Mengapa Kita Harus Selalu Memuji & Bersukur Kepada Allah Dalam Keadaan Apapun?

Jawabannya:

1. Sebab semua yang Allah takdirkan hingga yang menyedihkan & menyakitkan mengandung banyak hikmah yg luar biasa yg dapat dirasakan hamba-Nya di Dunia & Akhirat.

2. Sebab Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Misalnya: seorang hamba yg ditakdirkan miskin, maka itulah takdir yg terbaik baginya, sbb jika ia ditakdirkan kaya, maka ia akan sombong & semakin lupa kepada Allah

Allah berfirman,” Tidakkah ia (manusia) memperhatikan siapakah yang telah menciptakannya..Yaitu Dia yg Maha lembut lagi Maha mengetahui (apa yg terbaik & terburuk bagi hamba-Nya).” Al-Mulk : 14

Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” Pasti merasakan lezatnya iman, seorang yg selalu ridho kepada Allah.” HR Muslim

Ya Allah jadikanlah kami hamba-Mu yg selalu ridho kepada-Mu dalam keadaan apapun!

Ust. Djazuli Lc

NEKAT NGUTANG UNTUK NIKAH ?

Al-Imam Ahmad berkata:

يَنْبَغِي لِلْعَبْدِ فِي هَذَا الزَّمَانِ أَنْ يَسْتَدِيْنَ وَيَتَزَوَّجَ لِئَلاَّ يَنْظُرَ مَا لاَ يَحِلُّ فَيَحْبِطُ عَمَلُهُ

“Hendaknya seorang hamba di zaman ini berhutang untuk menikah, agar ia tidak melihat perkara yang tidak halal baginya, sehingga gugurlah amalannya” (Kitaab As-Sholaat wa hukmu Taarikihaa, karya Ibnul Qoyyim hal 65, tahqiq : Taisiir, al-Maktab al-Islaami, cetakan pertama 1981)

Kalau Al-Imam Ahmad mengucapkan hal ini di zaman beliau (164 H (780 M) – 241 H (855 M)), maka bagaimana lagi dengan zaman kita ini???

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang faedah nikah “Sesungguhnya nikah lebih menjaga kemaluan dan lebih menundukan pandangan”

Oleh karenanya para ulama (diantaranya Al-Lajnah Ad-Daaimah, Syaikh Bin Baaz, dan Syaikh al-Utsaimin) memfatwakan bolehnya memberikan uang zakat kepada seorang pemuda yang hendak menikah akan tetapi tidak punya biaya untuk menikah, karena kebutuhan menikah adalah kebutuhan yang mendesak.

Ust. Firanda Andirja Lc

Jangan Menghitung Sedekah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أنفقي ولا تحصي فيحصي الله عليك ولا توعي فيوعي الله عليك
“Berinfaklah dan jangan menghitung-hitung, niscaya Allah akan hitung-hitung rizkiNya padamu. Dan jangan kamu menahan-nahan, niscaya Allah akan menahan-nahan rizkiNya padamu.” (HR Al Bukhari).

Ust. Badru Salam

UCAPAN TA’ZIYAH

Sebaik-baik ucapan ta’ziyah adalah ta’ziyah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putrinya Zainab, ketika Zainab mengirim utusan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa bayinya meninggal dunia. Beliau bersabda:

‫إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ‬ (‫رواه البخاري‬)

Inna lillahi maa akhodza walahu maa a’tho, wa kullu syay-in ‘indahu bi ajalin musamman, faltashbir wal-tahtasib

 Sesungguhnya milik Allah untuk mengambilnya dan milikNya untuk diberikan, dan segala sesuatu disisiNya dengan ketentuan yang sudah ditetapkan waktunya. Maka, hendaknya engkau sabar dan ihtisab. [HR Bukhari].

http://almanhaj.or.id/content/3071/slash/0/bimbingan-mengurus-jenazah-2/

AGAR LISAN BEBAS ASAP MAKSIAT DAN DOSA…

Dzikirlah sebanyak banyaknya.. Tanpa anda hitung dg tasbih maka akan lebih membuatmu ikhlas.. Krn dg tasbih yg selalu menggantung ditanganmu akan membantumu untuk riya’..

Allahlah yg tau amalan kita.. Semakin anda menyebunyikannya maka semakin pula ia membawamu kpd ikhlas dan hanya mengharap pujian dari Allah semata..

Hadits dibawah ini mengajak kita untuk memperbanyak berdzikir dan menghiasi lisan kita dg dzikir..

Dalam riwayat at-Tirmidzi disebutkan dari ‘Abdullah bin Busr, “Ada seorang laki-laki berkata:

‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu banyak, dan aku tidak mampu untuk memasuki semuanya, maka beritahukan kepadaku sekehendakmu yang akan aku bisa beramal konsisten padanya, dan mohon janganlah banyak-banyak sehingga aku bisa lupa nanti’,

beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda: ‘biasakan lisanmu terbasahi oleh dzikir kepada Allah Ta’ala ’.”

HR. at-Tirmidzi dalam ad-Da’awaat (9/314) dan ia berkata “Hasan Ghariib”. Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitab ad-Du’aa (1/495) ia nyatakan shahiih dan disepakati oleh adz-Dzahabi

Dg dzikir disetiap saat.. Maka lidah kita akan bebas dari polusi ghibah, adudomba, dusta, berkata sia sia.. Apalagi merokok..

Bagi perokok berat hal ini dapat membantu dalam taubat dari rokok insyaAllah jika dzikirnya sampai ia resapi dari dalam dada..

بَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْ
www.abu-riyadl.blogspot.com
Abu riyadL.. salam ukhuwah dari pedesaan diboyolali

Jangan Korbankan Ibumu

Akhi\Ukhti…
Entah kisah ini hakiki atau sekedar ilustrasi…
Tp bacalah bila kau ada waktu!
Seorang pemuda datang melamar cewek cantik
Dan akhir terjadilah kesepakatan
Namun tatkala si cewek mengetahui profesi ibunda cowok, maka si cewek memberi syarat, “pd waktu resepsi pernikahan, ibunya tidak boleh datang”
Setelah berfikir, demi untuk mewujudkan pernikahannya, si pemuda menyetujuinya.
Namun akhirnya ia menjumpai salah seorang gurunya untuk meminta pendapatnya
Sang guru bertanya, “apa pekerjaan ibumu?
“Aku ditinggal mati ayahku saat umurku 1tahun, akhirnya untuk membesarkanku, ibu bekerja sebagai tukang cuci pakaian”.
Jawab pemuda itu.
“Begini, hari ini kau pulang, dan kau cuci kedua tangan ibumu, besok kau kembali lagi kesini, aku akan kasih pendapatku” jawb sang guru.
Pulanglah pemuda itu, dan dia mendekati ibunya dan mencuci kedua tangannya, dia melihat begitu kasarnya tangan nya, ada bekas2 luka dan kulit yg terkelupas, ia melihat pemandangan itu sambil mencucurkan air mata.
Dan akhirnya ia tidak tahan untuk menunggu hari esok, dia telp gurunya dan berkata;

“AKU TiDAK AKAN MENGORBANKAN BUNDAKU UNTUK SIAPAPUN”.

Banyak di antara kita yg sering melupakan budi baik ibu kita. Demi kenikmatan semu

Maka saatnya kita mencuci kedua tangan ibu kita yg selalu membelai kita dan membersihkan kita
Krn suatu saat belain itu akan pergi
Dan kau akan kehilangan tiket masuk surgamu
بارك الله فيكم

ANCAMAN YANG KERAS BAGI SESEORANG YANG TIDAK MENYEMPURNAKAN WUDHU’NYA

Wahai saudara-saudariku yang kami hormati, perhatikanlah hadits berikut ini;

Khalid bin Ma’dan, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم pernah melihat seseorang yang shalat, sedangkan di punggung kakinya ada bagian sebesar uang dirham yang tidak terbasuh air wudhu, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkannya untuk mengulang wudhu’ dan shalatnya. [Hadits riwayat Abu Dawud: 175]

Dalam riwayat yang lain, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, sebagaimana
yang diriwayatkan dari sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu رضي الله عنه:

“Bahwasanya ada seorang laki-laki berwudhu dan meninggalkan bagian yang belum dibasuh (dari air wudhu’nya) sebesar kuku pada kakinya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam melihatnya maka Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Kembalilah berwudhu, perbaguslah wudhumu” ( Riwayat Muslim :243)

Fawaid hadits:

Kedua hadits tersebut diatas menunjukkan tentang ancaman yang sangat keras bagi seseorang yang tidak menyempurnakan wudhu’nya dan yang tidak mengikuti cara wudhu Nabi صلى الله عليه وسلم, bahkan dalam satu riwayat beliau mengancamnya dengan api neraka terhadap orang yang tidak mencuci kedua kakinya dengan sempurna, dan permasalahan ini sering kali diremehkan oleh setiap muslim dan muslimah. Untuk itu wahai saudara-saudariku, kami menasehati untuk diri kami dan saudara-saudariku sekalian untuk mempelajari “Sifat Wudhu’ Nabi” berdasarkan dalil dari alqur’an dan sunnah yang shohih. Dan mempelajarinya adalah suatu kewajiban yang sangat penting dalam islam.
Semoga tulisan yang ringkas ini memberikan manfaat untuk kita semua, agar kita lebih memperhatikan wudhu kita dengan baik, dan kelak kita memohon kepada ALLAH agar menerima amal ibadah kita oleh ALLAH سبحانه وتعالى dan sebagai pemberat timbangan kembaikan kita nanti pada yaumul qiyamah.

Akhukum Ahmad ferry nasution.

(*) Masalah 320: BENARKAH BERPAKAIAN LUSUH DAN SEDERHANA ADALAH BAGIAN DARI IMAN?

(*) Masalah 320: BENARKAH BERPAKAIAN LUSUH DAN SEDERHANA ADALAH BAGIAN DARI IMAN?

Tanya:
Dari member MHA 23:
Assalamualaikum ustadz mohon dijelaskan status hadits yg berbunyi “berpakaian lusuh /sederhana adalah sebagian dari iman.” (hr ibnu majah no 4118).

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah. Derajat hadits tsb adalah SHOHIH, sbgmn dinyatakan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dlm Silsilatu Al-Ahaadiitsi Ash-Shohiihati nomor.341, dan di dlm Shohihu Al-Jaami’i Ash-Shoghiir nomor. 2879, dari jalan Abu Umamah Al-Haritsi radhiyallahu anhu.

Adapun Lafazh hadits tsb adalah sbb:
(Al-Badzaadzatu Minal iimaan)

Artinya: “Berpakaian sederhana itu bagian dari Iman.”. (Diriwayatkan oleh Abu Daud II/474 no.4161, n Ibnu Majah II/1379 no.4118).

Makna hadits tsb bukanlah berarti kita tidak boleh memakai pakaian yg bagus n berharga. Akan tetapi maksudnya adalah anjuran bagi kita pada sebagian waktu (kadang-kadang) agar memakai pakaian yg sederhana dan tidak berlebihan dlm harga n tidak terlalu mewah meskipun kita punya kemampuan untuk membeli n memakai pakaian yg berharga n mewah. Dan ini sebagai bentuk tawadhu’ (sikap rendah hati) kita.

Dan makna hadits tsb bukan berati kita harus berpakaian compang camping atau kumuh atau kotor n tidak rapih. Karena agama Islam mengajarkan kpd umatnya kebersihan n keindahan dlm merawat badan n berpakaian. Karena Allah Dzat yg Maha Indah n mencintai keindahan, sbgmn dikabarkan oleh Rasulullah di dlm haditsnya yg shohih. Beliau bersabda:
(Innallaaha Jamiilun Yuhibbu al-Jamaal)

Artinya: “Sesungguhnya Allah adalah Dzat yg Maha Bagus (indah), Dia mencintai keindahan.”

Jadi, seorang muslim n muslimah dibolehkan n bahkan dianjurkan utk memakai pakaian yg bagus, bersih n tanpa berlebihan, apalagi ketika akan pergi ke masjid (utk beribadah kpd Allah). Hal ini sbgmn firman Allah:

(Yaa Banii Aadama Khudzuu Ziinatakaum ‘inda Kulli Masjidin Wa Kuluu wasyrobuu wa Laa Tusrifuu, innahuu Laa Yuhibbul Musrifiin)

BAGAIMANA SIKAP TERHADAP ISTRI YANG SELINGKUH?

Assalamualaikum Ustadz, Ana mau tanya apakah tindakan yang paling tepat sesuai dengan tuntunan Islam jika seorang suami mengetahui istrinya selingkuh dengan laki-laki lain, dan sudah sangat diduga pernah berzina dengan laki-laki itu. Apakah suami tersebut wajib menceraikan istrinya, sementara dia masih menyayangi isterinya dan isterinya juga tidak mau sekali kalau diceraikan. Syukron ya UstadzWassalam

Hamba Allah
Polewali Mandar Sulawesi Barat

Continue reading BAGAIMANA SIKAP TERHADAP ISTRI YANG SELINGKUH?

Diantara Perilaku Jahiliyah

(Ust.Badrussalam, Lc)

Menilai kebenaran karena pengikutnya adalah orang-orang kaya, bangsawan, para ilmuwan dan orang-orang yang berkedudukan. Adapun bila pengikutnya rakyat jelata dan orang-orang lemah, ia anggap sesuatu yang batil.

Ini adalah parameter kaum jahiliyah yang tertipu dengan kedudukan dan pangkat. Dahulu para Nabi diikuti oleh orang-orang yang lemah.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan kisah perbincangan raja Heraklius dengan Abu Sufyan yang masih kafir.
Diantara pertanyaan Heraklius tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah, “Apakah pengikutnya dari kalangan rendahan atau para bangsawan?”
Abu Sufyan menjawab, “Justru kebanyakan dari kaum yang lemah.”

Padahal dahulu kaum ‘Aad dan Tsamud adalah kaum yang kuat dan berkedudukan. Namun Allah menghancurkan mereka akibat kekafiran mereka.
Di zaman ini, masih banyak orang yang yang mempunyai parameter seperti ini. Bila yang berbicara orang tidak punya titel ia acuhkan, walaupun yang diucapkan adalah kebenaran. Tapi bila yang mengucapkannya adalah orang yang bertitel apakah itu profesor atau doktor atau pejabat tinggi, maka ia anggap sebagai sebuah kebenaran.

Padahal kebenaran tidak terletak pada titel atau kedudukan. Kebenaran adalah yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Yang dapat mengikuti dakwah para Nabi hanyalah orang-orang yang menundukkan dirinya di hadapan Rabbnya dan membuang semua kesombongan dan keangkuhannya.

Adapun orang yang tertipu oleh kecerdasan, kekayaan dan kedudukan, amat sulit untuk tunduk dan taslim kepada Rabbnya. Masih menimbang-nimbang dengan akalnya, kekayaan dan kedudukan yang ia banggakan.

Maka sungguh mengagumkan orang yang tidak tertipu oleh semua itu, lalu ia tunduk dan mengakui kelemahannya di hadapan sang pencipta. Ia mengakui dirinya seorang hamba, kalaulah bukan karena Allah yang memberinya nikmat tentu ia akan binasa.

Menebar Cahaya Sunnah