Demi Masa Depan

Bekerjalah banting tulang demi masa depanmu!
Belajarlah bersungguh-sungguhdemi masa depanmu!
Bersusah payahlah, bersakit-sakit demi masa depanmu!
Sekolah yang tinggi dan raih prestasi demi masa depanmu!

Masa depan apa yang ada di benak kebanyakan manusia ? Jawabnya adalah masa depan dunia manakala seseorang berhasil meraih pangkat dan jabatan, harta dan tahta, dielu-elukan banyak pengikut dan pengangum.

Lantas, setelah harta ditangan, jabatan dipundak, kedudukan dipandang, apakah berarti kau telah mencapai garis finish mu meraih masa depan yamg dulu kau impi-impikan?

Bukankah setelah itu, tubuhmu bongkok tak lagi lentur, pandanganmu tak jeli karena mulai kabur, kulitmu tak kencang berubah mengendur, rambut hitammu pun telah tertutup oleh ubanmu pun yang mulai bertabur, secara perlahan jasadmu mendekat ke pintu kubur, untuk kemudian dipendam tanah menjadi hancur lebur, sanak keluarga, handai tolan, pengikut dan pengagummu pun pada kabur.

Jangan pernah tertipu berletih-letih menyiapkan masa depan, karena masa depan yang hakiki bukanlah di dunia fana yang sempit ini, tetapi masa depan mukmin adalah ketika dengan dua kakinya menginjak taman-taman surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Orang bijak adalah orang yang bersusah payak untuk menpersiapkan masa depannya setelah kematian, bersabar-sabar dengan menjalankan ketentuan syariat, menjauhi dosa-dosa dan bertahan dengan segala derita.

Dunia memang harus dipersiapkan, diraih dan dikejar, tetapi bukanlah tujuan hidup, dan bukanlah hakikat hidup, karena hakikat hidup itu kan diraih nanti setelah ruh berpisah dari badan.Tiada indah masa depan yang diraih didunia, namun hancur binasa terluput di akhirat kelak.

Batam, 18 Rabiul Akhir 1441/ 15 Des 2019

Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

Hakikat Hijrah Adalah Hijrah Hati

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Hijrah hati adalah hakikat dari hijrah..
sedangkan hijrah badan mengikuti hijrah hati..

ia berhijrah dari mencintai selain Allah kepada mencintai Allah..

Dari menghambakan diri kepada selain Allah menuju menghambakan diri kepada-Nya saja..

dari takut, berharap dan tawakkal kepada selain Allah, menuju takut, berharap dan tawakkal kepada-Nya saja..

Dari berdo’a, tunduk dan menghinakan diri kepada selain Allah, menuju berdo’a, tunduk dan menghinakan diri kepada-Nya saja..

Inilah makna lari kepada Allah dalam firman-Nya,

“Larilah kepada Allah.” (Adz Dzariyat: 50)

[Risalah Tabukiyah hal 16]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Mengharapkan Kelebihan Dunia Yang Dimiliki Orang Lain

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ

“Janganlah kalian mengharapkan kelebihan yang Allah berikan kepada sebagian yang lain.” (Annisaa: 32)

Ibnu ‘Abbas berkata menafsirkan,

لا يتمنى الرجل يقول: ” ليت أنّ لي مالَ فلان وأهلَه “! فنهى الله سبحانه عن ذلك، ولكن ليسأل الله من فضله.

“Janganlah seseorang berangan angan. Ia berkata, “Andai aku memiliki harta (seperti) si fulan dan keluarganya.” Allah melarang itu. Akan tetapi mintalah kepada Allah karunia-Nya.”
(Tafsir Ath Thobari)

Saat kita memiliki mobil misalnya..
Kemudian melihat mobil orang lain yang lebih bagus..
Kita suka berangan angan ingin memiliki mobil seperti dia..
Semua ini dilarang oleh Robb kita..
Karena seringkali menimbulkan penyakit hati..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

KAIDAH DALAM AT-TAKFIIR – Hakikat Iman Menurut Murji’ah

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Hakikat Iman Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah #2) bisa di baca di SINI

=======
.
🌿 Hakikat Iman Menurut Murji’ah 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan kitab At Takfiir wa Dhowabithhu..

⚉ Kata Beliau (penulis kitab), “dan diantara mahzab Ahlussunnah tentang masalah iman yaitu boleh memberikan pengecualian padanya. Itu dengan mengatakan (ana) “saya mukmin in-syaa Allah”

apabila ada orang yang bertanya tentang itu, apakah kamu mukmin ? Kemudian kita katakan, “saya mukmin in-syaa Allah”
Maksudnya “in-syaa Allah” disini bukan karena ragu, tapi karena kita tidak mengaku-ngaku bahwa iman kita sudah sempurna.

⚉ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

‎وأما مذهب السلف أصحاب الحديث ، كابن مسعو دوأصحابه ، والثوري ، وابن عيينة ، وأكثر علما ء الكوفة ، ويحيى بن سعيد القطان فيما ير و يه عن علماء أهل البصرة ، وأحمد بن حنبل ، وغيره من أئمة أهل السنة ، فكانوا يستثنو ن في اﻹيما ن وهذا متوا تر عنهم

“Keyakinan as-salaf ashhaabul hadits, seperti Ibnu Mas’ud dan para muridnya, juga keyakinan Sufyan ats-Tsauri, Sufyan bin Uyaynah dan kebanyakan Ulama Kuffah, Yahya bin Said Alkhoththon juga dari Ulama Bashroh Ahmad bin Hambal dan yang lainnya dari para Ulama Ahlussunnah, mereka memberikan istitsnaa’ (ucapan in-syaa Allah)
dalam iman, dan ini mutawatir dari mereka.

‎لكن ليس في هؤلا ء من قال : أنا أستثني لأ جل الموا فاة ، وأن اﻹيمان هو اسم لما يوا في به العبد ربه ، بل صرح أئمة هؤ لا ء بأ ن الا ستثنا ء إنما هو لأن اﻹيما ن يتضمن فعل الوا جبات فلا يثهدون لأ نفسهم بذلك

Akan tetapi tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengatakan, bahwa “saya mukmin in-syaa Allah” karena merasa ragu, akan tetapi, “saya mengatakan mukmin in-syaa Allah” karena iman itu mengandung kewajiban-kewajiban dan saya tidak menyaksikan terhadap diri saya bahwa saya sudah melaksanakan semuanya, saya sudah sempurna imannya” (dalam Majmu Fatawa jilid 7/hal 439).

➡️ Inilah keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah secara global tentang iman.

⚉ Kita bahas keyakinan murji’ah tentang iman.

Orang-orang murji’ah mempunyai keyakinan bahwa amal tidak termasuk iman, dan bahwasanya iman itu tidak terbagi-bagi, iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang, akan tetapi ia sesuatu yang satu, tidak terbagi-bagi dan tidak bertambah dan tidak berkurang.

Ini adalah merupakan pokok daripada mahzab mereka.
Karena mereka disebut murji’ah dari kata,

أرجأ – ير جئ

Artinya, “mengakhirkan amal dari iman”

Kemudian orang-orang murji’ah itu terbagi menjadi 3 kelompok.

1⃣ Kelompok Jahmiyyah
Mereka mengatakan bahwa iman itu sebatas pengetahuan atau keyakinan dengan hati saja. Adapun ucapan dengan lisan dan amalan dengan anggota badan tidak termasuk iman.

Mereka menganggap yang penting YAKIN walaupun tidak bersyahadat LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMAD ROSUULULLAH, walaupun tidak beramal, tidak sholat dan yang lainnya.. dianggap mukmin yang sempurna… na’uudzubillah.

2⃣ Kelompok al-Karromiyyah
Mereka mengatakan iman itu ucapan lisan saja, bukan pembenaran dengan hati.. yang penting seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat walaupun hatinya kafir tetap disebut sebagai iman, mukmin yang sempurna.

Sehingga konsekuensinya tentunya orang munafik menurut mereka mukmin… na’uudzubillah.

3️⃣ Kelompok Murji’atul Fuqoha
Yang mengatakan iman itu pembenaran dengan hati, ucapan dengan lisan.

Dan mereka mengingkari iman itu berderajat bertingkat-tingkat dan mereka mengingkari juga bahwa amal itu termasuk iman, mereka juga mengharamkan mengucapkan “saya mukmin in-syaa Allah”.
Ini adalah pendapat Abu Hanifa, demikian pula Ahmad bin Abi Sulaiman daripada Fuqoha Kuffah, dan semua ini adalah pendapat yang bathil.

➡️ Maka inilah keyakinan kaum murji’ah didalam masalah iman secara global.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

.
Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – At Takfiir wa Dhowabithhu – Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

Mana Bekal Anda..?

Kita hidup di dunia, tidak lama..

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda:

Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampui umur tersebut.”

Dan ternyata dalam waktu yang sebentar itu, kita memerlukan bekal yang banyak untuk mengarunginya.. BAHKAN kadang kita harus BANTING TULANG demi mencari bekal untuk kehidupan ini.

Jika untuk waktu +-70 tahun saja kita harus BANTING TULANG untuk mencari bekalnya, lalu sudahkah kita banting tulang untuk kehidupan alam barzakh yang mngkin bisa sampai RIBUAN TAHUN ?!

Setelah alam barzakh juga kita harus dibangkitkan dan hidup dalam waktu yang sangat lama, SATU HARINYA = 50 RIBU TAHUN.. Ingat, ketika itu tak ada yang berguna kecuali amal baik kita.. Tak ada pakaian, tak ada sandal, matahari hanya berjarak 1 mil dan tak ada naungan kecuali naungan-Nya.

Sungguh, kehidupan setelah kehidupan dunia ini jauh lebih lama, dan jauh lebih berat… tentu itu memerlukan usaha mengumpulkan BEKAL yang jauh lebih banyak dan jauh lebih intens.

Oleh karena itu, lihatlah diri Anda, sudahkah dia mempersiapkannya…?!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan LIHATLAH DIRI MASING-MASING apakah yang sudah dia PERSIAPKAN untuk KEHIDUPAN ESOK“. [Al-Hasyr:18]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da030914-2346

Setiap Detik Yang Berlalu Akan Ditanya…

Akhi ukhti…

Betapa nikmatnya menyeruput secangkir teh hangat di pagi hari yang sejuk.
Betapa lezatnya menikmati suguhan es teler di tengah panasnya terik mentari yang menyegat.
Betapa indahnya duduk di sebuah taman yang indah bersama orang-orang yang dicintai.

Namun semua kenikmatan itu akan terputus…
Akan sirna dan lenyap…
Berganti dengan azab Allah dan siksanya bila ternyata kita terlena selama berada di dunia.
Tersilaukan dengan kenikmatan sementara sehingga lupa…

Bahwa setiap detik yang berlalu akan ditanya.
Mereka yang tidak lulus dalam menjawab soal-soal tersebut…
Maka tiada lagi senyum yang menghias di bibir…
Tiada lagi secangkir teh hangat…
Atau semangkuk es teler…
Yang ada hanyalah siksaan dan siksaan…
Tiada pernah berhenti sejenakpun…

Pernahkah kau melihat ikan goreng yang telah mengelupas kulitnya ?
Bagaimana kiranya bila wajahmu yang digoreng ??
Tengoklah rintihan penghuni neraka…

وَنَادَى أَصْحَابُ النَّارِ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكَافِرِينَ (٥٠)

“Dan penghuni neraka menyeru penghuni syurga : “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.”
“Mereka (penghuni surga) menjawab : “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.” ( Al-A’raf 50)

Bahkan karena pedihnya siksaan yang diterima, mereka minta mati…
Iya mereka minta mati…
Mereka menyeru MALIK penjaga neraka…
“Mereka berseru : “Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”  Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)..” (Qs. Az-Zukhruf 77)

Tiada kematian di sana….

Akhi ukhti…
Sebelum nasi menjadi bubur…
Saatnya mengoreksi diri…
Setiap kau meneguk air…
Tanyakan pada dirimu apakah kelak aku akan meneguknya di akhirat ?
Atau….

“yaa allah masukkan hamba ke syurgamu.. dan jauhkan hamba dari nerakamu…
aamiin…”
.
Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah MA, حفظه الله تعالى

da1912161952

Amalan Yang Mendekatkan Ke Surga

(MUSLIM – 15) : Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya at-Tamimi telah mengabarkan kepada kami Abu al-Ahwash. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu al-Ahwash dari Abu Ishaq dari Musa bin Thalhah dari Abu Ayyub dia berkata,

“Seorang laki-laki mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, seraya bertanya, ‘Tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang mendekatkanku dari surga dan menjauhkanku dari neraka ?’ Beliau menjawab: ‘Kamu menyembah Allah, tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyambung silaturrahim dengan keluarga.’

Ketika dia pamit maka Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia berpegang teguh pada sesuatu yang diperintahkan kepadanya niscaya dia masuk surga’.” Dan dalam suatu riwayat Ibnu Abu Syaibah, “Jika dia berpegang teguh dengannya.”

Abu Ayyub Khalid bin Zaid bin Kulaib Al Anshari, shahabat besar yang ikut perang badar.

Fawaid hadits:

1. Mengharapkan surga dalam ibadah adalah perkara yang dilakukan oleh Rosulullah dan para shahabatnya, tidak seperti yang disangka sebagian orang bahwa kita ibadah hanya berharap ridho Allah saja bukan surga-Nya. Ini adalah kebodohan yang jelas.

2. Para shahabat selalu bertanya tentang amal yang dapat memasukkan ke surga dan menjauhkan dari Neraka, karena itu yang menjadi kesibukkan dan keinginan terbesar mereka.

3. Tauhid adalah perkara terbesar yang memasukkan seseorang ke dalam surga.

4. Pentingnya menjaga silaturahim, dan ia termasuk amal yang dapat memasukkan pelakunya ke dalam surga. Sebaliknya orang yang memutuskannya tidak masuk surga.

5. Amal-amal yang disebutkan oleh Nabi adalah induk amalan lain dan pembuka, karena bila kita dapat menjaga amal-amal diatas, maka memberi kekuatan untuk menjaga amal lainnya.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

da2304150702

SELESAI – PROGRAM RUTIN – IFTHOR JAMA’I – Kamis 12 Des 2019…

Alhamdulillah.. alladzii bi ni’matihi tatimmush shoolihaat..

Total 160 orang, termasuk jama’ah masjid Sulaiman Fauzan al Fauzan dan santriwati pp Assunnah, berbuka puasa sore hari ini Kamis tanggal 12 Des 2019

Jazaakumullahu khoyron kepada para muhsinin (donatur), semoga Allah memberikan kepada anda pahala puasanya mereka yang berbuka puasa hari ini… Allah berfirman dalam Qs Az-Zumar Ayat 20

ۖ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ

“Allah tidak akan memungkiri janji-Nya.

In-syaa Allah, rekening saat ini terus terbuka untuk menerima donasi untuk acara ifthor jama’i/buk-ber pada kesempatan berikutnya.

daftar penerimaan dari pkl. 12.00 (Senin 09 Des) s/d pkl. 12.00 (Kamis 12 Des). ➡️ Lap 12 Des 2019

.
Laporan penerimaan untuk ifthor puasa sebelumnya (Senin 09 Des 2019) bisa dibaca DI SINI
.
===========================
.
Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda (yang artinya) :

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun juga.” [HR. Ahmad 5/192 – dishohihkan oleh Syaikh al Albani]

Dalam hadits lainnya, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda (yang artinya):

“Setiap orang akan berada di bawah NAUNGAN SEDEKAH-nya hingga diputuskan hukum antara manusia.”

Yazid berkata, “Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sebuah kue ka’kah atau lainnya.” [HR. Ahmad – dishohihkan oleh Syaikh al Albani]

================

Dengan izin Allah ‘azza wa jalla, kami membuka kesempatan untuk berpartisipasi dalam menyiapkan bekal makanan dan minuman bagi mereka yang berpuasa di setiap hari senin-kamis.
.
Untuk sementara ini, kami terapkan kuota 400 paket ifthor bagi 400 orang yang berpuasa per setiap senin dan kamis, dan kuota ini bisa juga lebih atau kurang dari 400, tergantung laporan dari tim di lapangan.

.
dalam program ini, kami bekerjasama dengan posko Assunnah Lombok Timur.
.
➡️ dikarenakan adanya perbedaan zona waktu (WIB – WITA), maka donasi untuk ifthor di setiap hari senin dan kamis kami batasi hingga pukul 12.00 WIB (13.00 WITA), dan donasi yang masuk setelahnya dan/atau melebihi kuota ifthor di hari tsb, maka akan dialokasikan untuk kuota ifthor di hari puasa senin/kamis berikutnya, dan begitu seterusnya in-syaa Allah…
.
mau ikutan..?
.
silahkan transfer ke :
.
Bank Syariah Mandiri (kode bank 451)
no rek. 748 000 4447
an. Al Ilmu TA’AWUN
.
.
konfirmasi (tidak harus) :
0838-0662-4622
.
jazaakumullahu khoyron kepada para muhsinin/donatur yang telah dengan tulus menyisihkan sebagian hartanya untuk sedekah ifthor untuk jama’ah Masjid Sulaiman al Fauzan dan santri/santriwati ponpes Assunnah Lombok Timur yang melaksanakan ibadah puasa, semoga Allah menerimanya…
.
silahkan share ke kerabat, teman, dll karena terdapat juga pahala bagi orang yang menunjukkan jalan kebaikan.
.
Nabi shollallahu ’alaihi wasallam bersabda:

.من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه.

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” [ HR. Muslim no. 1893 ]
.
.
Semoga Allah ‘azza wa Jalla senantiasa mudahkan urusan kita bersama… Aaamiiin

Bagi Yang Ingin Punya Anak Menjadi Ustadz

Enak yah jadi ustadz, apalagi yang ngetren.

Umrah, haji, pergi sana-sini gampang, ada lagi yang lebih seru, dikagumi banyak orang dan digandrungi banyaaaaak itu tuh, tentunya pasti menyandang gelar “anak shaleh”, keren abis bukan ?

Demikian bayangan banyak orang, akibatnya ada sebagian orang tua yang melakukan segala upaya agar anaknya bisa jadi ustadz.

Sampai-sampai sebagian orang tua ogah mendengar apalagi membantu putranya mewujudkan “mimpi” menjadi dokter, atau perwira TNI, atau perwira Polri atau pedagang atau lainnya.

Seribu satu cara dilakukan sebagian orang tua, yang penting anaknya mondok, sekolah agama, agar kelak “hidup mulia”, jadi “anak shaleh” karena bertitel “ustadz”.

Sobat! Kholid bin Walid rodhiyallahu ‘anhu bukan ustadz juga bukan ulama’, namun sejarah mengukir namanya dengan “tinta emas” berkat tajamnya pedang beliau.

Raja An Najasyi juga bukan ulama’ namun namanya harum dan jasanya diakui oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan ketika ia meninggal beliau dan para sahabat mensholatkan gaib. Bukan karena ilmu yang beliau ajarkan, namun karena jasanya melindungi para sahabat yang berhijrah ke Habasyah dan tentu juga karena ke-islamannya.

‘Uwais Al Qarni dikenang sejarah bukan karena ilmunya, namun karena baktinya kepada orang tuanya.

Karena itu jangan paksa anak anda meniti “anak tangga” menjadi ustadz, namun arahkan agar putra putri anda menjadi orang shaleh, apapun profesinya.

Lebih baik menjadi pengusaha shaleh, jendral shaleh, insinyur shaleh atau profesi lainnya yang serupa, dibanding “mantan santri” atau “ustadz mogol” alias setengah mateng atau “kiyai kagok”.

Semoga mencerahkan.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Bagi Yang Mendambakan Tinggal Di Kampung Islami

Jangan Meremehkan Perintah Allah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

‎التَّهاون بالأمر إذا حضَر وقتُه فإنَّك إن تهاونتَ به ثبَّطك الله وأقعدَكَ عن مراضِيه وأوامِره عقوبة لك

“Meremehkan perintah apabila waktunya telah tiba, jika kamu melakukannya maka Allah akan membuatmu berat untuk mencari keridloan dan melaksanakan perintahNya sebagai sanksi untukmu.

Allah Ta’ ala berfirman,

إنكم رضيتم بالقعود أول مرة فاقعدوا مع الخالفين} [ التوبة : 83 ]

“Sesungguhnya kamu lebih rela duduk (tidak pergi jihad) di awal pertama kalinya, maka duduklah kamu bersama orang orang yang tidak ikut.” (Attaubah: 83)

[Bada’iul Fawaid 3/139]

Hati hatilah saudaraku..
Dari meremehkan perintah Allah..
Saat sholat telah tiba misalnya..
Bersegeralah dan bersungguh sungguhlah..
Agar Allah tidak memberi sanksi dengan diberatkan hati kita untuk melakukannya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

 

Menebar Cahaya Sunnah