Kemampuan dan Kesempatan…

Abul Fath Al-Busti rohimahullah berkata :

زيادةُ المرءِ في دنياه نقصانُ وربحُه غيرَ محضِ الخير خسرانُ

Tambahan dunia seseorang adalah kekurangan…. Dan keuntungannya pada selain murni kebaikan adalah kerugian

أَحْسِنْ إلى النَّاسِ تَسْتَعبِدْ قلوبَهم فطالما استعبدَ الإنسانَ إِحسانُ

Berbuat baiklah kepada manusia, maka engkau akan menundukan hati mereka….sungguh betapa perbuatan baik menundukan hati manusia…

مَن جادَ بالمالِ مالَ النَّاسُ قاطبةً إليه والمالُ للإنسانِ فتَّانُ

Barang siapa yang dermawan dengan hartanya maka seluruh manusia akan condong kepadanya, dan harta adalah pembawa fitnah bagi manusia…

أَحْسِنْ إذا كان إمكانٌ ومَقْدِرَةٌ فلن يدومَ على الإنسان إِمكانُ

Berbuat baiklah jika engkau memiliki kemampuan dan kesempatan…karena kesempatan dan kemampuan tidak selamanya bersama manusia…

حيَّاك مَن لم تكنْ ترجو تحيَّتَه لولا الدَّراهمُ ما حيَّاك إنسانُ

Orang yang tidak kau harapkan salamnya akan menyapa dan menyalamimu….kalau bukan karena dirham (duit) tak seorangpun akan menyapamu…

Faidah dari sya’ir di atas :

1) Tambahan itu dituntut untuk perkara akhirat, adapun kalau yang bertambah adalah perkara dunia sementara perkara akhiratnya tidak ada peningkatan, maka tambahan dunia itu pada hakekatnya adalah kekurangan…

2) Sebagaimana untung jika bukan pada kebaikan, maka untung itu tentu pada perkara yang tidak baik atau yang kurang baik, atau pada yang tidak bermanfaat, maka dari situ keberuntungan tersebut pada hekakatnya adalah kerugian

3) Barang siapa yang dermawan maka otomatis akan didekati oleh banyak orang, bahkan orang yang tidak diharapkan kedatangannya dan sapaannya akan segera datang mendekat dan menyapa serta menyalami. Namun seandainya sang dermawan tidak memiliki uang, maka orang-orang tersebut akan segera menjauh, bahkan tatkala lewat dihadapannya tidak akan memberi salam

4) Berbuat baik kepada orang lain merupakan kunci untuk menarik dan menundukan hati orang lain…bahkan orang yang tadinya benci bisa tertunduk hatinya dengan perbuatan baik.

5) Bersegeralah untuk berbuat kebaikan, karena untuk bisa berbuat kebaikan harus memenuhi dua persyaratan,

(a) kemampuan (harta dan semisalnya), dan

(b) kesempatan untuk berbuat baik. Karena betapa banyak orang yang memiliki kemampuan namun tidak berksempatan untuk berbuat baik, dan sebaliknya terlalu banyak orang yang memiliki kesempatan untuk menolong tapi tidak memiliki kemampuan untuk menolong.

Dan ternyata kedua perkara ini (kemampuan dan kesempatan) tidak selalu ada pada seseorang, oleh karenanya tatkala keduanya lagi berkumpul pada seseorang maka segeralah untuk berbuat kebaikan.

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

da2304140718

Cinta dan Rindu…

⚉  CINTA
Cinta tidak hanya monopoli raja-raja, para pangeran, bangsawan, pejabat maupun orang-orang kaya, tapi ia juga bisa hadir menjadi milik para hamba sahaya, orang-orang fakir dan miskin tak bersuku dan berbangsa.

Ia hadir di istana-istana megah, villa-vila nan indah, apartement dan rumah-rumah nan mewah, tapi dapat pula menghuni gubuk-gubuk derita, rumah-rumah reot sempit dan kumuh berselimut duka.

Cinta tak kenal perbedaan usia, bangsa, warna, rupa dan bahasa. Bak samudera nan luas membentang semua makhluk berserikat untuk dapat mereguk dan mengambil manfaatnya.

Cinta hakiki itu bersifat abadi, takkan lekang ditelan masa, takkan hilang berganti musim, tak kan lenyap bersama terkuburnya jasad, bercerainya tubuh antara sahara dan benua, setia mengalir layaknya darah yang mengalir dalam tubuh, terus berpacu bersama detak jantung dan denyut nadi manusia.

Cinta yang hakiki kan berlanjut meski bumi telah hancur binasa, langit telah runtuh tak bersisa, matahari dan bulan dikumpulkan dan dibenturkan antara keduanya.

Kiamat tak kan mampu menjadi penghalang orang-orang yang bercinta, bahkan kiamat itu pula menjadi penyebab bersatunya jasad mereka di taman-taman surga.

⚉  RINDU
Rindu adalah efek dari deburan ombak cinta yang menghantam pantai hati, Gelombang cinta yang melahirkan riak-riak dan suara menggemuruh yang memecah bibir daratan qalbu. Dimana ada cinta, disitu kan terlahir rindu. Semakin kuat kecintaan kan semakin kuat kerinduan.

Rindu pada sang kekasih, adalah keniscayaan yang terkadang meruntuhkan dinding sabar, membuat air mata berurai, wajah memucat dan tubuh mengurus. Hanya Allah jualah tempat mengadu.

Rindu terlarang adalah kerinduan pada orang-orang yang tidak halal untuk dirindu.

Hidup ini penuh dengan pernak-pernik, sarat dengan kenangan dan kejadian. Ada kenangan masa jahiliyah yang tak boleh dikenang kecuali dengan istighfar, taubat dan amal sholeh.

Kelebat bayang makhluk-makhluk istimewa yang dahulu pernah punya hubungan dengan anda, menenun hari-hari indah bersamanya kemudian merenda bulan menjadi tahun, tanpa disadari terkadang menyeruak kembali muncul ke alam sadar.

Ketika itu terjadi, hentikan petualangan alam fikirmu, kembalilah ke alam nyata dan katakan :

 “QODDARALLAH MA SYA’A FA’AL” (semua telah menjadi takdir Allah, kehendakNya jualah yang akan terjadi.)

Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA,  حفظه الله تعالى.

Ingat..! Kita Berada Di Bulan Rojab…

INGAT… KITA BERADA DI SALAH SATU BULAN HAROM… ROJAB…
.
JANGAN LENGAH… Saling mengingatkan…
.
Allah berfirman :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya EMPAT BULAN HARAM (DZUL QO’DAH, DZUL-HIJJAH, MUHARRAM, ROJAB). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)
.
.
⚉  Al Hafizh Ibnu Katsir rohimahullah berkata dalam tafsirnya:
.
“Allah Ta’ala berfirman, ‘Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,’ maksudnya: Dalam bulan-bulan yang terhormat ini. Karena dosanya lebih berat dan lebih besar dibandingkan pada bulan-bulan lainnya. Sebagaimana dosa maksiat di negeri al haram juga dilipatgandakan. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.” (QS. Al Hajj: 25)
.
Maka demikian pula dalam bulan-bulan haram, dosa-dosa di dalamnya dilipatgandakan.”
.
Lalu beliau (Al Hafizh Ibnu Katsir rohimahullah) membawakan atsar dua sahabat Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam yaitu Ibnu ‘Abbas dan Abu Qatadah rodhiyallahu ‘anhum yang menguatkan ucapan beliau.
.
⚉  Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Allah menjadikan dosa di dalam bulan-bulan haram itu lebih besar serta menjadikan amalan saleh dan pahala juga lebih besar.” (Latho-if Al Ma’arif- 207)
.
⚉  Abu Qotadah rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Kezholiman di bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya dibandingkan kezholiman pada bulan-bulan lainnya.”
.
Wallahu a’lam
.
.

Orang Jujur dan Pendusta…

Dalam kitab syarhu Al-Aqidah al-Asfahaniyyah, Ibnu Taimiyah berkata:

“الصادقون يدوم أمرهم، والكذابون ينقطع أمرهم، هذا أمر جرت به العادة وسنة الله التي لن تجد لها تبديلا”.

شرح العقيدة الأصفهانية (٢٠٣)

“Orang -orang jujur kan senantiasa berkekalan urusan mereka, sebaliknya para pendusta kan terputus segala urusan mereka , begitulah ketentuan yang telah digariskan, sunnatullah yang tidak akan pernah berubah”.

Bila anda menjumpai orang yang tidak jujur dan amanah dalam tingkah laku, maupun perkataan mereka, maka tunggulah masa kehancurannya.

Hanya orang dungu yang mau ditipu berkali-kali, Orang berakal takkan mau ditipu dua kali.

Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA,  حفظه الله تعالى.

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Anjuran Untuk Senantiasa Ridho dan Sabar…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

===============

Hebatnya Makar Allah Terhadap Musuh-Nya…

“Fir’aun mengerahkan pasukannya untuk membunuh setiap bayi lelaki Bani Israil, maka semuanya (yang tidak menjadi musuh) dibunuhnya, kecuali musuh sesungguhnya (Musa) yang dipeliharanya dalam istana..

Bahkan Fir’aun kebingungan ketika Musa tak mau disusui oleh wanita manapun..

Akhirnya, kembalilah Musa ke buaian ibunya dengan jaminan nafkah dari Fir’aun”

[Renungan Al Qasas ayat 7-13]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى.

ref : https://www.facebook.com/Dr.SufyanBaswedan.MA/

Ayat Yang Sangat Indah Dan Halus Dalam Menjelaskan HARUSNYA Kita Meninggalkan SEMUA Bid’ah Dalam Agama…

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian”. [QS. Alu Imron: 31].

Renungkanlah kandungan ayat ini:

1. Ayat ini berkenaan tentang cinta kepada Allah, yang harusnya menjadi derajat cinta paling tinggi di hati kaum mukminin. [QS. Albaqoroh: 165].

Itu saja dalam mengejewantahkannya harus mengikuti Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, apalagi bila cinta itu kepada makhluk-Nya.

Sehingga dalam mencintai Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- kita LEBIH wajib mengikuti cara dan tuntunan beliau, begitu pula dalam mecintai keluarga beliau, ka’bah, Alqur’an, dst…

2. Ayat ini memerintahkan kita untuk mengikuti Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- SAJA dalam mengejewantahkan cinta kita kepada Allah.

Sehingga kita tidak boleh mencintai Allah dengan cara para NABI selain beliau, apalagi cara para ulama, apalagi cara kita sendiri, jika cara-cara tersebut tidak sesuai dengan yang disyariatkan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

3. Ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan mencintai kita jika kita mengikuti Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- dalam mengejewantahkan cinta kita kepada-Nya.

Maka sebaliknya Allah akan menjadi MURKA, bila kita mengejewantahkan cinta tersebut dengan mengikuti tuntunan dari selain beliau.

———-

Semoga Allah memberikan TAUFIQ kepada kita, sehingga kita dapat mencintai Dia, Nabi, para ulama, dan yang lainnya, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da0901151655

Solusi Bagi Orang Yang Tidak Berkesempatan Menjadi Ulama’…

Saudaraku !

Barang kali anda begitu terobsesi untuk menjadi ahli ilmu, ulama’, atau kiyai, atau ustadz atau sebutan lainnya. Dan juga barangkali anda mendambakan untuk memiliki anak keturunan yang bisa menjadi bagian dari mereka. Betapa indahnya bila hal itu terwujud benar-benar menjadi kenyataan, namun bila itu belum menjadi kenyataan, maka jangan kawatir, ada solusi alternatif untuk bisa mendapatkan keutamaan alias pahala seperti yang mereka dapatkan.

Anda penasaran ingin tahu ?

Simak penjelasannya dari Imam Ibnu Taimiyyah berikut ini:

“Orang yang berbahagia adalah orang yang senantiasa berpegang teguh dengan Kitabullah, dan meneladani Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap sunnah dan syari’atnya.

Orang yang selalu mengambil petunjuk dengan tuntunan beliau dan meniti jejak beliau adalah manusia paling utama, semasa di dunia maupun di akhirat kelak.

Sedangkan orang yang berhasil menghidupkan sebagian dari sunnah (ajaran) beliau, maka ia mendapatkan pahala amalan sunnah tersebut dan pahala seluruh orang yang turut mengamalkannya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka, karena Allah tiada pernah menzhalimi sedikitpun walau hanya sebesar butir debu. Yang terjadi malah sebaliknya, Allah melipat gandakan pahala kebaikan atas kemurahan dan karunia-Nya.

Dan atas kemurahan dan karunia Allah, menghidupkan sunnah beliau mencakup berbagai amal kebajikan, sehingga bisa dilakukan dengan cara:

1. Menyampaikan dan menjelaskan sunnah-sunnah beliau, agar sunnah-sunnah tersebut menjadi semarak.

2. Dan dengan membelanya, misalnya dengan membelanjakan harta dan berjihad (berusaha dengan keras) memperjuangkan agama Allah dan meninggikan agama-Nya. Karena jihad dengan membelanjakan harta sering kali disandingkan dengan jihad memikul senjata. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Allah Ta’ala mendahulukan penyebutan jihad dengan harta sebelum menyebutkan jihad dengan jiwa memikul senjata. Ini membuktikan betapa penting dan betapa besarnya membelanjakan harta. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

)مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلَفَهُ فِي أَهْلِهِ بِخَيْرِ فَقَدْ غَزَا (

‘Barangsiapa menyiapkan (membekali) orang yang berjihad maka ia telah berjihad, dan siapapun yang menjaga dengan baik keluarga seorang yang pergi berjihad maka ia telah berjihad.’

Beliau juga bersabda:

(مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ )

‘Barang siapa memberi makan berbuka orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala yang serupa dengan pahala orang yang berpuasa tersebut.’

Terlebih lagi amalan yang manfaatnya terus menerus tiada terhenti, walaupun ia telah meninggal dunia dan menghuni liang kuburnya, sebagaimana ditegaskan pada hadits berikut:

(إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ، صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له )

‘Bila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah pahala semua amalannya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang senantiasa mendo’akan untuknya.’

Ketiga amalan ini, adalah amalan setiap insan yang akan tersisa sepeninggalnya.”

[Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 18/245/246]

==================

Untuk itu kami membuka kesempatan indah ini bagi anda semua, silahkan turut ambil bagian di peluang emas ini.

STDI IMAM SYAFII mengajak anda semua untuk berpartisipasi pada program pembebasan lahan untuk perluasan kampus putri, seluas 18.000 m2 (1,8 ha).

Kesempatan masih terbuka lebar untuk anda.

Lokasi tanah terletak di belakang gedung putri STDI IMAM SYAFII JEMBER.

Partisipasi anda, dapat anda salurkan melalui rekening berikut:

STDI IMAM SYAFII
Bank BNI SYARIAH kancab Jember.
No Rekening Virtual Account: 988 142 899 112 3451.

Konfirmasi partisipasi saudara via:
0812-8219-5309
0813-4860-8708

Semoga Allah menerima partisipasi anda, dan membalasnya dengan yang lebih baik. Amiin.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Menebar Cahaya Sunnah