Apakah Laylatul Qodr Hanya Diraih Oleh Mereka Yang I’tikaf Di Masjid Saja..?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

ARTIKEL TERKAIT
Tanya-Jawab Seputar Ramadhan…

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

da210617-2132

Kisah DO’A Laylatul Qodar…

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin hafizhahumallah bercerita:

“Pada suatu malam ke 27 Ramadhan (malam yang sangat diharapkan terjadinya lailatul qadar), beliau bersama Bapak serta Kakek ingin pergi ke masjid Nabawi untuk sholat malam pada malam itu, kemudian ketika keluar rumah menuju mobil, beliau mendengar suara musik yang begitu keras dinyalakan oleh anak-anak muda, kemudian beliau mendekati mobil tersebut dan mengatakan kepada mereka: “Wahai para pemuda, jika kalian tidak sanggup untuk mengisi malam ini dengan ibadah, maka mohon dimatikan suara yang begitu keras ini”, akhirnya mereka mematikannya, kemudian syaikh mengatakan: “Hendaknya malam ini kalian memperbanyak mengucapkan

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Allahumma innaka ‘Afuwwun tuhibul ‘afwa fa’fu ‘anni
(Ya Allah sungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memberi ampunan, maka ampunilah daku).

Lalu seorang yang dekat syaikh mengatakan, “saya belum hafal”, lalu syaikh mengulangi kedua kalinya, lalu si pemuda ini akhirnya dapat melafalkannya.

Setelah enam tahun, Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullah ceramah di sebuah kota, kemudian setelah ceramah ada seorang pemuda yang berjenggot dan dari wajahnya terlihat ia ahli keta’atan kepada Allah, pemuda ini berkata: “Syaikh ingatkah engkau kepada para pemuda yang engkau peringatkan untuk mematikan musik di malam ke 27 Ramadhan, lalu engkau mengajari mereka do’a lailatul qadar, maka semenjak malam itu saya selalu membacanya dan akhirnya Allah Taala membencikan maksiat-maksiat di dalam hatiku, Alhamdulillah akhirnya aku kembali ke jalan-Nya”.

Wahai Saudaraku sebarkanlah DO’A ini! di hari-hari mulia ini, semoga yang membacanya akan melihat kebaikan BAIK DI DALAM RAMADHAN ATAU DI LIUAR RAMADHAN:

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Allahumma innaka ‘Afuwwun tuhibul ‘afwa fa’fu ‘anni
(Ya Allah sungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau suka memberi ampunan, maka ampunilah daku).

Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary Lc,  حفظه الله تعالى

Kaidah Bagus…

Sebelum salam = banyak berdo’a.
Setelah salam = banyak berdzikir.

========

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- pernah ditanya:

Manakah yang lebih afdhol untuk do’a “Allohumma a’inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik”, dibaca sebelum salam atau sesudah salam, ataukah yang lebih afdhol dibaca di dua waktu itu ?

Beliau menjawab:

Yang lebih afdhol do’a itu dibaca sebelum salam, karena seperti itulah dia datang dalam sebagian riwayat, dan karena do’a itu tempatnya sebelum salam, sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud, setelah Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- menyebutkan tasyahud, beliau menyabdakan: “kemudian hendaklah dia memilih sebagian doa-doa yang dia kehendaki”.

Berdasarkan keterangan ini, maka seorang yang sholat membaca do’a “Allohumma a’inna ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik” sebelum salam.

Adapun setelah salam, apa yang Allah firmankan ?

Dia berfirman (yang artinya): “Apabila kalian telah selesai sholat, maka BERDZIKIRLAH kalian kepada Allah”. [An-Nisa’: 103]. Di ayat ini, Allah tidak mengatakan: “maka berdo’alah kalian kepadanya”.

[Sumber: Liqo’ul babil maftuh 22/255].

Dalam kesempatan lain beliau juga mengatakan:

“Sesungguhnya Rasul -shollallohu alaihi wasallam- telah mengarahkan kita tentang waktu berdo’a di dalam sholat, beliau -‘alaihis sholatu wassalam- mengatakan saat mengajari Abdullah bin Mas’ud tentang tasyahud “kemudian setelah itu, hendaklah dia memilih sebagian do’a-do’a yang dia kehendaki.” Ini menunjukkan bahwa tempat doa adalah sebelum salam, bukan setelahnya.

Kemudian penalaran yang lurus juga menunjukkan hal ini, yakni bahwa do’a itu waktunya sebelum salam, karena selagi engkau dalam sholatmu, maka engkau sedang bermunajat kepada Allah ‘azza wajall. Kemudian setelah engkau bersalam, maka terputuslah munajat dan hubungan antara engkau dengan Allah.

Maka, manakah yang lebih baik, berdo’a ketika engkau dalam keadaan bermunajat kepada kepada Allah… ataukah berdoa setelah selesai sholat dan setelah hubungan itu putus?! Tentunya keadaan pertama yang lebih baik.

Oleh karena itu, bagi yang ingin berdo’a kepada Allah subhanahu wata’ala, maka berdoalah sebelum salam”.

wallohu a’lam.

Ustadz DR. Musyaffa’ ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da0103161317

Ambillah Pelajaran Dari Perjalanan Hidup Ini…

Saat umurku 4 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat“.

Saat umurku 6 th: “Ayahku tahu semua orang“.

Saat umurku 10 th: “Ayahku istimewa, tapi cepet marah“.

Saat umurku 12 th: “Ayahku dulu penyayang, ketika aku masih kecil“.

Saat umurku 14 th: “Ayahku mulai lebih sensitif“.

Saat umurku 16 th: “Ayahku tidak mungkin mengikuti zaman ini“.

Saat umurku 18 th: “Ayahku seiring berjalannya waktu akan menjadi lebih susah“.

Saat umurku 20 th: “Sulit sekali aku memaafkan ayahku, aku heran bagaimana ibuku bisa tahan hidup dengannya“.

Saat umurku 25 th: “Ayahku menentang semua yang ingin ku lakukan“.

Saat umurku 30 th: “Susah sekali aku setuju dengan ayah, mungkin saja kakekku dulu capek ketika ayahku muda“.

Saat umurku 40 th: “Ayahku telah mendidikku dalam kehidupan ini dengan banyak aturan, dan aku harus melakukan hal yang sama“.

Saat umurku 45 th: “Aku bingung, bagaimana ayahku dulu mampu mendidik kami semua ?“.

Saat umurku 50 th: “Memang susah mengatur anak-anak, bagaimana capeknya ayahku dulu dalam mendidik kita dan menjaga kita ?“.

Saat umurku 55 th: “Ayahku dulu punya pandangan yang jauh, dan telah merencanakan banyak hal untuk kita, ayah memang orang yang istimewa dan penyayang“.

Saat umurku 60 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat“.

Lingkaran perjalanan ini menghabiskan waktu 56 tahun untuk kembali ke titik semula di umur 4 th, saat ku katakan “Ayahku adalah orang yang paling hebat“.

====================

Maka hendaklah kita berbakti kepada orang tua kita sebelum kesempatan itu hilang, dan hendaklah kita berdo’a kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita lebih baik dalam bermu’amalah dengan kita melebihi mu’amalah kita dengan orang tua kita.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak dengan sebaik-baiknya.”

Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah sampai usia lanjut di sisimu, maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah“, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil“. [Al-Isro’: 23-24].

Ini adalah risalah dari seseorang yang telah menjalani semua perjalanan hidup di atas, maka aku senang meringkasnya untuk diambil ibrah dan pelajaran.

Ya Allah ampunilah kami dan orang tua kami serta siapapun yang berjasa kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami semua Surga Firdaus-Mu.

Ustadz  DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da2708151640

Menebar Cahaya Sunnah