Sibuk Memikiran Sesuatu

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata, “Berfikir adalah asal segala ketaatan, dan asal semua kemaksiatan..” (Miftah Daar As Sa’adah hal. 226).

Kok bisa begitu ya..?
Setelah direnungkan.. Betul juga..
Memikirkan sesuatu biasanya akan merubah suasana hati..
Lalu menimbulkan niat dan keinginan..
Sedangkan niat adalah awal perbuatan..

Ketika seseorang memikirkan tujuan kehidupannya..
Ia ingat kehidupan setelah kematian..
Suasana hatipun berubah..
Timbullah keinginan untuk berbuat ketaatan..

Ketika seorang istri melihat keburukan suaminya..
Ia sibuk memikirkan keburukan tersebut..
Hingga hilang semua kebaikan suaminya..
Timbullah perbuatan nusyuz.. Atau setidaknya berkurang rasa cintanya..
Padahal mungkin suaminya sudah banyak berbuat baik kepadanya..

Ketika seorang lelaki melihat wanita jelita..
Lalu ia sibuk membayangkan keindahannya..
Ia pun lupa dari berdzikir kepada Allah..
Lupa bahwa bidadari surga lebih indah dan jelita..
Lalu muncul keinginan yang terlarang..

Ketika melihat gemerlapnya dunia..
Ia berfikir.. Dan terus sibuk memikirkannya..
Seperti orang yang melihat kemewahan si Qorun..
Ia berkata, “Andai aku kaya seperti dia.. Duhai beruntung sekali rasanya..”
Suasana hatinya berubah.. Ia menilai kehormatan sebatas dengan kekayaan.. kedudukan.. dan kenikmatan dunia..

Sementara temannya yang mukmin berkata..
“Celaka kamu.. Pahala Allah lebih baik dan lebih kekal..”
Dunia hanyalah kesenangan sesaat..
Lalu ia akan hancur dan musnah..

Hari ini..
Esok dan lusa..
Kita sibuk berfikir apa..??
Moga Allah memberi kita kekuatan untuk selalu berfikir positif..
Amin..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 

da0812151702

Fokuslah Pada Kewajiban

Fokuslah pada kewajiban.. in-syaa Allah hak Anda akan sampai juga.. jangan sebaliknya.

=====

Seringkali kita merasa sudah banyak memanggil Allah dalam doa-doa kita, tapi belum juga Dia ijabahi; dan dengan ini setan berhasil membuat kita sedih.

Tidakkah kita berpikir, berapa kali Allah memanggil kita, dan seringkali kita tidak menaati-Nya..?!

Ingatlah selalu firman-Nya:
“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku).”  [Al-Baqoroh: 186].

Ya, janganlah kita hanya menuntut hak, tapi kita lupakan kewajiban, baik dalam hubungan kita dengan sesama, maupun dalam hubungan kita dengan Allah.

Bahkan harusnya kita fokus pada kewajiban dan menjalankannya sebaik mungkin, pasti Allah akan memberikan yang kita inginkan, bahkan melebihi apa yang kita inginkan…

Sebagaimana Allah telah memberikan banyak kenikmatan saat kita dilahirkan, padahal kita belum berbuat apapun kepada-Nya.

Subhanallah walhamdulillah, wa laailaha illallah, wallohu akbar, wala haula wala quwwata illa billah..

Silahkan dishare, semoga bermanfaat…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

da1501171456

KITAB FIQIH – Qodho’ Sholat Hari Raya

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Surat Yang Dibaca Dalam Sholat Hari Raya  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. masih tentang sholat Ied

⚉ MENGQODHO’ SHOLAT IED

Dari Abu Umair bin Anas bin Malik ia berkata, bercerita kepadaku pamanku/bibiku dari Anshor dari sahabat Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam mereka berkata, pernah pernah terjadi mendung sehingga tidak terlihat hilal syawal, maka pada waktu pagi kamipun berpuasa, lalu datanglah beberapa kafilah diakhir siang dan mereka bersaksi kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bahwa mereka melihat hilal kemarin, maka Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk berbuka puasa saat itu dan agar keesokan harinya keluar menuju sholat ied..” (HR Imam Ibnu Majah)

Hadits ini menunjukkan jika ternyata terjadi keadaan seperti itu tidak melihat hilal kemudian setelah itu berpuasa kemudian diperjalanan ada orang yang bersaksi bahwa ia melihat hilal lalu imam menerima persaksiannya maka pada waktu itu diqodho’ sholat Iednya pada hari keesokannya.

Ini menunjukkan juga bahwa orang yang melihat hilal tidak boleh ia langsung mengumumkan tapi hendaklah ia melaporkannya kepada pemimpin kaum muslimin maka pemimpinlah yang mengumumkan dan merekalah yang berhak untuk mengumumkan kapan Ramadhan dan kapan Iedul fitr.

Jadi pengumuman kapan Ramadhan dan Iedul fitr itu bukan hak kelompok tertentu dan bukan hak individu akan tetapi ia adalah hak dari pemerintah karena untuk menjaga persatuan kaum muslimin dinegeri tsb.

⚉ BAGAIMANA JIKA TERLUPUT SHOLAT IED SECARA BERJAMA’AH ?

➡ Imam Bukhori berkata dalam shahihnya dalam bab, “apabila seorang terluput sholat ied secara berjama’ah maka hendaklah ia sholat dua roka’at, demikian pula para wanita dan orang orang yang ada dirumah dan dipedesaan..”

Berdasarkan sabda Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam, “ini adalah hari raya kita al islam..”

➡ Dan Anas bin Malik memerintahkan maulanya, yaitu Ibnu Abi ‘Uthbah yang ada di Zawiyah dimana ia menyuruh untuk mengumpulkan keluarganya dan anak-anaknya untuk sholat Ied seperti halnya orang kota melakukan sholat Ied, bertakbirnyapun juga sama.

Maksudnya atsar Anas ini bahwa, mereka yang berada di Zawiyah yang jauh dari perkotaan sehingga tidak bisa ikut berjama’ah sholat Ied, maka Anas tetap menyuruh mereka untuk sholat dirumah/ditempat mereka sama halnya sholat seperti biasa namun tanpa ada khutbah,

➡ Berkata Ikrimah, mereka yang berada dipedesaan (pedesaan di Saudi itu paling berisi 3 kepala rumah tangga/3 keluarga lebih sedikit berbeda dengan desa di Indonesia. Pent) mereka yang berada dipedesaan tetap mereka diperintahkan berkumpul untuk sholat Ied dan sholat dua roka’at sebagaimana dilakukan oleh imam.

➡ Berkata ‘Atho’, “apabila ada orang yang terluput dari sholat Ied secara berjama’ah tetaplah ia sholat dua roka’at. Ini pendapat jumhur..”

➡ Sementara Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berpendapat, “bahwa orang yang terluput dari sholat Ied maka ia tidak disyari’atkan untuk mengqodhonya tidak pula sholat sendirian dirumahnya..”

Mengapa demikian ?
Karena beliau memandang sholat Ied itu sama dengan sholat Jum’at, akan tetapi pendapat yang paling kuat adalah pendapat jumhur bahwa mereka yang terluput dari sholat berjama’ah hendaklah ia sholat walaupun ia sholat sendirian.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

Akibat DUA Perkara

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
تحصل الهموم والغموم ‏والأحزان من جهتين :
‏احداهما: الرغبة فى الدنيا والحرص عليها
‏والثانى : التقصير فى أعمال البر والطاعة”
“Kegundahan dan kesedihan terjadi akibat dua perkara:
Pertama: Terlalu menginginkan dunia dan tamak padanya.
Kedua: Melalaikan amal kebaikan dan ketaatan..”

(Uddatush-shobirin 1/265)

Saat hati sangat menginginkan dunia..
Ia menjadi gundah karenanya dan khawatir tidak dapat meraihnya..
Bila ia telah meraihnya..
Ia dihinggapi kekhawatiran untuk kehilangannya..

Namun ketika hati mengharapkan akhirat..
Ia berharap pahala saat mencari dunia..
Ketika ia telah meraihnya..
Ia khawatir hisabnya kelak di hari akhirat..
Sehingga dunia itu tidak ia simpan di hatinya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

Dengki

الحقد أصل الشرِّ، ومن أضمر الشر في قلبه أنبت له نباتًا مرًّا مذاقه، نماؤه الغيظ، وثمرته الندم
(روضة العقلاء ص ١٣٤)

Ibnu Hibban rohimahullah berkata,
“Dengki adalah pokok keburukan. Siapa yang menyembunyikan keburukan di hatinya maka akan tumbuh pohon yang pahit rasanya. Tumbuhnya dari kemarahan, dan buahnya adalah penyesalan..”
[ Roudhotul ‘Uqolaa – 134 ]

Dengki yang membuat iblis tak mau tunduk kepada perintah Allah untuk sujud kepada Adam alaihissalam..
Dengki yang membuat kaum yahudi tak mau beriman kepada nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam..
Dengki seringkali menghinggapi orang yang diberi kelebihan lalu ada saingan yang melebihinya..

Hampir tak ada hati yang selamat dari dengki..
Karena hidup tak lepas dari persaingan..
Namun orang orang mulia berusaha memadamkan kedengkiannya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

Pokok Semua Kesalahan Ada TIGA

قال ابن القيم – رحمه الله – :
” أصول الخطايا كلها ثلاثة :
الكِبْرُ : وهو الذي صار إبليس إلى ما أصاره .
والحرص : وهو الذي أخرج آدم من الجنة .
والحسد : وهو الذي جر ابن آدم على أخيه .
فمن وقي شر هذه الثلاثة فقد وقي الشر فالكفر من الكبر والمعاصي من الحرص والبغي والظلم من الحسد ” .

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Pokok semua kesalahan ada tiga (yaitu)..

1️⃣ Sombong. Hal inilah yang menjadikan Iblis seperti itu.
2️⃣ Rakus (Ambisi). Hal inilah yang menjadikan nabi Adam dikeluarkan (Allah) dari dalam Surga.
3️⃣ Iri dan dengki. Inilah yang menyebabkan putra Adam (Qobil) berbuat zholim terhadap saudaranya (yaitu membunuh Habil).

Maka barangsiapa dilindungi (Allah) dari keburukan tiga kesalahan tersebut, maka sungguh ia telah dilindungi dari segala keburukan. Yang demikian ini karena kekufuran itu terjadi disebabkan sifat sombong, perbuatan maksiat disebabkan sifat rakus (ambisi terhadap dunia), dan perbuatan zholim terjadi disebabkan sifat iri dan dengki..”

(Lihat kitab Al-Fawaaid hal. 58)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Muhammad Wasito MA,  حفظه الله تعالى

KAIDAH DALAM AT-TAKFIIR – Mengkafirkan Secara Individu

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Melakukan Perbuatan Yang Terlarang) bisa di baca di SINI

=======
.
🌿 Mengkafirkan Secara Individu 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan.. At Takfiir wa Dhowabithhu.. sekarang kita masuk kepada pembahasan kaidah-kaidah dalam masalah..

⚉ TAKFIR MUAYYAN – MENGKAFIRKAN SECARA INDIVIDU

Perlu kita ketahui bahwa takfir (mengkafirkan) itu ada 2 macam:
1️⃣ Takfir mengkafirkan perbuatan yang disebut dengan istilah TAKFIR MUTLAK.
2️⃣ Takfir individu yang melakukan perbuatan tersebut, yang disebut dengan TAKFIR MUAYYAN.

Orang yang jatuh kepada perbuatan kekufuran maka tidak mengharuskan orangnya langsung dikafirkan.. maka dari itu kita wajib memahami kaidah ini, itu dibedakan dengan takfir mutlak dan takfir muayyan

⚉ Contoh takfir mutlak, Allah berfirman: [QS Al-Maidah: 44]

‎وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia kafir”

Ini namanya takfir mutlak (mengkafirkan perbuatan).

Apakah individu pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah kita kafirkan berdasarkan ayat ini ? Tidak ! Belum tentu. Sampai tegak padanya hujjah dan hilang darinya syubhat.

Makanya Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam tidak mengkafirkan Najasi, padahal Najasi masuk Islam dan selama ia masuk Islam ia tidak berhukum dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala karena ada penghalang yang untuk dikafirkan, dan dalil tentang masalah ini banyak, diantaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: [QS Al-Isra’ :15]

‎كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

“Dan kami tidaklah akan mengadzab suatu kaum sampai kami utus kepada mereka Rosul terlebih dahulu”

Al Qurtubi rohimahullah berkata, “dalam ayat itu terdapat dalil bahwasanya orang yang belum sampai kepadanya dakwah Rosulullah, belum sampai kepadanya perintahnya, maka pada waktu itu ia tidak diberikan sanksi”

Demikian pula hadits, bahwa Mu’adz bin Jabbal rodhiyallahu ‘anhu ketika pulang dari Syam, ketika sampai di hadapan Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam maka ia sujud kepada Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam. Maka Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam bertanya, “Apa ini, hai Mu’adz ?”
Mu’adz berkata: “Aku melihat di Syam, orang-orang sujud kepada pendeta-pendera mereka, maka aku ingin melakukan ini kepada Engkau wahai Rosulullah”
Maka Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “jangan kamu lakukan itu, karena kalau Aku memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah, Aku akan perintahkan seorang istri sujud kepada suaminya”

Maksudnya bahwa sujud itu hanya kepada Allah saja. Dalam syari’at Islam, sujud kepada Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam, sujud kepada manusia termasuk syirik besar.

Namun Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam tidak langsung mengkafirkan Mu’adz.. Kenapa ? Karena ada syubhat, ada ta’wil
Demikian pula Hadits yang dikeluarkan Imam Bukhori, “bahwa Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam datang ketika
Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam masuklah kepadaku, kata Rubayi’ binti Mu’awidz. Lalu ada dua hamba sahaya wanita yang bernyanyi dengan sya’ir dengan memakai rebana. Salah satunya berkata, “dan pada kami ada Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi pada yang akan datang”

Ucapan ini, ucapan yang kufur, kenapa ? Karena mengatakan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam tahu yang ghoib, padahal yang mengetahui yang ghoib hanyalah Allah, ini termasuk syirik Rubuubiyah. Maka Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “tinggalkan ucapan tersebut, ucapkan dengan ucapan sebelum ini” artinya yang wajar..

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam di sini tidak langsung mengkafirkan hamba sahaya wanita tersebut, padahal ucapannya mengandung syirik besar yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Imam Syaafi’i rohimahullah mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama dan sifat yang di kabarkan oleh AlQur’an, demikian pula oleh Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam kepada ummatnya, maka tidak boleh seorangpun yang sudah tegak padanya hujjah untuk menolak nama dan sifatnya..”

“Adapun sebelum tegaknya hujjah maka ia diberikan udzur dengan kebodohan,” kata Imam Syaafi’i rohimahullah, “dan kami tidak mengkafirkan seorangpun karena kebodohan, kecuali telah sampai kepadanya keterangan” (Disebutkan oleh Ibnul Qoyyim dalam Kitab Ijtimaa’ al-Juyuush al-Islaamiiyah hal 165)
.
Wallahu a’lam 🌼
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

.
Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – At Takfiir wa Dhowabithhu – Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

KITAB FIQIH – Surat Yang Dibaca Dalam Sholat Hari Raya

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Sifat Sholat 2 Hari Raya  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. masih tentang sholat Ied

⚉ SURAT APA YANG DIBACA DALAM SHOLAT IED ?

Yang dibaca dalam Sholat Ied, terkadang Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam membaca di roka’at pertama Surat al-A’la (Sabbihisma Robbikal A’laa..).. dan roka’at kedua Surat Al-Ghosyiyah (Hal Ataaka Hadiitsul ghoosyiah..)

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Hadits An-Nu’man bin Basyir rodhiyallahu ‘anhu kemudian pula dari Hadits Samurah rodhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya.

Dan Terkadang Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam membaca di roka’at pertama Surat Al-Qomar (Qs 54).. dan roka’at kedua Surat Qaf (Qs 50). Itu dalam Hadits Abu Waqid al-Laitsiy rodhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Al Imam Muslim.

⚉ APAKAH DISYARI’ATKAN SHOLAT SUNNAH SEBELUM ATAU SESUDAH SHOLAT IED ?

Jawab : Tidak di syariatkan

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, ”Bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam keluar menuju sholat Idul Fitr dua roka’at. Beliau shollallahu ‘alayhi wa sallam tidak sholat apa pun sebelumnya dan setelahnya..” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Berkata Abu Mualla, “aku mendengar Sa’id dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa, Ia tidak menyukai sholat sebelum Sholat Ied”

Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar rohimahullah dalam Fathul Baari dijilid 2 halaman 476 menyebutkan beberapa pendapat ulama tentang masalah ini. Dan menjelaskan tentang ada yang berpendapat boleh, ada yang mengatakan tidak boleh, dan ada yang membedakan antara imam dan makmum, dan beliau mengatakan, “Orang yang tidak melaksanakan sholat sunnah sebelum atau setelahnya karena melihat Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam tidak melakukannya.. siapa yang mengikuti Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam tentu dia telah mendapatkan hidayah/petunjuk..”

⚉ DISYARI’ATKAN KHUTBAH IED SETELAH SHOLAT IED

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa, dia berkata, ”Aku menyaksikan sholat bersama Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman, maka mereka semua melakukan sholat ied sebelum khutbah..” (HR. Muslim)

Artinya Khutbahnya setelah Sholat.

⚉ APAKAH IMAM MEMBUKA KHUTBAHNYA DENGAN TAKBIR ?

Ini terjadi Ikhtilaf para ulama. Pendapat Jumhur ulama dan itu Madzab Imam yang Empat mengatakan bahwa disunnahkan membuka khutbah dengan takbir karena berdasarkan sebuah atsar, Tabi’in yang bernama Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Uthbah yang mengatakan bahwa termasuk sunnah yaitu bahwa untuk khutbah pertama dimulai dengan sembilan kali takbir, dan khutbah kedua dengan Tujuh kali takbir, Akan tetapi ini perkataan Tabi’in.
Adapun perkataan Tabi’in “termasuk sunnah” tidak bisa dinyatakan itu sunnah Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam.

Sementara Syaikhul Islam Taimiyyah rohimahullah berpendapat bahwa khutbah ied tidak ada bedanya dengan khutbah yang lainnya, Yaitu dimulai dengan memuji-muji Allah Subhana wa Ta’ala yang disebut dengan khutbatul hajjah, dan tidak ada satupun hadits yang shohih bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam memulai khutbah dengan takbir. Ini Pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah dan yang dirojihkan oleh Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah yang dipilih oleh Syaikh Albani rohimahullah

Yang jelas mereka yang hendak memulai khutbah dengan takbir ini ada atsar dari Tabi’in, tapi bagi mereka yang memulai khutbah dengan memuji Allah Subhana wa Ta’ala kembali kepada perbuatan Rosullullah shollallahu ‘alayhi wa sallam.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

Multi Niat… Multi Pahala…

Sungguh umur kita sangat terbatas…, harus kita akui bahwa waktu yang kita gunakan untuk beramal sholeh sangat sedikit… berbeda dengan waktu yang kita gunakan untuk urusan dunia. Kita butuh strategi dalam beramal agar dengan amal yang terbatas kita bisa meraih pahala yang lebih banyak.

Diantara strategi yang mungkin bisa kita lakukan adalah memperbanyak niat yang baik dalam satu amalan. Semakin banyak niat baik yang diniatkan oleh seorang hamba maka semakin banyak pahala yang akan ia peroleh.

Beberapa perkara yang penting untuk diingat kembali :

⚉    PERTAMA : Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنّمَا الأَعْمَالُ بالنِّيّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امرِىءٍ مَا نَوَى

Hanyalah amalan-amalan tergantung pada niat-niat. Dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan (HR Al-Bukhari no 1 dan Muslim no 1907)

Dan keumuman hadits ini menunjukkan seseorang mendapatkan ganjaran berdasarkan niatnya, maka jika ia berniat banyak ia akan mendapatkan banyak pahala.

⚉    KE-DUA : Sekedar niat yang kuat maka telah mendatangkan pahala

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَمَنْ هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَها اللهُ تَبَارَكَ وتَعَالى عِنْدَهُ حَسَنَةً كامِلَةً، وَإنْ هَمَّ بهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عَشْرَ حَسَناتٍ إِلى سَبْعمئةِ ضِعْفٍ إِلى أَضعَافٍ كَثيرةٍ

Barangsiapa berniat untuk melakukan kebaikan lalu tidak jadi melakukannya maka Allah tabaaraka wa ta’ala mencatat disisi-Nya satu kebaikan sempurna, dan jika ia berniat untuk melakukannya lalu melakukannya maka Allah mencatatnya sepuluh  kebaikan sampai tujuh puluh kali lipat sampai berlipat-lipat yang banyak.” (HR Al-Bukhari no 6491 dan Muslim no 128)

Tatkala Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari perang Tabuk dan telah dekat dengan Madinah beliau berkata:

إِنَّ بالمدِينَةِ لَرِجَالًا ما سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا، إلاَّ كَانُوا مَعَكمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ». وَفي روَايَة: «إلاَّ شَرَكُوكُمْ في الأجْرِ

Sesungguhnya di Madinah ada para laki-laki yang mana tidaklah kalian menempuh perjalanan tidak pula melewati lembah melainkan mereka bersama kalian, sakit telah menghalangi mereka.” Diriwayat yang lain “…melainkan mereka berserikat dengan kalian dalam pahala (HR Al-Bukhari no 4423 dan Muslim no 1911)

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

«مَنْ سَألَ اللهَ تَعَالَى الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ، وَإنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ»

Barangsiapa meminta kepada Allah mati syahid dengan (penuh -pent) kejujuran maka Allah akan menyampaikannya pada kedudukan syuhada walaupun ia mati di atas tempat tidurnya (HR Muslim no 1909)

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إنَّمَا الدُّنْيَا لأرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَعِلمًا، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ للهِ فِيهِ حَقًّا، فَهذا بأفضَلِ المَنَازِلِ. وَعَبْدٍ رَزَقهُ اللهُ عِلْمًا، وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ، يَقُولُ: لَوْ أنَّ لِي مَالًا لَعَمِلتُ بِعَمَلِ فُلانٍ، فَهُوَ بنيَّتِهِ، فأجْرُهُمَا سَوَاءٌ. وَعَبْدٍ رَزَقَهُ الله مَالًا، وَلَمَ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخبطُ في مَالِهِ بغَيرِ عِلْمٍ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلاَ يَعْلَمُ للهِ فِيهِ حَقًّا، فَهذَا بأَخْبَثِ المَنَازِلِ. وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلاَ عِلْمًا، فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بعَمَلِ فُلاَنٍ، فَهُوَ بنِيَّتِهِ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

“Sesungguhnya dunia ini untuk empat orang:
1. seorang hamba yang telah Allah anugerahi harta dan ilmu maka iapun mentaati Robbnya pada (*penggunaan) harta dan ilmunya, menyambung silaturahim, dan mengetahui pada ilmu dan hartanya tersebut ada hak Allah, maka orang ini berada pada kedudukan yang paling utama.

2. Dan seorang hamba yang Allah anugerahi ilmu akan tetapi tidak Allah anugerahi harta maka iapun mempunyai niat yang benar, ia berkata “Seandainya aku memiliki harta sungguh aku akan beramal sebagaimana amalan fulan”, maka ia dengan niatnya pahala keduanya sama.

3. Dan seorang hamba yang Allah anugerahi harta akan tetapi tidak Allah anugerahi ilmu maka iapun ngawur menggunakan hartanya tanpa ilmu. Ia tidak mentaati Robbnya pada hartanya, tidak pula menyambung silaturahim, tidak mengetahui bahwasanya pada hartanya itu ada hak Allah. Maka orang ini berada pada tingkatan paling buruk.

4. Dan seorang hamba yang tidak Allah anugerahi harta maupun ilmu maka iapun berkata, “Seandainya aku memiliki harta tentu aku akan menggunakan hartaku sebagaimana perbuatan si fulan” maka ia dengan niatnya dosa keduanya sama” (HR At-Thirmidzi no 2325)

⚉    KE-TIGA : Jika seorang telah berniat lalu berusaha beramal dan ternyata amalannya tidak sesuai dengan yang ia niatkan maka ia tetap mendapatkan pahala

وعن أبي يَزيدَ مَعْنِ بنِ يَزيدَ بنِ الأخنسِ – رضي الله عنهم – وهو وأبوه وَجَدُّه صحابيُّون، قَالَ: كَانَ أبي يَزيدُ أخْرَجَ دَنَانِيرَ يَتَصَدَّقُ بِهَا، فَوَضعَهَا عِنْدَ رَجُلٍ في الْمَسْجِدِ، فَجِئْتُ فأَخذْتُها فَأَتَيْتُهُ بِهَا. فقالَ: واللهِ، مَا إيَّاكَ أرَدْتُ، فَخَاصَمْتُهُ إِلى رسولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – فقَالَ: «لكَ مَا نَوَيْتَ يَا يزيدُ، ولَكَ ما أخَذْتَ يَا مَعْنُ»

Dari Abu Yazid Ma’an bin Yazid bin Akhnas rodhiyallahu ‘anhum –dia, bapaknya dan kakeknya adalah sahabat Nabi-, dia berkata, “Dulu Abu Yazid mengeluarkan dinar-dinar untuk disedekahkan, maka iapun meletakkannya  di samping seseorang di masjid, maka akupun datang dan mengambilnya. Kemudian aku mendatanginya dengan membawa sedekah tersebut”, ia berkata, “Demi Allah, yang aku inginkan bukan engkau.” Maka aku pun mengadukannya kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Bagimu apa yang kamu niatkan wahai Yazid dan bagimu apa yang kamu ambil wahai Ma’an ” (HR Al-Bukhari no 1422)

Sang ayah tidak bermaksud sedekahnya diberikan kepada sang anak, akan tetapi Allah menetapkan bagai sang ayah pahala karena niatnya yang baik, meskipun akhirnya harta sedekah tersebut kembali kepada sang ayah. Karena sang anak di bawah tanggungan sang ayah

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

قاَلَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ اللَّيْلَةَ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ زَانِيَةٍ فَأَصْبَحُوْا يَتَحَدَّثُوْنَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ، لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ غَنِيٍّ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُوْنَ تُصُدِّقَ عَلَى غَنِي قَالَ اللَّهُمَّ لك الْحَمْدُ عَلَى غَنِيٍّ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُوْنَ تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِيٍّ وَعَلَى سَارِقٍ فَأُتِيَ فَقِيْلَ لَهُ : أَمَّا صَدَقَتُكَ فَقَدْ قُبِلَتْ أَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا تَسْتَعِفُّ بِهَا عَنْ زِنَاهَا وَلَعَلَّ الْغَنِيُّ يَعْتَبِرُ فَيُنْفِقُ مِمَّا أَعْطَاهُ اللهُ وَلَعَلَّ السَّارِقَ يَسْتَعِفُّ بِهَا عَنْ سَرِقَتِهِ

Seseorang telah berkata, ‘Sungguh aku akan bersedekah malam ini.’ Kemudian ia keluar untuk bersedekah maka ia menyedekahkannya ke tangan seorang pezina. Pada keesokan harinya, orang-orang membicarakan (bahwa) sedekah telah diberikan kepada seorang pezina. Ia berkata, “Yaa Allah, segala puji bagiMu, sedekahku (ternyata) jatuh pada seorang pezina, sungguh aku akan bersedekah”. Kemudian ia keluar untuk bersedekah maka ia menyedekahkannya kepada orang kaya. Pada keesokan harinya, orang-orang membicarakan (bahwa) sedekah telah diberikan kepada orang kaya. Ia berkata, “Yaa Allah, segala puji bagiMu, sedekahku (ternyata) jatuh pada seorang kaya, sungguh aku akan bersedekah”. Kemudian ia keluar untuk bersedekah maka ia menyedekahkannya kepada pencuri. Pada keesokan harinya, orang-orang membicarakan (bahwa) sedekah telah diberikan kepada seorang pencuri. Ia berkata, “Yaa Allah, segala puji bagiMu, sedekahku (ternyata) jatuh pada seorang pezina, orang kaya, dan seorang pencuri”. Maka ia didatangi (*dalam mimpi) dan dikatakan padanya, adapun sedekahmu maka telah diterima, adapun pezina  mudah-mudahan dengan (sebab sedekahmu) ia mejaga diri dari zina, dan mudah-mudahan orang kaya tersebut mengambil pelajaran kemudian menginfakkan harta yang Allah berikan, dan mudah-mudahan dengan sebab itu pencuri tersebut menjaga diri dari mencuri. (HR Muslim no 1022)

⚉    KE-EMPAT : Niat yang baik merubah pekerjaan yang asalnya hukumnya hanya mubah menjadi suatu qurbah (ibadah) yang diberi ganjaran oleh Allah.

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Sa’ad bin Abi Waqqoosh rodhiallahu ‘anhu

وَإنَّكَ لَنْ تُنفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغي بِهَا وَجهَ اللهِ إلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ في فِيِّ امْرَأَتِكَ

Sesungguhnya tidaklah engkau menginfakkan satu infakpun yang dengan infak tersebut engkau mengharapkan wajah Allah kecuali engkau akan diberi ganjaran atasnya, sampai-sampai suapan yang kau suapkan ke mulut istrimu (HR Al-Bukhari no 56 dan Muslim no 1628

Mu’aadz bin Jabal rodhiallahu ‘anhu berkata,

أَمَّا أَنَا فَأَنَامُ وَأَقُومُ وَأَرْجُو فِي نَوْمَتِي مَا أَرْجُو فِي قَوْمَتِي.

Adapun aku, maka aku tidur dan sholat malam, dan aku berharap pahala dari tidurku sebagaimana pahala yang aku harapkan dari sholat malamku (HR Al-Bukhari no 6923 dan Muslim no 1733)

An-Nawawi rohimahullah berkata, “Maknanya adalah aku tidur dengan niat untuk menguatkan diriku dan berkonsentrasi untuk ibadah serta menyegarkan/menyemangatkan diri untuk ketaatan, maka aku berharap pahala pada tidurku ini sebagaimana aku berharap pahala pada sholat-sholatku” (Al-Minhaaj syarh Shahih Muslim 12/209)

Ibnu Hajr rohimahullah berkata,

وَمَعْنَاهُ: أَنَّهُ يَطْلُب الثَّوَاب فِي الرَّاحَة كَمَا يَطْلُبهُ فِي التَّعَب, لِأَنَّ الرَّاحَة إِذَا قُصِدَ بِهَا الْإِعَانَة عَلَى الْعِبَادَة حَصَّلَتْ الثَّوَاب

“Maknanya adalah ia mencari ganjaran pahala dalam istirahat sebagaimana ia mencarinya dalam kelelahan (ibadah), karena istirahat jika dimaksudkan untuk membantu dalam beribadah maka akan mendatangkan pahala” (Fathul Baari 8/62)

Ibnu Qudaamah rohimahullah berkata : Sebagian para salaf berkata, “Sungguh aku lebih senang jika pada setiap yang aku lakukan terdapat sebuah niat, sampai-sampai pada makanku, minumku, tidurku, dan ketika masuk ke dalam wc, serta pada semua yang bisa diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Karena semua yang menjadi sebab tegaknya badan dan luangnya hati adalah bagian dari kepentingan agama, maka, siapa saja yang meniatkan makannya sebagai bentuk ketakwaan dalam beribadah, menikah untuk menjaga agamanya, menyenangkan hati keluarganya, dan agar bisa memiliki anak yang menyembah Allah setelah wafatnya maka ia akan diberi pahala atas semua hal itu.

Jangan kamu remehkan sedikitpun dari gerakanmu dan kata-katamu, dan hisablah dirimu sebelum engkau dihisab, dan luruskanlah sebelum engkau melakukan apa yang engkau lakukan, dan juga perhatikanlah niatmu terhadap hal-hal yang engkau tinggalkan.” (Mukhtashor Minhaaj Al-Qooshidiin hal 363)

⚉    Contoh praktek Multi Niat Pada Satu Amalan Sholeh

Ibnu Qudaamah Al-Maqdisi rohimahullah berkata :

الطاعات، وهى مرتبطة بالنيات في أصل صحتها، وفى تضاعف فضلها، وأما الأصل، فهو أن ينوى عبادة الله تعالى لا غير، فإن نوى الرياء صارت معصية . وأما تضاعف الفضل، فبكثرة النيات الحسنة، فإن الطاعة الواحدة يمكن أن ينوى بها خيرات كثيرة، فيكون له بكل نية ثواب، إذ كل واحدة منها حسنة، ثم تضاعف كل حسنة عشر أمثالها

Ketaatan-ketaatan berkaitan dengan niat dari sisi sahnya ketaatan tersebut dan dari sisi berlipat gandanya ganjaran/pahala ketaatan tersebut. Adapun dari sisi sahnya maka hendaknya ia berniat untuk beribadah kepada Allah saja dan bukan kepada selain-Nya, jika ia meniatkan riyaa maka ketaatan tersebut berubah menjadi kemaksiatan.

Adapun dari sisi berlipat gandanya pahala, yaitu dengan banyaknya niat-niat baik. Karena satu ketaatan memungkinkan untuk diniatkan banyak kebaikan, maka baginya pahala untuk masing-masing niat. Karena setiap niat merupakan kabaikan, kemudian setiap kebaikan akan dilipat gandakan menjadi 10 kali lipat (Mukhtashor Minhaaj Al-Qosshidiin hal 362)

Diantara contoh praktek menggandakan niat-niat kebaikan dalam satu amalan adalah :

➡️   PERTAMA : Duduk di mesjid

Ibnu Qudaamah rohimahullah berkata :

Sebagai contoh duduk di masjid, maka sesungguhnya hal itu adalah salah satu amalan ketaatan, dengan hal itu seseorang bisa meniatkan niat yang banyak seperti meniatkan dengan masuknya menunggu waktu sholat, iktikaf, menahan anggota badan (dari maksiat –pent), menolak hal-hal yang memalingkan dari Allah dengan mempergunakan seluruh waktunya untuk di masjid, untuk dzikir kepada Allah dan yang semisalnya. Inilah cara untuk memperbanyak niat maka qiyaskanlah dengan hal ini amalan-amalan ketaatan lainnya karena tidak ada satu ketaatanpun melainkan dapat diniatkan dengan niat yang banyak.” (Mukhtashor Minhaaj Al-Qosshidiin hal 362 )

➡️   KE-DUA :  Menuntut Ilmu

Imam Ahmad rohimahullah berkata :

الْعِلْمُ أَفْضَلُ الأَعْمَالِ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ، قِيْلَ : بِأَيِّ شَيْءٍ تَصِحُّ النِّيَّةُ قَالَ: يَنْوِي يَتَوَاضَعُ فِيْهِ وَيَنْفِي عَنْهُ الْجَهْلَ

“Ilmu adalah amalan yang termulia bagi orang yang niatnya benar”.

Lalu dikatakan kepada beliau, “Dengan perkara apa agar niat menjadi benar ?”, Imam Ahmad berkata, “Ia niatkan untuk bersikap tawadhu pada ilmunya, dan untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya” (Al-Inshoof 2/116)

Imam Ahmad rohimahullah juga berkata :

العِلْمُ لاَ يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ “. قَالُوا: كَيْفَ ذَلِكَ؟ قَالَ: “يَنْوِي رَفْعَ الْجَهْلَ عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ غَيْرِهِ

“Tidak ada sesuatupun yang setara dengan ilmu bagi orang yang benar niatnya”, mereka berkata, “Bagaimana caranya ?”. Imam Ahmad berkata, “Yaitu ia berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan juga dari orang lain” (Majmuu’ Fataawaa wa Rosaail Syaikh Ibnu Al-‘Utsaimiin 26/75)

Ilmu menjadi amalan yang paling mulia tatkala dibarengi dengan banyak niat baik, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad rohimahullah yaitu jika diniatkan untuk agar bisa tawaadhu’ dan juga untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan juga untuk berdakwah dalam rangka untuk menghilangkan kebodohan dari orang lain.

Syaikh Ibnu Al-‘Utsaimin rohimahullah menyebutkan beberapa niat yang hendaknya ditanam dalam hati seorang penuntut ilmu tatkala ia menuntut ilmu, diantaranya ;

⚉    Berniat untuk menjalankan perintah Allah
⚉    Berniat untuk menjaga syari’at Islam, karena menuntut ilmu adalah sarana terbesar untuk menjaga kelestarian syari’at (hukum-hukum Islam)
⚉    Berniat untuk membela agama, karena agama memiliki musuh-musuh yang ingin merusak agama ini, diantaranya dengan menyebarkan syubhat-syubhat
⚉    Berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya
⚉    Berniat untuk menghilangkan kebodohan dari orang lain

➡️   KE-TIGA : Tatkala berangkat ke mesjid

Bisa dengan meniatkan perkara-perkara berikut :

1.      Memakmurkan masjid, Allah berfirman “Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir” (QS At-Taubah : 18)
2.      Senyum kepada saudara, karena hal itu adalah sedekah
3.      Menyebarkan salam
4.      Menghadiri shalat jama’ah
5.      Memperbanyak jumlah kaum muslimin
6.      Berdakwah dijalan Allah
7.      Merasa bangga karena Allah menyebut-nyebut namamu
8.      Menunggu sesaat turunnya ketenangan untuk mengkhusyu’kan hati
9.      Menghadiri majelis-majelis ilmu
10.   Menunggu turunnya rahmat
11.   Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan wajib dan amalan-amalan sunnah untuk mendapatkan kecintaan Allah

➡️   KE-EMPAT : Tatkala membaca atau menghafal Al-Qur’an

Dengan meniatkan perkara-perkara berikut :

1.      Berniat untuk mendapat kebaikan pada setiap huruf
2.      Mengingat negeri akhirat
3.      Mentadabburi ayat-ayat al-qur’an
4.      Agar mendapatkan syafa’at al-qur’an
5.      Mendekatkan diri kepada Allah dengan membaca firman-firman-Nya
6.      Mengamalkan hal-hal yang terkandung di dalam al-qur’an
7.      Mengangkat derajat di surga dengan menghafalkan ayat-ayatNya

➡️   KE-LIMA : Tatkala menjenguk orang sakit

1.      Berniat untuk menunaikan salah satu hak seorang muslim, yaitu menjenguknya jika sakit
2.      Mengingat Hadits qudsi “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa jika kamu mengunjunginya maka kamu mendapati-Ku disisinya”
3.      Bersyukur kepada Allah atas penjagaan-Nya  terhadap dirinya dari apa-apa yang menimpa saudaranya
4.      Meminta kepada orang yang sakit untuk dido’akan (karena kedekatannya terhadap Robbnya)

➡️   KE-ENAM : Ketika puasa sunnah

1.      Mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan-amalan yang paling dicintai-Nya
2.      Agar Allah menjauhkan wajahku dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan
3.      Memerangi hawa nafsu dan menundukkannya untuk melakukan ketaatan
4.      Membelenggu syahwat (meminta penjagaan)
5.      Mengikuti sunnah Rosul shallallhu ‘alaihi wasallam (puasa senin kamis, puasa tengah bulan tgl 13-14-15 )
6.      Memperoleh kemenangan berupa sesaat dikabulkannya do’a bagi orang yang berpuasa
7.      Ikut merasakan apa yang dirasakan orang-orang fakir dan miskin
8.      Agar Allah memasukkan kita ke surga melalui pintu Ar-Royyan
9.      Barangsiapa yang membuat haus dirinya karena Allah (berpuasa) pada hari yang panas, maka Allah akan memberikan minum pada hari kiamat yang amat panas dan amat menimbulkan dahaga.

➡️   KE-TUJUH : Ketika bersedekah dengan harta

Hendaknya meniatkan:

1.      Barangsiapa menghutangi Allah hutang yang baik maka Dia akan melipatgandakannya.
2.      Berlindung dari neraka walaupun dengan separuh kurma
3.      Membantu dan menyenangkan hati faqir miskin.
4.      Untuk mengobati saudara/kerabat yang sakit. Rasulullah bersada “Obatilah orang-orang sakit diantara kalian dengan sedekah”
5.      Kalian tidak akan mencapai derajat birr (kebajikan) sampai kalian berinfak dengan apa-apa yang kalian cintai
6.      Sedekah menghilangkan kemurkaan Allah

➡️   KE-DELAPAN : Tatkala mau poligami

1.      Sebagai bentuk cinta kepada sunnah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam
2.      Untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan
3.      Untuk memperbanyak pasukan kaum muslimin
4.      Untuk menyenangkan hati Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam tatkala di akhirat, karena Nabi membanggakan umatnya yang banyak di hadapan para nabi-nabi dan umat-umat yang lain. Beliau bersabda:

تَزَوَّجوا الودود الولود؛ فإني مُكَاثِرٌ بكم الأمَم

“Menikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan membanggakan banyaknya kalian di hadapan umat-umat yang lain”
5.      Untuk menolong para wanita yang butuh perhatian para lelaki, terutama para janda
6.      Untuk memberi teladan kepada kaum muslimin jika pologaminya berhasil dan bahagia

⚉    Multi Niat Juga Berlaku Pada Perkara-Perkara Mubah

Sebagaimana penjelasan di atas bahwasanya perkara-perkara mubah jika dikerjakan dengan niat yang baik maka bisa berubah menjadi bernilai ibadah. Oleh karenanya sungguh kita telah merugi dan telah membuang banyak waktu dan tenaga dalam urusan dunia jika kita tidak meniatkannya untuk akhirat..terlalu banyak pahala tidak kita raih. Ibnu Qudaamah rohimahullah berkata:

Tidak ada satu perkara yang mubah kecuali mengandung satu atau beberapa niat yang dengan niat-niat tersebut berubahlah perkara mubah menjadi qurbah (berpahala), sehingga dengannya diraihlah derajat-derajat yang tinggi. Maka sungguh besar kerugian orang yang lalai akan hal ini, dimana ia menyikapi perkara-perkara yang mubah (*seperti makan, minum, dan tidur) sebagaimana sikap hewan-hewan ternak.

Dan tidak selayaknya seorang hamba menyepelekan setiap waktu dan betikan-betikan niat, karena semuanya akan dipertanyakan pada hari kiamat, “Kenapa ia melakukannya ?”, “Apakah yang ia niatkan ?”. Contoh perkara mubah yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah parfum (minyak wangi), ia memakai minyak wangi dengan niat untuk mengikuti sunnah Nabi, untuk memuliakan masjid, untuk menghilangkan bau tidak enak yang mengganggu orang yang bergaul dengannya” (Mukhtasor minhaaj Al-Qoosidhiin hal 362-363)

Sebagai contoh menggandakan niat dalam perkara-perkara mubah:

➡️   PERTAMA : Tatkala makan dan minum

1.      Untuk menguatkan tubuh agar bisa beribadah kepada Allah
2.      Merenungkan nikmat Allah, sebagai pengamalan firman Allah “Apakah manusia tidak melihat kepada makanannya?” (QS ‘Abasa : 24)
3.      Mensyukuri nikmat Allah
4.      Berusaha menerapkan sunnah Nabi tatkala makan dan minum

➡️   KE-DUA : Tatkala memakai pakaian

1.      Mengingat Allah (dengan membaca do’a berpakaian)
2.      Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan
3.      Bersyukur atas nikmat Allah
4.      Menghidupkan sunnah nabi melalui cara berpakaian

➡️   KE-TIGA : Tatkala menggunakan internet

1.      Menyeru kepada jalan Allah
2.      Menghadiri majelis-majelis dzikir
3.      Menyebarkan islam
4.      Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai daripada seorang mukmin yang lemah
5.      Menuntut ilmu
.
.
Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

ref : https://firanda.com/477-multi-niat-multi-pahala.html

SELESAI – Wakaf Musholla + Wakaf 2 Sumur Bor

UPDATE – SELASA MALAM – 09 DZULQO’DAH  1441 /  30 JUNI 2020
.
alhamdulillahilladzii bi-ni’matihi tatimmush-shoolihaat… dengan pertolongan Allah, seluruh dana yang diperlukan sudah terpenuhi, oleh karena itu kami SUDAHI program :
.
⚉ WAKAF TANAH + PEMBANGUNAN MUSHOLLA – Dusun Gelumpang, Suralaga, Lombok Timur
⚉ WAKAF SUMUR BOR – Dusun Kandong, Desa Lajut, Lombok Tengah
⚉ WAKAF SUMUR BOR – Dusun Mantun, Maluk, Pulau Sumbawa
.
Jazaakumullahu khoyron kepada para muhsinin/donatur yang telah dengan tulus ikhlas karena Allah menyisihkan sebagian hartanya untuk wakaf ini.
.
MOHON PERHATIAN ! Catatan sistem jam transaksi di BSM qoddarallah terlambat sekitar 10 menit dari jam transaksi yang sebenarnya, jadi contoh bila jam transaksi anda 10.00 pagi, maka yang muncul adalah jam 09.50. Berikut adalah daftar partisipasi.
.
Musholla - 30 Jun - 3

.
Dana yang masuk setelah terpenuhinya program ini akan dialokasikan dan DILAPORKAN dalam program wakaf berikutnya, in-syaa Allah
.
==========================
.
Alhamdulillah.. wash-sholaatu wassalaamu ‘alaa Rosulillah
.
⚉ Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al Bazzar dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani rohimahumallah (Shohihul Jami’, no. 3602), Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya), ‘Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah wafatnya (yaitu) :
1️⃣ Orang yang yang mengajarkan suatu ilmu,
2️⃣ Mengalirkan sungai
3️⃣ Menggali sumur
4️⃣ Menanamkan kurma
5️⃣ Membangun masjid
6️⃣ Mewariskan mushaf atau
7️⃣ Meninggalkan anak yang memohonkan ampun buatnya setelah dia meninggal..’

.
⚉ Syaikh ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr حفظه الله تعالى  (dalam al-Fawaaid al-Mantsuurah, hlm. 11-15.

terkait amal jariyah no. 3 – menggali sumur :

“Ini pahala yang didapatkan oleh orang yang memberikan minum, lalu bagaimana dengan orang yang menggali sumur yang dengan keberadaannya akan tercukupi kebutuhan minum banyak orang dan bisa dimanfaatkan oleh banyak orang..”

terkait amal jariyah no. 5 – membangun masjid) mengatakan,

“Masjid merupakan tempat yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla. Sebuah tempat yang Allah perintahkan untuk diangkat dan disebut nama-Nya di sana. Apabila masjid telah dibangun maka di sana akan dilaksanakan sholat, dibaca ayat-ayat al-Qur’an, nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla akan disebut, ilmu-ilmu akan diajarkan, serta bisa menjadi tempat berkumpulnya kaum Muslimin, masih banyak faedah-faedah yang lain. Masing-masing poin itu bisa menghasilkan pahala..
.
Dan dari Jabir bin ‘Abdillah rodhiyallahu ‘anhu, Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya), “Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.” [HR. Ibnu Majah, no. 738]

==========================
.
Dengan memohon ridho Allah, dan dalam rangka ta’awun, terbuka kembali kesempatan amal jariyah, yaitu :
.
⚉ WAKAF TANAH + PEMBANGUNAN MUSHOLLA – Dusun Gelumpang, Suralaga, Lombok Timur
⚉ WAKAF SUMUR BOR – Dusun Kandong, Desa Lajut, Lombok Tengah
⚉ WAKAF SUMUR BOR – Dusun Mantun, Maluk, Pulau Sumbawa
.
==========================
.
➡️ WAKAF TANAH + PEMBANGUNAN MUSHOLLA : 
Jumlah penduduk di Dusun Gelumpang berjumlah sekitar 100 KK (400 jiwa) yang rata-rata adalah dari keluarga kurang mampu dan berprofesi sebagai petani dan buruh tani. Meskipun demikian, alhamdulillah, dengan pertolongan Allah dakwah Tauhid telah bersemi di dusun ini dan sekitar 50% dari penduduk dusun aktif dalam mengikuti majelis-majelis ilmu. Mereka sangat berharap akan adanya sebuah musholla di dusun tsb untuk melaksanakan sholat berjama’ah 5 waktu, dan selain itu juga bisa digunakan oleh anak-anak dan para ibu-ibu untuk mendapatkan ilmu-ilmu Alqur’an dan sunnah. Alhamdulillah, sumur bor sudah tersedia di lokasi Musholla dan airnya dimanfaatkan untuk kepentingan jama’ah dan warga dusun. Berikut adalah foto dan video lokasi musholla di tempat yang sama dengan sumur bor.

Alhamdulillah, sudah tersedia tanah wakaf dan ada satu bidang tanah lagi yang akan dibebaskan in-syaa Allah, sehingga bisa dibangun Musholla dengan ukuran 10 x 8 m2 lengkap dengan tempat wudhu dan toilet. UPDATE: tanah tambahan yang akan dibebaskan untuk Musholla sebesar 50 m2, sehingga dana yang diperlukan untuk pembebasan tanah dan pembangunan Musholla (termasuk nantinya untuk alas sholat dan sound system) mencapai Rp. 255 juta. Semoga Allah mudahkan. ➡️Koordinator dan pelaksana program ini adalah Posko Assunnah Peduli Lombok.

.
==========================
.
➡️ WAKAF SUMUR BOR – Dusun Kandong
Warga Dusun Kandong, Desa Lajut, Lombok Tengah mengalami kesulitan air bersih seiring dengan datangnya musim panas, qoddarallah wa maa syaa-a fa’al. Lokasi sumur bor berada di Ponpes Sahabat Lombok sehingga in-syaa Allah air bisa dimanfaatkan oleh para santri ponpes dan warga sekitarnya. Kedalaman sumur sekitar 40-45 m dengan biaya Rp. 38 juta. ➡️ Koordinator dan pelaksana program ini adalah Posko Assunnah Peduli Lombok.


==========================
.
➡️ WAKAF SUMUR BOR – Dusun Mantun, Maluk, Sumbawa, NTB
Sebagaimana halnya dengan Dusun Kandong, warga Dusun Mantun di pulau Sumbawa juga mengalami kesulitan air bersih, dan kondisi ini berlangsung setiap tahun, qoddarallah wa maa syaa-a fa’al. Pengambilan air awalnya diambil dari bukit yang ada di foto, namun debit airnya kecil sehingga di musim panas tidak memadai, terlebih pipa sering rusak diinjak oleh sapi yang di hutan. karena pipa tidak bisa ditanam karena daerah bebatuan, qoddarallah wa maa syaa-a fa’al. Berikut adalah foto Madrasah Darul ‘Ilmi.

Lokasi sumur berada di Madrasah Darul ‘Ilmi sehingga air in-syaa Allah bisa dimanfaatkan oleh para santri madrasah dan warga sekitarnya. Kedalaman sumur sekitar 40 m dengan biaya Rp. 37 juta. ➡️ Koordinator dan pelaksana program ini adalah Posko Assunnah Peduli Lombok. Berikut adalah foto Madrasah Darul ‘Ilmi.
.
==============
➡➡ Dengan demikian, dan semoga Allah mudahkan, total dana untuk ke 3 program ini adalah Rp. 330 juta (lihat UPDATE SALDO paling atas)
.
➡ yang hendak berpartisipasi dalam program amal jariyah ini dalam bentuk INFAQ , untuk dirinya dan/atau untuk orangtua yang sudah wafat,  silahkan transfer ke :
.
Bank Syariah Mandiri (kode bank 451)
.
no. rekening : 748-000-9996
.
an. al ilmu INFAQ
.
konfirmasi (tidak harus) :
0838-0662-4622
.
jazaakumullahu khoyron kepada para muhsinin/donatur yang telah dengan tulus menyisihkan dan meng-infaq kan sebagian hartanya.
.
silahkan share ke kerabat, teman, dll karena terdapat juga pahala bagi orang yang menunjukkan jalan kebaikan.
.
Nabi shollallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

.من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه.

“barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” [ HR. Muslim no. 1893 ]
.
.
semoga Allah ‘azza wa Jalla senantiasa mudahkan urusan kita bersama… Aaamiiin

Menebar Cahaya Sunnah