Category Archives: BBG Kajian

Pintu Sedekah Sangatlah Luas

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullah menjelaskan,

“Pintu sedekah itu sangat luas.

Bahkan disebutkan dalam sebagian hadits, hingga sesuap makanan yang ditaruh seseorang di mulut istrinya, ketika ia mencandainya dan bersenang-senang dengannya, lalu ia menyuapkan makanan ke mulut istrinya..

Niscaya hal itu dicatat baginya dalam timbangan kebaikannya sebagai sedekah dan pahala yang diberi balasan di sisi Allah.

Maka karunia Allah Subhanahu wa Ta’aala itu sangat luas.

Setiap pergerakan dan aktivitas manusia, jika ia niatkan karena mengharap pahala di sisi Allah, maka jadilah ia bergerak dalam sedekah-sedekah yang tak terbatas dan tak terhitung, serta pahala pahala yang tak terhitung banyaknya.

Oleh karena itu, hendaknya bagi seseorang —dan hal ini sudah pernah kita ingatkan sebelumnya— hendaknya bagi seseorang untuk mengharapkan pahala (ihtisab) di sisi Allah Subhanahu wa Ta’aala atas :

● Nafkah yang ia keluarkan untuk dirinya sendiri, baik pada makanan maupun minumannya.

● Nafkah yang ia keluarkan untuk anaknya.

● Nafkah yang ia keluarkan untuk istrinya.

● Ia mengharapkan pahala saat bercanda/bersenda gurau dengan anaknya dan saat mendidik mereka.

● Ia mengharapkan pahala saat bercanda dengan keluarganya.

Semua perbuatan yang baik, thoyyib (bagus), bermanfaat, dan berguna.. semuanya..

Jika ia niatkan mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’aala, maka akan dicatat baginya sebagai sedekah yang diberi balasan pahala di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala..”

Dua Hal Yang Meredam Kemarahan

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr, hafizhohullah menjelaskan,

Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam telah memberi petunjuk kepada orang yang sedang marah tentang dua hal :
– perkataan (lisan), dan
– perbuatan (tindakan)

Adapun hal yang berkaitan dengan perkataan, telah shohih dari Nabi kita shollallahu ‘alayhi wasallam bahwa beliau bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam..”

Hendaklah ia diam, yakni menahan diri dari seluruh perkataan. Karena perkataan di saat marah itu tidak terkontrol dan tidak seimbang. “Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam..” — artinya menahan dirinya dari berbicara sama sekali. Ini adalah hal yang berkaitan dengan perkataan.

Adapun yang berkaitan dengan perbuatan, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam hadits shohih lainnya,

“Jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia duduk. Jika marahnya belum reda, hendaklah ia berbaring..”

Duduk ini, lalu berbaring jika marahnya belum juga reda, bertujuan agar seseorang tidak meluapkan emosi atau tindakan gegabah yang muncul dalam dirinya akibat rasa marah tersebut. Karena jika ia tetap bertindak saat marah, tindakannya tidak akan lurus dan tidak akan terkontrol.

Coba bacalah tentang kehidupan masyarakat. Bacalah banyak kejadian, hal-hal yang terjadi di penjara, kasus-kasus pembunuhan, dan permusuhan. Semuanya terjadi karena pada saat itu mereka bertindak dalam puncak kemarahan.

Saya teringat dulu pernah melihat seorang pria di rumah sakit bersama putranya yang berusia 4 tahun. Tangan anak kecil itu patah/cedera parah. Lalu saya katakan kepada ayahnya, “Semoga lekas sembuh, ada apa..?”

Ayahnya menjawab, “Sungguh, ini karena marah. Marah itu tidak ada kebaikannya..”

Saya katakan, “Insya Allah ada hikmahnya..”

Dia bercerita, “Anak ini tidur, lalu aku katakan padanya ‘bangun’ .. aku bangunkan tapi dia tidak bangun bangun. Maka aku tarik tangannya dengan keras hingga terkilir/patah..”

Hal seperti ini sangat banyak terjadi dalam realitas kehidupan manusia, dalam interaksi di rumah, di luar rumah, di sekolah-sekolah, maupun sikap para guru dan lainnya. Banyak sekali yang terjadi akibat keteledoran dan emosi jiwa ini.

Oleh karena itu, salah satu pilar terpenting dalam bab adab dan akhlak adalah hendaknya seseorang tidak menuruti emosi jiwanya. Jika jiwanya mulai dikuasai oleh emosi —terutama karena marah— hendaklah ia :
– menenangkan diri,
– beristirahat,
– tidak berbicara, dan
– tidak terburu buru melakukan tindakan apa pun.

Setelah tenang, ia akan mendapati bahwa jika ia berbicara, perkataannya akan terkontrol, dan jika ia bertindak, tindakannya pun akan terukur.

Tulisanmu Akan Dihisab

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr, hafizhohullah mengingatkan,

“Ketika engkau berbicara atau menulis menggunakan media media modern yang bermunculan di zaman ini —yang begitu beragam dan sangat banyak— dan telah menjadi hal yang tak terpisahkan bagi banyak orang dalam partisipasi harian mereka, bahkan berkali-kali dalam sehari.

Maka, apa yang ditulis ini merupakan bagian dari ucapanmu yang akan dihisab oleh Allah kelak pada hari ketika engkau berdiri di hadapan-Nya.

Meskipun sebagian orang mungkin menulis melalui media-media ini menggunakan nama anonim (disamarkan) dari pandangan manusia, hal itu tidaklah tersembunyi bagi Robb semesta alam:

“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)..” (QS. Qaf: 18)

Sekiranya ia bersembunyi dari manusia dengan nama anonim, Allah tetap Maha Melihat dirinya dan Maha Mengetahui apa yang ia (tulis dan) katakan.

Ia kelak akan melihat menuai (hasil dari) apa yang telah ia tulis dan ucapkan pada hari ketika ia berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wanita Sholehah Penghuni Surga Adalah Wanita Yang Menggabungkan Dua Sifat Ini

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr, hafizhohullah menjelaskan,

Wanita sholehah adalah wanita yang menggabungkan dua sifat yang disebutkan dalam ayat ini (QS. An-Nisa: 34). Keduanya merupakan cakupan utama dari seluruh sifat wanita yang sholehah.

SIFAT PERTAMA : berkaitan dengan hak Allah atas dirinya, dan

SIFAT KEDUA : berkaitan dengan hak suaminya atas dirinya.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Sebab itu wanita yang sholehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)..”

1. YANG TAAT
Ini adalah hak Allah atas dirinya. Al Qunut (ketaatan) adalah terus-menerus dalam melakukan ketaatan demi menjaga kewajiban-kewajiban Islam dan perkara-perkara agama, khususnya sholat. Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman (yang artinya),

“Peliharalah semua sholat(mu), dan (peliharalah) sholat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam sholatmu) dengan khusyu’..” (QS. Al-Baqarah: 238)

2. MEMELIHARA DIRI KETIKA SUAMINYA TIDAK ADA
Ini adalah hak suami atas dirinya. Artinya, ia menjaga hak-hak suaminya baik saat suaminya tidak di rumah, menjaga hartanya, keluarganya, anak-anaknya, serta menjaga kehormatan dirinya, memelihara kemuliaan, dan kedudukan suaminya.

➡️ “Oleh karena Allah telah memelihara (mereka)..” artinya, hal ini terjadi atas taufik dan pertolongan dari Allah. Keburukan atau kebaikan seorang wanita adalah taufik dan kemudahan dari Allah semata.

📌 Apabila seorang wanita berhasil menggabungkan dua sifat ini, yaitu :
– menjaga hak Allah, dan
– menjaga hak suaminya

maka ia termasuk ke dalam golongan wanita sholehah penghuni surga.

Dua sifat ini juga telah dikumpulkan oleh Nabi kita ‘alayhish sholaatu wassalaam dalam beberapa hadits shohih yang tsabit, di antaranya sabda beliau :

“Jika seorang wanita melaksanakkan :
– sholat lima waktunya,
– berpuasa di bulan (Ramadhan)-nya,
– menjaga kemualliaannya/kehormatannya, dan
– mentaati suaminya,
maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai..” (*)

Kesimpulannya, inti dari seluruh sifat wanita yang sholehah telah terangkum dalam ayat yang agung ini:

“Sebab itu wanita yang sholehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)..” (QS. An-Nisa: 34)

=====
(*) HR. Ahmad – Musnad Ahmad no 1661, Syaikh al-Albani rohimahullah menyatakan bahwa hadits ini bersatus shohih – Shohih al-Jaami’, No. 660 & 661.

Jika Ada Pilihan Maka Rahasiakan Amalan Anda

Syaikh Prof Dr Abdurrozzaq Al Badr, hafizhohullah menjelaskan,

Diriwayatkan dalam sebuah atsar dari Al-Hasan Al-Basri rohimahullahu ta’ala, bahwasanya beliau berkata:

– Dahulu ada seorang laki-laki yang telah menghafal seluruh Al-Qur’an—dengan sempurna, tajwid/hafalan yang kuat, dan presisi—namun orang-orang di sekitarnya tidak menyadari hal tersebut.

– Dan ada seorang laki-laki yang telah menguasai ilmu fikih yang sangat banyak, namun orang-orang pun tidak menyadarinya.

– Dan ada pula seorang laki-laki yang melakukan sholat yang sangat panjang di rumahnya sementara di sisinya terdapat para tamu, namun mereka (tamu-tamu tersebut) tidak menyadari sholat panjangnya.

– Dan sungguh kami telah menjumpai orang-orang (generasi terdahulu) -dan ini adalah poin utamanya- di mana tidak ada suatu amal pun di bumi ini yang sanggup mereka kerjakan secara tersembunyi/rahasia, melainkan mereka tidak akan pernah memilih untuk menampakkannya (secara terang-terangan) sama sekali..”

Kaum muslimin terdahulu bersungguh-sungguh dalam berdo’a, namun tidak terdengar suara sedikit pun dari mereka. Tidak ada yang terdengar melainkan bisikan antara diri mereka dengan Robb mereka.

Hal itu karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Berdoalah kepada Robbmu dengan rendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas..” (QS. Al-A’raf: 55)

Dan ini masih bagian dari perkataan Al-Hasan rohimahullah,

“Hal itu karena Allah menyebutkan dan memuji seorang hamba yang sholeh atas perbuatannya, lalu Allah berfirman : ‘(Yaitu) ketika dia berdo’a kepada Robbnya dengan suara yang lembut (tersembunyi)..’ (QS. Maryam: 3)

Allah memujinya karena ia berdo’a kepada Robbnya dengan suara yang lembut/rahasia.

Berdo’a Setiap Hari Dengan Sebaik Baik Do’a

Syaikh Prof Dr Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, hafizhohumallah menjelaskan sebagai berikut :

“Banyak dari kalangan awam kaum Muslimin yang membaca Surah Al-Fatihah sepanjang hidupnya, namun tidak menghayati bahwa Surah ini adalah sebuah do’a.

Oleh karena itu, para ulama menyampaikan bahwa hendaknya masyarakat awam diingatkan bahwa Al-Fatihah ini adalah do’a yang di-ijabah (dikabulkan) saat seseorang memohonnya.

Hendaknya seorang Muslim menghayati setiap kali ia membaca Al-Fatihah, ‘apa yang sedang ia lakukan..?’ Bahwa ia sedang berdo’a kepada Allah dengan sebaik-baik do’a.

Ibnu Taimiyah rohimahullah pernah menyampaikan,

‘Aku memperhatikan dan merenungkan do’a apa yang paling bermanfaat, dan aku mendapati bahwa itu ada di dalam Al-Fatihah..’

Hal ini menunjukkan bahwa do’a paling agung adalah do’a yang Allah wajibkan atas kita untuk memohonnya sebanyak 17 kali setiap hari dan malam dalam sholat-sholat fardhu. Hal seperti ini tidak ada pada do’a do’a lainnya.

Do’a ini adalah sebuah kewajiban.

Dalam sehari semalam, sebanyak 17 kali Anda berdo’a:

IH-DINASH SHIROOTHOL MUSTAQIIM
(tunjukilah kami jalan yang lurus).

Setiap kali Anda membaca Al-Fatihah, hendaklah Anda menghayati bahwa dari firman-Nya ‘Ih-dinash shirooth’ hingga akhir surah, ini adalah do’a yang pasti dikabulkan .. (Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi) : ‘Ini milik hamba-Ku dan untuk hamba-Ku sesuai yang dia minta..’ (HR. Muslim 395)

Memperbanyak Dzikir Membantu Seseorang Dalam Melakukan Ketaatan Dan Ibadah

Syaikh Prof Dr Abdurrozzaq Al Badr hafizhohullah menjelaskan

“Dzikir membantu seseorang dalam melakukan ketaatan dan melembutkan/memudahkan ibadah.

Semakin banyak engkau berdzikir mengingat Allah, hal itu menjadi sebab dimudahkannya ibadah bagimu.

Seseorang pernah datang kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam dan ia merasa kesulitan/keberatan dalam menjalankan syariat Islam (merasa berat melakukan amal-amal ibadah wajib dan kewajiban Islam).

Ia berkata, ‘Sesungguhnya syariat Islam telah terasa banyak/berat bagiku, maka berilah aku nasihat..’

Lelaki ini ketika datang kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam dan menyampaikan bahwa syariat Islam terasa berat baginya, apa sebenarnya yang ia inginkan..?

Apakah ia ingin agar beban ibadahnya dikurangi..?

Ataukah ia menginginkan sesuatu yang dapat membantunya dan memudahkan amal-amal tersebut baginya..? Yang mana dari kedua hal itu..?

Apakah ketika ia berkata ‘syariat ini terasa berat/banyak bagiku..’ apakah ia ingin Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam berkata kepadanya, ‘Baiklah, engkau boleh meninggalkan sebagian sholat atau sebagian puasa Ramadhan..’ Apakah itu yang diinginkannya..? Apakah ia ingin amalnya dikurangi atau dihapus sebagian..?

Jawabannya, Tidak..!

Ia menginginkan sesuatu yang dapat melembutkan hatinya dan memudahkan amal-amal ibadah tersebut baginya. Maka Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam membimbingnya untuk memperbanyak dzikir. Beliau bersabda, ‘Hendaknya lidahmu senantiasa basah karena berdzikir mengingat Allah..’

=======
KUMPULAN DO’A & DZIKIR yang bisa diamalkan setiap saat.

https://bbg-alilmu.com/archives/73456

semoga Allah menjaga kita dalam keadaan penuh keselamatan dan keimanan, aamiin.

Keutamaan Memperbanyak Istighfar

Syaikh Prof Dr Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, حفظه الله تعالى menjelaskan,

“Jika seseorang melihat adanya kekurangan pada dirinya—baik dalam hal :
– kesehatannya,
– rezekinya, atau
– kondisi-kondisi lainnya

Maka hendaknya ia senantiasa memohon ampunan (istighfar) dan memperbanyak istighfar dengan mengucapkan :
ASTAGHFIRULLAH ..
ASTAGHFIRULLAH ..

atau bentuk-bentuk istighfar lainnya.

Sebab, istighfar datang dengan banyak cara/lafazh .. dan lafazh yang paling sempurna serta paling agung adalah apa yang diajarkan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam sebagai SAYYIDUL ISTIGHFAR (Induk Istighfar) yaitu hendaknya engkau mengucapkan (lihat poster di bawah)

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku senantiasa berada dalam perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tidak ada yang dapat diampuni dosanya kecuali Engkau..”

=====

Semuanya Adalah Ujian

Orang yang lapang kehidupannya tetap harus bersabar .. sebaliknya orang yang sempit kehidupannya tetap harus bersyukur.

Lapang dan sempitnya kehidupan, semuanya adalah ujian, bahkan ujian berupa lapangnya kehidupan lebih sulit dihadapi.

======

Syaikhul Islam -rahimahullah- mengatakan,

“Kemiskinan cocok bagi banyak orang, sedangkan kekayaan hanya cocok bagi lebih sedikit orang.

Oleh karena itu, kebanyakan orang yang masuk surga adalah orang-orang miskin, karena ujian kemiskinan lebih ringan.

(Namun sebenarnya) kedua keadaan tersebut—kemiskinan dan kekayaan—sama-sama membutuhkan sabar dan syukur.

Akan tetapi, karena :
– dalam kelapangan terdapat kenikmatan, sedangkan
– dalam kesusahan terdapat penderitaan,

maka :
– penyebutan syukur menjadi lebih dikenal dalam keadaan lapang, dan
– penyebutan sabar lebih dikenal dalam keadaan susah.

maka :
– orang yang berada dalam kelapangan lebih membutuhkan syukur, sedangkan
– orang yang berada dalam kesusahan lebih membutuhkan sabar.

Sabar bagi orang yang berada dalam kesusahan itu wajib. Apabila ia meninggalkannya, ia berhak mendapatkan hukuman. Demikian pula syukur bagi orang yang berada dalam kelapangan.

Adapun orang yang berada dalam kelapangan, sabar baginya terkadang bersifat sunnah, yaitu ketika ia menahan diri dari syahwat yang mubah. Dan terkadang sabar bersifat wajib baginya. Akan tetapi, karena ia telah menunaikan syukur, maka sebagian kekurangannya (dalam sabar) dapat diampuni.

Demikian pula orang yang berada dalam kesusahan. Syukur baginya terkadang bersifat sunnah, yaitu rasa syukur yang dengannya ia masuk dalam golongan orang-orang yang terdepan dalam kebaikan dan didekatkan kepada Allah. Sedangkan kekurangannya dalam syukur, maka bisa jadi diampuni karena ia telah menunaikan sabar dengan baik.

Sungguh berkumpulnya sabar dan syukur secara bersamaan (pada diri seseorang) merupakan perkara yang sulit bagi banyak orang..”

(Majmu’ul Fatawa 14/305)


Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Dua Hal Yang Mendatangkan Keberkahan Yang Sempurna Di Rumah Rumah Kaum Muslimin

📌 Syaikh Prof Dr Abdurrozzaq Al Badr, حفظه الله تعالى menjelaskan :

“Dua hal yang jika keduanya berkumpul pada diri manusia di rumah-rumah mereka, niscaya keberkahan akan makin sempurna di dalam rumah tersebut dan setan-setan akan pergi keluar dari rumah (yaitu) :

1. Membaca At-Tasmiyah saat hendak masuk : ketika dia membuka pintu untuk masuk, dia mengucapkan BISMILLAH

2. Mengucapkan salam saat bertemu penghuni rumah : Dan jika dia telah sampai/bertemu dengan penghuni rumah, dia mengucapkan ASSALAAMU ‘ALAYKUM

======
DALILNYA

1. MENGUCAPKAN BISMILLAH

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Jika seseorang memasuki rumahnya lalu dia menyebut nama Allah (mengucapkan BISMILLAH) ketika masuk dan ketika makan, maka setan berkata (kepada kawan-kawannya), ‘Tidak ada tempat menginap bagi kalian dan tidak ada makan malam..’

Namun jika dia masuk dan tidak menyebut nama Allah ketika masuk, setan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat menginap..’ Dan jika dia tidak menyebut nama Allah ketika makan, setan berkata: ‘Kalian mendapatkan tempat menginap dan makan malam..’

(HR. Muslim no. 2018)

2. MENGUCAPKAN SALAM
– Assalaamu ‘alaykum, atau
– Assalaamu ‘alaykum warohmatullah, atau
– Assalaamu ‘alaykum warohmatullahi wabarokatuh

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda kepada Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu,

“Wahai anakku, jika engkau masuk menemui keluargamu, maka ucapkanlah salam. Niscaya salam itu akan menjadi keberkahan bagimu dan bagi penghuni rumahmu..”

(HR. At Tirmidzi no. 2698)