Category Archives: BBG Kajian

Menjadikan Para Shahabat Sebagai Teladan

Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

النجوم أمنة للسماء فإذا ذهبت النجوم أتى السماء ما توعد وأنا أمنة لأصحابي فإذا ذهبت أتى أصحابي ما يوعدون وأصحابي أمنة لأمتي فإذا ذهب أصحابي أتى أمتي ما يوعدون

“Bintang adalah keamanan untuk langit. Apabila bintang telah pergi maka datanglah kepada langit yang dijanjikan (kiamat). Aku adalah keamanan untuk para shahabatku. Apabila aku telah pergi, akan datang kepada shahabatku apa yang dijanjikan (berupa fitnah), dan para shahabatku adalah keamanan untuk ummatku. Apabila para shahabatku telah pergi, akan datang kepada ummatku apa yang dijanjikan (berupa bid’ah dan kesesatan)..” (HR Muslim)

Maka ikutilah para shahabat Nabi dalam cara beragama..
Mereka adalah keamanan untuk umat islam..

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

فعلى كل من انتسب إلى الدين
‏بقول أو عمل أن يكون متبعـــاً
‏للصحابة، مقتديا بهم.

“Atas setiap yang menisbatkan dirinya kepada agama ini baik dengan ucapan maupun perbuatan, hendaklah ia mengikuti para shahabat dan menjadikan mereka sebagai teladan..” (Jami’ul Masaail 1/193)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Nabi Shollallahu ‘Alayhi Wa Sallam Pun Menutup Telinga Saat Mendengar Musik

Nafi Maula Ibnu ‘Umar berkata:

سمعَ ابنُ عُمرَ مِزمارًا فوضعَ أصبُعَيْهِ في أذُنَيْهِ، وَنَأَى عَن الطَّريقِ وقالَ لي: يا نافعُ هل تسمَعُ شَيئًا ؟ قلتُ: لا، فرَفعَ أصبُعَيْهِ مِن أذُنَيْهِ وقالَ: كُنتُ معَ النَّبيِّ – صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ – وسمعَ مثلَ هذا وصنعَ مِثلَ هذا

Ibnu ‘Umar mendengar suara seruling lalu ia meletakkan dua telunjuknya di telinganya dan menjauh dari jalan.

Ia berkata kepadaku, “Hai Nafi apakah kamu masih mendengarnya..?” Aku berkata, “Tidak..” Maka ia melepas jarinya dari telinganya dan berkata, “Dahulu aku bersama Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam dan beliau mendengar sama dengan yang aku dengar dan beliau melakukan seperti apa yang aku lakukan..” (HR Abu Dawud no 4924)

Kamu bilang anak anak santri yang menutup telinga saat mendengar musik itu lebay..
Padahal mereka ingin mencontoh Nabi mereka yang tercinta..
Kabarkan kepadaku, Apakah perbuatan Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam lebay..???

Apakah salah orang yang ingin menapaki jejak Rosulullah…??
Yang lebay itu adalah yang tak mau mengikuti jalan Nabi Shollallaahu ‘alayhi wa sallam.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Syukur Dan Sabar

Kita ingin Allah selalu mengikuti kemauan kita..
Jika ternyata tidak, maka kita kecewa kepada Allah..
Padahal kewajiban hamba adalah mengikuti kemauan Allah Ta’ala..
Karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu..
Dan perbuatan Allah sangat adil dan penuh hikmah..

‘Umar bin Khathab rodhiyallahu ‘anhu berkata:

مَا أُبَالِي عَلَى أَيِّ حَالٍ أَصْبَحْتُ عَلَى مَا أُحِبُّ أَوْ عَلَى مَا أَكْرَهُ ، لأَنِّي لا أَدْرِي الْخَيْرُ فِيمَا أُحِبُّ أَوْ فِيمَا أَكْرَهُ ؟

“Aku tidak peduli masuk di waktu pagi dalam keadaan apa.. Apakah dalam keadaan yang aku sukai atau keadaan yang aku tidak sukai. Karena aku tidak tahu apakah kebaikan itu dalam perkara yang aku sukai atau dalam perkara yang aku tidak sukai..” (Az Zuhud karya Ibnul Mubarak)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Merasa Berjasa

Diantara penyakit hati yang akut dan bisa berujung pada kematiannya adalah perasaan diri telah berjasa dalam Islam, banyak memberikan kontribusi dalam dakwah, merasa diri sebagai pilar kebangkitan agama.

Tatkala sebagian Arab Badui masuk Islam, mereka merasa jumawa dan telah memberikan nikmat besar pada Nabi dan kaum muslimin, bahasa sederhananya mereka merasa diatas angin, besar kepala dan merasa telah jadi pahlawan.

Maka Allah perintahkan NabiNya untuk mengajari mereka agar merunduk, tidak merasa berjasa, tawadhu dan sepatutnya malah memanjatkan puji dan syukur atas karunia Allah yang telah menggiring mereka pada Islam, Allah berfirman:

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا ۖ قُل لَّا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُم ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ [الحجرات : 17]

Mereka merasa telah memberikan nikmat padamu atas keislaman mereka, katakan, ”jangan kalian merasa telah memberikan nikmat padaku atas keislaman kalian, namun katakan bahwa Allah yang telah menganugerahkan iman dalam hati kalian bila kalian benar-benar Jujur..”

Pelajaran buruk dapat dijadikan cerminan dari sikap Iblis yang merasa berjasa dengan ibadahnya yang banyak dan ketaatannya pada Allah, membuat iblis besar kepala, takjub dengan kehebatan dirinya, lantas merendahkan Adam dan menyombongkan diri di hadapan Allah yang membuat Ia dikutuk, dilaknat, diusir dari surga, dirubah wujudnya menjadi wujud makhluk terburuk yang pernah Allah ciptakan, diancam neraka dan kekal selama-lamanya.

Begitulah nasib akhir orang yang merasa berjasa, telah memulai dakwah, membangun yayasan, sekolah dan madrasah, membuat universitas, radio dakwah, chanel televisi dan semacamnya.

Perkataan lisanul hal dan lisanul maqalnya: ”kalau bukan karena jasaku tidak akan pernah ada dakwah, sekolah dan madrasah; kalau bukan karena aku tidak akan tersebar ilmu dan sunnah, kalau bulan jasaku tidak kan pernah ada Radio dan Tv dakwah..”

Penyakit hati itu banyak variannya, ada riya, ujub, sombong, hasad, merasa berjasa, merasa banyak amal sholeh dan seterusnya.

Orang beruntung adalah orang yang selalu mengontrol kondisi dan keadaan hatinya, bila terasa sakit segera diterapi sebelum penyakit menjadi kronis dan membinasakan agamanya.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

Hanya Satu Jalan Keselamatan

Jalan keselamatan hanya satu.. yaitu jalan Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya..

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata:

“Barangsiapa di antara kalian mengikuti suatu jejak (sunnah) hendaklah ia mengikuti jejak orang yang telah meninggal, karena sesungguhnya orang yang masih hidup tidak dijamin terpelihara dari fitnah. Itulah mereka para Sahabat Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam..

Mereka adalah orang-orang yang paling utama di antara umat ini, hati-hati mereka paling berbakti, ilmu mereka paling mendalam dan paling sedikit takallufnya (membebani diri dalam beramal). Mereka adalah suatu kaum yang telah dipilh Allah untuk mendampingi Nabi-Nya sholallahu ‘alaihi wa sallam dan menegakkan agama-Nya, maka kenalilah akan keutamaan mereka, ikutilah jejak mereka dan berpegang teguhlah pada akhlak serta agama semampumu, karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus..”

[ Sittu Duror Min Ushuli Ahlil Atsar hal. 66-67 ]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Apakah Ada Tidur Di Alam Kubur..?

Pertanyaan ini datang, karena ada yang mengatakan bahwa di alam kubur tidak ada tidur.
Alasannya: karena yang ada di alam kubur hanya nikmat atau adzab.. dan karena nama alam itu adalah “hayah barzakhiyyah” (kehidupan barzakh).. sehingga tidak ada tidur di alam itu.

Jawaban:
Ada beberapa jawaban untuk masalah ini:

1. Bila kita melihat dalil-dalil yang shahih, maka ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa di alam kubur itu ada tidur. Diantaranya:

A. Firman Allah ta’ala tentang orang yang mendustakan hari akhir:

يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا

“Celakalah kami, siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)..?!” [Yasin: 52]

⚉ Imam Thabari -rahimahullah- ketika menafsiri ayat ini mengatakan:

قال هؤلاء المشركون لما نفخ في الصور نفخة البعث لموقف القيامة فردت أرواحهم إلى أجسامهم، وذلك بعد نومة ناموها

“Kata-kata itu dikatakan oleh kaum musyrikin ketika sangkakala ditiup untuk kebangkitan makhluk menuju padang mahsyar, maka ruh-ruh mereka dikembalikan ke jasad-jasad mereka, dan itu terjadi setelah tidur yang mereka lakukan..” [Tafsir Thabari 20/531].

⚉ Syeikh Assi’di -rahimahullah- juga menyampaikan hal yang senada dengan ini:

أي: من رقدتنا في القبور، لأنه ورد في بعض الأحاديث، أن لأهل القبور رقدة قبيل النفخ في الصور

“Maksudnya: (siapa yang membangkitkan kami) dari tidur kami di alam kubur..?!, karena telah datang dalam sebagian hadits, bahwa para ahli kubur itu memiliki masa tidur sebelum sangkakala ditiup..” [Tafsir Assi’di 697].

B. Sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang perkataan malaikat Munkar dan Nakir kepada ruh seorang mukmin setelah selesai menjalani fitnah kubur dengan baik:

نم كنومة العروس الذي لا يوقظه إلا أحب أهله إليه، حتى يبعثه الله من مضجعه ذلك

“Tidurlah seperti tidurnya pengantin baru, yang tidak ada yang berani membangunkannya kecuali keluarga yang paling dia cintai, sampai Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya itu..” [HR. Attirmidzi: 1071, Hasan].

C. Perkataan sahabat Abu Hurairah tentang ruh orang mukmin di alam kubur:

فيقال: انظر إلى مقعدك، ثم يتبعه نوم كأنما كانت رقدة

“Lalu dikatakan kepadanya: ‘lihatlah kepada tempatmu (di surga) itu’. Kemudian ia tertidur, dan seakan-akan ia hanya tidur sejenak..”

Sedangkan tentang ruh musuh Allah, sahabat Abu Hurairah mengatakan:

ثم يقال له : نم كما ينام المنهوش .. الذي تنهشه الدواب والحيات

“Kemudian dikatakan kepadanya: ‘tidurlah seperti tidurnya orang yang manhusy’ .. yakni tidurnya orang yang digigiti banyak hewan dan ular..” [HR. Albazzar dalam Musnadnya 9760, dan Abdullah bin Ahmad dalam Assunnah 1446, dengan sanad yang Hasan].

2. Adapun perkataan bahwa di alam kubur itu yang ada hanya nikmat atau azab saja, maka ini tidak menafikan adanya masa tidur untuk ahli kubur.. karena seseorang tetap bisa merasakan nikmat atau azab, meski dia dalam tidurnya.

3. Adapun alam kubur disebut “kehidupan barzakh”, maka ini juga tidak menafikan adanya masa tidur untuk ahli kubur.. hal ini sebagaimana “kehidupan dunia”, tetap ada masa tidur meski namanya “kehidupan dunia.”

Demikian, wallahu ta’ala a’lam.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Sedekah Di Hari Jum’at Yang Mulia

Diantara dalil yang menguatkan bahwa sedekah di hari Jum’at lebih dianjurkan, adalah:

1. Atsar yang disebutkan oleh Imam Abdurrozzaq dengan sanad yang shahih dari sahabat Ibnu ‘Abbas -rodhiallahu ‘anhuma-, dari Ka’ab -rohimahullah-:

وَالصَّدَقَةُ فِيهِ أَعْظَمُ مِنْ سَائِرِ الْأَيَّامِ

“Dan sedekah di hari Jum’at lebih agung daripada sedekah di hari lain..” [Mushonnaf Abdurrozzaq 5558].

2. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa hari Jum’at adalah hari yang sangat mulia, dan amal kebaikan akan menjadi semakin mulia bila dilakukan di waktu yang mulia.

Diantara dalil yang menunjukkan kemuliaan hari Jum’at adalah hadits Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam-:

خيرُ يومٍ طَلعَتْ فيه الشَّمسُ يومُ الجُمُعة

“Hari terbaik yang matahari terbit di dalamnya adalah hari Jum’at..” [HR. Muslim: 17]

Oleh karenanya, banyak ulama yang berpendapat bahwa sedekah di hari Jum’at lebih mulia, diantaranya:

a. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahullah-, Ibnul Qoyyim mengatakan tentang beliau:

وَشَاهَدْتُ شَيْخَ الْإِسْلَامِ ابْنَ تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ إِذَا خَرَجَ إِلَى الْجُمُعَةِ يَأْخُذُ مَا وَجَدَ فِي الْبَيْتِ مِنْ خُبْزٍ أَوْ غَيْرِهِ فَيَتَصَدَّقُ بِهِ فِي طَرِيقِهِ سِرًّا

“Aku telah menyaksikan Syaikhul Islam -qaddasallahu ruhah- apabila keluar menuju shalat Jum’at, beliau mengambil dari rumahnya roti atau yang lainnya, kemudian beliau bersedekah dengannya di jalan (menuju masjid) secara sembunyi-sembunyi..” [Zadul Ma’ad 1/395]

b. Ibnul Qoyyim -rohimahullah-:

إنَّ لِلصَّدَقَةِ فِيهِ مَزِيَّةً عَلَيْهَا فِي سَائِرِ الأَيَّامِ، وَالصَّدَقَةُ فِيهِ بِالنِّسْبَةِ إِلَى سَائِرِ أَيَّامِ الأُسْبُوعِ كَالصَّدَقَةِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى سَائِرِ الشُّهُورِ.

“Sungguh, sedekah di hari Jum’at memiliki keutamaan atas sedekah di hari-hari lainnya. Bahkan sedekah di dalamnya apabila dibandingkan dengan sedekah di hari-hari lainnya dalam sepekan, itu seperti sedekah di bulan Ramadhan bila dibandingkan dengan sedekah di bulan-bulan lainnya..” [Zadul Ma’ad 1/394]

c. Abul Baqo’ Addamiri Asy-Syafii (w 808 H) -rohimahullah-:

ويستحب كثرة الصدقة وفعل الخير في ليلتها ويومها.

“Dianjurkan untuk memperbanyak sedekah dan melakukan kebaikan, baik di malam hari Jum’at ataupun di siang harinya..” [Annajmul Wahhaj 2/498].

Hal senada juga disebutkan oleh Al-Khotib Asy-Syirbini, Ibnu Hajar Al-Haitamy, dan ulama-ulama lainnya.

Demikian, wallahu a’lam.. Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Suka Menjadikan Kaum Mukminin Bersedih

Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan utang dan kesewenang-wenangan manusia..” (HR Al Bukhari)

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata:

” *والمقصود أن النبي ﷺ جعل الحزن مما يستعاذ منه ، وذلك لأن الحزن يُضعف القلب ، ويُوهن العزم ، ويضر الإرادة ، و لا شيء أحبّ إلى الشيطان من حزن المؤمن، قال تعالى { إنما النجوى من الشيطان ليحزن الذين آمنوا .. }*”.

“Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari kesedihan karena kesedihan melemahkan hati, melemahkan semangat, dan membahayakan keinginan.. dan tidak ada sesuatu yang paling disukai oleh setan dari membuat sedih seorang mukmin. Allah berfirman, “Sesungguhnya najwa (berbisik-bisik tersebut) berasal dari setan agar membuat sedih kaum mukminin..” (Thoriqul Hijrotain 2/607)

Sedih saat ditinggal orang yang kita cintai adalah wajar..
Yang tidak wajar itu adalah larut dalam kesedihan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Bedakan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
“Ahlussunnah meninggalkan pendapat manusia untuk mengikuti sunnah.. Sedangkan Ahlul Bid’ah meninggalkan sunnah untuk mengikuti pendapat manusia.. (Ash Showa’iq Al Mursalah)

Karena ahlussunnah mengagungkan dalil di atas pendapat siapapun..
Bukan karena tidak menghormati ulama..
Tapi karena demikianlah manhaj yang ditetapkan oleh salafusholih..

Sedangkan ahlul bid’ah berat mengikuti sunnah jika bertabrakan dengan pendapat ulama yang sesuai dengan keinginan mereka..
Ketika disampaikan dalil dalil tentang haramnya musik..
Mereka berkilah, “Tapi kata ulama anu boleh kok…”
Ketika dibawakan ayat dan hadits tentang perintah memelihara janggut..
Mereka berkata, “Tapi ulama anu mengatakan nggak begitu..”

Maka bergimbaralah anda saat dalil lebih agung di dada dari semua pendapat manusia..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Jangan Salah Sangka..!

Banyak orang menyangka:
– Sedekah mengurangi harta..
– memaafkan kezaliman orang, menjadikan orang terlihat lemah, karena tidak mampu membalas.. dan
– merendah, menjadikan orang hina.

Padahal semuanya telah dibantah oleh Nabi kita -shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam satu haditsnya:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Sedekah tidak akan mengurangi harta sama sekali.. Tidaklah Allah menambah untuk seorang hamba dari sikap memaafkan, melainkan kekuatan.. dan Tidaklah seseorang bersikap merendah (tawadhu’), melainkan Allah akan memuliakannya..” [HR. Muslim: 69].

Sungguh ini menunjukkan ke-mahakuasa-an Allah.. Dia bisa menjadikan sesuatu yang terlihat bertentangan menjadi sesuatu yang berhubungan sebab akibat.

Sedekah, Allah jadikan penyebab bertambahnya harta.. padahal harusnya harta menjadi berkurang karenanya.
Memaafkan, Allah jadikan penyebab kekuatan.. padahal harusnya menjadikan seseorang tampak lemah.
Merendah, Allah jadikan penyebab kemuliaan.. padahal harusnya menjadikan dirinya rendah.

Dan masih banyak contoh-contoh yang lainnya, misalnya:
– Api mendatangkan dingin untuk Nabi Ibrahim.. [Al-Anbiya’: 69].
– Air mendatangkan api.. [At-Takwir: 6].
– Menjadikan api dari pohon yang hijau.. [Yasin: 80].
– Mendatangkan kehidupan dari kematian.. [Alu Imron: 27]
– Mendatangkan kematian dari kehidupan.. [Al-An’am: 95] .. dst.

Oleh karenanya, jangan dahulukan akal, ketika syariat mengatakan lain.. karena “Allah-lah yang tahu, sedangkan kalian tidak tahu..” [Al-Baqarah: 216].

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى