All posts by BBG Al Ilmu

Bila Ingin Hidupmu Bahagia…

Bila ingin hidupmu bahagia..
maka hiduplah di dunia sesuai keridloan Robbmu…
Bukan Sesuai keinginanmu saja..

Taati perintahNya, dan jauhi laranganNya..
Sabarlah di atas itu semua..
Agar kamu mendengarkan ucapan Allah di surga kepadamu:

سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ

“Keselamatan atasmu karena kesabaranmu. Ini adalah sebaik baik tempat tinggal.”  [Ar Ra’du: 24]

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 

Sujud Sahwi…

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Apakah Sujud Tilawah Harus Dalam Keadaan Berwudhu..? bisa di baca di SINI

=======

SUJUD SAHWI adalah seseorang lupa didalam sholatnya caranya dengan melakukan 2x sujud baik sebelum salam maupun setelahnya.

⚉  HUKUM SUJUD SAHWI

Adalah “WAJIB”, karena itu yang diperintahkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam, Nabi bersabda,

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ ثُمَّ لْيُسَلِّمْ ثُمَّ لْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ

“Apabila salah seorang dari kalian ragu didalam sholatnya hendaklah ia mencari yang benar kemudian sempurnakan sesuai dengan dugaan kuatnya tsb kemudian salamlah, lalu sujud 2x” (HR. Imam Bukhari dan Muslim)

⚉  TATA CARA SUJUD SAHWI

Yaitu dengan cara sujud 2x, sebelum atau sesudah salam.

Dalam kitab Ar-Raudhoh Arrodhiah, diberikan pilihan apakah ia sujud sebelum salam atau sesudah salam karena Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam terkadang sujud sebelum salam, telah shohih bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam sujud setelah salam, maka ini menunjukkan bahwa perkara ini diberikan pilihan dengannya.

Dan ini yang di rojihkan oleh Syaikh Albani rohimahullah bahwa sujud sahwi itu boleh sebelum salam atau setelah salam. Walaupun tentu yang utama yang ditunjukkan oleh nash.

Beberapa hadits dimana Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam lupa padanya dan akan kita lihat apakah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam sujud sebelum salam ataukah setelah salam.

⚉  PERTAMA : Apabila Jumlah Roka’at Kurang
Dalam hadits Abu Hurairoh, Bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam pernah sholat dzuhur atau ‘ashar, kemudian beliau salam didua roka’at, kemudian beliau datang kedepan masjid dan beliau bersandar disana. Lalu ada seorang sahabat yang digelari Dzulyadain berkata, “wahai Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam apakah sholat telah dikurangi ataukah engkau lupa?” Maka Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam melihat kekanan dan kekiri dan berkata, “apa benar yang diucapkan oleh Dzulyadain?” Mereka berkata, “Benar wahai Rosulullah, engkau hanya sholat dua roka’at saja,” maka Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam sholat dua roka’at lagi dan salam, kemudian beliau takbir, kemudian sujud, kemudian takbir, kemudian mengangkat kepalanya, kemudian takbir dan sujud, kemudian takbir lagi dan kemudian salam.

Artinya Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam ketika kekurangan jumlah roka’at Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam langsung tambah lagi dan sujud sahwi setelah salam, ini apabila ingatnya langsung setelah selesai sholat atau beberapa waktu, adapun misalnya setelah selesai sholat kita pergi kepasar terus baru ingat kalau kurang sholatnya maka pada waktu itu wajib diulangi dari awal.

⚉  KE-DUA : Apabila Jumlah Roka’at Kelebihan
Hadits Abdullah bin Mas’ud Bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam pernah sholat dzuhur 5 roka’at, ini kelebihan. Setelah selesai salam dikatakan kepada beliau, “Engkau tadi kelebihan wahai Rosulullah, engkau sholat 5 roka’at.” Maka beliaupun langsung sujud sahwi lalu salam.

⚉  KE-TIGA : Ketika Lupa Tasyahud Pertengahan
Disebutkan dalam hadits Mughairah bin Syu’bah, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, Apabila imam berdiri langsung didua roka’at dan apabila ia sebelum tegak berdiri ia ingat segera ia duduk dan apabila ia telah tegak berdirinya maka tidak boleh ia duduk, namun diganti dengan sujud sahwi.”

⚉  KE-EMPAT : Ketika Lupa Tasyahud Awal.
Dalam riwayat yang lain, dari hadits Abdullah bin Muhainah, Bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam pernah berdiri dari dua roka’at lupa ditahiyat awal dari sholat dzuhur, setelah selesai sholat beliaupun segera sujud sahwi, kemudian salam setelah itu.

Maka yang seperti ini boleh sujud sahwi sebelum salam.

⚉  KE-LIMA: Ketika Terjadi Keraguan.
Disebutkan dalam hadits, “Apabila salah seorang dari kalian lupa apakah dua roka’at atau satu, maka hendaklah ia ambil yang yakin yaitu yang satu roka’at, apabila ia lupa dua atau tiga maka hendaklah ia ambil yang dua, kemudian setelah itu ia sujud sahwi sebelum salam.” (HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi)

Dan kalau terjadi keraguan maka yang harus kita lakukan adalah kita berusaha untuk mengingat-ingat dahulu.

Disebutkan dalam hadist Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam, “Apabila salah-seorang dari kalian ragu dalam sholatnya, hendaklah ia mencari yang benar dulu.”

Artinya dia berusaha mencari indikasi-indikasi yang menguatkan.

Dan tata caranya yaitu bisa ketika ia ingat tadi saat roka’at kedua dia mendehem atau ia ingat ada indikasi tadi waktu roka’at sekian begini, dia berusaha untuk mengingat-ingat dahulu. Jika ternyata mulai dia ingat dan muncul dugaan kuat maka gunakan dugaan yang kuat tersebut, kemudian sujud sahwi setelah salam, tapi kalau masih ragu juga maka ambil yang yakin yaitu yang paling sedikit, baru sujud sahwi sebelum salam.

Adapun selain tempat-tempat ini yang rajih adalah diberikan pilihan, antara sebelum salam atau setelah salam dipersilahkan (mukhayar) kata Syaikh Albani Rohimahullah diberikan pilihan sujud antara sebelum atau sesudah salam.

⚉  Lalu bagaimana kalau kita ternyata lupa sujud sahwi apakah kita perlu untuk sujud sahwi lagi karena lupa tsb ?

Artinya setelah selesai salam lupa kalau belum sujud sahwi. Ibnu Munzir dalam Kitab Al-Aushad jilid 3 hal 327, menyebutkan Ijma’ para ulama dari kalangan Tabi’in bahwa orang yang lupa sujud sahwi tidak perlu lagi sujud sahwi.  (PENJELASAN TAMBAHAN) : “Bila setelah salam langsung ingat belum sujud sahwi maka segera sujud sahwi. Namun bila ingatnya setelah 1 jam misalnya, maka tidak perlu sujud sahwi lagi” (*). (baca paragraf terakhir dari poin PERTAMA terkait hal ini)
.
.
Wallahu a’lam
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
(*) Penjelasan tambahan ini adalah jawaban Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى atas pertanyaan terkait lupa sujud sahwi.
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…

Hakekat Tawakkal Dan Rahasianya…

Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- mengatakan:

“Rahasia tawakkal dan hakekatnya adalah bersandarnya hati HANYA kepada Allah semata.

(Jika sudah demikian), maka tindakannya berikhtiar dengan apapun tidak akan membahayakan lagi baginya, asalkan hatinya kosong dari (perasaan) bersandar kepadanya dan mengandalkannya.

Sebagaimana tidak berguna baginya perkataan: “aku telah bertawakkal kepada Allah”, tapi ternyata masih bersandar kepada yang lain-Nya, mengandalkannya, dan percaya penuh kepadanya.

Jadi tawakkalnya lisan itu perkara tersendiri, dan tawakkalnya hati itu perkara lain. Sebagaimana taubatnya lisan tapi hatinya masih terus bermaksiat itu perkara lain lagi.

Maka perkataan seorang hamba: “aku telah bertawakkal kepada Allah”, tapi ternyata hatinya tetap bersandar kepada selain-Nya, itu seperti perkataannya: “aku telah bertaubat kepada Allah”, tapi ternyata dia tetap dengan kemaksiatannya dan terus melakukannya.”

[Kitab: Alfawaid, Ibnul Qoyyim, hal 87]

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da2512141912

Semestinya…

Sebagian orang bijak mengatakan,

“Semestinya bagi orang yang berakal untuk
senantiasa memperhatikan wajahnya di
depan cermin.

Apabila wajahnya bagus maka janganlah dia
perburuk dengan perbuatan jelek.

Dan apabila wajahnya jelek maka janganlah dia 
mengumpulkan dua kejelekan di dalam dirinya.”

(Al-Muntakhob min Kitab az-Zuhd wa ar-Roqoo’iq
Hal. 105)

 

Orang Yang Beristighfar Namun Dimurkai Allah…

Yahya bin Mu’adz ar-Razi rohimahullah berkata,

“Betapa banyak orang yang beristighfar namun
dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam
namun dirahmati.”

Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini
beristighfar akan tetapi hatinya diliputi
kefajiran atau dosa. Adapun orang itu diam,
namun hatinya senantiasa berdzikir.”

[Al-Muntakhob min Kitab az-Zuhd wa ar-Roqoo’iq,
karya al-Khothib al-Baghdadi, Hal. 69]

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Senantiasa Tawadhu dan Menjauhi Kesombongan…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Ilmu Itu Bukan Dari Usahamu…

“وفي قوله تعالى (والذين أوتوا العلم) – المجادلة : 11 – إشارة إلى أن العلم لا يدركه الإنسان بنفسه، و أن الإنسان مفتقر إلى الله عز وجل في تحصيله. فليس العلم من كسبك، وكم من إنسان بقي سنوات عديدة يطلب العلم ولم يحصله، و كم من إنسان حصل علما كثيرا في مدة قصيرة، كل هذا يعتمد على اعتماد الإنسان على ربه و سؤاله ربه أن يزيده من العلم.”

(التعليق على مقدمة المجموع : ٣٧)

“Di dalam Firman Allah Ta’ ala (artinya : dan orang-orang yang diberi ilmu) -al Mujadilah : 11- terdapat isyarat bahwasanya ilmu tidak didapat oleh manusia dengan sendirinya, dan bahwasanya manusia membutuhkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam mendapatkan ilmu.

Jadi, ilmu itu bukan dari usahamu, berapa banyak manusia menghabiskan waktu bertahun-tahun menuntut ilmu tapi dia tidak mendapatkannya, dan tidak sedikit pula manusia yang meraih ilmu yang banyak dalam masa yang singkat. Semua ini bergantung kepada ketergantungan seseorang kepada Robbnya dan permohonan dia kepada-Nya agar menambahkan ilmu untuknya.”

(kitab at Ta’liiq ‘ala Muqoddimah al Majmu’ : 37)

اللهم علمني ما ينفعني و انفعني بما علمتني و زدني علما

“Ya Allah ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat bagiku, dan berilah manfaat kepadaku dengan apa-apa yang telah engkau ajarkan kepadaku, dan tambahkanlah ilmuku.”

Ustadz Abuz Zubair Hawaary,  حفظه الله تعالى.

 

Bagi Para Penuntut Ilmu…

Abu Abdillah ar-Rudzabari rohimahullah berkata,

“Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu,
maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya.

Dan yang berangkat menimba ilmu dalam rangka mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.

[Al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Roqoo’iq, karya al-Khathib al-Baghdadi, Hal. 71]

Wahai Manusia…

Yahya bin Mu’adz ar-Razi rohimahullah berkata,

“Wahai manusia… engkau mencari dunia dalam
keadaan engkau bersungguh-sungguh untuk
mendapatkannya dan engkau mencari akhirat dalam keadaan seperti orang yang tidak membutuhkannya (malas-malasan).

Padahal dunia sudah mencukupimu walaupun engkau tidak mencarinya. Sedangkan akhirat hanya didapatkan dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam mencarinya. Maka pahamilah keadaanmu”

[ad-Dunya Zhillun Zail, hlm.31]