bukhori)
Dan Imam An-Nasa’I menambahkan:

‘….lalu jika tidak mampu maka sambil telentang’

Dan barangsiapa mampu berdiri akan tetapi tdk mampu ruku’ atau sujud maka kewAjiban berdiri tdk gugur darinya. Ia harus shalat sambil berdiri, lalu ruku’ dgn isyarat (menundukkan kepala) kemudian duduk dan sujud dgn berisyarat.

Jika pada matanya terdapat penyakit, sementara para ahli kedokteran terpercaya mengatakan ‘Jika kamu shalat telentang lebih memudahkan pengobatanmu maka boleh shalat telentang’.

Barangsiapa tidak mampu ruku’ dan sujud maka cukup berisyarat dgn menundukkan kepala pada saat ruku’ dan sujud dan hendaknya ketika sujud lebih rendah daripada ruku’.

Jika tdk mampu sujud maka ruku’ (spt lazimnya) dan sujud dgn berisyarat.

Jika tdk dapat membungkukkan punggungnya maka ia membungkukkan lehernya, jika punggungnya memang bungkuk shg seolah2 ia sedang ruku’ hendaknya ia lebih membungkukkan sedikit dan waktu sujud ia lebih membungkukkan lg semampunya hingga mukanya lebih mendekati tanah semampunya.

Barangsiapa tdk mampu berisyarat dgn kepala maka cukup dgn niat dan bacaan sj, dan kewajiban shalat tetap tdk gugur darinya dalam keadaan bagaimanapu selagi ia masih sadar (berakal).

Apabila ditengah2 shalat sipenderita mampu melakukan apa yg tdk mampu ia lakukan sebelumnya spt ruku’, sujud atau berisyarat dgn kepala maka ia berpindah kepadanya (melakukan apa yg ia mampu) dgn ttp meneruskan shalat.

Apabila sipenderita tertidur atau lupa melakukan shalat atau karena lainnya, ia wajib menunaikannya di saat ia bangun atau disaat ia ingat, dan tidak boleh menundanya kepada waktu berikutnya. Sebagaimana sabda Rosul صلى الله عليه وسلم :

‘Barangsiapa tertidur atau lupa melakukan shalat maka hendaknya ia menunaikannya pada saat ia ingat, tidak ada tebusan lain baginya kecuali hanya itu ‘, lalu beliau membaca firman Allah : ‘dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu’ (Thaha: 14)

Tidak boleh bagi seorang muslim meninggalkan shalat dalam keadaan bagaimanapun bahkan setiap mukallaf wajib bersungguh-sungguh untuk menunaikan shalat pada hari-hari sakitnya melebihi hari-hari ketika sehat. Tidak boleh baginya meninggalkan shalat fardhu hingga lewat waktunya sekalipun ia sedang sakit selagi ia masih sadar (kesadarannya utuh) wajib baginya menunaikan shalat sesuai kemampuannya, dan apabila ia meninggalkan dengan sengaja sedangkan ia masih sadar (masih berakal) lagi mukallaf. Serta mampu melakukannya walauypun hanya dengan isyarat maka ia adalah orang yang berbuat dosa. Bahkan ada sebagian para Ahlul ‘ilm (ulama) yg mengkafirkannya berdasarkan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

)Pembatas) antara seorang muslim dengan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat (HR. Muslim)

Jika sipenderita kesulitan utk melakukan shalat pada waktunya maka boleh menjama’ shalat spt shalat dhuhur dengan shalat asar, shalat maghrib dengan isya’, baik jama’ taqdim maupun jama’ ta’khir sesuai kemampuannya.

Demikian hal-hal yang berkenaan dengan orang sakit dalam bersuci dan melaksanakan shalat, semoga Allah سبحانه وتعالى menyembuhkan orang2 sakit dari kaum muslimin dan menghapus dosa2 mereka, mengkaruniakan maaf dan afiat kepada kita semua baik didunia maupun diakhirat.
آمين يا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

)Tsalatsu Rosail Fissolah by Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz)

 Ustadz Abdussalam Busyro LC.

Nasehat Bagi Anda Yang Memiliki Smartphone

Perkembangan teknologi ibarat pisau yang bermata dua. Bisa digunakan untuk kebaikan atau keburukan.

Dengan smartphone di genggaman Anda, Anda bisa mendapatkan pahala besar. Mencari Ilmu agama via website sunnah, mendengarkan murotal Al qur’an, menyebarkan ilmu agama dan info kajian, menyambung silaturahmi, membantu orang lain yang butuh informasi dsb.

Namun, dengan itu pula, dosa besar dan kemurkaan Allahpun bisa menimpa Anda. Mengakses situs-situs terlarang, menyebarkan berita dan info menyesatkan, ghibah dan namimah dsb.

Seorang muslim senantiasa berusaha menggunakan semua media dan potensi yang ada untuk meraih keridhoaan Allah taala.

Bagaimana kiat supaya smartphone mendatangkan rahmat dan menolak laknat ?

Simak nasehat dari Ust Abu Yahya Badrusalam,Lc.

klik http://salamdakwah.com/videos-detail/dengan-jempol-mendulang-pahala.html

Makan Berjama’ah

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9: 535) berkata, “Kecukupan itu datang karena keberkahan dari makan secara berjama’ah. Cara jama’ah ini membuat yang menikmati makanan itu banyak sehingga bertambah pula keberkahan.”

طَعَامُ الاِثْنَيْنِ كَافِى الثَّلاَثَةِ ، وَطَعَامُ الثَّلاَثَةِ كَافِى الأَرْبَعَةِ

“Makanan porsi dua orang sebenarnya cukup untuk tiga, makanan tiga cukup untuk empat.” (HR. Bukhari no. 5392 dan Muslim no. 2059, dari Abu Hurairah). Dalam lafazh Muslim disebutkan,

Selengkapnya tentang makan berjama’ah:
http://­rumaysho.com/­belajar-islam/­amalan/­4297-makan-berja­maah.html

Larangan Menutup Dinding

Ust. Badrusalam Lc

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الله لم يأمرنا أن نكسو الحجارة و الطين

“Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk memberi pakaian kepada batu dan tanah liat (dinding).” (HR Muslim no 2107).

Abdullah bin Yazid radliyallahu ‘anhu berkata, “Bagaimana aku tidak menangis, aku masih hidup sampai kalian menutupi (dinding) rumah kalian sebagaimana ka’bah yang diberikan penutup.” Atsar shahih Riwayat Al Baihaqi (7/272).

Abu Ayyub ketika mendatangi undangan Walimah Salim bin Abdillah, ia melihat didinding
rumah Salim telah di tutupi dengan penutup berwarna hijau. Maka abu ayyub radliyallahu ‘anhu mengingkarinya. Kisah tersebut disebutkan oleh Al Bukhari dalam shahihnya secara mu’allaq.

(Dari kitab: Mausu’ah al manahi asy syar’iyyah 3/214-215 karya Syaikh Salim Al Hilali).

Bergantunglah Kepada Allah

Diriwayatkan dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ ، وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللهِ أَوْشَكَ اللهُ لَهُ بِالْغِنَى: إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ.

“Barang siapa yang ditimpa suatu kesulitan lalu ia mengadukannya kepada manusia, maka tidak akan tertutup kefakirannya. Dan barangsiapa yang mengadukan kesulitannya itu kepada Allah,
maka Allah akan memberikannya salah satu diantara dua kecukupan: kematian yang cepat atau kecukupan yang cepat”

Shahîh. HR Ahmad (I/389, 407, 442), Abu Dâwud (no. 1645), at-Tirmidzi (no. 2326), dan al-Hâkim (I/408).

Wahai saudaraku…
Orang qona’ah adalah orang yg beruntung.. Jiwanya tak pernah merasa kekurangan dg apa yg ada ditangannya..

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ.

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberikan rizki yang cukup, dan dia merasa qona’ah dengan apa yang Allah berikan kepadanya”.

HR Muslim (no. 1054) dan lainnya, dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘anhu.

www.abu-riyadl.blogspot.com
By. Abu RiyadL

Safari Ke Kuburan Para Wali

Ust.Badrussalam, Lc

Tidak ragu lagi bahwa berziarah kubur adalah perkara yang dianjurkan oleh islam, Nabi shallallahu ‘alaiahi wasallam bersabda:

زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ

“Berziarah kuburlah, karena ia mengingatkan kamu kepada kehidupan akhirat”. (HR Ibnu majah).

Akan tetapi yang akan kita bahas adalah melakukan perjalanan jauh (safar) ke kuburan, baik kuburan
para Nabi, atau kuburan para wali dan lainnya.

Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari hadits Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِى هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Tidak boleh diadakan perjalan jauh kecuali kepada tiga masjid; masjidku ini dan masjidil haram dan masjid Al Aqsha”.

Dan dalam shahih Muslim dengan
redaksi larangan:

لاَ تَشُدُّوا الرِّحَالَ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِى هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Janganlah kamu mengadakan perjalan jauh kecuali kepada tiga masjid; masjidku ini dan masjidil haram dan masjid Al Aqsha”.

Dan dalam riwayat Ahmad dalam musnadnya terdapat kisah bahwa Abu Bashrah Al Ghifari bertemu dengan Abu Hurairah yang datang dari arah bukit Thur, maka ia berkata: “Dari mana kamu datang?” Abu Hurairah menjawab: “Dari bukit Thur, aku shalat di
sana”. Abu Bashrah berkata: “Kalau tadi kamu bertemu denganku sebelum berangkat ke sana, pasti kamu tidak akan berangkat, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak boleh diadakan perjalan jauh kecuali kepada tiga masjid…alhadits. dan sanadnya shahih.

Baca Selengkapnya di : http://cintasunnah.com/safari-ke-kuburan-para-wali/

Keutamaan Niyat

Ust. Rochmad Supriyadi Lc

Niyat merupakan amal yang sangat lembut, yang tertanam di lubuk hati manusia.

Dengan niyat, suatu amal menjadi sah dan diterima disisi Robb Yang Maha Tinggi, dan tergantung niyat pula amal akan dilipat gandakan berdasarkannya.

Berkata Umar رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. ” Sebaik-baik amal adalah menegakkan apa yang difardhukan Allah سبحانه وتعالى , waro’ (berhati-hati) terhadap apa yg Allah haramkan, dan niyat yang jujur kepada Allah سبحانه وتعالى “.

Berkata sebagiyan salaf,” Bisa jadi suatu amal yang kecil menjadi besar dan agung karena niyat yang tulus, dan bisa jadi suatu amal yang amat besar menjadi kecil dan hina karena niyat yang salah”.

Berkata Yahya ibnu Abi Katsir,” Belajarlah ketulusan niyat, karena ketulusan niyat lebih berharga dari pada suatu amal”.

– Tazkiyatun Nufus 20 –

Menebar Cahaya Sunnah