Category Archives: BBG Kajian

Memperbanyak Dzikir Setelah Sholat Jum’at

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullah menjelaskan tentang anjuran memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala setelah menunaikan sholat Jum’at.

● Ayat : Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10: “Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung..”

● Anjuran Memperbanyak Dzikir: Disunnahkan bagi setiap Muslim untuk memperbanyak dzikir kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala selepas menunaikan ibadah sholat Jum’at.

● Dzikir di Tengah Kesibukan: Dzikir ini tidak hanya terbatas di tempat ibadah, melainkan dianjurkan untuk tetap diamalkan meskipun seseorang sedang berada di pasar, bekerja, berdagang, berniaga, atau mengurus berbagai urusan kepentingannya duniawinya, agar ia senantiasa mengingat Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

=======
KUMPULAN DZIKIR & DO’A yang bisa diamalkan setiap saat .. terutama di waktu waktu mustajab

https://bbg-alilmu.com/archives/73456

semoga Allah menjaga kita dalam keadaan penuh keselamatan dan keimanan, aamiin.

 

Isbal Termasuk Dosa Besar

1. Orang yang celana atau sarungnya menjulur melewati mata kaki, maka tempatnya di neraka ⬇️

2. Sarung/celana kaum pria mukmin adalah sampai diatas mata kaki ⬇️

3. Menjulurkan sarung/celana bagi laki laki adalah bentuk kesombongan hati dan perbuatan ⬇️

4. Batasan panjang sarung/celana bagi kaum pria Mukmin ⬇️

5. Tiga golongan manusia yang tidak diajak bicara, tidak dilihat, tidak disucikan & adzab yang pedih bagi mereka ⬇️

6. Allah tidak akan melihat kepada orang yang menjulurkan sarungnya atau celananya hingga di bawah mata kaki ⬇️

7.  Isbal adalah salah satu bentuk kesombongan, apalagi disertai dengan niat sombong ⬇️

8. Akibat dari menjulurkan sarung atau celana hingga di bawah mata kaki ketika sholat ⬇️

9. Pelaku isbal ditenggelankan kedalam bumi ⬇️

10. Kekawatiran sahabat Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu tentang isbal ⬇️

Tujuh Adab Dalam Berdzikir

Berikut ini adalah ringkasan dari penjelasan Syaikh Abdurrozzaq Al Badr hafizhohullah tentang 7 adab berdzikir berdasarkan Surah Al-A’raf ayat 205.

1. DI DALAM DIRI (TERSEMBUNYI)

Berdzikir dengan cara tersembunyi. Hal ini lebih memasukkan unsur keikhlasan, lebih mendekatkan pada penerimaan, serta lebih jauh dari sifat riya’ (pamer).

Menurut Ibnul Qoyyim rohimahullah, “hal ini mencakup dua makna .. di dalam hati/sir dan melalui lisan sedemikian rupa sehingga diri sendiri bisa mendengarnya.

2. DISERTAI RASA TADARRU’

Berdzikir dengan penuh kerendahan diri, ketundukan, dan rasa pasrah di hadapan Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

3. DISERTAI RASA KHAUF/TAKUT DAN KAWATIR 

Berdzikir dengan rasa takut, yakni takut dan kawatir jika dzikirnya tidak diterima oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Rasa takut ini penting agar sang hamba tidak terjebak dalam sifat ujub (bangga diri) atas amal ibadahnya.

4. BERSUARA SEDANG

Berdzikir dengan nada yang tidak terlalu keras (mengeraskan suara secara berlebihan) dan tidak pula terlalu pelan tanpa suara sama sekali, melainkan berada di antara keduanya. Hal ini membantu seseorang untuk lebih menghayati makna dan petunjuk dari dzikir tersebut.

5. MENGGABUNGKAN ANTARA HATI DAN LISAN

Melakukan dzikir tidak hanya dengan lisan saja atau hati saja, melainkan menggabungkan keduanya (lisan bergerak dengan suara yang lembut, sementara hati merenungkan maknanya). Ini merupakan tingkatan dzikir yang paling tinggi.

6. MEMPERHATIKAN WAKTU PAGI DAN PETANG

Memberikan perhatian khusus dan memperbanyak dzikir pada dua waktu utama, yaitu di awal siang (pagi hari) dan di akhir siang (petang hari).

7. MENJAUHI SIKAP LALAI

Menghindari kelalaian dari mengingat Allah Subhaanahu wa Ta’ala akibat kesibukan duniawi. Ayat ini menutup dengan peringatan agar hamba-hamba-Nya senantiasa istiqomah dan memperbanyak dzikir secara terus menerus, serta tidak menjadi golongan yang lalai.

Mendo’akan Kedua Orangtua Adalah Bentuk Ketaatan Terhadap Perintah Allah

Syaikh Abdurrozzaq Al Badr hafizhohullah menjelaskan,

“Firman Allah Jalla wa ‘Alaa, ‘Wa qur robbir-hamhumaa kamaa robbayaani shoghiiro’ | dan katakanlah: ‘wahai Tuhanku, kasihilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil..’

Dan ini adalah hal paling utama yang hendaknya dido’akan oleh seorang anak kepada orangtuanya.

📌 Hal paling utama yang hendaknya dido’akan oleh seorang anak kepada orangtuanya adalah sebagai bentuk ketaatan terhadap perintah Allah Jalla wa ‘Alaa, karena Allah memerintahkan hal tersebut.

Allah berfirman, ‘Wa qur robbir-hamhumaa’ | dan katakanlah: ‘wahai Tuhanku, kasihilah keduanya..’

Ini adalah perintah dari Robb semesta alam, maka hendaknya hal ini diperhatikan. Hal paling utama yang hendaknya dido’akan oleh seorang anak kepada orang tuanya adalah hal yang diperintahkan Allah kepada kita di dalam Al-Qur’an: ‘Wa qur robbir-hamhumaa kamaa robbayaani shoghiiro’.

Do’a inilah yang hendaknya dipanjatkan oleh seorang anak kepada kedua orangtuanya, dan hendaknya ia memperbanyak do’a ini, baik orangtuanya masih hidup maupun sudah meninggal dunia .. baik ketika orangtuanya masih hidup maupun sudah meninggal..”

 

Jangan lupa adab sebelum berdo’a :
– puji Allah dengan nama nama-Nya yang indah : contoh : yaa Hayyu yaa Qoyyum

– baca sholawat : contoh : Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad

– mulailah berdo’a

 

Sifat Sifat Orang Beriman Yang Sempurna

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullah menjelaskan,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Surah Al-Mu’minuun ketika menyebutkan sifat-sifat orang beriman yang sempurna,

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka..”

Ummul Mukminin ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha —sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Musnad dan yang lainnya— bertanya kepada Nabi Shollallahu ‘alayhi wasallam mengenai makna ayat tersebut.

‘Aisyah berkata, “Wahai Rosulullah, apakah orang yang dimaksud adalah orang yang berzina, mencuri, membunuh, namun ia takut akan disiksa..?”

Beliau bersabda, “Bukan, wahai putri Ash-Shiddiq .. akan tetapi, ia adalah orang yang mendirikan sholat, berpuasa, bersedekah, namun ia tetap takut jika amalannya tidak diterima..”

Al-Hasan Al-Bashri rohimahullah berkata, “Seorang mukmin menggabungkan antara perbuatan baik dan rasa takut .. sedangkan orang munafik menggabungkan antara perbuatan buruk dan rasa aman..”

Seorang mukmin berbuat kebaikan dalam amalannya, namun pada saat yang sama ia merasa takut. Ia takut jika amalannya tidak diterima atau ditolak oleh Allah.

Oleh karena itu, ia senantiasa berjuang (berjihad) melawan hawa nafsunya dalam kebaikan, berbagai amal sholeh, ketaatan, serta upaya mendekatkan diri kepada Allah, namun ia tidak pernah merasa suci dari dosa atau menganggap amalannya sudah sempurna.

Empat Perkara Yang Mencukupkan-mu Dari Dunia

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

Empat perkara, jika hal itu ada pada dirimu, maka tidak mengapa bagimu apa yang terlewatkan darimu dari dunia :

* Shidqul-hadits (kejujuran dalam berbicara atau menyampaikan perkataan)
* Hifzhul-amaanah (menjaga amanah dengan sebaik-baiknya)
* Husnul-khuluq (memiliki akhlak dan perangai yang baik)
* ‘Iffatu math’am (menjaga kesucian makanan atau senantiasa mencari rezeki yang halal)

(HR. Ahmad dan Al-Bazzar)
Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahullah – Shohiih Al Jaami’ no. 873

📌 Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli hafizhohullah menjelaskan tentang hadits ini :

● Jika engkau senantiasa menjaga kejujuran lisan dan perkataanmu..
● Jika engkau menjadi orang yang amanah dan menunaikannya..
● Jika engkau menghiasi diri dengan akhlak yang mulia..
● Jika engkau sangat memperhatikan kehalalan makanan atau rezeki yang masuk ke dalam tubuhmu..

Maka engkau adalah orang yang benar-benar kaya .. dan apa pun kenikmatan dunia yang terlewatkan darimu —baik berupa harta benda maupun kedudukan di mata manusia— maka hal itu tidak akan mendatangkan mudhorot atau membahayakanmu sama sekali.

Bolehkah Berbicara / Chatting Dengan Wanita Yang Akan Dilamar..?

PERTANYAAN

Semoga Allah memberi Anda kebaikan .. apakah diizinkan bagiku untuk berbicara dengan seorang wanita yang ingin aku lamar..? (tujuannya) agar kami dapat saling memahami.

JAWABAN

Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli hafizhohullah berkata,

Demi Allah, wahai saudaraku .. ungkapan “agar kami dapat saling memahami” ini adalah sebuah masalah.

Besok Anda akan berkata, “kami keluar bersama .. kami pergi ke restoran agar dapat saling memahami, dan walinya tidak bersama kami, karena wali membatasi kami..”

Dan beginilah cara Setan menggiring manusia.

📌 Wanita yang dilamar adalah wanita asing (bukan mahrom) baginya .. dan ketika kita mengatakan “wanita yang dilamar”, yang kita maksud adalah wanita yang belum dinikahinya melalui akad.

Karena sebagian Muslim menggunakan kata “tunangan” untuk wanita yang sudah dinikahkan secara akad tetapi belum disetubuhi .. wanita ini (dianggap) sebagai seorang istri.

Adapun “wanita yang dilamar” yang belum dilakukan akad nikah adalah wanita asing bagi calon suaminya. Bahkan, calon suaminya memiliki risiko yang lebih besar (terjerumus kedalam hal yang haram) daripada orang lain karena keterikatan emosional sudah ada, dan ada rasa aman.

Ketika ada rasa aman, kehati-hatian pun hilang .. dan ketika kehati-hatian seseorang hilang, ia berada di ambang kehancuran.

📌 Seseorang tetap berada dalam keadaan selamat selama ia :
– memasang penghalang antara dirinya dan hal yang diharamkan, serta
– bersikap hati-hati dan penuh rasa takut.

Ketika kehati-hatian seseorang terhadap hal-hal yang diharamkan hilang, maka ia dekat untuk terjerumus ke dalamnya .. sehingga calon suami lebih dekat untuk terjerumus ke dalam hal yang haram daripada orang lain. Karena dia lebih dekat dan keterikatan emosional itu ada.

Maka pelamar tidak boleh memperlakukan wanita yang dilamarnya kecuali apa yang boleh dilakukan oleh seorang pria yang bukan mahrom terhadap seorang wanita.

Kami tidak melarangnya untuk berbicara kepadanya secara mutlak .. dan kami juga tidak membolehkannya berbicara secara mutlak.

Melainkan kami katakan : apa yang dibolehkan bagi seorang pria yang bukan mahrom dengan seorang wanita.

Seperti :
– mengucapkan salam tanpa niat yang menyimpang, dan
– menanyakan kabar tanpa niat yang menyimpang, atau
– menanyakan tentang hal-hal yang dibolehkan untuk ditanyakan saat jual beli .. itu dibolehkan.

Apa pun di luar itu adalah tidak dibolehkan.

📌 Seperti berbicara berduaan dalam kesunyian (kholwat).. dan ini tidak dibolehkan. Diantara bentuk kholwat yang paling serius saat ini adalah (berbicara  / chatting) melalui WhatsApp.

Ini adalah salah satu tanduk Setan jika Allah tidak ditakuti terkait hal itu.

Betapa banyak pria sholeh dan wanita sholehah yang telah disesatkannya kedalam apa yang diharamkan Allah, meskipun hanya melalui ucapan.

Waspadalah .. waspadalah..!

Agar tidak bersikap longgar dalam berbicara / chatting di WhatsApp dengan wanita asing (bukan mahrom). Meskipun masalahnya adalah tentang sesuatu yang baik pada awalnya, seperti :
– kerja sama dalam kebajikan dan takwa.
– berbicara tentang urusan dakwah dan tentang mencela kemungkaran.

Tetapi .. setan memiliki pintu masuk.

Dan saya telah katakan di masa lalu, dan saya masih katakan : Setan telah menemukan pintu masuk kepada orang-orang sholeh melalui sarana komunikasi (WhatsApp) ini .. dan telah menyeret mereka, baik mereka menyadarinya atau tidak, kedalam apa yang diharamkan Allah.

Waspadalah ..
waspadalah wahai saudara-saudaraku ..
Waspadalah .. waspadalah.

📌 Poin utamanya adalah bahwa TIDAK HALAL bagi pelamar untuk berbicara / chatting dengan wanita yang dilamarnya kecuali dengan apa yang halal bagi seorang pria yang bukan mahrom untuk berbicara dengan wanita asing.

Bagaimana Cara Menghapus Dosa Dan Kesalahan Masa Lalu..?

Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullah menjelaskan,

Berbuat baiklah pada sisa umurmu yang tersisa, maka dosa dosamu yang telah lalu akan diampuni.

Karena sesungguhnya jika engkau berbuat buruk pada sisa umurmu, engkau akan dituntut (diperhitungkan) atas perbuatanmu pada masa yang tersisa maupun pada masa yang telah lalu,

Dan ini (berbuat baik di sisa umur) adalah sebuah keuntungan (kesempatan) yang sangat besar.

Andaikan ditakdirkan seseorang telah hidup selama 60 tahun dari usianya dalam keadaan melalaikan dan menyia-nyiakan waktu, kemudian ia :

● bertaubat kepada Allah dan kembali kepada-Nya (Subhaanahu), serta
● menghadap kepada ketaatan kepada-Nya Yang Maha Tinggi, lalu ia
● membulatkan tekad untuk istiqomah di atas ketaatan kepada-Nya,

Dan ternyata setelah itu ia tidak hidup melainkan hanya beberapa hari saja .. maka masa 60 tahun itu akan diampuni untuknya. Akan diampuni baginya apa yang telah berlalu.

Akan tetapi, jika ia tetap dalam keadaan melalaikan dan menyia-nyiakan waktu, maka ia akan dituntut atas apa yang tersisa dan juga atas apa yang telah berlalu.

Nasehat Bagi Para Pemuda Yang Belum Menikah

Syaikh Sulaiman ar-Ruhayli hafizhohullah menjelaskan,

Pemuda yang belum menikah tetap berada dalam kebaikan selama dia menjauhkan dirinya dari wanita, maka sungguh dia mampu untuk bersabar.

Kapan dia menjadi lemah dan jatuh ke dalam keburukan..? Ketika dia mendekati wanita-wanita yang haram untuk dia dekati (bukan mahromnya).

Oleh karena itu .. waspadalah, wahai kumpulan para pemuda, terhadap sarana-sarana komunikasi meskipun dengan dalih persaudaraan karena Allah .. karena sesungguhnya itu adalah jalan kebinasaan, jalan keburukan, dan jalan untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan.

Setan menyeret pemuda tersebut sedikit demi sedikit menuju perkara ini.

Namun jika dia :
– menjauhkan diri dari wanita,
– menundukkan pandangannya,
– menahan lisannya,
– serta tidak berkomunikasi dengan wanita yang bukan mahromnya, maka akan menjadi mudah baginya untuk bersabar.

Nasehat Bagi Yang Lalai Dalam Dzikir Pagi Dan Dzikir Petang

Syaikh Aziz Farhan Al-Anzi hafizhohullah menjelaskan,

“Siapa saja manusia yang mendapati rasa berat (malas) dalam urusan dzikir —yakni dzikir pagi dan dzikir petang— maka bel peringatan harus dibunyikan..!

Karena di sana terdapat masalah pada dirinya, dan karena adanya penguasaan dari setan atas dirinya.

Mengapa demikian..?

Karena dzikir pagi dan dzikir petang tidak membebani seseorang dari segi waktu, melainkan hanya memerlukan waktu yang sangat sedikit.

Pada hakikatnya, dzikir itu hanya mengambil waktu beberapa menit saja .. anggaplah seperempat jam atau setengah jam.

Kita sekarang duduk di dalam majelis obrolan kosong —mohon maaf— selama satu atau dua jam kita tidak merasa bosan. Kita duduk menjelajahi berbagai program (ponsel/media sosial) selama dua atau tiga jam, kita tidak merasa lelah ataupun bosan.

Lalu mengapa ketika kita sampai pada perkara dzikir, kita justru merasa berat..?

Tentu ada sebabnya .. yaitu setan mungkin telah menguasai seseorang dan duduk bersamanya sehingga dis membuat urusan dzikir terasa berat bagi orang tersebut.

Padahal, dzikir itu adalah untuk kebaikan kamu sendiri, bukannya membebani kamu..”

=====