All posts by BBG Al Ilmu

Satu Lagi Do’a Setelah Tasyahud Akhir – Sebelum Salam

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى  berikut ini :

ini adalah salah satu do’a yang dibaca saat dalam sholat, yaitu setelah tasyahud akhir (sebelum salam).. Di riwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan hadits ini dinyatakan shohih oleh Syaikh al-Albani rohimahullah.

Dan dalam riwayat Imam an-Nasa’i 1301, ada tambahan sedikit (garis merah) dalam lafazh do’anya dan hadits ini juga dinyatakan shohih oleh Syaikh al-Albani rohimahullah dalam Shohiiih an-Nasa’i, jadi KEDUA LAFAZH DO’A DIATAS.. Allahu a’lam

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua untuk mengamalkannya di sholat-sholat kita baik di sholat fardhu/wajib yang 5 waktu maupun di sholat-sholat sunnah seperti sholat Dhuha pagi ini dst..

ARTIKEL TERKAIT
Dzikir Yang Dahsyat
Dzikir Sebelum Meninggalkan Pertemuan Yang Bukan Majelis Ilmu

KAIDAH DALAM AT-TAKFIIR – Syarat Mengkafirkan Individu dan Penghalang-Penghalangnya – Syarat Ke 4

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Syarat Mengkafirkan Individu dan Penghalang-Penghalangnya – Syarat ke 3) bisa di baca di SINI

=======
.
🌿 Syarat Mengkafirkan Individu dan Penghalang-Penghalangnya – Syarat Ke 4 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan Dhowabit nya.. sekarang kita masuk syarat yang ke..

4️⃣ Yaitu seseorang yang melakukan kekafiran itu dia melakukannya karena muta’awil (artinya terkena syubhat). Dia melihat ada suatu alasan yang menurut dia kuat. Namun ternyata ia salah.

Dimana ta’wil atau ketika seseorang melakukan kekafiran karena ta’wilnya itu termasuk kesalahan yang tidak disengaja. Allah berfirman: [Qs Al-Baqoroh :286]

‎رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Wahai Robb kami, janganlah Engkau siksa kami jika kami lupa atau kami salah”

Dan tentunya ketika seseorang tujuannya mencari kebenaran bukan karena mengikuti hawa nafsu, dan dalil yang di pakainya juga memang (bisa dikatakan) mempunyai sisi-sisi yang bisa diterima.. maka pada waktu itu dimaafkan.

Diantara dalilnya juga yaitu, ketika Kholid bin Al Walid rodhiyallahu ‘anhu membunuh orang yang mengatakan “soba’na”, tujuannya sebetulnya dia masuk Islam. Dalam kisah fathu makkah, ketika Kholid bin Al Walid rodhiyallahu ‘anhu masuk dari arah lain dari kota Mekkah, lalu ada orang-orang yang berkata “soba’na”, maksudnya mereka adalah masuk Islam, maka Kholid langsung membunuhnya karena Kholid mengira dia itu mengucapkan kata “soba’na”, artinya bahwa mereka diatas agama jahiliyahnya, sehingga Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam pun berlepas diri dari perbuatan Kholid.

Maka Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan, sebagaimana Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam memberikan ganti kepada Banun Djuzaimah terhadap jiwa yang telah di bunuh oleh Kholid dan Rosulullah pun berlepas diri dari perbuatan Kholid, gara-gara mereka mengucapkan “soba’na”, padahal tujuan mereka ingin masuk Islam. Tapi Kholid salah faham.. dikiranya kata-kata “soba’na” itu artinya mereka tetap tidak masuk Islam.

Ini menunjulkan Kholid melakukan perbuatan itu dalam keadaan muta’awil dengan ta’wil, sehingga dimaafkan oleh Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam.

Demikian pula ketika Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu pulang dari Syam dan kemudian sesampainya di kota Madinah, Mu’adz sujud kepada Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam.. adalah sujud dalam Islam kepada selain Allah itu termasuk syirik besar. Tapi kemudian Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam bertanya dulu, “Kenapa kamu lakukan itu, wahai Mu’adz..?”

Kata Mu’adz (nah ini dia Beliau muta’awil), “Aku melihat di Syam, orang-orang sujud kepada pendeta-pendeta mereka, Aku berfikir bahwa kita kaum muslimin lebih berhak sujud kepada Rosulullah..”

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam kemudian mengatakan, “Wahai Mu’adz kalau aku perintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, aku akan perintahkan seorang istri sujud kepada suaminya..”

➡ Kemudian kata Beliau (Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili hafizhohullah – penulis kitab) dari ucapan perkataan para Ulama bisa kita ambil beberapa kaidah umum yang berhubungan dengan muta’awil ini.

⚉ KAIDAH PERTAMA : Yaitu yang berhubungan dengan orang yang melakukannya, yaitu dia seorang muslim dan mukmin dimana ia jatuh kepada ta’wil yang salah.

⚉ KAIDAH KE-2 : Yaitu berhubungan dengan tujuan daripada dia menta’wil. Kalau tujuannya itu untuk mencari kebenaran bukan untuk sengaja mencari-cari pembenaran, maka diterima.. adapun kalau dia mencari-cari pembenaran saja itu tandanya dia mengikuti hawa nafsu.. maka seperti ini tidak diterima.

⚉ KAIDAH KE-3 : Yaitu berhubungan dengan jenis dari ta’wilnya, dimana ta’wil itu bisa diterima dalam bahasa arab, dan mempunyai sisi yang bisa diterima oleh para Ulama dan secara kaidah syari’at juga.. maka kalau keadaannya seperti ini diterima.. artinya dimaafkan orangnya.

Tapi kalau ternyata secara bahasa arab pun tidak mendukung secara kaidah pun tidak mendukung, itu menunjukkan kalau dia itu sebetulnya mencari-cari pembenaran saja..
.
Wallahu a’lam 🌼
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

.
Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – At Takfiir wa Dhowabithhu – Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

KAIDAH DALAM AT-TAKFIIR – Syarat Mengkafirkan Individu dan Penghalang-Penghalangnya – Syarat Ke 3

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Syarat Mengkafirkan Individu dan Penghalang-Penghalangnya – Syarat Ke 1 dan 2) bisa di baca di SINI

=======
.
🌿 Syarat Mengkafirkan Individu dan Penghalang-Penghalangnya – Syarat Ke 3 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan Dhowabith At Takfiir… kemaren kita sudah menyebutkan 2 syarat dari 4 syarat mengkafirkan muayyan.. (baca DISINI terkait ‘Muayyan’).. sekarang kita masuk syarat yang ke..

3️⃣ Tegaknya hujjah kepada orang yang melakukan kekafiran tersebut. Maksudnya sudah dijelaskan kepadanya hujjah.

⚉ Ibnu Hazm rohimahullah berkata, “Tidak ada perselisihan para Ulama jika ada orang yang masuk Islam dan dia tidak mengetahui syariat-syariat Islam, lalu ia meyakini bahwa arak itu halal, dan bahwasanya sholat tidak disyariatkan, dan belum sampai kepadanya hukum Allah kepadanya, maka dia belum disebut kafir dengan tanpa ada perselisihan para Ulama. Sampai ia tegak dulu hujjah kemudian dia “ngeyel”, maka pada waktu itu dengan ijma’ para Ulama, dia kafir..” [Kitab Almuhala jilid 12/ hal 135]

Apa yang dimaksud dengan sudah tegak hujjah..?
Ada 2 pendapat (Kata Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili hafizhohullah – penulis kitab)..

⚉ Pendapat yang PERTAMA
Yaitu sudah tegak hujjah dalam artian, dia memahami hujjah yang di sampaikan kepadanya, dan ini pendapat banyak Ulama, seperti Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu ‘Arabi, Ibnu Qudamah, Ibnul Qoyyim dan yang lainnya.

⚉ Pendapat yang KEDUA
Tegak hujjah artinya sampai kepadanya hujjah walupun dia tidak memahaminya, yang penting sudah sampai. Alasannya bahwa orang-orang musyrikin sudah mendengarkan AlQur’an, padahal Allah menyifati orang musyrikin itu tidak berakal (kata mereka) dan ini pendapat sebagian cucu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.. walaupun pendapat tersebut perlu di kaji ulang.

➡ Yang shohih yang rojih kata Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili hafizhohullah, “bahwa yang pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang pertama..” Bahwa tegak hujjah itu artinya orang yang ditegakkan padanya hujjah, memahami hujjah yang disampaikan kepadanya. Dalilnya diantaranya firman Allah [QS Al-Baqarah : 286]

‎لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani kecuali sesuai dengan kemampuannya”

Maka dari itu orang yang tidak paham berarti dia belum mampu. Demikian pula orang yang tidak paham bagaimana tegaknya hujjah, sama dengan orang yang tidak berakal.

Seperti Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Diangkat pena dari 3 orang, dari orang yang tidur sampai bangun, dari anak kecil sampai dewasa , dan dari orang gila sampai berakal..”

Kalau misalnya kita menyampaikan hujjah dengan bahasa Jawa kepada orang Sunda yang tidak paham bahasa Jawa kemudian dia berkata, “Saya sudah menegakkan hujjah..” Tentu orang tertawa.

Kalau ada orang yang menegakkan hujjah dengan bahasa Indonesia kepada orang Cina yang tidak paham bahasa Indonesia, lalu dia berkata, “Sudah tegak hujjah..” Tentu ini menjadi lelucon dan sangat aneh pendapat seperti itu tersebut.. selain bertabrakan dengan hadits dan ayat. Diantaranya hadits bahwa Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam mengabarkan ada 4 orang yang akan mengemukakan alasannya pada hari kiamat, diantaranya orang tua renta, kemudian dia akan berkata, “Ya Robb Islam datang, tapi aku tidak paham sama sekali..”

Adapun alasan mereka yang mengatakan bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam mengabarkan menegakkan hujjah kepada mereka sementara orang musyrikin tidak punya akal, maksudnya “akal” disini artinya mereka tidak mau mendengar untuk berusaha dengan memahaminya.

Makanya kata Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili hafizhohullah, “bedakan antara orang yang tidak mau memahami karena akibat berpaling, dengan orang yang tidak paham karena memang bahasanya dia tidak paham..”

Tentu dua ini perkara yang berbeda..

Kalau ada orang yang tidak mau paham karena memang dia berpaling, padahal kalau dia berusaha untuk memahami dia paham. Tentu seperti ini tidak diberikan udzur, kata Beliau.

Adapun orang yang tidak paham karena memang tidak paham bahasanya, apa maksudnya..? atau karena ada syubhat di pikirannya yang dia menganggap koq ada dalil lain atau hujjah lain yang seakan-akan bertabrakan tentu seperti ini diberikan udzur..
.
Wallahu a’lam 🌼
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

.
Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – At Takfiir wa Dhowabithhu – Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

KAIDAH DALAM AT-TAKFIIR – Syarat Mengkafirkan Individu dan Penghalang-Penghalangnya – Syarat Ke 1 dan 2

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Mengkafirkan Secara Individu #2) bisa di baca di SINI

=======
.
🌿 Syarat Mengkafirkan Individu dan Penghalang-Penghalangnya – Syarat Ke 1 dan 2 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan Kitab At Takfiir wa Dhowabithhu.. kemudian kita bahas selanjutnya, yaitu tentang..

⚉ PENJELASAN SYARAT-SYARAT MENGKAFIRKAN INDIVIDU DAN PENGHALANG-PENGHALANGNYA

Beliau berkata bahwa syaratnya ada 4 :

1️⃣ ‎Ia baligh dan berakal (orang yang di kafirkan tersebut)
2️⃣ ‎Dia melakukan kekafiran itu bukan karena paksaan
3️⃣ Yaitu sudah sampai/sudah tegak padanya hujjah
‎4️⃣ Dia tidak terkena syubhat atau disebut muta’awwil

Kita bahas syarat..

1️⃣ Baligh dan berakal

⚉ Berdasarkan hadits ‘Aisyah, bahwa Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Diangkat pena dari 3 orang, dari orang yang tidur sampai bangun, dari anak kecil sampai ia dewasa, dan dari orang gila sampai dia sembuh..” [HR. Imam Ahmad, Ibnu Majah, Al Hakim dan yang lainnya]

⚉ Ibnu Mundzir rohimahullah berkata, “Para Ulama semua bersepakat bahwa orang gila, apabila ia murtad di saat gilanya, maka dia tetap muslim, dan bahwa perbuatannya itu tidak dianggap..” [Kitab Al Ijma’ hal 122]

⚉ Ibnu Qudamah rohimahullah juga mengatakan, “Sesungguhnya murtad itu tidak sah kecuali dari orang yang berakal, adapun orang yang tidak punya akal seperti anak kecil, demikian orang gila atau yang hilang akalnya karena pingsan atau tidur atau sakit atau meminum obat misalnya, maka tidak sah murtadnya..” [Kitab Al Mughniy jilid 12/ hal 266]

⚉ Imam Nawawi rohimahullah mengatakan, “Anak kecil tidak sah murtadnya demikian pula orang gila..”

2️⃣ ‎Dia melakukan perbuatan yang mengkafirkan tersebut dalam keadaan tidak terpaksa, artinya dengan sukarela.

Ini berdasarkan firman Allah [QS An-Nahl : 106] (yang artinya)
“Siapa yang kafir kepada Allah setelah keimanannya, kecuali orang yang dipaksa sementara hatinya tenang dengan keimanan, akan tetapi orang yang melakukan kekafiran dengan sukarela maka atas merekalah kemurkaan Allah, bagi mereka adzab yang pedih..”

⚉ Ibnu Katsir rohimahullah berkata, “Para Ulama bersepakat bahwasanya kita tetap memberikan loyalitas kepada orang yang di paksa untuk kafir karena perbuatan tersebut termasuk udzur yang syar’i.”

⚉ AlQodhiy ‘Iyadh rohimahullah mengatakan, ketika membawakan hadits tentang orang yang salah ucapan sangking gembiranya, “Ya Allah Engkau hambaku, aku Tuhan-Mu”, sangking gembiranya dia salah, Kata AlQodhiy ‘Iyadh, “ini menunjukkan bahwa apa yang di ucapkan oleh seseorang dalam keadaan akalnya tertutup, itu tidak diberikan sanksi karenanya..” [Kitab Ikmaalmu’lim jilid 8/ hal 345]

Maka dari itu orang yang melakukan kekafiran karena dipaksa dimana dia tidak ada pilihan kalau dia melakukan, maka dia akan dibunuh.. maka yang seperti ini dimaafkan seperti halnya yg dilakukan oleh ‘Ammar bin Ya’sir.
.
Wallahu a’lam 🌼
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul At Takfiir wa Dhowabithhu, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

.
Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – At Takfiir wa Dhowabithhu – Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

Pantaskah..?

Imam Syafi’i -rohimahullah- wafat 204 H, sedangkan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari baru lahir 294 H .. ya 90 tahun setelah Imam Syafi’i wafat.. Kemudian ada akidah yang disandarkan kepada Imam Asy’ari.

Kalau akidah keduanya sama, pantaskan Imam Syafi’i dikatakan berakidah Asy’ari..?! Bahkan pantaskah kita katakan, Imam Asy’ari lebih alim tentang akidah dan kaidah yang berkaitan dengannya melebihi Imam Syafii..?!

Tidaklah seseorang terkenal dengan julukan tertentu dalam akidah .. kecuali ada perbedaan antara dirinya dengan yang lainnya .. sebagaimana tidak dikatakan syiah, kecuali ada yang berbeda dengan yang lainnya, tidaklah dikatakan muktazilah kecuali ada yang berbeda dengan yang lainnya .. dst.

Kalau tidak ada bedanya dengan golongan Ahlussunnah yang sudah dikenal di zaman Sahabat, maka tentunya tidak perlu ada nama khusus untuk akidahnya..Jika akidah Asy’ari berbeda dengan akidah Imam Syafi’i, dan Imam Syafi’i lebih alim daripada Imam Asy’ari baik dari sisi fikih maupun akidah .. pantaskah kita memilih akidah Asy’ari dan meninggalkan akidah Imam Syafii, yakni akidah Ahlussunnah waljama’ah yang namanya sudah familiar sejak zaman Sahabat..?

Tentunya tidak pantas !

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi..

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

KITAB FIQIH – Takbir Idul Fitri dan Takbir Idul Adha

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى.

PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Keutamaan Beramal Sholih Di 10 hari Pertama Dzulhijjah  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan kajian kita.. fiqih.. masih tentang Hari Raya..

⚉ DI SUNAHKAN UNTUK MEMBERIKAN SELAMAT HARI RAYA

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata, “Dahulu para sahabat Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam mengucapkan ‘Taqabbalallahu minna wa minkum’ ketika saling bertemu di hari Idul Fitri.” (Dikeluarkan oleh ad-darimi dalam sunahnya dan sanadnya hasan)

➡ Bolehkah kita mengucapkan dengan kata-kata yang lain..?
Contoh, “Kullu ‘aam wa antum bi khoyr”, atau di indonesia “Minal aidin wal faizin”. Ini terjadi ikhtilaf bagi para ulama. Sebagian mengatakan Tidak boleh, cukup dengan apa yang diucapkan oleh para sahabat saja, karena mereka memandang ini ibadah.

Sementara kebanyakan para ulama mereka berpendapat Boleh, karena kata mereka tah-niah itu bukan dari jenis ibadah.
Akan tetapi tah-niah mengucapkan selamat itu dari jenis kebiasaan atau adat. Maka apa saja yang menunjukkan kepada kata-kata tah-niah itu diperbolehkan, dan itu yang dirojihkan oleh hampir semua masyaikh di saudi, seperti, Syaikh Bin Baz, Syaikh Sholeh Utsaimin, Syaikh Fauzan, Syaikh Albani dan yang lainnya.

⚉ BERTAKBIR DI HARI RAYA

Allah Subhanahu Wa ta’ala Berfirman dalam surat Al- Baqoroh :185

وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hendaklah kalian menyempurnakan jumlah bilangan Ramadhan dan hendaklah kalian bertakbir kepada Allah atas hidayah yang diberikan kepada kalian agar kalian bersyukur”

IDUL FITRI

Maka disyariatkan takbir dihari raya Idul Fitr dari semenjak malam idul fitr sampai pagi hari, sampai imam naik mimbar atas pendapat imam Syafi’i dan banyak ulama yang lainnya, sementara sebagian ulama berpendapat disyariatkan takbir Idul Fitr dari semenjak pagi keluar rumah sampai menuju lapangan, sampai imam naik mimbar, sampai imam sholat.
Namun yang rojih diperbolehkan dari semenjak malam Idul Fitr berdasarkan Firman Allah, “Agar kalian menyempurnakan bilangan dan agar kalian bertakbir” Sementara malam Ied sudah sempurna bilangan Ramadhan.

Adapun ada Hadits yang menyebutkan bahwa Rosullullah shollallahu ‘alayhi wa sallam mulai bertakbir dari semenjak pagi itu haditsnya Dhoif tidak Shohih.

IDUL ADHA : Takbirnya ada 2 macam

1. TAKBIR MUTLAK : yaitu takbir kapan saja dan dimana saja maka ini disyariatkan dari semenjak tanggal 1 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah diwaktu ‘ashar.

Disebutkan di suatu hadits (dalam riwayat Al Bukhari) berkata:

وكان ابن عمر، وأبو هريرة يخرجان إلى السوق في أيام العشر، فيكبران ويكبر الناس بتكبيرهما

“Ibnu Umar dan Abu Hurairah senantiasa keluar ke pasar-pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Mereka bertakbir, dan orang-orang pun ikut bertakbir karena mendengar takbir dari mereka berdua..”
Ini menunjukan Takbir Mutlak boleh/disyariatkan dari tanggal 1 Dzulhijjah sampai 13 Dzulhijjah (perbanyak takbir)

2. TAKBIR MUQOYYAD : yaitu takbir yang disyariatkan setelah selesai sholat Fardhu, maka ini dimulai dari tanggal 9 Dzulhijjah sholat shubuh sampai tanggal 13 Dzulhijjah sholat ‘ashar
Sebagaimana ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib demikian pula Ibnu ‘Abbas dan Syaikh Albani rohimahullah mengatakan shohih.

Maka ini takbir yang ada di Idul Fitri dan Idul Adha.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

SELESAI – WAKAF Sumur Bor + Kelas Tahfizh

UPDATE – AHAD SIANG – 05 DZULHIJJAH   /  26 JULI 2020
.
alhamdulillahilladzii bi-ni’matihi tatimmush-shoolihaat… dengan pertolongan Allah, seluruh dana yang diperlukan sudah terpenuhi, oleh karena itu kami SUDAHI program :
.
1️⃣ WAKAF SUMUR BOR :
⚉ Musholla Yayasan Ihya Assunnah –
Sekotong

⚉ Musholla Al Ikhlas – Anjani
⚉ Musholla Nuurussunnah – Sembalun
2️⃣ WAKAF SUMUR BOR + TEMPAT WUDHU : Masjid Utsman bin Affan – Sakra
3️⃣ WAKAF KELAS TAHFIZH : Pondok Tahfizh Ibnu ‘Abbas – Suralaga
.
Jazaakumullahu khoyron kepada para muhsinin/donatur yang telah dengan tulus ikhlas karena Allah menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu menyediakan sarana air bersih dan kelas tahfizh.
.

Daftar penerimaan :

26 Juli - 2

.
➡ Dana yang masuk setelah terpenuhinya program ini akan dialokasikan dan DILAPORKAN dalam program wakaf berikutnya, in-syaa Allah
.
===================================
.
Alhamdulillah.. wash-sholaatu wassalaamu ‘alaa Rosulillah
.
Dengan nama Allah dan dengan memohon ridho-Nya, di awal bulan mulia DZULHIJJAH 1441 terbuka kesempatan untuk beberapa amal jariyah yang kebanyakan terkait pengadaan air bersih seiring dengan mulainya musim kemarau di pulau lombok, NTB . Program kali ini terdiri dari :
.
1️⃣ WAKAF SUMUR BOR :
⚉ Musholla Yayasan Ihya Assunnah – Sekotong

⚉ Musholla Al Ikhlas – Anjani
⚉ Musholla Nuurussunnah – Sembalun

2️⃣ WAKAF SUMUR BOR + TEMPAT WUDHU : Masjid Utsman bin Affan – Sakra
3️⃣ WAKAF KELAS TAHFIZH : Pondok Tahfizh Ibnu ‘Abbas – Suralaga.
.
===================================
.
Allah Ta’ala berfirman dalam Qs Al Baqoroh-261 (yang artinya), 
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui..”
.
⚉ Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bazzar, dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani rohimahullah dalam Shohihul Jami’, no. 3602, Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya), ‘Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah wafatnya (yaitu) :
1️⃣ Orang yang yang mengajarkan suatu ilmu,
2️⃣ Mengalirkan sungai
3️⃣ Menggali sumur
4️⃣ Menanamkan kurma
5️⃣ Membangun masjid
6️⃣ Mewariskan mushaf atau
7️⃣ Meninggalkan anak yang memohonkan ampun buatnya setelah dia meninggal.

Syaikh ‘Abdur Rozzaq bin Abdil Muhsin al-Abbad al-Badr حفظه الله تعالى  (dalam al-Fawaaid al-Mantsuurah, hlm. 11-15, mengatakan terkait amal jariyah no. 3 – menggali sumur) :
.
“Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Suatu ketika ada seorang lelaki yang menahan dahaga yang teramat berat berjalan di jalan, lalu dia menemukan sumur. Dia turun ke sumur itu lalu meminum kemudian keluar. Sekonyong-konyong dia mendapati seekor anjing terengah menjulurkan lidahnya menjilat tanah karena saking hausnya. (Melihat pemandangan ini,) lelaki itu mengatakan, ‘Anjing ini telah dahaga yang sama dengan yang aku rasakan.’

Lalu dia turun ke sumur itu dan memenuhi sepatunya dengan air lalu diminumkan ke anjing tersebut. Maka (dengan perbuatannya itu) Allâh Azza wa Jalla bersyukur untuknya dan memberikan maghfirah (ampunan)-Nya.  Para shahabat bertanya, “Apakah kita bisa mendapatkan pahala dalam (pemeliharaan) binatang ?” Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, pada setiap nyawa itu ada pahala.” [HR. Bukhari, no. 2466 dan Muslim, no. 2244]

Ini pahala yang didapatkan oleh orang yang memberikan minum, lalu bagaimana dengan orang yang menggali sumur yang dengan keberadaannya akan tercukupi kebutuhan minum banyak orang dan bisa dimanfaatkan oleh banyak orang..”

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda (yang artinya),  “Sebaik-baik orang di antara kamu adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya (kepada orang lain)” [HR. Bukhari, no. 4739]

“Hadits yang agung ini menunjukkan tingginya keutamaan orang yang mempelajari al-Qur’an, mempelajari cara membacanya dengan tajwid yang benar, memahami kandungannya dan berusaha menghafalnya dengan baik, kemudian mengajarkannya kepada orang lain, agar petunjuk dan kebaikan yang terkandung di dalamnya tersebar dan di amalkan manusia.” [Faidhul Qodiir – 3/499]
.
===================================
.
1️⃣ WAKAF SUMUR BOR :
⚉ Musholla Yayasan Ihya Assunnah – Sekotong, Lombok Barat

⚉ Musholla Al Ikhlas – Anjani, Lombok Timur
⚉ Musholla Nuurussunnah – Sembalun
.
⚉ Musholla Yayasan Ihya Assunnah terletak di Repok Gapuk, /Eat Pace, Taman Baru, Kec. Sekotong Tengah, Lombok Barat Alhamdulillah, kegiatan dakwah sudah lama berjalan di musholla ini yang juga digunakan oleh 30 santri untuk belajar Alqur’an. Selama ini musholla mengandalkan sumur manual sebagai sumber air, namun qoddarallah wa maa syaa-a fa’al, saat musim kemarau debit air sangat kecil sehingga tidak mencukupi kebutuhan jama’ah masjid. Pihak yayasan dan takmir musholla memohon bantuan sumur bor dengan kedalaman sekitar 30 m. Semoga Allah mudahkan proses pembuatan sumur bor ini sehingga debit air bersihnya bisa dimanfaatkan oleh jama’ah musholla dan para santri. Biaya program sumur bor ini adalah Rp. 28 juta

.
⚉ Musholla Al Ikhlas terletak di Dusun Anjani 2, Desa Anjani
Kec. Suralaga, Lombok Timur.
 Alhamdulillah, kegiatan dakwah juga sudah lama berjalan di musholla ini. Selama ini musholla dan sekitar 90 KK di sekitar musholla mengandalkan sumur manual sebagai sumber air, namun qoddarallah wa maa syaa-a fa’al, saat musim kemarau debit air sangat kecil sehingga tidak mencukupi kebutuhan jama’ah masjid dan juga kebutuhan warga sekitar musholla untuk wudhu, minum, mandi dan kebutuhan sehari-hari. Pihak takmir musholla memohon bantuan sumur bor dengan kedalaman sekitar 30 m. Semoga Allah mudahkan proses pembuatan sumur bor ini sehingga debit air bersihnya bisa dimanfaatkan oleh jama’ah musholla dan warga sekitarnya. Biaya program sumur bor ini adalah Rp. 28 juta.  


.
⚉ Musholla Nuurussunnah terletak di Dusun Mapakin Sembalun Lawang Kec. Sembalun, Lombok Timur.  Alhamdulillah, kegiatan dakwah juga sudah lama berjalan di musholla ini yang juga digunakan oleh 40 santri untuk belajar Alqur’an. Selama ini musholla dan sekitar 50 KK di sekitar musholla mengandalkan bantuan truk tanki air yang qoddarallah tidak rutin. Mereka sangat membutuhkan pasokan air bersih yang rutin. Pihak takmir dan warga sektar musholla memohon bantuan sumur bor dan alhamdulillah hasil survei Geolistrik menunjukkan adanya debit air dengan kedalaman sekitar 50-90 m. Semoga Allah mudahkan proses pembuatan sumur bor ini sehingga debit air bersihnya bisa dimanfaatkan oleh jama’ah musholla dan warga sekitarnya. Dikarenakan tanah yang mengandung bebatuan hingga kedalaman 50 m, dan setelah survei lanjutan oleh pekerja sumur bor, maka hari ini Jum’at 3 Dzulhijjah alhamdulillah telah disepakati biaya pengeboran mencapai sekitar Rp. 46 juta

.
2️⃣ WAKAF SUMUR BOR + TEMPAT WUDHU : Masjid Utsman bin Affan adalah masjid baru yang terletak di Desa Sakra Kec. Sakra Timur, Lombok Timur, namun belum memiliki sumber air untuk kebutuhan wudhu dll. Selain itu Masjid juga belum memiliki tempat wudhu dan wc bagi pria dan wanita. Biaya yang diperlukan untuk sumur bor (40 m) dan tempat wudhu mencapai Rp. 80 juta

.
3️⃣ WAKAF KELAS TAHFIZH : Pondok Tahfizh Ibnu ‘Abbas terletak di Dusun Bantek Desa Bagek Payung Kec. Suralaga, Lombok Timur  Alhamdulillah, pondok tahfizh memliki 300 santri yang khusus mempelajari Alqur’an. Saat ini pihak pondok kekurangan dana untuk tambahan kelas bagi santri lama dan juga santri baru. Biaya pembuatan 5 kelas yaitu Rp. 140 juta

==============
Dengan demikian, Total biaya dalam program wakaf kali ini adalah Rp. 322 juta (lihat UPDATE SALDO paling atas)

➡ yang hendak berpartisipasi dalam program amal jariyah ini, silahkan transfer ke :
.
Bank Syariah Mandiri (kode bank 451)
no. rekening : 748-000-9996
an. al ilmu INFAQ
.
konfirmasi (tidak wajib) :
0838 0662 4622
.
jazaakumullahu khoyron kepada para muhsinin/donatur yang telah dengan tulus menyisihkan sebagian hartanya.
.
silahkan share ke kerabat, teman, dll karena terdapat juga pahala bagi orang yang menunjukkan jalan kebaikan.
.
Nabi shollallahu ’alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” [ HR. Muslim no. 1893 ]
.
.
semoga Allah ‘azza wa Jalla senantiasa mudahkan urusan kita bersama… Aaamiiin

Amalan Berpahala SEDEKAH : Keutamaan Memperpanjang Tempo Hutang…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

ARTIKEL TERKAIT
Apa Maksud Kalimat ‘Sedekah Dengan Tangan Kanan Sedangkan Tangan Kirinya Tidak Mengetahuinya…’
DO’A Hindari Kemalasan, Kesedihan, Hutang, dll…
Antara Memperpanjang Tempo Pelunasan dan Menghapus Hutang, Mana Yang Lebih Utama..?
Tanya-Jawab Seputar Ramadhan…

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

da130517-1836

PENTING..! – Dzikir Sebelum Meninggalkan Pertemuan Yang Bukan Majelis Ilmu

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى  berikut ini :

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang duduk di suatu majelis lalu di majelis itu banyak perbuatan dan kata-kata yang salah dan tidak pantas (sia-sia), kemudian sebelum bangkit dari majelis itu ia membaca (dzikir di bawah),

Subhaana-kallahumma wabihamdika, asyhadu an laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilayka | Maha suci Engkau ya Allah, segala puji untuk-Mu, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu

maka Allah akan menghapus dosa dan kesalahannya yang terjadi di majelis tersebut..”

[HR. At-Tirmidzi no 2433 – Hasan Shohih]

ARTIKEL TERKAIT
Dzikir Yang Dahsyat – Yuuk Baca..