Jangan Korbankan Ibumu

Akhi\Ukhti…
Entah kisah ini hakiki atau sekedar ilustrasi…
Tp bacalah bila kau ada waktu!
Seorang pemuda datang melamar cewek cantik
Dan akhir terjadilah kesepakatan
Namun tatkala si cewek mengetahui profesi ibunda cowok, maka si cewek memberi syarat, “pd waktu resepsi pernikahan, ibunya tidak boleh datang”
Setelah berfikir, demi untuk mewujudkan pernikahannya, si pemuda menyetujuinya.
Namun akhirnya ia menjumpai salah seorang gurunya untuk meminta pendapatnya
Sang guru bertanya, “apa pekerjaan ibumu?
“Aku ditinggal mati ayahku saat umurku 1tahun, akhirnya untuk membesarkanku, ibu bekerja sebagai tukang cuci pakaian”.
Jawab pemuda itu.
“Begini, hari ini kau pulang, dan kau cuci kedua tangan ibumu, besok kau kembali lagi kesini, aku akan kasih pendapatku” jawb sang guru.
Pulanglah pemuda itu, dan dia mendekati ibunya dan mencuci kedua tangannya, dia melihat begitu kasarnya tangan nya, ada bekas2 luka dan kulit yg terkelupas, ia melihat pemandangan itu sambil mencucurkan air mata.
Dan akhirnya ia tidak tahan untuk menunggu hari esok, dia telp gurunya dan berkata;

“AKU TiDAK AKAN MENGORBANKAN BUNDAKU UNTUK SIAPAPUN”.

Banyak di antara kita yg sering melupakan budi baik ibu kita. Demi kenikmatan semu

Maka saatnya kita mencuci kedua tangan ibu kita yg selalu membelai kita dan membersihkan kita
Krn suatu saat belain itu akan pergi
Dan kau akan kehilangan tiket masuk surgamu
بارك الله فيكم

ANCAMAN YANG KERAS BAGI SESEORANG YANG TIDAK MENYEMPURNAKAN WUDHU’NYA

Wahai saudara-saudariku yang kami hormati, perhatikanlah hadits berikut ini;

Khalid bin Ma’dan, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم pernah melihat seseorang yang shalat, sedangkan di punggung kakinya ada bagian sebesar uang dirham yang tidak terbasuh air wudhu, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkannya untuk mengulang wudhu’ dan shalatnya. [Hadits riwayat Abu Dawud: 175]

Dalam riwayat yang lain, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, sebagaimana
yang diriwayatkan dari sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu رضي الله عنه:

“Bahwasanya ada seorang laki-laki berwudhu dan meninggalkan bagian yang belum dibasuh (dari air wudhu’nya) sebesar kuku pada kakinya. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam melihatnya maka Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Kembalilah berwudhu, perbaguslah wudhumu” ( Riwayat Muslim :243)

Fawaid hadits:

Kedua hadits tersebut diatas menunjukkan tentang ancaman yang sangat keras bagi seseorang yang tidak menyempurnakan wudhu’nya dan yang tidak mengikuti cara wudhu Nabi صلى الله عليه وسلم, bahkan dalam satu riwayat beliau mengancamnya dengan api neraka terhadap orang yang tidak mencuci kedua kakinya dengan sempurna, dan permasalahan ini sering kali diremehkan oleh setiap muslim dan muslimah. Untuk itu wahai saudara-saudariku, kami menasehati untuk diri kami dan saudara-saudariku sekalian untuk mempelajari “Sifat Wudhu’ Nabi” berdasarkan dalil dari alqur’an dan sunnah yang shohih. Dan mempelajarinya adalah suatu kewajiban yang sangat penting dalam islam.
Semoga tulisan yang ringkas ini memberikan manfaat untuk kita semua, agar kita lebih memperhatikan wudhu kita dengan baik, dan kelak kita memohon kepada ALLAH agar menerima amal ibadah kita oleh ALLAH سبحانه وتعالى dan sebagai pemberat timbangan kembaikan kita nanti pada yaumul qiyamah.

Akhukum Ahmad ferry nasution.

(*) Masalah 320: BENARKAH BERPAKAIAN LUSUH DAN SEDERHANA ADALAH BAGIAN DARI IMAN?

(*) Masalah 320: BENARKAH BERPAKAIAN LUSUH DAN SEDERHANA ADALAH BAGIAN DARI IMAN?

Tanya:
Dari member MHA 23:
Assalamualaikum ustadz mohon dijelaskan status hadits yg berbunyi “berpakaian lusuh /sederhana adalah sebagian dari iman.” (hr ibnu majah no 4118).

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah. Derajat hadits tsb adalah SHOHIH, sbgmn dinyatakan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dlm Silsilatu Al-Ahaadiitsi Ash-Shohiihati nomor.341, dan di dlm Shohihu Al-Jaami’i Ash-Shoghiir nomor. 2879, dari jalan Abu Umamah Al-Haritsi radhiyallahu anhu.

Adapun Lafazh hadits tsb adalah sbb:
(Al-Badzaadzatu Minal iimaan)

Artinya: “Berpakaian sederhana itu bagian dari Iman.”. (Diriwayatkan oleh Abu Daud II/474 no.4161, n Ibnu Majah II/1379 no.4118).

Makna hadits tsb bukanlah berarti kita tidak boleh memakai pakaian yg bagus n berharga. Akan tetapi maksudnya adalah anjuran bagi kita pada sebagian waktu (kadang-kadang) agar memakai pakaian yg sederhana dan tidak berlebihan dlm harga n tidak terlalu mewah meskipun kita punya kemampuan untuk membeli n memakai pakaian yg berharga n mewah. Dan ini sebagai bentuk tawadhu’ (sikap rendah hati) kita.

Dan makna hadits tsb bukan berati kita harus berpakaian compang camping atau kumuh atau kotor n tidak rapih. Karena agama Islam mengajarkan kpd umatnya kebersihan n keindahan dlm merawat badan n berpakaian. Karena Allah Dzat yg Maha Indah n mencintai keindahan, sbgmn dikabarkan oleh Rasulullah di dlm haditsnya yg shohih. Beliau bersabda:
(Innallaaha Jamiilun Yuhibbu al-Jamaal)

Artinya: “Sesungguhnya Allah adalah Dzat yg Maha Bagus (indah), Dia mencintai keindahan.”

Jadi, seorang muslim n muslimah dibolehkan n bahkan dianjurkan utk memakai pakaian yg bagus, bersih n tanpa berlebihan, apalagi ketika akan pergi ke masjid (utk beribadah kpd Allah). Hal ini sbgmn firman Allah:

(Yaa Banii Aadama Khudzuu Ziinatakaum ‘inda Kulli Masjidin Wa Kuluu wasyrobuu wa Laa Tusrifuu, innahuu Laa Yuhibbul Musrifiin)

BAGAIMANA SIKAP TERHADAP ISTRI YANG SELINGKUH?

Assalamualaikum Ustadz, Ana mau tanya apakah tindakan yang paling tepat sesuai dengan tuntunan Islam jika seorang suami mengetahui istrinya selingkuh dengan laki-laki lain, dan sudah sangat diduga pernah berzina dengan laki-laki itu. Apakah suami tersebut wajib menceraikan istrinya, sementara dia masih menyayangi isterinya dan isterinya juga tidak mau sekali kalau diceraikan. Syukron ya UstadzWassalam

Hamba Allah
Polewali Mandar Sulawesi Barat

Continue reading BAGAIMANA SIKAP TERHADAP ISTRI YANG SELINGKUH?

Diantara Perilaku Jahiliyah

(Ust.Badrussalam, Lc)

Menilai kebenaran karena pengikutnya adalah orang-orang kaya, bangsawan, para ilmuwan dan orang-orang yang berkedudukan. Adapun bila pengikutnya rakyat jelata dan orang-orang lemah, ia anggap sesuatu yang batil.

Ini adalah parameter kaum jahiliyah yang tertipu dengan kedudukan dan pangkat. Dahulu para Nabi diikuti oleh orang-orang yang lemah.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan kisah perbincangan raja Heraklius dengan Abu Sufyan yang masih kafir.
Diantara pertanyaan Heraklius tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah, “Apakah pengikutnya dari kalangan rendahan atau para bangsawan?”
Abu Sufyan menjawab, “Justru kebanyakan dari kaum yang lemah.”

Padahal dahulu kaum ‘Aad dan Tsamud adalah kaum yang kuat dan berkedudukan. Namun Allah menghancurkan mereka akibat kekafiran mereka.
Di zaman ini, masih banyak orang yang yang mempunyai parameter seperti ini. Bila yang berbicara orang tidak punya titel ia acuhkan, walaupun yang diucapkan adalah kebenaran. Tapi bila yang mengucapkannya adalah orang yang bertitel apakah itu profesor atau doktor atau pejabat tinggi, maka ia anggap sebagai sebuah kebenaran.

Padahal kebenaran tidak terletak pada titel atau kedudukan. Kebenaran adalah yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Yang dapat mengikuti dakwah para Nabi hanyalah orang-orang yang menundukkan dirinya di hadapan Rabbnya dan membuang semua kesombongan dan keangkuhannya.

Adapun orang yang tertipu oleh kecerdasan, kekayaan dan kedudukan, amat sulit untuk tunduk dan taslim kepada Rabbnya. Masih menimbang-nimbang dengan akalnya, kekayaan dan kedudukan yang ia banggakan.

Maka sungguh mengagumkan orang yang tidak tertipu oleh semua itu, lalu ia tunduk dan mengakui kelemahannya di hadapan sang pencipta. Ia mengakui dirinya seorang hamba, kalaulah bukan karena Allah yang memberinya nikmat tentu ia akan binasa.

# 4 Amalan menggapai cinta ilahi #

Ust. Kholid syamhudi LC

عَنْ مُعَاذ بْنِ جَبَلٍ رَِضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْ لُ الله صلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : قَالَ اللهُ تَعَالَى : حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْْمُتَوَاصِلِين فِيَّ وَ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَنَاصِحِيْنَ فِيَّ وَ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ ;الْمُتَحَابُّوْنَ فِيَّ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ يَغْبِطُهُمْ بِمَكَانِهِمُ النَّبِيُّوْنَ وَ الصِّدِّيْقُوْنَ وَ الشُّهَدَاءُ
Dari Mu’adz bin jabal –Radhiyallahu ‘anhu- beliau berkata: Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم : Allah l berfirman :

”Orang yang saling mencintai karena-Ku pasti diberikan cinta-Ku, orang yg saling menyambung kekerabatannya karena-Ku pasti diberikan cintaKu dan orang yg saling menasehati karena-Ku pasti diberikan cintaKu serta orang yg saling berkorban karena-Ku pasti diberikan cinta-Ku. Orang2 yg saling mencintai karena-Ku (nanti di akherat) berada di mimbar2 dari cahaya. Para Nabi, shiddiqin dan orang2 yg mati syahid merasa iri dengan kedudukan mereka ini.”

(Riwayat imam Ahmad dalam kitab al-Musnad dan dishahihkan al-Albani dalam kitab Shahih Jami’ ash-Shaghir no. 4198).

Dalam hadits qudsi ini Allah memerintahkan kita untuk mewujudkan empat hal yang menjadi sebab kita menjadi hambaNya yang dicintai.

1. Perintah saling mencintai karena Allah

2. Perintah saling menasehati karena Allah

3. Perintah saling menyambung persaudaraan karena Allah

4. Perintah saling berkorban karena Allah.

Demikianlah Allah tunjukkan kepada kita empat amalan menggapai kecintaan ilahi.

Diantara langkah-langkah mewujudkannya adalah:

1. Memperbaiki aqidah dan iman kita menjadi sempurna

2. Mengingat keempat amalan ini dicintai dan diridhai Allah

3. Menelaah benar siroh (sejarah kehidupan) Rasulullah n dan para salaf ash-shalih dan mempraktekkannya. Caranya dengan mengetahui konsep dan tuntunan ajaran mereka sehingga akan muncul keinginan dan kecintaan untuk meniti dan mengikuti jejak langkah mereka.

Mengingat akibat baik dan pahala yang didapatkan dari empat amalan ini.
Semoga kita dapat mewujudkannya.

Tj Jenggot – AI 311

Pertanyaan: Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh. Ust pengasuh Al-ilmu, Saya membiarkan jenggot tumbuh antara 10 cm-we cm, namun tidak rapi panjangnya. Apakah boleh dipotong sedikit utk dirapikan? شُكْرًا كَثِيْرا

Jawab :
Al-Akh Aditya Prabawa @
Bismillah. Tidak Boleh Memotong atau Memendekkan JenggoT dengan alasan agar tampil rapih n indah. Biarkan sj Jembot tumbuh apa adanya sesuai dengan yg Allah kehendaki. Apalagi tumbuhnya jenggot hanya baru 10 cm-we cm, belum smp 30 cm (sepanjang penggaris). Maksud kami, jenggot sepanjang yg disebutkan penanya tidak terlalu mengganggu pemiliknya.

Hal ini berdasarkan hadits-hadits Nabi yg memerintahkan kita (pra lelaki) agar memelihara, memanjangkan n membiarkan jenggot tumbuh apa adanya, dlm rangka menyelisi kebiasaan orang2 musyrik, n Yahudi yg hobinya mencukur / memendekkan jenggot , n memanjangkan KUMIS.
Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.

Tj Makanan Ta’ziah

Tj – 161

Pertanyaan:
Ustadz, Mohon penjelasannya utk pertanyaan dari AI 161: Afwan, ana sekarang lagi, ta’ziah, di tempat ta’ziah di sediakan makan siang untuk para tamu dan yang mau kubur ! Bagaimana hukumnya makanan tersebut ? Apa bisa kita makan ? Syukron.

Jawab :
Ust. M Wasitha:
Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah. Hukum makanan tsb tetap HALAL, BOLEH dimakan dan BOLEH tidak dimakan. Meskipun penyediaan makanan pada hari kematian oleh keluarga mayit tersebut menyelisihi sunnah (tuntunan) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Akan tetapi acara dan perbuatan bid’ah tidak menyebabkan haramnya makanan yg pd asalnya Halal.

Hanya saja yg perlu diperhatikan oleh kita, hendaknya kita tidak ikut makan2 di tempat keluarga mayit pada saat ta’ziyah karena dikhawatirkan timbul anggapan dari orang2 awam yg hadir dan menyaksikan kita bahwa apa yg kita lakukan berupa makan2 di rumah mayit adalah benar sesuai tuntunan Rasul. Sehingga mereka yg ditimpa musibah kematian salah satu anggota keluarga terus menerus melakukan penyediaan makanan bagi para penTa’ziyah setiap kali ada kematian. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.

 

Di Bawah Naungan Sedekah

Ust. Badrusalam LC

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya hingga diputuskan hukum antara manusia.”

Yazid berkata, “Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sebuah kue ka’kah atau lainnya.”

(HR Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani).

Kecemburuan Wanita

By Abu Faiz

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan al-ghairah (CEMBURU) merupakan derivasi dr kata taghayyurul qalb (perubahan hati) dan haijanul ghadhab (kobaran amarah) yg disebabkan pihak lain dlm sebuah urusan.

Cemburu yang tercela yaitu cemburu yang disebabkan oleh zhan (prasangka) yg tanpa ada alasan. Cemburu karena hawa nafsu dan tanpa bukti acapkali menghancurkan rumah tangga yg rapuh.

Seorang wanita Muslimah yg bertaqwa akan menjaga lisannya dr membicarakan hal2 yg diharamkan akibat kecemburuan yg disebabkan oleh prasangka. Ia jg tdk akan melepaskan perasaan cemburunya secara liar demi menjalankan firman ALLAH Ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa apabila mereka ditimpa was-was dr syaitan, mereka ingat kpd ALLAH. Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS. Al-A’raf: 201)

Perasaan cemburu bukanlah sesuatu yg harus dienyahkan/ditolak, akan tetapi ia harus dikelola berdasarkan kaidah2 syari’at.

Sa’ad bin ‘Ubadah mengatakan, “Seandainya aku melihat seorang laki2 sdg bersama istriku pasti aku pukul dia dg sisi pedangku yg tajam!” Mendengar ucapannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak herankah kalian kecemburuan Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu drpd Sa’ad, dan ALLAH lebih cemburu lagi drpd aku.”

(HR. Bukhari No. 5220)

Sejumlah wanita berusaha menyembunyikan kecemburuannya. Sebetulnya hal ini berlawanan dengan watak mereka. Akan tetapi hal ini sah2 saja selama tdk menyusahkan dirinya sendiri dan tdk sampai memadamkannya sama sekali.

Apabila seorang wanita sengaja menyucikan jiwanya dgn mengendalikan kobaran api kecemburuan yg ada dlm hatinya, maka ia akan mendapatkan pahala.

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yg ALLAH karuniakan kpd sebagian kamu lebih banyak drpd sebagian yg lain. (Karena) bagi laki2 ada bagian dr apa yg mereka usahakan, dan bagi wanita (pun) ada bagian dr apa yg mereka usahakan. Dan mohonlah kpd ALLAH sebagian dr karunia-NYA. Sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(An-Nisa’:32)

Seorang Muslimah yg bertaqwa, hanya mengharapkan pahala dr setiap amal yg dilakukannya. Dia tdk akan merugikan keimanannya demi seseorang, siapapun dia. Segala perbuatan dilakukannya dg timbangan syari’at agar tdk terperosok dlm perangkap syaitan. Dia lebih suka menutup jurang perselisihan karena keimanan yg berakar didalam hati. Dalam hatinya tidak ada kecintaan yg melebihi kecintaannya kpd ALLAH Azza wa Jalla.

DUHAI WANITA,,,

UNTUK APA MELALAIKAN SESUATU YG KEKAL DEMI IMAGINASI YG DANGKAL

BAGAIMANA MUNGKIN ORG YG AMBISINYA HANYA SYAHWAT DAN HAWA NAFSU DUNIAWI AKAN MENJADI HAMBA ALLAH YG SEBENARNYA..

BAGAIMANA MUNGKIN MENJADI SEORANG MUKMINAH SEJATI JIKA ENGKAU TENGGELAM DALAM POLA PIKIR MATREALISTIK..

Dari Usamah bin Zaid, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Aku berdiri dipintu Surga, ternyata mayoritas penghuninya adalah orang2 miskin. Dan aku berdiri dipintu Neraka, ternyata penghuninya didominasi kaum wanita.”

(Muttafaq’alaih, Syarhus Sunnah XIV/265)

Menebar Cahaya Sunnah