Category Archives: BBG Kajian

Hadits At-Targhiib Wat-Tarhiib # 7

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA,  حفظه الله تعالى berikut ini tentang hadits-hadits anjuran dan hadits-hadits ancaman : Pahala sedekah tetap tercatat sesuai niat meskipun yang menerima sedekah ternyata bukan orang yang ia niatkan

ARTIKEL TERKAIT
KUMPULAN Artikel Serial HADITS AT-TARGHIIB WAT-TARHIIB

Andai Aku Seperti Salim..

Suatu ketika, Khalifah banu Umayah yaitu Hisyam bin Abdil Malik pergi haji. Ketika thawaf di Ka’bah, ia melihat Salim bin Abdullah bin Umar thawaf sambil menenteng sendalnya yang telah rusak dan memakai pakaian yang amat murah tak sampai dua dirham.

Sang khalifah mendekati Salim dan berkata, “Wahai Salim, apakah engkau ada kebutuhan..?”
Salim melihat kepada sang khalifah dengan pandangan heran dan gusar. Ia berkata, “Apakah kamu tidak malu..? Kita sedang di rumah Allah, lalu kamu ingin aku mengadukan kebutuhanku kepada selain Allah..?”

Sang khalifah terlihat sangat malu dan membiarkan Salim menyempurnakan thawafnya. Namun ia terus mengawasi Salim. Ketika Salim telah keluar dari masjidil haram, sang khalifah segera mengejar Salim. Ia berkata, “Wahai Salim, tadi engkau tidak mau menceritakan kebutuhanmu kepadaku di dalam masjidil haram. Sekarang silakan kamu minta kepadaku karena sekarang berada di luar haram..”

Salim berkata, “Kebutuhan dunia atau kebutuhan akherat..?”
Khalifah berkata, “Hai Salim, tentu kebutuhan dunia. Karena kebutuhan akherat hanya diminta kepada Allah saja..”

Salim berkata, “Wahai Hisyam, demi Allah..! Aku tidak pernah meminta kebutuhan duniaku kepada pemiliknya (yaitu Allah). Bagaimana aku akan meminta kepada yang bukan pemiliknya..?”

Berlinanglah air mata sang Khalifah. Ia berkata, “Andaikan aku seperti Salim dengan seluruh kerajaanku…”

(Al Bidayah wan-Nihayah 9/235)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

KUMPULAN Artikel Serial HADITS AT-TARGHIIB WAT-TARHIIB

Kumpulan artikel audio serial HADITS TARGHIIB wat TARHIIB bersama Ustadz Mizan Qudsiyah MA,  حفظه الله تعالى

  1. Ikhlas sebab turunnya pertolongan Allah
  2. Ikhlas adalah syarat diterimanya suatu ibadah
  3. Terlaknatnya Dunia
  4. Pentingnya Niat
  5. Tercatatnya pahala niat berbuat kebaikan
  6. Tercatatnya pahala niat qiyaamul layl meskipun akhirnya tertidur 
  7. Pahala sedekah tetap tercatat sesuai niat meskipun yang menerima sedekah ternyata bukan orang yang ia niatkan
  8. Ancaman bagi orang-orang yang riya’

Rahmat Allah Mendahului Murka-Nya

Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لما خلق الله الخلق كتب في كتابه، فهو عنده فوق العرش: إن رحمتي تغلب غضبي

“Ketika Allah telah selesai menciptakan semua makhluk, Dia menulis dalam kitab-Nya yang berada di atas Arasy di sisi-Nya; bahwa rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku..”
(HR Bukhari dan Muslim)

Allah terus memberi nikmat kepada kita..
Padahal kita banyak berbuat dosa..
Dan sangat kurang bersyukur..
Allah pun memberi nikmat kepada orang orang yang tidak beriman kepada-Nya..
Terkadang memberi mereka hidayah kepada islam dengan karunia-Nya…

Kalaulah murka Allah mendahului rahmat-Nya..
Akan habislah semua orang yang memaksiati-Nya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kita Itu Lemah, Allah Yang Menguatkan Kita

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh-:

“Seseorang selama ruhnya masih di raganya, dia bisa saja ter-‘fitnah’, oleh karena itu aku berpesan kepada diriku sendiri dan kalian semua, agar kita selalu meminta kepada Allah KETEGUHAN di atas iman.

Dan hendaknya kalian takut, karena ada banyak tempat licin di bawah kaki kalian, bila Allah -azza wajall- tidak meneguhkan kalian, maka kalian akan terjatuh dalam kebinasaan.

Dengarkanlah firman Allah kepada RosulNya -shollallohu ‘alaihi wasallam- yang merupakan orang paling kuat keteguhannya dan paling kuat imannya:

“Kalau Kami tidak meneguhkanmu, niscaya kamu hampir saja condong sedikit kepada mereka..”

Jika ini berlaku pada diri Rosul -shollallohu ‘alaihi wasallam-, lalu bagaimana dengan kita yang lemah iman dan keyakinannya, serta sering dihinggapi syubuhat dan syahawat..?!

Sungguh kita berada dalam bahaya besar, oleh karenanya kita harus memohon kepada Allah ta’ala KETEGUHAN di atas kebenaran, dan agar Dia tidak menjadikan hati kita condong pada kesesatan.

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)..”

[Diringkas dari Syarhul Mumti’ 5/388]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

0310141815