Lupa Mandi Junub dan Sudah Shalat Beberapa Kali

KISS (Konsultasi Islam Sesuai Sunnah)
Topik: Lupa mandi junub dan sudah shalat beberapa kali.

Pertanyaan:
Bismillah .. Assalamu’alaikum,
Ustadz ana mau nanya, ana seorang remaja kelas 8 smp, kemaren malam ana mimpi basah, lalu ana lupa untuk mandi junub dan ana keinget klo ana mimpi basah, ana ingetnya malam ini.
Pertanyaan ana: Apakah shalat shalat ana sah..?
Terus, ana blum mandi junub, apakah saat inget langsung mandi junub, syukron
=======

Jawaban:

Bismillah, walhamdulillah, was-shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa’ala alihi washahbihi waman tabi’a hudah.

1. Orang yang junub, selama belum mandi besar tetap dianggap sebagai orang yang berhadats besar, meski dia lupa junubnya, sehingga shalat yang dia lakukan tidak sah.

2. Antum harus meng-qadha’ semua shalat yang antum lakukan dalam keadaan hadats besar .. dan qadha’lah shalat-shalat itu dengan cara berurutan. Dalam kasus antum, berarti urutannya: Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, lalu Isya’.

3. Saat ingat masih junub, segeralah mandi dan segeralah mengqadha’ shalat selagi waktunya memungkinkan.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Penjelasan Ayat ke-4 Dari Surat Al-Ma’un

KISS (Konsultasi Islam Sesuai Sunnah)
Topik: Penjelasan ayat ke-4 dari surat Al-Ma’un.

Pertanyaan:
Bismillah, tanya ustadz .. dlm surah Al-Ma’un, kenapa orang yg sholat justru masuk neraka wail .. syukron.
=======

Jawaban:

Bismillah, walhamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man wa lah.

1. Ayat yang dimaksud adalah firman Allah ta’ala:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7)

“Maka celakalah orang-orang yang shalat (4) Yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya (5) mereka berbuat riya’ (6) dan enggan memberikan bantuan..”

2. Menurut sahabat Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhuma-, ayat ini berkaitan dengan orang-orang munafik, yang mereka melakukan shalatnya ketika bersama kaum mukminin saja. Tapi ketika mereka sendirian, mereka meninggalkan dan melalaikan shalatnya.
Penafsiran ini sangat selaras dengan ayat-ayat setelahnya yang menunjukkan sifat-sifat kaum munafikin; mereka melalaikan shalat-shalatnya saat sendiri, mereka riya’ dengan shalatnya saat melakukannya bersama kaum muslimin, dan mereka enggan membantu kaum muslimin meski dengan bantuan yang ringan sekalipun.

3. Harus dibedakan antara ungkapan “Lalai TERHADAP shalatnya” dengan ungkapan “Lalai DI DALAM shalatnya”.
“Lalai terhadap shalatnya”, berarti: melupakan shalatnya dengan meninggalkannya .. sedangkan “Lalai di dalam shalatnya”, berarti: ada kelalaian dalam shalatnya, misalnya: tidak khusyu’ atau tidak fokus dengan shalatnya, pikirannya kemana-mana saat shalat.

4. Jadi ayat ini tidak menjelaskan ancaman bagi orang yang shalat, karena shalatnya .. tapi menjelaskan ancaman bagi orang yang lalai dari shalatnya dan meninggalkannya .. dan ada perbedaan yang sangat jauh antara keduanya.

5. Tidak benar ada neraka yang namanya wail .. memang benar ada riwayat hadits yang menjelaskan bahwa di neraka nanti ada lembah yang namanya wail, namun sayangnya riwayat hadits ini lemah, sehingga tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dalam masalah ini.

6. Dalam memahami Al-Qur’an jangan sampai kita memotong ayat dari konteksnya, bila hal itu menyebabkan timbulnya pertentangan antara makna ayat dengan konteksnya.

7. Dan yang paling penting dari itu semua, kita harus merujuk kepada pemahaman generasi salaf dalam memahami ayat Al-Qur’an.

Wallahu A’lam.
Demikian, semoga bisa dipahami dengan baik, bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Dijawab oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Diantara Sifat Seorang Mukmin

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Orang mukmin
bukanlah orang yang suka mencela,
bukan pula orang yang suka melaknat,
bukan orang yang berkata keji, dan
bukan pula orang yang suka berkata kotor..”

[ HR Tirmidzi – ash-Shohihah – 320 ]

Manfaatkan Dengan Sebaik-baiknya Kesehatan dan Waktu Luang

Hasan al-Bashri rohimahullah berkata ketika menyaksikan jenazah,

“Semoga Allah merahmati orang yang beramal untuk menghadapi hari semacam ini.. Sesungguhnya kalian pada hari ini mampu untuk melakukan hal-hal yang tidak mampu dilakukan oleh saudara-saudara kalian di alam kubur, maka manfaatkan dengan sebaik-baiknya kesehatan dan waktu luang, sebelum datangnya hari penuh ketakutan dan hisab..”

[ Qoshur Amal – Ibnu Abid Dunya – 141 ]

 

Membiasakan Lisan Untuk Berdzikir

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Barang siapa membiasakan lisannya untuk berzikir kepada Allah, lisannya akan terjaga dari ucapan yang batil dan sia-sia.. sebaliknya, barang siapa yang lisannya kering dari berzikir kepada Allah, lisannya akan basah dengan ucapan batil, sia-sia, dan kotor.. tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah..”

[ al-Wabil ash-Shoyyib – 87 ]

Ada Hikmah Dibalik Musibah dan Ada Ujian Dibalik Nikmat

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

لولا محن الدُّنيا ومصائبها لأصاب العبدَ من أدواء الكِبْر والعُجْب والفَرعنة وقسوة القلب، ما هو سبب هلاكه عاجلاً وآجلاً.
فمن رحمة أرحم الرَّاحمين أن يتفقَّده في الأحيان بأنواعٍ من أدوية المصائب تكون حِمْيةً له من هذه الأدواء، وحفظاً لصحَّة عبوديَّته، واستفراغاً للموادِّ الفاسدة الرَّديَّة المهلكة منه.
فسبحان من يرحم ببلائه، ويبتلي بنعمائه كما قيل:
قد يُنعِم الله بالبلوىٰ وإن عظمت
ويبتلي الله بعضَ القوم بالنِّعم

“Kalau bukan karena ujian dan musibah dunia yang menimpa seorang hamba, bisa jadi dia akan tertimpa musibah penyakit sombong, ujub (bangga diri), angkuh, dan kerasnya hati, yang dapat menyebabkan kebinasaannya, cepat atau lambat..

Di antara rahmat Allah, Dzat yang paling penyayang, adalah terkadang Dia tidak memperlihatkan obat berbagai macam musibah tersebut dalam rangka..
menjaganya dari penyakit-penyakit yang membinasakan itu
menjaga kemurnian penghambaannya kepada Allah, dan
membersihkan dirinya dari penyakit-penyakit yang merusak, rendah, dan membinasakannya

Mahasuci Allah, Dzat yang menurunkan rahmat di balik musibah yang menimpa..
Mahasuci Allah, Dzat yang menurunkan ujian di balik nikmat yang diberikan..

Hal ini seperti perkataan penyair, “Terkadang Allah memberi nikmat di balik besarnya musibah.. Terkadang pula nikmat yang Allah berikan kepada suatu kaum adalah ujian dan musibah..”

[ Zadul Ma’ad, 4/280 ]

Menebar Cahaya Sunnah